Rabu, 31 Januari 2018

BAYU ANANTA, Dalang Cilik Multitalenta Asal Jember

Januari 31, 2018 | JemberanNet

M. IKHFAN BAYU ANANTA namanya atau biasa dipanggil BAYU ANANTA. Siswa Kelas 1 SD Kelapa 06 Pagi, Kebun Jeruk ini dalam kehidupan sehari-hari tidak jauh berbeda dari teman-teman sebayanya. Dia suka bermain kalau tidak sedang sekolah. 
Namun, satu hal yang sangat spesial dari sosok Bayu adalah kemampuannya untuk ndalang, memainkan wayang kulit berdasarkan cerita-cerita tertentu, serta kemampuan-kemampuan seni lainnya, seperti memainkan gamelan dan angklung, menari, dan bercerita dengan menggunakan bahasa Jawa. 
Kemampuan-kemampuan itulah yang menjadikan anak yang lahir dari pasangan Sutapan dan Sriutami ini patut mendapatkan apresiasi. Dalam usia 8 tahun, Bayu sudah memiliki kemampuan seni dan sudah menampilkannya dalam banyak kesempatan, baik di Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, maupun Sumatra.
Bayu tengah bermain selepas sekolah
Menurut Sutapan, dia melihat ketertarikan Bayu terhadap kesenian, khususnya wayang kulit, sudah tampak sejak ia baru berusia 1,5 tahun. Pada usia tersebut, Bayu mulai menyukai gambar-gambar wayang ketimbang gambar-gambar lain.
 “Anehnya, Bayu lebih cepat tidur kalau di-putar-kan VCD wayang kulit. Nah mengetahui hal itu, saya kemudian mulai intensif memperkenalkan wayang kepada Bayu, baik melalui gambar maupun VCD,” tutur Sutapan dalam sebuah percakapan dengan Jemberan.net, 30 Januari 2018. 
Tumbuhnya minat dan kemauan orang tua untuk memfasilitasinya dalam aktivitas sehari-hari, dengan demikian, bisa mendorong dan memperkuat kemampuan kreatif dan estetik seorang anak. Anak tidak lagi merasa terpaksa untuk terus mengembangkan bakatnya, karena orang tua mampu menyadari ketertarikan si anak, bukan mengarahkan pada minat yang lain. Ketika aktivitas seni menjadi habitus–kebiasaan yang sudah biasa dilakukan tanpa merasakan ada paksaan–minat sejak usia dini bisa tumbuh menjadi bakat yang luar biasa. Menariknya, bakat itu tidak harus muncul di usia remaja, tetapi sejak usia dini, seperti yang dialami Bayu.
Tidak pernah melupakan belajar
Karena tidak ingin kemampuan buah hatinya tidak tersalurkan, Sutapan mulai mengajari Bayu beberapa cara memegang dan memainkan wayang. Itupun hanya teknik dasar, karena lelaki asal Desa Bagon Kecamatan Puger, Jember ini juga tidak bisa ndalang. Bagi Sutapan, mengajarkan teknik dasar, paling tidak, bisa merawat minat dan bakat Bayu kecil. Hebatnya, Bayu kecil sangat cepat dalam menguasai teknik-teknik dasar memegang dan memainkan wayang. 
Sangat mungkin, Bayu mendapatkan ilmu ndalang dari VCD pertunjukan wayang kulit yang ia tonton sehari-hari. Melihat kemampuannya, Sutapan dan Sriutami atas dorongan teman-temannya mengikutkan Bayu pada acara EAT BULAGA di SCTV. Saat itu Bayu masih berusia 2,7 tahun. Dalam acara itu, ia menyabet juara 1 harian dan finalis. Bagi Sutapan dan Sriutami, keikutsertaan Bayu cilik dalam ajang EAT BULAGA bukan dalam rangka untuk menjadi juara, tetapi lebih pada untuk memberikan pengalaman kepada anaknya tampil di hadapan khalayak. Pengalaman ini tentu akan memberikan efek mental yang bagus di kemudian hari, sehingga ia tidak akan merasa minder.
Bayu dalam sebuah pertunjukan wayang
Demi untuk memberikan pengetahuan dan teknik mendalang yang  baik, Sutapan dan Sriutami berusaha mencarikan sanggar untuk buah hatinya agar minat dan bakatnya tersalurkan secara maksimal. Sayangnya, usia Bayu belum cukup untuk bisa diterima dalam sanggar seni. Tidak patah arang, mereka berdua tetap menemani Bayu belajar wayang secara mandiri. 
Baru pada usia 5 tahun, Bayu bisa diterima untuk berlatih di Sanggar Nirmala Sari, Cinere. Di sanggar ini, selain memperkuat dan memperkaya pengetahuan mendalang, Bayu juga belajar gamelan dan alat-alat musik tradisionnal lain, seperti angklung. Selain itu, ia juga belajar bertutur dengan menggunakan bahasa Jawa. Penambahan dan pengayaan pengetahuan dan skill itulah yang semakin menumbu-suburkan bakat kesenian Bayu.
Kemampuan-kemampuan kreatif Bayu menarik minat banyak pihak untuk mengundangnya. Untuk mengisi pagelaran wayang kulit, Bayu Ananta sudah menghadiri undangan di Jawa dan Sumatra. Di Sumatra, Bayu pernah menggelar pertunjukan atas undangan Dinas Pariwisata Kabupaten Prengsewu Lampung. 
Untuk kawasan Jakarta, Bayu Ananta pernah mengibur penikmat wayang di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Museum Kebangkitan Jakarta, Museum Bahari Jakarta Utara, Kebon Jeruk Jakarta Barat, Kemang Jakarta Selatan, dan Mall Casablanca Jakarta Selatan. Dalang cilik asal Bago, Puger, Jember ini juga sudah 2 kali diundang TVRI untuk mengisi acara Buah Hatiku Sayang. Di Jawa Tengah, Bayu sudah 2 kali diundang untuk menggelar wayang kulit di Semarang. Selain itu, ia juga pernah mengikut TEMU DALANG BOCAH ke-7 di Surakarta mewakili Jakarta.
Bayu mendapatkan Piagam Penghargaan dari Dekan FIB UNEJ Prof. Dr. Akhmad Sofyan, M.Hum., setelah mendalang selama 1 jam lebih di Pendopo FIB.
Tidak hanya pentas di kota-kota besar, Bayu Ananta juga tidak melupakan kampung halamannya di Jember. Dia pernah ndalang di Desa Bagon dan Desa Wringintelu, Puger dan Desa Karangduren Kecamatan Balung. Tahun 2017, dalang yang juga gemar memelihara ular ini juga pernah menghibur publik di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember (FIB UNEJ) dalam ajang Pekan Khairil Anwar. 
Dalam gelaran tersebut, Bayu menunjukkan kapasitas dan kemampuannya yang mampu membuat mahasiswa dan dosen FIB UNEJ berdecak kagum. Selain itu, didampingi kedua orang tuanya dan kerabatnya, Bayu juga pernah mengisi gelaran Pelangi Anak Nusantara di RRI Jember. Bagi Bayu dan keluarga, pentas di Jember selalu menyisakan rasa bahagia karena bisa ikut menyumbangkan sedikit kontribusi bagi pengembangan dan penyuburan budaya Jawa di Jember yang multikultural.
Bayu mengisi acara GALERI INDONESIA KAYA
Tidak hanya ndalang, Bayu Ananta juga diundang untuk mengisi beberapa acara bertaraf nasional dan internasional dengan menyuguhkan kemampuan seni lainnya, seperti bertutur dalam bahasa Jawa serta menabuh gamelan dan angklung. Ia pernah diundang ke Istana Negara sebagai rangkaian acara dalam KONFERENSI ASIA AFRIKA ke-62. 
Bayu juga diundang dalam AGRAPANA NUSANTARA di JCC Jakarta yang diikuti 50 negara. Tidak lupa, ia juga diminta mengisi acara dalam GALERI INDONESIA KAYA. Semua prestasi ini menegaskan bahwa sebagai dalang cilik, Bayu memiliki kapasitas dan kemampuan multitalenta yang dikembangkan secara sadar sejak usia dini. Dalang asli Bagon Puger ini bisa menjadi inspirasi bahwa untuk memupuk minat dan bakat seorang anak, orang tua tidak boleh memaksakan, tetapi mengarahkan apa-apa yang disukai anak mereka.
Bayu ndalang di FIB UNEJ dalam rangka Pekan Khairil Anwar
Kehadiran Bayu Ananta dalam jagat perdalangan dan kesenian Indonesia sudah semestinya mendapatkan apresiasi masyarakat Jember. Dari kabupaten dengan budaya yang sangat beragam ini ternyata muncul seniman cilik yang memiliki skill cukup kaya yang bisa berkontribusi bagi berkembangnya budaya Jawa bagi generasi penerus. Tentu saja, kehadiran Bayu bisa memberikan sedikit semangat dan rasa bahagia karena masih ada regenerasi dalang. 
Ketika para punggawa PEPADI merasa pesimis dengan masa depan wayang, Bayu Ananta dan juga dalang-dalang berusia muda lainnya di Jember memberikan jawaban sederhana bahwa ketika ada minat dan bakat yang diberikan keleluasaan oleh orang tuanya, pengetahuan dan kemampuan ndalang akan tumbuh dari unit sosial terkecil bernama keluarga. 
Sudah saatnya PEPADI mengajak pihak-pihak terkait seperti Dinas Pariwisata dan Kebudayaan serta Dinas Pendidikan untuk mendesain sebuah mekanisme atau program untuk menarik minat anak-anak dan kaum remaja agar tertarik belajar ndalang atau, paling tidak, mau menonton pagelaran wayang.

Sumber: JemberanNet 

0 komentar:

Posting Komentar