Ketoprak Dangsak

Pentas Ketoprak Dangsak "Reksa Mustika Bumi" kolaborasi Cepetan Alas dengan Ketoprak. Pentas ini digelar DKD Kebumendi PRPP Jateng [Foto:AP]

Lengger Banyumasan

Pementasan seni tradisi lengger dari Dariah; tokoh legendaris"Lengger Banyumasan"

Suro Bulus, Parodi Satire Ketoprak Rakyat

Lakon carangan "Suro Bulus" yang merupakan manifestasi perlawanan masyarakat tradisi terhadap kejahatan korporasi tambang

DRAS SUMUNAR, Tetet Srie WD

Pagelaran "Serat Dras Sumunar" karya Tetet Srie WD di Roemah Martha Tilaar Gombong

Dewa Ruci

Pentas wayang dengan lakon "Dewa Ruci" dalam Festival Dalang Anak di Banjarnegara. Tiga dari empat dalang cilik Kebumen sabet juara [Foto:AP]

Minggu, 27 Oktober 2019

Sastra di tengah Politik Transaksi


Oleh: Rinto 
 “Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara.”

Demikian judul buku Seno Gumira Ajidarma (SGA) mengentak kesadaran akan peran dari sastra. Seno beranggapan bahwa sastra berkewajiban berbicara ketika kebenaran dipasung.

Melihat dinamika politik hari ini, tampaknya seruan ini harus kembali bergema. Bukan hanya mendung, iklim politik negeri ini sedang menjemput badai. Demokrasi kita sedang di ujung tanduk. Suara alternatif yang progresif tidak terdengar karena kalah oleh dengungan para buzzer.

Tak pelak, nalar sebagai bahan bakar utama demokrasi menjadi kering karena dilibas oleh kenaifan kita dalam membaca politik. Oleh karena itulah, sastra harus bangkit. Ia mesti menghunus penanya untuk menikam segala kebusukan ini.

Mengapa Sastra Harus Bangkit? 

Sastra harus bangkit karena situasi politik di negeri ini sedang memburuk. Hampir seluruh lapisan masyarakat terperangah pasca Jokowi mengumumkan nama-nama menteri pengisi kabinetnya. Pasalnya, Jokowi menggandeng Prabowo, kompetitornya dalam pagelaran Pilpres  kemarin.
Padahal, hampir semua pendukung Jokowi mencap Prabowo sebagai the big evil. Bahkan Franz Magnis Suseno, sang begawan filsafat, tega menyebut pemilih golput sebagai psycho freak.

Sebab menurut sang filsuf, keputusan untuk tidak memilih dapat menyebabkan si jahat akan menang. Namun apa mau dikata, akhirnya Jokowi mengajak si jahat berkolaborasi. Fenomena ini menjadi indikator bahwa mesin politik di Indonesia bergerak nyaris tanpa nilai.

Politisi mementaskan politik transaksional secara brutal, terang-terangan, dan tanpa malu. Mereka menipu rakyat habis-habisan. Pertengkaran, perkelahian, bahkan nyawa yang melayang pada masa kampanye nyaris tak bernilai bagi kedua kontestan. Alhasil, demokrasi hanya mainan bagi para elit politik.

Bisa dikatakan, seluruh pilar demokrasi kita keropos. Ada empat tiang yang menyangga bangunan demokrasi agar kokoh: eksekutif, legislatif, yudikatif, dan jurnalisme. Eksekutif tidak pro kepada rakyat. Komposisi oposisi di legislatif loyo. Sejak dahulu, aspek hukum selalu tumpul ke atas tetapi tajam ke bawah. Sementara jurnalisme kita tetap bangkrut dan tiarap. Apakah ini terlalu berlebihan? Tidak!

Eksekutif tidak (pernah) berpihak kepada rakyat. Hal ini jelas tercermin dari pidato perdana Jokowi pada hari pelantikan. Dari orasi singkatnya, terang terlihat kalau beliau seorang developmentalis 100%. Dalam visi ekonomi, Jokowi adalah kembaran Suharto, sang bapak pembangunan.

Bedanya, Suharto punya perencanaan bertahap dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun (REPELITA), sementara Jokowi tidak punya. Kesamaannya, mereka sama-sama presiden bagi pemodal. Ke depan, Jokowi pasti hanya akan mendengarkan para investor.

Apalagi dalam pidato tersebut, ia sama sekali tidak menaruh minat pada penegakan hukum dan HAM. Padahal di tengah penindasan struktural, rakyat hanya bersandar pada itu. Sebab, wakil rakyat pun tampak tak bisa dijadikan sebagai tempat pengaduan.

Peran DPR diperkirakan pun lemah karena formasi oposisi yang tidak ideal. Jokowi lihai memainkan perannya sebagai the prince. Ia membagi kue kekuasaan kepada para kroni dengan merata. PKS, PAN, Demokrat, dan deretan partai gurem lainnya tidak kecipratan. Justru karena itulah, mereka berencana akan menjadi oposisi. Jadi kalau pun mereka resmi mengambil peran tersebut, itu bukan karena keputusan ideologis tetapi karena unsur sakit hati. Jelas, menaruh harapan pada oposisi bermutu seperti ini bagaikan pungguk merindukan bulan. Kondisi ini kian mengenaskan ketika kita harus berhadapan dengan lagu lama penyakit bangsa ini, yaitu lemahnya supremasi hukum.

Kita nyaris tidak mempunyai cerita baru dalam bab penegakan hukum. Semuanya hanya parafrase dari cerita lama. Mafia hukum berserak di semua sudut. Kita sejak lama selalu mengenal keadilan yang terbalik. Ruang-ruang pengadilan penuh dengan konspirasi. Keputusan mereka hanyalah pembacaan kesimpulan yang sudah dibuat terlebih dahulu di kolong meja. Postulat hukum kita adalah kebenaran akan membela yang bayar. Tanpa uang, keadilan hanyalah fatamorgana. Jika ratu keadilan sudah melacurkan diri pada konglomerasi, lalu kepada siapa lagi kita mengadu? Kepada wartawan?

Sebenarnya, harapan bisa kita titipkan pada karya jurnalistik sebagai pengawal pikiran rakyat. Namun, harapan yang kita taruh di pundak mereka pun sia-sia. Produk wartawan kita terbatas pada berita deskriptif belaka. Jangankan berharap pada jurnalisme investigatif, jurnalisme advokasi—seperti usaha Tirto Adisoerjo, Bapak Pers Indonesia—pun tak ada. Alih-alih menjadi pengawal pikiran rakyat, karya jurnalistik kita habis terpreteli oleh konstruksi kapitalisme. Tulisan berita adalah barang asongan. Kebebasan pers, seperti dikatakan SGA, dimanfaatkan demi kepentingan dagang secara memalukan. Portal jurnalistik kita adalah pemburu click bait dan pengemis iklan. Sampai-sampai kita dibuat bingung kala masuk ke laman mereka, “Ini situs berita berisi iklan atau situs iklan berisi berita?” Belum lagi ditambah dengungan para buzzer yang membuat bilik-bilik dunia maya semakin tak karuan.

Kebangkitan sastra wajib kita tunggu karena narasi kelompok progresif pun kalah telak dengan buzzer. Kelompok progresif adalah mereka yang memiliki agenda politik membela kepentingan rakyat jelata. Ciri utama dari kelompok ini berisi kritik terhadap modus produksi. Mereka menuding kapitalisme sebagai kambing hitam dari segala bentuk pengisapan dan penindasan. Sementara, para buzzer adalah ahli propaganda yang bergerak di media sosial. Mereka adalah anak haram rezim yang berperan sebagai apologet tidak resmi. Mereka bertugas untuk memproduksi argumen post truth dengan sistematis. Narasi mereka adalah menyebar phobia terhadap bahaya radikalisme (ekstremisme) agama. Mereka menyasar dasar dari sentimen masyarakat kita yang mudah tersulut oleh isu agama. Memang, masyarakat lebih suka mengonsumsi dengungan para buzzer. Buktinya, masyarakat mudah sekali “memaafkan” ketika Jokowi mengangkat menteri agama dari latar belakang militer. Kelihatannya dalam pikiran masyarakat, ilusi persoalan terorisme dengan motif agama tampak lebih mendesak daripada isu eksploitasi dan penindasan. Cupet, kan?

Suara sastra kian dibutuhkan karena ketumpulan nalar masyarakat kita yang akut. Menyitir pernyataan Rocky Gerung, bangsa kita memang surplus kedunguan serta defisit kecerdasan. Hal ini terbukti jelas ketika cebong akhirnya berzina dengan kampret. Sikap naif masyarakat dalam melihat politik menemukan jawabannya sekarang. Padahal pada masa kampanye Pilpres, ada banyak analisis yang memaparkan bahwa aktor tim sukses di balik kedua kontestan adalah rekanan.

Film dokumenter Sexy Killers membuktikan itu dengan gamblang. Namun tetap saja, masyarakat tidak percaya. Ajaibnya, sampai sekarang masih ada cebong garis keras yang tetap memberi pembenaran pada politik transaksional a la Jokowi. Mereka bilang, “Ini langkah cerdik.” Sementara yang  lain mengatakan, “Tindakan ini mirip politikus besar AS, Abraham Lincoln, yang menggandeng musuh politiknya.” Lebih gila lagi, ada yang mengutip ayat suci agama demi melegitimasi praktik politik transaksional ini. Akal sehat kita bukan lagi tumpul tetapi berkarat-karat.

Memanggil Sastrawan

Situasi ini merupakan sinyal buruk akan masa depan kita. Hampir semua elemen demokrasi kita lumpuh. Kelompok progresif yang kita harapkan mampu memberi alternatif ternyata KO dipukul Denny Siregar dan batalionnya. Rasa miris kian lengkap jika melihat keluguan masyarakat dalam menalar manuver para politisi. Oleh karena itu, kita butuh mikrofon untuk menyalurkan jeritan suara rakyat. Sejarah menunjukkan, biasanya, para sastrawan akan pasang badan dengan menghunus pena sebagai pedang. Namun pertanyaannya, “Mengapa sastra?”

Untuk memahami sastra, alangkah lebih baik kalau kita memulai dari definisi yang bukan sastra. Dalam masyarakat, ada tiga mitos yang berkembang tentang sastra, kata SGA. Pertama, banyak orang memandang sastra berisi curahan hati (curhat) semata. Kedua, sastra dianggap bundelan kata dengan bahasa mendayu belaka. Terakhir, sastra dianggap cuman berisi petuah moralitas yang nyaris tanpa makna. Tentu saja, sebuah kesalahan besar jika kita memahami sastra dengan langgam ini. Lalu jika begitu, apa itu sastra?

Bisa dikatakan, sastra adalah salah satu instrumen untuk memaknai pengalaman hidup. Ia sejajar dengan seni, agama, bahkan sains. Letak perbedaan di antara mereka ada pada medium dan sarana yang dipakai untuk meluapkan isi pikiran. Misalnya, sastra menggunakan kata untuk bicara sementara musik memakai nada untuk mengirimkan makna. Oleh karena itu, dalam filsafat, sastra masuk dalam cabang estetika. Karena dikelompokkan dalam cabang filsafat, objek kajian utama dari sastra adalah kenyataan konkret manusia. Plato menyebutnya dengan istilah mimesis. Jadi, tidak mengherankan jika sastra itu abadi karena perannya dekat dengan kenyataan manusia.

Sastra memiliki banyak peran. Dalam fungsi rekreatif, ia dapat menemani waktu luang kita. Sastra mampu meluaskan cakrawala wawasan kita untuk menggenapi tugas edukatifnya. Bahkan, sastra pun bisa turun tangan untuk mengajari kita tentang moral, keindahan, dan agama. Artinya, kontribusi sastra tidak sekadar mematuk-matuk kata sembari bersyair tentang anggur dan rembulan. Bahkan lebih besar dari itu, sastra bertugas untuk membongkar tabu. Ia bertanggung jawab untuk mengurai kompleksitas dan ambiguitas dari realitas. Kemudian, ia harus membubuhi karyanya dengan imajinasi mengenai dunia yang seharusnya. Ini alasannya sastra dapat digunakan sebagai alat propaganda.  

Jadi, kaitan sastra dengan dunia politik sebenarnya sangat dekat. Tadi dikatakan, salah satu tugas sastra adalah membongkar tabu. Sementara, dunia politik adalah tempat dimana tabu dirawat. Bagi para politisi, ucapan di atas pentas berbeda arti jika di balik layar. Artinya, dunia politik adalah tempat keterampilan seni berbohong diasah. Dalam habitat seperti ini, tentu saja sastra harus bicara. Ada banyak pintu kebohongan yang harus ia dobrak dan muslihat yang harus ditelanjangi. Inilah sastra yang sebenarnya!

Oleh karena itulah, sudah saatnya kita memanggil para sastrawan keluar dari ruang tapa. Kita pun harus menjemput puisi, prosa, dan kisah fiksi mereka untuk memorak-porandakan tipu busuk politik transaksi ini. Kalau tidak, artinya kita memang sudah tidak mempunyai harapan.

Selasa, 22 Oktober 2019

Jabar Juwes


Penulis:  ditwdb  - Oktober 22, 2019


Kesenian Jabarjuwes atau juga disebut Jeberjuwes pada awalnya muncul tahun 1962 di Dusun Tengahan, Desa Sendangagung, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta dengan nama kesenian Jabur.

Kesenian ini muncul karena adanya kebosanan atau kejenuhan masyarakat penonton terhadap kesenian Wayang Wong, Kethoprak dan Wayang Golek. Pada waktu itu kelompok seni dan pelaku seni di Desa Sendangagung tidak tinggal diam menghadapi kondisi yang demikian itu, sehingga dibawah inisiatif dan kreativitas Bapak Darmo Suwito dan Bapak Harjo Suprapto (Kepala Dukuh Dusun Tengahan pada waktu itu) kemudian mereka berkreasi dan berinovasi memadukan antara Wayang Wong, Kethopak dan Wayang Golek menjadi bentuk kesenian baru yang disebut Jabur dengan tokoh lawaknya yang bernama Jeber dan Juwes.

Oleh karena masyarakat penonton terkesan oleh kedua tokoh lawak tersebut kemudian kesenian baru, yaitu kesenian Jabur yang merupakan hasil kreativitas para pelaku seni Dusun Tengahan, Desa Sendangagung ini dinamakan Jabarjuwes karena mengacu atau tertarik pada nama kedua tokoh lawak tersebut.

Sampai sekarang kesenian ini masih tetap eksis meskipun di Desa Sedangagung hanya ada satu grup saja. Kesenian Jabur dengan organisasi kesenian/sanggarnya yang bernama”jeber jues”, yang didirikan pada tanggal 4 Januari 1980 di Dusun Tengahan XII, Desa Sendangagung, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta.

 Sanggar Seni “Jeber Jues” ini sudah terdaftar di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman sejak tanggal 29 Desember 2016 dengan Nomor Induk 626 /BUDPAR/2016.

1. Cerita

Pertunjukan Kesenian Jabarjuwes mengangkat cerita Menak dalam bentuk lakon-lakon yang dipentaskan. Cerita Menak baik itu yang dipakai untuk sumber cerita pementasan Wayang Golek Menak, Wayang Kulit Menak, Wayang Orang Menak maupun tari Golek Menak bersumber dari Serat Menak. Serat Menak pada mulanya bersumber dari Kitab Qissa Emir Hamza yaitu sebuah karya sastra Persia pada masa pemerintahan Sultan Harun Al Rasyid yang memerintah pada tahun 766 – 809 Masehi

Di daerah Melayu karya sastra tersebut dikenal dengan nama Hikayat Amir Hamzah. Berdasarkan hikayat tersebut dipadukan dengan cerita Panji kemudian digubah dalam bahasa Jawa sehingga terciptalah cerita-cerita Menak yang dikenal dengan nama Serat Menak (Wijanarko, 1991: 16).

Dalam cerita Menak ini nama-nama tokohnya disesuaikan dengan nama Jawa, seperti: Omar bin Ommayya menjadi Umarmaya, Baidul Zaman menjadi Iman Suwangsa, Unekir menjadi Dewi Adaninggar, Amir Hamzah menjadi Amir Ambyah dan lain-lain. Serat Menak yang kita kenal saat ini adalah Serat Menak yang digubah oleh Raden Ngabehi Yasadipura I dan Raden Ngabehi Yasadipura II (Raden Ngabehi Ranggawarsita) pujangga dari kraton Surakarta. Serat Menak menceritakan kisah dan pengalaman kepahlawanan Amir Ambyah atau juga dikenal dengan nama Wong Agung Jayengrana dari Mekah dengan Prabu Nursiwan dari Medayin.

Cerita Menak didalam tradisi tulis terungkap di dalam Serat Menak, karya sastra Jawa bernafaskan Islam yang berisi kisah kepahlawanan tokoh cerita Amir Ambyah, yang merupakan transformasi dari sastra Melayu Hikayat Amir Hamzah. Cerita Menak di Indonesia, khususnya di Jawa dikenal melalui saduran yang digubah dalam bahasa Jawa oleh Raden Ngabehi Yasadipura I dari Kraton Surakarta berdasarkan pada Serat Menak karya Ki Carik Narawita yang memiliki kedekatan dengan Hikayat Amir Hamzah.

Cerita Menak meskipun telah mengalami penulisan ulang oleh Raden Ngabehi Yasadipura I dan Raden Ngabehi Yasadipura II namun tetap memerlukan kreativitas dari para pelaku seni atau seniman agar tercapai harmoni antara kesenian dengan lakon cerita yang dipentaskan.

Demikian juga kesenian Jabarjuwes di dalam melakonkan cerita menak disesuaikan dengan kreativitas para senimannya sehingga terciptalah lakon-lakon atau cerita yang sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat pendukungnya. Adapun cerita atau lakon yang sering dipentaskan dalam kesenian Jabarjuwes antara lain:

– Gangga Mina Gangga Pati
– Tali Rasa Rasa Tali
– Putri Cina
– Bedhahe Kelan
– Umar Amir Nanggih Berjanji
– Bedhahe Selan
– Gambar Mas
– Adaninggar Kelaswara
– Ulamdahur Tundhung
– Rabine Iman Suwangsa
– Tejanegara Winusuda
– dan sebagainya

2. Pemain

Kesenian Jabarjuwes dalam setiap pertunjukan membutuhkan sejumlah pemain dan pendukung pergelaran minimal sebanyak 35 orang. Para pemain dan pendukung tersebut berperan sebagai:

ï· Pemain wayang
Pemain wayang kurang lebih sebanyak 20 orang, mereka berperan sebagai pelaku dalam pementasan lakon sesuai dengan cerita yang dibawakan. Pemain wayang sebanyak 20 orang ini kemungkinan bisa bertambah, hal ini tergantung dari lakon yang dipentaskan.

ï· Pengrawit
Pengrawit adalah orang yang menabuh gamelan. Pada pertunjukan Jabarjuwes, pengrawit berperan mengiringi pergelaran dengan alat musik gamelan selama kesenian Jabarjuwes berlangsung. Dalam pertunjukan kesenian ini kurang lebih diperlukan pengrawit sebanyak 15 orang.

ï· Dhalang
Dhalang pada pertunjukan kesenian Jabarjuwes berperan sebagai pengantar cerita dan pengatur laku atau sutradara. Dalang sebagai pemimpin (sutradara) selama pergelaran kesenian Jabarjuwes berlangsung. Dalang akan mengantarkan cerita pada setiap episodenya, disamping juga sebagai pengatur laku.

ï· Waranggana
Waranggana juga disebut sindhen atau pesindhen adalah orang yang melantunkan tembang-tembang Jawa dalam seni karawitan. Pada pergelaran kesenian Jabarjuwes, waranggana berperan melantunkan atau menyanyikan tembang-tembang bersama karawitan untuk mengiringi selama pergelaran berlangsung.

3. Iringan atau Musik Pengiring

Pada awal keberadaan kesenian Jabarjuwes sampai tahun 1980-an iringan gamelan menggunakan laras slendro. Namun, sekarang ini pergelaran kesenian Jabarjuwes diiringi musik gamelan dengan laras slendro dan pelog. Hal ini dimaksudkan untuk mengiringi gending-gending yang lebih variatif disesuaikan dengan perkembangan jaman. Penggunaan laras pelog untuk mengiringi lawakan atau guyonan atau acara bebas berupa lelagon.

Gamelan tersebut dibuat dari bahan besi atau campuran besi dan kuningan. Adapun gamelan tersebut terdiri atas: saron, saron penerus (peking), demung, bonang penerus, bonang barung, gong, kempul, kendhang, keprak dan kecrek. Namun karena menyesuaikan dengan situasi dan kondisi, pada saat ini kadang-kadang pertunjukan Jabarjuwes hanya diiringi gamelan jenis slendro saja.

Meskipun iringan gamelannya tidak selengkap dahulu, namun hal ini tidak mengurangi makna, tujuan, dan semangat para pemain dalam pertunjukan Jabarjuwes tersebut.

Adapun jenis gendhing yang digunakan antara lain:

– Ladrang Kabor pelog nem untuk adegan gagahan.
– Lancaran Mayar Sewu untuk budhalan prajurit.
– Playon Gambuh dan Gangsaran untuk peperangan.
– Ladrang yao-yao untuk jejeran.
– Sampak untuk perang antar tokoh.
– Bubaran untuk gendhing penutup.

4. Urutan Penyajian

Kesenian Jabarjuwes termasuk jenis dramatari tradisional dengan mempergunakan lakon cerita Menak. Gerakan tarinya meniru atau seperti gerakan wayang thengul atau wayang golek. Urutan pertunjukan atau penyajiannya diawali dengan menyajikan gendhing-gendhing pembukaan yang maksudnya untuk memberitahu atau mengundang penonton, bahwa di tempat itu ada pertunjukan kesenian Jabarjuwes yang akan segera dimulai. Kemudian dilajutkan dengan penyajian adegan demi adegan dengan tambahan atau variasi peperangan, adegan lawakan atau dhagelan.

Penyajiannya dapat dikelompokan menjadi 2 bagian yaitu:

ï· Bagian pertama merupakan adegan tokoh sentral di setiap lakon dalam kesenian Jabarjuwes dengan gerakan tari yang menyerupai gerakan wayang golek, yaitu gerakannya kaku dan patah-patah mengantarkan adanya pertunjukan kesenian Jabarjuwes

ï· Bagian kedua merupakan inti pertunjukan kesenian Jabarrjuwes mulai dari adegan pertama sampai dengan adegan terakhir, biasanya pertunjukan kesenian Jabarjuwes yang berlangsung 1 malam terdiri atas 4 adegan. Diantara adegan-adegan pokok tersebut ditampilkan adegan lawakan atau dhagelan yang diperankan oleh tokoh lawak Jeber dan Juwes. Diakhir pertunjukan dilantunkan gendhing bubaran.

Beberapa adegan yang ditampilkan dalam pertunjukan kesenian Jabarjuwes antara lain:

ï· Adegan jejer, menggambarkan suasana di sebuah pertemuan agung atau pasewakan agung. Adegan jejer biasanya dilakukan di sebuah kerajaan atau pertapaan yang digambarkan bahwa adegan jejer ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting di kerajaan tersebut. Para tokoh dalam adegan ini akan saling berdialog sesuai dengan lakon cerita yang dipergelarkan.

ï· Adegan gandrungan, merupakan adegan yang menggambarkan percintaan dari tokohnya, percintaan tokoh putra dan tokoh putri. Para tokohnya saling jatuh cinta, sehingga dalam adegan ini didominasi penggambaran suasana romantis.

ï· Adegan lawakan, juga disebut dhagelan merupakan adegan yang suasananya penuh kegembiraan dan lucu karena penampilan lawak yang menyegarkan. Adegan lawakan dalam pergelaran kesenian Jabarjuwes biasanya dimunculkan di tengah-tengah waktu dari durasi pergelaran yaitu pada waktu tengah malam.
Sepanjang penampilan lawakan ini penonton dibuat untuk bergembira dan tertawa karena hampir semua tingkah laku dan dialognya dari tokoh tersebut sangat lucu. Penampilan lawak dalam kesenian Jabarjuwes diperankan oleh 2 orang pelawak yang bernama Jeber dan Juwes dengan menggunakan busana atau kostum yang lucu.

ï· Adegan peperangan pada pertunjukan kesenian Jabarjuwes terjadi apabila ada konflik antara sesama tokoh atau antar kerajaan untuk mencari kemenangan. Adegan peperangan merupakan penyelesaian suatu kasus peristiwa, dengan adanya pihak yang kalah maka akan selesailah konflik yang terjadi. Peperangan biasanya terjadi karena konflik 2 kerajaan yang ingin saling mengusai. Peperangan terjadi karena konflik perebutan tahta kedudukan di suatu kerajaan. Selain itu peperangan terjadi karena konflik yang disebabkan faktor percintaan yang ingin memperebutkan seorang putri kerajaan.

ï· Adegan penutup merupakan penyelesaian dari seluruh konflik dalam seluruh cerita. Dalam adegan penutup ini menjadi ajang ekspresi kebahagiaan karena sudah dapat menyelesaikan masalah ataupun konflik yang terjadi. Adegan penutup ini juga merupakan bentuk ungkapan rasa syukur dan juga merupakan pesan dari seluruh rangkaian cerita.

Pengantar cerita dan pengatur laku setiap adegan selama pertunjukan Jabarjuwes berlangsung dilakukan oleh dalang yang sekaligus berperan sebagai sutradara. Pada waktu dahulu durasi pertunjukan sekitar 6 – 8 jam, namun pada saat ini durasi pertunjukan menyesuaikan dengan kondisi atau kebutuhan.

5. Tata Gerak/Gerak Tari

Dalam kehidupan sehari-hari gerak merupakan alat untuk menyampaikan maksud dan pengalaman emosional, sedih, senang dan terharu. Gerak merupakan bagian dari tari dan sebagai alat komunikasi dalam tari. Gerak tari merupakan gerak yang ekspresif yaitu gerak yang indah yang dapat menggetarkan manusia (Soedarsono, 1977: 17).

Berkaitan dengan pernyataan di atas, maka gerak tari dalam pertunjukan Jabarjuwes merupakan gerak tari ekspresi untuk menyampaikan ide dari cerita yang dilakonkan yaitu cerita Menak. Gerak tari yang dipergunakan dalam kesenian Jabarjuwes antara lain: ulap-ulap, sembahan, kicat, trisik, jogetan, sabetan, jeblos, gapruk, dan sebagainya. Dalam pertunjukan Jabarjuwes gerakan tarinya seperti gerakan Wayang Golek, gerakannya kaku dan patah-patah dengan ciri posisi tangan ngruji seperti Wayang Golek, serta setiap gerakan tari diakhiri dengan ambegan atau ambil nafas.

6. Dialog

Kesenian Jabarjuwes merupakan kesenian tradisional yang termasuk dalam jenis dramatari. Dalam dramatari dialog atau percakapan mempunyai peranan yang sangat penting, karena dialog menjadi sarana untuk menyampaikan pesan-pesan yang terkandung dalam cerita atau lakon.

Demikian juga dalam pertunjukan Kesenian Jabarjuwes, dialog
merupakan sarana untuk menyampaikan ide, gagasan ataupun pesan-pesan yang terkandung dalam rangkaian cerita yang diwujudkan melalui pementasan kepada para penonton. Percakapan dalam pertunjukan kesenian Jabarjuwes mempergunakan bahasa Jawa dialek Yogyakarta, baik itu bahasa Jawa Krama, Krama Madya, dan Ngoko. Dialog atau juga disebut antawecana sangat mendominasi sepanjang pertunjukannya. Dialog dilakukan oleh para pemain atau tokoh dalam pergelaran sesuai dengan tema cerita yang dilakonkan. Bentuk dialog atau antawecana dalam kesenian Jabarjuwes mirip dengan dialog dalam pertunjukan Kethoprak.

 Dialog gandrungan dalam kethoprak juga digunakan ketika ada adegan gandrungan dalam kesenian Jabarjuwes. Selain itu dialog juga dilakukan oleh dhalang yang berupa suluk, ada-ada dan janturan. Pada adegan lawakan dialog dilakukan oleh 2 orang tokoh lawak yaitu Jeber dan Juwes menggunakan bahasa Jawa yang kadang diselipi bahasa Indonesia atau bahasa asing sehingga ucapannya terkesan lucu.

7. Tata Busana dan Rias

Dalam pertunjukan tradisional maupun modern tata busana dan rias merupakan bagian tak bisa dipisahkan, karena tata busana dan tata rias mempunyai peranan untuk memperkuat atau membuat karakter seorang tokoh atau peran. Tata busana dan tata rias juga berfungsi untuk memperindah penampilan seorang tokoh atau peran.
Para penonton akan tertarik dan terkesan apabila para pemainnya kelihatan cantik dan tampan dengan busana yang serba indah. Selain itu tata busana dan tata rias juga berfungsi untuk membentuk watak atau karakter para pemain (Sunjata, 2017: 66).

Demikian juga dalam pergelaran kesenian Jabarjuwes tata busana dan tata rias mempunyai peranan yang sangat penting untuk membentuk karakter para pemainnya.

Tata rias yang digunakan dalam kesenian Jabarjuwes ada dua macam yaitu:

1. Rias karakter: untuk peran laki-laki merias disesuaikan dengan karakter perannya, yaitu: alus, gagah, dan gecul.

2. Rias wajah: untuk tokoh perempuan atau putri untuk mempercantik diri.
Kesenian Jabarjuwes mempergunakan tata busana dan tata rias yang mirip dengan kesenian Kethoprak, Wayang Wong dan Wayang golek.

Alat tari yang digunakan dalam kesenian Jabarjuwes berfungsi sebagai penunjang estetika, alat fungsional dan alat yang mewakili peran. Penunjang estetika merupakan bagian dari busana berupa sampur. Sampur berfungsi untuk menciptakan variasi gerak yaitu: wiwir, jimpit, cathok, seblak dan mande udet. Alat fungsional merupakan alat tari dan juga sebagai alat ekspresi yaitu keris, panah, tombak, pedang dan tameng. Alat yang digunakan mewakili peran, pemain memainkan alat menjadi peran yaitu barongan, burung jatayu, dan lain sebagainya.

8. Tata Pentas

Tata pentas merupakan beberapa hal yang mendukung jalannya pementasan baik secara langsung maupun tidak langsung yang berupa arena pementasan dan kelengkapan pementasan.
Arena pementasan adalah tempat yang dipergunakan untuk pementasan. Bentuk tempat pementasan ada bermacam-macam yaitu:
1) Arena dengan penonton disekelilingnya;
2) Pendapa merupakan bangunan klasik Jawa yang dipergunakan untuk pentas seni dengan penonton 3 arah dari depan dan samping kanan kiri panggung;
3) Panggung sementara, dapat diatur menurut keinginan pementasan. bisa berbentuk arena dengan penonton: keliling, dua sisi atau 3 sisi;
4) Panggung proscenium yang merupakan panggung modern, dilihat dari satu arah depan dengan layar tertutup di depan berjarak cukup jauh antara pemain dengan penonton. Dengan panggung ini permainan cahaya atau tata lampu sangat bermanfaat (Wardana, 1990:
6). Selain itu dalam pergelaran kesenian disertai dengan kelengkapan pementasan yang berupa: tata lampu (lighting), tata suara (sound system), tempat gamelan dan tempat rias.

Pada waktu dahulu diawal munculnya kesenian Jabarjuwes arena pementasan yang dipergunakan untuk pertunjukan kesenian Jabarjuwes biasanya di sebuah pendapa dengan penonton 3 arah dari depan, samping kiri dan samping kanan. Tempat gamelan terletak di pendapa bagian dalam atau dibelakang arena pertunjukan. Tempat rias ada di ruangan di belakang pendapa, atau di rumah induk. Tata lampu menggunakan beberapa lampu petromax yang dipasang di sudut-sudut arena pementasan atau pendapa sehingga seluruh arena itu kelihatan terang benderang. Selain itu pertunjukan kesenian Jabarjuwes menggunakan sistim tata suara yang masih sederhana sesuai dengan kondisi teknologi pada waktu itu.

Pada saat ini pertunjukan Jabarjuwes menyesuaikan dengan arena yang tersedia, bisa bertempat di suatu arena yang telah disiapkan, arena pertunjukan ini biasanya menempati halaman yang cukup luas sehingga bisa didirikan sebuah panggung dan perlengkapannya berserta tempat atau arena untuk para penonton. Pergelaran kesenian Jabarjuwes memerlukan perlengkapan pementasan yang memadai, artinya perlengkapan pementasan bisa mendukung keberhasilan dari pertunjukan itu sendiri.
Kelengkapan pementasan meliputi tempat gamelan yang ada di depan panggung (arena pementasan), tempat rias yang ada di belakang panggung ditambah tata suara dan tata cahaya yang telah menggunakan teknologi terkini.

Jabarjuwes masih dipertahankan di Desa Sendangagung karena adanya fungsi yang masih relevan dengan kebutuhan masyarakat antara lain: fungsi hiburan misalnya pada acara Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, Upacara Merti Dusun, dan Hari Jadi Kabupaten Sleman. Fungsi adat untuk melepas nadar. Fungsi sosial sebagai alat pemersatu masyarakat tanpa membedakan agama, kelas sosial, jabatan, dan lain-lain. Kesenian Jabarjuwes tidak mengenal istilah tanggapan (bayaran), namun hanya sekedar pengganti biaya operasional dan persiapan sampai selesainya pertunjukan. Setiap pementasan para pemain baik penari maupun penabuh melaksanakan dengan sukarela (tanpa bayaran).

Kesenian Jabarjuwes merupakan sarana ekspresi dari para pelaku seninya, bisa dilihat dari segi penampilan baik itu penampilan tata busana, iringan musik maupun dialognya yang penuh dengan keindahan. Keindahan tata busana diwujudkan melalui bentuk pakaian dan riasnya. Keindahan iringan musik diekspresikan dengan alunan musik gendhing-gendhing gamelan yang dicipta dengan rasa keindahan.

Dalam pertunjukan kesenian Jabarjuwes keindahan dialog atau percakapan diekspresikan oleh pemain dengan pemakaian bahasa Jawa halus dan kadang dilantunkan dalam bentuk tembang. Disamping itu vokal yang indah dilakukan pula oleh dalang yang ekspresinya diwujudkan dalam bentuk: tembang, janturan dan suluk. Selain dalang ekspresi keindahan juga ditampilkan oleh waranggana dengan melantunkan tembang-tembangnya bersama karawitan selama mengiringi pementasan kesenian Jabarjuwes.

Selain itu pertunjukan kesenian Jabarjuwes dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk menyampaikan pesan-pesan moral maupun pesan-pesan pembangunan kepada para penontonnya. Pesan-pesan moral disampaikan melalui nilai-nilai yang tersirat dalam cerita yang pentaskan, sedangkan pesan-pesan pembangunan yang berupa ajakan atau motivasi kepada penonton tentang program-progam pemerintah, bisa diselipkan melalui adegan lawakan.

Kesenian Jabar Juwes berbeda dengan Tari Golek Menak dgn Jabarjuwes. Tari Golek Menak merupakan fragmen tarian, wujud visualnya berupa tarian, tanpa ada dialog, meskipun ceritanya sama-sama bersumber dari cerita Menak. Sedangkan Jabarjuwes ceritanya juga bersumber dari cerita Menak tetapi bentuknya berupa drama tari dan dialog antar pemain sesuai dengan tema cerita. Dialog juga dilakukan oleh dalang untuk mengantarkan cerita setiap episode atau pembabakannya. Pertunjukan lengkap berlangsung selama 1 malam.

Selain itu, Golek Menak merupakan kesenian yg lahir & hidup di lingkungan istana, Karaton Yogyakarta atas gagasan Sri Sultan HB IX, sedangkan Jabarjuwes merupakan kesenian rakyat yg lahir & berkembang di luar istana yaitu di Dusun Tengahan, Desa Sumberagung, Kecamatan Minggir, Sleman, yang memadukan antara wayang wong, kethoprak dan wayang golek menjadi bentuk kesenian baru yg dikenal dengan nama Jabar Juwes. Penambahan nama Kesenian di depan Jabar Juwes menjadi penanda kepemilikan sebagai kesenian yang lahir di dalam masyarakat atau kesenian rakyat. 

Keterangan
Tahun :2019
Nomor Registrasi :201900970
Nama Karya Budaya :Jabar Juwes
Provinsi :DI Yogyakarta
Domain :Seni Pertunjukan
Sumber: Website Warisan Budaya Takbenda

Rabu, 09 Oktober 2019

Di Indonesia, Seni dan Budaya adalah Anak Tiri: Refleksi Status Eka Kurniawan


October 09, 2019
Eka Kurniawan


Penulis terkemuka Indonesia, Eka Kurniawan mendapatkan undangan untuk menerima penghargaan di bidang kesusastraan dan budaya. Sebagai penulis muda, Eka Kurniawan bisa dibilang bergelimang prestasi, dari berbagi penghargaan sastra tingkat dunia, serta bukunya juga sudah diterjemahkan ke puluhan bahasa di seluruh dunia. Bahkan, banyak yang menyebut Eka Kurniawan sebagai "The Next Pramoedya" untuk penulis bertalenta asal Indonesia.

Maka undangan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuknya menerima Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019 untuk kategori Pencipta, Pelopor dan Pembaru, merupakan hal yang sudah diprediksi sebelumnya bakal diterima Eka. Tapi, Eka Kurniawan menolak penghargaan tersebut, sekaligus menolak untuk hadir dalam pelaksanaannya.

Dalam statusnya yang diunggah hari Rabu (9/10/2019), Eka justru mempertanyakan apakah negara telah bersungguh-sungguh memiliki komitmen dalam memberi apresiasi pada kerja-kerja kebudayaan? Ketika dihubungi staf dari institusi tersebut, Eka bertanya "iseng" tentang apa yang diberikan pemerintah pada penerima anugrah tersebut. Jawabannya adalah semacam plakat (pin) juga uang sebesar Rp50 juta dipotong pajak.

Maka Eka langsung membandingkannya dengan penerima medali perunggu (juara 3) dalam Asian Games beberapa waktu lalu. Sebagai informasi, atlet penerima emas menerima uang Rp1,5 Miliar dan diangkat PNS, serta berbagai hadiah lainnya. Sedangkan juara 3 atau peraih medali perunggu, menerima uang Rp250 juta dan sebagainya. Meski (di dalam hati) Eka mengaku bisa saja menerima uang tersebut, penghargaan tersebut, juga bakal ada sesi wawancara dan sebagainya, namun hal tersebut menunjukkan betapa seni dan budaya di Indonesia masih merupakan anak tiri.

Ini bukan masalah membandingkan, apalagi masalah uang. Tapi, apakah "dosa" negara terhadap kesusastraan Indonesia? 


Pertama, beberapa kegiatan literasi, perpustakaan swadaya, pojok baca dan setipenya di berbagai tempat di Indonesia justru disatroni, digeruduk dan sejumlah buku yang dianggap "kiri", "sesat" dan sebagainya dirampas dan dimusnahkan. Padahal, buku tersebut adalah buah karya para pemikir dunia semacam Karl Marx, Jean-Paul Sartre, Imannuel Kant, Karl Jesper, sampai tokoh-tokoh seni dan sastra seperti Samuel Beckett, Adamov, Albert Camus, Eugene Ionesco dan lain-lain. Namun, pada posisi tersebut, negara tidak melindungi hancurnya karya-karya tersebut, negara juga tidak melindungi hak warga untuk mendapatkan ilmu. Justru, negara (yang diwakili aparat) berada di belakang aksi "sweeping" dan perampasan buku tersebut.

Sedangkan negara ini ingin menggalakkan literasi? Maka literasi, di telinga kami hanya terdengar sebagai proyek, yang tentunya menghasilkan uang, ketimbang fungsi utama dari literasi tersebut.

Kedua, betapa penerbit-penerbit kecil semakin sulit berkembang, bahkan berujung ke kebangkrutan. Penyebabnya, selain dominasi raksasa semacam Gramedia, ditambah lagi dengan pembajakan buku yang seakan sebuah karya cipta tak punya tameng pelindung. Ujung-ujungnya, penerbit kecil satu persatu gulung tikar, toko buku juga perlahan gulung tikar. Penulis-penulis selalu kesulitan menjual buku karyanya dan pajaknya justru semakin besar, yang membuat buku menjadi semakin mahal. Mahal untuk ukuran warga Indonesia kebanyakan.

Ketiga, situasi bagi para penulis semakin sulit dengan pembatasan kebebasan berekspresi. Jadi, selain karyanya juga sulit dijual, kesempatan untuk mendapatkan ilmu juga dibatasi dengan perampasan dan penghancuran buku, ditambah lagi dengan kelas menulis atau membaca dan berdiskusi, juga selalu minim penggemar. Situasi diperparah lagi dengan banyak penulis yang dibatasi pula kebebasan menulisnya. Ditambah lagi, seperti kasus Wiji Thukul misalnya, yang sudah dijanjikan oleh negara untuk diselesaikan kasusnya, tapi tak jelas ujung pangkalnya.

Keempat, jumlah yang "kecil" diterima oleh penerima anugerah semacam Eka Kurniawan di atas, menjadi semakin kecil apalagi bila dibandingkan dengan peraih medali perunggu Asian Games lalu. Hal itu menunjukkan satu hal, bahwa komitmen negara untuk kerja-kerja kebudayaan menjadi semakin dipertanyakan? Benar kata Eka, apakah negara benar-benar serius?

Kalau untuk seorang penulis yang mengharumkan nama negara, karyanya mendapatkan penghargaan tingkat internasional serta diterjemahkan ke puluhan bahasa saja seperti itu. Bagaimana kalau penulis tingkat kabupaten?

Kelima, hampir semua kegiatan yang berbau "kebudayaan", "kesenian", "literasi" dan setipenya oleh negara ini juga bentuknya "proyek". Maka bila mendatangkan keuntungan, bisa trending topik di media sosial sehingga pas untuk pencitraan, dan sebagainya, baru bisa jalan dengan baik dan diapresiasi dengan baik juga.

Lantas, Eka Kurniawan memutuskan untuk tidak hadir dalam kegiatan tersebut. Ia juga menolak anugrah yang disematkan kepadanya. Alasannya, tentu bukan masalah uang, tapi ia tidak mau angguk-angguk saja dengan apa yang dilakukan negara terhadap kerja kebudayaan. "Suara saya mungkin sayup-sayup, tapi semoga jernih didengar. Suara saya mungkin terkesan arogan, tapi percayalah, Negara ini telah bersikap jauh lebih arogan, dan cenderung meremehkan kerja-kerja kebudayaan," kata Eka.

Dengan penolakan ini, dengan kejadian yang terus menghimpit dan menekan dunia literasi dan sastra Indonesia, dengan banyaknya perampasan buku, serta pandangan "remeh" terhadap kerja kebudayaan, apa negara tidak juga mau berbenah? Bukankah kita hanya jadi negara yang "adidaya" bila dilihat dari kebudayaan dan kesenian? (ai) 

Kamis, 03 Oktober 2019

Ini Alasan Kenapa Teater Indonesia Mulai Tertinggal dengan Teater Malaysia


October 03, 2019

Ilustrasi pertunjukan teater

pojokseni.com - Ada banyak grup teater di Indonesia, dari Aceh sampai Papua. Namun, perkembangan industrinya masih terbilang mengecewakan, apalagi bila dibandingkan dengan industri film. Hasilnya, banyak bakat dan potensi di bidang teater perlahan menghilang dan hijrah ke bidang lain. 

Seperti dikatakan Garin Nugroho, seorang sutradara film yang juga aktif di bidang teater, jangankan dibandingkan dengan Amerika, Inggris dan sejumlah negara maju lainnya. Dibandingkan dengan Malaysia saja, Indonesia sudah ketinggalan.

Ada beberapa hal yang menyebabkan Teater Indonesia terus tertinggal, terutama dari Malaysia. Sebelumnya, perlu diingat bahwa di era 80-an dan 90-an, grup teater di Indonesia begitu berjaya, sedangkan di Malaysia sedang lesu-lesunya. Di akhir era 90-an, muncul Akademi Seni Kebangsaan (ASK, sekarang berganti menjadi ASWARA), yang melahirkan sejumlah nama lulusan awal yang mulai membangun industri teater di negeri jiran. Dari pergerakan, geliat, perlahan teater di negeri jiran sudah berkembang ke tahap industri.

Ada saja pementasan teater setiap minggunya, apalagi puncaknya di awal era 2010 ke atas. Grup-grup memiliki trend pentas dan aliran berbeda-beda, maka membentuk ekosistem penonton yang berbeda pula. Mahasiswa di sana digalakkan untuk menonton teater dengan tiket seharga mulai dari 30 Ringgit Malaysia atau setara dengan Rp 101.620 (dengan kurs saat ini 1RM sama dengan Rp3.367).

Setelah tamat, para sarjana atau diploma ini sudah terbiasa (bahkan sudah jadi gaya hidup) untuk menonton sebuah pertunjukan teater. Maka persaingan grup teater berlangsung ketat, siapa yang jarang latihan, kurang keras berusaha, maka akan kalah dengan yang berusaha lebih keras, atau memiliki nama lebih besar.

Selain itu, berbagai perusahaan juga berlomba-lomba untuk menjadi sponsor pertunjukan teater. Hasilnya, baik pertunjukan dengan budget besar maupun kecil sering sukses terselenggara. Teater yang baru muncul, biasa pentas dengan budget yang kecil, bahkan setara dengan Rp300.000 - Rp500.000 saja. Tentu saja, tiket untuk pementasan ini jauh lebih kecil ketimbang teater dengan budget besar.

Bila dibandingkan, ini perbedaan utama teater di negeri jiran dengan Indonesia.

1. Pemerintah Malaysia membebaskan pajak untuk pentas teater, di Indonesia pajak untuk pentas teater terhitung tinggi.

Ini poin pertama, perbedaan signifikan antara teater di Malaysia dengan teater di Indonesia. Pajak yang diberlakukan untuk teater di Indonesia terhitung cukup besar, bahkan mencapai 10% untuk teater komersil. Misalnya tiket seharga Rp10.000 dengan perhitungan kemungkinan penonton mencapai 100 orang, maka grup teater itu akan terkena pajak hingga Rp100.000.

2. Pemerintah Malaysia membebaskan biaya sewa gedung untuk pentas teater. Sedangkan di Indonesia, sewanya terlampau mahal.

Untuk pementasan teater, tari dan pameran seni rupa seniman lokal, Malaysia membebaskan biaya sewa gedung. Sedangkan di Indonesia, sewa gedung terlampau mahal. Minimal sewa gedung teater tertutup di Indonesia adalah Rp 1.000.000, itu untuk gedung yang masuk kategori menengah, dan belum ditambah biaya kebersihan dan sebagainya.

3. Selain tidak memberikan pajak, Pemerintah Malaysia justru memberi insentif tambahan pada grup teater.

Grup teater yang terus menjaga konsistensi dalam berkarya dan proses, mendapatkan insentif dari pemerintah Malaysia. Hal itu ditujukan agar seni pertunjukan teater terus semangat untuk memproduksi karya-karya terbaiknya, tanpa memikirkan masalah uang. Hal itu bisa dikatakan masih sulit diwujudkan di Indonesia.

4. Perusahaan besar berlomba-lomba menjadi sponsor pertunjukan teater di Malaysia, sedangkan di Indonesia mencari sponsor adalah hal yang cukup sulit.

Apalagi, bagi grup-grup baru. Mencari sponsor seperti mencari jarum di jerami. Mungkin dapat, tapi susahnya setengah mati. Ditambah lagi dengan materi yang ditampilkan kurang "populer" dan nama grup masih "sayup", maka mendapatkan penyandang dana bisa jadi sebuah "mission impossible".

5. Pelaku teater di Malaysia adalah "profesional", di Indonesia adalah "pekerjaan sampingan".

Ini adalah dampak dari semua poin di atas. Di Eropa, Amerika dan negara maju di Asia seperti Jepang dan Korea, para seniman teater adalah orang-orang profesional. Dengan arti, seni adalah profesinya dan mereka akan mencurahkan perhatian mereka sepenuh hati di bidang yang digeluti. Sedangkan di Indonesia, aktor atau seniman yang terlibat dalam pementasan adalah pekerjaan sampingan. Mereka terlibat dalam pentas teater murni karena kecintaan.

Meski demikian, ada satu hal yang Malaysia mesti salut pada seniman teater di Indonesia. Meski dalam keadaan yang berbanding terbalik tersebut, grup teater tetap mencari ruang, peluang dan berusaha sekuat tenaga. Kadang, biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil yang didapatkan.

Namun, seniman memang tidak mengejar uang di negeri ini. Bagi mereka (seniman teater), panggung dan lakon adalah sarana pencerahan bagi masyarakat, sarana perlawanan, juga hiburan yang bergabung menjadi satu kesatuan. (ai/pojokseni.com) 

Sabtu, 21 September 2019

Tubuh Padang Oleh Komunitas Hitam Putih Dihelat di Pekan Teater Nasional


September 21, 2019


Komunitas Seni Hitam Putih rencananya akan mementaskan "Tubuh Padang" karya/sutradara Yusril Katil dalam Pekan Teater Nasional 2019. Kegiatan yang digelar Direktorat Kesenian, Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan Dewan Kesenian Jakarta tersebut tahun ini digelar di Panggung Utama Taman Budaya Kalimantan Timur, Samarinda, tanggal 20 hingga 26 September 2019. Pentas Tubuh Padang dari Komunitas Seni Hitam Putih kebagian pentas pada hari Sabtu (21/9/2019).

Kegiatan yang dirangkai dengan Pekan Seni Indonesia ini mengusung tema besar "Tubuh Gunung: Resonansi Teater Tradisi". Tema ini dimaknai sebagai batas habitat untuk mengenali tubuh tradisi (setelah budaya laut maupun maritim).
"Setiap tradisi mengandaikan adanya komunitas budaya yang bergantung pada tempat sebagai sumber kehidupan maupun medan representasi dari berbagai produksi pengetahuan, keahlian, folklor, dan kepercayaan,” kata Afrizal Malna, salah seorang kurator Pekan Teater  Nasional, Jumat, 20 September 2019.
Menurut Afrizal Malna, dalam Pekan Teater Nasional ini, tema “Tubuh Gunung” ini, kurator membagi tiga pokok garapan, yakni Kanon Tradisi, Post-Tradisi, dan Teater Riset.
“Masing-masing subtema memiliki kecenderungan dan kekuatan,” ungkap Sahrul N, dramaturgi “Tubuh Padang” ini, Komunitas Seni Hitam Putih menjadi salah satu penampil yang diundang dalam Pekan Teater Nasional dengan garapan teater yang berbasis pada riset, terutama pada eksplorasi pertunjukan tradisional randai, dengan menjelajahi berbagai kemungkinan tematik dan estetik di dalamnya.
“Karya ini berangkat riset terhadap seni tradisional randai Minangkabau sebagai vokabuler gerak tubuh aktor. Randai adalah perpaduan dari sastra, musik, seni suara, seni tari, teater dan pencak silat. Karya ini memiliki ciri melibatkan beberapa aspek seni dan bersifat total dan pembesaran,” urai Sahrul N.
Sementara itu, Yusril Katil, sutradara “Tubuh Padang” mengatakan, randai yang digunakan dalam karya ini adalah legaran atau gerak lingkaran pemain randai yang bersumber dari silat dan aktraktif.
“Di sini muncul bentuk yang secara visual menarik untuk ditonton atau menjadi pamenan mato dalam kebudayaan Minangkabau.Pamenan mato dipengaruhi oleh keindahan lihatan. Pamenan merupakan suatu fungsi yang penuh makna yang bisa diartikan sebagai permainan. Maka, teater 'Tubuh Padang' merupakan pertunjukan berbasis riset,” terang Yusril Katil.


Dalam pamenan,  tambahnya, ada sesuatu yang turut bermain yang melampaui hasrat untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan memasukkan suatu makna ke dalamnya. Fakta bahwa pamenan mempunyai makna, mengimplikasikan adanya suatu unsur non-materil dalam hakekat pamenan itu sendiri. Pamenan juga diartikan sebagai ideologi tentang demokrasi seni.

Sementara itu, Sudarmoko, periset dalam proyek “Tubuh Padang” menambahkan, prinsip-prinsip demokrasi yang menjadi dasar relasi sosial dalam masyarakat Minangkabau membuat pertunjukan randai tidak mengenal pemimpin yang berkuasa mutlak. Meskipun penyelenggara pertunjukan randai tergabung dalam struktur yang memunculkan posisi yang berbeda antara satu dengan yang lain, namun dalam pelaksanaannya semua unsur bekerja bersama-sama.

Makna demokrasi yang diterapkan dalam penyelenggaraan pertunjukan randai bukan berarti menghilangkan tingkat dan posisi. Akan tetapi, tingkat dan posisi itu tidak dimaknai sebagai sesuatu yang kaku dan mutlak secara menyeluruh. Masing-masing orang yang menempati posisi tertentu diberi jalan agar pikiran dan pendapat mereka didengar dan dipertimbangkan.
“Esensi estetik dari randai adalah bagaimana masing-masing kreator memiliki kebebasan terhadap bidangnya masing-masing. Esensi estetik yang melatar belakangi randai, ditentukan oleh masyarakat pendukungnya, sedangkan 'esensi artistik' ditentukan oleh tuo randai beserta pemain dan bahkan juga ditambah masyarakat lingkungannya.  Hal ini sangat terbuka dan hadir dalam tafsir 'Tubuh Padang'," urai Sudarmoko.
Lebih jauh ia katakan, perubahan pada randai menyentuh berbagai macam bidang (tidak hanya pada bentuk), baik itu dari pandangan sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan termasuk di dalamnya kesenian. Perubahan yang terjadi di tengah masyarakat juga mempengaruhi perubahan kesenian di tengah masyarakat, termasuk di dalamnya teater.

Pertunjukan ini didukung oleh komposer Avantgarde Dewa Gugat, video art/dokumentasi Topan Dewa Gugat, dan aktor Yogi, Ahmad Ridwan Fadjri, Aditya Warman dan Rahmat Pangestu Hidayat.


Pertunjukan ini juga menjadi sebuah penjelajahan eksplorasi dalam memadukan unsur pertunjukan tradisi, transfer pengetahuan dari tradisi ke kontemporer, sumber penciptaan teater dengan memanfaatkan silek, randai, dan kekayaan budaya lainnya, serta pencarian estetika baru dengan media dan teknologi kontemporer. (isi/pojokseni)

Minggu, 15 September 2019

Teater Sebagai Medium Perlawanan, Tapi Melawan Apa?


September 15, 2019

Ilustrasi teater

Sejak dulu, teater kerap di-identikkan sebagai medium perlawanan. Padahal, ketika diperkenalkan di Yunani abad ke-6 SM, teater ditujukan untuk menyokong ritual keagamaan. Sampai perkembangan teater terus terjadi mengikuti zaman, bermunculan teater tradisional, maka teater berpindah peran menjadi hiburan dan budaya.

Selanjutnya, teater modern lahir. Maka teater mulai berubah peran, mulai dari menjadi penyampai pesan, hingga medium perlawanan. Bahkan, dalam titik negatifnya, teater juga berubah menjadi agen kepentingan.

Mengingat teater sebagai perlawanan, tentu akan mengarahkan kita ke nama dramawan legendaris Indonesia, WS Rendra. Namanya begitu harum tersimpan di memori teater Indonesia. Sebab, teater baginya tidak hanya untuk hiburan juga budaya, tapi lebih pada perlawanan. Karena itu, pemerintah Orde Baru (Orba) melakukan pengawasan, berlanjut ke pelarangan pada setiap pementasan Rendra.

Namun, kembali ke pertanyaan paling awal, apabila teater memang kerap dijadikan medium perlawanan, maka siapa lawannya? Tidak sedikit yang akan menjawab; "penguasa!" Ternyata, tidak hanya "penguasa" yang bisa menjadi objek perlawanan. Ketidak adilan, tindak yang tidak manusiawi, serta kebiasaan merendahkan orang yang tidak satu kelompok, juga sering menjadi "objek perlawanan" bagi seorang seniman.

Ilustrasi pertunjukan teater (Teater Satu Lampung dalam karya Kisah-Kisah yang Mengingatkan)

Setiap karya seni pertunjukan, lahir dari atau sebagai respon seorang seniman terhadap lingkungan dan sosial sekitarnya. Ada yang menatap kerusakan bentang alam dan para pengrusaknya sebagai orang-orang yang mesti dilawan, lewat teater. Ada seniman lain yang menatap kemalasan bangsa ini, sehingga SDA yang kaya raya dan melimpah tak mampu diolah dengan baik karena tidak adanya SDM. Maka itu dianggap sesuatu yang perlu dilawan, dirubah dan diluruskan.

Ada yang mencintai kemanusiaan dan kedamaian. Tindak pemerkosaan, perudungan, penghinaan status sosial, warna kulit dan sebagainya, dianggap sebagai sebuah lawan yang juga harus dihapuskan.
Ada yang melihat perang sebagai kejahatan kemanusiaan, maka lahir karya yang melawan itu, agar perang dapat terhenti dan dihapuskan dari muka bumi.

Ada yang ingin kesetaraan gender, ada yang ingin kesetaraan ras, ada yang ingin kesetaraan agama dan lain sebagainya. Lalu menggunakan karya teater untuk menyampaikan kegelisahannya, dan tentunya "perlawanannya".

Ada yang melihat ketergantungan anak muda penerus bangsa sekarang pada gawai, bermain gem sepanjang malam, maka runtuh hubungan sosial antar manusia gegara gadget. Ada yang tidak peduli pada prestasi dan pengetahuan, lebih peduli pada popularitas dan sensasi. Maka hadir sebuah perlawanan dalam bentuk sebuah karya.
Ada juga yang melihat betapa banyak makhluk yang kecanduan agama, belajar di tempat yang salah, lalu menimbulkan pergesekan atas nama agama. Lalu, muncul pula karya teater yang mencoba menentang hal itu.

Atau, semakin banyak orang yang hidup hanya untuk mempersiapkan mati, lalu hidup hanya diisi dengan keegoisan diri sendiri mencapai tujuan pribadi. Lebih mengerikannya, semua yang ada di sekelilingnya, dianggap sebagai sampah atau setidaknya punya derajat yang jauh di bawah dia. Lagi-lagi, karya teater muncul untuk menentang itu.

Ada yang melihat bahwa manusia telah kehilangan makna, kehilangan sekaligus lupa akan tugasnya sebagai manusia. Ada juga yang melihat krisis eksistensial seorang manusia, atau kehidupan yang tak lebih dari labirin yang berputar-putar. Lalu, lahirlah karya yang menyampaikan pesan itu, sekaligus memprovokasi penonton untuk menentangnya.

Intinya, semua masalah akan terlihat ketika seorang seniman membuka mata. Dalam satu titik masalah yang sama, dua orang seniman akan memiliki perspektif berbeda menanggapinya, lalu mencurahkannya dalam sebuah karya seni pertunjukan.

Perspektif itu, kemudian diobservasi, baik kecil-kecilan, berbentuk studi pustaka, atau malah observasi besar-besaran, hingga terjun langsung ke lapangan. Kemudian, diimplementasikan dalam bentuk sebuah karya. Tidak lupa pula, sejumlah pendapat dan pandangan filsuf, pemikir, tokoh bahkan kata-kata Nabi yang mendukung ide, pesan dan konsep pementasan itu, sering juga di-include-kan ke tubuh karya. Unsur-unsur estetik kemudian digarap sesuai dengan dramaturgi. Ditambah proses latihan yang makan waktu sampai berbulan-bulan. Dan, sebuah karya akhirnya ditampilkan.

Maka, hasilnya adalah sebuah keragaman karya. Setiap grup teater memiliki ciri khas karya masing-masing, berdasar dari pandangan mereka terhadap lingkungan sosial sekitarnya. Maka karya itu akan lahir dari dalam perasaan terdalamnya, maka karya itu akan lahir dengan jujur. Maka penonton juga memiliki banyak pilihan, memilih pertunjukan teater yang sesuai dengan visinya, "mengenyangkan" dan memberi "nutrisi" yang dibutuhkan, dirindukan sekaligus diinginkannya. Maka, teater dan penontonnya akan memiliki satu ikatan batin, yang hanya terpisah oleh dinding keempat.

Seorang seniman tidak hanya bertugas untuk menambah pengetahuannya, melatih dirinya dan menciptakan sebuah karya. Lebih dari itu, ia mesti melihat lingkungan sekitarnya dan memberi respon dengan sebuah karya. (ai/pojokseni)  

Senin, 12 Agustus 2019

Apresiasi Sastra Indonesia Melalui Pelestarian Kebudayaan Daerah


12 Agustus 2019

©Justian/Bal

“Kau mengumpulkan orang-orang Luwu. Memanggil semua rakyatmu dan memaksa mereka menebang pohon untuk sebuah istana di Ware.”
Kutipan diatas merupakan salah satu isi dalam buku puisi Manurung: 13 Pertanyaan untuk 3 Nama karya Faisal Oddang.
Buku puisi Manurung terinspirasi dari La Galigo, epos legendaris Bugis. Tidak hanya dari La Galigo, karya Faisal Oddang yang lain juga bercermin dari kebudayaan Bugis. Beberapa yang telah ia terbitkan yaitu cerpen Di Tubuh Tarra dalam Rahim Pohon (2014), novel Puya ke Puya (2015), dan novel Tiba Sebelum Berangkat (2017).

Faisal Oddang adalah sastrawan muda lulusan Sastra Indonesia Universitas Hasanuddin. BALAIRUNG berkesempatan untuk mewawancarai Faisal Oddang di akhir acara diskusi sastra yang diselenggarakan panitia Festival Sastra 2019 di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM. Dalam wawancara bersama Faisal Oddang, ia banyak memberikan perspektif baru mengenai sastra daerah dan kebudayaan daerah.

Apa itu sastra daerah?

Sastra daerah adalah karya sastra yang merupakan respon penulis terhadap fenomena budaya di suatu tempat. Jika dikaitkan mengenai tema diskusi sastra yang mengangkat lokalitas sastra Indonesia, lokalitas sastra Indonesia yang dimaksud adalah sastra Indonesia yang mengangkat isu-isu daerah.

Bagaimana dengan karya sastra Indonesia yang mengangkat isu kedaerahan?

Kaitannya dengan sastra Indonesia yang mengangkat isu kedaerahan, saya melihat bahwa itu adalah karya sastra yang lahir sebagai respon atas peristiwa-peristiwa atau tafsir dari suatu kebudayaan di suatu tempat. Saya sendiri sering merespon kebudayaan di Sulawesi Selatan.

Mengapa Anda tertarik menulis sastra daerah?

Sebenarnya bukan persoalan saya tertarik atau tidak, tetapi saya memang berangkat dari kebudayaan itu. Saya lahir, tumbuh, belajar, dan berpikir dengan cara yang sangat Bugis atau Makassar. Saat ingin merefleksikan atau merespon sesuatu, saya tidak bisa jauh-jauh mengambil permasalahan kebudayaan karena keresahan itu berasal dari sesuatu di sekitar dan hal itu saya respon di  dalam tulisan.

Mengapa kita perlu mengetahui dan mempelajari kebudayaan daerah?
Sebenarnya tidak harus karena hal tersebut tidak bisa dipaksakan. Saya ingin pembaca memiliki perspektif lain untuk memandang sebuah nilai dari suatu tempat atau wilayah. Misalnya, mungkin kita bisa mendapatkannya di buku teks, itu satu perspektif. Namun perspektif lain yang diwakili oleh karya sastra juga penting untuk dibaca.

Bagaimana cara melestarikan sastra daerah tersebut?

Itu di tingkat yang lebih jauh. Mungkin ada beberapa penulis yang menulis tentang kebudayaannya dengan keinginan untuk melestarikan, tapi itu bukan saya. Saya tidak memiliki tendensi sebesar itu. Saya menulis untuk merespon fenomena budaya agar menghadirkan perspektif baru saja. Permasalahan karya sastra akan lestari atau bertahan itu urusan lain.

Apakah sastra daerah dapat membantu perkembangan kebudayaan nasional?

Saya agak bingung mendefinisikan mana yang kebudayaan daerah, lokal, dan nasional. Siapakah sebenarnya yang merepresentasikan kebudayaan ini? Apakah kebudayaan nasional berasal dari wilayah yang masyarakatnya dominan? Cara berpikir kita yang mendikotomi sastra nasional dengan sastra daerah menyebabkan semua permasalahan yang ditulis dalam karya tidak sepenuhnya menjawab permasalahan daerah. Saya menganggap bahwa sastra yang membicarakan tentang daerah-daerah di Indonesia ini penting dilihat secara kolektif sebagai satu kesatuan. Identitas Indonesia adalah keragaman sehingga sastra harus dilihat dari berbagai perspektif dari daerah-daerah yang beragam juga.

Bagaimana tanggapan mengenai dikotomi antara sastra daerah dengan sastra Indonesia?

Dikotomi antara sastra daerah dan sastra Indonesia adalah masalah karena kita tidak bisa membedakan permasalahan nasional dan permasalahan daerah. Menurut saya, permasalahan daerah adalah bagian dari permasalahan nasional dan karya sastra yang merespon permasalahan tersebut tidak perlu digolongkan kembali. Itu semua adalah karya sastra Indonesia tapi berasal dari persoalan asal daerah yang beragam. Hal itu dipengaruhi asal daerah penulisnya atau asal gagasan yang menurut penulis penting untuk disampaikan. Jadi, pada dasarnya saya kurang sepakat dengan dikotomi sastra nasional-sastra lokal atau daerah.

Bagaimana cara apresiasi sastra daerah yang ideal?

Apresiasi yang penting adalah menuliskan karya itu sendiri, membacanya, dan menciptakan dinamika atau dialektika dari penulis ke pembaca yang berupa kritik. Kesusastraan Indonesia akan terbangun dari sebuah kritik. Pembaca akan memberikan respon atau dialektika terhadap suatu karya, dinamika itu penting untuk perkembangan orang-orang yang menulis. Itu respon yang menurut saya ideal.

Apa kesulitan dalam menyadur sastra daerah ke Bahasa Indonesia untuk mengenalkan kebudayaan daerah itu sendiri?

Kesulitan menyadur sastra daerah ke bentuk yang lebih baru adalah berusaha membuatnya diterima khalayak umum. Hal tersebut karena karya sastra daerah itu sesuatu yang tersegmentasi sehingga pembaca kurang memahaminya.

Bagaimana cara menggugah pembaca menikmati karya sastra yang disuguhkan?

Pembaca memang penting diperhatikan dalam menulis, namun hal yang saya utamakan adalah hubungan saya dengan tulisan itu. Tulisan inilah yang berhubungan dengan pembaca. Selain itu, hal yang penting dilakukan juga untuk membuat tulisannya diterima masyarakat luas.  Misalnya, merespon persoalan tradisi di Bugis. Prinsip merespon persoalan tradisi seperti piramida terbalik yaitu memasukkan persoalan yang lebih dipahami oleh pembaca secara umum. Setelah mengerti masalah umum yang terjadi, orang akan masuk lebih jauh ke tradisi yang membentuknya.

Bagaimana sastra daerah yang Anda tulis membantu menjawab permasalahan budaya saat ini?

Saya tidak ada tendensi untuk menjawab permasalahan, tapi yang saya lakukan dalam menulis adalah merespon permasalahan. Sastra daerah akan menghadirkan perspektif baru untuk melihat permasalahan budaya sehingga pembaca bisa bertindak sesuai bidang dan kemampuan mereka. Karya sastra disini tidak membantu secara langsung, melainkan menjadi perantara antara pembaca dengan permasalahan yang ada.

Bagaimana cara untuk berani menulis karya sastra?

Hal yang membuat kita berani menulis adalah banyak membaca karena kita akan merasa memahami dan memiliki cukup bahan untuk menulis. Kalau persoalan “saya harus memberanikan diri”, itu hal lain. Hal pertama adalah memperbanyak bacaan mengenai sesuatu yang ingin kita tulis.

Penulis: Marcelinus Justian Priambodo
Penyunting: Ayu Nurfiazah


Kamis, 01 Agustus 2019

Apa Kabar Kritik Sastra?


Rohmatul Izad* - 01/08/2019


Tidaklah mudah untuk memulai suatu perbincangan tentang kritik sastra pada saat ini. Kita hampir selalu berada dalam keraguan dan perasaan yang kurang enak. 

Apabila kita hendak mengatakan kritik sastra tidak ada, atau kita tidak punya kritik sastra, rasa-rasanya seakan mau meniadakan sebuah upaya yang dilakukan oleh berbagai kalangan untuk menjadikan kritik sastra itu ada.

Sastra adalah sebuah oase kecil di tengah-tengah keluasan hamparan padang pasir dan kritik sastra adalah angin yang melintas di sekitar oase itu. Publikasi sastra kita memang sangat terbatas, begitu pula dengan karya kritik sastra. Kritik sastra kita boleh dibilang masih berupa angin lalu yang tertiup sepoi-sepoi melintasi oase di tengah gurun pasir.

Di era H.B Jassin dulu, banyak yang mengatakan kritik sastra ada. H.B Jassin sendiri adalah seorang kritikus sastra. Orang-orang menjadi sastrawan setelah dibicarakan oleh H.B Jassin. 

Tetapi, kita bisa bertanya, bukankah kemampuan H.B Jassin terbatas? Tentu sangatlah terbatas waktu yang digunakan H.B Jassin betapapun tekunnya membaca banyak karya-karya sastra yang berhamburan di atas mejanya. Di samping pandangan-pandangan kesusatraan, ia juga diuji dengan zaman yang terus berubah.

Sehingga jangan heran bila di zaman ini, dengan tidak melupakan jasa H.B Jassin di masa lalu, akan selalu ada para sastrawan yang mengatakan bahwa H.B Jassin memang besar dan hebat, tetapi dia lebih besar dan lebih layak disebut seorang dokumentator sastra Indonesia dibandingkan dengan seorang kritikus sastra.

Sekarang ini, hampir tidak ada lagi paus kesusatraan. H.B Jassin sendiri dijuluki dengan paus kesusastraan. Tidak ada dokumentator sastra dan tidak ada ketekunan untuk mengabdikan selama seluruh hidupnya kepada sastra seperti H.B Jassin. 

Dalam situasi yang cenderung berubah ini, penciptaan karya sastra terus berlangsung, walaupun tanpa kritikus sastra yang berwibawa. Penulisan esai-esai terus berlangsung, untuk karya-karya yang dipilih, rasa-rasanya tetap timpang. Jumlah karya sastra jauh melampaui dari kritik sastra atau esai-esai yang dilahirkan pada zaman ini.

Hari ini hampir siapa saja bisa menjadi “kritikus sastra” atau menjadi komentator yang kritis terhadap karya sastra. Orang-orang dari kelompok keagamaan, ibu-ibu rumah tangga, pegawai negeri, dan wartawan, semuanya bisa bicara tentang sastra dengan nada yang cukup kritis. Tetapi sebetulnya itu semua tidak lebih dari perbincangan tentang sastra dari orang-orang yang mengapresiasi secara alakadarnya.

Lantas di manakah kedudukan para kritikus? Pertanyaan ini boleh jadi selalu menganggu, dan banyak yang terganggu oleh keraguan, siapakah yang dimaksud dengan kritikus? 

Sebetulnya yang kita harapkan sebagai kritikus adalah para akademisi yang banyak menekuni pembacaan sastra. Juga, pada saat yang sama, mereka menguasai teori-teori sastra yang bisa dia gunakan untuk membahas karya-karya yang dia baca, dengan memberikan alasan-alasan yang kritis terhadap penilaiannya, yang tentunya bisa dipercaya karena bertolak dari ilmu pengatahuan yang dia kuasai.

Tapi sayangnya, meskipun sekarang ini banyak sekali ahli-ahli di bidang kesusatraan, atau ahli-ahli teori sastra, tetapi semuanya tidak cukup untuk melahirkan seorang kritikus sastra. Mengapa bisa begitu? Karena menjadi kritikus sastra sudah dianggap bukan sesuatu yang menarik. Mereka tidak bisa hidup sebagai kritikus.

Sesekali memang ada juga yang menguasai teori, dan apresiasi itu digunakan untuk membahas karya-karya sastra tertentu, yang memang ada nilai kritiknya, tapi sangat terbatas pada karya-karya pilihan dan jumlahnya pastilah sangat jauh dari kata memadai. 

Ruang kritik sastra ini juga lebih banyak beredar di media sosial ketimbang di surat kabar. Artinya, dunia kritik sastra kurang memiliki antusiasme dalam menghasilkan pertarungan pemikiran, yang kemudian dibukukan sebagaimana polemik-polemik sastra yang terjadi di masa lampau.

Selain itu, surat kabar atau koran tak lagi melahirkan perdebatan sastra. Alasannya, selain koran tak memuat tanggapan, para medioker juga lebih cenderung lari ke media sosial. 

Terkait dengan berkurangnya interaktivitas kolom sastra dan budaya di koran, kini banyak wartawan yang dipaksa menjadi pengulas seni. Boleh jadi, redaktur seni dan budaya yang memang benar-benar jeli sudah tidak ada lagi, sehingga orang-orang yang tidak berkapasitas sebagai pegiat seni dan sastra berkecimpung bukan di bidangnya.

Posisi dan peran seorang kritikus sastra memang sangat rumit dan banyak sekali risikonya. Namun kehadiran mereka sangatlah diharapkan oleh para pembaca sastra dewasa ini, meskipun waktu yang tersedia buat mereka sangatlah terbatas. 

Kita memerlukannya sekaligus mengharapkannya, karena memang kehadiran mereka sangat diperlukan. Pertama, untuk memberikan pemantaban terhadap pengembangan upaya apresiasi sastra dalam masyarakat Indonesia. Kedua, untuk menegaskan tingkat pencapaian mutu dari kesusatraan kita di tengah-tengah gelombang besar sastrawan dunia. 

Sekarang, ini semua masih belum kita dapatkan. Keberuntungan kita lebih banyak berupa kehadiran esai-esai yang hebat, yang sesekali, dilahirkan oleh esais-esais hebat tanpa prevensi untuk menjadi seorang kritikus sastra yang hebat.
___

*Rohmatul Izad, Penulis. Alumni Magister Pascasarjana Ilmu Filsafat Universitas Gadjah Mada. Dosen Filsafat di IAIN Ponorogo