Ketoprak Dangsak

Pentas Ketoprak Dangsak "Reksa Mustika Bumi" kolaborasi Cepetan Alas dengan Ketoprak. Pentas ini digelar DKD Kebumendi PRPP Jateng [Foto:AP]

Lengger Banyumasan

Pementasan seni tradisi lengger dari Dariah; tokoh legendaris"Lengger Banyumasan"

Suro Bulus, Parodi Satire Ketoprak Rakyat

Lakon carangan "Suro Bulus" yang merupakan manifestasi perlawanan masyarakat tradisi terhadap kejahatan korporasi tambang

DRAS SUMUNAR, Tetet Srie WD

Pagelaran "Serat Dras Sumunar" karya Tetet Srie WD di Roemah Martha Tilaar Gombong

Dewa Ruci

Pentas wayang dengan lakon "Dewa Ruci" dalam Festival Dalang Anak di Banjarnegara. Tiga dari empat dalang cilik Kebumen sabet juara [Foto:AP]

Tampilkan postingan dengan label Sastra Daerah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra Daerah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 November 2018

Wayang Golek Menak Kebumenan


April 2012
Sekilas Kisah Menak

Jayengrono / Amir Hamzah

Kisah Menak bersumber dari kesusastraan Persia berjudul Qissa'i Emr Hamza yang muncul pada zaman pemerintahan Sultan Harun Al Rasyid (766-809)M. Cerita ini masuk ke Melayu dengan nama Hikayat Amir Hamzah dan kemudian disasur ke dalam bahasa Jawa dengan nama Serat Menak.

Intisari Cerita Menak mengisahkan perjalanan kepahlawanan Amir Hamzah, paman Nabi Muhammad SAW, dalam memerangi orang-orang kafir sewaktu menyebarkan agama Islam. Kisah ini mengalami berbagai pengkayaan dengan sumber-sumber cerita di daeah penyebaran. Cerita kepahlawanan Amir Hamzah muncul dalam kesusastraan Melayu sebelum tahun 1511 M dan dikenal luas pada saat kerajaan Malaka mencapai kejayaan. Hikayat tersebut masuk ke Indonesia sejalan dengan penyebaran agama Islam dan kemudian disadur menjadi kisah Menak.

Tidak diketahui secara pasti kapan dilakukan penyaduran cerita dari Melayu ke dakam bahasa Jawa. Hanya saja, Serat Menak tertua yang pernah ditemukan ditulis oleh Carik Narawita pada tahun 1639 J atau 1715 M atas perintah Kanjeng Ratu Mas Blitar, Permaisuri Pakubuwana I. Akan tetapi tulisan tersebut konon bukan teks asli, melainkan salinan dari teks yang lebih tua.

Di Jawa, kisah Menak yang pasti diperkirakan lahir pada zaman Pemerintahan Sultan Agung Mataram sekitar tahun 1613-1645 M. Sedangkan dari sumber Melayu, penulisan cerita Menak diperkirakan terjadi pada abad ke-15 dan 16.

Penggunaan kata Menak sebagai sebutan untuk Amir Hamzah, dapat dibandingkan dengan sebutan Menak Jingga pada serat Damarwulan. Dalam sastra Jawa pertengahan yaitu sastra Kidung, kata Menak pun sudah muncul yang berarti berbudi luhur, mulia, dan tampan. Serat Menak juga dipengaruhi Serat Panji yang populer pada masa itu.

Dalam cerita Menak, nama-nama tokohnya disesuaikan dengan nama Jawa seperti Omar bin Omayya menjadi Umar Maya, Qobat Shehriar menjadi Kobat Sarehas, Badi'ul Zaman menjadi Imam Suwangsa, Mihrningar menjadi Dewi Muninggar, Qoraishi menjadi Dewi Kuraishin, Unekir menjadi Dewi Adaninggar, dan lain-lain.



Garis Besar Kisah Menak

Kisah Menak menceritakan permusuhan Amir Ambyah atau Wong Agung Jayengrana yang berasal dari Mekah dengan Raja Nursewan yang juga mertuanya dari Medayin. Raja Nursewan yang kafir tidak mau tunduk. Ia selalu berusaha mencari bantuan dan perlindungan dari raja-raja lain yang mau memusuhi Amir Ambyah sehingga terjadilah perang yang berkepanjangan.

Setelah tak ada lagi kerajaan yang perlu ditaklukkan, Amir Ambyah kembali ke Medinah dan bertemu Nabi Muhammad. Ketika Madinah diserang pasukan Medayin yang bersekutu dengan Raja Lakat dan Raja Jenggi, Amir Ambyah maju ke medan perang dangugur sebagai prajurit Allah.



Marmoyo & Jiweng

Dalang Wayang Golek Menak Kebumen

Ki Shindu Djotarjono (seorang Dalang Wayang Golek Kebumen) adalah sejarah kejayaan Wayang Golek didaerah Kebumen pada tahun 1950 hingga 1980-an. Cerita yang dipentaskan diambil dari kisah Menak, maka terkenal dengan nama Wayang Golek Menak khas Kebumen. Beliau belajar mendalang secara otodidak turun temurun dari orang tuanya, dengan melihat mendengar dan belajar sendiri tanpa ada pendidikan khusus. Beliau adalah keturunan dari dalang-dalang terdahulu.
  
Ki Shindu Djotardjono







Pementasan Wayang Golek Menak di Museum Wayang Jakarta

Ki Kuswanto Shindu adalah dalang wayang golek menak Kebumen, putra dari Ki Shindu Djotardjono.

Beliau seorang dalang sekaligus pembuat wayang golek. Sekitar tahun 80an beliau mengawali karirnya menjadi dalang, hingga sekarang ini beliau masih menekuni profesi tersebut, namun disamping itu beliau juga sebagai pembuat Wayang Golek Menak, Wayang Wahyu, Wayang Golek Jawa, dan yang baru-baru ini beliau menciptakan kreasi baru yaitu Wayang Golek Purwa.


Wayang Golek Purwo

Sumber: ChendyRock 

Minggu, 28 Januari 2018

Puisi Ngapak "Waton Muni" Kus Diesel; Sastra Rintisan

Pernahkah terbayang bahwa di sela pekerjaan hariannya di bengkel, seorang mekanik spesialis mesin diesel masih sempat menulis puisi?

LAUNCHING: Suasana launching buku puisi ngapak "Waton Muni" karya Kus Diesel di Roemah Martha Tilaar (22/1) Gombong. Dalam gambar nampak parade pembacaan puisi-puisi ngapak [Foto: ArpanSphere]

Itu lah yang dilakukan Tunjung Kusmanto yang karena kesehariannya bergumul dengan mesin diesel, kemudian lebih dikenal sebagai Kus Diesel, hingga akhirnya puisi-puisi bahasa jawanya dapat terhimpun ke dalam kumpulan bertajuk “Waton Muni”. Keunikan puisi berbahasa Jawa yang lazimnya disebut geguritan ini adalah bahwa keseluruhan isi puisinya menggunakan bahasa jawa dialek ngapak.

Puisi ngapak karya Kus Diesel ini dilaunching di rumah budaya Martha Tilaar Gombong (22/1) sore itu. Penampilan Kus Diesel didukung oleh 7 pegiat Komunitas Pusaka Gombong (Kopong) dibawah koordinasi Sabur Herdian Ramin. Ikut juga berparade dalam perhelatan ini beberapa pegiat seni tradisi Macapat seperti Trimo Raharjo dan Nanang S Pamomong.

Pengelola Roemah Martha Tilaar Sigit Asmodiwongso menyambut baik digelarnya puisi (geguritan) ngapak dan berharap akan ada penulis lain menyusul apa yang telah dilakukan Kus Diesel.


Sastra Dialek Lokal, Sebuah Rintisan


Kus Diesel, penulis puisi ngapak "Waton Muni" 

Sastra dialek lokal yang dalam kasus launching “puisi ngapak” Kus Diesel, meski masih debatable; boleh dibilang sebagai sebuah rintisan. Selain disambut hangat apresian yang hadir, Rocky Irawan juga banyak mengomentarinya selaku pembawa acara. Pekan sebelumnya, di jagad virtual, juga muncul seorang anak berseragam pramuka membaca puisi ngapak dengan apiknya. Komunikatif, luwes saja dan amat bisa diterima.   

Selama ini jika orang menyebut karya sastra geguritan memang dari aspek bahasa cenderung berdialek timuran, mirip dialek Kebumen timur, Purworejo atau Yogya. Ini mengingatkan idiom bandhek wetan kali yang acap diperdengarkan untuk mengomentari Wong “Gombong” Bumen yang bicara tidak dengan bahasa “ngapak”nya.

Seorang penyair (baca: penggurit_Red) kelahiran Kebumen, Turyo Ragil Putro dari Ambal yang juga lebih dahulu dikenal sebagai sastrawan jawa dan telah pula membukukan karyanya. Namun jika disimak karya geguritan Turyo pun tidak ditulis dengan dialek “ngapak” yang khas itu.
Kus Diesel menulis dengan bahasa “ngapak” dan itu sebuah rintisannya.
“Ini satu hal yang membedakan Kus Diesel dari lainnya. Saat kita masih berfikir (puisi ngapak_Red), dia telah menuliskannya”, ucap Rocky Irawan sang pembawa acara siang itu. 

Ngapak Sebagai Daya Tarik

Tak banyak pengkritisan dalam sessi dialog di launching puisi ngapak “Waton Muni” Kus Diesel ini, selain komentar mengejutkan dari seorang di belakang bahwa penulisan “Waton Muni” masih kental idiom umum ketimbang benar-benar ungkapan gaya ngapak yang sesungguhnya. Idiom umum yang dimaksud olehnya adalah cara ungkap penulisan puisi yang berlaku pada umumnya.

Namun ada catatan menarik dari event langka di Roemah Martha Tilaar bahwa sebagai sebuah khasanah budaya berkomunikasi, bahasa ngapak adalah dialek yang sarat dengan daya tarik. Magnet ini bermula dari kesan lucu namun berkarakter khas, yang mencerminkan kultur blakasuta atau keterbukaan.

Puisi-puisi “Waton Muni” Kus Diesel, meski diungkap dalam kosakata yang biasa, seperti ikut menuntun kesadaran akan spirit budaya lokal gombongan mengenai nilai-nilai keterbukaan dalam blakasuta yang egaliter itu.

Selasa, 07 Februari 2017

Belajar Menghadapi Malam Pertama Bersama Gowok

Reporter: Petrik Matanasi | 07 Februari, 2017

Ilustrasi perempuan Jawa tempo dulu. FOTO/KITLV
tirto - Ketika baru pertama kali datang ke Indonesia, Indonesianis sohor Ben Anderson berkenalan dengan banyak mahasiswa yang kuliah di Jakarta. Salah satu dari mereka adalah pemuda asal Bagelen, salah satu daerah di Purworejo, Jawa Tengah. Soal pemuda ini, Ben berhasil mengorek bahwa keluarganya adalah pendukung PKI sejak 1926. 

“Ya, bapak saya selalu pilih PKI dan kakek saya PKI tulen, ditangkap waktu pemberontakan tahun 1926-27. Buat gua, PKI adalah garis leluhur,” kata si mahasiswa asal Bagelen ini kepada Ben. 

Karena di mata Ben pemuda Bagelen terpelajar ini cukup nakal—suka minum bir dan menggoda gadis-gadis—maka di hari lain, Ben iseng bertanya soal seks.

“Pengalaman pertama dengan cewek bagaimana?” tanya Ben. 

Ternyata, ada ada adat yang rada unik di desa si pemuda Bagelen ini. Tanpa ragu, si pemuda ini bercerita: di desanya ada seorang perempuan berusia sekitar 40 tahun, tak pernah kawin, hidup tanpa famili, dan sangat dihormati tokoh-tokoh desa. Tugas wanita itu adalah mengajarkan seks bagi anak-anak muda. Saat pemuda Bagelen ini berumur 15 tahun, ia dibawa ke rumah perempuan itu. Ia disuruh tidur di sana selama satu malam dengan si perempuan. 

“Sukses,” kata si pemuda Bagelen ini, walau awalnya gugup. 

Saat bercerita, Ben lupa menyebutkan bahwa perempuan yang mengajari soal seksualitas pada si pemuda itu punya sebutan. Mereka biasanya disebut gowok.  

Kisah sang pemuda Bagelen itu mirip dengan cerita dalam novel berlatar tahun 1950an: Nyai Gowok (2014) karya Budi Sardjono. Dalam karya fiksinya ini, Budi bercerita tentang Bagus Sasongko yang dititipkan pada Nyai Lindri, seorang gowok yang aslinya bernama Goo Hwang Lin. 

Goo Hwang Lin ini adalah keturunan dari Goo Wok Niang, yang dibawa oleh Laksamana Cheng Ho ke Jawa. Goo Wok Niang digambarkannya sebagai pembawa tradisi gowok asal Tiongkok ke Jawa. Menurut Budi dalam novelnya, kata gowok dipakai untuk mengenang Goo Wok Niang. 

Setidaknya, sudah ratusan tahun tradisi nan tabu ini hadir di Jawa. Jauh sebelum Budi Sardjono, menurut catatan buku Sastera Melayu dan Tradisi Kosmopolitan (1987), “Pada tahun 1936, Liem Khing Hoo menulis sebuah novel etnografis lagi yang berjudul Gowok dan yang cukup menghebohkan.” 

Terlepas dari rekonstruksi imajiner Budi Sardjono dan Liem Khing Hoo, Ahmad Tohari dalam novel legendarisnya juga menyinggung dunia gowok, tak jauh beda dengan yang digambarkan Budi Sardjono. Menurut Ahmad Tohari, Gowok digambarkan sebagai perempuan yang disewa oleh untuk mengajarkan banyak hal tentang kehidupan bagi seorang bujangan yang hendak menikah.

“Gowok adalah seorang perempuan yang disewa oleh seorang ayah bagi anak lelakinya yang sudah menginjak dewasa. Dan menjelang kawin.....Seorang gowok akan memberi pelajaran kepada anak laki-laki itu banyak hal perikehidupan berumah-tangga. Dari keperluan dapur sampai bagaimana memperlakukan seorang istri secara baik. Misalnya bagaimana mengajak istri kondangan dan sebagainya. Selama menjadi gowok dia tinggal hanya berdua dengan anak laki-laki tersebut dengan dapur terpisah,” kata Ahmad Tohari dalam Ronggeng Dukuh Paruk (1982). 

“Masa pergowokan biasanya berlangsung hanya beberapa hari, paling lama satu minggu. Satu hal yang tidak perlu diterangkan tetapi harus diketahui oleh semua orang adalah hal yang menyangkut tugas inti seorang gowok. Yaitu mempersiapkan seorang perjaka agar tidak mendapat malu pada malam pengantin baru,” tulis Tohari. 

Novel Ronggeng Dukuh Paruk berlatar di daerah Banyumas. Kabupaten ini tak terlalu jauh dari daerah Bagelen (Purworejo) dan Temanggung, tempat asal kawan Ben dan kampung Bagus Sasongko. 

Iman Budhi Santosa, penulis lain, punya definisi dan gambaran yang mirip dengan Tohari dan Sardjono. Dalam bukunya Kisah Polah Tingkah: Potret Gaya Hidup Transformatif (2001), Iman menyebut bahwa gowok punya peran penting dalam kehidupan sosial masyarakat di masa lalu.

“Begitu lamaran dari calon pengantin pria diterima dan hari pernikahn ditentukan, kedua keluarga harus bersepakat memilih gowok untuk calon pengantin pria tersebut... Setelah persetujuan tercapai, keluarga calon pengantin pria menghubungi gowok yang bersangkutan... Selanjutnya calon pengantin pria diserahkan kepada gowok (tinggal di rumah gowok) untuk mendapatkan pelajaran teori maupun praktik perihal seluk-beluk hubungan suami-istri. Diharapkan apa yang diperoleh dan dipraktikkan gowok tersebut dapat dikuasai dengan baik (mahir) supaya nantinya dapat mengajari istrinya.”

Dulu, menurut Iman, memang terdapat profesi gowok di Banyumas. Gowok berperan sebagai pemberi pelajaran dan praktik hubungan seks kepada calon pengantin pria. Mereka biasanya adalah wanita dewasa yang berusia 23-30 tahun.
Sebelum perkawinan yang dianggap sakral, wajib hukumnya seorang laki-laki untuk belajar bagaimana menafkahi batin istri. Bekerja banting tulang untuk kebutuhan materi belum dianggap cukup sebagai persiapan berumah-tangga. 

Penekanan soal ini juga ada di bagian-bagian akhir novel Nyai Gowok. Misalnya saat Nyai Lindri berpesan kepada Bagus Sasongko: “Saya akan senang jika kelak mendengar Mas Bagus bisa membahagiakan istrimu lahir batin...” 

(tirto.id - pet/msh)
https://tirto.id/belajar-menghadapi-malam-pertama-bersama-gowok-cit7

Minggu, 04 September 2016

Mengenang Sejarah Pelacuran Sastra

Oleh: Kajitow Elkayeni

Saut Situmorang membacakan puisi pada acara Panggung Parade Seni dan Sastra bertajuk “Denny JA Bajingan! Stop Penipuan Sejarah Sastra”, di Bundaran UGM, Jogjakarta. [Foto: dipanugraha.org]

Dalam dunia sastra, atau yang lebih umum seni dan kebudayaan, seringkali ada friksi, pertentangan, perselisihan, konflik. Di sana, caci maki, kritik pedas, cemooh, adalah hal lumrah. Tapi sepanas dan sejauh apapun konflik, belum pernah ada yang membawanya ke ranah hukum. Kerja sastra adalah proses melampaui bahasa. Makian hanya sebagian dari berbagai instrumen yang digunakan di dalamnya. Ia bagian dari ekspresi bahasa. Sedangkan sastrawan telah melampaui batasan formal dari bahasa. Perselisihan antar sastrawan paling jauh diselesaikan dalam sebuah mediasi. Atau konflik itu tetap dipelihara sebagai bagian dari kritik. Tidak ada urusan pribadi di sini.

Tapi tradisi dalam dunia sastra itu dipatahkan oleh sebuah tragedi kebudayaan. Penyair bernama Saut Situmorang diseret ke meja hijau dengan tuntutan pencemaran nama baik oleh Fatin Hamama. Ironisnya, Fatin Hamama ini mengaku sudah jadi penyair 40 tahun lamanya. Ia mencatatkan diri dalam sejarah dengan lelucon konyol, seorang penyair menuntut penyair lain akibat kritik yang dilakukan terhadapnya.

Kasus kusut ini bermula dari sebuah distorsi sejarah sastra. Pada tanggal 3 Januari 2014, sekelompok orang bernama Tim 8 meluncurkan sebuah buku bernama 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh, di PDS HB Jassin. Tim 8 itu terdiri dari Jamal D. Rahman (Ketua), Acep Zamzam Noor, Agus R. Sarjono, Ahmad Gaus, Berthold Damshäuser, Joni Ariadinata, Maman S. Mahayana, Nenden Lilis Aisyah. Buku itu terkandung cacat taksonomi di dalamnya, karena menyertakan tokoh politik bernama Denny JA sebagai bagian dari tokoh sastra paling berpengaruh di Indonesia. Ia sejajar dengan ikon penyair besar sekelas Chairil, Rendra, Widji Thukul. Klaim sepihak ini membelokkan sejarah kesusasteraan. Orang yang tak paham sastra justru ditokohkan sebagai begawan.

Denny JA ditokohkan oleh Tim 8 karena dianggap berjasa dengan memulai genre sastra baru bernama Puisi-esai. Banyak sastrawan konon jadi pengikutnya. Beberapa sastrawan senior bahkan memberikan dukungan berupa testimoni yang menggugah. Tapi fakta yang terkuak di belakangnya ternyata berkata lain. 

Bagi orang umum, barangkali ini hanya persoalan titip nama. Tapi ini adalah persoalan serius karena menyangkut sejarah dan disiplin ilmu pengetahuan. Lebih jauh, kasus titip nama ini adalah penghinaan bagi dunia sastra. Orang-orang kritis mulai bersuara. Mereka mencurigai Denny JA adalah dalang dari tragedi kebudayaan itu. Orang-orang kritis itu kemudian membentuk kelompok, mereka menyebut diri sebagai Aliansi Anti Pembodohan Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Gelombang protes kian besar. Blokade terhadap protes itu juga tidak main-main. Aparat mulai diturunkan. Uang dan kuasa mulai bicara.

Pada tanggal 23 Januari 2014, Pelukis Hanafi menyatakan bahwa ilustrasi sampul buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh” adalah lukisannya yang dipergunakan tanpa izin oleh Tim 8. Buku itu selain cacat taksonominya juga telah menggunakan lukisan orang lain sebagai sampul. Tim 8 menolak bertanggung-jawab. Beberapa ajang pertemuan ilmiah yang digagas Aliansi Anti Pembodohan di beberapa universitas sebagai upaya mediasi juga tidak digubris.

Besarnya gelombang protes itu mulai menghantam Denny JA. Ia terlihat kewalahan. Hal itu tercermin dari komentarnya yang berisi kecaman dan ancaman di media. Ia menyamakan para pemrotes itu fasis, bahkan diserupakan FPI (Front Pembela Islam). 
Tapi fakta-fakta baru terkuak. Banyak orang yang ternyata dibayar untuk membuat puisi pesanan bernama Puisi-esai itu. Beberapa orang membuat pengakuan dan menyesali perbuatannya. Pada 5 Februari 2014, 4 dari 23 orang yang terlibat dalam proyek penulisan dan penerbitan buku-buku Puisi-esai, yaitu Ahmadun Yosi Herfanda, Sihar Ramses Simatupang, Kurnia Effendi, dan Chavcay Saifullah menyatakan keberatan dan merasa diperalat Denny JA. Mereka meminta naskah mereka ditarik dari penerbitan. 

Ahmadun Yosi Herfanda bahkan mengakui telah “melacurkan diri” kepada Denny JA, demi uang 10 juta rupiah. Dia pun akhirnya mengembalikan uang itu. Ia sadar, karyanya hanya akan dijadikan alat legitimasi pengaruh Denny JA, setelah buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh menjadi polemik.

Tak lama berselang, tanggal 6 Februari 2014, Maman S Mahayana menyatakan Denny JA adalah sponsor penyusunan buku tebal yang memasukkan nama konsultan politik itu ke dalam jajaran 33 sastrawan besar Indonesia. Maman juga menyatakan mundur dari Tim 8, serta meminta Jamal D Rahman sebagai ketua Tim 8 mencabut 5 esai yang sudah ditulisnya. Maman menyatakan akan segera mengembalikan honorarium yang ia terima sebesar 25 juta rupiah.

Dari fakta yang terkuak itulah, nama Fatin Hamama muncul ke permukaan.
Awalnya Fatin mengelak disebut sebagai makelar sastranya Denny JA. Sama seperti pengelakan PDS HB Jassin yang menyatakan tidak tahu-menahu soal buku itu. Tapi pengakuan-pengakuan sastrawan di atas tadi tak mampu ditepis. Fatin adalah penghubung antara para sastrawan itu dengan Denny JA. Fatin juga berperan besar dalam perwujudan buku pencoreng sejarah sastra, yang kemudian diketahui mendapatkan dana dari Denny JA itu. Dari sini konflik personal itu dimulai dan dibelokkan. Kemunafikan Fatin ini membuat kelompok Aliansi Anti Pembodohan berang. Fatin dengan enteng mengeluarkan ancaman hukum. 
Ia akan memenjarakan anggota Aliansi Anti Pembodohan atas aksi protesnya. 
Kemunafikan dan ancaman ini yang membuat Saut Situmorang muntab.

Saut adalah salah satu dari anggota Aliansi Anti Pembodohan yang paling kritis. Ia juga salah satu dari penyair Indonesia yang dikenal idealis. Penolakannya terhadap aliran uang asing yang menghidupi para komprador dalam dunia kebudayaan, sudah dikenal sejak lama. Dalam aksi protes buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling berpengaruh itu, Saut adalah ujung tombak. Denny JA dan dosa sejarahnya tak mungkin kuat membendung arus protes yang terus membesar. Maka untuk itulah, caci-maki yang terjadi di media sosial dinaikkan statusnya sebagai pencemaran nama baik. Sasarannya jelas, ujung tombak para pemrotes, yaitu Saut Situmorang.

Kritik terhadap buku itu mengalami distorsi. Fatin dijadikan penangkis serangan kritik. Ia membelokkan persoalan kebudayaan ini menjadi kasus kriminal umum secara personal. Dengan diseretnya Saut ke meja hijau, suara protes terhadap buku itu lenyap. Denny JA yang semula sudah kewalahan menghadapi protes menjadi bebas tak tersentuh. Fatin memainkan play victimnya. Ia mempersoalkan makian sebagai kasus gender. Ia merengek-rengek pada Komnas Perempuan. Dan celakanya, Komnas Perempuan menganggap bahasa memiliki kelamin. Jika laki-laki menggunakan metafora dan metonimi kasar terhadap perempuan dianggap seksis. Sementara perbuatan sebaliknya tidak. Bahasa menjadi berpihak dan tidak menguntungkan satu gender. 

Orang-orang umum tidak memahami esensi dari persoalan kebudayaan ini. Fatin mendapatkan simpati karena ia perempuan. Makian Saut akibat ancaman dan kemunafikan Fatin dianggap lebih keji dari dusta sejarah yang dilakukan oleh Fatin Hamama dan Denny JA. Kebenaran sudah tidak diperdulikan lagi. Di hadapan uang dan kekuasaan, kebenaran hanyalah sekumpulan daun kering. Ia bahkan begitu mudah diterbangkan oleh satu pasal UU ITE dengan persoalan nama baik, dari orang yang justru perlu dipertanyakan nama baiknya.

Tragedi kebudayaan ini telah dijadikan ajang kriminalisasi sastrawan. Padahal di luar sana, sastrawan besar saling memaki adalah persoalan yang sangat biasa. Dengan minat baca sangat rendah, di negeri ini sastrawan yang mestinya jadi corong kebenaran justru rentan dikriminalisasikan. Orang-orang hanya melihat secara hitam-putih. Rendra telah mengalami politisasi dan kekerasan di masa Orde Baru. Widji Thukul bahkan lenyap di telan bumi. Dan kali ini, Saut Situmorang juga menghadapi “politik sastra” yang sebenarnya, di masa yang katanya sudah demokratis ini. Orde dan penguasa boleh berganti, tapi ketidakadilan barangkali akan abadi. Panjang umur perlawanan!

*****

*) keterangan diambil dari berbagai sumber.
Kajitow Elkayeni

https://www.facebook.com/kajitow/posts/10205319075536124

Jumat, 15 Juli 2016

Sastra Pertunjukan, Sebuah Konsep

15 Juli 2016 | 01.54.00

Sastra Pertunjukan Elis Yusniawati, “Korban atau Kurban”, di Kedai Sanutoke Semarang

Oleh: Eko Tunas*

KONSEP Sastra Pertunjukan bisa dibedakan dengan Pertunjukan Sastra. Dalam Pertunjukan Sastra selama ini, karya sastra dibacakan sebagaimana baca puisi atau baca cerpen. Atau dimainkan dalam bentuk drama atau teater, dan di sini naskah drama hanya sebagai bahan pertunjukan.

Pada baca puisi atau baca cerpen, karya sastra itu dengan sendirinya lebih dominan ketimbang aspek pertunjukannya. Sekali pun puisi atau cerpen itu dibacakan secara kreatif, tetap segi pertunjukannya hanya sebagai pendukung dari karya sastra yang ditampilkan. Lihat saja, baca puisi sejak gaya Rendra hingga Sutardji Calzoum Bahri. Atau, baca cerpen yang di tahun 1980-an dibintangi oleh Chairul Umam. Baca puisi gaya Rendra atau Sutardji, mau pun baca cerpen model Chairul Umam sampai pada saat ini belum mengalami perubahan.

Sejak baca puisi diperkenalkan Rendra pada 1970-an, kemudian marak dalam ajang lomba baca puisi, bahkan tampak adanya satu gaya. Sehingga seni baca puisi yang satu gaya itu, seakan menjadi model yang dianut oleh anak-anak muda. Di sini timbul pertanyaan, apakah dengan demikian kreativitas di bidang seni baca puisi bisa dijamin apresiasinya bagi masyarakat. Kembali terpulang, bahwa teks puisi sebagai karya sastra itu sendiri, yang menguji tingkat interpretasi pembaca itu sendiri.

Sehingga, perkara apresiasi dan interpretasi terhadap teks ini yang lebih utama, ketimbang citarasa seninya itu sendiri dalam bentuk seni baca puisi. Seni baca puisi yang telah menjadi model tunggal, dikuatirkan menjadi mekanis, menjadi perkara teknis semata. Kecuali, dalam kesempatan acara baca puisi yang dilakukan oleh penyairnya sendiri. Misalnya seperti yang dilakukan sejak Taufik Ismail, Hamid Jabbar, hingga Afrizal Malna. Toh perbedaan mereka lebih ada pada perkara karakter orangnya, dan teks puisi tetap menjadi faktor utama yang mesti tersampaikan ke publiknya.


Sastra Pertunjukan Elis Yusniawati, “Seclurit Rembulan”, di Taman Sastra Kendal

Konsep Pertama

Berbeda dengan Pertunjukan Sastra, dalam Sastra Pertunjukan antara teks sastra dan teaterikal pertunjukan tampil seimbang. Kedua aspek itu sama kuat, di sisi kekuatan sastra maupun sisi kekuatan pertunjukannya. Konsep pertama inilah yang diusung oleh Elis Yusniawati (Jakarta), dalam pementasannya yang pertama di Kedai Kopi Sanutoke 8 Oktober 2013, dalam judul “Korban atau Kurban”

Secara kebetulan dalam penampilannya itu, Elis pentas bareng dengan monolog oleh Cak Tohir (Surabaya) yang membawakan monolog “Mat Kasir” (dari lakon Monolog “Kasir Kita”, Arifin C Noer). Sehingga pada keduanya ada perbedaan mendasar antara monolog dan Sastra Pertunjukan. Pada monolog Cak Tohir jelas, bagaimana monolog adalah seni drama/teater dengan watak yang mesti dibawakan monogernya. Sehingga teks/naskah lakonnya sekadar sebagai bahan. Bahkan di tangan Cak Tohir, naskah Arifin mengalami penyaduran bebas demi kepentingan permainan gaya Srimulatan.

Pada penampilan Elis dengan teks karya sendiri, antara teks dan gerak pertunjukan tampil seimbang. Bagaimana pada gerak, Elis tampil sesuai basisnya sebagai penari balet. Lalu teksnya itu dipadukan dalam gerak tari baletnya itu, sehinga terasa betul dua kekuatan antara gerak tari dan teks itu tersampaikan secara harmonis.

Kemudian pada penampilan kedua di Pelataram Sastra Kendal (26/10), Elis tampil dengan teks berdasarkan cerpen karya Taufiqurrahman (Kendal) “Seclurit Rembulam”. Di sini gerak tari balet Elis lebih diminimalkan, dan hasilnya tetap sama kuat antara teks cerpen dan gerak minimalisasi tari baletnya. Usai pentas konsep Sastra Pertunjukan ini didiskusikan. Bahkan berlanjut, sejak itu muncul facebook berakun grup @Sastra Pertunjukan Kendal.


Sastra Pertunjukan Elis Yusniawati, “Cermin”, di Kafe Keita’O Ungaran

Konsep Kedua

Pada pentas ketiga Elis, konsep sastra pertunjukan makin mengerucut. Yakni di Kedai Keita’O Ungaran (6/11), saat Elis membawakan cerpen “Cermin” (Eko Tunas). Di sini minimalisasi tari balet Elis lebih diteateralkan, dan pembawaan teks lebih dikuatkan dengan penggambaran watak dalam cerpen itu. 
Penggambaran watak di sini, tidak sebagaimana dalam watak yang dimainkan dalam monolog. Tapi watak lebih digambarkan secara gerak itu tadi, sehingga terbebas dari permainan watak selazimnya dalam drama/teater.

Kemudian dalam diskusi usai pentas, muncul konsep kedua Sastra Pertunjukan. Pertama, istilah pemain atau aktor dalam Sastra Pertunjukan, lebih disebut sebagai Presenter. Karena dalam Sastra Pertunjukan, sang seniman berkonsep dasar, bagaimana penampilannya bukan disaksikan tapi justru menyaksikan. Menyaksikan persoalannya dan persoalan masyarakat yang diwakili penonton. Jadi, bagi Presenter publik bukan semata penonton, tapi orang per-orang bagian dari masyarakat yang secara bersama sang Presenter menyaksikan persoalan yang ada di tengah masyarakat seumumnya.

Kemudian terpulang kepada Presenternya, dalam setiap penampilannya dia mestilah mengolah diri sesuai dengan basisnya. Dalam hal ini secara kebetulan Elis berbasis penari balet, jadi kekuatan itu yang digunakan. Sehingga saat ia sebagai penyaksi, dia berada dalam subyek pengamatannya, dan tidak lari kemana-mana untuk menyaksikan persoalan masyarakat.

Sebagaimana pemilik Kafe Keita’O, pasangan sastrawan Nirwondo El Naan dan Atiek Sadewo, bisa jadi mereka tampil berdasarkan basis mereka sebagai pengelola kafe. Dalam aktivitas keseharian menyedu kopi, ice cream, atau kuliner yang disajikan.

Sehingga dalam Satra Pertunjukan, seorang Presenter tidak belajar teater kemana-mana, tapi melakukan penggalian dari kehidupan kesehariannya. Sebab bisa jadi dari ihwal inilah pada awalnya seni pertunjukan lahir. Ialah dari gerak manusia sehari-hari, dan dari teks-teks yang muncul dari kehidupan keseharian yang ada. Dari konsep inilah barangkali, apa yang disebut kreativitas lebih bisa membumi, mendarah-daging, dan tidak mengawang, tidak mengkhayal.

* Eko Tunas; Sastrawan dan teaterawan.
Saat ini menjadi pembimbing di Jentera Semesta Kota Semarang
 
Sumber: JenteraSemesta 

Minggu, 28 Februari 2016

Tembang Macapat, Enerji dan Abstraksi Doa [3]

// bertapa tanpa rimba yang terpeta / bijaksana lebih baiknya / bawa lah demi kebaikan / ingat tidak gegabah / menyadari badan yang ringkih / suramnya sang cakrawala / rasa yang terbingkai / terurai mengharap atas anak / lancar si Rarindra Ratu Hestungkari / dalam pelukan lanjut nama //

SERAT: Tradisi dalam karya Serat yang bukan saja sarat muatan ajar mengenai kearifan yang tetep relevan, tapi juga elaborasi pemikiran-pemikiran kekinian [Foto: Mario M Sano]    

Sinyalemen yang dapat ditarik dari sharing Tetet Srie WD bahwa lahirnya Serat Dras Sumunar melalui tapa keprihatinan seorang ayah yang tekun  bermunajat, bahwa anak putrinya (Rarindra Ratu Hestungkari) dapat lah mencapai bontos kaweruh, merengkuh kebijaksanaan tinggi serta kemuliaan dalam perjalanan hidupnya; tak melenceng dari wiradat atas sang anak. Secara naluriyah, bagi sastrawan jawa yang telah melanglang buwana ini menempatkan fitrah keperempuanan sebagai kemuliaan.  

Capaian derajad kemuliaan putrinya adalah rengkuhan derajat kemuliaan linimasa perempuan jawa pada umumnya. Apa yang tersurat dalam Serat Dras Sumunar, dengan begitu, mereposisikan diri sebagai rangkuman asa penciptaannya. Jadilah ia -Serat Dras Sumunar itu- semacam abstraksi dari doa. Tentu, sublimasi kosakata pilihan masih saja menghamparkan ruang dan kisi-kisi yang dapat memunculkan interpretasi yang berbeda.

Yang jelas, usaha mengapresiasi karya sastra Jawa itu tak bisa pasifistik dengan berhenti setelah mendengarkan serangkaian tembang atau pun liris-liris geguritan belaka; yang dalam pagelaran macapat di Roemah Martha Tilaar dikonfigurasikan sebagai transisi fase-fase pergantian pupuh. Macapat sendiri, dalam bentuknya sebagai pupuh itu; mengkerangkai bagaimana secara spesifik kita dibuat mengaktifkan nalar berikut sensitivitasnya.

Begini lah masyarakat Jawa membangun kecerdasannya dalam dialektika amemayu hayuning bawana itu...                   

Tembang Macapat, Enerji dan Abstraksi Doa [2]

 SAMBUNG-RASA: Sessi kajian pasca pertunjukkan macapat. Sastrawan Tetet Srie WD memaparkan proses penciptaan sebagai jembatan mengapresiasi [Foto: Aris Panji Ws] 

Tak bisa dipungkiri bagaimana luruh suasana dalam Roemah Boedaya itu, dimana tembang-tembang jawa mengaliri jiwa yang hadir di serambinya. Seolah ada spektrum tafakur yang melingkar, tak terpisah, tapi juga tak terdera basah sisa hujan di luaran. Begitu lah suasana dibangun dari getar serangkaian tembang-tembang jawa yang dilantunkan dari titah rasa. Selain Ika Lustiyati, ada Na Dhien, KMA Arum, Ajang Mas, Sukinah, Heru RRI, Trimo Raharjo, Dian Kusumawati, Alek Sudianto, Wagimin, Surawan dan Nanang SP.

Banyak lagi orang hebat menepi di sini. Namun Serat Dras Sumunar juga terasa benar hebatnya. Karya Tetet Srie WD yang diselesaikan selama 2 tahun pada 1986; tak lekang pesona magisnya hingga hari ini. Bahkan sang Empu Anggit pada saat melantunkan pupuh Mijil seperti memuncaki kulminasi dalam reaktualisasi pergulatan seninya. Karya yang dibabar pertama justru di mancanegara, yakni di Neully sur Seine, Perancis; memang bukan karya biasa-biasa saja.

Terlebih bagaimana mengolah karya sastra dalam pementasan collaseum dengan kendala verbal dan bahasa yang berbeda; aspek pembelajaran berkesenian tentu jadi resensi dan referensi besar. Karena saat petikan Serat Dras Sumunar dihelat di negeri sendiri, pun mengalami kendala serupa. Untuk bisa memahami ikrah karya sastra Serat seperti ini memang butuh pergulatan lanjut dan intensitas dalam menyelami teleng kedalamannya.

“Saya kepranan menyimak Dras Sumunar ini. Seperti apa penjabaran prakarsa kepenulisannya..?”. Tak kurang seorang Ketua Umum DKD Kebumen Pekik Sat Siswonirmolo melansir tanya ihwal kegamangan interpretasi seputar ikrah karya ini, dalam respon apresiasinya.

“Dras Sumunar adalah sesuatu yang bersumber di telenging ati manusia”, urai Tetet Srie WD mengawali sambung rasa.

Teleng adalah pancer dari semesta hati, semesta yang mendadah laras kehidupan ke dalam krenteg, mobah-mosik jadi spektrum spiritualnya. Membaca ikrah Serat ini memang menemukan keterhanyutan, tapi yang menghidupkan takjub. Ini lah keterpengarahan itu...

// tapa tanpa alas kang jinarwi / wicaksana den langkung prayoga /gawanen amrih becike / eling nora gegupuh / puh apuhing raga kang aking / kingkin sang dewangkara / rasa den kawengku / kumadarna nggadhang yoga / gancar pun Rarindra Ratu Hestungkari / rinengkuh nulya asma //
[Dhandhanggula, Serat Dras Sumunar, Tetet Srie WD]

[to be continued]      

    

Kamis, 10 Desember 2015

Tayub dan transformasi tradisi agraris dalam modernitas masyarakat desa

December 11, 2015 | Ikwan Setiawan*



Salah satu ketakutan terbesar dalam pengembangan kesenian tradisional adalah hilangnya tradisi agraris yang menjadi cikal-bakal lahirnya kesenian tradisional, seperti tayub maupun gandrung. Ketika masyarakat desa semakin modern di era 2000-an dimana sebagian besar warganya sudah mempunyai televisi dan VCD players, sudah mempunyai telepon seluler alias HP, sudah biasa dengan budaya metropolitan, atau sudah terbiasa menggunakan internet, banyak pengamat memprediksikan tradisi agraris akan semakin hilang. Ritual-ritual untuk nylameti bumi akan dengan cepat musnah dari ruang desa, apalagi dengan massifnya syiar agama yang memosisikan ritual-ritual itu sebagai perbuatan musyrik.
Kenyataan membuktikan, masyarakat desa ternyata tidak mau sepenuhnya menghilangkan tradisi leluhur tersebut serta tidak mau sepenuhnya menerima modernitas yang mengandalkan rasionalitas. Mereka berhasil mentransformasi sebagian tradisi agraris dalam konteks kekinian. Di banyak desa, tradisi nyadran atau sedekah bumi masih dijalankan. Masyarakat masih meyakini bahwa nylameti bumi pertiwi bukanlah musyrik, karena bumi ciptaan Tuhan ini telah memberi banyak bagi kehidupan umat manusia. Kalau tidak dislameti, berarti mereka mengingkari ketulusan bumi dalam memberikan sesuatu kepada umat manusia.
Ritual-ritual untuk nylameti bumi pertiwi itu selalu dilengkapi dengan hiburan. Dan, mayoritas di wilayah Lamongan, Tuban, Bojonegoro, maupun Nganjuk, tayub menjadi pilihan karena dianggap sebagai perwujudan tari kesuburan untuk menghormati Dewi Sri. Acara nylameti bumi di Lamongan disebut dengan istilah nyadran atau sedekah bumi yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali. Di Tuban biasa disebut dengan istilah manganan yang juga dilaksanakan satu tahun sekali.
Nyadran di Lamongan
Sebelum pelaksanaan acara nyadran, satu atau dua bulan sebelumnya, biasanya perangkat dusun akan mengumpulkan kaum pemuda untuk membentuk kepanitiaan. Setelah kepanitiaan terbentuk, mereka akan bekerja menyiapkan pelaksanaan acara. Salah satu tugas mereka adalah mengumpulkan sumbangan dari para warga, baik yang berdomisili di dusun atau yang berada di kota untuk keperluan kerja. Biasanya, mereka juga akan narik—meminta sumbangan—ke beberapa pemilik toko yang biasanya memberikan sumbangan lebih besar dibandingkan warga biasa.
Sebelum menggelar tayuban, warga desa akan mengadakan slametan barikan yang dipimpin oleh modin, pemimpin urusan keagamaan di dusun. Slametan biasanya diselenggarakan di tempat pemakaman pendiri dusun atau di perempatan dusun. Dalam slametan itu, para warga memohon agar usaha pertanian mereka dilimpahi rezeki oleh Tuhan dan warga desa dijauhkan dari segala macam penyakit. Slametan ini bisa dilaksanakan malam atau pagi hari sebelum tayuban, tergantung tradisi masing-masing dusun. Untuk dusun-dusun yang tidak menggelar tayub, biasanya akan menggelar pertunjukan wayang ataupun ludruk.

Karena hajatan tayuban dilaksanakan oleh warga dusun, biasanya dalam acara pembukaan waranggono akan memberikan sampur penghormatan kepada kepala desa, kepala dusun, dan para perangkat. Baru setelah itu dilanjutkan oleh warga dari generasi tua dan generasi muda. Satu hal yang tidak bisa dilepaskan dari pertunjukan tayub di Lamongan adalah tradisi minum bir. Tidak seperti di Tuban yang sebagian besar masih menenggak tuak, para penggila tayub di Lamongan memang sudah terbiasa dengan bir. Biasanya, agen penjual bir akan mengirim satu pick-up bir ke lokasi pertunjukan. Tradisi minum bir di siang hari tidak begitu menyolok, dalam artian tidak menjadi warna utama dalam pertunjukan tayub. Baru pada malam hari, para penayub dari masing-masing meja—satu meja biasanya diisi 4 sampai 5 penayub—seperti jor-joran (saling bersaing) untuk menenggak bir sebelum menari bersama para tandhak. Tradisi inilah yang banyak dikritik oleh tokoh agama. Meskipun demikian, kritik tersebut tidak pernah dihiraukan oleh para penayub. Karena, menurut mereka, kurang afdol kalau dalam tayuban tidak menenggak bir. Selain itu, dalam pengaruh alkohol, penayub bisa mengusir rasa malu ketika ditonton oleh orang banyak. Memang, kalau ditilik dari fungsi nyadran yang berkaitan dengan ritual kesuburan, tradisi tayub menjadi ekspresi estetik-profan yang bisa melepaskan makna-makna kesakralan dari ritual ini. Namun, sekali lagi, tradisi minuman beralkohol sudah berlangsung secara turun-temurun, sehingga sulit untuk dihilangkan.
Manganan di Tuban
Mangananberasal dari bahasa Jawa yang berarti “makan”. Manganan dalam tradisi masyarakat Tuban berarti “aktivitas makan bersama.” Ritual ini dilaksanakan di pemakaman para leluhur di masing-masing desa. Pada hari pelaksanaannya, warga desa berduyun-duyun ke makam leluhur sambil membawa makanan untuk dimakan bersama serta makanan untuk sesaji para roh-roh leluhur. Makanan beserta sesaji yang dibawa penduduk, dikumpulkan di pelataran makam. Oleh sesepuh desa yang dianggap sebagai “juru kunci” makam, makanan dibacakan doa-doa permohonan keselamatan. Setelah itu, malam harinya digelar acara tayuban.
Saat menggelar ritus manganan dan tayuban biasanya disertai minum tuak. Di saat-saat seperti ini, kaum perempuan berperan sangat sentral. Segala ubo rampe untuk kebutuhan sesaji dan makanan bersama, jelas dipersiapkan oleh kaum perempuan. Saat arena tayuban digelar, para penarinya semuanya jelas kaum perempuan, sedangkan kebutuhan akan tuak dalam arena itu juga disuplai dari warung-warung tuak yang para penjualnya juga kaum perempuan.
Bagi desa-desa yang menggelar manganan dengan pola lama, doa-doa dipimpin oleh juru kunci makam dengan perpaduan bahasa Arab (Islam) dan Jawa. Selain memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Kanjeng Rosul Muhammad SAW, juru kunci makam juga menyertakan nama-nama sesepuh desa yang telah meninggal dan danyang-danyang desa. Doa bersama ini dibarengi dengan menaruh kemenyan (dupa) dan makanan sesaji di tempat-tempat yang oleh warga desa dianggap keramat. Setelah juru kunci makam memanjatkan doa-doa dan menaruh sesaji di lokasi danyang-danyang, acara makan bersama dimulai. Makanan yang dibawa oleh masing-masing orang, dipertukarkan satu sama lain sehingga bisa merasakan beragam jenis makanan yang dibawa oleh masing-masing warga. Mereka makan bersama secukupnya di pelataran makam. Sisa makanan mereka bawa pulang untuk bekal makan seharian penuh. Malam harinya, digelar tayuban sebagai rangkaian ritus manganan.


Tayuban, biasanya digelar di pelataran pemakaman desa atau pelataran balai desa. Seluruh kebutuhan tayuban, biasanya disokong penuh oleh kepala desa dan iuran penduduk setempat. Di beberapa desa di Kecamatan Semanding, kepala desa bahkan memberi sesaji seekor kepala kerbau kepada danyang-danyang desa. Acara tayuban akan dihelat semalam suntuk, selepas Isya’ hingga menjelang Subuh. Ada juga yang selepas Dzuhur dan istirahat menjelang Maghrib. Selepas Isya” tayuban dilanjutkan-kembali.
Biasanya, dalam menggelar tayuban, cenderung berlangsung persaingan antardesa. Para penyelenggara di tingkat desa berlomba lomba untuk mendatangkan sindir yang dianggap idola dan tenar, meskipun dengan bayaran yang teramat mahal untuk ukuran warga desa. Untuk menggelar tayuban, tuan rumah sebagai pihak pengundang harus mempersiapkan uang jutaan rupiah. Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding, satu dari belasan desa yang menjaga “gengsi tinggi” dalam menggelar manganan dan tayuban. Warga dan perangkat desa setempat cenderung memberi perhatian yang spesial bagi pelaksanaan ritual manganan dan tayuban.
Biasanya, siang sebelum tayuban dimulai, desa setempat yang memiliki hajat akan diramaikan dengan para penjual makanan dan minuman termasuk tuak, arak, dan bir. Para penjual dadakan itu, berasal dari warga setempat maupun warga dari luar desa. Semakin malam, mendekati digelarnya tayuban, jalanan menuju tempat tayuban akan semakin dipenuhi penjual makanan dan minuman, serta pengunjung yang hilir mudik. Jika sindirnya figur-figur populer dan cantik, jumlah pengunjung akan semakin ramai bahkan dari luar-luar kecamatan. Dalam semalam di arena tayuban, ratusan liter tuak dan arak akan habis, belum lagi ratusan botol bir. Tentu sungguh fantastis untuk perputaran dan pergerakan roda ekonomi di tingkat desa.
Keberadaan tuak, arak, dan bir tidak saja di kalangan para penjual, biasanya panitia manganan dan tayuban akan menyediakan tuak, arak dan bir bagi tamu-tamu yang akan menjadi pengibing (lelaki yang akan berjoget dengan sindir). Tuak, arak, bir, dan sindir menjadi kontestan bagi banyak para pengibing untuk eksploitasi maskulinitasnya. Situasi minum tuak harian dengan di arena tayuban juga berbeda. Dalam arena tayuban, biasanya orang yang bertahan untuk tidak mabuk secara diam-diam memberi pesan ke kontestan pengibing lainnya. Di arena tayuban, para pengibing minum tuak, arak, ataupun bir ada dalam dua arena sekaligus.
Pertama pengibing biasanya minum tuak, arak, atupun bir di arena meja tamu untuk para pengibing. Sambil bercengkerama satu sama lain, para pengibing menikmati minuman yang disediakan panitia. Meskipun menyaksikan para pengibing menenggak minuman keras, para penonton tetap menikmati atraksi mereka ketika menari bersama sindir.
Kiranya dengan mudah kita hitung, kalau masing-masing dusun menyelenggarakan tradisi nyadran, maka betapa sering intensitas pertunjukan tayub yang dilaksanakan. Maka, setiap paguyuban tayub akan mendapatkan job tanggapan, karena tidak mungkin hanya diambil oleh satu paguyuban saja. Apalagi kalau ritual nyadran itu digabungkan dengan peringatan 17-an, maka tanggapan tayub akan semakin ramai. Dengan demikian, transformasi tradisi agraris masyarakat perdesaan ikut berkontribusi bagi perkembangan dan pemberdayaan tayub di tengah-tengah masyarakat yang tengah berubah, baik secara teknologi maupun syiar agama. Menariknya, tradisi ritual agraris ini dari tahun ke tahun semakin ramai saja, bukan semakin sepi. Memang, pada saat panen padi terserang hama, biasanya peringatan tidak terlalu meriah. Namun, hal itu biasanya hanya berlangsung dalam setahun, sesudahnya ritual tetap ramai.
Khusus di Tuban, selain ritual manganan, bagi masyarakat nelayan juga sering menggelar pertunjukan tayub untuk acara petik laut atau lebih dikenal dengan istilah sedekah laut. Salah satu kelurahan di wilayah Kecamatan Tuban yang setiap tahun menggelar pagelaran tayub sebagai rangkaian ritual sedekah laut adalah Kelurahan Karangsari. Di kelurahan ini terdapat lingkungan Karangsari Timur, Jaringan, Tepi barat dan Tamping. Setiap lingkungan ini merayakan sedekah laut di waktu yang berbeda meski sebenarnya acara sedekah laut yang dilaksanakan masing-masing lingkungan bisa dikatakan sama. Ketidakmauan masing-masing lingkungan untuk disatukan perayaan sedekah laut dan tayubannya lebih didasari semangat mandiri dalam ritual dan perayaannya. Selain itu, melalui pagelaran tayub, masing-masing lingkungan ingin menunjukkan bahwa mereka bisa menjadi yang terbaik, sehingga akan berimplikasi pada kebanggaan warga. Begitulah, pagelaran tayub semakin ramai dengan adanya iklim kompetisi yang apabila dikelola dengan baik akan semakin menciptakan dinamika yang sangat positif.
Keterangan
Dicuplikkan dari Laporan Penelitian Strategis Nasional “Pengembangan Ludruk dan Tayub Jawa Timur-an dalam Perspektif Industri Kreatif”. Didanai oleh Dirjen DP2M Dikti Kemendikbud, 2013. Penelitian ini juga melibatkan Prof. Dr. Sutarto dan Drs. Albert Tallapessy, M.A., Ph.D.
______
*Ikwan Setiawan, Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Source: MataTimoer