Ketoprak Dangsak

Pentas Ketoprak Dangsak "Reksa Mustika Bumi" kolaborasi Cepetan Alas dengan Ketoprak. Pentas ini digelar DKD Kebumendi PRPP Jateng [Foto:AP]

Lengger Banyumasan

Pementasan seni tradisi lengger dari Dariah; tokoh legendaris"Lengger Banyumasan"

Suro Bulus, Parodi Satire Ketoprak Rakyat

Lakon carangan "Suro Bulus" yang merupakan manifestasi perlawanan masyarakat tradisi terhadap kejahatan korporasi tambang

DRAS SUMUNAR, Tetet Srie WD

Pagelaran "Serat Dras Sumunar" karya Tetet Srie WD di Roemah Martha Tilaar Gombong

Dewa Ruci

Pentas wayang dengan lakon "Dewa Ruci" dalam Festival Dalang Anak di Banjarnegara. Tiga dari empat dalang cilik Kebumen sabet juara [Foto:AP]

Selasa, 28 Juni 2016

Ngobrol Teater Teh Kopi Enter: Catatan Workshop dan Audisi SCOT

Tulisan oleh: Dendi Madiya
28 Juni 2016

“Ngobrol Teater Teh Kopi Enter”, salah satu program Komite Teater DKJ, menganggap perlu menyebarkan notulen yang telah dibuat Dendi Madya berdasarkan Workshop dan Audisi SCOT (Suzuki Company of Toga) , Jepang, yang dipimpin oleh Tadashi Suzuki di bawah ini:
Pada tanggal 2 dan 3 Juni 2016 telah diadakan serangkaian audisi terhadap aktor-aktris Indonesia untuk rencana proyek produksi teater kolaborasi antara Indonesia dengan Jepang. Kelompok teater Jepang yang melakukan kolaborasi ini adalah Suzuki Company of Toga (SCOT), pimpinan Tadashi Suzuki, yang juga bertindak sebagai sutradara dalam produksi ini. Kegiatan audisi berlangsung di Sanggar Teater Populer, Jl. Kebon Pala I No. 295, Tanah Abang, Jakarta.

Sebelum audisi dilaksanakan, terlebih dahulu para peserta diperkenalkan kepada metode keaktoran Suzuki. Pertama kali, peserta audisi diminta melakukan pemanasan dengan stretching atau peregangan tubuh yang dikerjakan sendiri-sendiri. Metode keaktoran Suzuki memiliki tiga gerakan dasar. Setiap gerakan diperagakan dan dijelaskan oleh Takemori, asisten Suzuki serta salah seorang aktor kelompok SCOT. Dalam penjelasannya, Takemori dibantu seorang penerjemah bahasa dan dibantu pula oleh Bambang Prihadi, sutradara Lab Teater Ciputat yang pernah mendapatkan workshop metode Suzuki secara langsung di desa pegunungan Toga, Jepang, dimana kelompok SCOT bermarkas.

Gerakan Pertama

Aktor berkonsentrasi pada bagian perut atau ‘area di bawah pusar.’ Posisi tubuh direndahkan sedikit dengan cara menekuk sedikit kedua kaki tapi tidak terlalu rendah. Kaki kanan diangkat lalu dihentakkan ke bawah disusul dengan kaki kiri. Telapak kaki dalam kondisi lurus. Kaki kanan dan kaki kiri diangkat dan dihentakkan ke bawah secara bergantian sesuai dengan tempo musik yang diputar selama 3 menit dalam satu putaran latihan. Tempo gerak berlangsung konstan berdasarkan alunan musik itu. Kurang lebih seperti menginjakkan atau menjejakkan kaki ke bumi. Gerakan pertama ini disebut juga sebagai ‘stomping the earth’ (menghentak bumi). Bagian tubuh dari atas perut hingga kepala tidak bergerak tapi dalam keadaan rileks dan lurus, tidak condong ke belakang atau ke depan.

Takemori menginstruksikan para peserta melakukan gerakan pertama itu dengan bergerak mengisi ruang. Peserta diperbolehkan menentukan arah moving yang bebas di area latihan tapi tetap berhati-hati untuk menghindari tabrakan dengan peserta lain. Setiap satu kali tiga menit putaran latihan gerakan pertama ini usai, Takemori memberikan evaluasi. Masih ada peserta yang tubuhnya condong ke belakang, misalnya, atau energi yang kendur dari peserta selama durasi tiga menit itu, hingga bahu dan kepalan tangan yang menegang. Meskipun memang sulit, Takemori mengharapkan level energi dan konsentrasi yang stabil selama setiap satu putaran latihan. “Seperti layangan manteng,” demikian Bambang Prihadi mencoba mengibaratkan. Supaya tidak terkesan sekadar ‘melemparkan kaki’ ke belakang, Takemori meminta para peserta mengangkat kaki lebih tinggi.
 
Gerakan Kedua

Berjalan ke depan secara perlahan (slow motion) dengan gerakan yang mengalir tanpa tersendat atau terhenti. Prinsipnya sama dengan gerakan pertama, aktor berkonsentrasi pada bagian perut, sementara pandangan mata diarahkan lurus dan fokus ke depan. Posisi tubuh lurus, tidak condong ke belakang atau ke depan. Tempo gerak tetap konstan, begitu pula saat berbalik arah, jangan sampai ada perubahan speed.


Pertama, para peserta mencobanya tanpa musik. Takemori memperhatikan, masih ada peserta yang ketika melangkah, pada saat yang sama kehilangan konsentrasi. Terlihat langkah mereka seperti terhenti atau berubah tempo atau tidak mengalir. Ada juga yang terlalu lebar melangkah, membuat bobot tubuh menjadi lebih berat. Kemudian mereka bergerak mengikuti alunan musik. Selanjutnya, Takemori meminta para peserta mempercepat sedikit laju gerakan.
Tidak hanya sampai di situ, gerakan kedua ini ditambah dengan pose kedua tangan secara statis tapi bentuk pose tangan itu bebas seperti yang dikehendaki peserta dan sesuai dengan sebuah imajinasi yang ingin disampaikan peserta kepada penonton. Pose tangan itu tidak boleh membuat gerakan melangkah secara slow motion menjadi berantakan. Peserta berpose tangan secara statis setelah Takemori memberikan aba-aba, “With hands!”


Tony Broer, salah seorang peserta audisi


Gerakan Ketiga

Dari posisi berdiri menuju posisi jongkok dengan tangan rileks di samping dan kepala menunduk. Selanjutnya, menuju posisi berdiri kembali dengan menjinjitkan kedua telapak kaki. Saat berdiri kembali itu, jarak posisi antara kedua kaki tidak berubah, tidak terlalu lebar dan tidak terlalu sempit, pandangan lurus ke depan. Fokus tetap pada bagian perut, bagian bahu dan tangan rileks. Gerakan ‘naik-turun’ ini dilakukan berulang-ulang dengan aba-aba pergantian gerakan melalui suara tongkat yang dipukulkan Takemori ke lantai. Pergantian gerakan ini juga harus dilakukan secara cepat. Sedangkan durasi bertahan pada satu gerakan dikendalikan oleh Takemori, bisa cepat atau sedang.

Variasi gerakan pada gerakan ketiga ini sama dengan gerakan kedua. Pada saat berdiri, para peserta diminta membuat pose dengan kedua tangan masing-masing. Pose itu bebas dan boleh berubah- ubah tapi statis dan peserta boleh berkreasi menciptakan pose yang terbaik. Variasi yang lain pada gerakan ketiga ini adalah dengan menambahkan posisi tengah diantara jongkok dan berdiri. Posisi tengah itu dilakukan dengan cara berdiri sambil menekuk sedikit kedua kaki, sedangkan pada posisi berdiri kedua kaki harus lurus dan jinjit.

Dalam ketiga posisi yang bergantian itu (low=rendah, middle=tengah, high=tinggi), kedua tangan melakukan pose. Ketika mencapai satu posisi, maka tubuh harus dalam keadaan statis, tidak bergoyang sedikit pun.




Gerakan Keempat

Posisi duduk dengan kedua kaki ditekuk didepan lalu kedua tangan merangkul
dengkul. Kepala ditundukkan dalam posisi rileks. Lalu kedua kaki diangkat perlahan dan kedua tangan melebar sambil diikuti oleh panciptaan pose dari kedua tangan, kepala tidak boleh terlalu mendongak. Juga jangan terlalu memberatkan pada bagian dada, agar suara aktor dapat keluar.

Tahap Audisi

Setelah peserta dilatih dalam gerakan dasar keaktoran metode Suzuki, berlanjutlah ke audisi. Sebenarnya ketika mereka berlatih metode Suzuki itu, juga telah ada tim penilai yang melakukan pengamatan terhadap para peserta. Diantaranya adalah Siohara, salah seorang aktor dari kelompok SCOT dan Shigemasa yang berperan menangani manajemen kelompok SCOT. Sebelum melakukan aksinya, para peserta diminta menyebutkan nama. Kemudian mereka diinstruksikan untuk menyanyikan lagu bebas sesuai pilihan masing-masing dalam posisi tubuh melakukan gerakan keempat. Ketika Takemori memberikan aba-aba dengan pukulan tongkat, maka peserta harus menghentikan nyanyiannya untuk masuk ke monolog bebas. Bambang Prihadi sempat menyampaikan kepada peserta agar lebih baik bernyanyi dan bermonolog dengan menggunakan ‘bahasa ibu’ dari masing-masing peserta.

Banyak peserta yang mengikuti anjuran Bambang. Hanya sedikit peserta yang menggunakan bahasa Indonesia. Rata-rata peserta juga menampilkan kesenian bela diri atau tarian daerahnya. Sedikit pula dari peserta yang menampilkan komedi, lebih banyak ke drama tragis.

Peserta audisi berjumlah total sekitar 40-an pemain teater yang datang dari berbagai kota di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Lampung, Palembang, Padang, Tegal, Solo, Madura, Makassar, Pontianak dan Papua. Peserta dari Aceh batal datang karena kekurangan ongkos pada hari-hari terakhir menjelang pelaksanaan audisi ini. Bambang Prihadi yang bertugas mengumpulkan aktor-aktris ini memang tidak melakukan semacam pengumuman terbuka dikarenakan kendala dana, waktu dan tempat. Jadi, hanya mereka yang sempat terhubungi saja yang mengetahui kegiatan ini. Diantara para aktor dan aktris itu, bisalah disebut beberapa orang diantaranya, seperti Tony Broer, Anwari, Joind Bayuwinanda, Erythrina Baskoro, Ruth Marini, Sir Ilham Jambak, Dadang Badoet, Yustiansyah Lesmana, Apito Lahire, Yohana Gabe. Hanya 12 orang saja yang akan dipilih. Sementara rencana naskah yang akan dibawakan berjudul Electra.

Ke-12 orang yang akan terpilih nanti akan mengikuti training langsung di desa pegununungan Toga, Jepang, pada sekitar bulan Agustus-September 2016. Sedangkan produksinya sendiri akan dipentaskan pada tahun 2018 dengan rencana keliling di berbagai kota di Indonesia dan Jepang.

Siohara dan Shigemasa

http://dkj.or.id/artikel/ngobrol-teater-teh-kopi-enter-catatan-workshop-dan-audisi-scot/

Sabtu, 11 Juni 2016

[Press-Release] Boikot ART|JOG

Forward: Febriana Firdaus

Forum Solidaritas Yogyakarta Damai (FSYD) dengan ini menyatakan kekecewaan mendalam atas kerja sama antara PT Freeport Indonesia dengan ART|JOG 2016. Logo PT Freeport Indonesia terpampang di deretan logo sponsor ART|JOG 2016. Logo menjadi penanda adanya kerja sama yang dapat berupa dukungan dana atau bentuk lainnya.

Pekerja seni Indonesia dalam praktik keseniannya harus terus bekerja demi kemanusiaan. PT Freeport Indonesia memiliki catatan yang terlalu buruk dalam kejahatan kemanusiaan di Papua (referensi terlampir). Karena itu, keterlibatan PT Freeport Indonesia dalam kegiatan kesenian —walau hanya untuk pasar seni rupa—bertentangan dengan prinsip dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

Semangat hidup berkesenian yang dipelopori ART|JOG patut diapresiasi. Semangat yang sama semestinya menjaga ART|JOG dari sikap abai terhadap nilai-nilai dasar kemanusiaan. 

Namun, himbauan dan tuduhan tidak cukup mencegat nalar industri dalam praktik kebudayaan di Indonesia. Kami menyadari bahwa terjerumusnya operasi seni hari ini ke dalam pragmatisme terjadi karena pembiaran berbagai pihak. Generasi muda adalah yang paling beresiko terjebak mewarisi pragmatisme ini.

Maka, kami menggugat segenap pemangku kepentingan kebudayaan atas tidak adanya sikap politik kebudayaan di Indonesia yang meninggikan nilai kemanusiaan yang berkeadilan di atas nilai lainnya.

Melalui pernyataan sikap ini, kami menolak penyederhanaan atribut pekerja seni dan operasinya. Setiap pekerja seni harus berkontribusi dalam kehidupan berkebudayaan berdasarkan akal sehat kemanusiaan. Pekerja seni harus memilih dan memilah dengan jelas siapa saja yang boleh menyokong pendanaan keseniannya. Menumbuhkan kesadaran ini akan menjaga kita dari pembenaran atas dana cuci tangan kejahatan kemanusiaan yang dialirkan melalui perhelatan seni.

Kejahatan terhadap kemanusiaan dan penjarahan sumber daya alam yang dilakukan PT Freeport Indonesia harus dikecam dan dituntut oleh segenap rakyat Indonesia, termasuk pekerja seni. 

Kami mendesak penyelenggara ART|JOG 2016, Dinas Kebudayaan Yogyakarta dan Badan Ekonomi Kreatif Indonesia untuk:

1. Membuat pernyataan bersama antara ART|JOG, Dinas Kebudayaan Yogyakarta, Badan Ekonomi Kreatif Indonesia untuk menegaskan bahwa dunia kesenian kita masih bisa disehatkan.

2. Di dalam pernyataan bersama tersebut ARTJOG menyampaikan permintaan maaf karena telah mencederai nilai perjuangan kemanusiaan rakyat Indonesia umumnya dan rakyat Papua khususnya dengan berafiliasi pada PT. Freeport Indonesia. 

3. Pernyataan bersama tersebut disebarkan di media massa melalui siaran pers.

Pengalaman ini mengajarkan pada kita akan semakin perlunya kode etik sebagai wujud penjaga akal sehat kemanusiaan dalam dunia kesenian.
Lebih dari itu, kita semua harus mendorong kemampuan pekerja seni dan posisi strategisnya dalam mengartikulasikan kepentingan rakyat.

Referensi:

Freeport merilis, pada 2010, perseroan menggelontorkan uang hingga 14 juta dolar AS sebagai bentuk dukungan kemananan pada TNI dan polisi. Sebanyak 50 aparat dari Polda Papua, 69 aparat Polres Mimika, 35 aparat dari Brimob Den A Jayapura, 141 aparat dari Brimob Den B Timika, 180 aparat dari Brimob Mabes Polri, dan 160 aparat TNI dilibatkan dalam pengamanan PT Freeport Indonesia. Personel diganti tiap empat bulan sekali. Imbalan dari Freeport mengakibatkan aparat tidak berpihak kepada rakyat Papua, tapi berpihak pada korporasi Freeport.

Berikut adalah deretan pelanggaran HAM yang dilakukan Negara untuk melindungi kepentingan PT Freeport Indonesia sejak berdirinya di tahun 1967: penghancuran tatanan adat, perampasan lahan masyarakat lokal, penculikan dan pembunuhan rakyat Papua, penangkapan sewenang-wenang masyarakat sipil, perusakan lingkungan hidup, dan perusakan sendi-sendi ekonomi.
Hingga saat ini Negara masih mengingkari kejahatan kemanusiaan yang dicatat Elsham Papua (2003): terbunuhnya seribu orang dari suku Amungme sepanjang tahun 1972 hingga 1977. Selain itu temuan JATAM dilapangan yakni limbah tailing mereka hingga saat ini setidaknya telah mencapai lebih dari 1,187 milliar ton yang dibuang ke sungai Aghawagon, Otomona dan Ajkwa. Longsor besar terakhir bahkan telah merenggut 28 nyawa pekerja sekaligus pada 14 Mei 2013.

Dalam catatan KontraS, Foker LSM Papua dan NAPAS, dalam kurun Januari-Juni 2012 terjadi 34 peristiwa kekerasan yang melibatkan Polri, TNI dan orang tak dikenal. Akibatnya, 17 orang meninggal dan 29 orang luka-luka.
November 1983, Arnold Ap dan Eddie Mofu, pekerja seni yang konsisten membangkitkan semangat perlawanan rakyat Papua melalui musiknya, ditangkap, disiksa, dan dibunuh oleh Kopassus. 

Tahun 2016, hanya di bulan Mei saja, lebih dari 3000 rakyat dan aktivis Papua ditangkap saat menyampaikan aspirasi lewat selebaran dan aksi damai. Selain itu, aksi damai rakyat Papua juga selalu dikawal ketat, bahkan direpresi oleh aparat. 

Data ini belum termasuk besaran tanah adat yang berhasil dicaplok Freeport melalui intimidasi aparat pada rakyat. Betapa Freeport, dengan dukungan penuh dari Negara dan aparat TNI-Polri, telah memberangus kehidupan rakyat Papua hingga ke akarnya, dan mencabut harkat dan martabat mereka sebagai manusia. Perlawanan terus dilakukan oleh rakyat Papua atas penghancuran ruang hidup mereka hingga hari ini. Untuk setiap perlawanan mereka, nyawa tebusannya.


Narahubung FSYD: Ade Tanesia Pandjaitan (0811 2652967)

https://www.facebook.com/febrifirda/posts/10208471016400659

Rabu, 08 Juni 2016

Disadur dari Sastra Persia, Gunakan Nama Jawa

Edisi 08-06-2016



Banyak cara yang digunakan para ulama zaman dahulu menyebarkan agama Islam di Nusantara. Salah satu media yang terkenal dan hingga kini masih eksis adalah wayang.

Seni wayang tidak bisa dilepaskan dari sejarah peradaban Islam di Indonesia. Beragam jenis wayang muncul sebagai sarana penyebar dakwah para ulama tempo dulu agar menarik perhatian masyarakat khususnya di Jawa. Salah satu wayang yang menjadi saksi bisu penyebaran agama Islam di Indonesia adalah wayang golek menak. Berbeda dengan wayang lainnya, wayang golek menak tidak mengambil cerita dari Mahabarata dan Ramayana.

Namun, diambil dari cerita tokoh pejuang bernama Amir Hamzah yang diambil dari kitab “Qissa I Emr Hamza,” sebuah karya sastra Persia pada era pemerintahan Sultan Harun Ar Rasyid. Karya sastra tersebut kemudian dikenal dengan Hikayat Amir Hamzah oleh bangsa Melayu. 


“Menurut sejarah, awal mula kisah Amir Hamzah ini masuk dan dipopulerkan melalui pada zaman 1717 Masehi oleh Ki Carik Narawita, seorang jaksa di Keraton Surakarta atas perintah Kanjeng Ratu Mas Balitar, Permaisuri Susuhunan Pakubuwana I di Kasunan Surakarta,” kata Kepala Museum Peradaban Islam Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Edi Suyadi.
Hasil terjemahan Ki Carik Narawita ini yang saat itu dikenal masyarakat dengan sebutan Cerita Menak. Edi menambahkan, setelah ada penerjemahan kemudian muncul wayang golek menak alur ceritanya sama dengan cerita yang diterjemahkan Ki Carik Narawita itu.

Untuk memudahkan diingat masyarakat Jawa, nama-nama tokoh pewayangan itu diganti menggunakan bahasa Jawa, seperti Amir Hamzah menjadi Amir Hambyah, Osama bin Omayya menjadi Umarmaya, Qobat Shehriar menjadi Kobat Sarehas, Badiuz Zaman diubah menjadi Imam Suwangsa, Mihrnigar menjadi Dewi Retna Muninggar, serta Unekir menjadi Dewi Adaninggar.
“Alur cerita dalam setiap pementasan adalah gambaran perjuangan Amir Hamzah jauh sebelum kerasulan Nabi Muhammad SAW. Di tengah kekafiran dan kejahiliahan saat itu, Amir Hamzah selalu berdakwah dan melakukan aktivitas jihad mengajak para raja-raja kafir saat itu mengaku bahwa Allah adalah sebagai Illah (Tuhan) dan Nabi Muhammad adalah nabi akhir zaman yang segera tiba,” katanya.
Sementara sebutan wayang golek menak diambil dari tokoh utamanya, yakni Amir Ambyah. Sebab menurut Edi, Amir Ambyah memiliki banyak julukan, yakni Wong Agung Menak, Wong Agung Jayengrana, dan Wong Agung Jayengresmi. 

“Sebutan Wong Agung Menak ini yang kemudian digunakan pujangga-pujangga Jawa untuk menamakan kitabnya sebagai Serat Menak dan munculnya Wayang Golek Menak,” katanya.
Adapun koleksi wayang golek menak di MAJT, lanjut Edi, merupakan hasil kreasi Ki Truna Dipura dari Wonogiri pada zaman Pemerintahan Sri Mangkunegara VII. Wayang itu diperoleh dari koleksi masyarakat Jawa Tengah. Sementara itu, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang yang juga dosen Islam dan Kebudayaan Jawa di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang Anashom mengatakan, wayang golek menak merupakan wayang dakwah.
“Wayang golek menak adalah salah satu media dakwah yang digunakan dalam penyebaran agama Islam,” katanya. 

Ceritanya secara umum memang menggambarkan tokoh kepahlawanan Amir Hamzah. Namun, kemudian muncul cerita-cerita ketokohan lokal di Indonesia, seperti para Walisongo dan tokoh ulama besar lainnya. 

“Wayang memang media yang sangat ampuh dalam penyebaran Islam. Hal ini karena masyarakat Jawa saat itu lebih menyukai hiburan dan lebih mudah dipahamkan melalui visualisasi,” katanya.
Memang keberadaan wayang golek menak kalah tenar dibanding dengan wayang lain seperti wayang purwo atau wayang kulit. Namun, wayang golek menak pada zamannya sangat terkenal dan berpengaruh dalam proses penyebaran Islam di beberapa daerah, seperti Yogyakarta, Surakarta, dan Kebumen.

ANDIKA PRABOWO Kota Semarang


Koran-Sindo 

Minggu, 15 Mei 2016

Posisi Dewan Kesenian Masih Sering Disalahtafsirkan

MINGGU, 15 MEI 2016 | 08:56 WIB

Gelar budaya dalam peringatan HUT Kota Depok ke-17, 14 Mei 2016. TEMPO/Mustafa Ismail
TEMPO.CO, Depok - Hubungan dewan kesenian dengan birokrasi masih diwarnai dengan berbagai ketegangan di sejumlah daerah. Sebagian birokrat menganggap dewan kesenian merupakan subordinasi pemerintah. Padahal sesungguhnya dewan kesenian adalah mitra dari pemerintah. “Kerap kali keberadaan dewan kesenian di berbagai kota adalah keliru tafsir,” kata perupa Puguh Waruju dalam diskusi tentang peran kesenian dalam pembangunan kota di Depok, Sabtu sore, 14 Mei 2016.

Menurut Puguh, di berbagai daerah banyak sekali pihak yang kurang paham bahwa dewan kesenian memiliki posisi yang jelas dalam legalitas, mekanisme operasional, hingga perumusan program kerja dan penganggarannya. Ia mengkritik persepsi birokrasi bidang kebudayaan yang menempatkan dewan kesenian sebagai bawahan mereka.

“Dewan kesenian itu wadah berpikir merumuskan kajian yang dapat menjadi inspirasi dan masukan pada kebijakan pemerintah. Bukan mendapatkan jatah pementasan dan melaksanakan program Dinas Kebudayaan,” ujar Sekretaris Jenderal Dewan Kesenian Depok ini. Dewan kesenian, menurut Puguh, tugas utamanya adalah menyediakan diri untuk memantau setiap denyut nadi kehidupan seni-budaya, memberikan amatan, analisis, dan simpulan, masukan, pembinaan, dan mengajak para seniman untuk memikirkan berbagai hal dalam konteks kesenian dan kebudayaan.

Ketua Dewan Kesenian Jakarta Irawan Karseno, pembicara lain dalam diskusi yang diadakan Dewan Kesenian Depok dan Panggung Betawi Ngumpul itu, mendukung pendapat Puguh. Ia bercerita tentang Dewan Kesenian Jakarta yang merupakan dewan kesenian tertua yang dibentuk pada 1968 melalui peraturan gubernur. “Tugas Dewan Kesenian Jakarta menjadi penasihat gubernur dalam kebijakan-kebijakan kesenian dan kebudayaan,” kata Irawan.


Diskusi itu dihadiri puluhan seniman dan pengurus dewan kesenian, antara lain Dewan Kesenian Depok, Dewan Kesenian Tangerang Selatan, dan Dewan Kesenian Bogor. Hadir pula kalangan wakil rakyat dan birokrat bidang kebudayaan. Sekretaris Umum Dewan Kesenian Tangerang Selatan Andi Suandi mengusulkan agar diadakan sebuah pertemuan para pengurus dewan kesenian berbagai daerah untuk merumuskan posisi dan strateginya. “Kita bikin semacam pertemuan antar-pengurus dewan. Itu penting,” ujar Andi.

Menanggapi hal itu, Dewan Kesenian Depok menyatakan siap menjadi fasilitator pertemuan itu. “Kami siap menjadi tuan rumah,” kata Ketua Harian Dewan Kesenian Depok Asrizal Nur. Hal itu disetujui Nuroji, Ketua Umum Dewan Kesenian Depok yang baru terpilih dalam musyawarah luar biasa organisasi tersebut pada April 2016. “Siap,” ujarnya. Adapun Irawan menginformasikan bahwa pihaknya sedang menginisiasi Forum Komunikasi Dewan Kesenian Daerah. “Forum itu untuk dewan kesenian provinsi. Kini sudah ada 24 dewan kesenian provinsi yang bergabung.”  

Diskusi itu bagian dari rangkaian Gelar Budaya Depok pada Sabtu pagi hingga Minggu dinihari, 15 Mei 2016, di Warung Betawi Ngoempoel, Depok. Acara itu menampilkan beragam atraksi seni, seperti pameran lukisan, baca puisi, tari, musik tradisi, lenong, silat, pameran kuliner, bazar buku, aneka lomba, dan wayang.

Ada pula pidato kebudayaan oleh kritikus sastra, Maman S. Mahaya, Sabtu malam. Dalam pidatonya, Maman menyayangkan banyak seniman nasional yang tinggal di Depok tidak dimaksimalkan perannya. Ia mengatakan selama ini para seniman Depok itu lebih banyak berkiprah mewakili Jakarta dan Indonesia di berbagai forum kesenian. “Nama Depok seolah-olah tanggal dan dimasukkan saku celana,” ujar akademikus Universitas Indonesia ini.

MUSTAFA ISMAIL

https://googleweblight.com/?lite_url=https%3A%2F%2Fm.tempo.co%2Fread%2Fnews%2F2016%2F05%2F15%2F114771036%2Fposisi-dewan-kesenian-masih-sering-disalahtafsirkan&ei=wObSaMBw&lc=id-ID&s=1&m=520&host=www.google.co.id&ts=1500217882&sig=ALNZjWlXQ8cxpvdHbTWSU_yMgQlhW7Sdtg

Senin, 28 Maret 2016

Sejak Kapan 27 Maret Menjadi Hari Teater Sedunia?

 
Hari ini, Minggu 27 Maret 2016 dirayakan sebagai hari Teater Sedunia. Awalnya, International Teater Institute (ITI) pada tahun 1961 mencetus tanggal 27 Maret sebagai Hari Teater sedunia. ITI sendiri adalah organisasi seni teater terbesar di Dunia, yang berada dibawah UNESCO dan berpusat di Paris. Awalnya, misi yang dibawa dalam hari teater sedunia ini adalah perdamaian, melalui seni dan panggung pertunjukan. Hingga saat ini, informasi terhimpun menyebutkan bahwa tanggal 27 Maret yang dipilih adalah hasil pemilihan acak.

Dirjen Unesco saat itu, Irina Bokova meyakini bahwa teater memiliki kekuatan untuk memenuhi itu. Teater bisa menggerakkan, menginspirasi, hingga mengajarkan lewat cara yang tidak bisa dilakukan oleh seni lain. Oleh sebab itu, pesan perdamaian dunia disampaikan lewat teater mulai hari itu. Tahun 1962, pada tanggal yang sama (27 Maret) sosialisasi Hari Teater Sedunia dimulai keseluruh dunia.

Di Indonesia, gaung hari teater sedunia juga sudah terasa sejak tahun 1990-an. Beberapa tempat di Indonesia juga menggelar event, pementasan atau diskusi tentang teater dalam memperingati hari teater sedunia. Apakah anda atau grup teater anda menggelar acara terkait hari teater sedunia? 

Semoga, hari teater sedunia bisa menjadi momentum untuk kebangkitan seni teater di Indonesia. Salah satu Pekerjaan Rumah terbesar adalah bagaimana menjadikan seniman teater berkehidupan layak, sehingga profesi sebagai seniman atau pelaku teater tidak ditinggalkan oleh pecintanya. 


Sumber: PojokSeni  

Sabtu, 26 Maret 2016

Rock-Painting dan Kontes Fotografi Kebumen

SENI BATUAN: Seni Batuan Suiseki dan Lukis Batuan Kebumen diangkat dalam event Suiseki & Rock Painting Photography Contest 2016

Di tengah surutnya pamor batuan lokal, beberapa gemstoner Kebumen menggelar event Suiseki Rock Painting & Photography Contest 2016, yang dihelat selama 2 hari, mulai 26-27 Maret 2016. Purba Artstone yang memprakarsai perhelatan di Balai Kelurahan Kebumen secara mandiri  meyakini upaya mengangkat seni batuan lokal seperti ini tak cukup dengan latah mengikuti trend dan booming akik saja.

Ketua Panitia Putut Agus yang dikenal sebagai pelukis dengan keunikan memanfaatkan batuan dan daun kering sebagai media seninya, tak mau larut dalam pengaruh trend. Itu sebabnya, perhelatan 2 hari ini juga disertai sessi lomba mewarnai gambar untuk anak-anak di hari kedua (27/3). Lomba mewarnai dibagi dalam 3 kelompok tingkat usia: PAUD-KB, TK  dan siswa SD klas 1 dan 2.

Usai pembukaan Suiseki Rock Painting & Photography Contest 2016 dilangsungkan sessi Workshop yang diikuti oleh 26 peserta, terdiri dari para pendidik dan masyarakat umum. Di bawah panduan Putut Agus para peserta melukis batu dengan materi warna yang seluruh bahannya disiapkan oleh panitia. Keseluruhan hasil dari workshop ini dikonteskan kemudian diambil 3 terbaik dan diberikan hadiah uang. Masing-masing sebesar Rp. 400 ribu, Rp. 300 ribu dan Rp. 200 ribu. 


Kontes Fotografi

Tak kurang dari 70-an fotografer mengikuti ajang Kontes Fotografi Batuan Suiseki dan Biseki yang dipajang panitia di pendopo Kelurahan Kebumen. Panitia juga melibatkan 2 model cantik asli Kebumen melengkapi obyek pengambilan gambar. Menurut Pitra Suwita, salah satu panitia yang mengkoordinir registrasi menjelaskan bahwa peserta kontes fotografi ini datang dari Purworejo, Magelang, Yogyakarta, Purwokerto dan Kebumen sendiri.

Di bawah panduan Madar Sud sessi pemotretan dibagi dalam 2 lokasi. Yakni di ruang pamer rock-painting di Hotel Grand Putra dan di tengah pendopo kelurahan dengan set batu suiseki-biseki yang disediakan panitia. Dan di masing-masing lokasi pemotretan disertakan seorang model.

Peserta Kontes Fotografi nampak antusias mengikuti seluruh sessi yang diprasyaratkan. Hasil dari sessi pemotretan ini akan dinilai oleh dewan yuri yang terdiri dari Bagus Handoko (Fotografer Jogja), Bambang Indrajit dan Ondo Supriyanto (Kebumen).  Dewan yuri akan memilih 3 karya foto terbaik dan panitia menyediakan hadiah masing-masing Rp. 1.000.000,- dan Rp. 750.000,- serta Rp. 500.000,-

Ajang Suiseki Rock Painting & Photography Contest 2016 ini murni digelar atas prakarsa kalangan pecinta batuan Kebumen. Menurut Bambang Indrajit yang selama ini aktif mempromosikan batuan Kebumen, melihat bahwa upaya mengangkat potensi seni batuan Kebumen tak boleh berhenti pasca booming saja. Untuk itu dia menggalang jejaring dengan fihak-fihak yang memiliki kapasitas, sumber daya dan kepedulian untuk mengangkat potensi seni batuan lokal Kebumen.

“Event ini sendiri mendapat support dari pengusaha nasional yang justru berdomisili di luar Kebumen” papar Bambang Indrajit. Dia menambahkan bahwa event seni batuan ini bakal digelar kembali September mendatang. 

Jumat, 18 Maret 2016

Sastra dan Pikiran Tertutup


M Aan Mansyur 
Pustakawan
18 Mar 2016

Photo by Mathieu Nicolet

Ketidakpastian adalah racun bagi pikiran manusia. Sejak kecil, kita menentang ambiguitas. Kita selalu ingin menemukan jawaban yang masuk akal atas pertanyaan yang membingungkan. Ketika berhadapan dengan ambiguitas tinggi dan jawaban yang kurang jelas, kita merasa tidak nyaman dan tidak aman. Kondisi semacam itu adalah hal biasa, alamiah, dan bukan masalah luar biasa.

Jika setuju dengan pernyataan di atas, Anda mungkin termasuk orang yang tidak senang diombang-ambing gelombang bimbang. Salah satu ciri orang yang tidak tahan berada dalam ketidakpastian adalah mudah percaya akan pernyataan orang lain. Banyak orang lebih memilih menjatuhkan diri ke dalam sumur pikiran sempit agar bisa menjauhkan kepalanya dari kebingungan.

Kita dengan mudah bisa menyaksikan orang-orang semacam itu di televisi, koran, Internet, atau di mana pun di sekitar kita. Tidak peduli betul atau salah, orang menjadi terburu-buru memberi penilaian, gampang mengambil keputusan, dan tergesa-gesa percaya akan berita atau rumor.

Kenapa mereka melakukan tindakan-tindakan konyol semacam itu? Jawabannya: mereka tidak ingin berlama-lama berada dalam kebingungan.

Orang yang tidak nyaman pada kebimbangan juga akan susah mengubah keyakinan yang terlanjur mereka pilih, meskipun mereka tahu itu salah. Mereka tidak ingin kembali masuk ke dalam kebimbangan.

Sekarang, bayangkan sebuah negeri yang dipenuhi manusia seperti itu. Anda akan segera bisa melihat bahwa ketidaknyamanan pada ketidakpastian bisa berubah menjadi masalah yang luar biasa, atau mimpi buruk yang hebat.

Arie Kruglanski memperkenalkan istilah cognitive closure untuk menjelaskan keingintahuan seseorang untuk mencapai jawaban tegas atas pertanyaan yang membingungkan dan keengganan berdiam dalam ambiguitas. Bersama Donna Webster, pada 1994, psikolog sosial ini juga memperkenalkan cara standar untuk mengukur kebutuhan cognitive closureseseorang.

Para psikolog sering menyebutnya Need for Cognitive Closure Scale. Dengan menggunakan skala yang sudah dirancang sedemikian rupa, kita bisa mengukur seberapa tinggi atau rendah ketidaknyaman seseorang pada kondisi membingungkan.

Orang yang memiliki kebutuhan penutupan kognitif yang tinggi cenderung mudah memberi penilaian dan mengambil keputusan. Mereka gampang percaya pada pernyataan orang lain, berpikiran tertutup, dan sulit menerima pikiran-pikiran baru.

*

Betulkah penyakit pikiran sempit tidak bisa disembuhkan?
Saya punya kabar baik buat Anda yang merasa menderita penyakit ini. Beberapa bulan lalu, Creativity Research Journal memuat hasil penelitian tiga ilmuwan dari University of Toronto, Kanada, yang dipimpin oleh seorang psikolog, Maja Djiki. Berdasarkan penelitian mereka, obat penyakit pikiran sempit sesungguhnya murah dan mudah. Dengan membaca karya fiksi bermutu, orang bisa terhindar dan terlepas dari gangguan rasa tidak nyaman akan ketidakpastian. Begitulah kesimpulan penelitian mereka.

Untuk penelitian tersebut, 100 mahasiswa dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok diminta memilih satu esai di antara delapan pilihan esai yang ditulis oleh orang-orang terhormat seperti George Bernard Shaw dan Stephen Jay Gould. Kelompok kedua diminta memilih dan membaca satu cerita pendek. Cerita-cerita pendek itu ditulis oleh penulis ternama seperti Wallace Stegner, Jean Stafford, dan Paul Bowles.

Setelah membaca esai atau cerita pendek, peserta mengisi survei untuk mengukur kebutuhan mereka akan kepastian dan stabilitas. Hal ini menggunakan model pengukuran Need for Cognitive Closure Scale yang diperkenalkan Kruglanski.

Studi ini menemukan bahwa mahasiswa yang membaca cerita pendek memiliki skor lebih rendah daripada mereka yang membaca esai — yang berarti mereka kurang bermasalah pada ketidakpastian. “Paparan karya sastra dapat menawarkan cara bagi seseorang untuk lebih berpikiran terbuka,” kata Djiki.

Di akhir artikel mereka, ketiga ilmuwan ini menyarankan agar institusi pendidikan memberikan porsi yang lebih besar atas seni dan humaniora. Membaca karya sastra, menurut para ilmuwan tersebut, bisa membuat seseorang memiliki cakrawala pikiran yang lebih lapang dan membantu mereka untuk bisa menyelami dan menerima perspektif orang lain. Mereka pun menjadi lebih kreatif dalam mengambil keputusan. Ilmu lain tidak mampu melakukan hal semacam ini.

Sesungguhnya hal yang sama sudah diingatkan oleh Konfusius pada 500-an SM. Dia mengatakan, “Tidak peduli seberapa sibuk kamu pikir dirimu, kamu harus menemukan waktu untuk membaca, atau kamu menyerahkan dirimu untuk dipilih oleh kebodohan.” Itulah sebabnya orang-orang Yunani Kuno, apa pun profesi mereka, sejak kecil membaca dan mencintai karya-karya Homer.

Atau, jika Anda pernah membaca seri A Song of Ice and Fire — karya yang mungkin Anda lebih kenal karena serial televisi Game of Thrones, melalui tokoh Jojen Reed di seri terakhirnya, A Dance with Dragons, George R. R. Martin mengatakan, “Reader lives a thousand lives before he dies. The man who never reads lives only one.”

*

Demi menunjukkan keindonesiaan saya, sebelum menutup tulisan ini, saya harus menyampaikan minimal satu kabar buruk. Di negeri ini, kabar buruk selalu lebih penting dibanding dengan kabar baik.

Kabar buruknya: pemerintah sedang melakukan usaha yang sangat dahsyat untuk membuat kita tetap menjadi manusia yang tidak nyaman atas ketidakpastian dan ambiguitas. Pemerintah ingin kita tetap menjadi manusia berpikiran tertutup seperti mereka.

Jika Anda tidak percaya, lihatlah pelajaran atau kurikulum sekolah adik atau anak-anak Anda. Hampir tidak ada, untuk tidak mengatakan tidak ada, ruang yang bisa membuat mereka menjadi manusia berpikiran terbuka.

Maka, sekarang, bertanyalah kepada diri Anda: apa kabar masa depan?

*

Terakhir, tanpa tambahan komentar apa pun, saya hendak mengutip hasil dari satu penelitian berikut ini:
Survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP), yang dipimpin Prof Dr Bambang Pranowo—yang juga guru besar sosiologi Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, pada Oktober 2010 hingga Januari 2011, mengungkapkan hampir 50% pelajar setuju tindakan radikal. Data itu menyebutkan 25% siswa dan 21% guru menyatakan Pancasila tidak relevan lagi. Sementara 84,8% siswa dan 76,2% guru setuju dengan penerapan Syariat Islam di Indonesia.  Jumlah yang menyatakan setuju dengan kekerasan untuk solidaritas agama mencapai 52,3% siswa dan 14,2% membenarkan serangan bom.

Sumber: Qureta.Com

Minggu, 28 Februari 2016

Tembang Macapat, Enerji dan Abstraksi Doa [3]

// bertapa tanpa rimba yang terpeta / bijaksana lebih baiknya / bawa lah demi kebaikan / ingat tidak gegabah / menyadari badan yang ringkih / suramnya sang cakrawala / rasa yang terbingkai / terurai mengharap atas anak / lancar si Rarindra Ratu Hestungkari / dalam pelukan lanjut nama //

SERAT: Tradisi dalam karya Serat yang bukan saja sarat muatan ajar mengenai kearifan yang tetep relevan, tapi juga elaborasi pemikiran-pemikiran kekinian [Foto: Mario M Sano]    

Sinyalemen yang dapat ditarik dari sharing Tetet Srie WD bahwa lahirnya Serat Dras Sumunar melalui tapa keprihatinan seorang ayah yang tekun  bermunajat, bahwa anak putrinya (Rarindra Ratu Hestungkari) dapat lah mencapai bontos kaweruh, merengkuh kebijaksanaan tinggi serta kemuliaan dalam perjalanan hidupnya; tak melenceng dari wiradat atas sang anak. Secara naluriyah, bagi sastrawan jawa yang telah melanglang buwana ini menempatkan fitrah keperempuanan sebagai kemuliaan.  

Capaian derajad kemuliaan putrinya adalah rengkuhan derajat kemuliaan linimasa perempuan jawa pada umumnya. Apa yang tersurat dalam Serat Dras Sumunar, dengan begitu, mereposisikan diri sebagai rangkuman asa penciptaannya. Jadilah ia -Serat Dras Sumunar itu- semacam abstraksi dari doa. Tentu, sublimasi kosakata pilihan masih saja menghamparkan ruang dan kisi-kisi yang dapat memunculkan interpretasi yang berbeda.

Yang jelas, usaha mengapresiasi karya sastra Jawa itu tak bisa pasifistik dengan berhenti setelah mendengarkan serangkaian tembang atau pun liris-liris geguritan belaka; yang dalam pagelaran macapat di Roemah Martha Tilaar dikonfigurasikan sebagai transisi fase-fase pergantian pupuh. Macapat sendiri, dalam bentuknya sebagai pupuh itu; mengkerangkai bagaimana secara spesifik kita dibuat mengaktifkan nalar berikut sensitivitasnya.

Begini lah masyarakat Jawa membangun kecerdasannya dalam dialektika amemayu hayuning bawana itu...                   

Tembang Macapat, Enerji dan Abstraksi Doa [2]

 SAMBUNG-RASA: Sessi kajian pasca pertunjukkan macapat. Sastrawan Tetet Srie WD memaparkan proses penciptaan sebagai jembatan mengapresiasi [Foto: Aris Panji Ws] 

Tak bisa dipungkiri bagaimana luruh suasana dalam Roemah Boedaya itu, dimana tembang-tembang jawa mengaliri jiwa yang hadir di serambinya. Seolah ada spektrum tafakur yang melingkar, tak terpisah, tapi juga tak terdera basah sisa hujan di luaran. Begitu lah suasana dibangun dari getar serangkaian tembang-tembang jawa yang dilantunkan dari titah rasa. Selain Ika Lustiyati, ada Na Dhien, KMA Arum, Ajang Mas, Sukinah, Heru RRI, Trimo Raharjo, Dian Kusumawati, Alek Sudianto, Wagimin, Surawan dan Nanang SP.

Banyak lagi orang hebat menepi di sini. Namun Serat Dras Sumunar juga terasa benar hebatnya. Karya Tetet Srie WD yang diselesaikan selama 2 tahun pada 1986; tak lekang pesona magisnya hingga hari ini. Bahkan sang Empu Anggit pada saat melantunkan pupuh Mijil seperti memuncaki kulminasi dalam reaktualisasi pergulatan seninya. Karya yang dibabar pertama justru di mancanegara, yakni di Neully sur Seine, Perancis; memang bukan karya biasa-biasa saja.

Terlebih bagaimana mengolah karya sastra dalam pementasan collaseum dengan kendala verbal dan bahasa yang berbeda; aspek pembelajaran berkesenian tentu jadi resensi dan referensi besar. Karena saat petikan Serat Dras Sumunar dihelat di negeri sendiri, pun mengalami kendala serupa. Untuk bisa memahami ikrah karya sastra Serat seperti ini memang butuh pergulatan lanjut dan intensitas dalam menyelami teleng kedalamannya.

“Saya kepranan menyimak Dras Sumunar ini. Seperti apa penjabaran prakarsa kepenulisannya..?”. Tak kurang seorang Ketua Umum DKD Kebumen Pekik Sat Siswonirmolo melansir tanya ihwal kegamangan interpretasi seputar ikrah karya ini, dalam respon apresiasinya.

“Dras Sumunar adalah sesuatu yang bersumber di telenging ati manusia”, urai Tetet Srie WD mengawali sambung rasa.

Teleng adalah pancer dari semesta hati, semesta yang mendadah laras kehidupan ke dalam krenteg, mobah-mosik jadi spektrum spiritualnya. Membaca ikrah Serat ini memang menemukan keterhanyutan, tapi yang menghidupkan takjub. Ini lah keterpengarahan itu...

// tapa tanpa alas kang jinarwi / wicaksana den langkung prayoga /gawanen amrih becike / eling nora gegupuh / puh apuhing raga kang aking / kingkin sang dewangkara / rasa den kawengku / kumadarna nggadhang yoga / gancar pun Rarindra Ratu Hestungkari / rinengkuh nulya asma //
[Dhandhanggula, Serat Dras Sumunar, Tetet Srie WD]

[to be continued]      

    

Tetet Srie WD dalam Serat “Dras Sumunar” [1]

Tembang Macapat, Enerji dan Abstraksi Doa    

Tetet Srie WD di tengah Gelar Macapat "Serat Dras-Sumunar" di Roemah Budaya Martha Tilaar [Foto: Aris Panji Ws]

Serangkaian pupuh tembang jawa dalam bunga rampai “Dras Sumunar” usai digelar di Roemah Martha Tilaar Gombong Kebumen (27/2/2016). Rangkaian yang lengkapnya terdiri dari 1.000 gatra [pada_jw] tembang seperti Dhandhanggula, Mijil, Sinom, Pangkur dan Durma, karya Tetet Srie WD, yang telah dipentaskan di berbagai negara Asia, Eropa dan Afrika. Petikan karya sastra Jawa ini dilantunkan langsung oleh Tetet Srie WD dengan melibatkan tak kurang dari 10 orang termasuk 3 seniman yang menyertai perjalanannya; Na Dhine, Heru RRI dan KMA Arum. Beberapa seniman setempat juga menyertai perhelatan langka ini...

Serat sebagai karya sastra Jawa tak melulu lahir dalam budaya tradisi di masa yang telah berlalu. Masyarakat lama telah mengenal berbagai karya sastra adiluhung sejenis sebagai bagian khasanah kesusasteraan lama. Dalam khasanah klasik itu setidaknya ada Serat Pararaton, Wedhatama, Wulangreh, Tripama, Centhini, Jayeng Baya, Sasangka Jati, Sabdo Palon, hingga karya fenomenal seperti Serat Gatholoco dan Darmo Gandul; serta banyak lagi karya klasik lainnya. Sedang di era kekinian tradisi serat ini terus dielaborasi oleh para sastrawan Jawa. Salah satu penulis sastra Jawa [baca: pangripta_pen] serat ini adalah Tetet Srie WD dengan karya Serat Dras-Sumunar (1986).

Karya yang dalam serat aslinya terdiri tak kurang dari 1.000 gatra tembang macapat ini memuat aspek falsafah perjalanan hidup manusia, dari soal-soal cinta, gejolak muda, pengembaraan, bahkan juga kritik sosial hingga kawruh seputar  kearifan dan nilai-nilai spiritualitas kehidupan. Ada sajian pengantar dari rintisan Teater Kopong menyertai. Helatan bernuansa ritus menyimak tembang-tembang macapat namun jadi terasa gayeng hingga usai dinarasikan. Diikuti sambung rasa dibawah fasilitator Sigit Tri Prabowo.   

TETET SRIE WD: Penampilan penulis serat "Dras Sumunar" di Roemah Martha Tilaar Gombong [Foto: Mario M. Sano] 

Penulisnya, Tetet Srie WD; berada di tengah deretan penembang dengan konfigurasi simbolik yang fokusnya menggambarkan visi kesastraan dari karya seratnya. Ini muncul pada fase tembang dengan sepuluh gatra pupuh Dhandhanggula yang dilantunkan perempuan muda berbakat Ika Lustiati, siswi SMA1 Gombong. Konfigurasi demikian menjelaskan bagaimana sastrawan yang juga seorang koreografer Tetet Srie WD ini ingin menempatkan tema besar kesetaraan gender sebagai sebuah arus utama yang menghilir karyanya. Mainstreaming mana, dalam karya visioner Serat Dras-Sumunar ini mengeksplor basis kultural dan filosofi Jawa yang melandasinya; yang membedakan Sastra Jawa dengan Sastra Barat.


Dunia Barat sendiri menyambut pentas “Dras-Sumunar” sebagai karya serat yang dipanggungkan dengan pernik spektakularitasnya...