Kamis, 22 September 2016

Harry Roesli, Diskusi Seni Kontroversi

oleh Harsya Wahono | 22 September 2016




Harry Roesli adalah sebuah nama yang abadi di dalam sejarah seni Indonesia modern. Ia lahir dengan nama lengkap Djauhar Zaharsjah Fachruddin Roesli di Bandung pada 10 September 1951. Semenjak ia meninggal pada 11 Desember 2004, ranah musik tanah air seakan kehilangan pahlawannya. 

Harry Roesli meninggalkan sebuah lubang yang masih menunggu untuk diisi oleh generasi mendatang. Kemahiran artistik dan intelektual yang disajikan dengan nuansa satir menjadi ujung tombak karirnya yang bergema selama berpuluh-puluh tahun. Sampai akhir hayatnya, Harry Roesli terus menebarkan faham bahwa musik dia adalah suatu karya seni yang inklusif—menyangkal pendapat umum bahwa karya-karyanya adalah seni yang ‘tinggi’ dan serba intelek. Audiens yang beragam dan pandangan yang berbeda-beda telah dijembatani oleh Harry Roesli dari tahun ke tahun dalam semangat keadilan sosial. 
 
KONTROVERSI merupakan sebuah kata yang kerap diasosiasikan dengan Harry Roesli. Di mata masyarakat, kata ini umum ditempatkan dalam konotasi negatif karena sering diartikan sebagai pertentangan, perlawanan dan perdebatan. Kalau dilihat lebih dalam, perdebatan itu tidak mesti negatif. Perdebatan itu memicu diskusi dan pertukaran pikiran. Beliau percaya bahwa, ruang dan keterbukaan untuk kritik itu mesti ada di dalam masyarakat. 

Semangat tersebut tampak dari salah satu karya nya yang paling ikonik, yakni ‘Malaria’ dari album The Gang of Harry Roesli (1972). Lagu ini masuk di peringkat nomor 44 majalah Rolling Stone Indonesia sebagai salah satu lagu Indonesia terbaik sepanjang masa. Melalui lagu ini, Harry Roesli memanggil masyarakat untuk sadar akan kekuatan yang ada di dalam diri kita masing-masing. Lirik di chorus dan ending nya, “Apakah kau hanya seekor monyet yang hanya dapat bergaya, kosong sudah hidup ini bila kau hanya bicara… lanjutkan saja hidup ini sebagai nyamuk malaria”  bisa dianggap sebagai sindiran kepada ketidakpedulian orang Indonesia tentang permasalahan yang ada di sekitar mereka. 

Kita tahu bahwa kata-kata keluhan seringkali keluar dari mulut masyarakat, tapi hanya sebagian yang berkeinginan dan berani melakukan sesuatu untuk merubahnya. Kang Harry, sebagaimana ia akrab dipanggil, bosan dengan itu. Ia lebih percaya bahwa tindakan menuju keadilan sosial mesti ditanam di semua orang, terutama generasi muda. Dalam lagu Malaria ia menyiratkan bahwa, walaupun tampak kecil, seekor nyamuk bisa menyebabkan penyakit yang mematikan. Begitulah metafor yang ia persembahkan untuk generasi muda Indonesia. Setelah kesadaran dan keberanian muncul di dalam diri, tentunya hal-hal hebat bisa dicapai. Contoh kecil ini adalah contoh bahwa bahkan di permulaan karirnya, Harry Roesli telah memegang kedudukan yang tegas terhadap kritik sosial. Tajam, pedas dan mendidik. 

Lirik yang tidak lazim, dan—menurut sebagian masyarakat—nakal, menjadi ciri khas yang ditetapkan oleh beliau semenjak album perdananya bersama The Gang of Harry Roesli, Philosophy Gang (1973). Melalui pendekatan yang kemudian menjadi ciri khasnya ini, ia berhasil mencerminkan situasi sosial—manis maupun pahit—di dalam karya-karyanya. Harry Roesli tidak pernah takut untuk menafsirkan dan menginterpretasi ulang suatu kisah dengan kacamatanya sendiri.

Terbukti, pada 1977, ia melakukannya pada opera Ken Arok. 
Kisah bersejarah penggulingan tahta ini dikemas dengan jamuan bahasa kontemporer dan aransemen musik yang memadukan alat musik tradisional dengan alat musik modern—suatu hal yang belum begitu dilakukan pada jaman itu. Pada 2005 ia juga tak segan untuk merombak lirik lagu nasional Garuda Pancasila—“Aku lelah mendukungmu. Sejak Proklamasi, aku selalu berkorban untukmu’. Keberanian ini pun telah beberapa kali mengundang perhatian pemerintah untuk membendung gejolak kreativitas beliau. Salah satu yang juga kena berangus adalah kolaborasinya bersama grup Teater Koma. 

Kejadian tersebut terjadi pada saat Teater Koma menggelar ulang Opera Kecoa pada 1990, banyak wartawan internasional berkunjung ke Gedung Kesenian Jakarta untuk menyaksikannya—juga dalam rangka pementasan lakon ini di beberapa kota di Jepang. Karena konten yang dianggap subversif, polisi akhirnya membarikade pintu masuk ke GKJ, melarang para penonton dan wartawan untuk masuk. Protes kepada DPR tidak diacuhkan dan pementasan tetap dilarang untuk diselenggarakan di Jepang. Semangat Kang Harry pun tetap gigih, ia berkata, “Tidak melakukan kegiatan teater, sama artinya dengan tidak mempedulikan ketidakadilan dan ketimpangan sosial yang terus terjadi di depan mata. Daripada diam, lebih baik melakukan sesuatu, meskipun tidak ada yang mau melihat dan mendengar.” 

Terkadang, kontroversi memang dibutuhkan sebagai kunci pintu masuk kesadaran di masyarakat. Nama panggilan Si Bengal Bandung pun sampai diperolehnya. Walaupun bisa dihujat, dicerca, bahkan diasingkan, keutuhan ekspresi mesti dipelihara—tentunya tetap dengan menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Harry Roesli percaya bahwa keutuhan ekspresi—suatu hal yang mati-matian dibelanya—bisa membuahkan anak bangsa yang lebih berkualitas dalam pemikiran dan pembaktian kepada negara dan kepada sesama manusia.
 
SEBAGAIMANA seniman-seniman hebat dunia lainnya, ia telah membuahkan karya-karya yang ikonik, kuat, dan tentunya, konsisten. Dari Ken Arok (1977), LTO (1978), Titik Api (1976), hingga Musik Sikat Gigi (1982), gaya musikal yang bervariasi dan konsep yang kuat selalu konsisten Harry Roesli suguhkan. Dunia mungkin masih kurang memberikan ia penghargaan dan pengakuan atas prestasinya. Namun di tanah air, nama Harry Roesli amat harum sebagai seorang seniman legendaris.  

Pada bacaan tertentu, mungkin tingkat kreativitas dan artistik Harry Roesli bisa dianggap sejajar dengan tokoh-tokoh, seperti Peter Gabriel, Iannis Xennakis dan Frank Zappa—salah satu artis favorit beliau. Suatu ciri yang bisa ditemukan diantara mereka adalah ‘keusilan’ dan eksperimentasi berkarya untuk menghasilkan sesuatu yang relevan dan uncomprimising. Totalitas dan kebulatan tekad Kang Harry perlu menjadi teladan bagi generasi muda Indonesia. Ia menggugah dan mendobrak pemikiran para pendengarnya tanpa lupa bahwa musik itu pada umumnya tetap berfungsi sebagai hiburan. Harry Roesli telah membuat audiensnya tertawa, tersentuh, tercengang, dan bahkan menangis. Seni untuk rakyat, tak hanya semata seni untuk seni. 



Daftar Referensi
Riantiarno, Norbertus. 2005. Harry Roesli Tidak Mati. Diakses darihttp://www.teaterkoma.org/index.php/catatan-nr-58/74-harry-roesli-tidak-mati.  
Gunawan, Iwan. 2008. Harry Roesli. Diakses darihttps://onesgamelan.wordpress.com/2008/12/17/128/.  
Junaidi, A. 2008. Remy Sylado: Bringing Social Issues on Stage. Diakses darihttp://www.thejakartapost.com/news/2008/03/27/remy-sylado-bringing-social-issues-stage.html.   
Rolling Stone Indonesia. 2013. Mengenang Si Biang Bengal Bandung, Harry Roesli. Diakses darihttp://www.rollingstone.co.id/article/read/2013/09/10/2354950/1294/mengenang-si-biang-bengal-bandung-harry-roesli.  
Simatupang, Jemie. 2015. Harry Roesli, Ken Arok, dan Oposisi. Diakses dari http://www.kompasiana.com/jemiesimatupang/harry-roesli-ken-arok-dan-oposisi_54ffcf26a33311766850fa23.  
Uyoh. Harry Roesli Sosok Yang Sangat Menginspirasi. Diakses dari http://infobandung.co.id/harry-roesli-sosok-pengajarmusisi-sekaligus-seniman-yang-sangat-menginspirasi/.  
Sakrie, Denny. 2004. Harry Roesli, Musik Kontemporer Indonesia. Diakses dari http://pandoe.rumahseni2.net/biografi/harry-roesli-musik-kontemporer-indonesia/   
Setiyardi. 2009. Harry Roesli: “Rakyat Cuma Dikibulin Elite Politik”. Diakses dari https://setiyardi.wordpress.com/2009/04/07/harry-roesli-rakyat-cuma-dikibulin-elite-politik/  
News Musik. 2014. Workshop Informal Siapa Sih Harry Roesli. Diakses darihttp://www.newsmusik.co/exclusive/exclusive-story/item/282-workshop-informal-siapa-sih-harry-roesli   

Source: Jurnal Ruang 

0 komentar:

Posting Komentar