Ketoprak Dangsak

Pentas Ketoprak Dangsak "Reksa Mustika Bumi" kolaborasi Cepetan Alas dengan Ketoprak. Pentas ini digelar DKD Kebumendi PRPP Jateng [Foto:AP]

Lengger Banyumasan

Pementasan seni tradisi lengger dari Dariah; tokoh legendaris"Lengger Banyumasan"

Suro Bulus, Parodi Satire Ketoprak Rakyat

Lakon carangan "Suro Bulus" yang merupakan manifestasi perlawanan masyarakat tradisi terhadap kejahatan korporasi tambang

DRAS SUMUNAR, Tetet Srie WD

Pagelaran "Serat Dras Sumunar" karya Tetet Srie WD di Roemah Martha Tilaar Gombong

Dewa Ruci

Pentas wayang dengan lakon "Dewa Ruci" dalam Festival Dalang Anak di Banjarnegara. Tiga dari empat dalang cilik Kebumen sabet juara [Foto:AP]

Senin, 30 Juli 2018

Linus Suryadi AG dan Pengakuan Pariyem

Catatan: Sunardian Wirodono

Cover buku stensilan Prosa Lirik Pengakuan Pariyem (1980) dalam ukuran folio [Foto: SW]

19 tahun lalu, Mas Linus, Linus Suryadi AG meninggal dunia. Penyair yang beken dengan prosa lirik ‘Pengakuan Pariyem’ itu meninggal karena penyakit akutnya, sebagai fanatikus tongseng. Siang hari 30 Juli 1999, di depan RS Panti Rapih, Yogyakarta, Mas Landung Simatupang, yang barusan menjenguk dari ruang rawat, berkata lirih di samping saya, “Mas Linus wis ra ana,...”
Darah saya terkesiap. Dari pagi kami menunggu, kondisi Mas Linus waktu itu sudah makin kritis. Kami saling diam termangu. Pembuluh darahnya pecah. Saya nahan tangis, hingga mata membasah. Orang baik itu meninggal dalam sunyi dan kegamangan. Saya ingat hari-hari terakhirnya, ketika banyak menemani dolan-dolan ke mana ia ingin (asal tidak ke kota, Yogyakarta. Ia dalam marah dan galau, jadi korban fitnah, hingga dulu kantor koran Bernas pernah didemo, karena memuat tulisannya tentang tradisi sunat, yang menurutnya berasal dari bangsa Yahudi. Dari sini kita tahulah siapa yang ngamuk. Mas Linus sangat kecewa. Ia menduga ada tukang kompornya. Ia menyebut nama, tapi itu rahasia kami).
Saya ingin ceritakan salah satu bagiannya saja, ketika ia sedang berproses menggarap prosa lirik ‘Pengakuan Pariyem’, yang dipersembahkan untuk Prof. Dr. Umar Kayam. Waktu itu ia meminjam buku ‘Serat Centhini’, koleksi bapak saya yang tanpa seijinnya saya pinjamkan ke Mas Linus. Waktu itu saya banyak galang-gulung dengannya, diam-diam menjadi supervisor untuk beberapa ejaan bahasa Jawanya yang acak-kadut. Buku itu dilaunching di Auditorium Karta Pustaka, Sabtu, 6 September 1980.
Sebelumnya, saya dan beberapa teman (Kaca Budi Nugraha, Joko Budhiarto, Anthon Ys Taufan Putera, Rela Sayekti) sibuk menyiapkan kelengkapannya. Menggarap buku stensilan ‘Pengakuan Pariyem’, yang dicetak (stensil) di SMEA Sentolo, Kulon Progo. Kok jauh amir? Itu tempat Joko Budiarto waktu itu mengajar. Sekarang beliau redaktur senior SKH Kedaulatan Rakyat. Nyetensil di sana agar dapat gratisan. Tinta dan kertas pakai fasilitas stock sekolah itu.
Saya masih ingat, waktu dari Yogya, ke Sleman (rumah Mas Linus), ke Sentolo, naik sepeda motor Honda CB Plangkok. Sementara Kaca Budi Nugraha, yang kemudiannya jadi pendeta di Gereja Sawo Kembar, pakai Yamaha Trail warna kuning. Kami waktu itu masih muda, masih umur-umur 19 tahun. Ehm. Kita acap ke Sentolo sore hari, karena nyetensil tiap sekolah itu sudah off. Ada 137 lembar sheet yang kami stensil, masing-masing 200 eksemplar. Jadi kita butuh kertas 27.400 lembar alias 55 rim kertas. Saya masih menyimpan satu eks, tapi sebagiannya geripis dimaem rayap.
Sebelumnya saya ngetik teks dari Mas Linus di kertas sheet. Harus hati-hati karena salah ketik tak mudah membenahi. Saya pakai dua mesin ketik dengan jenis huruf beda. Waktu itu meskipun stensil, sudah berpikir biar typhografinya agak keren. Saya beruntung belajar ngetik rapi, rata kiri dan kanan dari Mas Suwarno Ragil Pragolapati, penyair angkatan Mas Linus.
Buku stensilan itu ukuran folio, dengan desain cover Mas Sukasman Wayang Ukur. Saya lupa mungkin waktu itu dijual Rp 300 per-eksemplar (?). Kalau benar begitu, Mas Linus dapat duit Rp 60.000, karena buku ludes terbeli. Kami senang bisa makan gudeg dengan telor dan gending.
Waktu itu pembaca prosa lirik; Denny Sutoyo Landung, Ami Simatupang, Nuning Efendi, Ninik Sumiani, Nining Sulasdhi, didahului macapatan Ninik Sumiani, yang menjadi model cover garapan Mas Kasman itu.
Sebelum dibukukan fragmen Pengakuan Pariyem dibacakan penyairnya di beberapa universitas. Saya senang Mas Linus berani mengambil risiko. Waktu itu Pariyem dikritik bukan karya sastra. Aspek lokalitas dan tingkat kerusuhannya (pornografi) sangat kental. Tapi dibanding Serat Centhini, tingkat kerusuhan Pengakuan Pariyem belum seberapa. Hanya saja memang untuk teks sastra Indonesia, waktu itu, tidak lazim.
Demikian sekelumit Linus Suryadi Agustinus (3 Maret 1951 – 30 Juli 1999), yang sehari setelah tanggal kelahirannya saya pun lahir, meski 10 tahun kemudian. Semoga ada yang mengingat orang baik ini, yang meninggal pas 19 tahun lalu. Syukur bage ada yang merayakannya, meski hanya dalam kenangan, atau perbincangan medsos, hingga tak perlu repot-repot nyari danais. | @sunardian

Minggu, 15 Juli 2018

FFP 2018 di Kebumen Berlangsung Meriah

FFP 2018: Festival Film Purbalingga 2018 menghadirkan film-film karya pelajar FFP
FFP 2018: Festival Film Purbalingga 2018 menghadirkan film-film karya pelajar Kebumen di kompleks Perum Jatisari Indah (10/7). [Foto: FFP 2018]
KEBUMEN – Perumahan Griya Jatisari Indah mendadak ramai pada Selasa (10/07/2018) sejak sore hari. Pasalnya ada layar tanjleb yang dihadirkan Jaringan Kerja Film Banyumas Raya (JKFB). Event dalam rangka Festival Film Purbalingga (FFP) 2018 ini merambah wilayah Kebumen pada 2 lokasi pemutaran film dengan model layar tanjleb.
Desa Jatisari merupakan titik ketiga dalam rangkaian layar tanjleb FFP 2018 dan lokasi pemutaran kedua setelah lokasi Pesanggrahan Desa Karangsambung pada malam sebelumnya.
Selain memutarkan film karya pelajar se-Barlingmascakeb, warga Perum Jatisari Indah juga memanfaatkannya untuk sekaligus menggelar silaturahmi lebaran dan serah terima pengadaan tong sampah sumbangan warga untuk desa.
“Momen sederhana warga untuk berkumpul dan bersilaturahmi”, kata Kepala Desa Jatisari dalam sambutannya. “Alhamdulillah bisa terbantu menjadi lebih hangat dan meriah berkat kedatangan kru layar tancap, sehingga anak-anak menjadi betah dan turut terhibur dengan tontonan yang dihadirkan.” Sambung Kades Muslihudin.

Film Karya Pelajar Kebumen 

JATISARI: Warga Perum Jatisari Indah Kebumen nampak antusias menyaksikan film-film yang diputar (10/7) dalam rangka Festival Film Purbalingga 2018
Koordinator pelaksana FFP 2018 untuk wilayah Kebumen, Ridho Saputro menjelaskan kehadiran film-film karya sineas muda dari kalangan pelajar Kebumen, dalam genre dokumenter dan film fiksi pendek . Diantaranya ada “Badar Besi” (Sutradara: Amaroh Alfa Khurohman, Sangkanparan), “Sega Penggel” (Sutradara: Azizatun Zahro, Sangkanparan) untuk film documenter pendek.
Sedangkan untuk genre film fiksi ada “Melawan Arus” (Sutradara: Eka Saputri, Lemah Wedhi Production). “Di Dasar Air” (Sutradara: Intan Karunia, Candradimuka Production). Serta film berjudul “Tanah Tuan Tanah” (Sutradara: Hestika Sari, Netuka Creative Community).
Ketiga film fiksi pendek yang diputar merupakan hasil Lokakarya Produksi Sinema Kedung Meng Desa-Desa 2017 yang digagas Komunitas Kedung bekerjasama dengan CLC (Cinema Lover’s Community) Purbalingga sebagai fasilitator produksi.
Selain sedang diapresiasi di program Layar Tanjleb FFP 2018 saat ini ketiga film tersebut juga sedang dikelilingkan ke seluruh Indonesia melalui program pemutaran film Indonesia Raja 2018 yang digagas komunitas film “Minikino” (Bali) sejak 2016. Khusus untuk film “Melawan Arus” yang bercerita tentang perjuangan petani perempuan bernama Siti di lahan konflik agrarian telah mendapat penghargaan di Malang Film Festival 2018 sebagai Jawara Fiksi kategori pelajar dan INVECT (Independent Movie Competition) Tebas Awards 2018.
Malam sebelumnya layar tancap serupa juga sukses digelar di dusun Pesanggrahan, Desa Karangsambung dengan melibatkan Karang Taruna setempat dan pegiat kelompok sadar wisata (pokdarwis) Bukit Pentulu Indah.
Reporter: Puput Juang | Editor: AP

Selasa, 10 Juli 2018

Legenda Umbu Landu Paranggi dan Persada Studi Klub di Malioboro

Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 10 Juli 2018

Iman Budhi Santosa dalam peringatan 45 tahun Persada Studi Klub (PSK) di Rumah Budaya Emha Ainun Nadjib, Yogyakarta. FOTO/caknun.com

Dari jalanan Malioboro, sekumpulan anak muda meretas mimpi jadi penulis besar. Belajar puisi langsung dari kehidupan.
“Anak ini memang bisa menulis puisi. Ini benar-benar puisi,” seru Cak Muntholib kepada Cak Fuad. Yang sedang mereka bicarakan adalah adik kandung Cak Fuad, Emha Ainun Nadjib. Emha yang kala itu masih anak SMA dibikin melambung oleh pujian Cak Muntholib itu. Sejak itu Emha tancap gas menulis puisi.
Emha remaja gandrung benar terhadap puisi, sampai-sampai mengesampingkan sekolahnya. Dalam buku semi-memoar Kiai Hologram (2018: 30), Emha mengakui bahwa renjana itu membuatnya rela bolos sekolah demi belajar puisi. Setidaknya ia membolos 40 kali dalam satu kuartal karenanya. Hampir tiap malam ia begadang di Malioboro untuk belajar puisi.

Ada apa di Malioboro sehingga Emha tertarik mendatanginya tiap malam? 

Membicarakan Malioboro—juga Yogyakarta—di akhir 1960-an tak pernah bisa dilepaskan dari keberadaan Persada Studi Klub (PSK). Sebuah komunitas yang menjadi medan kreatif penulis-penulis muda Yogya dan ke orbit itulah Emha berkitar.

Laiknya Pasar Senen pada dekade 1950-an, Malioboro jadi rendezvous para penulis muda Yogya. Di sana mereka belajar, berdiskusi, membaca puisi, dan merencanakan kegiatan-kegiatan kreatif. Di sanalah penulis masyhur generasi 1980-an seperti Emha, Linus Suryadi AG, Iman Budhi Santosa, juga Korrie Layun Rampan bertumbuh.

Diskusi Sepanjang Jalan

PSK lahir dari inisiatif Umbu Landu Paranggi, redaktur sastra mingguan Pelopor Yogya, pada 5 Maret 1968. Di lantai dua kantor redaksi mingguan tersebut, jalan Malioboro 175 A, kala itu ikut pula Teguh Ranusastra Asmara, Ragil Suwarna Pragolapati, Iman Budhi Santosa, Soeparno S. Adhy, Mugiyono Gito Warsono, dan M. Ipan Sugiyanto Sugito. Tujuan mereka cuma satu: mengasah kreativitas penulisan.
“Sebagai tradisi, Umbu meminta yang hadir membacakan puisinya. Maka, enam penyair muda itu mencoba membacakan puisi yang dibawa, terutama yang belum pernah dimuat di media massa,” kenang Teguh Ranusastra Asmara dalam “Persada Studi Klub, Akar Kelahiran, dan Suburnya Komunalisme Kreatif di Yogyakarta” yang jadi bagian bunga rampai Orang-orang Malioboro (2010: 19).
Begitulah awalnya anggota PSK berkumpul tiap minggu. Umbu menyediakan kantor redaksi Pelopor Yogya sebagai tempatnya. Dimulai dari pembacaan karya, Umbu kemudian memberikan kritik dan masukan untuk karya anak PSK.

Achmad Munif, prosais jebolan PSK, mengenang kantor Umbu itu hanyalah salah satu tempat saja. Lapak diskusi atau pembacaan karya bisa digelar di mana saja. Mereka biasa pula berkumpul di rumah salah satu anggota PSK, tetapi paling sering memang di sepanjang jalan Malioboro. Bagi mereka waktu bukan soal. Lapak diskusi bisa dibuka kapan saja.
“Demikianlah potret para penulis muda waktu itu, sepertinya hidup hanya untuk berpikir, membaca, berdiskusi dan menulis. Sesekali ikut lomba deklamasi, sesekali datang ke Bengkel Teater untuk melihat latihan akting, sesekali membaca puisi keras-keras di Taman Garuda,” kenang penulis novel Merpati Biru itu dalam “Merangkai Kembali Lembar-lembar yang Hilang” (hlm. 27).
Dari diskusi mingguan itu kegiatan PSK lantas melebar ke luar Malioboro, bahkan ke luar Yogyakarta. Sesekali PSK bikin acara semacam wisata sastra, perkemahan sastra, perlombaan sastra, sarasehan, hingga pentas seni. Sebutlah misalnya di lereng bukit Kali Code, Kali Progo, Kali Gajah Wong, lapangan kampung, kampus, sekolah-sekolah, surau atau masjid, pasar, swalayan, kantor-kantor pemerintah, pesantren, panti asuhan, dan sebagainya.

Anggota PSK tak ingin menyekat diri dari masyarakat. Karenanya penonton PSK berasal dari beragam kalangan, terutama masyarakat akar rumput. Mulai dari akademisi yang paham sastra hingga warga kampung yang awam. Hingga memunculkan apa yang oleh Teguh Ranusastra disebut “baca puisi jalanan”.

Saeful Anwar dalam Persada Studi Klub dalam Arena Sastra Indonesia (2018) menyebut bahwa Umbu mendukung kegiatan-kegiatan itu dengan mengintegrasikannya dengan Pelopor Yogya. Mingguan tempat Umbu bekerja itu digunakan sebagai tempat pemuatan karya sekaligus media komunikasi PSK. Pelopor Yogya menyediakan rubrik khusus bagi anak-anak PSK yang dinamai Pos Persada.

Dalam kolom tersebut ia mengomentari karya-karya yang masuk ke redaksi, tetapi tidak dimuat dalam Pelopor Yogya. Paranggi juga terkadang menyapa para anggota yang telah lama tidak mengirim karyanya. 
"[...] Media ini juga menjadi pengesahan seseorang menjadi anggota PSK meskipun tidak berdomisili di Yogyakarta," tulis Saeful (hlm. 35-36).
Rubrik Pos Persada didesain Umbu sebagai wadah karya anggota PSK yang telah memenuhi standar tetapi belum cukup bermutu. Untuk puisi-puisi kelas wahid, Umbu punya ruang lain yang dinamai Sabana. Umumnya anggota PSK mesti tembus Persada dulu sebelum karyanya dipajang di Sabana. Meskipun Pelopor Yogya adalah media lokal, namun rubrik Sabana sama prestisiusnya dengan majalah sastra sekelas Horison, Budaya Jaya, dan Basis.

Latief S. Nugraha dalam Sepotong Dunia Emha (2018: 93) mengutip kelakar Emha tentang betapa prestisiusnya rubrik Sabana Pelopor Yogya kala itu. Jika berhasil terbit di Sabana, ia ibaratkan seperti naik haji, sementara jika tembus Horison
 itu sama saja seperti isra mikraj.
Infografik Persada Studi Klub

Umbu Sang Mentor

Tak bisa dibantah sosok Umbu sebagai inisiator dan mentor PSK memang penting. Sebagai redaktur sastra ia dianggap gurunya anak-anak PSK. Di kalangan PSK, redaktur sastra kelahiran Sumba, 10 Agustus 1943, itu dijuluki Presiden Malioboro.

Umbu dengan telaten dan intens membina penulis-penulis muda PSK. Tak hanya lewat perjumpaan mingguan, tetapi juga melalui rubrik Persada dan Sabana yang ia asuh. Ia membaca semua karya yang masuk dan mengurasinya. Karya-karya yang belum memenuhi syarat muat tak ia singkirkan begitu saja, tetapi dikembalikan kepada si penulis dengan catatan-catatan perbaikan.

Iman Budhi Santosa, anggota PSK generasi pertama, mengakui bahwa kelebihan Umbu adalah caranya yang tak biasa dalam memperkenalkan sastra. Bukan lewat teori dan standar teknis sebagaimana dipelajari di kelas, Umbu memperkenalkan sastra sebagai kesatuan dengan kehidupan. Ia mengajari orang menulis melalui pengalaman.
Dalam “Kreativitas ‘Sarang Laba-laba’ dari Balkon Tua Lantai Dua” yang terhimpun dalam Orang-orang Malioboro (hlm. 79), Iman menulis, “Ia [Umbu] fasih mengubah sebuah pertemuan di warung kopi sehingga memunculkan banyak ‘puisi’.”
Hal itu misalnya bisa dilihat dari pengalaman Teguh Ranusastra Asmara. Suatu malam Umbu mengajak Teguh menyusuri Malioboro. Beberapa kali Umbu berhenti dan meminta Teguh mengamati sekelilingnya. Ditunjuknya seorang gelandangan yang tertidur di emperan sebuah toko.
“Dik, itu puisi! Coba amati, rasakan dan renungkan. Bangun puisi dengan suasana malam seperti ini. Cari kata yang sederhana untuk mewakili ide adik,” kata Umbu kepada Teguh tiba-tiba.
Peristiwa dan kata-kata Umbu itu benar-benar menggugah pikiran Teguh. Ia terus memikirkannya hingga pulang. Berhari-hari kemudian ia sibuk bergelut menulis puisi seperti yang diminta sang mentor. Hasilnya adalah sebuah puisi berkepala “Gelandangan Malioboro.”
“Nasihat dan ‘cubitan-cubitan kecil’ seperti itulah yang selalu diberikan Umbu kepada teman-teman Persada Studi Klub. Manakala hasil yang ditulis belum mencerminkan adanya peningkatan, tak segan-segan Umbu minta direvisi, ditulis ulang, atau diganti sekalian,” tulis Teguh (hlm. 20).
Itulah yang memikat banyak anak muda yang bercita-cita jadi penulis mengorbit di sekeliling Umbu. Sebagai penyair, barangkali Umbu bukanlah penyair yang menonjol dengan karya-karya yang menarik minat kritikus. Tetapi, ia punya posisi penting sebagai pembina penyair-penyair muda.

Emha dalam esainya, “Presiden Malioboro, Untuk Umbu”, yang tayang di Kompas (16/12/2012) menyebut bahwa keterkenalan sebagai penyair memang bukanlah tujuan Umbu. Ia bahkan dengan sadar menjauhi eksistensi sebagai penyair. Padahal ia punya kesempatan untuk itu ketika pada 1973 puisi-puisinya hendak diterbitkan oleh majalah Horison.
“Umbu diam-diam masuk ke percetakan di mana majalah itu dicetak, mencuri puisi-puisinya sendiri, dan menyembunyikannya sampai hari ini. Umbu sangat curiga kepada kemasyhuran dan popularitas,” demikian Emha.

Bubar Ditinggal Umbu

Pada 1975, secara tiba-tiba Umbu minggat dari Yogya. Banyak yang mengira ia pulang kampung ke Sumba. Namun, ternyata ia memilih menetap di Bali hingga kini. Ditinggal sang mentor utama, kegiatan dan kegairahan di PSK perlahan surut.

Tak ada yang bisa benar-benar menggantikan posisi Umbu di PSK. Meskipun begitu, sebenarnya masih ada Ragil Suwarna Pragolapati yang mencoba meneruskan pekerjaan Umbu. Sepeninggal Umbu, Ragil membuka sanggar di rumahnya di Bantul. Di sana Ragil menggelar pertemuan dan diskusi. Penyair yang hilang di Gua Langse pada 1990 itu juga adalah dokumentator karya-karya anggota PSK yang paling tekun.

Ragil mendokumentasikan hampir semua hal terkait PSK. 
“Hampir setiap tulisan tangan puisi, ketikan puisi, makalah-makalah diskusi, buku-buku, koran-koran, majalah-majalah, dan segala jenis penerbitan puisi, karcis pertunjukan pembacaan puisi, esei-esei tentang puisi, bahkan segala sesuatu yang terkait dengan kehidupan para penyair orang-orang Malioboro ketika itu,” tulis Emha dalam epilognya untuk Orang-orang Malioboro (hlm. 267).
Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Ivan Aulia Ahsan

Sumber: Tirto.Id 

Minggu, 27 Mei 2018

Wayang Menak di Tangan HB IX

Oleh: PURWADMADI - 27 Mei 2018

REVITALISASI: Salah satu adegan pergelaran wayang menak lakon Geger Mukadam karya Sultan HB IX yang ditampilkan POSB Retno Aji Mataram, Jogjakarta (6/5).

MEMBANGKITKAN se­ma­ngat penciptaan seni tra­di­si klasik yang mendobrak, men­transformasi simbol kehidu­­pan untuk mencari hakikat jati diri me­lakoni hidup sebagai ’’wa­yang’’ yang dimainkan ’’dalang sejati’’, jati diri kemakhlukan, melalui metafora personifi­ka­tif wayang golek (boneka), mung­kin menjadi peker­jaan besar generasi kini dalam menghargai karya budaya pendahulu.

Wayang golek menak atau wayang wong menak merupakan karya monumental dalam khaza ah tari klasik gaya Jog­jakarta yang coba diangkat ulang dari keterendaman za­man oleh Dinas Ke budayaan DIJ.
Di pendapa Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Jogjakarta, wayang menak dipergelarkan 6–8 Mei lalu oleh enam perkumpulan tari dalam enam lakon.

Enam lakon itu adalah Geger Mu­kadam yang dibawakan POSB Retno Aji Mataram, Menak Sorangan (Siswa Among Beksa), Bedhah Negari Ambarkustub (YPB Sasminta Mardawa), Jayengrana Winiwaha (Kridha Beksa Wirama), Retna Marpinjun (PK Suryo Kencono), dan Widaninggar Boyong (Irama Tjitra).

Lakon wayang menak ber­sumber dari Serat Menak dan Serat Ambya. Banyak sumber menyebutkan, lakon itu saduran dari buku Hikayat Amir Hamzah dalam khazanah sastra Melayu yang bersumber dari Qissail Emr Hamza dalam khazanah sastra Parsi-Arab. ’’Pen­ja­waannya’’ menjadi Serat Menak oleh kalangan pujangga dan carik di Keraton Kartasura atas perintah Ratu Blitar, istri Sunan Paku Buwono I, kepada Carik Narawita (1717).

Kemudian berlanjut pada masa Yasadipura I (1729–1802), pujangga yang mengalami masa Keraton Kartasura-Surakarta. Tradisi sastra menak berkembang menjadi kekayaan serat lakon dan serat wulang di keraton-keraton Jawa yang kemudian meluber hingga di kalangan rakyat.

Serat Menak digunakan sebagai sumber lakon pertunjukan wayang golek (boneka) dan populer di kalangan rakyat pada ma­sanya.

Raja Jogjakarta kala itu, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) IX, sempat menyaksikan pertunjukan wayang golek pada tahun 40-an di daerah Kedu, Jawa Tengah.

Peristiwa itulah yang memicunya untuk menyusun tarian klasik dengan basis estetika tari klasik Jogjakarta, diperkaya unsur estetika wayang golek dengan sumber lakon selain Ma­ha­bharata, Ramayana, dan Panji (gedhogan).
Serupa golek menari? Bukan. Wayang golek menak karya Sri Sultan HB IX (1912–1988) tidak menyerupakan golek (kayu) yang sedang ditarikan dalang. Bukan meniru gerak golek.

Wayang golek menak memulangkan tariannya pada prinsip dasar tari klasik gaya Jogjakarta. Bukan menari serupa golek, melainkan menarikan tarian golek sebagai sebuah genre tari dalam khazanah tari klasik Jogjakarta, setara genre bedhaya-srimpi, beksan, dan wayang wong.

Karya monumental Sultan HB IX itu sempat vakum (ditam­pilkan) selama 1944–1980 ka­rena kesibukan Sultan terlibat dalam mengurus republik ini sejak 1945.

Me­mang, dalam bentuk pethilan (potongan adegan), tarian itu sering menjadi sajian bagi tamu dan turis dengan menampilkan garuda menak yang aksentuatif ke-Jogja-annya.

Baru sekitar 1985 sejumlah perkumpulan seni tari di Jog­jakarta diminta Sultan untuk melakukan revitalisasi wayang golek menak ciptaannya tersebut. Proses pembaruan itu, termasuk memasukkan unsur gerak silat Minangkabau, dalam pengawasan langsung Sultan.

Hasil kerja pembaruan secara kolektif oleh sejumlah perkumpulan tari tersebut secara bertahap telah diper tunjukkan beberapa kali di hadap an HB IX di Jakarta maupun Jog jakarta.

Pada akhir 1998 direncanakan pergelaran hasil final revitalisasi partisipatif itu. Namun, sebelum pergelaran tersebut dilangs­ungkan, pada 2 Oktober 1998 HB IX keburu wafat di Washington, Amerika Serikat. Memang, tari golek menak memiliki sumber penciptaan dari wayang golek (boneka kayu) dan karenanya ada se­jumlah pertanda kegolekan dan kemenakannya.

Di antaranya, detail prinsip rubuh bareng (duduk/simpuh bersama), unjal napas (menarik napas), api-api wuta (berlagak seperti buta), ngenceng driji-tapak tangan (jari-telapak tangan gerak lurusrapat), di samping prinsip dasar filosofi nyawiji, greget, sengguh, dan ora mingkuh.

Termasuk perkara teknik pengelolaan tubuh terkait dengan posisi deg (posisi berdiri), mendhak (meren­dah­kan badan), jujungan (angkat kaki), tolehan (cara mene­ngokkan kepala), pandengan (arah tatapan mata), pupu mlu mah (arah hadap paha), nglempet (perut kempis), cethik mlumah (sendi pinggang direnggang), menggunakan prisip tari Jogjakarta.

Tari golek menak diciptakan pada masa pendudukan Jepang (1942) dan dipentaskan lengkap untuk kali pertama pada 1944 di Keraton Jogjakarta. Setelah itu jarang dipentaskan.

Sedang­kan dalam bentuk fragmen atau potongan adegan, kini telah menjadi salah satu sajian pertunjukan khas Keraton Jogjakarta. Biasanya adegan pertarungan dua tokoh putri dalam lakon menak, seperti Kelaswara-Adaninggar, dengan meniti burung garuda.

Peningkatan frekuensi pemanggungan wayang wong menak sejatinya tidak berhenti pada perkara estetika teknis tarian, gerak dan komposisi, busana dan iringan, serta ekspresi lakon-lakon menak, melainkan memperkuat penan­da kedalaman perenungan dan ekspresi pengolahan energi ke budayaan dalam menjawab tantangan perubahan.

HB IX menciptakan wayang wong menak atau tari golek menak sekurangnya menca­tatkan momentum sejarah budaya. Yakni,
(1) menyerap energi kreasi rakyat menjadi sumber penciptaan ’’tari istana’’, (2) melengkapi sumber cerita yang mengandil tambahan struktur etika dan estetika dominan (Mahabharata-Ra­ma­yana- Panjia),
(3) meng­galang partisipasi pelaku seni dan empu tari di luar istana untuk mengutuhkan pen­ca­paian karya cipta Sultan,
(4) meramu paradigma estetika mapan (pakem-paugeran) tari klasik dengan sumbangan pakem ’’paugeran baru’’ yang selaras,
(5) memasuk kan unsur kekuatan khazanah budaya rakyat seperti wa yang golek (boneka), gerak silat tradisi Minangkabau, merupa kan upaya persenyawaan antar-lintas-kawin budaya yang mem­perkuat jati diri budaya nasional, serta
(6) memaknai kerja pelestarian bu daya tidak sebatas proses dup likasi, repitisi, reproduksi, dan ke­rja pengawetan lainnya, melain­kan merambah kuat pada ke­rja pengembangan dan pemanfaatannya.

Sri Sultan HB IX telah mem­berikan contoh kerja nyata bagaimana menemukan karya budaya baru yang tetap me­mulangkannya pada kekuatan akar tradisi budaya yang di­ba­ngun dan diperjuangkan para pendahulu bangsa.

Me­men­taskan wayang menak bu­kan sebatas membangkit­kan batang terendam, melainkan juga merupakan cara terhormat menghargai kerja-kerja budaya bermartabat para pendiri bangsa.

(*)

Purwadmadi, pemerhati dan penulis seni budaya

Teguh Karya: Teater, Sinema, dan Capaian Seorang Maestro

Oleh: M Faisal - 27 Mei 2018

Teguh Karya; 1982. FOTO/Wikicommon

Ditempa di teater, Teguh Karya menjelma jadi sutradara bernas tanah air. Film-filmnya mengangkat narasi pertentangan kelas dan pencarian identitas—sesuatu yang terus ia pertanyakan sebagai seorang minoritas.

Tak butuh waktu lama untuk menyebut Teguh Karya sebagai maestro sinema Indonesia. Berlebihan? Rasanya tidak. Jika melihat kiprahnya dalam belantika film tanah air, terutama pada era 1970-1980an, pernyataan ini sah belaka.

Banyak orang bilang, salah satu alasan mengapa Teguh Karya pantas mendapat predikat maestro adalah film Badai Pasti Berlalu yang ia bikin pada 1977. Film yang diadaptasi dari novel karangan Marga T. yang berjudul sama ini memang satu dari sekian magnum opus Teguh Karya.

Badai Pasti Berlalu mengisahkan kehidupan asmara Siska (Christine Hakim) yang remuk karena batal bertunangan. Sikapnya lantas berubah dingin. Baginya, segala hal tentang cinta adalah omong kosong. Suatu hari muncul Leo (Roy Marten), playboy kedokteran yang mencoba meluluhkan hati Siska. Motivasi Leo, sayangnya, bukanlah cinta melainkan taruhan dengan teman sekampusnya.

Persoalan makin rumit tatkala Leo justru jatuh hati betulan. Belum lagi, Siska kedatangan Helmy (Slamet Rahardjo) yang hendak menikahinya dengan tujuan memeras. Sebab, si ayah Siska diketahui main gila bersama adik Helmy.

Yang tersaji setelahnya ialah gambaran betapa kompleksnya pergumulan Siska demi cinta sejati. Iringan musik latar yang menggugah ciptaan Eros Djarot makin membuat suasana Badai Pasti Berlalu mengharu biru.

Sampai akhirnya, di titik tertentu, kita bakal meyakini bahwa film ini pantas untuk menyabet gelar salah satu film terbaik Indonesia sepanjang masa.


Berawal dari Teater

Teguh karya lahir di Pandeglang, Banten, pada 22 September 1937, dengan nama Liem Tjoan Hok. Ia anak pertama dari lima bersaudara. Di usianya yang ke-10, ia dan keluarganya terpaksa mengungsi ke Jakarta karena konflik etnis yang meletus di kampung halamannya.

Jakarta menjadi permulaan Teguh untuk mengenal dunia seni. Di gereja tempatnya beribadah, ia bergabung dengan kelompok drama yang tampil saban Natal dan Paskah. Pengalaman itu membuat Teguh jatuh hati dengan semesta seni peran. Pada 1954, Teguh merantau ke Yogyakarta untuk kuliah di Akademi Seni Drama dan Film (Asdrafi). Dari Asdrafi, Teguh melanjutkan pendidikannya di Akademi Teater Nasional Indonesia (1957-1961), lalu di East West Center Honolulu, Hawaii (1962-1963).

Pada masa itu, seperti dicatat Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Teguh sibuk menggembleng diri dalam seni peran. Selain mengajar di ATNI, ia pun turut serta dalam pelbagai pementasan yang diadakan ATNI. Teguh begitu intens mempelajari olah peran. Ia juga tak ragu menimba ilmu kepada senior macam Usmar Ismail, Asrul Sani, dan D. Djajakusuma yang kelak mengilhaminya dalam berkesenian.

Pada 1968 merupakan momen Teguh untuk berdikari tatkala ia mendirikan Teater Populer, teater modern pertama di Indonesia. Pendirian Teater Populer didorong oleh faktor bahwa usai ATNI tutup akibat masalah finansial, tak ada lagi tempat untuk belajar teater. Maka dari itu, Teguh membulatkan tekad guna menciptakan fasilitas berlatih dan belajar ilmu teater.

Teater Populer mulanya bernama Teater Populer Hotel Indonesia. “Hotel Indonesia” disematkan karena mereka banyak tampil di Hotel Indonesia, tempat di mana Teguh bekerja sebagai manajer panggung. Baru pada 1972, bersamaan dengan keluarnya Teguh dari kerja kantorannya, nama Teater Populer Hotel Indonesia berubah jadi Teater Populer.

Pementasan Teater Populer, terang Gaston Soehadi dalam disertasinya berjudul Teguh Karya: A Film Auteur Working within Collective (2015), banyak mengadaptasi naskah klasik karangan Tennessee Williams, Robert Andersen, Noel Coward, Harold Pinter, Nikolai Gogol, August Strindberg, Georg Buchner, dan Hendrik Ibsen. Selain itu, mereka mengusung semangat realisme yang diusung Usmar Ismail, Asrul Sani, dan D. Djajakusuma saat mendirikan ATNI pada tahun 1950-an. 

Mayoritas anggota Teater Populer adalah anak didik Teguh di ATNI dan beberapa penggiat teater independen. Mereka sering berkumpul di rumah Teguh di Jalan Kebon Kacang, Tanah Abang dari 1972-1980, sebelum pindah ke tempat yang lebih besar di Jalan Kebon Pala yang juga berlokasi di Tanah Abang.

Di markas yang akrab disebut "laboratorium kreatif" itu, Teguh dan anggota lainnya disibukkan oleh berbagai macam aktivitas seperti diskusi, pelatihan peran, penulisan naskah, workshop, pemutaran film, sampai pertunjukkan kecil-kecilan. Antusiasme di Kebon Pala ini diakui salah satu murid Teguh, Nano Riantiarno.
“Setiap jam delapan pagi hingga empat sore, saya dan Slamet [Rahardjo] belajar tentang hal-hal dasar dari seni teater bersama Teguh,” ujar Nano kepada CNN Indonesia.
Kawah candradimuka Teater Populer lantas melahirkan seniman-seniman bernas di eranya seperti Slamet Rahardjo, Nano Riantiarno, Christine Hakim, Franky Rorimpandey, Alex Komang, Dewi Yul, Ray Sahetapy, Rina Hasyim, Tuti Indra Malaon, George Kamarullah, Henky Solaiman, Benny Benhardi, hingga Ninik L. Karim.

Tak cuma bergerak di bidang teater, Teguh bersama Teater Populer juga melebarkan sayapnya ke dunia film. Yang unik, Teguh hanya ingin membuat film dengan para anggota kolektif di Kebon Pala. Ia bersikeras bahwa semua anggota Teater Populer harus terlibat dalam berbagai kapasitas dalam proyek filmnya dengan ia duduk di kursi penyutradaraan. Di sini pula, nama Teguh diakui dunia perfilman Indonesia sebagai sutradara andal.

Total, bersama kolektif Teater Populer, Teguh menghasilkan 13 film: Wajah Seorang Laki-Laki (1971), Cinta Pertama (1973), Ranjang Pengantin (1974), Kawin Lari (1975), Perkawinan dalam Semusim (1976), Badai Pasti Berlalu (1977), November 1828 (1978), Usia 18 (1980), Di Balik Kelambu (1982), Secangkir Kopi Pahit (1984), Doea Tanda Mata(1985), Ibunda (1986), serta Pacar Ketinggalan Kereta (1989).
infografik teguh karya


Film-Film Teguh: Melodrama, Diskriminasi Etnis, dan Kelas Sosial

Pada 1960-an, industri film dalam negeri kolaps akibat larangan impor film-film Amerika yang sebelumnya dikampanyekan oleh Panitia Aksi Pemboikotan Film Imperialis Amerika Serikat (PAPFIAS) serta Komite Aksi untuk Boikot Film-Film Imperialis Amerika. Pemboikotan ini sejalan dengan kebijakan Presiden Sukarno yang anti-Barat. Bagi Sukarno, pengaruh Barat dalam sendi-sendi kehidupan negara ibarat virus yang harus dimusnahkan.

Situasi perlahan berubah ketika Orde Baru berkuasa. Di tengah situasi serba krisis, Soeharto membangkitkan kembali industri film. Ia percaya bahwa film mampu menjadi “sumber pendapatan negara melalui pajak penjualan tiket.”

Dari situlah berbagai kebijakan taktis ditempuh. Larangan impor film asing dicabut, aksi kekerasan dan adegan seksual diperbolehkan masuk bioskop guna menarik penonton, hingga menggenjot produksi film nasional yang nantinya bisa membantu mengembangkan ekonomi negara.

Langkah-langkah itu pun menghasilkan capaian signifikan. Dalam kurun waktu 1970-1988, mengutip S.M Ardan lewat Dari Gambar Idoep ke Sinepleks (1992), rata-rata jumlah film yang diproduksi per tahun mencapai angka sekitar 70 judul. Jumlah terbanyak dihasilkan pada 1977 dengan angka 120 judul.

Bergairahnya produksi film nasional itu, menurut David Hanan, peneliti dan pengkaji film Indonesia dari Monash University, memunculkan salah satu genre film yang paling diminati yaitu drama percintaan. Indikatornya adalah kesuksesan film garapan Wim Umboh, Pengantin Remaja (1971), yang dibintangi Sophan Sophiaan dan Widyawati.

Teguh pun terdorong bikin film bertema serupa. Terlebih, debut filmnya, Wajah Seorang Laki-Laki, gagal secara komersil. Agar dapat bertahan di industri film, Teguh akhirnya membuat film-film populer yang menarik perhatian masyarakat.

Niat itulah, sebagaimana ditulis Gaston Soehadi dalam disertasinya berjudul Teguh Karya: A Film Auteur Working within Collective, yang lantas diwujudkan dalam Cinta Pertama (1973), Ranjang Pengantin (1974), Kawin Lari (1975), dan Badai Pasti Berlalu(1977) yang berorientasi komersil, penuh melodrama keluarga, serta mengusung narasi konflik kelas sosial.

Dalam “Identitas dalam Film-Film Teguh Karya” Veronica Kusuma mengatakan melodrama khas Teguh dapat disimak lewat sejumlah ciri naratif serta estetika yang berpusat pada keluarga, dari Cinta Pertama, Ranjang Pengantin, Perkawinan dalam Semusim, Badai Pasti Berlalu, Usia 18, Di Balik Kelambu, Secangkir Kopi Pahit, Ibunda, dan Pacar Ketinggalan Kereta.

Ia menambahkan, melodrama Teguh Karya melahirkan sosok sentral (keluarga borjuis) yang sedang mengalami krisis atau ancaman berupa kemungkinan diambilnya sesuatu berharga oleh pihak yang dianggap kurang sesuai dengan standar kelas mereka.

Contohnya: dalam Badai Pasti Berlalu, keluarga Siska berupaya keras agar kehormatan dan kekayaan mereka tidak diambil oleh Helmy. Kemudian dalam Ibunda, Fitri dilarang menjalin hubungan dengan Luke, pemuda asal Papua. Sedangkan dalam Cinta Pertama, Ade yang notabene putri tunggal direktur perusahaan jatuh cinta pada mantan narapidana.

Film-film Teguh, masih menurut Veronica, juga menjajaki ketidakmampuan tokoh utama dalam menghadapi kenyataan. Tokoh utama dalam film Teguh selalu jadi korban yang terus disakiti dan nampak nelangsa. Misalkan, Siska dalam Badai Pasti Berlalu yang berkali-kali hatinya dihancurkan lelaki. Atau Secangkir Kopi Pahit yang memperlihatkan inkompetensi Togar dalam menghadapi berbagai persoalan keluarganya.

Soehadi berpendapat bahwa kombinasi antara kisah melodrama romansa antar kelas yang berulang kali hadir dalam film-film Teguh adalah alasan mengapa karya-karyanya laris. Dua hal itu, tulisnya, memungkinkan Teguh untuk mendapatkan dukungan keuangan dari produser yang memastikan karya-karyanya bakal berlanjut.

Namun, tak sekadar mengangkat narasi kelas sosial dan melodrama semata, film-film Teguh juga menyentil masalah diskriminasi yang diterimanya sebagai keturunan Tionghoa di era tiran Orde Baru. Walaupun tidak menampilkan karakter Tionghoa, pendekatan dan karakterisasi dalam film Teguh, mengutip Veronica, "mencerminkan kebimbangan dan pencarian identitas yang melandanya selaku anak seorang pendatang Tionghoa dan ibu dari golongan pribumi." Dilema identitas tersebut kemudian diubah menjadi konflik psikologis dan (lagi-lagi) keluarga yang menandai keterasingan maupun pencarian.

Krisna Sen dalam “’Chinese’ Indonesians in National Cinema” (2006) yang dipublikasikan Media and the Chinese Diaspora menjelaskan, film Teguh, Wajah Seorang Laki-Laki (1972), berhasil mengisahkan bagaimana kebijakan asimilasionis Orde Baru justru membuat keluarga Tionghoa sulit menjalin hubungan dengan tetangganya. Sen melanjutkan, melalui Wajah Seorang Laki-Laki dan November 1828, Teguh menyampaikan sikap politisnya yang terbentuk oleh pengalamannya sebagai seorang keturunan Tionghoa yang merasakan kebijakan diskriminatif Orde Baru.

Pada akhirnya, Teguh Karya membuktikan bahwa sekali maestro, akan terus jadi maestro. Sepak terjangnya dan rekam karyanya adalah bukti bagaimana ia berproses tanpa henti dalam meramu kreasi yang banyak terinspirasi kondisi sosial-politik di era Orde Baru. Semua ia sampaikan dalam satu wadah bernama keluarga.
"Ia [Teguh] adalah pekerja yang baik. Ia yang mengajarkan kami bagaimana mencintai pekerjaan. Kalau kamu menjadi orang film, maka kamu harus mencintai film itu dengan segala cara. Bagaimana caranya? Kerja keras dan belajar," ujar Slamet Rahardjo kepada CNN.
Reporter: M Faisal
Penulis: M Faisal
Editor: Windu Jusuf

Bersama Teater Populer, Teguh Karya menghasilkan 13 film panjang.

Sumber: Tirto.Id 

Kamis, 24 Mei 2018

Al-Ilmu Nuurun | Mahbub Djunaidi Berpolitik lewat Gagasan dan Tulisan

Oleh: M. Ahsan Ridhoi - 24 Mei 2018



Mahbub Djunaidi, esais tulen, Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang pertama. tirto.id/Quita


Mahbub Djunaidi adalah salah satu esais paling produktif pada masa Orde Baru. Hampir semua tulisannya memanfaatkan kekayaan metafora dan humor.
"Selaku penulis saya ini generalis, bukan spesialis. Saya menulis ihwal apa saja yang lewat di depan mata. Persis tukang loak yang menjual apa saja yang bisa dipikul."
Pengakuan itu ditulis Mahbub Djunaidi dalam esainya berjudul "Kesatria" (Kompas, 14/6/1985). Sebagai penulis, ia terkenal tangkas menangkap realitas keseharian buat diangkut ke dalam tulisan. Sangat mudah menemukan ihwal remeh temeh seperti nasi goreng di restorasi kereta api, merek kecap, hewan peliharaan, sampai kegiatan arisan ibu-ibu, dalam esai-esainya.

Seperti diungkap dalam Mahbub Djunaidi Seniman Politik Dari Kalangan NU Modern: Sebuah Biografi (2001), pendiri Kompas sekaligus kawan Mahbub, Jakob Oetama, menyebut hal itu sebagai “keunikan dan melampaui zaman. Tidak seperti kebanyakan penulis yang cenderung analisis dan menjabarkan ide, Mahbub menampilkan peristiwa, sosok orang, dan kejadian untuk menuangkan ide, sehingga lebih mudah dicerna pembaca” (hlm. 175). 

Esai Mahbub berjudul "Kecuali" (Kompas, 30/11/86) bisa jadi contoh. Ia membuka esai yang berpokok pada kritik terhadap kelambanan pemerintah dalam memajukan transportasi itu, dengan menceritakan tetangganya bernama Sri Lestari yang tak pernah lestari soal percintaan.

“Apanya yang lestari? Pacarnya saja tidak lestari. Dalam dua tahun belakangan ini tidak kurang dari 4 kali berganti pacar. Berarti, seorang pacar untuk satu semester. Fakta ini mengakibatkan opini gadis-gadis sebayanya terpecah-pecah. Ada yang kagum. Ada yang iri. Ada yang mencibirkan bibir. Dan ada pula yang menganggapnya ‘subversif’.” 
Trik bercerita seperti itu kerap digunakan Mahbub untuk menggiring pembaca sampai pada pokok persoalan. Hal ini tak lepas dari anggapannya bahwa menulis seperti pencak silat. “Ada yang disebut kembangan, jurus dan isi.” Cerita-cerita itu merupakan kembangan. Sementara jurusnya adalah humor yang menjadi ciri khasnya. Biasanya disajikan lewat satir.

Dengan jurus macam itu, Mahbub bisa mengkritik rezim Soeharto dan pihak-pihak lain tanpa menyakiti perasaan objek kritiknya. Terbukti ia tak pernah dicekal Orde Baru karena tulisan. Kecuali beberapa tulisannya tentang Pramoedya Ananta Toer yang ditolak beberapa media.

Selain itu, Mahbub juga terkenal berani "main" bahasa. Dalam tulisannya lumrah ditemui campur aduk bahasa Indonesia dengan bahasa daerah atau bahasa asing. Seperti kata ane, ente, gue, elu. 

Gaya macam itu, menurut Goenawan Mohammad dalam kata pengantar untuk kumpulan esai Mahbub Kolom Demi Kolom (1995), “meneroboskan bahasa Indonesia melewati jaring-jaring bahasa takut-takut yang menguasai pidato dan tulisan di koran-koran” (hlm. 6).

Bahkan, pendiri Tempo tersebut menyebut, “kelebihan Mahbub dalam kolom-kolomnya yang belum tertandingi oleh siapapun, ialah bahwa ia bisa mengatasi dan mempergunakan bahasa Indonesia dengan kecakapan seorang mime setingkat Marcel Marceau. Kata-kata, kalimat-kalimat, ia gerakkan dalam pelbagai ‘perumpamaan’ yang tidak pernah membosankan karena selalu tak terduga.” 

Misalnya, pada deskripsi Mahbub soal Tempo kepada Goenawan berikut:

Majalah yang dipimpinnya itu seperti pisang dempet, langka dan unik, karena menganut jurnalistik gaya baru, menggabung kaidah pers dan sastra, dua jenis makhluk yang dulunya saling mendelik dan cela. Itu sebabnya kebanyakan orang membacanya sambil jongkok, semata-mata karena asyik dan kenes, mempermainkan bahasa seakan bahasa itu milik om dan tantenya sendiri.

Warisan Betawi

Abdurrahman Wahid, Presiden RI ke-4, menilai gaya Mahbub tersebut sebagai warisan jurusan Tanah Abang. 
“Tradisi berhikayat model almarhum Pak Zahid, tukang cerita Betawi yang kuat menceritakan dongeng-dongeng kocak semalam suntuk” ("Mahbub dan Bani Sadr", Tempo, 25/7/1981).
Sementara budayawan Betawi sekaligus sahabat Mahbub, Ridwan Saidi, menyatakan kebolehan Mahbub itu terinspirasi dari Kwee Kek Beng. Ia adalah penulis sketsa asal Betawi yang masyhur pada zaman Perang Dunia II dan pengampu tetap rubrik "Djamblang Kotjok" di harian Sin Po.

Mahbub Betawi tulen. Ia lahir di Tanah Abang, Jakarta, pada 22 Juli 1933. Ia berasal dari golongan keluarga pemeluk Islam yang kuat. Ayahnya bernama Muhammad Djunaidi, seorang pegawai Kementerian Agama di era revolusi fisik yang mengenyam pendidikan kultur Belanda dan Islam. Atau, dalam bahasa Mahbub, ayahnya “bersiul bagai Marsose, bersikap seorang kiai”. Ibunya bernama Muhsinati, wanita berdarah campuran yang menurutnya “lugu bagaikan sehelai kertas putih untuk suaminya, yang bisa ditulis sesuka hatinya”.

Pada usia 7 tahun, saat Agresi Militer Belanda, Mahbub sekeluarga mengungsi ke Solo. Di kota ini, ia belajar di sebuah madrasah kenamaan bernama Mambaul Ulum. Di sekolah itu ia bertemu dengan Kiai Amir yang memperkenalkannya dengan karya-karya George Orwell, Mark Twain dan Karl May. Tiga penulis yang, menurut Said Budairy, ia kagumi sampai mati dan mempengaruhi karyanya.

Said menyatakan, Mahbub juga gandrung dan terpengaruh karya Rusia dan sastrawan Idrus. Jejak pengaruh Idrus bisa dilacak dalam roman karangan Mahbub, Dari Hari ke Hari, yang memenangi sayembara sastra Dewan Kesenian Jakarta pada 1974.

Karier penulisan Mahbub dimulai saat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Cerpennya, Tanah Mati, dipublikasikan di majalah Kisah pimpinan Paus Sastra Indonesia H.B Jassin. Sebuah hal yang menurutnya tak terlupakan, karena pertama kali karyanya dipublikasikan di sebuah majalah.

Tamat SMP tahun 1952, Mahbub melanjutkan ke SMA Budi Utomo, Jakarta. Di sekolah ini, ia pertama kali mengurus majalah sebagai pimpinan redaksi Siswa. Dalam edisi perdana majalah tersebut pada 6 Desember 1954, ia menulis kolom nomor perdana berjudul Yang Masih Harus Dijelmakan. Said Budairy menilai kolom tersebut menjadi jejak konsistensi Mahbub dalam kemanusiaan sejak remaja hingga akhir hayatnya.

Di luar kegiatan majalah sekolah, Mahbub juga rajin menulis esai, puisi, dan cerpen untuk majalah lain. Tercatat, tulisan-tulisannya dimuat di sejumlah majalah bergengsi saat itu, seperti Siasat, Mimbar Indonesia, Kisah, Roman, Star Weekly, dan Cinta.

Selain menulis karyanya sendiri, Mahbub juga aktif sebagai penerjemah. Di antara terjemahannya adalah Cakar-Cakar Irving (Art Buchwald), Hidup Baru Mulai di Umur 40 Tahun (Robert Paterson), 80 Hari Keliling Dunia (Jules Verne) yang menjadi kado ulang tahun salah satu anaknya, Di Kaki Langit Gurun Sinai (Hassan Heikal) yang ditulis di penjara pada 1978, Binatangisme (George Orwell), dan yang paling terkenal 100 Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah (Micheal H. Hart). 

Sementara karier jurnalistiknya dimulai pada 1958 di Duta Masyarakat, surat kabar milik Partai Nahdlatul Ulama (NU). Di kemudian hari, ia menjadi pemimpin redaksi koran itu. Sebagai surat kabar yang minim pendanaan, bisa dikatakan ia jungkir balik dalam mengurusnya. Selama bertahun-tahun, ia biasa menulis 1-2 tajuk rencana dalam sehari.

Di tangan Mahbub, surat kabar ini menjadi salah satu yang paling konsisten membela Pramoedya Ananta Toer di hadapan Orde Baru. Kelak, setelah surat kabar ini tak terbit lagi, pembelaan terhadap pengarang Tetralogi Buru tersebut terus dilakukannya. Salah satunya dengan mati-matian meminta Mendikbud Fuad Hasan membaca karya-karya Pramoedya.

“Orang yang seperti Pramoedya cuma satu dimusuhi terus-menerus. Padahal secara bahasa Pram mendidik kita,” kata Mahbub suatu kali kepada Ridwan Saidi.
Pramoedya juga mengagumi sosok Mahbub. Koesalah Toer dalam Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali (2006), menceritakan Pramoedya yang biasanya enggan diminta sambutan, maju ke depan forum saat peluncuran Sketsa Kehidupan dan Surat-surat Pribadi Sang Pendekar Pena Mahbub Djunaidi pada 1996. Pramoedya mengatakan, di kala ia diserang dari segala penjuru, hanya Mahbub yang membela.

Pembelaannya terhadap Pramoedya merupakan wujud konsistensinya melawan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Hal yang sama dilakukannya saat menjadi Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada masa peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru. Dengan otoritasnya, ia memulihkan kembali status wartawan Josoef Isak yang dicap simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan membantu usaha penerbitannya, Hasta Mitra.

infografik al ilmu mahbub djunaidi

Pendidikan Politik Lewat Tulisan

Selain penulis, Mahbub merupakan politikus dan aktivis. Ia merupakan anggota Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) saat SMA, anggota Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI), Ketua Umum pertama Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII), Wakil Ketua Umum Tanfidzhiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU), dan Wakil Ketua DPP PPP.

Namun, sebagai politikus Mahbub lebih suka berada di luar lingkaran kekuasaan. Ia menolak tawaran Gubernur DKI Jakarta Tjokropranolo untuk jadi wakil gubernur DKI Jakarta. Pada pemilu 1977, ia pun memilih mencalonkan diri sebagai anggota DPR dari Timor-Timor—daerah pemilihan yang mustahil PPP dapat konstituen. Satu-satunya jabatan politik yang pernah didudukinya adalah anggota DPR-GR/MPRS pada 1960.

Sebaliknya, seperti yang dikatakan Ridwan Saidi, Mahbub lebih suka menulis sampai akhir hayat. Menurut budayawan Betawi itu, menulis adalah aktivitas politik Mahbub. Lewat kolom-kolomnya, Mahbub memberi pendidikan politik. Salah satunya bisa dijumpai dalam "'Buku Petunjuk' Pendidikan Politik Sejak Dini" (Kompas, 10/5/1981).

Dengan "kembangan" ala Mahbub, cerita pelesiran bapak-anak ke kebun binatang disulap jadi modul singkat penjelasan tetek bengek ihwal politik.

“Pernah mendengar tentang hak asasi? Tentu pernah, walau mungkin hanya samar-samar. Itu penting kamu ingat-ingat mulai sekarang, karena hak asasi itu merupakan harta bendamu yang paling berharga. Jauh lebih berharga daripada rumahmu, sepedamu, sepatu roda dan bola tendangmu, digabung jadi satu. Sekarang barangkali belum begitu terasa arti pentingnya, tapi kalau kamu sudah dewasa kelak, dia akan merupakan suatu taruhan. Bisa membuatmu jadi manusia yang punya harga diri, tapi bisa juga membuatmu seperti seekor cacing.”
Jakob Oetama juga mengakui perjuangan Mahbub dalam memberikan pendidikan politik. Ia menyebut Mahbub sebagai seorang reformis yang menginginkan perubahan secara prosedural lewat pemilihan umum terbuka dan demokratis. Jalannya melalui politik praktis dan penguatan civil society seperti NU.

Untuk yang terakhir disebut, dalam memperjuangkan gagasannya Mahbub sempat berbeda pandangan dengan Abdurrahman Wahid. Pada Muktamar NU 1984, Mahbub memandang NU perlu menerapkan khittah plus, yakni organisasi tersebut tidak sekadar menjadi jamiah keagamaan, tapi tetap berpolitik sebagai partai.

Sebab, menurut Mahbub, dengan begitu organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut tak akan menjadi kuno dan dapat menjadi kekuatan besar untuk mendobrak terwujudnya demokrasi. Namun, gagasan tersebut akhirnya kalah dengan mayoritas pengurus NU yang mendukung gagasan Abdurrahman Wahid agar organisasi ini kembali ke khittah. Tidak berpolitik sama sekali. 

Pada 11 April 1978, akibat keluar masuk kampus buat orasi menentang Sidang Umum MPR, Mahbub dituduh subversif dan dijebloskan ke penjara oleh Orde Baru selama lebih kurang setahun. Selama di penjara, ia sempat menulis sebuah novel berjudul Angin Musim yang terbit pada 1985. Sejak saat itu, kesehatannya terus menurun.

Mahbub tak sempat menikmati demokrasi yang diperjuangkannya. Ia meninggal pada 1 Oktober 1995 di Bandung. Kematiannya membuat pilu keluarga dan sahabat-sahabatnya. Pramoedya, yang seminggu setelah pemakaman menziarahi kuburnya, berkata di depan pusara Mahbub:

“Bung orang baik. Semoga tenang dan bahagia di sana.”
___________________

Penulis: M. Ahsan Ridhoi
Editor: Ivan Aulia Ahsan

Sumber: Tirto.Id 

Kamis, 17 Mei 2018

Aneh! Sudah Ada DKD, Pemkab Kebumen kok Bentuk KSBN

Thursday, May 17, 2018 

KEBUMEN - Pelantikan dan pengukuhan Komite Seni dan Budaya Nusantara (KSBN) Kabupaten Kebumen beberapa waktu lalu menjadi polemik. Hal ini lantaran di Kebumen sudah ada Dewan Kesenian Derah (DKD) yang selama ini cukup aktif melakukan pembinaan terhadap kesenian di Kabupaten Kebumen.



Pengurus KSBN Kabupaten Kebumen saat dilantik dan dikukuhkan di Pendopo Bupati Kebumen.
Di media sosial seperti facebook, sudah muncul berbagai tanggapan terhadap berita pelantikan pengurus organisasi masyarakat yang dilantik pada Minggu 13 Mei 2018 lalu.
Yang terasa aneh pelantikan dan pengukuhannya dilakukan oleh Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Bambang Supriono. Padahal pada saat bersaman juga hadir Ketua Harian KSBN Jawa Tengah Prof Teguh Suprianto.

"Apakah KSBN merupakan organisasi bentukan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, sehingga yang melantik harus salah seorang pejabatnya?," kata Budayawan Kebumen, Achmad Marzoeki, Kamis 16 Mei 2018.
Pria yang akrab disapa Kang Juki itu mengkritik dasar pembentukan KSBN, yakni sesuai dengan yang diamanatkan dalam UU Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
Menurutnya, kalau bukan organisasi pemerintah, berarti organisasi kemasyarakatan (ormas). Sehingga pembentukannya mengikuti ketentuan UU Nomor 16 Tahun 2017 tentang Penetapan Perpu Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas UU Nomor 17 Tahun 2013 tentang Ormas.
"Kalau bukan organisasi pemerintah, mengapa membawa jabatan dalam organisasi? Seperti pelantikan oleh Kabid Kebudayaan Disdikbud Jateng," ujar Kang Juki. 
Selain itu, nama-nama pengurus KSBN Kabupaten Kebumen juga disebutkan jabatannya, seakan kedudukan dalam KSBN merupakan jabatan ex officio. Seperti Ketua Umum Mahmud Fauzi (Pj Sekda), Ketua Harian Ahmad Ujang Sugiono (Kepala Dinas Pendidikan) dan sebagainya. 
"Apakah selaku petinggi Pemkab Kebumen, Mahmud Fauzi tidak mengetahui bila jabatan dalam pemerintahan tidak dibawa seseorang ketika menjadi pengurus ormas seperti KSBN," tegasnya.
Ia mengungkapkan, UU Nomor 5 Tahun 2017, tidak mengamanatkan pembentukan institusi tertentu. Seperti halnya UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang dalam Pasal 43 ayat (1) mengamanatkan pembentukan Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Terkait masalah ini, lanjut dia, Plt Bupati Kebumen perlu memberikan teguran kepada Pj Sekda. Pada saat Pemkab Kebumen memerlukan pembenahan birokrasi pasca OTT KPK, 15 Oktober 2016, yang sampai saat ini belum tuntas penanganannya, Pj Sekda justru "menggiring" sejumlah pejabat menjadi pengurus ormas yang sama sekali tidak terkait dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) masing-masing. 
"Bahkan dikhawatirkan bisa memicu terjadinya penyimpangan dalam perencanaan dan pelaksanaan anggaran kegiatan yang terkait dengan pemajuan kebudayaan," tandasnya.
Sebelumnya, Pengurus Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Kabupaten Kebumen periode 2018-2023 resmi dikukuhkan di Pendopo Bupati Kebumen. Pelantikan dan pengukuhan itu dilakukan oleh Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Bambang Supriono. 

Meski fokus pada seni dan budaya, jajaran pengurus KSBN Kabupaten Kebumen didominasi oleh pejabat di lingkungan Pemkab Kebumen. Untuk pengurus harian, Ketua Umum dijabat oleh Mahmud Fauzi (Pj Sekda), Ketua Harian Ahmad Ujang Sugiono (Kepala Dinas Pendidikan). Sekretaris Umu Achmad Pinuji (Kabag umum), Sekretaris Sudirman (Sekretaris Disdik), dan Bendahara Umum Dyah Woro Palupi (Kepala BPKAD). (*)


Sumber: IniKebumen.Net