Edisi 08-06-2016
Banyak cara yang digunakan para ulama zaman dahulu menyebarkan agama Islam di Nusantara. Salah satu media yang terkenal dan hingga kini masih eksis adalah wayang.
Seni wayang tidak bisa dilepaskan dari sejarah peradaban Islam di Indonesia. Beragam jenis wayang muncul sebagai sarana penyebar dakwah para ulama tempo dulu agar menarik perhatian masyarakat khususnya di Jawa. Salah satu wayang yang menjadi saksi bisu penyebaran agama Islam di Indonesia adalah wayang golek menak. Berbeda dengan wayang lainnya, wayang golek menak tidak mengambil cerita dari Mahabarata dan Ramayana.
Namun, diambil dari cerita tokoh pejuang bernama Amir Hamzah yang diambil dari kitab “Qissa I Emr Hamza,” sebuah karya sastra Persia pada era pemerintahan Sultan Harun Ar Rasyid. Karya sastra tersebut kemudian dikenal dengan Hikayat Amir Hamzah oleh bangsa Melayu.
“Menurut sejarah, awal mula kisah Amir Hamzah ini masuk dan dipopulerkan melalui pada zaman 1717 Masehi oleh Ki Carik Narawita, seorang jaksa di Keraton Surakarta atas perintah Kanjeng Ratu Mas Balitar, Permaisuri Susuhunan Pakubuwana I di Kasunan Surakarta,” kata Kepala Museum Peradaban Islam Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Edi Suyadi.Hasil terjemahan Ki Carik Narawita ini yang saat itu dikenal masyarakat dengan sebutan Cerita Menak. Edi menambahkan, setelah ada penerjemahan kemudian muncul wayang golek menak alur ceritanya sama dengan cerita yang diterjemahkan Ki Carik Narawita itu.
Untuk memudahkan diingat masyarakat Jawa, nama-nama tokoh pewayangan itu diganti menggunakan bahasa Jawa, seperti Amir Hamzah menjadi Amir Hambyah, Osama bin Omayya menjadi Umarmaya, Qobat Shehriar menjadi Kobat Sarehas, Badiuz Zaman diubah menjadi Imam Suwangsa, Mihrnigar menjadi Dewi Retna Muninggar, serta Unekir menjadi Dewi Adaninggar.
“Alur cerita dalam setiap pementasan adalah gambaran perjuangan Amir Hamzah jauh sebelum kerasulan Nabi Muhammad SAW. Di tengah kekafiran dan kejahiliahan saat itu, Amir Hamzah selalu berdakwah dan melakukan aktivitas jihad mengajak para raja-raja kafir saat itu mengaku bahwa Allah adalah sebagai Illah (Tuhan) dan Nabi Muhammad adalah nabi akhir zaman yang segera tiba,” katanya.Sementara sebutan wayang golek menak diambil dari tokoh utamanya, yakni Amir Ambyah. Sebab menurut Edi, Amir Ambyah memiliki banyak julukan, yakni Wong Agung Menak, Wong Agung Jayengrana, dan Wong Agung Jayengresmi.
“Sebutan Wong Agung Menak ini yang kemudian digunakan pujangga-pujangga Jawa untuk menamakan kitabnya sebagai Serat Menak dan munculnya Wayang Golek Menak,” katanya.Adapun koleksi wayang golek menak di MAJT, lanjut Edi, merupakan hasil kreasi Ki Truna Dipura dari Wonogiri pada zaman Pemerintahan Sri Mangkunegara VII. Wayang itu diperoleh dari koleksi masyarakat Jawa Tengah. Sementara itu, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang yang juga dosen Islam dan Kebudayaan Jawa di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang Anashom mengatakan, wayang golek menak merupakan wayang dakwah.
“Wayang golek menak adalah salah satu media dakwah yang digunakan dalam penyebaran agama Islam,” katanya.
Ceritanya secara umum memang menggambarkan tokoh kepahlawanan Amir Hamzah. Namun, kemudian muncul cerita-cerita ketokohan lokal di Indonesia, seperti para Walisongo dan tokoh ulama besar lainnya.
“Wayang memang media yang sangat ampuh dalam penyebaran Islam. Hal ini karena masyarakat Jawa saat itu lebih menyukai hiburan dan lebih mudah dipahamkan melalui visualisasi,” katanya.Memang keberadaan wayang golek menak kalah tenar dibanding dengan wayang lain seperti wayang purwo atau wayang kulit. Namun, wayang golek menak pada zamannya sangat terkenal dan berpengaruh dalam proses penyebaran Islam di beberapa daerah, seperti Yogyakarta, Surakarta, dan Kebumen.
ANDIKA PRABOWO Kota Semarang
Koran-Sindo








0 komentar:
Posting Komentar