October 03, 2019
pojokseni.com - Ada banyak grup teater di Indonesia,
dari Aceh sampai Papua. Namun, perkembangan industrinya masih terbilang
mengecewakan, apalagi bila dibandingkan dengan industri film. Hasilnya, banyak
bakat dan potensi di bidang teater perlahan menghilang dan hijrah ke bidang
lain.
Seperti dikatakan Garin Nugroho, seorang sutradara film yang juga aktif
di bidang teater, jangankan dibandingkan dengan Amerika, Inggris dan sejumlah
negara maju lainnya. Dibandingkan dengan Malaysia saja, Indonesia sudah
ketinggalan.
Ada beberapa hal yang menyebabkan Teater Indonesia terus tertinggal, terutama dari Malaysia. Sebelumnya, perlu diingat bahwa di era 80-an dan 90-an, grup teater di Indonesia begitu berjaya, sedangkan di Malaysia sedang lesu-lesunya. Di akhir era 90-an, muncul Akademi Seni Kebangsaan (ASK, sekarang berganti menjadi ASWARA), yang melahirkan sejumlah nama lulusan awal yang mulai membangun industri teater di negeri jiran. Dari pergerakan, geliat, perlahan teater di negeri jiran sudah berkembang ke tahap industri.
Ada beberapa hal yang menyebabkan Teater Indonesia terus tertinggal, terutama dari Malaysia. Sebelumnya, perlu diingat bahwa di era 80-an dan 90-an, grup teater di Indonesia begitu berjaya, sedangkan di Malaysia sedang lesu-lesunya. Di akhir era 90-an, muncul Akademi Seni Kebangsaan (ASK, sekarang berganti menjadi ASWARA), yang melahirkan sejumlah nama lulusan awal yang mulai membangun industri teater di negeri jiran. Dari pergerakan, geliat, perlahan teater di negeri jiran sudah berkembang ke tahap industri.
Ada saja pementasan teater setiap minggunya, apalagi
puncaknya di awal era 2010 ke atas. Grup-grup memiliki trend pentas dan aliran
berbeda-beda, maka membentuk ekosistem penonton yang berbeda pula. Mahasiswa di
sana digalakkan untuk menonton teater dengan tiket seharga mulai dari 30
Ringgit Malaysia atau setara dengan Rp 101.620 (dengan kurs saat ini 1RM sama
dengan Rp3.367).
Setelah tamat, para sarjana atau diploma ini sudah terbiasa (bahkan sudah jadi gaya hidup) untuk menonton sebuah pertunjukan teater. Maka persaingan grup teater berlangsung ketat, siapa yang jarang latihan, kurang keras berusaha, maka akan kalah dengan yang berusaha lebih keras, atau memiliki nama lebih besar.
Setelah tamat, para sarjana atau diploma ini sudah terbiasa (bahkan sudah jadi gaya hidup) untuk menonton sebuah pertunjukan teater. Maka persaingan grup teater berlangsung ketat, siapa yang jarang latihan, kurang keras berusaha, maka akan kalah dengan yang berusaha lebih keras, atau memiliki nama lebih besar.
Selain itu, berbagai perusahaan juga berlomba-lomba untuk
menjadi sponsor pertunjukan teater. Hasilnya, baik pertunjukan dengan budget
besar maupun kecil sering sukses terselenggara. Teater yang baru muncul, biasa
pentas dengan budget yang kecil, bahkan setara dengan Rp300.000 - Rp500.000
saja. Tentu saja, tiket untuk pementasan ini jauh lebih kecil ketimbang teater
dengan budget besar.
Bila dibandingkan, ini perbedaan utama teater di negeri
jiran dengan Indonesia.
1. Pemerintah Malaysia membebaskan pajak untuk pentas
teater, di Indonesia pajak untuk pentas teater terhitung tinggi.
Ini poin pertama, perbedaan signifikan antara teater di Malaysia dengan teater di Indonesia. Pajak yang diberlakukan untuk teater di Indonesia terhitung cukup besar, bahkan mencapai 10% untuk teater komersil. Misalnya tiket seharga Rp10.000 dengan perhitungan kemungkinan penonton mencapai 100 orang, maka grup teater itu akan terkena pajak hingga Rp100.000.
2. Pemerintah Malaysia membebaskan biaya sewa gedung
untuk pentas teater. Sedangkan di Indonesia, sewanya terlampau mahal.
Untuk pementasan teater, tari dan pameran seni rupa seniman lokal, Malaysia membebaskan biaya sewa gedung. Sedangkan di Indonesia, sewa gedung terlampau mahal. Minimal sewa gedung teater tertutup di Indonesia adalah Rp 1.000.000, itu untuk gedung yang masuk kategori menengah, dan belum ditambah biaya kebersihan dan sebagainya.
3. Selain tidak memberikan pajak, Pemerintah Malaysia
justru memberi insentif tambahan pada grup teater.
Grup teater yang terus menjaga konsistensi dalam berkarya dan proses, mendapatkan insentif dari pemerintah Malaysia. Hal itu ditujukan agar seni pertunjukan teater terus semangat untuk memproduksi karya-karya terbaiknya, tanpa memikirkan masalah uang. Hal itu bisa dikatakan masih sulit diwujudkan di Indonesia.
4. Perusahaan besar berlomba-lomba menjadi sponsor
pertunjukan teater di Malaysia, sedangkan di Indonesia mencari sponsor adalah
hal yang cukup sulit.
Apalagi, bagi grup-grup baru. Mencari sponsor seperti mencari jarum di jerami. Mungkin dapat, tapi susahnya setengah mati. Ditambah lagi dengan materi yang ditampilkan kurang "populer" dan nama grup masih "sayup", maka mendapatkan penyandang dana bisa jadi sebuah "mission impossible".
5. Pelaku teater di Malaysia adalah
"profesional", di Indonesia adalah "pekerjaan sampingan".
Ini adalah dampak dari semua poin di atas. Di Eropa, Amerika dan negara maju di Asia seperti Jepang dan Korea, para seniman teater adalah orang-orang profesional. Dengan arti, seni adalah profesinya dan mereka akan mencurahkan perhatian mereka sepenuh hati di bidang yang digeluti. Sedangkan di Indonesia, aktor atau seniman yang terlibat dalam pementasan adalah pekerjaan sampingan. Mereka terlibat dalam pentas teater murni karena kecintaan.
Meski demikian, ada satu hal yang Malaysia mesti salut pada seniman teater di Indonesia. Meski dalam keadaan yang berbanding terbalik tersebut, grup teater tetap mencari ruang, peluang dan berusaha sekuat tenaga. Kadang, biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil yang didapatkan.
Namun, seniman memang tidak mengejar uang di negeri ini.
Bagi mereka (seniman teater), panggung dan lakon adalah sarana pencerahan bagi
masyarakat, sarana perlawanan, juga hiburan yang bergabung menjadi satu
kesatuan. (ai/pojokseni.com)








0 komentar:
Posting Komentar