Ketoprak Dangsak

Pentas Ketoprak Dangsak "Reksa Mustika Bumi" kolaborasi Cepetan Alas dengan Ketoprak. Pentas ini digelar DKD Kebumendi PRPP Jateng [Foto:AP]

Lengger Banyumasan

Pementasan seni tradisi lengger dari Dariah; tokoh legendaris"Lengger Banyumasan"

Suro Bulus, Parodi Satire Ketoprak Rakyat

Lakon carangan "Suro Bulus" yang merupakan manifestasi perlawanan masyarakat tradisi terhadap kejahatan korporasi tambang

DRAS SUMUNAR, Tetet Srie WD

Pagelaran "Serat Dras Sumunar" karya Tetet Srie WD di Roemah Martha Tilaar Gombong

Dewa Ruci

Pentas wayang dengan lakon "Dewa Ruci" dalam Festival Dalang Anak di Banjarnegara. Tiga dari empat dalang cilik Kebumen sabet juara [Foto:AP]

Rabu, 09 Oktober 2019

Di Indonesia, Seni dan Budaya adalah Anak Tiri: Refleksi Status Eka Kurniawan


October 09, 2019
Eka Kurniawan


Penulis terkemuka Indonesia, Eka Kurniawan mendapatkan undangan untuk menerima penghargaan di bidang kesusastraan dan budaya. Sebagai penulis muda, Eka Kurniawan bisa dibilang bergelimang prestasi, dari berbagi penghargaan sastra tingkat dunia, serta bukunya juga sudah diterjemahkan ke puluhan bahasa di seluruh dunia. Bahkan, banyak yang menyebut Eka Kurniawan sebagai "The Next Pramoedya" untuk penulis bertalenta asal Indonesia.

Maka undangan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuknya menerima Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019 untuk kategori Pencipta, Pelopor dan Pembaru, merupakan hal yang sudah diprediksi sebelumnya bakal diterima Eka. Tapi, Eka Kurniawan menolak penghargaan tersebut, sekaligus menolak untuk hadir dalam pelaksanaannya.

Dalam statusnya yang diunggah hari Rabu (9/10/2019), Eka justru mempertanyakan apakah negara telah bersungguh-sungguh memiliki komitmen dalam memberi apresiasi pada kerja-kerja kebudayaan? Ketika dihubungi staf dari institusi tersebut, Eka bertanya "iseng" tentang apa yang diberikan pemerintah pada penerima anugrah tersebut. Jawabannya adalah semacam plakat (pin) juga uang sebesar Rp50 juta dipotong pajak.

Maka Eka langsung membandingkannya dengan penerima medali perunggu (juara 3) dalam Asian Games beberapa waktu lalu. Sebagai informasi, atlet penerima emas menerima uang Rp1,5 Miliar dan diangkat PNS, serta berbagai hadiah lainnya. Sedangkan juara 3 atau peraih medali perunggu, menerima uang Rp250 juta dan sebagainya. Meski (di dalam hati) Eka mengaku bisa saja menerima uang tersebut, penghargaan tersebut, juga bakal ada sesi wawancara dan sebagainya, namun hal tersebut menunjukkan betapa seni dan budaya di Indonesia masih merupakan anak tiri.

Ini bukan masalah membandingkan, apalagi masalah uang. Tapi, apakah "dosa" negara terhadap kesusastraan Indonesia? 


Pertama, beberapa kegiatan literasi, perpustakaan swadaya, pojok baca dan setipenya di berbagai tempat di Indonesia justru disatroni, digeruduk dan sejumlah buku yang dianggap "kiri", "sesat" dan sebagainya dirampas dan dimusnahkan. Padahal, buku tersebut adalah buah karya para pemikir dunia semacam Karl Marx, Jean-Paul Sartre, Imannuel Kant, Karl Jesper, sampai tokoh-tokoh seni dan sastra seperti Samuel Beckett, Adamov, Albert Camus, Eugene Ionesco dan lain-lain. Namun, pada posisi tersebut, negara tidak melindungi hancurnya karya-karya tersebut, negara juga tidak melindungi hak warga untuk mendapatkan ilmu. Justru, negara (yang diwakili aparat) berada di belakang aksi "sweeping" dan perampasan buku tersebut.

Sedangkan negara ini ingin menggalakkan literasi? Maka literasi, di telinga kami hanya terdengar sebagai proyek, yang tentunya menghasilkan uang, ketimbang fungsi utama dari literasi tersebut.

Kedua, betapa penerbit-penerbit kecil semakin sulit berkembang, bahkan berujung ke kebangkrutan. Penyebabnya, selain dominasi raksasa semacam Gramedia, ditambah lagi dengan pembajakan buku yang seakan sebuah karya cipta tak punya tameng pelindung. Ujung-ujungnya, penerbit kecil satu persatu gulung tikar, toko buku juga perlahan gulung tikar. Penulis-penulis selalu kesulitan menjual buku karyanya dan pajaknya justru semakin besar, yang membuat buku menjadi semakin mahal. Mahal untuk ukuran warga Indonesia kebanyakan.

Ketiga, situasi bagi para penulis semakin sulit dengan pembatasan kebebasan berekspresi. Jadi, selain karyanya juga sulit dijual, kesempatan untuk mendapatkan ilmu juga dibatasi dengan perampasan dan penghancuran buku, ditambah lagi dengan kelas menulis atau membaca dan berdiskusi, juga selalu minim penggemar. Situasi diperparah lagi dengan banyak penulis yang dibatasi pula kebebasan menulisnya. Ditambah lagi, seperti kasus Wiji Thukul misalnya, yang sudah dijanjikan oleh negara untuk diselesaikan kasusnya, tapi tak jelas ujung pangkalnya.

Keempat, jumlah yang "kecil" diterima oleh penerima anugerah semacam Eka Kurniawan di atas, menjadi semakin kecil apalagi bila dibandingkan dengan peraih medali perunggu Asian Games lalu. Hal itu menunjukkan satu hal, bahwa komitmen negara untuk kerja-kerja kebudayaan menjadi semakin dipertanyakan? Benar kata Eka, apakah negara benar-benar serius?

Kalau untuk seorang penulis yang mengharumkan nama negara, karyanya mendapatkan penghargaan tingkat internasional serta diterjemahkan ke puluhan bahasa saja seperti itu. Bagaimana kalau penulis tingkat kabupaten?

Kelima, hampir semua kegiatan yang berbau "kebudayaan", "kesenian", "literasi" dan setipenya oleh negara ini juga bentuknya "proyek". Maka bila mendatangkan keuntungan, bisa trending topik di media sosial sehingga pas untuk pencitraan, dan sebagainya, baru bisa jalan dengan baik dan diapresiasi dengan baik juga.

Lantas, Eka Kurniawan memutuskan untuk tidak hadir dalam kegiatan tersebut. Ia juga menolak anugrah yang disematkan kepadanya. Alasannya, tentu bukan masalah uang, tapi ia tidak mau angguk-angguk saja dengan apa yang dilakukan negara terhadap kerja kebudayaan. "Suara saya mungkin sayup-sayup, tapi semoga jernih didengar. Suara saya mungkin terkesan arogan, tapi percayalah, Negara ini telah bersikap jauh lebih arogan, dan cenderung meremehkan kerja-kerja kebudayaan," kata Eka.

Dengan penolakan ini, dengan kejadian yang terus menghimpit dan menekan dunia literasi dan sastra Indonesia, dengan banyaknya perampasan buku, serta pandangan "remeh" terhadap kerja kebudayaan, apa negara tidak juga mau berbenah? Bukankah kita hanya jadi negara yang "adidaya" bila dilihat dari kebudayaan dan kesenian? (ai) 

Kamis, 03 Oktober 2019

Ini Alasan Kenapa Teater Indonesia Mulai Tertinggal dengan Teater Malaysia


October 03, 2019

Ilustrasi pertunjukan teater

pojokseni.com - Ada banyak grup teater di Indonesia, dari Aceh sampai Papua. Namun, perkembangan industrinya masih terbilang mengecewakan, apalagi bila dibandingkan dengan industri film. Hasilnya, banyak bakat dan potensi di bidang teater perlahan menghilang dan hijrah ke bidang lain. 

Seperti dikatakan Garin Nugroho, seorang sutradara film yang juga aktif di bidang teater, jangankan dibandingkan dengan Amerika, Inggris dan sejumlah negara maju lainnya. Dibandingkan dengan Malaysia saja, Indonesia sudah ketinggalan.

Ada beberapa hal yang menyebabkan Teater Indonesia terus tertinggal, terutama dari Malaysia. Sebelumnya, perlu diingat bahwa di era 80-an dan 90-an, grup teater di Indonesia begitu berjaya, sedangkan di Malaysia sedang lesu-lesunya. Di akhir era 90-an, muncul Akademi Seni Kebangsaan (ASK, sekarang berganti menjadi ASWARA), yang melahirkan sejumlah nama lulusan awal yang mulai membangun industri teater di negeri jiran. Dari pergerakan, geliat, perlahan teater di negeri jiran sudah berkembang ke tahap industri.

Ada saja pementasan teater setiap minggunya, apalagi puncaknya di awal era 2010 ke atas. Grup-grup memiliki trend pentas dan aliran berbeda-beda, maka membentuk ekosistem penonton yang berbeda pula. Mahasiswa di sana digalakkan untuk menonton teater dengan tiket seharga mulai dari 30 Ringgit Malaysia atau setara dengan Rp 101.620 (dengan kurs saat ini 1RM sama dengan Rp3.367).

Setelah tamat, para sarjana atau diploma ini sudah terbiasa (bahkan sudah jadi gaya hidup) untuk menonton sebuah pertunjukan teater. Maka persaingan grup teater berlangsung ketat, siapa yang jarang latihan, kurang keras berusaha, maka akan kalah dengan yang berusaha lebih keras, atau memiliki nama lebih besar.

Selain itu, berbagai perusahaan juga berlomba-lomba untuk menjadi sponsor pertunjukan teater. Hasilnya, baik pertunjukan dengan budget besar maupun kecil sering sukses terselenggara. Teater yang baru muncul, biasa pentas dengan budget yang kecil, bahkan setara dengan Rp300.000 - Rp500.000 saja. Tentu saja, tiket untuk pementasan ini jauh lebih kecil ketimbang teater dengan budget besar.

Bila dibandingkan, ini perbedaan utama teater di negeri jiran dengan Indonesia.

1. Pemerintah Malaysia membebaskan pajak untuk pentas teater, di Indonesia pajak untuk pentas teater terhitung tinggi.

Ini poin pertama, perbedaan signifikan antara teater di Malaysia dengan teater di Indonesia. Pajak yang diberlakukan untuk teater di Indonesia terhitung cukup besar, bahkan mencapai 10% untuk teater komersil. Misalnya tiket seharga Rp10.000 dengan perhitungan kemungkinan penonton mencapai 100 orang, maka grup teater itu akan terkena pajak hingga Rp100.000.

2. Pemerintah Malaysia membebaskan biaya sewa gedung untuk pentas teater. Sedangkan di Indonesia, sewanya terlampau mahal.

Untuk pementasan teater, tari dan pameran seni rupa seniman lokal, Malaysia membebaskan biaya sewa gedung. Sedangkan di Indonesia, sewa gedung terlampau mahal. Minimal sewa gedung teater tertutup di Indonesia adalah Rp 1.000.000, itu untuk gedung yang masuk kategori menengah, dan belum ditambah biaya kebersihan dan sebagainya.

3. Selain tidak memberikan pajak, Pemerintah Malaysia justru memberi insentif tambahan pada grup teater.

Grup teater yang terus menjaga konsistensi dalam berkarya dan proses, mendapatkan insentif dari pemerintah Malaysia. Hal itu ditujukan agar seni pertunjukan teater terus semangat untuk memproduksi karya-karya terbaiknya, tanpa memikirkan masalah uang. Hal itu bisa dikatakan masih sulit diwujudkan di Indonesia.

4. Perusahaan besar berlomba-lomba menjadi sponsor pertunjukan teater di Malaysia, sedangkan di Indonesia mencari sponsor adalah hal yang cukup sulit.

Apalagi, bagi grup-grup baru. Mencari sponsor seperti mencari jarum di jerami. Mungkin dapat, tapi susahnya setengah mati. Ditambah lagi dengan materi yang ditampilkan kurang "populer" dan nama grup masih "sayup", maka mendapatkan penyandang dana bisa jadi sebuah "mission impossible".

5. Pelaku teater di Malaysia adalah "profesional", di Indonesia adalah "pekerjaan sampingan".

Ini adalah dampak dari semua poin di atas. Di Eropa, Amerika dan negara maju di Asia seperti Jepang dan Korea, para seniman teater adalah orang-orang profesional. Dengan arti, seni adalah profesinya dan mereka akan mencurahkan perhatian mereka sepenuh hati di bidang yang digeluti. Sedangkan di Indonesia, aktor atau seniman yang terlibat dalam pementasan adalah pekerjaan sampingan. Mereka terlibat dalam pentas teater murni karena kecintaan.

Meski demikian, ada satu hal yang Malaysia mesti salut pada seniman teater di Indonesia. Meski dalam keadaan yang berbanding terbalik tersebut, grup teater tetap mencari ruang, peluang dan berusaha sekuat tenaga. Kadang, biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil yang didapatkan.

Namun, seniman memang tidak mengejar uang di negeri ini. Bagi mereka (seniman teater), panggung dan lakon adalah sarana pencerahan bagi masyarakat, sarana perlawanan, juga hiburan yang bergabung menjadi satu kesatuan. (ai/pojokseni.com) 

Sabtu, 21 September 2019

Tubuh Padang Oleh Komunitas Hitam Putih Dihelat di Pekan Teater Nasional


September 21, 2019


Komunitas Seni Hitam Putih rencananya akan mementaskan "Tubuh Padang" karya/sutradara Yusril Katil dalam Pekan Teater Nasional 2019. Kegiatan yang digelar Direktorat Kesenian, Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan Dewan Kesenian Jakarta tersebut tahun ini digelar di Panggung Utama Taman Budaya Kalimantan Timur, Samarinda, tanggal 20 hingga 26 September 2019. Pentas Tubuh Padang dari Komunitas Seni Hitam Putih kebagian pentas pada hari Sabtu (21/9/2019).

Kegiatan yang dirangkai dengan Pekan Seni Indonesia ini mengusung tema besar "Tubuh Gunung: Resonansi Teater Tradisi". Tema ini dimaknai sebagai batas habitat untuk mengenali tubuh tradisi (setelah budaya laut maupun maritim).
"Setiap tradisi mengandaikan adanya komunitas budaya yang bergantung pada tempat sebagai sumber kehidupan maupun medan representasi dari berbagai produksi pengetahuan, keahlian, folklor, dan kepercayaan,” kata Afrizal Malna, salah seorang kurator Pekan Teater  Nasional, Jumat, 20 September 2019.
Menurut Afrizal Malna, dalam Pekan Teater Nasional ini, tema “Tubuh Gunung” ini, kurator membagi tiga pokok garapan, yakni Kanon Tradisi, Post-Tradisi, dan Teater Riset.
“Masing-masing subtema memiliki kecenderungan dan kekuatan,” ungkap Sahrul N, dramaturgi “Tubuh Padang” ini, Komunitas Seni Hitam Putih menjadi salah satu penampil yang diundang dalam Pekan Teater Nasional dengan garapan teater yang berbasis pada riset, terutama pada eksplorasi pertunjukan tradisional randai, dengan menjelajahi berbagai kemungkinan tematik dan estetik di dalamnya.
“Karya ini berangkat riset terhadap seni tradisional randai Minangkabau sebagai vokabuler gerak tubuh aktor. Randai adalah perpaduan dari sastra, musik, seni suara, seni tari, teater dan pencak silat. Karya ini memiliki ciri melibatkan beberapa aspek seni dan bersifat total dan pembesaran,” urai Sahrul N.
Sementara itu, Yusril Katil, sutradara “Tubuh Padang” mengatakan, randai yang digunakan dalam karya ini adalah legaran atau gerak lingkaran pemain randai yang bersumber dari silat dan aktraktif.
“Di sini muncul bentuk yang secara visual menarik untuk ditonton atau menjadi pamenan mato dalam kebudayaan Minangkabau.Pamenan mato dipengaruhi oleh keindahan lihatan. Pamenan merupakan suatu fungsi yang penuh makna yang bisa diartikan sebagai permainan. Maka, teater 'Tubuh Padang' merupakan pertunjukan berbasis riset,” terang Yusril Katil.


Dalam pamenan,  tambahnya, ada sesuatu yang turut bermain yang melampaui hasrat untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan memasukkan suatu makna ke dalamnya. Fakta bahwa pamenan mempunyai makna, mengimplikasikan adanya suatu unsur non-materil dalam hakekat pamenan itu sendiri. Pamenan juga diartikan sebagai ideologi tentang demokrasi seni.

Sementara itu, Sudarmoko, periset dalam proyek “Tubuh Padang” menambahkan, prinsip-prinsip demokrasi yang menjadi dasar relasi sosial dalam masyarakat Minangkabau membuat pertunjukan randai tidak mengenal pemimpin yang berkuasa mutlak. Meskipun penyelenggara pertunjukan randai tergabung dalam struktur yang memunculkan posisi yang berbeda antara satu dengan yang lain, namun dalam pelaksanaannya semua unsur bekerja bersama-sama.

Makna demokrasi yang diterapkan dalam penyelenggaraan pertunjukan randai bukan berarti menghilangkan tingkat dan posisi. Akan tetapi, tingkat dan posisi itu tidak dimaknai sebagai sesuatu yang kaku dan mutlak secara menyeluruh. Masing-masing orang yang menempati posisi tertentu diberi jalan agar pikiran dan pendapat mereka didengar dan dipertimbangkan.
“Esensi estetik dari randai adalah bagaimana masing-masing kreator memiliki kebebasan terhadap bidangnya masing-masing. Esensi estetik yang melatar belakangi randai, ditentukan oleh masyarakat pendukungnya, sedangkan 'esensi artistik' ditentukan oleh tuo randai beserta pemain dan bahkan juga ditambah masyarakat lingkungannya.  Hal ini sangat terbuka dan hadir dalam tafsir 'Tubuh Padang'," urai Sudarmoko.
Lebih jauh ia katakan, perubahan pada randai menyentuh berbagai macam bidang (tidak hanya pada bentuk), baik itu dari pandangan sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan termasuk di dalamnya kesenian. Perubahan yang terjadi di tengah masyarakat juga mempengaruhi perubahan kesenian di tengah masyarakat, termasuk di dalamnya teater.

Pertunjukan ini didukung oleh komposer Avantgarde Dewa Gugat, video art/dokumentasi Topan Dewa Gugat, dan aktor Yogi, Ahmad Ridwan Fadjri, Aditya Warman dan Rahmat Pangestu Hidayat.


Pertunjukan ini juga menjadi sebuah penjelajahan eksplorasi dalam memadukan unsur pertunjukan tradisi, transfer pengetahuan dari tradisi ke kontemporer, sumber penciptaan teater dengan memanfaatkan silek, randai, dan kekayaan budaya lainnya, serta pencarian estetika baru dengan media dan teknologi kontemporer. (isi/pojokseni)

Minggu, 15 September 2019

Teater Sebagai Medium Perlawanan, Tapi Melawan Apa?


September 15, 2019

Ilustrasi teater

Sejak dulu, teater kerap di-identikkan sebagai medium perlawanan. Padahal, ketika diperkenalkan di Yunani abad ke-6 SM, teater ditujukan untuk menyokong ritual keagamaan. Sampai perkembangan teater terus terjadi mengikuti zaman, bermunculan teater tradisional, maka teater berpindah peran menjadi hiburan dan budaya.

Selanjutnya, teater modern lahir. Maka teater mulai berubah peran, mulai dari menjadi penyampai pesan, hingga medium perlawanan. Bahkan, dalam titik negatifnya, teater juga berubah menjadi agen kepentingan.

Mengingat teater sebagai perlawanan, tentu akan mengarahkan kita ke nama dramawan legendaris Indonesia, WS Rendra. Namanya begitu harum tersimpan di memori teater Indonesia. Sebab, teater baginya tidak hanya untuk hiburan juga budaya, tapi lebih pada perlawanan. Karena itu, pemerintah Orde Baru (Orba) melakukan pengawasan, berlanjut ke pelarangan pada setiap pementasan Rendra.

Namun, kembali ke pertanyaan paling awal, apabila teater memang kerap dijadikan medium perlawanan, maka siapa lawannya? Tidak sedikit yang akan menjawab; "penguasa!" Ternyata, tidak hanya "penguasa" yang bisa menjadi objek perlawanan. Ketidak adilan, tindak yang tidak manusiawi, serta kebiasaan merendahkan orang yang tidak satu kelompok, juga sering menjadi "objek perlawanan" bagi seorang seniman.

Ilustrasi pertunjukan teater (Teater Satu Lampung dalam karya Kisah-Kisah yang Mengingatkan)

Setiap karya seni pertunjukan, lahir dari atau sebagai respon seorang seniman terhadap lingkungan dan sosial sekitarnya. Ada yang menatap kerusakan bentang alam dan para pengrusaknya sebagai orang-orang yang mesti dilawan, lewat teater. Ada seniman lain yang menatap kemalasan bangsa ini, sehingga SDA yang kaya raya dan melimpah tak mampu diolah dengan baik karena tidak adanya SDM. Maka itu dianggap sesuatu yang perlu dilawan, dirubah dan diluruskan.

Ada yang mencintai kemanusiaan dan kedamaian. Tindak pemerkosaan, perudungan, penghinaan status sosial, warna kulit dan sebagainya, dianggap sebagai sebuah lawan yang juga harus dihapuskan.
Ada yang melihat perang sebagai kejahatan kemanusiaan, maka lahir karya yang melawan itu, agar perang dapat terhenti dan dihapuskan dari muka bumi.

Ada yang ingin kesetaraan gender, ada yang ingin kesetaraan ras, ada yang ingin kesetaraan agama dan lain sebagainya. Lalu menggunakan karya teater untuk menyampaikan kegelisahannya, dan tentunya "perlawanannya".

Ada yang melihat ketergantungan anak muda penerus bangsa sekarang pada gawai, bermain gem sepanjang malam, maka runtuh hubungan sosial antar manusia gegara gadget. Ada yang tidak peduli pada prestasi dan pengetahuan, lebih peduli pada popularitas dan sensasi. Maka hadir sebuah perlawanan dalam bentuk sebuah karya.
Ada juga yang melihat betapa banyak makhluk yang kecanduan agama, belajar di tempat yang salah, lalu menimbulkan pergesekan atas nama agama. Lalu, muncul pula karya teater yang mencoba menentang hal itu.

Atau, semakin banyak orang yang hidup hanya untuk mempersiapkan mati, lalu hidup hanya diisi dengan keegoisan diri sendiri mencapai tujuan pribadi. Lebih mengerikannya, semua yang ada di sekelilingnya, dianggap sebagai sampah atau setidaknya punya derajat yang jauh di bawah dia. Lagi-lagi, karya teater muncul untuk menentang itu.

Ada yang melihat bahwa manusia telah kehilangan makna, kehilangan sekaligus lupa akan tugasnya sebagai manusia. Ada juga yang melihat krisis eksistensial seorang manusia, atau kehidupan yang tak lebih dari labirin yang berputar-putar. Lalu, lahirlah karya yang menyampaikan pesan itu, sekaligus memprovokasi penonton untuk menentangnya.

Intinya, semua masalah akan terlihat ketika seorang seniman membuka mata. Dalam satu titik masalah yang sama, dua orang seniman akan memiliki perspektif berbeda menanggapinya, lalu mencurahkannya dalam sebuah karya seni pertunjukan.

Perspektif itu, kemudian diobservasi, baik kecil-kecilan, berbentuk studi pustaka, atau malah observasi besar-besaran, hingga terjun langsung ke lapangan. Kemudian, diimplementasikan dalam bentuk sebuah karya. Tidak lupa pula, sejumlah pendapat dan pandangan filsuf, pemikir, tokoh bahkan kata-kata Nabi yang mendukung ide, pesan dan konsep pementasan itu, sering juga di-include-kan ke tubuh karya. Unsur-unsur estetik kemudian digarap sesuai dengan dramaturgi. Ditambah proses latihan yang makan waktu sampai berbulan-bulan. Dan, sebuah karya akhirnya ditampilkan.

Maka, hasilnya adalah sebuah keragaman karya. Setiap grup teater memiliki ciri khas karya masing-masing, berdasar dari pandangan mereka terhadap lingkungan sosial sekitarnya. Maka karya itu akan lahir dari dalam perasaan terdalamnya, maka karya itu akan lahir dengan jujur. Maka penonton juga memiliki banyak pilihan, memilih pertunjukan teater yang sesuai dengan visinya, "mengenyangkan" dan memberi "nutrisi" yang dibutuhkan, dirindukan sekaligus diinginkannya. Maka, teater dan penontonnya akan memiliki satu ikatan batin, yang hanya terpisah oleh dinding keempat.

Seorang seniman tidak hanya bertugas untuk menambah pengetahuannya, melatih dirinya dan menciptakan sebuah karya. Lebih dari itu, ia mesti melihat lingkungan sekitarnya dan memberi respon dengan sebuah karya. (ai/pojokseni)  

Senin, 12 Agustus 2019

Apresiasi Sastra Indonesia Melalui Pelestarian Kebudayaan Daerah


12 Agustus 2019

©Justian/Bal

“Kau mengumpulkan orang-orang Luwu. Memanggil semua rakyatmu dan memaksa mereka menebang pohon untuk sebuah istana di Ware.”
Kutipan diatas merupakan salah satu isi dalam buku puisi Manurung: 13 Pertanyaan untuk 3 Nama karya Faisal Oddang.
Buku puisi Manurung terinspirasi dari La Galigo, epos legendaris Bugis. Tidak hanya dari La Galigo, karya Faisal Oddang yang lain juga bercermin dari kebudayaan Bugis. Beberapa yang telah ia terbitkan yaitu cerpen Di Tubuh Tarra dalam Rahim Pohon (2014), novel Puya ke Puya (2015), dan novel Tiba Sebelum Berangkat (2017).

Faisal Oddang adalah sastrawan muda lulusan Sastra Indonesia Universitas Hasanuddin. BALAIRUNG berkesempatan untuk mewawancarai Faisal Oddang di akhir acara diskusi sastra yang diselenggarakan panitia Festival Sastra 2019 di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM. Dalam wawancara bersama Faisal Oddang, ia banyak memberikan perspektif baru mengenai sastra daerah dan kebudayaan daerah.

Apa itu sastra daerah?

Sastra daerah adalah karya sastra yang merupakan respon penulis terhadap fenomena budaya di suatu tempat. Jika dikaitkan mengenai tema diskusi sastra yang mengangkat lokalitas sastra Indonesia, lokalitas sastra Indonesia yang dimaksud adalah sastra Indonesia yang mengangkat isu-isu daerah.

Bagaimana dengan karya sastra Indonesia yang mengangkat isu kedaerahan?

Kaitannya dengan sastra Indonesia yang mengangkat isu kedaerahan, saya melihat bahwa itu adalah karya sastra yang lahir sebagai respon atas peristiwa-peristiwa atau tafsir dari suatu kebudayaan di suatu tempat. Saya sendiri sering merespon kebudayaan di Sulawesi Selatan.

Mengapa Anda tertarik menulis sastra daerah?

Sebenarnya bukan persoalan saya tertarik atau tidak, tetapi saya memang berangkat dari kebudayaan itu. Saya lahir, tumbuh, belajar, dan berpikir dengan cara yang sangat Bugis atau Makassar. Saat ingin merefleksikan atau merespon sesuatu, saya tidak bisa jauh-jauh mengambil permasalahan kebudayaan karena keresahan itu berasal dari sesuatu di sekitar dan hal itu saya respon di  dalam tulisan.

Mengapa kita perlu mengetahui dan mempelajari kebudayaan daerah?
Sebenarnya tidak harus karena hal tersebut tidak bisa dipaksakan. Saya ingin pembaca memiliki perspektif lain untuk memandang sebuah nilai dari suatu tempat atau wilayah. Misalnya, mungkin kita bisa mendapatkannya di buku teks, itu satu perspektif. Namun perspektif lain yang diwakili oleh karya sastra juga penting untuk dibaca.

Bagaimana cara melestarikan sastra daerah tersebut?

Itu di tingkat yang lebih jauh. Mungkin ada beberapa penulis yang menulis tentang kebudayaannya dengan keinginan untuk melestarikan, tapi itu bukan saya. Saya tidak memiliki tendensi sebesar itu. Saya menulis untuk merespon fenomena budaya agar menghadirkan perspektif baru saja. Permasalahan karya sastra akan lestari atau bertahan itu urusan lain.

Apakah sastra daerah dapat membantu perkembangan kebudayaan nasional?

Saya agak bingung mendefinisikan mana yang kebudayaan daerah, lokal, dan nasional. Siapakah sebenarnya yang merepresentasikan kebudayaan ini? Apakah kebudayaan nasional berasal dari wilayah yang masyarakatnya dominan? Cara berpikir kita yang mendikotomi sastra nasional dengan sastra daerah menyebabkan semua permasalahan yang ditulis dalam karya tidak sepenuhnya menjawab permasalahan daerah. Saya menganggap bahwa sastra yang membicarakan tentang daerah-daerah di Indonesia ini penting dilihat secara kolektif sebagai satu kesatuan. Identitas Indonesia adalah keragaman sehingga sastra harus dilihat dari berbagai perspektif dari daerah-daerah yang beragam juga.

Bagaimana tanggapan mengenai dikotomi antara sastra daerah dengan sastra Indonesia?

Dikotomi antara sastra daerah dan sastra Indonesia adalah masalah karena kita tidak bisa membedakan permasalahan nasional dan permasalahan daerah. Menurut saya, permasalahan daerah adalah bagian dari permasalahan nasional dan karya sastra yang merespon permasalahan tersebut tidak perlu digolongkan kembali. Itu semua adalah karya sastra Indonesia tapi berasal dari persoalan asal daerah yang beragam. Hal itu dipengaruhi asal daerah penulisnya atau asal gagasan yang menurut penulis penting untuk disampaikan. Jadi, pada dasarnya saya kurang sepakat dengan dikotomi sastra nasional-sastra lokal atau daerah.

Bagaimana cara apresiasi sastra daerah yang ideal?

Apresiasi yang penting adalah menuliskan karya itu sendiri, membacanya, dan menciptakan dinamika atau dialektika dari penulis ke pembaca yang berupa kritik. Kesusastraan Indonesia akan terbangun dari sebuah kritik. Pembaca akan memberikan respon atau dialektika terhadap suatu karya, dinamika itu penting untuk perkembangan orang-orang yang menulis. Itu respon yang menurut saya ideal.

Apa kesulitan dalam menyadur sastra daerah ke Bahasa Indonesia untuk mengenalkan kebudayaan daerah itu sendiri?

Kesulitan menyadur sastra daerah ke bentuk yang lebih baru adalah berusaha membuatnya diterima khalayak umum. Hal tersebut karena karya sastra daerah itu sesuatu yang tersegmentasi sehingga pembaca kurang memahaminya.

Bagaimana cara menggugah pembaca menikmati karya sastra yang disuguhkan?

Pembaca memang penting diperhatikan dalam menulis, namun hal yang saya utamakan adalah hubungan saya dengan tulisan itu. Tulisan inilah yang berhubungan dengan pembaca. Selain itu, hal yang penting dilakukan juga untuk membuat tulisannya diterima masyarakat luas.  Misalnya, merespon persoalan tradisi di Bugis. Prinsip merespon persoalan tradisi seperti piramida terbalik yaitu memasukkan persoalan yang lebih dipahami oleh pembaca secara umum. Setelah mengerti masalah umum yang terjadi, orang akan masuk lebih jauh ke tradisi yang membentuknya.

Bagaimana sastra daerah yang Anda tulis membantu menjawab permasalahan budaya saat ini?

Saya tidak ada tendensi untuk menjawab permasalahan, tapi yang saya lakukan dalam menulis adalah merespon permasalahan. Sastra daerah akan menghadirkan perspektif baru untuk melihat permasalahan budaya sehingga pembaca bisa bertindak sesuai bidang dan kemampuan mereka. Karya sastra disini tidak membantu secara langsung, melainkan menjadi perantara antara pembaca dengan permasalahan yang ada.

Bagaimana cara untuk berani menulis karya sastra?

Hal yang membuat kita berani menulis adalah banyak membaca karena kita akan merasa memahami dan memiliki cukup bahan untuk menulis. Kalau persoalan “saya harus memberanikan diri”, itu hal lain. Hal pertama adalah memperbanyak bacaan mengenai sesuatu yang ingin kita tulis.

Penulis: Marcelinus Justian Priambodo
Penyunting: Ayu Nurfiazah


Kamis, 01 Agustus 2019

Apa Kabar Kritik Sastra?


Rohmatul Izad* - 01/08/2019


Tidaklah mudah untuk memulai suatu perbincangan tentang kritik sastra pada saat ini. Kita hampir selalu berada dalam keraguan dan perasaan yang kurang enak. 

Apabila kita hendak mengatakan kritik sastra tidak ada, atau kita tidak punya kritik sastra, rasa-rasanya seakan mau meniadakan sebuah upaya yang dilakukan oleh berbagai kalangan untuk menjadikan kritik sastra itu ada.

Sastra adalah sebuah oase kecil di tengah-tengah keluasan hamparan padang pasir dan kritik sastra adalah angin yang melintas di sekitar oase itu. Publikasi sastra kita memang sangat terbatas, begitu pula dengan karya kritik sastra. Kritik sastra kita boleh dibilang masih berupa angin lalu yang tertiup sepoi-sepoi melintasi oase di tengah gurun pasir.

Di era H.B Jassin dulu, banyak yang mengatakan kritik sastra ada. H.B Jassin sendiri adalah seorang kritikus sastra. Orang-orang menjadi sastrawan setelah dibicarakan oleh H.B Jassin. 

Tetapi, kita bisa bertanya, bukankah kemampuan H.B Jassin terbatas? Tentu sangatlah terbatas waktu yang digunakan H.B Jassin betapapun tekunnya membaca banyak karya-karya sastra yang berhamburan di atas mejanya. Di samping pandangan-pandangan kesusatraan, ia juga diuji dengan zaman yang terus berubah.

Sehingga jangan heran bila di zaman ini, dengan tidak melupakan jasa H.B Jassin di masa lalu, akan selalu ada para sastrawan yang mengatakan bahwa H.B Jassin memang besar dan hebat, tetapi dia lebih besar dan lebih layak disebut seorang dokumentator sastra Indonesia dibandingkan dengan seorang kritikus sastra.

Sekarang ini, hampir tidak ada lagi paus kesusatraan. H.B Jassin sendiri dijuluki dengan paus kesusastraan. Tidak ada dokumentator sastra dan tidak ada ketekunan untuk mengabdikan selama seluruh hidupnya kepada sastra seperti H.B Jassin. 

Dalam situasi yang cenderung berubah ini, penciptaan karya sastra terus berlangsung, walaupun tanpa kritikus sastra yang berwibawa. Penulisan esai-esai terus berlangsung, untuk karya-karya yang dipilih, rasa-rasanya tetap timpang. Jumlah karya sastra jauh melampaui dari kritik sastra atau esai-esai yang dilahirkan pada zaman ini.

Hari ini hampir siapa saja bisa menjadi “kritikus sastra” atau menjadi komentator yang kritis terhadap karya sastra. Orang-orang dari kelompok keagamaan, ibu-ibu rumah tangga, pegawai negeri, dan wartawan, semuanya bisa bicara tentang sastra dengan nada yang cukup kritis. Tetapi sebetulnya itu semua tidak lebih dari perbincangan tentang sastra dari orang-orang yang mengapresiasi secara alakadarnya.

Lantas di manakah kedudukan para kritikus? Pertanyaan ini boleh jadi selalu menganggu, dan banyak yang terganggu oleh keraguan, siapakah yang dimaksud dengan kritikus? 

Sebetulnya yang kita harapkan sebagai kritikus adalah para akademisi yang banyak menekuni pembacaan sastra. Juga, pada saat yang sama, mereka menguasai teori-teori sastra yang bisa dia gunakan untuk membahas karya-karya yang dia baca, dengan memberikan alasan-alasan yang kritis terhadap penilaiannya, yang tentunya bisa dipercaya karena bertolak dari ilmu pengatahuan yang dia kuasai.

Tapi sayangnya, meskipun sekarang ini banyak sekali ahli-ahli di bidang kesusatraan, atau ahli-ahli teori sastra, tetapi semuanya tidak cukup untuk melahirkan seorang kritikus sastra. Mengapa bisa begitu? Karena menjadi kritikus sastra sudah dianggap bukan sesuatu yang menarik. Mereka tidak bisa hidup sebagai kritikus.

Sesekali memang ada juga yang menguasai teori, dan apresiasi itu digunakan untuk membahas karya-karya sastra tertentu, yang memang ada nilai kritiknya, tapi sangat terbatas pada karya-karya pilihan dan jumlahnya pastilah sangat jauh dari kata memadai. 

Ruang kritik sastra ini juga lebih banyak beredar di media sosial ketimbang di surat kabar. Artinya, dunia kritik sastra kurang memiliki antusiasme dalam menghasilkan pertarungan pemikiran, yang kemudian dibukukan sebagaimana polemik-polemik sastra yang terjadi di masa lampau.

Selain itu, surat kabar atau koran tak lagi melahirkan perdebatan sastra. Alasannya, selain koran tak memuat tanggapan, para medioker juga lebih cenderung lari ke media sosial. 

Terkait dengan berkurangnya interaktivitas kolom sastra dan budaya di koran, kini banyak wartawan yang dipaksa menjadi pengulas seni. Boleh jadi, redaktur seni dan budaya yang memang benar-benar jeli sudah tidak ada lagi, sehingga orang-orang yang tidak berkapasitas sebagai pegiat seni dan sastra berkecimpung bukan di bidangnya.

Posisi dan peran seorang kritikus sastra memang sangat rumit dan banyak sekali risikonya. Namun kehadiran mereka sangatlah diharapkan oleh para pembaca sastra dewasa ini, meskipun waktu yang tersedia buat mereka sangatlah terbatas. 

Kita memerlukannya sekaligus mengharapkannya, karena memang kehadiran mereka sangat diperlukan. Pertama, untuk memberikan pemantaban terhadap pengembangan upaya apresiasi sastra dalam masyarakat Indonesia. Kedua, untuk menegaskan tingkat pencapaian mutu dari kesusatraan kita di tengah-tengah gelombang besar sastrawan dunia. 

Sekarang, ini semua masih belum kita dapatkan. Keberuntungan kita lebih banyak berupa kehadiran esai-esai yang hebat, yang sesekali, dilahirkan oleh esais-esais hebat tanpa prevensi untuk menjadi seorang kritikus sastra yang hebat.
___

*Rohmatul Izad, Penulis. Alumni Magister Pascasarjana Ilmu Filsafat Universitas Gadjah Mada. Dosen Filsafat di IAIN Ponorogo

Selasa, 23 Juli 2019

Wayang Sasak Tumbuh di Bawah Bayang Kecurigaan

Reporter: Abdul Latief Apriaman (Kontributor)
Editor: Ludhy Cahyana
Selasa, 23 Juli 2019 07:07 WIB

Wayang Sasak di Lombok. TEMPO/Supriyantho Khafid

TEMPO.CO, Jakarta - Tak seperti wayang jawa atau wayang bali yang memainkan epos Mahabarata dan Ramayana, wayang sasak memainkan lakon yang bersumber dari Serat Menak. Serat yang menjadi inti cerita dalam itu ditulis sekitar tahun 1717 Masehi, oleh Ki Carik Narawita atas perintah Kanjeng Ratu Mas Balitar, permaisuri Sunan Paku Buwana I, Surakarta.

Serat itu ditulis dalam Bahasa Kawi, bahasa yang juga digunakan dalam pertunjukan Wayang Sasak. Sampai hari ini belum ada bukti-bukti sejarah yang menunjukkan kapan Serat itu sampai ke Lombok untuk dijadikan babon atau sumber cerita Wayang Sasak.

Dalam buku Deskripsi Wayang Kulit Sasak, terbitan Kanwil Depdikbud NTB, 1993, yang di tulis Muhammad Yamin dan kawan-kawannya, terdapat beberapa versi datangnya Wayang Sasak ke Lombok. Mulai dari cerita seorang wali, di Lombok Tengah, Wali Nyatok, saat masih kanak-kanak sempat belajar mendalang ke Jawa bersama seorang kawannya dari Desa Rambitan. 

Pada suatu hari, konon Wali Nyatok berangkat ke Jawa setelah Isya dan balik ke Rambitan keesokan harinya sebelum matahari tenggelam. Setelah itu sang wali sudah menceritakan wayang kepada kawan-kawan sepermainannya.  

Cerita lainnya, tentang seorang wali, Pangeran Sangupati Urip, yang datang ke Lombok untuk mengobati masyarakat Lombok yang saat itu terkena wabah penyakit menular. Sang pangeran Sangupati kemudian mensyaratkan penduduk Sasak untuk melafalkan dua kalimat syahadat.

Dalam kisahnya kemudian, wabah penyakit berangur-angsur hilang, dan sebagai ungkapan rasa syukur digelarlah Gawe Mangenjangan. Di puncak acara gawe itu, digelar pertunjukan wayang dengan dalang Pangeran Sangupati.

Made Darundya, Salah seorang dalang Wayang Sasak beragama Hindu, mendalang di rumah seorang warga di Lingsar, Lombok Barat. Kendati merupakan media penyebaran Agama Islam, namun Wayang Sasak, juga dimainkan dalang beragama Hindu dan di tanggep oleh warga Lomok beragama Hindu.TEMPO/Ardhi

Riwayat lainnya, yang menyebut bahwa Wayang dibawa ke Lombok bersamaan dengan masuknya Islam yang dibawa oleh Sunan Prapen, putra Sunan Giri. 
“Awalnya Sunan Prapen membawa lakon Ramayana dan Mahabrata, tapi karena tidakditerima oleh masyarakat Lombok, lakon itu kemudian diganti dengan Serat Menak,” kata Sadarudin, seorang guru di Mataram yang juga aktif mendalang.
Kendati terdapat beragam versi sejarah datangnya wayang Sasak ke Lombok, akan tetapi seluruh sumber itu merujuk pada satu kesimpulan yang sama, bahwa wayang sasak bersumber dari pulau Jawa dan digunakan untuk menyebarkan agama Islam di Pulau Lombok.
“Alat-alat musik wayang sasak sangat sederhana, bisa dengan mudah dibawa ke mana-mana, sangat berbeda dengan wayang jawa dan wayang bali,” Sadarudin merinci musik wayang sasak hanya terdiri dari dua buah gendang, dan masing-masing satu buah gong, rincik, petuk, kenong dan suling.
Meski menjadi sarana syiar Islam di wilayah mayoritas berpenduduk muslim, wayang sasak tak langsung diterima dengan mudah di Lombok. Tidak semua masyarakat pulau seribu masjid, bisa menerima kehadiran wayang sasak. Terutama warga di Kelurahan Pancor, Kecamatan Selong, Lombok Timur misalnya.
“Seumur hidup saya, tidak pernah ada pertunjukan wayang di Pancor ini,” kata Haji Muhammad Azhar (80), Ketua pengurus Masjid At-Taqwa, Pancor.
Menurut Azhar, adalah para tuan guru, termasuk Tuan Guru Kiyai Haji Zainudin Abdul Majid, tokoh pendiri Nahdlatul Wathan (NW)—organisasi Islam terbesar di pulau Lombok—yang melarang pertunjukan wayang di Pancor.
“Kalau mau nonton wayang di Selong, di sini tidak ada wayang,” tutur Azhar.
Menurut dia, larangan pertunjukan wayang itu bukan lantaran anggapan bidah, tapi lebih karena kehawatiran timbulnya gesekan akibat pertunjukan wayang hingga larut malam. Setiap gawe hari besar seperti perayaan 17 Agustus, biasanya akan diselenggarakan pasar malam di Kota Selong, di situlah pertunjukan wayang digelar.

Kendati tak pernah ada pertunjukan wayang di Kelurahan Pancor, di wilayah Selong, wayang sasak masih bisa dipertontonkan. Dua kelurahan ini dulunya berbatas sawah sepanjang 2 km, namun kini kedua kelurahan itu tak berbatas lagi.

Sejumlah dalang yang dikonfirmasi, mengaku belum pernah mendalang ke Pancor. Muhammad Subeki (57), seorang dalang yang masih aktif mendalang di Lombok Timur, mengaku kerap menggelar pertunjukan di berbagai wilayah di Lombok Timur. Khusus untuk Pancor, dia sempat mendalang di perbatasan Kelurahan Pancor dan Selong.
“Saya pentas sekali di terminal, perbatasan Selong dan Pancor,” kata Subeki.
Pandangan sebagian masyarakat Lombok bahwa wayang sasak adalah kesenian yang hukumnya bidah, tidak ditampik oleh Tuan Guru Hasanain Juaini, pimpinan Pondok Pesantren Nurul Haramain, Narmada, sekaligus Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) NTB. Hasanain menganggap pandangan itu muncul karena ketidaktahuan, karena kecurigaan.
“Itu muncul karena satu sama lain tidak saling memahami, karena ketidaktahuan,” katanya.
Menurut Hasanain, mereka hanya mereka-reka saja pendapat itu, tidak berdasarkan kenyataannya.

Kondisi saling curiga itu, menurut Hasanain akan diperparah dengan munculnya hoax, kebohongan yang sengaja dibuat.

Minggu, 07 Juli 2019

Klana Dhusta


7 Juli 2019 - 12:05 PM

Topeng, seperti halnya wayang: hidup!

Bukan kah kehidupan dan kematian itu tidak hanya bergantung pada penggolongannya: benda-hidup atau benda-mati? Kehidupan dan kematian juga bergantung pada ‘siapa’ dan ‘apa’ yang menggerakkan atau membekukan benda-benda; ‘siapa’ dan ‘apa’ yang mengisi atau melenyapkan roh (anima) benda-benda. Barangkali termasuk Topeng Klana Sewandana ciptaan Sujiman dari Bobung Pathuk Gunungkidul di Balai Kota Surakarta pada malam itu (Sabtu, 6 Juli 2019) di acara tahunan International Mask Festival (IMF) yang mengusung konsep “pertunjukan seni topeng dan pameran kerajinan topeng”: tampak begitu hidup melakonkan karakter sang tokoh cerita; menggantikan wajah sang penari.

Kepada saya sesaat sebelum pementasan, Yestriyono, Sang Penata Tari, sekaligus pemeran Klana Sewandana malam itu, mengatakan bahwa Topeng Klana ciptaan Sujiman benar-benar hidup, benar-benar berkarakter. Ia, sebagai penari profesional, yang telah mengenal seni topeng dan tari topeng begitu dekat, tak bisa menahan decak-kagumnya.
 Ia tak sabar ingin segera membuktikannya. Memang, Sujiman menciptakan topeng itu bukan tanpa wewaton. Sebelum berkarya, ia mendasarinya terlebih dulu dengan laku-prihatin. Meskipun setelah saya bertanya kepada Pak Sujiman beliau pun tak benar-benar tahu: apakah kuatnya karakter Topeng Klana Sewandana ciptaannya itu sebagai buah dari laku-prihatinnya atau bukan. Ia hanya mencoba menceritakan apa-adanya.

Pak Sujiman adalah penanggung-jawab Sanggar Seni “Ngesti Budaya”
Tari-Wayang Topeng Bobung Pathuk Gunungkidul. Sujiman kapiji menjadi pengasuh Sanggar Seni Tari-Wayang Topeng Bobung terhitung dua tahun. Dulunya, Sanggar Seni Tari-Wayang Topeng Bobung diasuh oleh Mbah Adi Sugiman, yaitu satu-satunya leluhur Bobung pelaku dan pewaris seni ini. Tari-Wayang Topeng merupakan peninggalan-beliau yang beberapa waktu tidak dilestarikan. Sebelumnya, kegiatan Tari-Wayang Topeng Bobung tidak berjalan. Oleh Sujiman Tari-Wayang Topeng Bobung diramaikan kembali. Sekarang beberapa undangan pementasan hadir dan dapat berjalan. Termasuk pementasan malam itu, malam kedua International Mask Festival (IMF), Sujiman mendapat undangan pentas secara langsung dari panitia kegiatan tanpa melalui Dinas Kebudayaan Gunungkidul. Namun karena terbatas durasi pementasan (kurang lebih 30 menit) dan biaya produksi serta format penyajian penggalan-cerita padat (fragmen), maka Sujiman membawa tim produksi sejumlah 19 sudah termasuk penari (12) dan  penabuh (7).

Pak Sujiman: Penanggung Jawab Sanggar Seni Tari Wayang Topeng Bobung dan Marsilan: Sekretaris

Sujiman memilih fragmen berjudul: “Klana Dhusta”. Fragmen Klana Dhusta merupakan penggalan cerita Panji sebelum Raden Panji dan Dewi Sekartaji melaksanakan dhaup. Diawali dengan adegan di Bantarangin: Klana Sewandana dihadapkan oleh Sang Patih dan bala-tentara raksasa dalam sebuah pisowanan-agung. Dalam adegan ini Klana Sewandana gandrung-gandrung kepada salah satu bala-tentaranya, yang ia-kira Dewi Sekartaji. Begitu menginginkannya Klana Sewandana kepada Dewi Sekartaji, maka ia hendak nglurug ke Jenggala: berencana ndhusta Sekartaji dari tangan Panji, dari Jenggala.

Adegan selanjutnya: Dewi Sekartaji dan Panji Asmarabangun sedang andom-andum asmara di taman kraton. Ketika Panji lengah, Sekartaji coba kadhusta (dilarikan) oleh Klana. Mengetahui keadaan ini, Panji segera mencegah. Terjadilah dredah (peperangan) antara Panji dengan Klana Sewandana beserta bala-tentara raksasa. Kala Panji Asmarabangun sibuk berperang melawan bala-tentara raksasa, Klana Sewandana berhasil ndhusta Dewi Sekartaji pergi dari Jenggala.

Begitu lah sajian fragmen penggalan cerita Panji malam itu. Di acara-acara lain, Sanggar Seni “Ngesti Budaya” Tari-Wayang Topeng Bobung menyajikan cerita yang berbeda. Sujiman menerangkan bahwa cerita apa yang disajikan bergantung siapa yang nanggap. Ada kalanya si penanggap adalah orang luar Indonesia (misalnya Perancis dan Korea) yang menginginkan suatu cerita tertentu maka Sujiman akan mempersiapkan cerita itu. Paling sering, Sujiman menyodorkan naskah kepada calon penanggap: naskah-cerita yang diminati oleh para penanggap naskah-cerita yang mana. Ia memiliki naskah-cerita seperti: Gunungsari Kembar, Panji Krama, dan lain-lain. Khusus penyajian di Balai Kota Surakarta itu Sanggar Ngesti Budaya memang mendapatkan kebebasan untuk memilih dan menyajikan fragmen Panji yang mana.

Sebenarnya umur Ngesti Budaya sudah lama, sekitar tahun 2006, hanya saja beberapa waktu ini vakum, mungkin karena kurang promosi. Embrio seni sebelum Sanggar Ngesti Budaya lahir yaitu Seni Tari Wayang Topeng yang hidup dan tumbuh di Bobung sejak tahun 60-an: dulu ada penarinya dan ada topengnya. Topeng itu peninggalan leluhur Bobung (topeng-klasik) tapi sudah rusak dan akhirnya hilang. Sujiman masih ingat, ia belajar membuat topeng dari topeng-klasik yang diwariskan itu. Tahun 65-an masih ada tokoh tari topeng yang sugeng, yaitu pak Adi Sugiman, yaitu kakak Sujiman sendiri. Ilmu tari topeng dan ilmu membuat topeng diisep oleh Sujiman dan dikembangkan sampai sekarang. Tahun 73-an para warga Bobung mengembangkan kerajinan topeng, lantas memasarkannya. Topeng Bobung pun laku. Pada akhirnya Bobung dinobatkan sebagai Desa Wisata Kerajinan Topeng. Yang dibuat oleh Sujiman beserta para pengrajin bukan hanya topeng-klasik (untuk tari) namun juga topeng-modern fungsional.

Sujiman juga menerangkan bahwa ciri-ciri Tari Wayang Topeng Bobung amat klasik sekali. Namun di era sekarang, karena format pementasan yang beraneka warna, maka ditambahkan lah unsur garap baik di segi tata-tari maupun tata-iringannya. Karena, menurut Sujiman, jika sajian Tari Wayang Topeng Bobung benar-benar klasik maka susah dinikmati oleh kebanyakan penonton milenial. Yang ikut cawe-cawe untuk nggarap atau nyanggit Tari Wayang Topeng Bobung adalah Yestriyono Pilianto (Panggang). Alasannya: setelah Sujiman bertugas sebagai penanggung jawab sanggar, sementara penata-tari yang ia kenal adalah Yestri itu, dan penata-iringan adalah Muchlas, maka beliau mengajak mereka untuk menggarap Tari Wayang Topeng Bobung.

Meskipun demikian, Tari Wayang Topeng Bobung versi klasik masih ada.
Jika sewaktu-waktu diminta untuk dipentaskan maka Sujiman siap.
Permintaan para pandhemen dari luar negeri justru yang versi klasik.
Ditambah lagi penelitian-penelitian Tari Wayang Topeng Bobung (oleh ISI, UNY) tentu yang versi klasik, bukan garap. Pada akhirnya untuk urusan garap/sanggit di beberapa pementasan Sujiman memercayakannya kepada Yestri.

Menurut Yestri, penyajian Tari Wayang Topeng “Klana Dhusta” merupakan penggambaran bagaimana karakter kuat Klana Sewandana dalam aksi ‘mencuri-keindahan’ Dewi Sekartaji. Dari segi garap pementasan tari, sebenarnya penyajian malam itu adalah penggabungan antara para penari klasik di Bobung dengan para penari profesional yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Melihat tempat pentas yang berbentuk pendhapan dan saka-saka di Balai Kota Surakarta itu besar-besar, maka ragam lampah-ndhodhog dan lampah-ndhadhap tidak diterapkan olehnya seperti halnya ketika pentas di Bobung maupun di Yogya. Namun, meskipun demikian, bagian awal (jejer ke-1) tetap menggunakan trap wayang-orang Gaya Yogyakarta. Dapat dikatakan bahwa Tari Wayang Topeng Bobung pada malam itu merupakan gabungan dua golongan: yaitu golongan para penari profesional dan para penari rakyat tradisional. Pada dasarnya para penari rakyat tradisional Bobung itu para pengrajin topeng. Menurut Yestri: para pengrajin topeng Bobung menginginkan Topeng-Bobung ‘digerakkan’, diberi roh. Maka mereka tergugah untuk menggerakkan topeng-topeng. Lahir lah seni tari wayang topeng. Akhirnya, mereka mempunyai cerita topeng Panji dan tari wayang Panji.

Yestriono: Penggarap Tari Wayang Bobung asal Panggang

Tari Wayang Topeng Bobung memang tradisi turun-temurun. Pernah Yestri menemui dan menanyakan langsung kepada tokoh pewaris Adi Sugiman kala beliau masih sugeng: Siapa pelatihnya? Jawab-beliau: “Nenek, nenek!”, hanya seperti itu.
Mbah Sugi, begini Yestri menyebutnya, adalah tokoh Bobung yang amat sepuh tetapi masih kersa membimbing para pemuda untuk melestarikan Tari Wayang Topeng Bobung. Beberapa tahun ini, dalam rangka IMF, Yestri bersama Sanggar Seni Tari Wayang Topeng Bobung (mewakili Pak Sujiman) sudah melaksanakan pentas dua kali (tahun lalu di Mangkunegaran). Kala itu ia menggarap fragmen Klana dan abdinya, Bancak, atau Sembunglangu. Kegiatan awalnya memang bukan berupa pementasan tari topeng. Awalnya berupa pameran topeng Panji.

Termasuk pentas tahun lalu dan malam itu, yang utama adalah Tari Klasik Topeng Bobung bisa dipentaskan. Bagaimana caranya bisa merekrut teman-teman pemuda dan sesepuh di Bobung berbarengan dengan teman-teman penari profesional bisa melaksanakan pentas bersama. Tari topeng itu tari kerakyatan. Sepengetahuannya, tari topeng yang bersifat kerakyatan ‘diijinkan’ untuk dipentaskan di lingkungan kraton (seperti Tari Klana Topeng). Melihat sejarah topeng dan tari topeng di Bobung yang awalnya memang dari para pengrajin topeng kerakyatan, kemudian dari kreatifitas rakyat itu lahir sanggar tari-wayang topeng. Dituturkan ulang oleh Yestri: dulu Mbah Sugi pergi ke Yogya, tepatnya ke Pendhapa Tejakusuman untuk menyaksikan pertunjukan tari klana. Beliau, Mbah Sugi, hanya melihat pertunjukan Tari Klana dari kejauhan. Beliau tak belajar langsung di pendhapa (menurut ingatan saya ini mirip dengan pengalaman Rama Sas kala belajar tari di Pendhapa Pujakusuman). Kemungkinan besar, ujar Yesri, Beliau meniru ragam tari topeng di Pendhapa Teja itu kemudian menciptakan dan mengolahnya sendiri untuk menghidupkan tari-wayang topeng di Bobung.
“Jaman cilik biyen, biyen ki aku nek sinau nyang Tejakusuman,” begini Yestri menirukan cerita Mbah Sugi tatkala berkesempatan berwawancara ketika Beliau masih hidup. 
Tetapi Yestri memaklumi, banyak ragam-gerak Tari Wayang Topeng Bobung yang berbeda dengan tari topeng gaya Yogyakarta, khususnya penamaan ragam tari seperti: trisik, tanceb, sabetan, bapangan, kambengan, dan kinantangan yang berbeda dengan ‘ragam sesungguhnya’ ketika dilakukan. Barangkali karena memang ini lah ciri tari kerakyatan: dilakukan tetapi kurang sempurna, tak begitu abai terhadap ‘kebakuan-kebakuan’. Misalnya: ragam angkat-kaki yang biasanya kaki lurus baru ditekuk, di Bobung ragam ini dilakukan dengan kaki lurus sambil menginjak-injak lantai baru diangkat. Maka, untuk kemasan pentas malam itu, Yestri dan kawan-kawan sebagai anak muda yang dimintai tolong tidak membuang ragam-ragam yang sudah ada. Ragam itu telah menjadi ciri khas dan kekayaan Tari Wayang Topeng Bobung. Toh pada akhirnya ragam-gerak Tari Wayang Topeng ciptaan Mbah Sugi diwariskan turun-temurun hingga sekarang. Yestri cenderung ragu jika ada tokoh dari arah Timur Gunungkidul yang neneka di Bobung lantas mewariskan topeng dan tari-topeng.

Penyajian Sanggar Ngesti Budaya Bobung di International Mask Festival (IMF) Tahun 2019

Di segi lakon, Yestri mencoba nyanggit cerita dengan memfokuskan pada penculikan Sekartaji oleh Klana. Akhir dramatiknya, Dewi Sekartaji berhasil didhusta oleh Klana Sewandana. Sekartaji terpisah dengan Panji Asmarabangun. Klana, menang. Biasanya, alur cerita Panji takkan sampai muncul adegan “Klana merebut Sekartaji dari tangan Panji”. Kali ini sanggitnya berbeda. Sanggit cerita yang seperti ini berdasar masukan dari Pak Sujiman. Bahkan, sejak awal persiapan produksi, Pak Sujiman telah menentukan judulnya: “Klana Dhusta” itu. Setelah saya konfirmasi, Pak Sujiman mengatakan bahwa penokohan Klana sebagai pusat cerita itu karena Klana Sewandana sebenarnya memiliki dua karakter: pemarah, namun baik hati. Klana selalu ngayomi rakyatnya. Ia hendak mencuri Sekartaji karena memendam ‘dendam-negara’ antara Bantarangin dengan Jenggala. Bantarangin pernah diobrak-abrik oleh Jenggala (ayah Panji). Menurut Beliau, Klana adalah seorang pencuri namun baik hati.

Topeng Klana yang dikenakan Yestri memang berbeda. Itu topeng garapan Sujiman sendiri.
Proses nya tak seperti ketika Sujiman nggarap topeng-topeng yang lain. Topeng itu bukan topeng kerajinan yang prosesnya “asal menebang pohon kemudian membuat topeng” begitu saja. Sebenarnya beliau membuat 5 topeng. Yang pertama adalah topeng Klana itu, lantas ia-turunkan menjadi 4 topeng lain, di antaranya Panji dan Jayakartala. Sekarang 4 topeng lain sudah dikoleksi oleh “orang-orang yang ingin sekali mengoleksinya kala pertama kali melihatnya digantungkan di dinding rumahnya”. Sementara topeng Klana tidak ia jual. Ada yang menawar topeng Klana ciptaannya hingga 60 juta tak beliau-berikan.
“Itu topeng koleksi,” kilahnya.
Ada laku-laku tertentu sebelum ia menciptakan topeng. Tujuannya agar: Sujiman mendapatkan karakter topeng yang sesungguhnya. Setelah Topeng Klana selesai diciptakan oleh Sujiman, tak semua orang bersedia memakai topeng itu; tak semua (sembarang) orang dipilih oleh Sujiman mengenakan topeng itu. Pernah ada kejadian: Topeng Klana tiba-tiba hilang dari tempat penyimpanannya, kemudian pulang sendiri. Pernah juga ada kejadian, ketika suatu saat dalam Festival Tari Klana Topeng topeng itu dipakai oleh adik iparnya, sesampai di rumah sang adik disimpannya asal-asalan, tak selang berapa lama ia ditakut-takuti oleh “sesuatu”. Ada berbagai macam suara seperti orang menangis dan lain sebagainya dari arah kamar penyimpanan topeng.
Ada pula kejadian: sewaktu pengukuhan Geopark Gunungsewu Sujiman mengenakan Topeng Klana itu, kemudian ada seorang bule yang memfoto jeprat-jepret tetapi tak ada hasil gambarnya. Sujiman berkeyakinan: orang itu mempunyai niat tidak baik. Kejadian demi kejadian semakin meneguhkan bahwa Topeng Klana ciptaannya memang menyimpan sesuatu. Tak tahu mengapa dulu Sujiman memilih menciptakan Topeng Klana sebagai masterpiece, bukan Panji bukan Sekartaji. Seolah-olah ada orang yang menyuruh: “Klana saja yang kau ciptakan!” Kini, setiap ada penari yang menggunakan Topeng Klana ciptaannya (atas sepersetujuannya), merasa memiliki semangat penuh kala pentas. Menurut keterangan beberapa orang, jika dibutuhkan oleh seorang penari untuk memerankan Klana Topeng, cenderung memilih Topeng Klana ciptaannya itu karena ketika pentas amat ringan dipakai, tak ada kemalasan, kaki nyik-nyik amat enteng bergerak. Meskipun ia hanya menceritakan pengalaman beberapa penari; ia tak pernah memerankan topeng yang ia ciptakan sendiri dan mewakilkan dirinya sendiri.

Begitu halnya apa yang dirasakan Yestriyono ketika pentas mengenakan Topeng Klana ciptaan Sujiman itu. Ia merasakan ada semangat yang menggerakkan tubuhnya; ada greget menghidupkan dan melestarikan Tari Wayang Topeng Bobung.

Yestriyono Pilianto atau Yestriyono Reksa Mataya, khususnya mewakili dirinya sebagai Abdi Dalem Kraton berpangkat “Masjajar”, maka dari itu, mengharapkan kepada dinas-dinas terkait atau Pemerintah Daerah Gunungkidul untuk mendampingi Sanggar Seni Ngesti Budaya. Selama ini ia bekerja secara pribadi ikut cawe-cawe memberikan pelatihan. Ia, sesuai kepangkatannya itu, harus ikut serta mempertahankan kelangsungan hidup Seni Tari-Wayang Topeng Bobung. Jika demikian, yaitu spirit-penggerak aksinya adalah kerja sosial dan berbagi di bidang seni, Yestriyono meyakini bahwa suatu saat ia akan memetik buah berkeseniannya itu. Terlebih menurutnya, penelitian-penelitian dari golongan akademisi tentang Tari-Wayang Topeng Bobung terbatas hanya pada kebutuhan mereka sendiri tetapi tidak ada kelanjutan pemberian umpan-balik demi kemajuan Tari-Wayang Topeng Bobung.
“Para generasi muda pun hendaknya bersedia mempelajari topeng dan tari-topeng,” Yestri menambahkan pesan.
Topeng Klana Sewandana Ciptaan Sujiman, Bobung Pathuk Gunungkidul
Sujiman, Marsilan, Yestri, para penari, para penabuh, serta para pengrajin Topeng Bobung menurut saya berhasil menggerakkan dan menghidupkan topeng-topeng rakyat pinggiran (desa) di pusat kebudayaan (kota); topeng-topeng pramodern di antara topeng-topeng orang modern . Topeng-topeng Bobung sebagai aset kebudayaan Gunungkidul DIY yang dikenakan para penari serasa hidup, ibarat hidupnya ‘wayang-wayang’: penokohan di balik topeng-topeng itu berasal dari wilayah Pegunungan Sisi Selatan (Ardikidul, Redikidul) dimana wilayah Pegunungan Sisi Selatan terkesan kering dan tandus, ‘pemarah’, serta menakutkan (sifat raksasa-raja dan bala-tentaranya), khususnya oleh penokohan Raja Raksasa Klana Sewandana (Yestri) malam itu yang amat dominan sepanjang pementasan. Ya, topeng raksasa Klana Sewandana ciptaan Sujiman itu: hidup! Topeng Tari Wayang Klana: hidup! Ia mencuri perhatian; ia mencuri keindahan (Sekarjati-Sekartaji). Topeng dan Tari Wayang Topeng Bobung berhasil ndhusta (mencuri) perhatian jejel-riyel-nya penonton. Tepuk-tangan penonton menyesaki Pendhapa Balai Kota Surakarta yang megah dan agung itu. Mereka telah menghidupkan Tari-Wayang Topeng Bobung (bahkan di tanah kelahiran mereka sendiri) tak mati dalam bentuk pementasan-pementasan rutin skala lokal, nasional, maupun internasional; tak punah oleh gerak jaman.

Ke depan mereka harus berani menghidupkan karakter topeng-topeng: semoga bukan sebagai topeng-topeng bendawiah belaka yang tanpa roh (anima), bukan sebagai sentra kerajinan topeng di sisi barat Gunungkidul yang menuju ke kematian, namun juga agar topeng-topeng laku di pasaran, agar memiliki ketahanan menggerakkan arwah dan lakon kehidupan.
“Supados tari topeng boten pegat ing tengahing margi,” begini pembicaraan diakhiri oleh Marsilan, sang sekretaris sanggar, sebelum sesi foto saya-minta dilakukan.
[WG]

Minggu, 16 Juni 2019

Ritual “Ruwat Dadung” di Taman Banyu Langit Peniron

TBL: Taman Banyu Langit (TBL) di pedukuhan Perkutukan, desa Peniron, Pejagoan Kebumen; lokasi perhelatan "Ruwat Dadung" yang akan digelar mulai Rabu (19/6) tengah hari hingga sore. Malam harinya bakal dimeriahkan pagelaran wayang kulit oleh Ki Dalang Eko Suwaryo [Foto: ap]

Mengintegrasikan kearifan tradisi menjadi bagian dari daya tarik dalam destinasi wisata merupakan upaya promise yang brilian. Gagasan menggelar ritual “Ruwat Dadung” (Ruwat Dhadhung_Jw) di Taman Banyu Langit (TBL) sejak pendiriannya akhir Januari 2018 lalu pun menjadi kenyataan dalam beberapa hari ke depan.

Ritual tradisi “Ruwat Dadung” sendiri, sesungguhnya, telah dilangsungkan sejak abad silam. Sebuah upacara tradisional berupa selamatan untuk mensyukuri ternak (Rajakaya_Jw) piaraan petani  pedukuhan Perkutukan desa Peniron, Pejagoan.

KRIGAN: Warga bergotong-royong menata lokasi menjelang dihelatnya ritual "Ruwat Dadung" di Taman Banyu Langit, di pedukuhan Perkutukan, desa Peniron [Foto: ap]

Dalam relasi tradisional masyarakat agraris, penghormatan terhadap alam semesta, bumi dan seisinya; memang terpelihara harmonisasinya. Termasuk di dalamnya hubungan antara manusia dengan ruang hidupnya; bahkan antara petani dengan Rajakaya miliknya.

Dalam kesehariannya, keberadaan Rajakaya biasanya berupa kerbau atau sapi (lembu_jw) memiliki peran sebagai penyokong proses produksi. Ternak-ternak ini selalu dilibatkan dalam pekerjaan pertanian, dari mengolah lahan hingga mengangkut hasil panen.

Sebegitu pun, pelibatan hewan ternak ini dalam kerja-kerja bertani, tidak boleh bersifat eksploitasi. Ada hari-hari tertentu, seperti Selasa Kliwon, Jumat Kliwon dan Kamis Manis; yang ditetapkan sebagai larangan untuk mempekerjakan hewan.


Ketentuan ini berlaku mengikat, semacam “kode etik” dan larangan untuk mengeksploitasi hewan piaraan Rajakaya milik petani. Bahkan secara berkala, biasanya tiap 3 tahun sekali, hewan-hewan ini diberkati (diruwat_jw) melalui upacara “Ruwat Dadung” yang dilangsungkan paska musim panen kedua.

Terminologi selamatan “Ruwat Dadung” ini, secara rinci bakal dimanifestasikan dalam pagelaran wayang kulit yang akan dihelat pada Rabu (19/6) oleh dalang ruwat Ki Siswadi dari Clapar Karanggayam. Pagelaran ruwatan akan dimulai sejak tengah hari hingga sorenya.

Sedangkan untuk malam harinya bakal digelar pentas wayang dengan lakon “Sesaji Raja Surya” oleh dalang kondang Ki Eko Suwaryo [ap]