Ketoprak Dangsak

Pentas Ketoprak Dangsak "Reksa Mustika Bumi" kolaborasi Cepetan Alas dengan Ketoprak. Pentas ini digelar DKD Kebumendi PRPP Jateng [Foto:AP]

Lengger Banyumasan

Pementasan seni tradisi lengger dari Dariah; tokoh legendaris"Lengger Banyumasan"

Suro Bulus, Parodi Satire Ketoprak Rakyat

Lakon carangan "Suro Bulus" yang merupakan manifestasi perlawanan masyarakat tradisi terhadap kejahatan korporasi tambang

DRAS SUMUNAR, Tetet Srie WD

Pagelaran "Serat Dras Sumunar" karya Tetet Srie WD di Roemah Martha Tilaar Gombong

Dewa Ruci

Pentas wayang dengan lakon "Dewa Ruci" dalam Festival Dalang Anak di Banjarnegara. Tiga dari empat dalang cilik Kebumen sabet juara [Foto:AP]

Minggu, 15 Januari 2017

Dariah, Legenda hidup Lengger Lanang Banyumasan

Oleh: Uwin Chandra


Sampur berwarna merah yang terlipat rapi dalam kantung plastik putih perlahan dibentangkan. Genggaman tangan kulit berkeriput itu sigap memutarkan sampur dari bahu kiri hingga kanan. Tanpa alunan calung dan tembang, ia menari sambil sesekali menganggukan kepala dan melebarkan lengannya menunjukan lentik jemari.

Meski usianya tak lagi muda, goyangan pinggul dan langkah kakinya masih menunjukkan sisa kemahirannya menari lengger saat masa jayanya diantara pertengahan Tahun 1940-an sampai 1965-an. Dariah, begitu namanya dikenal penduduk Desa Plana dan Somakaton yang bertetanggan di Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas.

Kesan pertama, mungkin tak ada yang mengira jika Dariah merupakan sosok laki-laki. Sewaktu lahir, sekitar Tahun 1928, Dariyah diberikan nama oleh orang tuanya, Sadam. Namun perjalanannya sebagai sosok laki-laki berubah selepas akil balik. Dariah yang hobi menari dan menyanyikan tembang Jawa semasa kecil merasakan pergolakan batin yang kuat dalam dirinya.

Dariah, bagi masyarakat seni di Banyumas dan sekitarnya bukanlah nama asing. Dia dikenal sebagai lengger lanang yang mengalami tiga generasi penanda era perubahan dalam negara Indonesia. Dalam ingatannya, Dariah mulai menjadi lengger sejak zaman Jepang masuk ke Indonesia.

"Pas zaman Jepang ya wis ngelengger," ucapnya dalam bahasa banyumasan yang dipakainya dalam berkomunikasi sehari-hari.

Kemolekan dan kecantikan Dariah pun dikenal dari kalangan pejabat hingga rakyat jelata. Banyak pejabat yang tergila-gila ketika Dariah mentas. Pesonanya yang luar biasa, pun terbawa hingga kehidupan sehari-harinya. "Zaman gemiyen ya ben wengi akeh sing nginep nang omahku," tutur Dariah yang masih berusaha keras mengingat kejayaan masa silamnya.

Pengalamannya menjadi lengger, bukanlah sembarang laku seperti yang dilakukan lengger pada umumnya. Pengamat seni banyumasan, Yusmanto, mengemukakan, Lengger Dariah sangat berbeda dari lengger lainnya.

Ia menjelaskan, sebelum menjadi lengger banyak orang melakukan ritual untuk menambah pamor dan auranya. "Tetapi Dariah tidak, ia menjadi lengger sudah seperti laku hidup," ujarnya.

Kisah Dariah dimulai dari rumahnya yang kedatangan pengembara, saat itu ia tinggal bersama kakek. Saat itu, kakeknya diberitahu, Dariah yang bernama asli Sadam, memiliki indang lengger. Gelisah tak menentu, membuat Dariah yang menginjak remaja pergi berjalan. Perjalanan dilakukan dengan berjalan kaki, hingga pada suatu hari ia berada di petilasan Panembahan Ronggeng yang berada di Kecamatan Sumbang Banyumas.

"Pas kae arep bali meng omah, aku tuku gelung karo kain nang Purwakerta. Nang omah, aku cerita arep dadi lengger. (Waktu itu dalam perjalanan kembali ke rumah, saya beli sanggul dan kain di Purwokerto. Setiba di rumah, saya cerita kalau saya ingin jadi lengger)," ujar Dariah yang menyukai inang di masa senjanya.




Tawaran manggung perlahan mengalir dari berbagai daerah. Ia mengaku memasang tarif yang cukup tinggi saat itu. Dengan pasang harga yang cukup tinggi, ia makin bersinar di masyarakat. Kala itu, tidak banyak yang mencibir karena memiliki lengger lanang dalam kepercayaan masyarakat agraris di Banyumas perlambang kemakmuran.

"Kalau pun ada yang iri mungkin hanya saingannya dari lengger lainnya yang perempuan. Bahkan, saking banyaknya lelaki yang tergila-gila membuat Dariah dicemburui para istri," kata Atmo Sumitro, pegiat seni calung banyumasan di Desa Plana yang berdekatan dengan Desa Somakaton.

Atmo mengingat kejayaan Dariah dimulai sekitar pertengahan tahun 1950-an. Saat ia masih anak-anak. "Saya tahu persis Dariah, karena dia dulu tinggal bersama dengan keluarga bapak di rumah. Setiap hari, dia selalu berdandan seperti perempuan tetapi kami tidak merasa risih," katanya dalam bahasa Indonesia bercengkok ngapak.

Meski banyak bermunculan lengger-lengger perempuan yang berasal dari tetangga desa, Dariah kala itu menjadi primadona kesenian Lengger Banyumasan. "Persaingan antara penari lengger perempuan dengan Dariah tidak begitu nampak. Tetapi sepertinya memang ada, namun 'perseteruan' secara batin," jelas Atmo sembari menghisap rokok kreteknya. 

Bahkan pesona Dariah mampu membangkitkan hasrat kaum laki-laki yang melihatnya. Pemuda yang tergila-gila kepadanya pun berasal dai berbagai kalangan, orang berduit, pejabat desa hingga warga biasa.

"Dulu banyak sekali laki-laki yang menginap di rumahnya, bahkan sampai dibuat jadwal menginap. Soalnya zaman itu saya akui, Dariah sangat cantik. Bahkan banyak laki-laki yang menghabiskan hartanya hanya untuk sekedar bersama Dariah," kata Atmo.

Bukti kecantikan Dariah hingga kini pun masih nampak jelas dari garis muka yang masih menunjukan auranya. Bagi Dariah, kedatangan laki-laki untuk menginap di rumahnya diladeninya dengan baik. "Kalau menginap, biasanya kami tidur tidak dalam satu kamar dan mereka tahu kalau saya juga laki-laki," kata Dariah yang gemar menginang sirih.



Kenyataan itu diakui pula oleh Mukyani (80), penggemar berat Dariah yang ditemui beberapa waktu silam di rumahnya yang berada di Desa Somakaton. Mukyani mengaku sangat tergila-gila dengan Dariah saat mentas dipanggung. Diakuinya, ia pernah menginap setiap malam di rumah Dariah.

"Dariah kuwe maen temen. Apa baen sing dipengeni Dariah tak turuti ben iso turu nang omahe (Dariah itu sangat menarik. Apa saja yang Dariah inginkan, akan saya turuti supaya bisa bersama Dariah)," kata Mukyani yang mengaku pernah menjual sapi hanya untuk menuruti permintaan Dariah, yang ditemui beberapa waktu silam di rumahnya.

Bahkan, Mukyani mengaku hingga hari ini tidak bisa menyembunyikan kekagumannya kepada Dariah. Namun, masa kejayaan Dariah berangsur menurun saat meletusnya peristiwa 1965. Saat itu, banyak kesenian tradisional yang tiarap karena kecurigaan militer terhadap bentuk kesenian rakyat yang dicurigai menjadi bagian penyebaran paham komunisme.

Perlahan dan pasti, nama Dariah mulai surut dalam seni lengger. Ia kemudian beralih mengikuti kesenian tradisional lainnya seperti ketoprak. Tetapi, itu tidak bisa bertahan lama. Akhirnya, ia menjalani pekerjaan menjadi dukun manten hingga masa tuanya.

Pengabdian Dariah menjadi pelestari lengger, mengantarnya mendapatkan penghargaan Maestro Kesenian Tradisional untuk seni lengger Tahun 2011 dari Jero Wacik yang saat itu menjadi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata.

Persepsi masyarakat Banyumas selama ini kerap menyambut Lengger Lanang sebagai hiburan tradisional yang menarik tanpa tendensi apa pun. Tak ada prasangka atau pandangan negatif yang membuat penari Lengger Lanang menjadi stereotype dalam lingkungan masyarakatnya.




Seni Populer

 
Budayawan Banyumas, Ahmad Tohari mengatakan lengger pada dasarnya adalah seni populer yang telah lama hidup dalam masyarakat agraris di Banyumas. Budaya Banyumas sebenarnya berorientasi pada kesenian rakyat yang rancak dan sederhana karena termasuk dalam perangkat kebudayaan massa yang berbeda dengan kesenian keraton.

Sebagai hiburan, lengger memang disenangi banyak penduduk. Selain hiburan, lengger juga menjadi bagian dalam ritual masyarakat agraris. "Lengger menjadi media ritual yang melambangkan dewi kesuburan dalam budaya masyarakat agraris," jelasnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Ahmad Tohari menceritakan, zaman dahulu setiap desa di Banyumas memiliki Lengger Lanang yang menjadi simbol kesuburan. "Di desa saya (Tinggarjaya Kecamatan Jatilawang Banyumas) juga ada Lengger Lanang. Bahkan, kondisi ini terrekam dalam buku 'History of Java'," ujarnya.

Dalam "History Of Java", Sir Thomas Raffles menyebutkan berbagai kesenian yang tersebar di Pulau Jawa. Lengger menjadi salah satu kesenian yang menurut Raffles tak jauh berbeda dengan Ronggeng, Tayub dan beberapa jenis kesenian rakyat lainnya.

Meski begitu, Ahmad Tohari menarik garis tegas perbedaan antara lengger yang diperankan laki-laki dan ronggeng yang diperankan perempuan. Penegasan tersebut juga dikemukakan Atmo Sumitro yang mengisyaratkan lengger sebagai dua paduan kata dari bahasa banyumasan.

"Lengger itu berasal dari kata 'leng' yang berarti lubang dan 'jengger' yang berarti mahkota pada ayam jago," ungkapnya.


 
Penerimaan yang apik dari masyarakat Banyumas membuat kesenian ini mampu menembus batas gender dalam tatanan masyarakat pada umumnya. Seniman tari, Didi Nini Thowok mengungkapkan lengger lanang merupakan salah satu kesenian yang bernilai tinggi, jika dipandang dalam kajian seni di dunia.

"Seni tradisi 'cross gender' yang sering saya lakukan itu sebenarnya seni yang sangat serius. Sewaktu saya mempunyai kesempatan belajar di Jepang, banyak seniman negara lain seperti Cina dan India, heran melihat penampilan saya membawakan seni 'cross gender' dibawakan komedi," ujarnya di Padepokan Payung Agung Desa Banjarsari Nusawungu Cilacap, beberapa waktu silam.

Setelah dijelaskan Didi, seniman dari beberapa negara tersebut memahami akar tradisi kebudayaan Indonesia. Seni tradisi "cross gender" di Indonesia sebenarnya tradisi yang sudah lama mengakar sekitar abad 18.

"Dalam Serat Centini, banyak dibahas seni seperti ini (cross gender) dalam kesenian keratin yang memeluk Islam, sehingga tak heran jika saat itu peran-peran sebagai perempuan dalam kesenian dimainkan laki-laki," ujarnya.

Peran tersebut dilakukan untuk mengikuti aturan yang melarang adanya sentuhan selain muhrimnya. Bahkan, perempuan dalam kesenian saat itu dianggap tabu. "Namun generasi ini terputus sekitar abad 20. Jadi kesenian 'cross gender' seperti lengger merupakan sejarah dan ini tertulis, tidak asal-asalan," paparnya.



Penerus Lengger

Lebih jauh, Didi berharap penerus lengger lanang saat ini bisa serius dalam memperdalam kesenian tradisional tersebut. Salah satu penari lengger lanang asal Kelurahan Sumampir Purwokerto, Rudi Lukmanto mengaku keinginan menari lengger sudah dimulai sejak kecil, saat sering melihat pertunjukan lengger.

"Akhirnya niat itu baru terlaksana beberapa tahun lalu. Sekarang saya menggantungkan hidup melalui lengger," papar pria yang aktif dalam Sanggar Kesenian Lengger Gita Budaya Desa Bantarwuni Kecamatan Kembaran Banyumas.

Bagi Rudi, menari lengger bukan hanya sekedar lenggak-lenggok dan tebar pesona diatas panggung. Tetapi menari lengger merupakan ungkapan jiwa dan perasaan. "Kalau dibilang, saya memang menari dari hati, sama seperti yang dilakukan Mbok Dariah," ujar bapak satu anak ini.

Warna-warni panggung lengger yang dialami Rudi tak jauh berbeda dengan pengalaman Dariah, godaan dari kaum adam dan hawa pun sering diterimanya.


"Memang banyak penonton laki-laki dan perempuan yang terpesona, tetapi mereka juga tahu kalau saya laki-laki, jadinya tidak masalah. Bahkan, masyarakat Banyumas sampai kini masih menerima kami dengan baik," kata Rudi.


Keberadaan Dariah, sebagai sesepuh kesenian lengger di Eks-Karesidenan Banyumas, menjadi inspirasi bagi Rudi. "Saya belajar banyak dari Mbok Dariah dan saya sudah menganggapnya sebagai guru," katanya.

Dariah juga menginspirasi penari lengger perempuan di Eks Karesidenan Banyumas. Pelatih tari Sanggar Sekar Santi, Sri Multiyah Susanti mengakui, banyak mengeksplorasi gerak lengger dari Dariah. Bahkan, tembang "Sapanyana" yang diciptakan Dariah menjadi lagu wajib yang ditembangkan dalam pertunjukan lengger di Banyumas Raya, selain Ricik-Ricik, Sekar Gadung dan Eling-Eling".

"Mbok Dariyah menjadi inspirasi bagi semua penari lengger di Eks Karesidenan Banyumas, bahkan tembang ‘Sapanyana’ menjadi sangat populer di kalangan penari lengger," katanya.

Bahkan saat mengunjungi ke rumahnya, tembang Sapanyana menjadi hiburan wajib bagi para tamu Dariah untuk dinyanyikan sebagai bentuk apresiasinya.


“Sapanyana, Sapanyana
 krungu lagu banyumasan
 Wiwit kuna wis ana
 lagune ra.. lagune ra… sapiraha
 wiwit kuna wis ana
 saking joget ora kerasa
 Egat, egot egat egot
 Jebule kaya wong gila”

Tembang "Sapanyana" yang melegenda itu pun kerap mengiringi Dariah saat sesekali tampil di panggungnya dengan iringan calung banyumasan. Semangat lenggernya pun masih terasa kuat, saat melantunkan tembang Sapanyana yang mengingatkan kembali tentang tanah kelahiran dan kecintaan terhadap kesenian banyumasan.


http://c.uctalks.ucweb.com/detail/e65e00b951c845ae972ebd567a626f51?uc_param_str=dnvebichfrmintcpwidsudsvnwpflameefut&stat_entry=personal

 


Senin, 02 Januari 2017

Resensi | Konstruksi Puitik dalam Filem Istirahatlah Kata-Kata

02 Jan 2017 |  Penulis: Manshur Zikri*


“Memang banyak yang takkan kembali lagi. Bukan hanya benda-benda,
juga anggapan-anggapan, dan waktu.”
[1]

Istirahatlah Kata-Kata (atau Solo, Solitude., 2016) adalah suatu kabar gembira bagi sinema negeri ini, karena ia turut meringankan kebegahan kita terhadap karya-karya fiksi yang kehilangan perbendaharaan bahasa sinematik. Rilis pertama kali pada Agustus, 2016, di Locarno International Film Festival ke-69, karya Yosep Anggi Noen ini telah mendapatkan penghargaan untuk kategori “Apresiasi Film Panjang Non Bioskop” dari Apresiasi Film Indonesia tahun 2016—suatu kategori penghargaan yang aneh dan ironis, mengingat bahwa rencananya, filem ini akan beredar di layar-layar bioskop dalam negeri pada 19 Januari, 2017.[2] Filem tersebut juga telah tayang, antara lain, di 11th Jogja-NETPAC Asian Film Festival – ISLANDSCAPE, Yogyakarta (dan memenangkan Golden Hanoman Award); di 21st Busan International Film Festival, Busan, Korea Selatan; dan di Pacific Meridian – International Film Festival of the Asian-Pacific region 2016, Vladivostok, Rusia.
Screenshot dari filem Istirahatlah Kata-Kata (2016) karya Yosep Anggi Noen.
Berlatar tahun 1996, Istirahatlah Kata-Kata mengisahkan kehidupan Wiji Thukul—bernama asli Widji Widodo, salah seorang dari 13 aktivis ’98 yang masih dinyatakan hilang—ketika menghindari penangkapan dirinya setelah ada kabar bahwa ia dan beberapa aktivis masuk dalam daftar buronan militer. Meninggalkan istri dan anak-anaknya di Solo, Wiji Thukul dibantu oleh beberapa temannya untuk lari ke luar kota untuk menyamarkan identitas. Sutradara mengembangkan garis besar cerita itu dengan mengimajinasikan situasi dan kondisi yang dialami Wiji Thukul selama berada di Pontianak hingga ia kembali lagi ke Solo, menemui istri dan kedua anaknya.
Cerita ini terasa jelas dibuat bukan sebagai penggalan kisah heroik si penyair, pejuang demokrasi, itu. Wiji Thukul tidak dikultuskan di dalam filem. Anggie Noen mengemasnya sebagai daya empati untuk memahami sisi kemanusiaan seseorang dalam memerangi penindasan yang dilakukan Rezim Orba, bahwa keteguhan hati dan sikap keras itu tak luput dari kecemasan, ketegangan, dan risiko, baik personal maupun sosial. Interpretasi Anggie Noen terhadap puisi-puisi Wiji Thukul mengarah pada bagaimana kita dapat membayangkan (lantas memahami) pengalaman si penyair atas gejala-gejala yang ada saat ia menuliskan dan melafalkan perlawanannya lewat kata-kata. Karena filem ini adalah fiksi dan bukan “filem sejarah”, yang menjadi pokok perhatian kita tentunya bukan lagi pada keakuratan naratif mengenai biografi Wiji Thukul, tetapi pada “konstruksi visual yang bagaimana” yang mampu mengalih-bentukkan sekian fakta-fakta umum terkait Wiji Thukul—yang sangat sedikit dan terbatas itu—menjadi konstruksi sinema yang puitik.
Menyebut nama Yosep Anggie Noen, kita perlu menggarisbawahi pengetahuannya yang baik dalam menerapkan metode sinematik untuk menyajikan “realitas objektif”. Artinya, pada tangkapan-tangkapan visualnya, gagasan secara objektif dikandung oleh image itu sendiri sehingga memungkinkan sinema untuk tidak meng-impose[3] interpretasi peristiwanya pada penonton lewat suatu order (‘perintah’ dan ‘susunan’ gambar). Realitas objektif justru membuka peluang bagi penciptaan hubungan yang lebih dekat, dari pikiran penonton ke image. Meskipun, tak dapat dipungkiri, tetap menggunakan manipulasi editing dalam satu shot, filem Genre Sub Genre (2014) adalah contoh lain dari karya Anggi Noen yang menunjukkan kecenderungan ini. Bidikan Anggi Noen mengundang pengamatan mendalam si penonton terhadap realitas (peristiwa) di dalam frame. Dalam hal ini, ia telah beranjak dari “ego subjektif sinema” yang memaksakan makna absolut kepada penonton—ego tipikal yang dapat kita pahami justru diamini oleh metode penyusunan gambar dalam “tradisi montase” a la Rusia dan Hollywood.
Screenshot dari filem Istirahatlah Kata-Kata (2016) karya Yosep Anggi Noen
_____
Hentakan semacam itu pun sudah terasa sejak cerita dalam Istirahatlah Kata-Kata dibuka. Merayu anak kecil (Fitri, anak Wiji Thukul, diperankan oleh Putri Fathiya) yang bersandar di pelukan ibunya (Sipon, istri Wiji Thukul, diperankan oleh Marissa Anita), seorang laki-laki (anggota intelijen, diperankan oleh Rukman Rosadi) berusaha mengorek keterangan soal keberadaan Wiji Thukul (diperankan oleh Gunawan Maryanto) sambil makan lemper. Adegan itu dilatari oleh peristiwa penggeledahan buku—tentu saja background adegan ini menjadi penting untuk menegaskan konteks yang melatarbelakangi kisah aktivis seperti Wiji Thukul. Kamera memang tidak bisa melihat semuanya sekaligus, tetapi dapat memastikan untuk tidak kehilangan setiap bagian dari apa yang dipilihnya untuk dilihat.[4] Terutama, jika kita menyadari signifikansi lemper yang meruntuhkan stereotipe tentang militer—yang biasanya lekat dengan rokok dan kopi—yang biasa terekam dalam filem-filem dengan tema yang sama. Ini layak dicatat sebagai suatu temuan baru dalam gaya ungkap sinema kita, Anggi Noen memanfaatkan konteks lokal dalam merelasikan pikiran penonton dengan image yang dihadirkan. Dan frame ini mengindikasikan bahwa kamera merekam peristiwa, baik foreground maupun background, itu sebagai satu keutuhan lewat pendekatan deep focus, tetapi adegan tersebut tidak tendensius mengarahkan makna yang seolah-olah sudah ditetapkan oleh sutradara untuk kita telan mentah-mentah.
Screenshot dari filem Istirahatlah Kata-Kata (2016) karya Yosep Anggi Noen.
________
Jikalau memang Anggi Noen berniat untuk meringkas pengalaman Wiji Thukul,[5] yang berarti pula meringkas wacana panjang lebar mengenai peristiwa penculikan aktivis 98, metode ini adalah yang terefektif, selain menjadi langkah genial untuk meningkatkan potensi puitik bidikan. Informasi mengenai PRD pun, sebagai latar belakang kisah, tidak bertele-tele; cukup lewat teks pada adegan panci di atas kompor, lalu punggung Sipon yang duduk lebih dekat ke batas frame di kanan, pindah ke punggung Wiji Thukul yang duduk di dalam mobil yang bergerak menuju entah ke mana dan diiringi audio berita, pemandangan langit, dan mobil parkir. Setiap bidikan itu, yang sejatinya dapat berdiri sendiri, dirangkai dengan apik sebagai prolog narasi tanpa niatan untuk menentukan point of view penonton atas adegan. Susunan tersebut tidak tampil dengan ekspresionisme plastis dan hubungan simbolik antar-image, dan karenanya berhasil menghindari sindrom ‘aludisasi’ (pengkiasan) peristiwa yang berlebihan sehingga mereka hidup sebagai realitas yang objektif.
Kita masih akan melihat indikasi ini, misalnya, pada adegan ketika Wiji Thukul makan bersama dua kawannya di sebuah rumah yang menjadi tempat persinggahan sementara sebelum bertemu Thomas (diperankan oleh Dhafi Yunan). Adegan ini tidak berhenti pada dialog mengenai fakta bahwa Wiji Thukul masuk ke dalam daftar buronan, karena latar berupa gambar The Last Supper di dinding meluaskan peluang interpretasi kita mengenai misteri 13 aktivis yang masih hilang. Di mata saya, pilihan Anggi Noen untuk menggunakan gambar tersebut terbilang menarik, menimbang kompleksnya pengamatan dari sudut dan bidang apa pun terhadap lukisan kontroversial itu. Visinya: Anggi Noen bukan melemparkan pernyataan, melainkan melebarkan pertanyaan “menolak lupa” kita.
Screenshot dari filem Istirahatlah Kata-Kata (2016) karya Yosep Anggi Noen.
_____
Namun, di sinilah poin menariknya: kita tidak bisa menafikan bahwa The Last Supper-nya Anggi Noen telah hadir lebih dulu sebagai bidikan yang tendensius sebelum adegan makan malam tersebut. Kedua shot ini saling menjukstaposisi. Dalam konteks yang lain, komposisi adegan makan malam, yang menyusul setelah bidikan close-up gambar The Last Supper, merepresentasikan simbol matematis (i.e. segitiga—interpretasi umum mengenai keunikan form lukisan tersebut). Ini menunjukkan pertimbangan yang tidak sembarangan; ini berarti bahwa gagasan image pada filem seturut dengan ide mandiri—komposisi ketigabelas figur dalam lukisan—dari atribut-atribut yang digunakan. Akan tetapi, kepentingan kita menyinggung persoalan ini lebih kepada analisa mengenai perbedaan pendekatan filem yang “percaya kepada image” dan yang “percaya kepada realitas”.[6] Metode deep focus yang diterapkan Anggi Noen, yakni upayanya untuk menghidupkan peristiwa di dalam frame agar menunjukkan dirinya (kenyataannya) sendiri, ternyata tidak serta merta melupakan potensi montase gambar dalam lingkup keseluruhan struktur bahasa filemnya. Alih-alih memilih salah satu, Anggi Noen mengombinasikan kedua pendekatan itu dalam rangka mendefinisikan kekhasan sinema puitiknya. Kepercayaan atas realitas, dengan kata lain, dipicu lewat montase (kepercayaan atas image), dan demikian pula sebaliknya. Montase, dalam pengertian Anggi Noen, adalah metode untuk menarik atensi penonton, bukan untuk menyampaikan makna. Menurut saya, ini adalah nature dari sebuah puisi.
Screenshot dari filem Istirahatlah Kata-Kata (2016) karya Yosep Anggi Noen.
Screenshot dari filem Istirahatlah Kata-Kata (2016) karya Yosep Anggi Noen.
Screenshot dari filem Istirahatlah Kata-Kata (2016) karya Yosep Anggi Noen.
Berangkat dari sudut pandang pemikiran ini, kita boleh berpendapat bahwa keputusan Anggi Noen meletakkan bait-bait puisi Wiji Thukul lewat teknik “voiceover”, dengan kata lain, bukan sebagai strategi naratif, melainkan untuk memanjangkan konteks. Yang mana, fungsi kiasannya tidak bermaksud menghantarkan kita pada makna tertentu yang absolut (misalnya, mengarahkan kita kepada ide ceritanya), tetapi untuk menguatkan potensi tampilan adegan (peristiwa yang dikemas sutradara) menjadi lebih dapat “dialami” penonton. Sebagian besar image di dalam filem ini, sadar atau tidak, dihadirkan sutradara dengan tanpa “penambahan” apa pun terhadap realitas image yang direkam tersebut, sedangkan voiceover bait puisi—selain menjadi bukti dari perayaan atas revolusi bahasa sinema pada filem bersuara—dimaksudkan menjadi bagian tak terpisahkan yang merangsang hubungan antara pikiran penonton dan image yang objektif tersebut. Dengan kerangka seperti itu pulalah dapat kita sadari signifikansi siulan nada “Darah Juang” di dalam filem ini, bahwa konsekuensi naratif yang dihasilkan terkait bentuk komunikasi (keintiman) suami-istri itu merupakan buah dari upaya sutradara untuk menonjolkan “aspek mengalami” peristiwa.
Screenshot dari filem Istirahatlah Kata-Kata (2016) karya Yosep Anggi Noen.
Screenshot dari filem Istirahatlah Kata-Kata (2016) karya Yosep Anggi Noen.
Namun memang, metode sinematik ini tidak terbangun secara konsisten dalam keseluruhan isi filem Istirahatlah Kata-Kata. Dalam adegan percakapan Wiji Thukul dengan seorang mahasiswa, misalnya, Anggi Noen tampak masih terikat oleh kebutuhan untuk meyakinkan kepala penonton mengenai karakter si tokoh utama: pejuang kata-kata yang menyerahkan diri kepada sastra. Strategi pengadeganan dengan teknik cut, dan face-to-face, memang pas untuk membangun persepsi itu, tetapi sayangnya menghilangkan potensi “amatan mendalam” terhadap realitas yang direkam—suatu langgam yang seharusnya mulai kita perhatikan untuk merevolusi tutur bahasa sinema kita. Kita juga bisa melihatnya pada adegan percakapan Wiji Thukul dan istrinya di kamar motel: kebutuhan untuk menegaskan pandangan ideologis sang tokoh lewat simbol-simbol kapital (produk minuman). Atau, adegan saat Wiji Thukul menulis puisi “Istirahatlah Kata-Kata” di selembar kertas, yang tak bisa diingkari masih mengindikasikan kelemahan yang bersemayam di lingkungan sineas nasional: terjebak dalam attitude verbalisme visual (kasarnya, tutur bahasa visual yang cerewet). Padahal, menurut saya, jika kita menyetujui ide besar Anggi Noen yang memilih untuk tidak mengultuskan sosok Wiji Thukul, karakteristik dan perilaku subjek dalam memproduksi “teks-teks perlawanan” semestinya tidak lagi dibebankan dengan keharusan untuk exist secara fisik (visual) dalam konstruksi sinemanya. Dengan kata lain, kebutuhan untuk mengulangi sikap memproduksi “teks perlawanan”, sebenarnya, tidak lagi relevan bagi filem ini.
Akan tetapi, bagi saya, kelemahan ini agaknya dapat dimaklumi. Barangkali karena pertimbangan bahwa sosok historik Wiji Thukul, sebagaimana pendapat si sutradara sendiri, belum diketahui secara umum.[7] Oleh karenanya, keputusan ini tidak bisa serta merta dihakimi sebagai kesalahan fatal. Toh, ketelitian Anggi Noen untuk mengupayakan gaya bahasa yang segar, yang eksperimentatif, cukup mendominasi dalam konstruksi filemnya ini.
Pada beberapa adegan kunci, Anggi Noen berhasil menegaskan bahwa filemnya lebih pas untuk dialami (sebagaimana kita menikmati sebuah karya puisi) ketimbang dibaca sebagai teks telanjang (sebagaimana kita menikmati sebuah novel). Yang pertama, ialah adegan ketika Wiji Thukul dan Thomas dihadang oleh orang gila yang menanyakan KTP dan mengulang-ulang ancamannya, “Aku ada pistol.” Adegan ini merupakan suatu teknik yang cukup cemerlang untuk membangun nuansa kerisauan dan kecemasan. Bahwa, selama ini kecemasan terhadap ancaman kekerasan militer justru terasa begitu kuat karena “sifat samar”-nya. Menurut saya, bidikan statis dan jauh yang dilakukan Anggi Noen-lah yang memunculkan relasi itu dan menghadirkan peristiwa sebagaimana adanya untuk dilihat penonton. Pengadeganan lewat montase konvensional (cut-to-cut) hanya akan menghentikan peristiwa semacam ini sebagai semata shock therapy.
Screenshot dari filem Istirahatlah Kata-Kata (2016) karya Yosep Anggi Noen.
_________
Demikian halnya dengan adegan di tempat tukang cukur. Anggi Noen menerapkan metode yang sama. Akan tetapi, sekali lagi, di sini Anggi Noen menunjukkan keberpihakannya pada kombinasi antara “realitas objektif” dan “gambar yang dimontasekan”. Ketika kamera berpindah ke wajah Wiji Thukul yang di-close-up, efek ketegangan secara otomatis berubah. Pengalaman ini juga dapat kita bandingkan saat kamera menyorot sisi kiri wajah Wiji Thukul yang menoleh ke arah kiri frame pada adegan makan malam di rumah yang ada gambar The Last Supper.
Screenshot dari filem Istirahatlah Kata-Kata (2016) karya Yosep Anggi Noen.
_________
Selain itu, adegan anggota ABRI bermain bulutangkis adalah contoh lain dari bagaimana Anggi Noen dengan dewasa mengemas puisi visualnya. Tentu kita tidak memungkiri bahwa nuansa “mengerikan” itu telah dibangun oleh sutradara sejak adegan percakapan tentang mimpi antara suami-isteri, Martin dan Ida (diperankan oleh Eduwart Boang Manalu dan Melanie Subono), lalu gerak kamera yang memperlihatkan suasana ruangan (rumah Wiji Thukul) dengan iringan voiceover puisi. Bahkan, bidikan dengan teknik slow motion pada adegan bulutangkis itu jelas kontradiktif dengan teori “realitas objektif”. Namun, attitude yang ditawarkan oleh Anggi Noen tidak berubah, yakni mengundang “amatan mendalam” dan “pengalaman” penonton ketimbang mengarah-arahkan makna atas adegan. Ini menegaskan pembacaan dan praduga kita tentang kombinasi dari kedua pendekatan yang disinggung sebelumnya.
Lewat cara membaca yang sama, adegan percakapan Wiji Thukul, Martin, dan Thomas di sebuah pondok dekat Sungai Kapuas kemudian menjadi tak kalah penting. Di sini, Anggi Noen benar-benar menghidupkan objektivitas peristiwa yang ia pilih dengan kameranya. Image yang dihadirkannya tidak memberikan penjelasan tambahan (lewat susunan atau jukstaposisi image) apa pun karena substansi peristiwa itu justru muncul melalui gerak aktor—Thomas yang datang terlambat dengan menggiring sepeda motornya, Wiji Thukul yang keluar frame untuk buang hajat, dan pemain figuran yang bermain gitar—dan posisi duduk para tokoh yang menjadi sentral perspektif kamera. “Kepercayaan terhadap realitas” justru menguatkan “kepercayaan kepada image”, dan sebaliknya. Inilah suatu gaya bahasa yang menghasilkan konsekuensi puitik itu.
Screenshot dari filem Istirahatlah Kata-Kata (2016) karya Yosep Anggi Noen.
_________
Maka wajarlah kemudian jika kita, pada akhirnya, akan begitu terpesona pada adegan terakhir, yakni setelah kamera dengan saksama merekam gesture Wiji Thukul yang duduk di sofa, memperhatikan istrinya yang menangis, lalu kamera bergerak membidik Sipon. Sinema puitik Anggi Noen bekerja dengan begitu efektif: tentang harapan kita mengenai keberadaan si penyair, yang “dikonflikkan” lewat adegan saat Wiji Thukul ke dapur mengambil segelas air putih untuk sang istri, yang kemudian ditenggak tak bersisa, lalu ia menghilang ke dapur dan tak kembali lagi. Seolah tanpa ada kecemasan berkelanjutan, filem ini ditutup dengan adegan sang istri menyapu rumah. Penutup ini menjadi ungkapan metaforik dari kegelisahan si sutradara sendiri mengenai Wiji Thukul, tetapi tidak menutup interpretasi yang lebih luas karena Anggi Noen tidak menentukan makna dan jawaban atas riwayat Wiji Thukul. Itu adalah fakta yang kemudian ditransformasi menjadi puisi visual.
Dan sebagai sebuah “puisi”, lemper pada adegan pembuka dan air putih pada penutup filem, adalah pilihan semantik yang ampuh untuk mengungkai permainan gramatikal guna membungkus konstruksi cerita ini sebagai bahasa sinema lokal.
Kata-kata Wiji Thukul tidak pernah beristirahat sejak puisi “Peringatan” (1986), dan “Istirahatlah Kata-Kata” (1987-1988) hanyalah penegasan akan kebangkitan nantiyang ditulisnya sebelum ia berujar “Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa” (1997). Jika kita merefleksi memoar Pram dalam “Yang Takkan Kembali Lagi”, apa yang dialami orang-orang yang hilang akibat ditindas ketidakadilan, tidak akan kembali lagi pada generasi penerus, sejauh generasi itu mampu memberikan sumbangsih apa pun lewat pengetahuan. Mungkin Wiji Thukul memang sedang beristirahat, dan dengan Istirahatlah Kata-Kata, Anggi Noen melanjutkan kata-kata itu lewat pengetahuan mengonstruksi sinema yang puitik.
***

Catatan Kaki:
[1] Pramoedya Ananta Toer (1976), “Yang Takkan Kembali Lagi”, dalam Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, Jilid II, ed. Joesoef Isak (Jakarta: Lentera, 1997), hlm. 33
[2] Ivan Makhsara (22 November, 2016), “Film Wiji Thukul Mulai Tayang di Bioskop Awal Tahun Depan”, diakses dari situs web Rolling Stone Indonesia, tanggal 31 Desember, 2016.
[3] Saya memutuskan untuk menggunakan kata bahasa Inggris ini karena arti dalam bahasa Indonesia-nya terasa kurang memadai untuk digunakan.
[4] André Bazin (1950-1955), “The Evolution of The Language of Cinema”, dalam André Bazin, What Is Cinema? Volume 1, trans. Hugh Gray (Barkeley/Los Angeles: University of California Press, 2005), hlm. 27
[5] Leila S. Chudori (8 November, 2016), “Dari Pojok Sunyi Wiji Thukul”, diakses dari Tempo.com, tanggal 2 Januari, 2016.
[6] André Bazinop. cit., hlm. 24
[7] Rizky Sekar Afrisia & Agniya Khoiri (7 Oktober, 2016), “Wiji Thukul Bersuara Lewat Film ‘Istirahatlah Kata-Kata’”, diakses dari situs web CNN Indonesia, tanggal 2 Januari, 2017.

* Manshur Zikri, lulusan Departemen Kriminologi, tingkat S1, Universitas Indonesia. Aktif sebagai peneliti di Forum Lenteng dan pelaksana Program AKUMASSA. Memiliki minat dan fokus kajian pada media, seni, dan sinema. Saat ini, dia menjadi salah satu kurator filem dan editor katalog di ARKIPEL – Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival.

http://jurnalfootage.net/v4/artikel/konstruksi-puitik-dalam-filem-istirahatlah-kata-kata

Jumat, 23 Desember 2016

Merawat Warisan Budaya Tak Semudah Mencaci Malaysia

Aditya Widya Putri | 23 Desember, 2016

Pelajar mengikuti perayaan Hari Angklung atau Angklung Days di halaman Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, Minggu (20/11). Sebanyak 6000 peserta yang terdiri dari pelajar dan mahasiswa mengikuti perayaan hari penetapan Angklung sebagai warisan budaya tak benda asal Jawa Barat oleh UNESCO pada 2010. ANTARA FOTO/Agus Bebeng/kye/16

Orang Indonesia kerap marah jika Malaysia "menjual" atau mengklaim kebudayaan Indonesia. Marah, tapi minim upaya dalam menginventarisasi dan memelihara produk budaya.

Pada 2009-2010, Indonesia hampir saja kebobolan hak cipta angklung sebagai alat musik tradisional Indonesia. Malaysia, seperti berkali-kali terjadi, gencar mempromosikan alat musik asal Jawa Barat ini sebagai alat musik tradisional negaranya dengan nama Bamboo Malay. Padahal, angklung gubrag telah dikenal sejak 400 tahun lalu di Jasinga, Bogor. 

Irama angklung diperdengarkan di pusat-pusat perbelanjaan dan acara-acara wisata di Malaysia. Negara ini juga mewajibkan kurikulum kesenian angklung di sekolah-sekolah dasar. 

Walau gerak Malaysia terdengar mengesalkan, Indonesia sudah sepatutnya belajar dari Malaysia yang begitu piawai dalam merawat mempromosikan produk budaya yang mereka klaim. Indonesia selama ini seperti tak acuh soal Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atas kesenian tradisionalnya. 

Padahal, Indonesia sendiri sebenarnya sudah meratifikasi Konvesi Bern yang menjamin hak negara dalam melindungi setiap bentuk ekspresi budaya tradisional yang tak diketahui penciptanya, termasuk folklor. Sebagai bentuk proteksi, negara pemilik bisa mengajukan keberatan atas indikasi penyerobotan kekayaan budayanya oleh negara lain.

Pengajuan keberatan akan semakin kuat ketika negara pemilik asli budaya yang disengketakan memiliki bukti pendukung berupa inventarisasi. Sesuai ketentuan HKI, segala produk tradisional termasuk angklung memang tidak untuk dipatenkan, tapi dinventarisir sebagai kekayaan intelektual negara. Selanjutnya, dilakukan pendaftaran kekayaan tradisional ke Organisasi Hak Kekayaan Intelektual Dunia (WIPO). 

Sayangnya, seperti dalam kasus angklung, inventarisasi seni di negara ini bisa dibilang minim.

Buruknya Dokumentasi

Beberapa kali Malaysia telah mengundang sentimen negatif segelintir orang Indonesia atas klaim-klaimnya terhadap beberapa produk kesenian Indonesia. Sebelum angklung, sudah ada batik yang lebih dulu diaku Malaysia sebagai warisan budaya tak benda nenek moyangnya. 

Tanggal 3 September 2008 adalah titik awal proses nominasi batik Indonesia ke UNESCO, namun baru diterima oleh UNESCO pada 9 Januari 2009, lalu diuji tertutup di Paris 11-14 Mei 2009. Akhirnya pada 2 Oktoer 2009 UNESCO mengukuhkan batik sebaai warisan budaya Indonesia. 

Selain itu, iklan promosi kunjungan ke Malaysia “Visit Malaysia Years” juga pernah menampilkan Tari Pendet Bali sebagai “jualan” mereka. Ada juga kasus lagu “Rasa Sayange”, Reog Ponorogo, kain tenun asal Kalimantan, sampai baju Minang lebih sering digunakan pada acara-acara resmi Malaysia. 

Di satu sisi, tentu Malaysia tak bisa disebut salah juga. Sebab Malaysia dan Indonesia memang berada dalam rumpun kebudayaan yang sama: Melayu 

Malaysia dan Indonesia bertetangga secara geografis dan berdekatan secara asal-usul ras dan kebudayaannya. masyarakat Malaysia merasa memiliki kemiripan produk budaya terutama dalam wujud aktivitas seperti kebiasaan, kesenian, corak pakaian, dan bahasa.

Angklung awalnya adalah alat musik yang diciptakan masyarakat di tatar Pasundan untuk memikat Dewi Sri agar turun ke bumi membuat tanaman dan padi tumbuh subur. Seiring perkembangannya, pada zaman kerajaan-kerajaan, alat musik bambu ini digunakan sebagai penggugah semangat dalam pertempuran. 

Sebelum hak ciptanya dikantongi oleh Indonesia sejak November 2010 lalu sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO, pemerintah daerah Jawa Barat juga sempat menyatakan kesulitan dalam mengumpulkan bukti-bukti yang mendukung inventarisasi angklung sebagai kekayaan budaya tradisional Indonesia. 

”Pemda Jabar mengaku belum bisa menyertakan bukti-bukti seperti yang diminta oleh Badan Pendidikan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO), data-data pendukungnya belum lengkap," ucap Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Provinsi Jabar, I Budhyana seperti dikutip Liputan6pada 2007.

Persoalan hak intelektual ini juga terjadi pada kasus lagu “Rasa Sayange” asal Maluku. Saat itu, seperti dikutip oleh The Star, Menteri Kebudayaan, Kesenian, dan Warisan Malaysia, Datok Seri Doktor Rais Yatim meyakini Indonesia tak akan bisa membuktikan siapa pencipta di balik lagu tersebut.

Merawat Warisan Budaya Tak Semudah Mencaci Malaysia


Beruntung, “Rasa Sayange” ternyata ada di dalam rekaman film dokumenter yang bercerita tentang kehidupan kota Jakarta 1927-1940 yang berjudul Insulide Zooals Het Leeft en Werkt. Arsipnya tersimpan di Gedung Arsip Nasional, Jakarta Selatan. 

Dokumentasi itu menceritakan proses rekaman “Rasa Sayange” oleh perusahaan rekaman negara Lokananta di Solo, Jawa Tengah pada 1962 untuk kemudian digandakan dalam bentuk piringan hitam dan dijadikan suvenir ajang olah raga Asian Games IV. 

Pita master rekaman lagu tersebut juga masih tersimpan dengan baik di Lokananta yang kini tengah diusulkan menjadi museum musik dan edukasi. Lokananta adalah perusahaan rekaman musik pertama di Indonesia yang menyimpan piringan hitam dan pidato-pidato Bung karno, rekaman radio republik Indonesia, gending karawitan, hingga rekaman musisi maestro seperti Gesang dan Waldjinah.

Dalam kasus angklung, akhirnya pemerintah Indonesia juga dapat membuktikan bahwa di tahun 1908 terjadi penyerahan angklung dalam sebuah misi kebudayaan dari Indonesia ke Thailand. 

Tiga puluh tahun kemudian, angklung berhasil dimodifikasi dari yang berlaras pentatonis menjadi diatonis oleh Daeng Soetigna, bapak angklung Indonesia, sehingga angklung bisa dipakai untuk memainkan lagu-lagu internasional.

Sengketa soal angklung dan produk kebudayaan lainnya, memperlihatkan bahwa pengarsipan dan dokumentasi adalah tugas yang lebih penting, dan jelas lebih sulit, ketimbang mencaci maki negara tetangga
Sumber: Tirto.Id 

Senin, 21 November 2016

FTJ 2016 Pamerkan Arsip-Arsip Teater

Sumber: Antara | 21 November, 2016

ILUSTRASI. Penampilan peserta asal kalimantan barat dalam pementasan Festival Nasional Teater 2016 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Senin (16/5). Antara Foto/Aprillio Akbar.
Festival Teater Jakarta (FTJ) 2016 yang diselenggarakan Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) memamerkan arsip-arsip yang menjadi ikon dalam perkembangan seni teater Indonesia.

Ketua Komite Teater DKJ Afrizal Malna di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Senin malam, mengatakan pameran arsip tersebut memperlihatkan kehidupan teater di masa transisi antara sebelum dan setelah kemerdekaan Indonesia.
"Tujuannya supaya publik dan para pegiat seni teater memahami mata rantai yang lebih panjang ke belakang," kata dia.
Pemilihan arsip-arsip teater dalam pameran tersebut dilakukan berdasarkan hasil riset dari sastrawan Zen Hae dengan mencari arsip yang menjadi penanda keadaan dan memiliki ikon yang kuat.
"Kami mencari artefak teater yang ikonik di eranya dan berhubungan dengan politik pada saat itu," kata Afrizal.
Pameran arsip teater FTJ 2016 menampilkan berbagai dokumen yang beragam, antara lain 22 gambar cetak dengan media kain yang memperlihatkan tulisan, foto, undangan pertunjukan teater, dan halaman depan surat kabar yang merupakan koleksi Perpustakaan Nasional.

Terdapat pula 10 perangkat audio yang memperdengarkan ceramah budaya dan diskusi naskah teater oleh satrawan dan budayawan seperti Astaman, Ikranegara, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Arswendo Atmowiloto, Kuntowijoyo, dan Putu Wijaya.

Pameran tersebut juga memberikan informasi mengenai lini masa teater Indonesia sejak masa permulaan pada 7 Desember 1821 atau berdiri gedung kesenian pertama kali di Batavia hingga 1968 ketika sutradara teater Arifin C Noer mendirikan Teater Ketjil Jakarta.

FTJ 2016 mengambil tema "Transisi" dan berlangsung selama 19 hari dari 21 November sampai 9 Desember. Sebanyak 26 grup teater berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Tema "Transisi" dipilih sebagai upaya untuk melepas batas antara tradisi dan modern mengingat pelaku seni pertunjukan teater sering kali terjebak dalam pemilihan bentuk teater yang ekstrem, misalnya memilih berkesenian teater modern dan meninggalkan teater tradisional.

Penyelenggara festival tersebut adalah Komite Teater DKJ bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Badan Ekonomi Kreatif.

FTJ pada awalnya bernama Festival Teater Remaja Jakarta dan mulai bergulir pertama kali pada 1973 diprakarsai oleh Wahyu Sihombing dari Komite Teater DKJ.

Festival tersebut bertujuan membina secara simultan kelompok-kelompok teater dalam jangkauan dua aspek pokok, yaitu aspek kuantitatif dan aspek kualitatif.
Untuk mencapai sasaran tersebut, FTJ merumuskan konsep tematik berdasarkan ketetapan Komite Teater DKJ dengan mempertimbangkan aspirasi asosiasi perteateran dari wilayah kota administrasi se-DKI Jakarta. 

Jumat, 18 November 2016

Festival Teater Jakarta 2016 Transisi

Oleh : Lia H. Yulius

Festival Teater Jakarta 2016 kali ini berlangsung di Plaza Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki selama 19 hari dari 16 November - 9 Desember 2016, diramaikan 26 group teater. Selain menggelar pertunjukan FTJ 2016 juga menyelenggarakan beragam lokakarya yang terbuka untuk umum, seperti lokakarya sensor gerak, fotografi seni pertunjukan, jurnalisme seni pertunjukan, dan riset teater lewat jalan mural.  Selain itu, masih ada pula program kurotarial FTJ 2016, pameran dan diskusi arsip, pasar seni dan kafe aktor.
FTJ 2016 kali ini bertema Transisi, diambil sebagai upaya untuk melepas batas antara tradisional dan modern.  Dalam konteks sejarah seni pertunjukan Indonesia, pelaku seni pertunjukan teater sering kali terjebak dalam pemilihan bentuk teater yang ekstrim, misalnya ketika teater modern dipilih, maka teater tradisional ditinggalkan. Padahal teater tradisional saat ini masih ada dan memiliki pasarnya, menurut pernyataan Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta, Afrizal Malna.  Transisi juga menjadi visi Dewan Kesenian Jakarta untuk mengubah citra orientasi Festival Teater Jakarta.  Menurut Afrizal, FTJ saat ini belum bisa beranjak dari anggapan masyarakat dan juga pelaku seni itu sendiri, bahwa festival itu hanya sekedar sebagai lomba.  “Kami ingin FTJ lebih dari sekedar lomba.  Diharapkan kelompok teater yang tampil bisa memposisikan diri sebagai sebuah seni pertunjukan yang mampu merespons kondisi lingkungan,” ujar Afrizal.

Dengan melepas batas, diharapkan teater-teater tradisional bisa terlibat lagi dengan perubahan-perubahan yang terjadi sekarang.  Para pelaku teater yang terlibat dalam pementasan FTJ, baik modern maupun tradisional, diharapkan bisa menghasilkan karya yang melepas batas-batas antara tradisional dan modern.

Pada malam pembukaan tanggal 21 November 2016 nanti akan berlangsung pentas kolaborasi sejumlah seniman berjudul T.T.T (To the Tit) yang disutradarai Yustiansyah Lesmana (Jakarta), Dramaturg Taufiq Darwis (Bandung), dan Ensamble Tikoro (Bandung).  Selama pertunjukan itu berlangsung, sekaligus akan merespons instalasi bambu berbentuk paus raksasa berjudul The Leviathan Lamalera karya Jonas Sestakresna (Denpasar).

Sementara pada malam penutupan 9 Desember 2016 nanti, selain dibacakan pemenang FTJ 2016, penonton juga akan dihibur dengan penampilan kelompok teater hyper-performance Muda dari Jepang dengan karya berjudul SEMEGIAI Random 02.  “Ini merupakan terobosan bagi FTJ yang berusaha mengangkut kerja lintas media dan keberagaman sudut pandang dalam melihat media teater” kata Afrizal Malna.

Kelompok-kelompok teater yang akan tampil di FTJ 2016 akan terbagi ke dalam “empat sayap”:
  • Sayap Utama berisi penampilan 16 grup teater yang menjuarai babak penyisihan Festival Jakarta di lima wilayah DKI Jakarta.
  • Sayap Tamu menampilkan empat kelompok teater undangan, yaitu Jaring Project (Yogyakarta), Artery (Jakarta), Padepokan Seni Madura (Madura), Sena Didi Mime Indonesia (Jakarta).
  • Sayap Klasik adalah pentas grup-grup teater traditional yang hingga kini masih bertahan di Jakarta, yaitu Lenong Denes Puja Betawi, Sahibul Hikayat Ita Saputra, Wayang Orang Bharata, Sandiwara Sunda Miss Tjitjih.
  • Sayap Perspektif akan menampilkan dua kelompok di malam pembukaan (kolaborasi seniman) dan penutupan (kelompok Muda dari Jepang).

Ketua Dewan Kesenian Jakarta Irawan Karseno menyambut baik kerja keras Komite Teater DKJ untuk mengakomodasi program-program berskala nasional maupun international. Kerja sama DKJ dengan berbagai pihak bertujuan mencapai posisi tawar terbaik bagi dunia kesenian.  “Kami ingin mengajak seluruh pemangku kepentingan, terutama pemerintah (daerah dan nasional) untuk menjadikan kembali kesenian sebgai aspek penting dan strategis bagi kehidupan,” kara Irawan.

Kepala Bidang Sumber Daya Kebudayaan pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, Supriyatin, mengatakan bahwa instansinya sangat mendukung berbagai kreativitas seni melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Buka hanya FTJ, tetapi kami juga mendukung kegiatan teater lain, di antaranya Festival Teater SMA dan Festival Teater Anak. “Melalui Unit Pelaksana Pusat Pendidikan Seni Budaya, kami bekerja sama dengan para seniman untuk melakukan pelatihan-pelatihan bidang teater,” kata Supriyatin.

FTJ 2016 diselenggarakan oleh Komite Teater Dewan Kesenian Jakata dan didukung oleh Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.  Dukungan juga datang dari Badan Ekonomi Kreatif, media massa dan pihak-pihak lainnya.

Untuk keterangan lebih lanjut mengenai pelaksanaan FTJ 2016, silahkan mengunjungi website: Festival Teater Jakarta , atau menghubungi:
- Bayu Kandi Communication (088213098062)
- Utami Kandil Communication (085691040782).

Editor: Paul M Nu
http://kbr.id/dari_pojok_menteng/11-2016/_advertorial__festival_teater_jakarta_2016_transisi/86843.html