KVO: Resital Kebumen Violin Orchestra (KVO) digelar di Panggung "Ojo Dumeh" Anjungan Jawa Tengah di kompleks Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta pada Sabtu (21/12) - Foto: Arp
Sebanyak 40 violis anak-anak seusia SD-SMP yang tergabung
dalam Kebumen Violin Orchestra (KVO) sukses menggelar resital violin di
panggung “Aja Dumeh” Anjungan Jawa Tengah, kompleks Taman Mini Indonesia Indah
(TMII), Jakarta.
Sabtu (21/12) pagi itu menandai sukses kelompok orkestra
anak-anak memainkan 4 komposisi yang disiapkan dua bulan sebelumnya. Keempat komposisi
itu masing-masing Simponi Yang Indah,
Entah Apa, Kebyar-Kebyar dan Kebumen
Beriman. Komposisi yang disebut terakhir adalah lagu yang diaransir dari
gending yang jadi icon dan lagu daerah.
Kesuksesan gelar resital ini, sebagaimana diakui manajer KVO
Agus Sulaiman karena ketekunan dan kesukaan anak-anak berlatih musik dengan instrumen
biola sebagai pilihan bermainnya. Tentu juga berkat bimbingan pelatih Taufik
Ismail yang sekaligus berperan sebagai dirigent
dan komposer musiknya.
“Anak-anak memang suka bermusik dan kami para orangtua mendukung sepenuhnya”, terang Agus.
Hal senada disampaikan Taufik Ismail yang mengakui
besarnya dorongan para orangtua dari anak-anak yang bergabung dalam orkestra
binaanya. Aransemen resital yang dipanggungkan di TMII kali ini juga dibantu
oleh Band Gundul, Nurokhim, Dayat, Lintang, Khasbun, Farhan. Sedangkan untuk vokal dipercayakan kepada dua talent Kartika Veronica, Eldri dan
pembaca puisi Ainun.
Dukungan juga diberikan Dewan Kesenian Daerah (DKD)
Kebumen yang mengiring keberangkatan kontingen seni ke Jakarta.
Dalam sambutannya, Ketua DKD Pekik Sat Siswonirmolo, M.Pd,
berharap eksistensi seni daerahnya tetap terjaga dan memiliki kelayakan pentas
di panggung nasional.
Pementasan di TMII Jakarta ini juga didukung oleh Dinas
Pendidikan Kabupaten Kebumen juga ikut serta mengawal pementasan.
Kolaborasi Terjeda
Gelar resital KVO ini semula direncanakan merupakan
pentas kolaborasi dengan Gamelan Jawa, Seni
Ebleg dan Topeng Cepetan. Namun karena
kendala teknis akhirnya dikemas terpisah jadi sebuah dramatari Topeng Panji-Sekartaji yang dimainkan di
panggung yang sama pada jeda pentas berikutnya.
Narasi pentas Dramatari Topeng-Ebleg Kebumen ini
diadaptasi dari fragmen tari Panji-Sekartaji
yang bersumber dari kisah jaman Kerajaan Kediri pada abad XI-XII. Kisah
dramatik yang tak lekang digerus jaman ini memang memuat perseteruan besar Panji Inukertapati dan Klana Sewandana yang tak habis-habisnya
dielaborasi dalam berbagai versi.
Koreografi digarap BE Susilohadi dan dibantu asisten Suwignyo, masih cukup kental aura ketoprak dalam komposisi dramatarinya.
Sedang untuk seni tradisi ebleg (kudalumping)
dan topeng (cepet) melibatkan
kelompok “Turonggo Langgeng Budhoyo” Karanggedang Sruweng dan kelompok “Jati Asmoro
Bangun Budoyo” dari Kajoran Karanggayam.
Kemeriahan dua pementasan di panggung TMII jadi bertambah
semarak karena event ini sekaligus
jadi ajang “reuni” silaturahmi warga asal daerah Kebumen yang berada di
perantauan, khususnya yang tinggal maupun bekerja di Jakarta.
KLANA: Klana Sewandana menaiki titian Singabarong untuk misi merebut Dewi Sekartaji dari tangan suaminya Panji Inukertapati - Foto: Arp
Panggung KVO
Dihubungi terpisah seusai pentas lawatannya ke luar kota,
Taufik Ismail mengaku bangga pada anak-anak asuhannya yang meskipun masih belia
namun telah memiliki setidaknya kemampuan dasar untuk memainkan komposisi
populer dengan kompak dan tanpa nervous.
“Tak semua anak mampu bermain musik secara kelompok”, kisahnya. “Tetapi semua bisa belajar dan berlatih”, sambungnya. Apalagi bila ingat bahwa KVO belum sepenuhnya berusia setahun.
Pendirian orkes musik kamar ini dilaunching pertama pada
24 Februari 2019 silam di Hotel Maxolie Kebumen. Sejak awal, KVO didominasi
oleh violis anak-anak yang berasal dari berbagai daerah seperti Kuwarasan,
Gombong, Karanganyar, Sruweng, Adimulyo dan kota Kebumen sendiri.
“Beruntung, karena para orangtua antusias mendukung”, pungkasnya sembari berharap akan terus menapaki panggung berikutnya.
GAMELAN: Musik gamelan pengiring Dramatari Ebleg-Topeng Sekartaji "in action" di lokasi pagelaran - Foto: Arp









0 komentar:
Posting Komentar