Ketoprak Dangsak

Pentas Ketoprak Dangsak "Reksa Mustika Bumi" kolaborasi Cepetan Alas dengan Ketoprak. Pentas ini digelar DKD Kebumendi PRPP Jateng [Foto:AP]

Lengger Banyumasan

Pementasan seni tradisi lengger dari Dariah; tokoh legendaris"Lengger Banyumasan"

Suro Bulus, Parodi Satire Ketoprak Rakyat

Lakon carangan "Suro Bulus" yang merupakan manifestasi perlawanan masyarakat tradisi terhadap kejahatan korporasi tambang

DRAS SUMUNAR, Tetet Srie WD

Pagelaran "Serat Dras Sumunar" karya Tetet Srie WD di Roemah Martha Tilaar Gombong

Dewa Ruci

Pentas wayang dengan lakon "Dewa Ruci" dalam Festival Dalang Anak di Banjarnegara. Tiga dari empat dalang cilik Kebumen sabet juara [Foto:AP]

Tampilkan postingan dengan label Wayang Menak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wayang Menak. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Juli 2019

Wayang Sasak Tumbuh di Bawah Bayang Kecurigaan

Reporter: Abdul Latief Apriaman (Kontributor)
Editor: Ludhy Cahyana
Selasa, 23 Juli 2019 07:07 WIB

Wayang Sasak di Lombok. TEMPO/Supriyantho Khafid

TEMPO.CO, Jakarta - Tak seperti wayang jawa atau wayang bali yang memainkan epos Mahabarata dan Ramayana, wayang sasak memainkan lakon yang bersumber dari Serat Menak. Serat yang menjadi inti cerita dalam itu ditulis sekitar tahun 1717 Masehi, oleh Ki Carik Narawita atas perintah Kanjeng Ratu Mas Balitar, permaisuri Sunan Paku Buwana I, Surakarta.

Serat itu ditulis dalam Bahasa Kawi, bahasa yang juga digunakan dalam pertunjukan Wayang Sasak. Sampai hari ini belum ada bukti-bukti sejarah yang menunjukkan kapan Serat itu sampai ke Lombok untuk dijadikan babon atau sumber cerita Wayang Sasak.

Dalam buku Deskripsi Wayang Kulit Sasak, terbitan Kanwil Depdikbud NTB, 1993, yang di tulis Muhammad Yamin dan kawan-kawannya, terdapat beberapa versi datangnya Wayang Sasak ke Lombok. Mulai dari cerita seorang wali, di Lombok Tengah, Wali Nyatok, saat masih kanak-kanak sempat belajar mendalang ke Jawa bersama seorang kawannya dari Desa Rambitan. 

Pada suatu hari, konon Wali Nyatok berangkat ke Jawa setelah Isya dan balik ke Rambitan keesokan harinya sebelum matahari tenggelam. Setelah itu sang wali sudah menceritakan wayang kepada kawan-kawan sepermainannya.  

Cerita lainnya, tentang seorang wali, Pangeran Sangupati Urip, yang datang ke Lombok untuk mengobati masyarakat Lombok yang saat itu terkena wabah penyakit menular. Sang pangeran Sangupati kemudian mensyaratkan penduduk Sasak untuk melafalkan dua kalimat syahadat.

Dalam kisahnya kemudian, wabah penyakit berangur-angsur hilang, dan sebagai ungkapan rasa syukur digelarlah Gawe Mangenjangan. Di puncak acara gawe itu, digelar pertunjukan wayang dengan dalang Pangeran Sangupati.

Made Darundya, Salah seorang dalang Wayang Sasak beragama Hindu, mendalang di rumah seorang warga di Lingsar, Lombok Barat. Kendati merupakan media penyebaran Agama Islam, namun Wayang Sasak, juga dimainkan dalang beragama Hindu dan di tanggep oleh warga Lomok beragama Hindu.TEMPO/Ardhi

Riwayat lainnya, yang menyebut bahwa Wayang dibawa ke Lombok bersamaan dengan masuknya Islam yang dibawa oleh Sunan Prapen, putra Sunan Giri. 
“Awalnya Sunan Prapen membawa lakon Ramayana dan Mahabrata, tapi karena tidakditerima oleh masyarakat Lombok, lakon itu kemudian diganti dengan Serat Menak,” kata Sadarudin, seorang guru di Mataram yang juga aktif mendalang.
Kendati terdapat beragam versi sejarah datangnya wayang Sasak ke Lombok, akan tetapi seluruh sumber itu merujuk pada satu kesimpulan yang sama, bahwa wayang sasak bersumber dari pulau Jawa dan digunakan untuk menyebarkan agama Islam di Pulau Lombok.
“Alat-alat musik wayang sasak sangat sederhana, bisa dengan mudah dibawa ke mana-mana, sangat berbeda dengan wayang jawa dan wayang bali,” Sadarudin merinci musik wayang sasak hanya terdiri dari dua buah gendang, dan masing-masing satu buah gong, rincik, petuk, kenong dan suling.
Meski menjadi sarana syiar Islam di wilayah mayoritas berpenduduk muslim, wayang sasak tak langsung diterima dengan mudah di Lombok. Tidak semua masyarakat pulau seribu masjid, bisa menerima kehadiran wayang sasak. Terutama warga di Kelurahan Pancor, Kecamatan Selong, Lombok Timur misalnya.
“Seumur hidup saya, tidak pernah ada pertunjukan wayang di Pancor ini,” kata Haji Muhammad Azhar (80), Ketua pengurus Masjid At-Taqwa, Pancor.
Menurut Azhar, adalah para tuan guru, termasuk Tuan Guru Kiyai Haji Zainudin Abdul Majid, tokoh pendiri Nahdlatul Wathan (NW)—organisasi Islam terbesar di pulau Lombok—yang melarang pertunjukan wayang di Pancor.
“Kalau mau nonton wayang di Selong, di sini tidak ada wayang,” tutur Azhar.
Menurut dia, larangan pertunjukan wayang itu bukan lantaran anggapan bidah, tapi lebih karena kehawatiran timbulnya gesekan akibat pertunjukan wayang hingga larut malam. Setiap gawe hari besar seperti perayaan 17 Agustus, biasanya akan diselenggarakan pasar malam di Kota Selong, di situlah pertunjukan wayang digelar.

Kendati tak pernah ada pertunjukan wayang di Kelurahan Pancor, di wilayah Selong, wayang sasak masih bisa dipertontonkan. Dua kelurahan ini dulunya berbatas sawah sepanjang 2 km, namun kini kedua kelurahan itu tak berbatas lagi.

Sejumlah dalang yang dikonfirmasi, mengaku belum pernah mendalang ke Pancor. Muhammad Subeki (57), seorang dalang yang masih aktif mendalang di Lombok Timur, mengaku kerap menggelar pertunjukan di berbagai wilayah di Lombok Timur. Khusus untuk Pancor, dia sempat mendalang di perbatasan Kelurahan Pancor dan Selong.
“Saya pentas sekali di terminal, perbatasan Selong dan Pancor,” kata Subeki.
Pandangan sebagian masyarakat Lombok bahwa wayang sasak adalah kesenian yang hukumnya bidah, tidak ditampik oleh Tuan Guru Hasanain Juaini, pimpinan Pondok Pesantren Nurul Haramain, Narmada, sekaligus Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) NTB. Hasanain menganggap pandangan itu muncul karena ketidaktahuan, karena kecurigaan.
“Itu muncul karena satu sama lain tidak saling memahami, karena ketidaktahuan,” katanya.
Menurut Hasanain, mereka hanya mereka-reka saja pendapat itu, tidak berdasarkan kenyataannya.

Kondisi saling curiga itu, menurut Hasanain akan diperparah dengan munculnya hoax, kebohongan yang sengaja dibuat.

Minggu, 27 Mei 2018

Wayang Menak di Tangan HB IX

Oleh: PURWADMADI - 27 Mei 2018

REVITALISASI: Salah satu adegan pergelaran wayang menak lakon Geger Mukadam karya Sultan HB IX yang ditampilkan POSB Retno Aji Mataram, Jogjakarta (6/5).

MEMBANGKITKAN se­ma­ngat penciptaan seni tra­di­si klasik yang mendobrak, men­transformasi simbol kehidu­­pan untuk mencari hakikat jati diri me­lakoni hidup sebagai ’’wa­yang’’ yang dimainkan ’’dalang sejati’’, jati diri kemakhlukan, melalui metafora personifi­ka­tif wayang golek (boneka), mung­kin menjadi peker­jaan besar generasi kini dalam menghargai karya budaya pendahulu.

Wayang golek menak atau wayang wong menak merupakan karya monumental dalam khaza ah tari klasik gaya Jog­jakarta yang coba diangkat ulang dari keterendaman za­man oleh Dinas Ke budayaan DIJ.
Di pendapa Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Jogjakarta, wayang menak dipergelarkan 6–8 Mei lalu oleh enam perkumpulan tari dalam enam lakon.

Enam lakon itu adalah Geger Mu­kadam yang dibawakan POSB Retno Aji Mataram, Menak Sorangan (Siswa Among Beksa), Bedhah Negari Ambarkustub (YPB Sasminta Mardawa), Jayengrana Winiwaha (Kridha Beksa Wirama), Retna Marpinjun (PK Suryo Kencono), dan Widaninggar Boyong (Irama Tjitra).

Lakon wayang menak ber­sumber dari Serat Menak dan Serat Ambya. Banyak sumber menyebutkan, lakon itu saduran dari buku Hikayat Amir Hamzah dalam khazanah sastra Melayu yang bersumber dari Qissail Emr Hamza dalam khazanah sastra Parsi-Arab. ’’Pen­ja­waannya’’ menjadi Serat Menak oleh kalangan pujangga dan carik di Keraton Kartasura atas perintah Ratu Blitar, istri Sunan Paku Buwono I, kepada Carik Narawita (1717).

Kemudian berlanjut pada masa Yasadipura I (1729–1802), pujangga yang mengalami masa Keraton Kartasura-Surakarta. Tradisi sastra menak berkembang menjadi kekayaan serat lakon dan serat wulang di keraton-keraton Jawa yang kemudian meluber hingga di kalangan rakyat.

Serat Menak digunakan sebagai sumber lakon pertunjukan wayang golek (boneka) dan populer di kalangan rakyat pada ma­sanya.

Raja Jogjakarta kala itu, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) IX, sempat menyaksikan pertunjukan wayang golek pada tahun 40-an di daerah Kedu, Jawa Tengah.

Peristiwa itulah yang memicunya untuk menyusun tarian klasik dengan basis estetika tari klasik Jogjakarta, diperkaya unsur estetika wayang golek dengan sumber lakon selain Ma­ha­bharata, Ramayana, dan Panji (gedhogan).
Serupa golek menari? Bukan. Wayang golek menak karya Sri Sultan HB IX (1912–1988) tidak menyerupakan golek (kayu) yang sedang ditarikan dalang. Bukan meniru gerak golek.

Wayang golek menak memulangkan tariannya pada prinsip dasar tari klasik gaya Jogjakarta. Bukan menari serupa golek, melainkan menarikan tarian golek sebagai sebuah genre tari dalam khazanah tari klasik Jogjakarta, setara genre bedhaya-srimpi, beksan, dan wayang wong.

Karya monumental Sultan HB IX itu sempat vakum (ditam­pilkan) selama 1944–1980 ka­rena kesibukan Sultan terlibat dalam mengurus republik ini sejak 1945.

Me­mang, dalam bentuk pethilan (potongan adegan), tarian itu sering menjadi sajian bagi tamu dan turis dengan menampilkan garuda menak yang aksentuatif ke-Jogja-annya.

Baru sekitar 1985 sejumlah perkumpulan seni tari di Jog­jakarta diminta Sultan untuk melakukan revitalisasi wayang golek menak ciptaannya tersebut. Proses pembaruan itu, termasuk memasukkan unsur gerak silat Minangkabau, dalam pengawasan langsung Sultan.

Hasil kerja pembaruan secara kolektif oleh sejumlah perkumpulan tari tersebut secara bertahap telah diper tunjukkan beberapa kali di hadap an HB IX di Jakarta maupun Jog jakarta.

Pada akhir 1998 direncanakan pergelaran hasil final revitalisasi partisipatif itu. Namun, sebelum pergelaran tersebut dilangs­ungkan, pada 2 Oktober 1998 HB IX keburu wafat di Washington, Amerika Serikat. Memang, tari golek menak memiliki sumber penciptaan dari wayang golek (boneka kayu) dan karenanya ada se­jumlah pertanda kegolekan dan kemenakannya.

Di antaranya, detail prinsip rubuh bareng (duduk/simpuh bersama), unjal napas (menarik napas), api-api wuta (berlagak seperti buta), ngenceng driji-tapak tangan (jari-telapak tangan gerak lurusrapat), di samping prinsip dasar filosofi nyawiji, greget, sengguh, dan ora mingkuh.

Termasuk perkara teknik pengelolaan tubuh terkait dengan posisi deg (posisi berdiri), mendhak (meren­dah­kan badan), jujungan (angkat kaki), tolehan (cara mene­ngokkan kepala), pandengan (arah tatapan mata), pupu mlu mah (arah hadap paha), nglempet (perut kempis), cethik mlumah (sendi pinggang direnggang), menggunakan prisip tari Jogjakarta.

Tari golek menak diciptakan pada masa pendudukan Jepang (1942) dan dipentaskan lengkap untuk kali pertama pada 1944 di Keraton Jogjakarta. Setelah itu jarang dipentaskan.

Sedang­kan dalam bentuk fragmen atau potongan adegan, kini telah menjadi salah satu sajian pertunjukan khas Keraton Jogjakarta. Biasanya adegan pertarungan dua tokoh putri dalam lakon menak, seperti Kelaswara-Adaninggar, dengan meniti burung garuda.

Peningkatan frekuensi pemanggungan wayang wong menak sejatinya tidak berhenti pada perkara estetika teknis tarian, gerak dan komposisi, busana dan iringan, serta ekspresi lakon-lakon menak, melainkan memperkuat penan­da kedalaman perenungan dan ekspresi pengolahan energi ke budayaan dalam menjawab tantangan perubahan.

HB IX menciptakan wayang wong menak atau tari golek menak sekurangnya menca­tatkan momentum sejarah budaya. Yakni,
(1) menyerap energi kreasi rakyat menjadi sumber penciptaan ’’tari istana’’, (2) melengkapi sumber cerita yang mengandil tambahan struktur etika dan estetika dominan (Mahabharata-Ra­ma­yana- Panjia),
(3) meng­galang partisipasi pelaku seni dan empu tari di luar istana untuk mengutuhkan pen­ca­paian karya cipta Sultan,
(4) meramu paradigma estetika mapan (pakem-paugeran) tari klasik dengan sumbangan pakem ’’paugeran baru’’ yang selaras,
(5) memasuk kan unsur kekuatan khazanah budaya rakyat seperti wa yang golek (boneka), gerak silat tradisi Minangkabau, merupa kan upaya persenyawaan antar-lintas-kawin budaya yang mem­perkuat jati diri budaya nasional, serta
(6) memaknai kerja pelestarian bu daya tidak sebatas proses dup likasi, repitisi, reproduksi, dan ke­rja pengawetan lainnya, melain­kan merambah kuat pada ke­rja pengembangan dan pemanfaatannya.

Sri Sultan HB IX telah mem­berikan contoh kerja nyata bagaimana menemukan karya budaya baru yang tetap me­mulangkannya pada kekuatan akar tradisi budaya yang di­ba­ngun dan diperjuangkan para pendahulu bangsa.

Me­men­taskan wayang menak bu­kan sebatas membangkit­kan batang terendam, melainkan juga merupakan cara terhormat menghargai kerja-kerja budaya bermartabat para pendiri bangsa.

(*)

Purwadmadi, pemerhati dan penulis seni budaya

Minggu, 22 Oktober 2017

Golek Menak dalam Belantara Modernitas


Birul Sinari-Adi - October 22, 2017

Salah satu adegan Pementasan Semuan Joged Mataram “Pastha Anglari Pasthi” di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (19/10/2017). (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Munculnya berbagai genre seni pertunjukan di Jawa, tercatat, tidak terlepas dari adanya pengaruh proses interaksi sosial dan budaya setempat dengan kebudayaan lain.

Hal itu diungkap saat acara Sarasehan “Golek Menak Dalam Belantara Modernitas” dan Pentas Tari “Pastha Anglari Pasthi”, Kamis (19/10/2017) di Bentara Budaya, Jakarta, Jalan Palmerah Selatan 17, Jakarta.
  
Sarasehan menghadirkan Bambang Pudjasworo, Dosen Seni Tari ISI Yogyakarta, dan Nungki Kusumastuti, Pegiat Seni, sebagai pembicara, serta Adi Wicaksono sebagai moderator.

Menurut Bambang, salah satu genre pertunjukan itu adalah Wayang Golek Menak. Jenis pertunjukan wayang dan juga dramatari Jawa ini menggunakan materi dramatiknya dari cerita Menak. Sementara cerita Menak adalah karya fiksi yang bersumber pada karya sastra dari kebudayaan lain. Yang berkembang dan  menyebar di kawasan Asia Tenggara.

Para pembicara sarasehan “Golek Menak Dalam Belantara Modernitas”, di Bentara Budaya, Jakarta, Kamis (19/10/2017). (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)
“Ada tulisan dari salah seorang peneliti Belanda, van Rinkel, itu mengatakan bahwa yang menyebar itu adalah versi Amir Hamzah, yang dari Persia. Yaitu yang kemudian dikenal atau yang tertulis dalam kitab Qissa I Emr Hamza itu,” kata Bambang.
Kitab yang ditulis pada masa Sultan Harun Ar Rasyid (766-809 M) tersebut sampai di kawasan Asia Tenggara dibawa oleh para pedagang muslim Persia. Dan mempengaruhi khasanah sastra Melayu, dengan munculnya wiracarita Hikayat Amir Hamzah. Hikayat ini merupakan cerita Menak versi Melayu, yang lantas tersebar ke Jawa, Bali, Lombok, hingga Makasar.

Menariknya, persebaran itu diikuti oleh proses enkulturasi. Hikayat yang berasal dari Persia kemudian terinternalisasi ke dalam lingkungan budayanya yang baru dan bahkan dianggap telah menjadi milik dari lingkungan budaya itu.

Lebih jauh, terjadi tafsir ulang dan penyesuaian dengan lingkungan budaya, pandangan hidup, dan kepercayaan masyarakat setempat. Karena itu, tidak mengherankan, ada banyak versi mengenai cerita Menak. Seperti yang berkembang di Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, Lombok, dan Bugis.
“Itu juga yang terjadi di Jawa. Setelah sekitar tahun 1715 itu (Hikayat Amir Hamzah) ditransliterasi ke dalam Serat Menak oleh Carik Narawangsa (Narawita). Dan kemudian oleh Yasadipura, kemudian digubah dalam bentuk tembang, lalu diterbitkan Balai Pustaka. Maka kebudayaan mengenai Menak ini menjadi semakin luas,” ungkap Bambang.
Bambang Pudjasworo sebagai pembicara sarasehan “Golek Menak Dalam Belantara Modernitas” tengah memberi contoh gerakan tari Menak. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Serat Menak versi Yogyakarta digubah oleh Raden Ayu Purbaningrum yang ditulis sepanjang 148 jilid. Lebih lengkap daripada versi Yasadipura. Memuat  kisah mulai dari Menak Lare sampai Pedhang Kangkam Pamor Kencana (kisah anak keturunan Iman Suwangsa).

Proses enkulturasi dan transliterasi membuat kisah atau Hikayat Amir Hamzah mengalami penyesuaian dengan budaya Jawa. Hal ini terlihat dalam penyebutan nama para tokoh dan latar tempat terjadinya cerita.

Nama Amir Hamzah menjadi Amir Ambyah atau Wong Agung Menak Jayengrana. Ammar ibn Omayya menjadi Umarmaya. Buzurch Mihr menjadi Betal Jemur. Adi Ma’dikarab menjadi Jemblung Umar Madi. Dan, Mihr-Nigar menjadi Dewi Muninggar, Unekir menjadi Dewi Adaninggar.

Sementara, nama tempat seperti Mekah menjadi Puser Bumi. Akko menjadi Parang Akik, dan Medain menjadi Medayin. Sekadar untuk menyebut beberapa contoh.

Karakter tokoh juga mengalami penyesuaian dan disamakan dengan karakter tokoh pewayangan Jawa. Misal, Amir Ambyah atau Jayengrana disamakan dengan Arjuna atau Panji. Dewi Muninggar disamakan dengan Dewi Sumbadra atau Dewi Sekartaji.

Sebagai sastra lisan, cerita Menak sebenarnya telah dikenal oleh masyarakat Jawa jauh sebelum tahun 1715.  Atau sebelum proses transliterasi oleh Carik Narawita di masa Paku Buwana I di Kartasura.

Di dalam makalahnya yang berjudul “Tari Golek Menak Dalam Dialektika Perkembangan Tari Gaya Yogyakarta”, Bambang mengungkapkan bahwa di dalam Serat Sastramiruda disebutkan wayang golek Menak sebagai hasil kreasi Sunan Kudus pada tahun 1506 untuk kebutuhan syiar agama.
“Pengertiannya adalah bahwa ternyata Menak mungkin sudah berkembang sebagai sastra lisan pada waktu itu,” kata Bambang yang juga biasa dipanggil dengan nama Bambing.
Dengan kata lain, Sunan Kudus memanfaatkan cerita Menak yang sudah dikenal oleh masyarakat Jawa dalam bentuk sastra lisan dengan cara menciptakan wayang golek Menak  untuk kebutuhan syiar agama Islam di Jawa.

Menurut Bambang, semenjak proses transliterasi itu wayang golek Menak menjadi semakin popular di kalangan masyarakat Jawa, baik sebagai seni pertunjukan istana (keraton) maupun sebagai seni pertunjukan rakyat yang berkembang di desa-desa.

Pada awalnya wayang golek Menak berkembang di daerah pesisir Utara Pulau Jawa, lantas menyebar ke daerah Tegal, Cirebon, dan Banyumas. Pertunjukan wayang golek Menak menggunakan boneka wayang dari kayu, dan dimainkan tanpa kelir. Seperangkat gamelan Jawa berlaras slendro dan pelog menjadi pengiringnya.

Ketika kekuasaan Majapahit beralih kepada penguasa Islam pada abad XVI, dan kesusastraan Hindu Jawa semakin merosot, maka cerita Menak semakin popular di kalangan masyarakat Jawa. Dan, menginspirasi lahirnya beberapa genre seni pertunjukan Jawa, seperti wayang golek Menak, Jabur, Panjidur, Srandhul, wayang wong Menak, Srimpi dan Bedhaya dengan lakon Menak.

Sebelum wayang wong Menak diciptakan, di Keraton Yogyakarta cerita Menak memang sudah digunakan sebagai sumber materi dramatik tari Bedhaya dan Srimpi. Misal, tari Bedhaya Sinom karya HB VIII, yang mengisahkan pertempuran antara Dewi Adaninggar dan Dewi Kelaswara.
“Nampaknya internalisasi dari ajaran-ajaran Menak memang sudah merasuk di dalam alam pikiran Jawa masa itu. Dan kemudian terekspresikan dalam bentuk-bentuk seni pertunjukan,” ujar Bambang yang selama sarasehan juga memberi contoh gerakan tari Menak.
Wayang wong Menak adalah dramatari istana Jawa yang  merupakan ciptaan (yasan nDalem) Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada tahun 1941.
“Tampaknya cerita Menak ini berkembang dan kemudian mempengaruhi atau menjadi sumber inspirasi untuk munculnya wayang golek Menak dalam pengertian wayang golek kayu itu. Ini menjadi sesuatu hal yang sangat menarik dan kemudian menginspirasi Sri Sultan HB IX untuk menciptakan sebuah drama tari yang berbeda dengan drama tari yang pernah diciptakan oleh ayahnya atau kakeknya,” tutur Bambang.
Suasana di ruangan sarasehan “Golek Menak Dalam Belantara Modernitas”, di Bentara Budaya, Jakarta, Kamis (19/10/2017). (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Mengawali proses penciptaannya, Sultan HB IX mengundang Ki Widiprayitno. Seorang dalang wayang golek Menak dari Sentolo, Kulon Progo. Saat itu Ki Widiprayitno lantas mendalang wayang golek Menak di Bangsal Kasatriyan, Keraton Yogyakarta, disaksikan Sultan HB IX dan para guru tari.

Setelah itu berhasil diciptakan satu dramatari baru di Keraton Yogyakarta. Yaitu Wayang Wong Menak. Namun Sultan HB IX belum puas. Setelah 45 tahun kemudian, HB IX meminta agar gerak tari, gendhing, kostum, dan karakterisasi peran Wayang Wong Menak disempurnakan.
“Maka kemudian dikumpulkanlah para budayawan, akademisi, para seniman dari berbagai cabang seni untuk membicarakan masalah golek Menak itu. Dan itu adalah suatu kerja yang besar. Yang kemudian Sultan sebagai raja turun sendiri untuk menangani proses kreatif dalam penciptaan golek Menak,” cerita Bambang yang menjadi bagian dari tim yang memproses penyempurnaan wayang wong Menak pada tahun 1989.
Proses penyempurnaan wayang wong Menak (tari Golek Menak) berlangsung selama dua tahun lebih. Dan diwujudkan pada tahun 1989 dalam satu pergelaran wayang wong Menak dengan lakon “Kelaswara Palakrama”, di Bangsal Kepatihan Yogyakarta.

Di dalam penyempurnaan wayang wong Menak tahun 1989, dimasukkan gerak pencak dari Minang, dan tendangan Sunda. Jadi tidak hanya menggunakan tendangan Jawa.
“Kemudian ditetapkan satu karakterisasi di dalam golek Menak yang mengacu karakterisasi wayang wong,” kata Bambang yang di dalam makalah sarasehan juga mengungkapkan nilai ajaran dan asketisme dalam cerita Menak.
Menurut Bambang, HB IX menciptakan wayang wong Menak sebagai suatu culture identity, yang menjadi penanda masa pemerintahannya. Penyempurnaan garap dan masa keemasan wayang wong terjadi pada era HB VIII. Maka identitas budaya yang menjadi penanda HB IX adalah Wayang Wong Menak (wayang wong golek Menak).

Sementara Nungki Kusumastuti, pembicara lain, melihat perubahan gerak dan ide koreografi pada wayang golek Menak sebagai luar biasa. Meski tetap ada pakem-pakem yang dipegang dalam tari Jawa Yogyakarta, ia menganggapnya sebagai karya tari baru yang berangkat dari tari lama.

Sarasehan merupakan kerjasama Bentara Budaya Jakarta dengan Sanggar Tari Surya Kirana, Jakarta. Setelah sarasehan dilanjutkan dengan Pementasan Semuan Joged Mataram “Pastha Anglari Pasthi”, dengan penata tari Tatik Kartini Mustikahari.

*

Rabu, 08 Juni 2016

Disadur dari Sastra Persia, Gunakan Nama Jawa

Edisi 08-06-2016



Banyak cara yang digunakan para ulama zaman dahulu menyebarkan agama Islam di Nusantara. Salah satu media yang terkenal dan hingga kini masih eksis adalah wayang.

Seni wayang tidak bisa dilepaskan dari sejarah peradaban Islam di Indonesia. Beragam jenis wayang muncul sebagai sarana penyebar dakwah para ulama tempo dulu agar menarik perhatian masyarakat khususnya di Jawa. Salah satu wayang yang menjadi saksi bisu penyebaran agama Islam di Indonesia adalah wayang golek menak. Berbeda dengan wayang lainnya, wayang golek menak tidak mengambil cerita dari Mahabarata dan Ramayana.

Namun, diambil dari cerita tokoh pejuang bernama Amir Hamzah yang diambil dari kitab “Qissa I Emr Hamza,” sebuah karya sastra Persia pada era pemerintahan Sultan Harun Ar Rasyid. Karya sastra tersebut kemudian dikenal dengan Hikayat Amir Hamzah oleh bangsa Melayu. 


“Menurut sejarah, awal mula kisah Amir Hamzah ini masuk dan dipopulerkan melalui pada zaman 1717 Masehi oleh Ki Carik Narawita, seorang jaksa di Keraton Surakarta atas perintah Kanjeng Ratu Mas Balitar, Permaisuri Susuhunan Pakubuwana I di Kasunan Surakarta,” kata Kepala Museum Peradaban Islam Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Edi Suyadi.
Hasil terjemahan Ki Carik Narawita ini yang saat itu dikenal masyarakat dengan sebutan Cerita Menak. Edi menambahkan, setelah ada penerjemahan kemudian muncul wayang golek menak alur ceritanya sama dengan cerita yang diterjemahkan Ki Carik Narawita itu.

Untuk memudahkan diingat masyarakat Jawa, nama-nama tokoh pewayangan itu diganti menggunakan bahasa Jawa, seperti Amir Hamzah menjadi Amir Hambyah, Osama bin Omayya menjadi Umarmaya, Qobat Shehriar menjadi Kobat Sarehas, Badiuz Zaman diubah menjadi Imam Suwangsa, Mihrnigar menjadi Dewi Retna Muninggar, serta Unekir menjadi Dewi Adaninggar.
“Alur cerita dalam setiap pementasan adalah gambaran perjuangan Amir Hamzah jauh sebelum kerasulan Nabi Muhammad SAW. Di tengah kekafiran dan kejahiliahan saat itu, Amir Hamzah selalu berdakwah dan melakukan aktivitas jihad mengajak para raja-raja kafir saat itu mengaku bahwa Allah adalah sebagai Illah (Tuhan) dan Nabi Muhammad adalah nabi akhir zaman yang segera tiba,” katanya.
Sementara sebutan wayang golek menak diambil dari tokoh utamanya, yakni Amir Ambyah. Sebab menurut Edi, Amir Ambyah memiliki banyak julukan, yakni Wong Agung Menak, Wong Agung Jayengrana, dan Wong Agung Jayengresmi. 

“Sebutan Wong Agung Menak ini yang kemudian digunakan pujangga-pujangga Jawa untuk menamakan kitabnya sebagai Serat Menak dan munculnya Wayang Golek Menak,” katanya.
Adapun koleksi wayang golek menak di MAJT, lanjut Edi, merupakan hasil kreasi Ki Truna Dipura dari Wonogiri pada zaman Pemerintahan Sri Mangkunegara VII. Wayang itu diperoleh dari koleksi masyarakat Jawa Tengah. Sementara itu, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang yang juga dosen Islam dan Kebudayaan Jawa di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang Anashom mengatakan, wayang golek menak merupakan wayang dakwah.
“Wayang golek menak adalah salah satu media dakwah yang digunakan dalam penyebaran agama Islam,” katanya. 

Ceritanya secara umum memang menggambarkan tokoh kepahlawanan Amir Hamzah. Namun, kemudian muncul cerita-cerita ketokohan lokal di Indonesia, seperti para Walisongo dan tokoh ulama besar lainnya. 

“Wayang memang media yang sangat ampuh dalam penyebaran Islam. Hal ini karena masyarakat Jawa saat itu lebih menyukai hiburan dan lebih mudah dipahamkan melalui visualisasi,” katanya.
Memang keberadaan wayang golek menak kalah tenar dibanding dengan wayang lain seperti wayang purwo atau wayang kulit. Namun, wayang golek menak pada zamannya sangat terkenal dan berpengaruh dalam proses penyebaran Islam di beberapa daerah, seperti Yogyakarta, Surakarta, dan Kebumen.

ANDIKA PRABOWO Kota Semarang


Koran-Sindo 

Rabu, 19 Agustus 2015

Serat Menak


Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi | Rabu, 19 Agustus 2015  06:35 WIB
  • Karya sastra yang hampir terlupakan
Prajurit dalam wayang wong golek lakon Menak Malebari pada pementasan Selasa (18/8) di Pendopo Agung nDalem Mangkubumen Yogyakarta. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)


YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Gegarane wong akrami, dudu bandha dudu rupa, among ati pawitane, luput pisan kena pisan, yen gampang luwih gampang, yen angel-angel kalangkung, tan kena tinumbas arta. Puteri Cina gelasaran melas asih, mara Kelaswara, pedhangen juren wak mami, aja andedana lara.

Kutipan di atas adalah penggalan kalimat dari cerita Menak yang pernah dikenal dan berkembang secara lisan di kalangan masyarakat penggemarnya. 

Pertunjukan wayang golek sendiri tersebar di berbagai daerah di Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, maupun Jawa Barat. Wayang golek didasarkan pada sumber cerita yang dipentaskan.

Prajurit laki-laki

Cerita Menak didalam tradisi tulis terungkap di dalam Serat Menak, karya sastra Jawa bernafaskan Islam yang berisi kisah kepahlawanan tokoh cerita Amir Ambyah yang merupakan transformasi dari sastra Melayu Hikayat Amir Hamzah. Wiracarita lainnya adalah yang bersuasana Hindu dan epos yang berasal dan tumbuh berkembang dari negeri sendiri. Kisah kepahlawanan yang disebutkan pertama adalah Serat Menak, Serat Iskandar, dan Serat Yusuf. Wiracarita Wayang golek purwa yang berpredikat agama Hindu adalah Ramayana dan Mahabharata, sedangkan epos produk negeri sendiri adalah Serat Panji.

Prajurit Perempuan

Cerita Menak di Indonesia dikenal melalui saduran-saduran yang disusun oleh Yasadipura I didasarkan pada karya versi Kartasura tulisan Ki Carik Narawita yang memiliki kedekatan dengan Hikayat Amir Hamzah. Serat Menak karya Yasadipura I diterbitkan oleh Balai Pustaka dalam 24 bagian berdasar tokoh utama atau tempat yang menjadi sentral setting.

Ciri khas wayang wong golek: tata rias, tata rias, karakter tokoh, dan tata gerak dibuat semirip mungkin dengan wayang golek.

Pertunjukan Wayang Golek Menak mengangkat cerita Menak dalam bentuk lakon-lakon dan biasanya dipentaskan pada acara perhelatan semisal khitanan, pernikahan, kelahiran, bersih desa. Durasi dan lakon pergelaran biasanya antara 6 sampai 8 jam, namun untuk keperluan yang sifatnya tentatif disesuaikan dengan kebutuhan penanggap semisal untuk menghormati tamu yang dapat dipadatkan 2 jam bahkan ada yang hanya 15 menit.

Selasa (18/8) bertempat di Pendopo Agung nDalem Mangkubumen Yayasan Siswa Among Beksa pimpinan KRT Pujaningrat mementaskan salah satu cerita Serat Menak yakni lakon Menak Malebari yang mengisahkan perkawinan anak Wong Agung dengan anak Prabu Bawadiman dari Malebari.

KRT Pujaningrat, pimpinan sanggar Yayasan Siswa Among Beksa Yogyakarta.

"Pementasan kali ini sekitar 1,5 jam. Sebenarnya bisa lebih, tapi persiapan kemarin hanya dua minggu sehingga ada beberapa adegan yang dihilangkan namun tetap mempertahankan alur cerita aslinya." jelas KRT Pujaningrat atau biasa dipanggil Romo Dinu sesaat sebelum pementasan.

Setelah perkawinannya dan juga penobatannya sebagai raja di negara Kusnyamalebari, tantangan pertama pada pemerintahan Prabu Jayusman adalah akan direbutnya istrinya yang bernama Dewi Kun Maryati oleh Prabu Mulyatkustur dari negara Kobarsi. Prabu Jayusman merasa sangat dihina oleh Mulyatkustur, maka dilaporkannya perihal/permasalahan ini kepada Wong Agung Jayengrana.

Perang tanding (prajurit).

Mendengar laporan tersebut Wong Agung Jayengrana marah dan merasa ditantang oleh Mulyatkustur yang dengan semena-menanya merebut istri orang, maka dengan menahan emosi berbicaralah Wong Agung Jayengrana kepada Adipati Umarmaya agar bersiap-siap dan waspada dikala para bala tentara Kobarsi datang menyerbu. Di negara Kobarsi sang Prabu Mulyatkustur semakin tidak mau tahu bahwa Dewi Kun Maryati telah menjadi permaisuri Prabu Jayusman, maka dengan emosi yang meledak ledak diutuslah Patih Waringatkustur untuk memimpin penyerbuan dalam merebut Dewi Kun Maryati ke negara Kusnyamaleberi.

Pertempuran antara negara Kusnyaamalebari dengan Kobarsi tak terelakkan, semua panglima saling mengadu kesaktiannya, para prajurit bertempur tumpah ruah di medan laga. Namun akhirnya takdir telah menentukan bahwa kebathilan akan sirna oleh perbuatan baik. Hancurlah negara Kobarsi dan takluk di hadapan Wong Agung Jayengrana.

Drs. Suparno (Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta) selaku penanggungjawab pagelaran wayang wong gagrag Yogyakarta 2015 menjelaskan bahwa Serat Menak yang terdiri dari 24 cerita menjadi salah satu upaya yang strategis dalam mengembangkan wayang wong gagrag Yogyakarta diantara pementasan wayang wong pakem Ramayana maupun Mahabharata.

Perang tanding (panglima)

Dengan menyadur dari cerita Hikayat Amir Hamzah, meskipun telah mengalami penulisan ulang oleh Yasadipura I namun tetap memerlukan kreativitas dari para seniman wayang wong agar tercapai harmoni antara sendratari Golek Menak dengan lakon cerita yang dipentaskan, menjadi tantangan tersendiri mengingat semakin ditinggalkannya Serat Menak sebagai salah satu khasanah wayang wong di wilayah Yogyakarta. 

Keunikan wayang wong golek terletak pada tariannya yang kaku dan patah-patah menirukan gaya wayang golek, serta kostum dan tata rias dibuat semirip mungkin dengan karakter wayang golek.

Perang tanding Mulyatkustur melawan Wong Agung Jayengrana

Dalam perkembangan terakhir, Wayang Golek Menak dan Serat/Sastra Menak sebagaimana pertunjukan seni tradisi lainnya seolah mengalami mati suri. Menurunnya minat masyarakat menjadi awal mata rantai mati surinya pertunjukan seni tradisi. Kurangnya atau bahkan mungkin ketiadaan penonton menjadi disinsentif bagi seniman penyaji dalam berkreasi. 

Panggung sebagai ruang ekspresi menjadi pertaruhan berikutnya, sepinya tanggapan ataupun pertunjukan yang jarang dilakukan menjadi pintu bagi ambang kepunahan.

 Ketika panggung telah digelar, ketika alunan gamelan mengiringi tari mulai terdengar, apresiasi kehadiran masyarakat di bangku penonton adalah sebuah berkah bagi pelaku seni untuk menahan laju perjalanan pertunjukan seni tradisi dari kepunahan.

Senin, 16 Maret 2015

Cerita Menak: Warisan Budaya Islam di Indonesia

March 16, 2015
Oleh: Susiyanto, MA. – Penulis adalah dosen IAIN Surakarta.


Setelah epos Mahabarata dan Ramayana, cerita Menak merupakan karya fiksi yang banyak menginspirasi orang Jawa dan Lombok, baik dari kalangan rakyat kecil hingga kaum pembesar pada jamannya. Dari cerita ini nyatanya telah lahir sejumlah karya sastra dan budaya yang bermutu tinggi dengan tanpa mengabaikan aspek moralitas. Cerita Menak merupakan inspirasi bagi lahirnya Wayang Menakyang sering dahulu dipentaskan sebagai tontonan rakyat kecil hingga bangsawan di Kraton.

Menyusul kemudian Wayang Golek Menak dan Wayang Orang Menak. Sejumlah sendratari juga lahir dari cerita Menak ini. Demikian juga seni ukir dan tatah sungging tidak mau ketinggalan mendapatkan inspirasi dari cerita yang sama. Termasuk juga membidani lahirnya sejumlah karya sastra lain yang mewarisi semangat cerita Menak.

Mengapa cerita ini sangat inspiratif bagi sebagian mereka ? Masyarakat Jawa umumnya sangat menyukai cerita-cerita kepahlawanan (epos) yang mengedepankan sifat kesatriyaan, keprajuritan, pantang menyerah, dan perjuangan juga lika-liku romantisme yang mengharu biru. Cerita Menak nyatanya mampu menawarkan semua sisi tersebut.  Selain itu cerita Menak juga memberikan ajaran moralitas yang tinggi.

Spirit Budaya dan Seni Islam

Pada dasarnya, cerita Menak adalah sebuah gambaran perjuangan kaum muslimin dalam melakukan dakwah dan jihad untuk meninggikan kalimat Allah. Sumber ceritanya berasal dari kitab “Qissa I Emr Hamza” yaitu sebuah karya sastra Persia pada era pemerintahan Sultan Harun Ar Rasyid (766-809 M). Karya sastra ini di Melayu kemudian dikenal dengan nama “Hikayat Amir Hamzah”.

Transliterasi awal terhadap kisah Amir Hamzah di Jawa dilakukan pada tahun 1717 M oleh Ki Carik Narawita (carik = jabatan untuk seorang Jaksa di Keraton), atas perintah Kanjeng Ratu Mas Balitar, permaisuri Susuhunan Pakubuwana I di Kasunanan Kartasura. Hasil terjemahannya kemudian dikenal dengan nama “Serat Menak”.

Dalam karya berbahasa Jawa ini sejumlah nama mulai disesuaikan dengan pelafalan lidah Jawa, misalnya Osama bin Omayya menjadi Umarmaya, Qobat Shehriar menjadi Kobat Sarehas, Badiuz Zamandiubah menjadi Imam Suwangsa, Mihrnigar menjadi Dewi Retna Muninggar, Unekir menjadi Dewi Adaninggar, Amir Hamzah menjadi Amir Ambyah, dan lain sebagainya. Perlu diketahui sebelum terjadi proses transliterasi ini, sebenarnya cerita Menak ini telah lebih dahulu popular di kalangan masyarakat Jawa.

Pada masa selanjutnya “Serat Menak” ditulis ulang dengan menggunakan tembang Macapat oleh Raden Ngabehi Yasadipura I dan diteruskan oleh Raden Ngabehi Yasadipura II, keduanya adalah pujangga besar dari Kasunanan Surakarta.  

Karya kedua pujangga tersebut pernah dipublikasikan dalam buku beraksara Jawa oleh Balai Pustaka  pada tahun 1925. Cerita Menak dalam karya kedua pujangga tersebut merupakan bentuk pengembangan bebas dari karya terjemahan Bahasa Melayu yang sebelumnya diprakarsai oleh Ki Carik Narawita. Unsur-unsur mistik Jawa mulai muncul dalam karya ini. Namun demikian spirit yang mengilhami alur kisahnya tidak lenyap sama sekali. Penceritaan dalam gaya tembang justru memperlihatkan keindahan bahasa dan sastra tingkat tinggi yang sebanding dengan style yang dimiliki cerita Panji. Cerita Menak ini terdiri dari 48 jilid. Jika dikalkulasi maka keseluruhan isi “Serat Menak” terdiri dari 2.050 halaman. Sebuah karya sastra Islam yang sangat fantastis di Jawa.

Serat Menak Kustup karya R. Ng. Yasadipura I, sebuah episode cerita Menak di Jawa. (Koleksi : Susiyanto)

Setelah melalui dialektika yang panjang, Prabu Nursewan akhirnya mengucapkan kalimat syahadat dihadapan Amir Ambyah. (Illustrasi : Susiyanto)

Selain itu terdapat juga buku “Serat Menak Branta” yaitu cerita Menak yang bisa dikatakan sebagai versi Mataram atau versi Yogyakartanan. Naskah asli Serat Menak Branta ini dikerjakan oleh Adi Triyono dan Tukiyo atas perintah Gusti Kanjeng Ratusasi, putri dari Sri Sultan Hamengku Buwana VI. Isinya secara umum tidak jauh berbeda dengan “Menak Gandrung” karya Raden Ngabehi Yasadipura, namun disajikan secara berbeda dengan mempergunakan gaya bahasa yang lebih mudah dicerna.

Dakwah dan Jihad

Isi cerita Menak ini mengisahkan perjuangan umat Islam sebelum masa kerasulan Nabi Muhammad saw. Di tengah kekafiran dan kejahiliyahan yang berkembang di sejumlah negeri di Timur Tegah, terdapat kaum hanif yang tetap menjalankan ajaran dari millah Nabi Ibrahim, yaitu Agama Islam. Jadi Agama Islam yang dimaksud dalam cerita Menak sebenarnya adalah ajaran Allah yang telah dimulai sejak masa kehidupan Nabi Adam. Cerita ini secara tersirat juga menegaskan bahwa Agama Allah satu-satunya hanyalah Islam.

 Sementara itu terdapat agama yang lain yang muncul sebagai bentuk distorsi dari ajaran nabi-nabi sebelumnya.  Kaum hanif ini terus berjuang menegakkan kalimat Allah dengan menghadapi tantangan kaum kafir, sambil menantikan kedatangan Nabi akhir zaman yang akan segera tiba, bernama Nabi Muhammad.

Tokoh cerita utamanya adalah Amir Ambyah (Amir Hamzah). Diceritakan bahwa ia sangat rajin berdakwah dan melakukan akivitas jihad. Hasil perjuangannya, sejumlah raja-raja kafir berhasil disyahadatkan sehingga mengakui Allah sebagai Illah dan Nabi Muhammad, nabi akhir zaman yang akan segera tiba, sebagai utusan Allah. Salah satu tokoh yang berhasil diislamkan adalah mertuanya sendiri yang bernama Prabu Nursewan atau Nusirwan (Anusyirwan), raja Medayin.

Tokoh Amir Ambyah memiliki banyak sekali julukan antara lain Wong Agung Menak, Wong Agung Jayengrana, dan Wong Agung Jayengresmi. Sebutan Wong Agung Menak ini yang kemudian digunakan oleh pujangga-pujangga Jawa untuk menamakan kitabnya sebagai “Serat Menak”.

Disebut Wong Agung Jayengrana sebab Amir Ambyah selalu berjaya dalam setiap pertempuran yang diikutinya. Amir Ambyah disebut sebagai Wong Agung Jayengresmi karena ia bukan hanya pahlawan di medan perang, namun ia memiliki sisi keromantisan terhadap pasangan hidupnya. Amir Ambyah merupakan tokoh yang pandai memelihara keutuhan rumah tangganya, meskipun memiliki istri lebih dari satu. Dalam hal ini Amir Ambyah memiliki karakter yang mirip Arjuna dalam epos Mahabarata versi Jawa, namun tidak pada karakteristik “playboy” yang dimiliki tokoh Pandawa tersebut.

Menariknya, kisah perjuangan Amir Ambyah ini bukan hanya berhenti pada akhir kehidupannya sendiri. Pada era itu banyak golongan ahlu kitab yang sedang menanti kedatangan nabi akhir zaman bernama Ahmad (Muhammad) yang namanya telah tertulis dalam kitab-kitab terdahulu.

Namun kebanyakan golongan ini justru mengingkari setelah Allah menggenapi ketentuannya dengan kedatangan utusan Allah tersebut. Amir Ambyah termasuk pihak yang beruntung. Ia secara sukarela menerima ajaran risalah Islam yang telah disempurnakan dimasa kerasulan nabi akhir zaman tersebut. Pengingkaran terhadap keberadaan sang nabi umumnya disebabkan oleh kesombongan yang ada pada diri mereka, penyembahan berhala yang masih menggejala, dan rasa gengsi yang berlebihan di antara kaum ahli kitab. Dengan demikian perjuangan dakwah dan jihad Amir Ambyah menyebarkan agama Islam sejak zaman sebelum kerasulan tetap akan berlanjut pada masa setelahnya.

Pengembangan Budaya

Sebelumnya telah dijelaskan bahwa cerita Menak telah menjadi inspirasi bagi lahirnya sejumlah produk budaya.Wayang Kulit Menak atau disebut sebagai Wayang Menak hanya merupakan salah satu wujudnya. Wayang Menak ini awalnya dibuat oleh Kyai Trunadipa, seorang tabib dan ahli kebatinan yang memiliki tekad untuk menyiarkan Agama Islam, dari Baturetno, Wonogiri (dahulu termasuk wilayah Kasunanan Surakarta).
“Boneka” wayangnya, sebagaimana Wayang Purwa, terbuat dari kulit kerbau yang ditatah dan disungging.

Pementasannya dilakukan dengan mempergunakan perlengkapan layar kelir dan batang pisang untuk menancapkan wayang. Juga mempergunakan blencong sebagai penerang, cempala, serta kepyak. Peraga karakter  cerita Menak terdiri dari kurang lebih 350 buah wayang. Sedangkan sumber ceritanya mengacu pada “Serat Menak” karya Raden Ngabehi Yasadipura I dan II.

Wayang Menak juga mengenal keberadaan cerita pakem dan carangan. Cerita Pakem merupakan kisah Menak yang dianggap sebagai cerita utama, sedngkan cerita carangan merupakan wujud pengembangan cerita yang bersifat dinamis namun tetap tidak meninggalkan pakemnya. Dewasa ini wujud wayang Menak ini masih bisa disaksikan disejumlah museum seperti Musium Yayasan Kekayon dan Musium Sanabudaya di Yogyakarta.

Setelah melalui dialektika yang panjang, Prabu Nursewan akhirnya mengucapkan kalimat syahadat dihadapan Amir Ambyah. (Illustrasi : Susiyanto)

Selain dalam wujud wayang kulit, cerita Menak juga menjadi sumber ide bagi lahirnya Wayang Golek Menak. Berdasarkan tradisi, Wayang Golek Menak ini awalnya diciptakan oleh Sunan Kudus. Hal ini bukan hal yang aneh mengingat bahwa cerita Menak ini sebenarnya telah lebih dahulu popular bahkan sebelum proses transliterasi terhadap “Hikayat Amir Hamzah” dilakukan.

Awalnya jumlah boneka (golek) Menak terdiri dari 70 buah saja. Namun seiring berjalannya waktu serta kebutuhan cerita akibat berkembangnya versi cerita carangan, maka jumlah boneka wayang tersebut makin bertambah banyak, sekitar 150 hingga 200 buah. Pada masa kejayaannya pentas Wayang Golek Menak memiliki jangkauan di sejumlah daerah di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur. Di antaranya Yogyakarta, Surakarta, Kebumen, Bojonegoro, dan lain sebagainya.

Namun saat ini keberadaan Wayang Golek Menak seolah telah tergeser oleh laju jaman. Meskipun demikian belum lenyap sama sekali. Wayang Golek Menak justru menjadi tontonan elit bagi wisatawan asing dan kalangan penikmatnya yang dipertunjukkan di sejumlah hotel berbintang di Yogyakarta. Waktu pertunjukannya dipadatkan hanya menjadi tiga jam.
 Sayangnya, dengan demikian totonan ini tidak lagi dapat dijangkau oleh kalangan masyarakat kelas menengah ke bawah secara luas.

Saking menariknya, Sultan Hamengku Buwana IX kemudian mengabadikan kisah monumental Menak tersebut dalam bentuk sendratari. Rangkaian gerakan tari tersebut dikenal dengan nama “Beksa Golek Menak”.

Ciri khas yang paling menonjol dari tari Menak ini terletak pada lemah gemulai tari yang memasukkan unsur bela diri Pencak Silat yang telah diperhalus gerakannya. Pencak Silat pada era ini merupakan salah satu kecakapan yang dibutuhkan dalam olah  keprajuritan. Harapannya dengan menjadikannya sebagai sendratari maka keberadaan cerita ini, unsur kehalusan tari, dan sekaligus beberapa gerakan pencak silat yang ada dapat dijaga kelestariannya.

Selain versi sendratari Menak yang diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwana IX tersebut, di Yogyakarta sendiri juga berkembang semacamWayang Wong Menak (Wayang Orang Menak) yang berorientasi pada humor. Meskipun demikian pesan-pesan moral yang disampaikan tetap tidak menjadi kabur. Tokoh yang banyak digunakan dalam wayang orang versi ini adalahUmarmaya dan Umarmadi, dua tokoh yang digambarkan memiliki selera humor tinggi dalam cerita Menak.

Perkembangan cerita Menak ini bukan hanya menjadi milik Jawa saja. Jika tanah Melayu telah menyediakan sumber cerita yang mudah diakses, maka suku Sasak di Lombok merupakan salah satu lahan subur bagi hidupnya cerita Menak ini. Di sana cerita Menak telah menjadi sebuah tradisi lesan yang ceritakan dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi. Versi cerita yang berkembang juga menjadi semakin bervariasi. Pengembangan Wayang kulit maupun golek Menak di daerah ini juga mengalami nasib yang hampir serupa dengan di Jawa, hidup enggan mati pun segan. Pada akhirnya, produk kebudayaan ini akan mencari jalannya agar bisa tetap eksis dalam berbagai bentuk. Diprasastikan oleh produk publikasi media masa, diawetkan oleh museum, dan dikenang sebagai bagian dari sejarah.

Sejumlah primbon Jawa yang ada hingga hari ini, ternyata juga mengambil nama dari cerita Menak. Perlu dipahami primbon merupakan buku-buku yang memuat tradisi mistik dan klenik di Jawa. Biasanya kitab primbon selalu akan mengambil nama-nama yang dianggap menarik sehingga mampu memikat pembaca untuk menekuni bacaannya. Rupanya cerita Menak ini juga memebri inspirasi yang sama bagi kaum kebatinan yang menciptakan primbon. Sebut saja nama-nama seperti Primbon Adam Makna, Primbon Betal Jemur, Primbon Bekti Jamal, Primbon Lukman Hakim Adam Makna, Primbon Kuraisyin Adam Makna, dan lain sebagainya.

Istilah “Adam Makna” berasal dari nama sebuah kitab legendaris dalam cerita Menak yaitu Kitab Adam Makna, semacam kitab fikih yang memuat makna, rahasia, dan tuntunan hidup bagi manusia agar dapat menjalani kehidupannya dengan sempurna. Bekti Jamal dan Betal Jemuradalah nama karakter yang pernah menjadi pemilik Kitab Adam Makna. Betal Jemur adalah putra dari Raden Bekti Jamal. Tokoh Amir Ambyah pernah menjadi anak angkat sekaligus murid dari Betal Jemur.

Ada pun Lukman Hakim merupakan ayah dari Raden Bekti Jamal. Lukman Hakim disebut-sebut sebagai tokoh yang memiliki kemampuan seperti Nabi Sulaiman. Sedangkan Kuraisyin adalah nama dari salah satu putri Amir Ambyah dari istrinya yang bernama Dewi Ismayawati, putri Prabu Tamimasyar dari kerajaan Ngajrak.

Keempat kitab di atas, selain Primbon Bekti Jamal, diyakini merupakan karya Raden Ngabehi Yasadipura I. Dengan demikian dapat dinilai bahwa pujangga tenar Kasunanan Surakarta ini cerita Menak yang gubahannya sangat membekas dihatinya. Sedangkan Primbon Bekti Jamal merupakan karya Raden Tanoyo, budayawan yang hidup jauh pada beberapa generasi selanjutnya. Hal ini menunjukkan bahwa cerita Menak memiliki kepopuleran yang melintasi jaman.

Meskipun nama-nama dalam cerita Menak dipopulerkan oleh sejumlah kitab primbon, namun antara keduanya memiliki perbedaan titik tolak yang mendasar. Cerita Menak mewakili semangat perjuangan menegakkan ajaran Islam. Sedangkan sejumlah kitab primbon yang ada tersebut menunjukkan bahwa kaum yang masih menggeluti kebatinan pada dasarnya tidak akan mampu dan bersedia suka rela melepaskan diri dari Islam dan kebudayaannya.

Sebab meskipun mereka belum sepenuhnya menjadi mukmin sejati, hati mereka sebenarnya tetap terpaut kepada Islam. Islam bagi mereka adalah agama ageman aji, agama pencerahan yang memberi mereka harga diri dan keselamatan sejati. Butuh waktu yang panjang dan bimbingan yang proporsional untuk berproses ke arah yang lebih baik. Insya Allah.

Wallahu a’lam bishshawwab

*Susiyanto, MA. – Penulis adalah dosen IAIN Surakarta.

BACAAN PENUNJANG:

Kamajaya (pimred.). 1985. Almanak Dewi Sri 1986. U.P. Indonesia, Yogyakarta
Sastroamidjojo, Dr. A. Seno. 1964. Renungan Tentang Pertundjukan Wajang Kulit. PT. Kinta, Jakarta
Sayid, R. M. 1958. Bauwarna Wayang: Wewaton Kawruh Bab Wayang. Percetakan Republik Indonesia, Yogyakarta
Sugito, Drs. Bambang. tth. Dakwah Islam Melalui Wayang Kulit. Penerbit Aneka, Surakarta
Wijanarko. tth. Selayang Pandang Wayang Menak: Salah Satu Bentuk Seni Tradisionil yang Wajib Kita Lestarikan. Amigo, Surakarta
Yasadipura I, Raden Ngabehi Yasadipura. 1933. Menak Sarehas. Balai Pustaka – Batawi Centrum, Jakarta
Yasadipura I, Raden Ngabehi. 1935. Menak Kustup. Jilid II. Balai Pustaka – Batawi Centrum, Jakarta

Kamis, 02 Mei 2013

Pergelaran Wayang Golek Menak Kebumen



Wayang Golek Menak Kebumen adalah salah satu jenis wayang golek yang sumber ceritanya bersumber pada Hikayat Hamzah, Regester Menak baik yang berbentuk sekar maupun gancaran yang terdiri dari 24 episode. Cerita-cerita tersebut berkembang turun-temurun secara tradisi lisan. Cerita menak yang terdapat di Kebumen juga berkembang karena kreativitas dalang yang melakukan inovasi cerita dengan menambah lakon-lakon carangan sesuai dengan kemampuan dalang masing-masing, dengan demikian dimungkinkan ada perbedaan lakon dari dalang yang satu dengan dalang yang lain.

Wayang golek Menak Kebumen berbentuk tiga demensi. Bahan utama pembuatan kepala, badan, dan tangan dari kayu jaranan, weru, atau sengon laut. Busana bagian atas menggunakan kain beludru yang dihias manik-manik payet, dan benang emas, sedangkan busana bawah biasanya menggunakan kain bermotif batik. Sampur menggunakan kain jenis sifon, bisa juga menggunakan kain santung. Gapit atau tangkai wayang sebagai pegangan, sekaligus poros penggerak kepala tersebut dari bambu, kayu pinang, dan sejenisnya. Demikian juga tuding yang digunakan sebagai alat untuk menggerakkan tangan. Pewarnaan wayang menggunakan bahan baku dari cat tembok yang dicampur dengan lem kayu dan inti warna (pigmen).

Iringan wayang golek Kebumen menggunakan perangkat gamelan ageng slendro dan pelog yang terbagi menjadi 3 (tiga) pathet yaitu pathet nem, sanga, dan manyura. Gendhing-gendhing, dan sulukan wayang golek Kebumen mempunyai ciri garap khusus yang tidak sama dengan iringan wayang kulit terutama pada bentuk srepeg yang masing-masing berperan sesuai dengan kebutuhannya. Sebagai contoh untuk mengiringi adegan perang tiap-tiap pathet mempunyai iringan masing-masing, demikian juga untuk mengiringi adegan perang putri. Gendhing yang digunakan untuk mengiringi adegan sama dengan iringan wayang kulit.

Pertunjukan wayang Golek Kebumen dipergelarkan sesuai dengan kebutuhan penanggap, dapat dilaksanakan satu hari satu malam, satu malam saja, dan 2 (dua) sampai 4 (empat) jam. Tetapi yang masih berlaku sampai saat ini dilaksanakan satu hari satu malam yaitu siang pukul 11.00 - 17. 00, dilanjutkan pada malam harinya pk 20.00 - 05.00

Wayang golek Kebumen dipertunjukkan untuk upacara perhelatan seperti khitanan, pernikahan, kelahiran dan sebagainya, juga dipertunjukkan dalam rangka upacara tradisi desa bersih dusun, dan acara-acara pemerintah.

Cerita Wayang Golek Kebumen

Cerita Menak di Jawa paling awal diperkirakan berasal dari zaman pemerintahan Sultan Agung Mataram (1613 - 1645), dari sumber Melayu diperkirakan bahwa penulisan Menak terjadi pada abad XV dan XVI. Hal ini didasarkan pada penggunaan kata Menak Jingga dalam Serat Damarwulan, dalam sastra jawa pertengahan, yaitu sastra kidung, telah terdapat kata menak yang berarti berbudi luhur, mulia, tampan dsb. Hal ini dapat diperkirakan bahwa penulisan dari sumber Melayu kemungkinan dibuat pada abad XV atau XVI.

Cerita menak tersebut luas dikenal melalui saduran R.Ng Yasadipura I, Ia mendasarkan karyanya pada versi Kartasura tulisan Ki Carik Narawitan. Tulisan-tulisan yang dianggapnya masih sederhana kemudian dikembangkan oleh R. Ng Yasadipura I dengan perluasan-perluasan, dan penambahan-penambahan, kendati demikian garis besar cerita masih sangat dekat dengan sumber cerita Melayu.

Balai Pustaka mencetak cerita Menak dalam tulisan Jawa berdasarkan naskah versi macapat antara th 1933 s/d 1941 M dari teks Yasadipura I dalam 24 bagian (46 jilid) Bagian-bagian tersebut masing-masing diberi nama berdasarkan tokoh utama atau tempat yang paling penting, yaitu:
1. Menak Sareh.
2. Menak Lare
3. Menak Srandhil
4. Menak Sulub
5. Menak Ngajrak
6. Menak Demis
7. Menak Kaos
8. Menak Kuristam
9. Menak Biraji
10 Menak Kanin
11 Menak Gandrung
12 Menak Kanjun
13. Menak Kandhabumi
14. Menak Kuwari
15. Menak Cina
16. Menak Malebari
17. Menak Purwakanda
18. Menak Kustub
19. Menak Kalakodrat
20. Menak Sorangan
21. Menak Jamintoran
22. Menak Jaminambar
23. Menak Talsamat
24. Menak Lahat

Dari cerita-cerita tersebut diatas oleh dalang wayang golek Kebumen diolah menjadi lakon wayang golek menurut kemampuan masing-msing dalang membuat struktur adegan dan membuat sanggitnya. Untuk itu tidak jarang terjadi dalam satu judul lakon yang sama dengan dalang yang berbeda akan berbeda pula garap adegan ataupun sanggitnya.

Sindu Jataryana seorang dalang dari Mirit yang pernah mendapat tempat di hati masyarkat pendukung wayang golek di Kebumen dan sekitarnya pernah menggelar lakon yang tidak terdapat dalam bagian-bagian lakon menak seperti;
1. Ngembajati
2. Dewi Nawangwulan
3. Dewi Mandhaguna-Mandhagini
4. Mandarpaes
5. Jayengrana Wayuh
6. Gendreh Kemasan
7. Bambang Sekethi Lahir
8. Ganggamina-Ganggapati
9. Imanjaka Takon Bapa
10. Rasakusuma Takon Bapa
11. Kendhit Brayu
12. Ganggakesuma Takon Bapa
13. Dewi Sri
14. Umarmaya Kembar
15. Menak Sathit
16. Jayengrana Kembar
17. Iman Suwangsa Kembar
18. Kadarwati Ranjam
19. Pernah menyusun lakon yang bersarkan atas peristiwa orang bunuh diri dengan kereta api.
Lakon ini diminta khusus oleh penanggapnya.

Daerah Jawa mengenal adanya lakon-lakon yang tabu untuk dipergelarkan, karena beranggapan apabila mempergelarkan lakon tersebut akan mendapatkan petaka. Demikian halnya dengan pergelaran wayang golek menak di Kebumen ada beberapa lakon menak yang ditabukan seperti;
a. Umarmaya Ngemis
b. Menak Jaminambar
c. Menak laka
d. Bestak Bencek dan lain-lain

Sindu Jataryana adalah seorang dalang yang mengalami masa kejayaan di tahun 50 sampai dengan awal 80-an. Banyak peristiwa yang mendukungnya diantaranya:
a. Dalam rangka festival wayang Golek di Pekalongan tahun 1976.
b. Dalam rangka studi banding dengan wayang golek cepak dengan dalang Ki Ali Wijaya di Sragi tahun 1977.
c. Dalam rangka studi banding wayang menak di Jakarta tahun 1978.
d. Mendapat anugrah seni dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Nugraha Notosusanto).

Pergelaran Wayang Golek Menak di Kebumen

Pertunjukan wayang golek menak di Kebumen dilaksanakan pada siang dan malam yang memerlukan rentang waktu 6 sampai 8 jam. Siang hari dipergelarkan dari pukul 11.00 hingga 17.00, sedangkan pada malam hari pada pukul 21.00 hingga 05.00 yang masing-masing terbagi menjadi 3 (tiga) bagian pathet yaitu pathet nem, pathet sanga, dan Manyura. Sebelum pergelaran dimulai biasanya didahului dengan konser gendhing.

Iringan yang mendukung jalannya pertunjukan dengan menggunakan perangkat gamelan ageng slendro, dan pelog, tetapi gendhing-gendhing dan sulukan iringan wayang golek menak Kebumen mempunyai lagu khusus tidak seperti iringan wayang kulit gaya Yogyakarta atau Surakarta.

Terutama pada lagu sulukan dan srepeg yang digunakan sebagai iringan baku wayang golek Kebumen. Masing-masing srepeg mempunyai lagu, dan kegunaan yang berbeda sesuai dengan Kebutuhan masing-masing adegan sebagai contoh;

Srepeg Kembang jeruk nem digunakan sebagai Srepeg baku pada bagian pathet nem, Srepeg Kembang Jeruk Prang khusus digunakan pada adegan perang pada bagian pathet nem, Srepeg Kawosempal digunakan khusus untuk mengiringi adegan suasana sedih, untuk adegan perang pada bagian pathet sanga diiringi dengan Srepeg Rujak Beling pathet sanga, Srepeg semarangan digunakan untuk srambahan perjalanan tokoh gagah dan tokoh halus yang masing-masing mempunyai lagu sendiri-sendiri.

Srepek Rujak beling pathet manyura digunakan khusus sebagai iringan perang pada bagian pathet manyura, Srepeg Bribil Buntung digunakan apabila ada tokoh putri yang berperang, Srepek Adhuh-adhuh sebagai iringan baku pada bagian pathet manyura, dan Godril Ladrang digunakan sebagai iringan perang tokoh gecul.

Struktur adegan pada pergelaran wayang golek Kebumen menyesuaikan dengan lakon yang dipergelarkan. Tetapi pada awal pergelaran dapat dipisahkan selalu diawali dengan Jejer I, dengan diiringi Bondhet, gendhing kethuk kalih kerep, sebagai iringan tampilnya tokoh-tokoh yang menghadap raja, dan janturan adegan, sebagai iringan tampilnya tokoh-tokoh yang menghadap raja, dan Janturan adegan, dilanjutkan dengan Monggang Sekaten cengkok Kebumen untuk mengiringi tampilnya tokoh raja.

Tampilnya tokoh raja gagah dengan tarian kiprah biasa diiringi dengan Bendrong , lancaran.

Pergelaran wayang golek menak Kebumen tidak terdapat struktur adegan gara-gara seperti halnya wayang kulit, tetapi juga mengenal tokoh punakawan baku bernama Jiweng sebagai pamomong tokoh-tokoh protagonis seperti Iman Suwangsa, Umarmaya, Jayengrana, Jayusman dan lain sebagainya.

Perkembangan Pergelaran

Perjalanan waktu akan mendorong adanya perubahan terhadap sesuatu, demikian juga yang dilakukan oleh beberapa dalang wayang golek di Kebumen, seniman dalang tersebut mencoba mengadakan perubahan-perubahan dalam usaha mempopulerkan kembali pergelaran wayang golek menak Kebumen. Seniman dalang berharap akan wayang golek dapat menjadi pertunjukan yang elastis, dapat berdialog dengan masyarakat, mampu menampung aspirasi penggemarnya.

Tetapi usaha-usaha yang dilakukan masih sangat terbatas pada kulitnya saja belum dapat menyentuh pada esensi wayang golek menak itu sendiri. Sebagai contoh dengan di tambahkan adegan Limbukan yang mengalunkan lagu-lagu dangdut, dan campur sari, demikian juga pada bagian pathet sanga ditampilkan Jemblung Marmadi, dan Jiweng sebagai pengganti adegan gara-gara.

Minat Penonton

Masyarakat pendukung wayang golek Kebumen pada saat ini tidak mempunyai pengetahuan yang cukup tentang cerita Menak. Lain halnya apabila dibandingkan dengan masyarakat pendukung wayang kulit, cerita Mahabarata dan Ramayana. Ujud dari tokoh wayang menak khususnya wayang golek tidak akrap dengan penonton, di samping itu wayang golek tidak dapat dilihat dari jarak jauh secara jelas. Lain halnya dengan wayang kulit yang dapat dilihat dari jarak 40 sampai 50 meter, sedangkan wayang golek dari jarak 15 meter saja sudah agak kabur kejelasan wajahnya.

Pada saat ini tugas dalang wayang golek tidak hanya menampilkan dramatisasi cerita saja, tetapi harus mengenalkan cerita menak, karakternya tokoh dan ujud dari tokoh yang ditampilkan. Lain halnya dengan masyarakat yang menonton wayang kulit. Sebagai contoh; dalang menampilkan tokoh Bima, masyarakat sudah tahu bagaimana karakter Bima, bagaimana Jalannya Bima, siapa saja anaknya Bima dan lain sebagainya.

Minat masyarakat untuk menonton wayang golek pada saat ini tidak seperti pada tahun 60 sampai dengan awal 80-an, karena tinggal generasi tua yang pernah ikut menyaksikan masa kejayaan wayang golek menak tempo dulu. Dimasa kejayaan dalang Dindu Jataryana dan dalang seangkatannya yang mampu mengangkat pertunjukan wayang golek Menak menjadi tontonan masyarakat yang membanggakan. Masyarakat mempunyai harga diri yang lebih apabila mempunyai hajad dengan menanggap wayang golek

Kendala Pertunjukan Wayang Golek Menak Kebumen

Cerita-cerita menak yang beredar di daerah Kebumen dan sekitarnya, setelah almarhum Sindu Jataryana surut sudah tidak akrab lagi dengan masyarakat generasi pendukung pergelaran wayang golek menak di Kebumen, sehingga masyarakat yang menonton wayang golek harus belajar tentang cerita menak, belajar mengenal tokoh-tokoh wayang golek menak, belajar mengenal karakternya dan sebagainya. Sedangkan masyarakat penonton wayang golek tidak semuanya ingin mengetahui jalannya cerita, tetapi ada yang ingin bermain, melihat suasana, cari hiburan untuk melepas kepenatan hidupnya dan sebagainya.

Seorang dalang wayang golek menak diharapkan untuk dapat menari, bercerita, menguasai gendhing, dan gerak bela diri seperti pencak silat dan sejenisnya. Dalang yang akan mempunyai kemampuan 4 hal seperti yang disebutkan sebelumnya akan mengurangi bobot seorang dalang wayang golek. Sedangkan untuk menguasai hal tersebut tidaklah mudah, akibatnya banyak generasi dalang wayang golek yang menekuni wayang kulit, apabila tanggapan pergelaran wayang golek pada saat ini sangat jarang.

Sebagai masyarakat di wilayah tertentu saat ini masih ada yang beranggapan bahwa mengadakan pertunjukan wayang golek itu tabu, bahkan akan mendatangkan malapetaka bagi wilayah tersebut atau penanggapnya, sehingga pada saat ini ada wilayah yang masyarakatnya belum pernah melihat secara langsung pertunjukan wayang golek.

Preman-preman daerah yang memalak orang yang mempunyai hajad juga menjadi kendala bagi anggota masyarakat yang akan mengadakan pertunjukan/penanggap.

Hal tersebut membebani anggota masyarakat, karena apabila anggota masyarakat akan mengadakan pertunjukan paling tidak harus mendatangkan aparat kepolisian setidak-tidaknya satu kijang, pada hal untuk mendatangkan aparat juga mengeluarkan dana.

Apabila tidak mendatangkan aparat kepolisian kemungkinan besar pertunjukan wayang golek dimana dipergelarkan menjadi ajang joged dan mabuk-mabukan semalam suntuk. Peristiwa ini beberapa kali terjadi, pengrawit bubar meninggalkan intrumen gamelan yang ditabuh karena ada penonton yang naik panggung dengan membawa senjata tajam diacungkan.
 Betapa mengerikan.