Ketoprak Dangsak

Pentas Ketoprak Dangsak "Reksa Mustika Bumi" kolaborasi Cepetan Alas dengan Ketoprak. Pentas ini digelar DKD Kebumendi PRPP Jateng [Foto:AP]

Lengger Banyumasan

Pementasan seni tradisi lengger dari Dariah; tokoh legendaris"Lengger Banyumasan"

Suro Bulus, Parodi Satire Ketoprak Rakyat

Lakon carangan "Suro Bulus" yang merupakan manifestasi perlawanan masyarakat tradisi terhadap kejahatan korporasi tambang

DRAS SUMUNAR, Tetet Srie WD

Pagelaran "Serat Dras Sumunar" karya Tetet Srie WD di Roemah Martha Tilaar Gombong

Dewa Ruci

Pentas wayang dengan lakon "Dewa Ruci" dalam Festival Dalang Anak di Banjarnegara. Tiga dari empat dalang cilik Kebumen sabet juara [Foto:AP]

Senin, 19 November 2018

Film Karya Pelajar Kebumen “Melawan Arus” Masuk Nominasi FFI 2018

19 November 2018

Proses produksi film “Melawan Arus” besutan sutradara Eka Saputri dari SMK Negeri 1 Kebumen. (Dok. Sinema Kedung)

Purwokertokita.com – Film “Melawan Arus” besutan sutradara Eka Saputri dari SMK Negeri 1 Kebumen masuk sebagai nominator Festival Film Indonesia (FFI) 2018. Ajang bergengsi bagi insan film di Tanah Air ini bakal mengumumkan 22 kategori penghargaan di Jakarta, 10 Desember mendatang.

Pada kategori film cerita pendek terbaik, “Melawan Arus” akan bersaing dengan enam nominator lainnya, yaitu “Elegi Melodi” (Jason Iskandar), “Har” (Luhki Herwanayogi), “Joko” (Suryo Wiyogo), “Kado” (Aditya Ahmad), “Siko” (Manuel Alberto Maia) dan “Topo Pendem” (Imam Syafi’i).

Sutradara film “Melawan Arus”, Eka Saputri mengaku sangat senang film garapan anak asuhnya mampu menembus kompetisi film paling bergengsi yang menganugerahkan Piala Citra kepada pelaku perfilman terbaik. Meski harus bersaing dengan film garapan sineas yang lebih senior.
“Memang sangat berat saingannya. Tapi kami tetap bangga bisa masuk dalam nominasi,” ujarnya, Minggu (18/11).
Eka menuturkan, film yang disutradarainya ini terinspirasi dari film dokumenter pendek petani Urut Sewu. Ide tersebut diwujudkan dalam film fiksi pendek untuk mengingatkan masyarakat bahwa perjuangan petani Urut Sewu masih berlanjut.

Adapun film berdurasi 10 menit ini bercerita tentang perjuangan petani Urut Sewu Kebumen. Perempuan petani bernama Siti yang percaya bahwa proses penangkapan suaminya, Yono, merupakan fitnah akibat konsekuensi rumit dari sengketa tanah antara petani dan TNI yang tak berkesudahan. Situasi tak menentu berujung pada keinginan pindah Yono yang ditolak Siti.

Film ini sempat meraih penghargaan Fiksi Pendek Pelajar Terbaik pada ajang Malang Film Festival (Mafifest) 2018. Lalu menjadi Film Fiksi Pelajar Terbaik pada Festival Film Purbalingga (FFP) 2018.

Sementara itu, Direktur Komunitas Sinema Kedung Kebumen, Puput Juang mengatakan, film ini menjadi medium gambar dan suara untuk menyuarakan keberpihakan terhadap posisi rakyat yang masih terpinggirkan.
“Seperti terjadi pada nasib para petani Urut Sewu yang masih menggantung karena pemagaran lahan pertanian mereka,” tegasnya.
Produksi film pendek “Melawan Arus” terwujud berkat kerja kolektif dan kolaboratif program Sinema Kedung Meng Desa-Desa (SKMDD) dari Sinema Kedung pada 11 Agustus-5 November 2017 yang pada pelaksanaan tahun kedua tersebut menghadirkan lokakarya produksi difasilitasi CLC Purbalingga.


Program dibawah naungan Jaringan Kerja Film Banyumas (JKFB) yang didukung penuh bantuan untuk masyarakat film dari Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbangfilm) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) serta Perpusda Kebumen, Roemah Martha Tilaar Gombong, dan Sangkanparan Cilacap. (NS)

Sumber: PurwokertoKita 

Sabtu, 17 November 2018

Mempertanyakan Keadilan di Panggung 'Bunga Penutup Abad'

Sabtu, 17 Nov 2018 17:21 WIB  ·   Tia Agnes

Mempertanyakan Keadilan di Panggung 'Bunga Penutup Abad' Foto: Image Dynamics

Jakarta - Menonton untuk ketiga kalinya pementasan 'Bunga Penutup Abad' tak akan membuat penonton mati kebosanan. Akhir pekan ini, Titimangsa Foundation kembali menggelar pertunjukan 'Bunga Penutup Abad' yang diadaptasi dari novel Pramoedya Ananta Toer.

Durasi sepanjang 3 jam lamanya menghadirkan alur maju-mundur dari tiga karakter rekaan dalam novel Tetralogi Pulau Buru. Ada Nyai Ontosoroh (Marsha Timothy) yang dicap sebagai gundik namun memiliki pemikiran terbuka tentang kekuasaan dan isu perempuan.

Ada Minke (Reza Rahadian) sosok pribumi yang cerdas dan jatuh cinta pada perempuan Jawa-Belanda bernama Annelies Mellema (Chelsea Islan). Di kehidupan mereka, ada Jean Marais (Lukman Sardi), sahabat Minke yang memiliki seorang putri tunggal May Marais (Sabia Arifin).

Surat demi surat berdatangan ke rumah Nyai Ontosoroh di Surabaya sejak kepergiaan Annelies ke Belanda. Panji Darma yang rajin menuliskannya, Minke dan Nyai pun mendengarkan cerita perjalanan orang terkasihnya tersebut meski dalam hati keduanya merasa sedih atas ketidakadilan ini.

Mempertanyakan Keadilan di Panggung 'Bunga Penutup Abad' Foto: Image Dynamics
"Kita telah melawan Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya," ujar Nyai Ontosoroh kepada Minke usai membacakan sepucuk surat. 
Satu minggu berlalu sejak kepergian Annelies, rumah besar Nyai tampak sepi dan redup. 

 "Seminggu sudah jadi tahanan rumah. Pergilah jalan-jalan, nak. Mencari angin, terlalu lama tersekap membuat kau tampak muram," ucap Nyai pada Minke. 
Cerita pun mundur pada pertemuaan awal Minke di rumah Annelies. Setiap hari Minke kerap memandangi potret dari Ratu Belanda yang cantik. Tapi seorang sahabatnya mengatakan, ada dewi yang kecantikannya mengalahkan perempuan manapun di Hindia Belanda.

Awal perjumpaan yang berbekas membuat Minke bekerja di perusahaan milik Tuan Mellema yang dipimpin oleh Nyai Ontosoroh. Satu per satu rahasia keluarga Mellema dan kebobrokan Eropa terkuak. Selama ini pula Minke selalu membela Eropa, mengagung-agungkannya, dan kerap menulis dalam Bahasa Belanda. 



Mempertanyakan Keadilan di Panggung 'Bunga Penutup Abad' Foto: Image Dynamics

Keahlian menulis Minke dipuji oleh Nyai Ontosoroh. Di salah satu adegan, Nyai Ontosoroh mengaku menyayangi Minke bukan sebagai menantunya saja tapi anaknya sendiri. 
"Tahukah kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari," ujar Nyai Ontosoroh. 
Mempertanyakan Keadilan di Panggung 'Bunga Penutup Abad' Foto: Image Dynamics

Di tengah kepergian Annelies yang membuat Minke sedih, Jean Marais melukis sebuah potret tentang sosok pujaan Minke. Kisah hidup Nyai Ontosoroh dan Annelies membuka fakta menyedihkan tentang ketidakadilan.

Dalam setiap surat, kalimat, dan kata-kata yang memuat perjalanan Annelies dan Panji Darma, Minke dan Nyai Ontosoroh selalu mempertanyakan di mana letak keadilan.
 "Kekuatan yang kita miliki mungkinlah tidak sebanding dengan ketidakadilan yang ada, tapi satu hal yang pasti: Tuhan tahu bahwa kita telah berusaha melawannya."
Energi Baru Nyai Ontosoroh
Hadirnya Marsha Timothy menjadi sosok Nyai Ontosoroh menggantikan Happy Salma sukses memberikan warna dan energi baru. Nyai Ontosoroh tak lagi dimiliki Happy Salma maupun Sita Nursanti semata. Namun Marsha membawakannya secara totalitas. Tanpa jeda satu kesalahan sekalipun, tanpa salah dialog, maupun penghayatan yang terasa hambar. 



Mempertanyakan Keadilan di Panggung 'Bunga Penutup Abad' Foto: Image Dynamics

Proses latihan Marsha selama 4 bulan lamanya berbuah manis. Penonton dapat merasakan getirnya hidup Nyai Ontosoroh dalam kata-kata yang diucapkan Marsha, tentang keadilan yang tak bisa diraihnya, kasih sayang kepada Annelies yang tak pernah memandang sebelah mata terhadap pribumi maupun lingkungan di Pulau Jawa, Hindia Belanda.

Nyai Ontosoroh bertransformasi dalam setiap gerak-gerik Marsha di atas panggung. Pengunjung tak lagi memandang Marsha sebagai seorang Ida Nasution (Perempuan Perempuan Chairil) dan Marlina (Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak).

Perpaduan Marsha bersama Reza Rahadian pun ibarat kopi hitam yang dicampur dengan gula, pas rasanya. Tak manis, tak juga terlalu pahit. Lukman Sardi memainkan Jean Marais pun bak seorang seorang pria yang sudah tinggal lama di Prancis.

Mempertanyakan Keadilan di Panggung 'Bunga Penutup Abad' Foto: Image Dynamics

Di antara 'tanpa cela' tersebut, ada beberapa penggambaran akting Chelsea Islan yang terlihat terlalu berlebihan sebagai Annelies. Dari bangku penonton, terdengar celetukan dan tawa ketika Annelies bersikap 'terlalu manja'. Meski begitu, di akhir kehadiran Annelies penonton terenyuh dengan kesedihan yang dialami.

Dengan setting sederhana dan empat ruang yang dibagi, 'Bunga Penutup Abad' menjadi salah satu pertunjukan teater yang menghibur di penghujung tahun. Dipenuhi unsur multimedia, masih ada salah teknis dan perpindahan adegan yang terkesan 'kasar' tapi hal tersebut bisa tertutup serta diampuni sementara waktu.

Dipentaskannya 'Bunga Penutup Abad' membuka kembali kenangan akan karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Seperti kata produser Happy Salma,   
"Mengadaptasi karya sastra ke atas panggung teater butuh usaha dan jerih payah yang tak henti."

Jumat, 16 November 2018

Tragedi 1965 dan Kebencian LGBT Meminggirkan Lengger Lanang


Dariah (85 tahun) yang merupakan seorang penari tradisional laki-laki dari Banyumas bersama Didik Nini Thowok (kanak) saat mendokumentasikan kisah penari lengger lanang tersebut yang masih tersisa, (16/11). Aris Andrianto/Tempo

Seni Tari Lengger Lanang terancam punah. Meningkatnya sentimen negatif terhadap kelompok LGBT meresahkan penari warisan Banyumas ini untuk tampil secara bebas dan terbuka.

Agus Widodo was-was. Penari lengger lanang ini berhati-berhati bila menerima tawaran untuk manggung di saat meningkatnya ajakan menolak dan mengharamkan kelompok Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT).
 
"Saya rajin bertanya ke pengundang aman atau tidak sebelum mau pentas lengger. Takut digrebek," ucap Agus yang bernama panggung Agnes. 
Penari pria Dariah (kiri) saat ikut menari saat Penari pria Didik Nini Thowok ingin mendokumentasikan kisah penari lengger lanang tersebut yang tersisa, (16/11). Aris Andrianto/Tempo

Lengger lanang merupakan tari lintas gender yang banyak dipentaskan laki-laki. Tari rakyat Banyumas ini berkembang secara turun temurun sebagai bagian dari ritus kesuburan. Budayawan Banyumas Yusmanto memperkirakan, tari rakyat ini sudah ada sejak masa Kerajaan Majapahit. 

Penari lengger adalah laki-laki yang berdandan seperti perempuan. Dalam Bahasa Banyumas, lengger berasal dari dua kata yakni leng yang berarti lubang sebagai simbol jenis kelamin perempuan dan ger berasal dari kata jengger yang artinya mahkota ayam jago sebagai simbol laki-laki. 

Agus dikenal sebagai satu diantara lengger lanang muda yang sedang moncer di Banyumas dan sekitarnya. Ia pernah diundang menari di Festival and Celebrating The 40th Anniversary of Korea-Indonesia Diplomatic di Korea Selatan pada Desember 2013.

Menari sejak usia 7 tahun membawa Agus akhirnya memutuskan menjadi penari lengger. Dia mulai menampilkan tarian lengger sejak 2004 di Banyumas dan sekitarnya. Pilihannya menjadi penari lengger mendapat tentangan sejumlah orang. Beberapa di antaranya menganggap Agnes yang berjenis kelamin laki-laki tidak pantas mengenakan pakaian perempuan ketika menari. 

Di luar panggung, Agus mengenakan pakaian laki-laki. Berbeda ketika di atas panggung. Dia mengenakan pakaian lengger lengkap dengan riasan sanggul berkonde, sampur, kemben, jarit dan riasan wajah seperti penari perempuan. 
"Saya total menjadi lengger saat di panggung," katanya. 
Menurut Agus, diskriminasi terhadap lengger lanang kerap terjadi. Cibiran dan cacian menjadi hal biasa ketika memilih menjadi penari lengger.
"Mereka menyebut saya banci dan memandang penari lengger sebelah mata," katanya.
Ketika pentas, perlakuan buruk juga kerap mereka terima. Penonton yang mabuk mengolok-olok mereka dengan sebutan bencong sembari meraba-raba bagian tubuh mereka. “Saya takut dan trauma,” kata Fizay Nurhamid ketika menceritakan pengalamannya tampil di Kebumen, Jawa Tengah, pada 2017 lalu.

Fizay yang bernama panggung Fifi mulai menari lengger sejak 2011. Laki-laki dari Cilacap ini dulu dikenal sebagai penari kesenian jaran kepang di komunitas seni kuda kepang Mekar Budaya Kencana. Dia kemudian mengikuti jejak kakeknya yang menari lengger. 

Sepekan sejak kejadian di Kebumen, Fizay kembali menerima tawaran. Tetapi, dia menampik tawaran itu karena masih trauma.

Otniel Tasman, koreografer yang menciptakan tari kontemporer dari tradisi lengger Banyumasan juga memiliki pengalaman buruk saat hijrah ke Solo, Jawa Tengah. Suatu hari dosennya di kampus ISI Surakarta bahkan menertawakannya ketika menari lengger. 

Otniel kemudian dilarang menari lengger di pendopo padahal waktu itu dia sudah siap mau pentas. Waktu itu Otniel dan kelompok penari dari Banyumas hendak pentas lengger untuk menyambut seorang menteri yang datang ke ISI Surakarta. Mereka sudah berlatih menari lengger jauh hari hingga hari H acara. 

Tapi, dosen itu melarang dengan alasan lengger penarinya adalah perempuan, bukan laki-laki.
"Lengger dianggap hanya sebatas hiburan saja apalagi ketika laki-laki yang menarikannya," ujarnya.
Penampilan lengger lanang di Festival Kendalisada, Kaliori, Banyumas, Jawa Tengah (TEMPO/Shinta Maharani)

Banyak yang risih menonton tarian lengger. Danang salah satunya. Penonton Festival Lengger yang berlangsung September lalu itu mengaku enggan menonton tarian tersebut. Namun, malam itu, Danang terpaksa datang menonton karena harus mengantarkan tamu ke Desa Kaliori, tempat berlangsungnya acara. 
"Saya agak takut, risih, dan tidak nyaman," katanya.
Meski mendapat cap jelek, Agus dan Fizay masih berusaha menunjukkan dirinya mampu menjadi penari lengger yang baik. Mereka ingin mempertahankan kesenian tradisional yang hampir hilang karena masyarakat lebih memilih pertunjukkan organ tunggal. 

Maestro tari lintas gender Didik Nini Thowok mengakui jumlah penari lengger kini semakin menipis akibat diskriminasi. Sebagian dari mereka tidak diterima, dikucilkan dan diskriminasi. 
“Tidak gampang bertahan sebagai lengger lanang. Buat yang tidak kuat dan takut akan sulit bertahan,” katanya.

Foto Presiden Sukarno bersetelan jas masih terpajang di ruang tamu rumah keluarga Dariah. Potret itu mengingatkan kejayaan Dariah sebagai penari lengger lanang di masa akhir Orde Lama hingga Orde Baru. Rezim Orde Baru memberangus semua kesenian rakyat termasuk lengger lanang karena dianggap dekat dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), organisasi yang dianggap bagian dari Partai Komunis Indonesia.

Hanya segelintir laki-laki yang bisa menarikan tarian ini. Salah satunya Dariah. Dariah mengawali karir sebagai penari lengger dari satu kampung ke kampung lainnya. Bersama sekelompok musik sederhana seperti calung, kendang, gong kecil dan gambang, Dariah mbarang (mengamen) di wilayah Banyumas.

Karir Dariah menanjak pada periode 1930 hingga 1960-an. Pria yang bernama asli Sadam ini menjadi idola pada waktu itu di Banyumas. Tariannya yang lemah gemulai layaknya seorang perempuan selalu menjadi magnet bagi warga Banyumas. 

Sejak diberangus, Dariah menghabiskan hidupnya di Desa Plana, Kecamatan Somogede, Banyumas, Jawa Tengah, bersama keponakannya, Misti. Mereka tinggal di rumah berdinding bata dengan cat yang mengelupas di sana sini. Dariah menghabiskan hidupnya sebagai perempuan. Dia memakai baju perempuan dalam aktivitas sehari-hari di rumah dan beralih menjadi penata rias pengantin di desa-desa Banyumas dan Purbalingga demi menyambung hidup. 

Pada 12 Februari 2018 lalu, Dariah meninggal pada usia 97 tahun. Keluarga mengenang Dariah hidup dalam ketakutan akibat peristiwa 1965. 
"Semua hartanya habis karena peristiwa 1965," kata Nur Kholifah, anak Misti kepada Tempo di awal November lalu. 
Pada 2011 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahi Dariah gelar Maestro Seniman Tradisional. Untuk menghormati Dariah, Pemerintah Desa Kaliori, Banyumas dan komunitas seni desa menggelar Festival Kendalisada pada 14-16 September lalu.

Teks: Shinta Maharani
Editor: Edy Can
Tulisan ini adalah produk dari program fellowship Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dan Ardhanary Institute

Sumber: Tempo.Co 

Sabtu, 03 November 2018

Wayang Golek Menak Kebumenan


April 2012
Sekilas Kisah Menak

Jayengrono / Amir Hamzah

Kisah Menak bersumber dari kesusastraan Persia berjudul Qissa'i Emr Hamza yang muncul pada zaman pemerintahan Sultan Harun Al Rasyid (766-809)M. Cerita ini masuk ke Melayu dengan nama Hikayat Amir Hamzah dan kemudian disasur ke dalam bahasa Jawa dengan nama Serat Menak.

Intisari Cerita Menak mengisahkan perjalanan kepahlawanan Amir Hamzah, paman Nabi Muhammad SAW, dalam memerangi orang-orang kafir sewaktu menyebarkan agama Islam. Kisah ini mengalami berbagai pengkayaan dengan sumber-sumber cerita di daeah penyebaran. Cerita kepahlawanan Amir Hamzah muncul dalam kesusastraan Melayu sebelum tahun 1511 M dan dikenal luas pada saat kerajaan Malaka mencapai kejayaan. Hikayat tersebut masuk ke Indonesia sejalan dengan penyebaran agama Islam dan kemudian disadur menjadi kisah Menak.

Tidak diketahui secara pasti kapan dilakukan penyaduran cerita dari Melayu ke dakam bahasa Jawa. Hanya saja, Serat Menak tertua yang pernah ditemukan ditulis oleh Carik Narawita pada tahun 1639 J atau 1715 M atas perintah Kanjeng Ratu Mas Blitar, Permaisuri Pakubuwana I. Akan tetapi tulisan tersebut konon bukan teks asli, melainkan salinan dari teks yang lebih tua.

Di Jawa, kisah Menak yang pasti diperkirakan lahir pada zaman Pemerintahan Sultan Agung Mataram sekitar tahun 1613-1645 M. Sedangkan dari sumber Melayu, penulisan cerita Menak diperkirakan terjadi pada abad ke-15 dan 16.

Penggunaan kata Menak sebagai sebutan untuk Amir Hamzah, dapat dibandingkan dengan sebutan Menak Jingga pada serat Damarwulan. Dalam sastra Jawa pertengahan yaitu sastra Kidung, kata Menak pun sudah muncul yang berarti berbudi luhur, mulia, dan tampan. Serat Menak juga dipengaruhi Serat Panji yang populer pada masa itu.

Dalam cerita Menak, nama-nama tokohnya disesuaikan dengan nama Jawa seperti Omar bin Omayya menjadi Umar Maya, Qobat Shehriar menjadi Kobat Sarehas, Badi'ul Zaman menjadi Imam Suwangsa, Mihrningar menjadi Dewi Muninggar, Qoraishi menjadi Dewi Kuraishin, Unekir menjadi Dewi Adaninggar, dan lain-lain.



Garis Besar Kisah Menak

Kisah Menak menceritakan permusuhan Amir Ambyah atau Wong Agung Jayengrana yang berasal dari Mekah dengan Raja Nursewan yang juga mertuanya dari Medayin. Raja Nursewan yang kafir tidak mau tunduk. Ia selalu berusaha mencari bantuan dan perlindungan dari raja-raja lain yang mau memusuhi Amir Ambyah sehingga terjadilah perang yang berkepanjangan.

Setelah tak ada lagi kerajaan yang perlu ditaklukkan, Amir Ambyah kembali ke Medinah dan bertemu Nabi Muhammad. Ketika Madinah diserang pasukan Medayin yang bersekutu dengan Raja Lakat dan Raja Jenggi, Amir Ambyah maju ke medan perang dangugur sebagai prajurit Allah.



Marmoyo & Jiweng

Dalang Wayang Golek Menak Kebumen

Ki Shindu Djotarjono (seorang Dalang Wayang Golek Kebumen) adalah sejarah kejayaan Wayang Golek didaerah Kebumen pada tahun 1950 hingga 1980-an. Cerita yang dipentaskan diambil dari kisah Menak, maka terkenal dengan nama Wayang Golek Menak khas Kebumen. Beliau belajar mendalang secara otodidak turun temurun dari orang tuanya, dengan melihat mendengar dan belajar sendiri tanpa ada pendidikan khusus. Beliau adalah keturunan dari dalang-dalang terdahulu.
  
Ki Shindu Djotardjono







Pementasan Wayang Golek Menak di Museum Wayang Jakarta

Ki Kuswanto Shindu adalah dalang wayang golek menak Kebumen, putra dari Ki Shindu Djotardjono.

Beliau seorang dalang sekaligus pembuat wayang golek. Sekitar tahun 80an beliau mengawali karirnya menjadi dalang, hingga sekarang ini beliau masih menekuni profesi tersebut, namun disamping itu beliau juga sebagai pembuat Wayang Golek Menak, Wayang Wahyu, Wayang Golek Jawa, dan yang baru-baru ini beliau menciptakan kreasi baru yaitu Wayang Golek Purwa.


Wayang Golek Purwo

Sumber: ChendyRock 

Senin, 22 Oktober 2018

Sum Borong Dua Penghargaan Sodoc 2018


Mon, 22 Oct 2018 - 00:00 WIB


PURBALINGGA - Film Sum garapan sutradara Firman Fajar Wiguna produksi Brankas Film SMA 2 Purbalingga memborong dua penghargaan sekaligus pada ajang Solo Documentary Film Festival (Sodoc) 2018. Selain film terbaik kategori pelajar, film berdurasi 15 menit ini juga mendapat film favorit penonton.
”Sempat tidak menyangka akan dapat penghargaan film terbaik, ditambah film favorit pula. Penghargaan ini tentu didedikasikan bagi para penyintas tragedi 65 yang tak pernah mendapat keadilan hingga saat ini,” ungkap Firman usai menerima Penghargaan pada Malam Penganugerahan di Gedung Kethoprak Balekambang, Surakarta, Sabtu (20/10).
Firman yang meneriman penghargaan sendiri mengaku berangkat ke Solo tanpa mengantongi izin pihak sekolah. Sebab film dokumenter pendek garapannya itu mengisahkan seorang penyintas 65. Sum berlatar tentang bekas aktivis Barisan Tani Indonesia (BTI).

Setelah menghuni penjara selama 13 tahun tanpa pengadilan, penyintas 65 yang bernama lengkap Suminah ini hidup dalam kesendirian. Hingga saat ini, ia terus menunggu berbaliknya realita zaman. Adapun ajang Sodoc 2018 diikuti 17 film dokumenter pelajar dari seluruh Indonesia.

Namun hanya empat film terseleksi yang masuk dalam nominasi.
Tiga juri kategori pelajar antara lain Jason Iskandar, Steve Pillar Setiabudi dan Tomy Taslim. Menurut Jason Iskandar, Sum sangat menarik dan langka karena menawarkan warna atau gaya baru film dokumenter pelajar tentang memori seseorang yang memaparkan ingatannya, kemudian ditangkap oleh pembuat film.
”Film ini bergaya dokumenter esai yang mengangkat isu penting di Indonesia, terlebih ketika dibahas oleh pelajar,” tutur juri yang aktif membuat dokumenter sejak masih pelajar. 
Sebelumnya, Sum juga sempat menyabet film dokumenter terbaik di ajang Festival Film Purbalingga (FFP) 2018 dan nominasi dokumenter pelajar di Festival Film Kawal Harta Negara (FFKHN) 2018.(K35-60)

Sumber: SuaraMerdeka 

Sabtu, 20 Oktober 2018

Makna Sakral Tari Gandrung yang Ditolak FPI di Banyuwangi


Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 20/10/2018 11:50 WIB

Tari gandrung di Banyuwangi. (Dok. Kemenpar)

Jakarta, CNN Indonesia -- Tari tradisional asal Banyuwangi, tari gandrung menjadi perbincangan setelah Front Pembela Islam (FPI) menolak keberadaan tarian daerah tersebut dalam acara Gandrung Sewu yang akan digelar Sabtu (20/10).

Padahal, seni tari gandrung itu sendiri sejatinya merupakan bentuk ungkapan syukur dari masyarakat agraris atau yang berlandaskan pertanian atas kesuburan atau pun hasil panen.

Acara Gandrung Sewu merupakan kegiatan tahunan yang dilakukan oleh Pemerintah Banyuwangi sebagai upaya mempromosikan kebudayaan dan mendongkrak pariwisata di daerah ujung timur pulau Jawa itu.

Acara itu diketahui sudah dilaksanakan tujuh kali di tempat yang sama, Pantai Boom Banyuwangi. Rencananya, sebanyak 1.300 penari akan menarikan lenggokan tari gandrung.
FPI setempat menilai bahwa menampilkan tarian tersebut di tengah kondisi Indonesia yang diterpa banyak bencana tidaklah elok. 
"Maksudnya adalah kami mengingatkan agar kita tidak diazab oleh Allah karena mengumbar kemaksiatan seperti itu. Kejadian bencana di Palu harus menjadi cermin bagi kita warga Banyuwangi," kata Ketua DPW FPI Banyuwangi H Agus Iskandar kepada media, Kamis (18/10) lalu.
Akademisi dan pengajar Seni Tari Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta, Nursilah menjabarkan kepada CNNIndonesia.com makna sesungguhnya dari seni tari yang ternyata sudah berlangsung sejak era sebelum agama hadir di Indonesia itu.
"Hampir semua seni pertunjukan di Asia atau dunia berasal dari ritual totem yaitu penghormatan kepada makhluk yang dianggap berpengaruh terhadap kehidupan manusia," kata Nursilah saat dihubungi, Jumat (19/10).
Nursilah menyebut totem inilah yang kerap dikenal masyarakat kini sebagai makhluk mitologi, seperti kuda bersayap atau ular berkaki. Mereka dianggap memiliki kekuatan melebihi manusia dan berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari.

[Gambas:Instagram]

Bentuk Syukur

Lambat laun, kepercayaan tersebut menimbulkan kesenian yang dibuat oleh masyarakat setempat secara bertahap sehingga menimbulkan pola atau gerakan atau karya tertentu, salah satunya ritual.

Ritual ini bukan hal yang sembarangan. Masyarakat zaman dulu memahami ketika kehidupan mereka tak seimbang, seperti adanya bencana atau kebutuhan primer yang tak tercukupi, ada hal yang tak beres.

Sehingga, kata Nursilah, masyarakat membuat totem itu menjadi target penghormatan dan memunculkan ritual, salah satunya tarian.

Dalam masyarakat yang hidup berlandaskan pertanian, muncul tarian untuk memberikan penghormatan dan syukur kepada Dewi Sri yang dianggap sebagai dewi kesuburan yang memberikan hasil panen kepada masyarakat.
"Bentuk tari kesuburan hampir seluruh dunia ada, semua belahan Bumi ada," kata Nursilah.

Salah satu dari ritual tersebut adalah tari gandrung yang kini menjadi perbincangan. Bila di Banyuwangi ucapan syukur dan penghormatan untuk Dewi Sri berupa tari gandrung, di daerah lainnya bisa dalam bentuk berbeda. "Kalau di Jawa Barat, itu [tari] ronggeng," kata Nursilah.

Nursilah menyebut kebudayaan ini menghadapi tantangannya sendiri kala agama masuk ke Nusantara.

Ia mengatakan kebudayaan ritual seperti tari gandrung mendapatkan kejayaan kala era agama Hindu-Budha yang memang memiliki kedekatan dengan kepercayaan terhadap dewa, ritual, mantra, dan sebagainya.

Ketika agama Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-13 Masehi, pandangan terhadap kebudayaan ini disebut Nursilah memang terpecah.

Ada pihak penyiar agama Islam yang masih memberikan ruang berkesenian namun disisipkan nilai juga materi agama Islam seperti yang dilakukan oleh kelompok Wali Songo di Jawa. Namun ada pula yang secara ekstrem menentang.


Awalnya Laki-laki

Nursilah kemudian menjelaskan bahwa pada awal abad ke-20 Masehi, penari tari gandrung mulai mengalami perubahan. Awalnya, tarian ini dimainkan oleh laki-laki karena sebagai bentuk ritual suci, perempuan memiliki momen biologis yang dinilai menghalangi mereka mengikuti ritual ini.
"Itu juga berlaku tidak hanya di tari gandrung. Itu bermula eranya Kerajaan Majapahit, hampir seluruh wanita ditabukan menari karena dianggap tidak etis. Awalnya bukan masalah etika, tetapi penari sebagai media upacara," kata Nursilah.
Namun ternyata tak selamanya kaum Adam bertahan pada tarian tersebut. Lambat laut, laki-laki tak lagi berminat untuk menampilkan tarian. Di sisi lain, muncul anggapan bahwa kaum perempuan lebih menarik untuk tampil menari.

Nursilah tak menampik tarian ini kemudian sempat terkena kesan negatif, yaitu sebagai sarana awal aktivitas prostitusi. Namun ia menyebut hal itu terjadi pada kesenian yang tujuannya untuk kesuburan, bukan hanya tari gandrung.

"Karena [tari gandrung] menarinya kan dari jam sembilan [malam] sampai empat subuh, kemudian penari dikelilingi laki-laki, dan ada gerakan-gerakan erotisme," kata Nursilah.
"Lalu setelah menari, para penari bisa diajak pergi. itu realita. Dan justru mereka ingin dapat penghasilan tambah dari kegiatan itu. Itu tidak jadi rahasia, semua orang tahu. Kondisinya begitu," lanjutnya.
Kini, tari gandrung lebih banyak dimainkan dalam kegiatan pariwisata dan dalam kegiatan-kegiatan tertentu di masyarakat, misalnya untuk acara pernikahan, sunatan, dan pemerintahan.

Tari gandrung disebut Nursilah masih akan ada di Banyuwangi. Bukan hanya karena karya dari masyarakatnya, namun tarian itu dibutuhkan. "Dilarang sekalipun mereka akan tetap cari regulasi untuk masih bisa jalan," kata Nursilah.



Tak Perlu Membasmi

Nursilah juga mengungkapkan pendapat dan keprihatinannya akan protes yang dilayangkan segolongan kelompok masyarakat, apalagi menganggap kesenian yang ditampilkan berkaitan dengan bencana yang terjadi di Indonesia.
"Sebetulnya enggak usah begitu, keberagaman itu enggak begitu. Wali Songo saja tidak membasmi, mereka malah pakai [kesenian] untuk syiar agama. Kan tinggal bagaimana cara menyampaikan," kata Nursilah.
Sebagai orang budaya, Nursilah menyampaikan keprihatinannya bahwa masyarakat dan budaya Indonesia yang beragam seolah 'dipaksa' untuk mengikuti satu paham tertentu.
"Budaya itu beserta konteksnya masing-masing, kalau budayanya mengekspresikan agama tertentu ya itu ekspresi budaya sesuai agamanya. Kalau memang tidak setuju, jangan lakukan, tapi juga jangan mengganggu orang yang melakukan," kata Nursilah. (tsy/end)

Sumber: CNN Indonesia

Kamis, 18 Oktober 2018

Ditolak Ormas Islam, Festival Gandrung Sewu 2018 Tetap Digelar

Kamis 18 Oktober 2018, 13:24 WIB | Ardian Fanani

Foto: Dok Kemenpar

Banyuwangi - Pemkab Banyuwangi memastikan tetap menggelar festival gandrung sewu 2018 meski mendapat penolakan dari Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Front Pembela Islam (FPI) Banyuwangi. Pemkab beralasan tari gandrung merupakan warisan seni dan budaya asli Banyuwangi yang saat ini sudah diakui dunia. 

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi Muhammad Yanuar Bramuda membantah bahwa Festival Gandrung Sewu yang melibatkan 1300 lebih penari gandrung itu adalah pertunjukan yang mengundang maksiat.

Bahkan tari gandrung ini telah resmi digunakan tarian ucapan selamat datang setiap ada kegiatan di Banyuwangi. Sehingga Festival Gandrung Sewu ini murni pertunjukan seni dan budaya yang setiap tahunya di laksanakan di Kabupaten Banyuwangi.


"Kita tidak bisa merubah itu, karena itu asalnya ada. Gandrung sewu adalah bahasa bagaimana mengenalkan gandrung lebih elegan ke dunia Internasional. Jadi gandrung yang sewu ini adalah murni tontonan, seni, dan penampilan. Makanya tidak ada unsur sebagaimana yang diisyaratkan oleh pakem-pakemnya gandrung di dalam budaya itu sendiri. Gandrung itu kan ada macam-macam, ada gandrung terop, ada seblang subuh macam- macam itu," kata Muhammad Yanuar Bramuda kepada detikcom, Senin (15/10/2018). 
Bramuda tetap menghargai adanya kritik berupa penolakan pelaksanaan Gandrung Sewu 2018. Namun diharapkan penolakan tersebut tetap tidak menghalangi terselenggaranya pagelaran gandrung sewu 2018 tersebut.

"Kami saling menghormati saja. Karena memang tidak ada kemaksiatan dalam Gandrung Sewu ini," pungkasnya.
Kegiatan Festival Gandrung Sewu sedianya digelar di Pantai Boom Banyuwangi, Sabtu (20/10/2018). Kegiatan ini sudah digelar 7 kali di tempat yang sama. Sebanyak 1300 penari akan menarikan Gandrung, tarian khas Banyuwangi. (iwd/iwd)

Sumber: NewsDetik 

Re-interpretasi "wahyu" Pancasila

  • Catatan dari Paguyuban Pengkhayat Kepercayaan “Masyarakat Pancasila”

TATA-RITUAL: Ketua Paguyuban Masyarakat Pancasila, Jasmin Suwito didampingi sekretaris paguyuban, Drs Sukiman; memimpin ritual "akad nikah" versi kearifan tradisional setempat. Pendokumentasian ritual ini digelar Selasa ( 16/10) di Desa Grenggeng, Karanganyar, Kebumen [Foto: ap]

Selain dikenal sebagai basis home-industry kerajinan berupa anyaman pandan, ternyata Desa Grenggeng di Karanganyar menyimpan potensi kearifan tradisional lain berupa kehidupan paguyuban masyarakat penganut kepercayaan yang dikenal dengan nama “Resi Sangga Buana”.

Dalam perkembangannya, komunitas tradisional yang saat ini memiliki penganut 96 orang, masih teguh mewarisi ajaran leluhur namun juga mampu berdialektika dengan perkembangan zaman; dan menyebut dirinya sebagai suatu organisasi pengkhayat Masyarakat Pancasila (Mapan).

Secara historis paguyuban pengkhayat kepercayaan ini sangat dekat dengan kisah mendiang presiden pertama RI; Soekarno. Paguyuban yang berdiri pada 1968 ini pada mulanya dipelopori oleh Ki Sanurtawi, Ki Wiryo Ngaliman dan Ki Sanmukmin. Ketiga orang tersebut dibimbing oleh seorang mudhafir dari Rembang bernama Ki Bagus Hadikusumo; kolega dekat Presiden Soekarno yang ngulandara ke pelosok daerah.

Menariknya, bagi komunitas tradisional ini menempatkan falsafah hidup Pancasila bukan sekedar secara tekstual, melainkan sebagai nilai-nilai warisan sejarah yang dijadikan dasar filosofis dalam konteks membangun sikap personal, sikap kolektif maupun dalam kehidupan bersamanya.

Nilai-nilai ketuhanan, gotong-royong dan musyawarah, dalam pandangan paguyuban pengkhayat Pancasila, sebagaimana tertera dalam rumusan pandangan organisasi ini dan narasi sejarahnya; merupakan bagian inti yang menyokong manifesto kelompok, berkaitan tentang pengkhayatan dan pengamalan Pancasila.

Memudarnya Toleransi

RITUAL: Tata-cara “Rukti Layon” (Merawat Jenasah_Red) secara tradisional diperagakan oleh Paguyuban Masyarakat Pancasila. Jasmin Suwito, Ketua paguyuban tradisi tengah menjelaskan tata-ritualnya [Foto: ap]

Ihwal maraknya kasus persekusi yang terjadi di banyak tempat dewasa ini menjadi keprihatinan tersendiri bagi komunitas Resi Sangga Buana.
Dalam rumusan manifestonya, Masyarakat Pancasila mempertimbangkan bahwa kesadaran masyarakat dewasa ini sudah mulai pudar dalam mengkhayati dan mengamalkan Pancasila sebagai landasan ideologi dan falsafah hidup bangsa.

Menyikapi fenomena bermasyarakat yang demikian, bagi paguyuban pengkhayat kepercayaan Masyarakat Pancasila yang berdiri sejak 1968 ini berpegang pada inti ajaran yang bersumber pada warisan nilai-nilai luhur yang menginspirasi ajaran tentang ketuhanan, ajaran tentang alam semesta dan ajaran tentang kemanusiaan. Yakni bahwa seluruh manusia adalah bagian dari ciptaan-Nya. Sehingga kemanusiaan ditempatkan pada derajat yang sama dan setara. Dengan demikian akan terbangun apa yang disebut sebagai toleransi atas sesamanya.

Menurut pewaris pendirian Paguyuban Masyarakat Pancasila sekaligus sesepuh “Resi Sangga Buana”, Jasmin Suwito (66), pihaknya mengimani keberadaan Tuhan sebagai Dzatullah, Sifatullah, Wujutullah dan Nurullah; sebagai sebuah ajaran luhur yang diwarisinya. Maknanya, tak ada tafsir interpretasi sesuatu kelompok manusia atas eksistensi Tuhan itu lebih benar ketimbang manusia lainnya. Dengan kata lain, ajaran ketuhanan itu universal sifatnya.

Lakon Wahyu Pancasila

WAYANG: Repertoar wayang kulit “Wahyu Pancasila” oleh Ki Dalang Langgeng Hidayat digelar Selasa (16/10) malam, pada acara “perekaman” tata-ritual paguyuban tradisi Masyarakat Pancasila (Mapan) di Grenggeng

Menurut Drs Sukiman, sekretaris paguyuban pengkhayat kepercayaan Paguyuban Masyarakat Pancasila “Resi Sangga Buana” yang pada Selasa (16/10) malam menggelar acara perekaman tata ritual “Akad Krama” (pernikahan_Red)  dan “Rukti Layon” (merawat jenasah_Red), pihaknya menolak sebutan “Resi Sangga Buana” sebagai agama.
“Resi Sangga Buana itu bukan lah suatu agama, melainkan ini hanya nama sebuah paguyuban”, jelas Sukiman dari atas panggung.
Malam itu, atas dukungan Kanwil Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, paguyuban Masyarakat Pancasila memang tengah menggelar repertoar wayang kulit dengan lakon “Wahyu Pancasila” yang dimainkan oleh Ki Dalang Langgeng Hidayat.

Lakon “Wahyu Pancasila” ini secara filosofis memang mengangkat kisah pertentangan kekuasaan dua negara yang memperebutkan keberadaan guru bangsa yakni Semar Sang Pamomong.

Bagi publik di Desa Grenggeng, Karanganyar, pembabaran repertoar “Wahyu Pancasila” ini memiliki korelasi dalam konteks membangun masyarakat pancasilais yang memiliki tiga karakter kekuatan: berketuhanan, bergotong-royong dan bermusyawarah [ap]

Rabu, 17 Oktober 2018

Karya dari Desa Berjaya di Festival Film tingkat Nasional

17 Oktober 2018 | 17.29 WIB 


KBRN, Cilacap :  Sejumlah film karya siswa-siswi peserta Praktek Kerja Industri (Prakerin) di Sangkanparan, Cilacap kembali meraih penghargaan di level Nasional.
Kali ini dalam Festival Film Kawal Harga Negara (FFKHN) 2018 yang penganugerahannya dilakukan di gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI) Jakarta, Selasa (16/10/2018) malam.

Dalam acara tersebut beberapa film karya anak didik Taman Belajar Multimedia Sangkanparan Cilacap yang masuk nominasi antara lain Kampung Gemplong karya Bayu Ragil Saputra (SMK N 1 Karanggayam, Kebumen ), Karst Gombong karya Franky Andre Permata (SMK Bina Karya 1 Karanganyar, Kebumen), dan Urut Sewu Bercerita karya Dewi Nur Aeni (SMK N 1 Kebumen) untuk film dokumenter pelajar.
Selanjutnya video berjudul Menunggu Realisasi karya Ade Irwanto dan Pelatihan Untuk Desa karya Adi Prayitno (SMK N 1 Karanggayam, Kebumen) masuk nominasi kategori Citizen Journalism kategori pelajar.
Selanjutnya dari penilaian dewan juri, video Citizen Journalism kategori pelajar diraih oleh Adi Prayitno (SMK N 1 Karannggayam, Kebumen) dengan video berjudul Pelatihan Untuk Desa.
Lainnya penghargaan Pitching Forum Kategori Dokumenter dimenangkan film berjudul Kereta Api Perintis karya M. Fadel Pratama (Aceh), sedangkan pemenang Pitching Forum kategori Fiksi adalah film Sepeda Tua, karya Nugroho Prasetyo (Telkom University).  
Dokumenter kategori pelajar dimenangkan film berjudul Kihung karya Muhammad Erwin (SMK N 5 Bandar Lampung) dan Fiksi kategori pelajar disabet film Tulak Balak karya Dhea Amelia Oktarina (SMK N 2 Pati, Jawa Tengah).
Citizen Journalism kategori umum/mahasiswa diraih video berjudul Miris Taman Kota di Sidrap Penuh Sampah karya Roedy Hartono (Sulawesi Selatan).
Dalam perhelatan FFKHN tahun kedua itu, dewan juri juga memberikan penghargaan khusus kepada 2 film yaitu film fiksi berjudul Paga Nagari karya Tri Hayatul Idha (Mayor Films), dan Film Dokumenter berjudul Berburu Rente Kebondalem karya Wildan Aji Saputra (Swadesi Institute).
Adi Prayitno yang saat itu hadir bersama pengelola Sangkanparan Insan Indah Pribadi mengungkapkan kebahagianya di podium.
Dengan nada yang bergetar ia membacakan sebuah catatan terimakasih yang ditujukan kepada BPK RI melalui kegiatan FFKHN ini.
“Semoga dengan adanya Festival ini, bisa menjadi ajang bagi kita untuk mengawal harta negara sampai ke desa-desa” ungkapnya terbata-bata disambut tawa dan tepuk tangan meriah pengunjung festival.
Insan Indah Pribadi dalam siaran persnya menyatakan di ajang tersebut, para pemenang mendapatkan hadiah berupa piala dan uang pembinaan sebesar Rp 10 juta, sedangkan kategori khusus para pemenang mendapatkan hadiah berupa piala dan uang pembinaan sebesar Rp 3 juta.
Kata Insan, kebahagiaan Adi Prayitno semakin lengkap dengan kehadiran orang tuanya yang tiba-tiba hadir di lokasi festival.
“Ayah Adi yang telah lama bekerja di Bekasi, dan dia hadir bersama ibunya. Tentu saja momen  mengharukan ini diabadikan oleh Adi untuk foto-foto bersama orang tuanya” pungkas Insan. (Sandy)
Sumber: RRI Purwokerto 

Senin, 15 Oktober 2018

Ketika Ebeg, Teater dan Film Bersatu di Alun-alun