Mon, 22 Oct 2018 - 00:00 WIB
PURBALINGGA - Film Sum garapan sutradara Firman
Fajar Wiguna produksi Brankas Film SMA 2 Purbalingga memborong dua penghargaan
sekaligus pada ajang Solo Documentary Film Festival (Sodoc) 2018. Selain film
terbaik kategori pelajar, film berdurasi 15 menit ini juga mendapat film
favorit penonton.
”Sempat tidak menyangka akan dapat penghargaan film terbaik, ditambah film favorit pula. Penghargaan ini tentu didedikasikan bagi para penyintas tragedi 65 yang tak pernah mendapat keadilan hingga saat ini,” ungkap Firman usai menerima Penghargaan pada Malam Penganugerahan di Gedung Kethoprak Balekambang, Surakarta, Sabtu (20/10).
Firman yang meneriman penghargaan sendiri mengaku
berangkat ke Solo tanpa mengantongi izin pihak sekolah. Sebab film dokumenter
pendek garapannya itu mengisahkan seorang penyintas 65. Sum berlatar tentang
bekas aktivis Barisan Tani Indonesia (BTI).
Setelah menghuni penjara selama 13 tahun tanpa
pengadilan, penyintas 65 yang bernama lengkap Suminah ini hidup dalam
kesendirian. Hingga saat ini, ia terus menunggu berbaliknya realita zaman.
Adapun ajang Sodoc 2018 diikuti 17 film dokumenter pelajar dari seluruh
Indonesia.
Namun hanya empat film terseleksi yang masuk dalam
nominasi.
Tiga juri kategori pelajar antara lain Jason Iskandar,
Steve Pillar Setiabudi dan Tomy Taslim. Menurut Jason Iskandar, Sum sangat
menarik dan langka karena menawarkan warna atau gaya baru film dokumenter
pelajar tentang memori seseorang yang memaparkan ingatannya, kemudian ditangkap
oleh pembuat film.
”Film ini bergaya dokumenter esai yang mengangkat isu penting di Indonesia, terlebih ketika dibahas oleh pelajar,” tutur juri yang aktif membuat dokumenter sejak masih pelajar.
Sebelumnya, Sum juga sempat
menyabet film dokumenter terbaik di ajang Festival Film Purbalingga (FFP) 2018
dan nominasi dokumenter pelajar di Festival Film Kawal Harta Negara (FFKHN)
2018.(K35-60)
Sumber: SuaraMerdeka








0 komentar:
Posting Komentar