Ketoprak Dangsak

Pentas Ketoprak Dangsak "Reksa Mustika Bumi" kolaborasi Cepetan Alas dengan Ketoprak. Pentas ini digelar DKD Kebumendi PRPP Jateng [Foto:AP]

Lengger Banyumasan

Pementasan seni tradisi lengger dari Dariah; tokoh legendaris"Lengger Banyumasan"

Suro Bulus, Parodi Satire Ketoprak Rakyat

Lakon carangan "Suro Bulus" yang merupakan manifestasi perlawanan masyarakat tradisi terhadap kejahatan korporasi tambang

DRAS SUMUNAR, Tetet Srie WD

Pagelaran "Serat Dras Sumunar" karya Tetet Srie WD di Roemah Martha Tilaar Gombong

Dewa Ruci

Pentas wayang dengan lakon "Dewa Ruci" dalam Festival Dalang Anak di Banjarnegara. Tiga dari empat dalang cilik Kebumen sabet juara [Foto:AP]

Kamis, 15 Februari 2018

Rahasia terpendam maestro Lengger Lanang Banyumas


Kamis, 15 Februari 2018 04:00 - Reporter : Abdul Aziz

Maestro seni tradisi Lengger Lanang Banyumas, Dariah semasa hidup.. ©2018 Merdeka.com

Sepekan sebelum dijemput ajal, maestro seni tradisi Lengger Lanang Banyumas, Dariah, tiba-tiba menyebut nama Dewi Sekar Melati. Nama itu terdengar asing di telinga seluruh anggota keluarga yang tengah berkumpul di dalam kamar Dariah. Di masing-masing benak mereka, timbul tanda tanya serta ketidak pahaman.

Waktu itu, matahari pagi mulai terasa panas di Dusun Gelaran Desa Plana Kecamatan Somagede. Pada cucunya, Nur Kholifa (40), Dariah mengulurkan tangan memberi sebatang kunci yang ia ambil dari lilitan centing (stagen). Dariah meminta tolong, agar Kholifa membuka laci di dalam almari.

Untuk pertama kalinya sepanjang hidup mereka, setiap anggota keluarga melihat isi lemari milik Dariah. Tak ada yang mengherankan, hanya tumpukan-tumpukan pakaian. Tapi ketika laci dibuka terlihat buntalan kain, di dalamnya tersimpan 3 batu kecil warna hitam.

Meringkuk di ranjang, Dariah meminta agar buntalan kain beserta isinya dibuang hari itu juga ke sungai. Dariah juga berpesan, sebelum dibuang, Kholifa mesti berujar dalam hati bahwa pemiliknya sudah tak sanggup merawat lagi Dewi Sekar Melati. Permintaan yang menimbulkan keheranan, tapi dituruti oleh Kholifa tanpa bertanya.
"Kami sekeluarga tidak pernah tahu uwak (panggilan untuk kakak ayah atau ibu) menyimpan barang itu. Mungkin jimat. Uwak selama ini selalu membawa kunci lemari itu ke manapun," kata Nur saat ditemui merdeka.com di kediaman Dariah, Selasa (13/2).
Asal usul buntalan berisi batu itu tetap jadi misteri yang dibawa Dariah sampai ia berpulang pada Senin (12/2) dini hari pukul 01.00. Ia tutup usia pada umur 97 tahun. Bernama asli Sadam tapi lebih akrab disapa Dariah, ia sejatinya berjenis kelamin laki-laki.

Tetapi dalam kesehariannya sejak ia memutuskan jadi lengger selalu berpakaian selayaknya perempuan.

Kholifa lantas melanjutkan cerita, sejak buntalan kain itu dibuang, ia melihat ada perubahan pada sosok Dariah. Jika sebelumnya Dariah nampak berperilaku selayaknya perempuan, menjelang kematiannya ia kembali sebagai lelaki. Kholifa sulit untuk menjelaskan persis, tapi ada perubahan dalam karakter suara juga perangai yang tak lagi luwes seperti biasa.
"Mungkin saja, Dewi Sekar Melati itu indangnya (roh lengger) uwak. Setelah dibuang, uwak sudah terasa pasrah dan tak punya beban lagi," ujarnya.
Tindak tanduk Dariah selama ini, diceritakan menantunya, Sunu Sumarto (60) memang tak pernah bercerita tentang benda-benda gaib. Jika pun akan pentas melengger diundang ke suatu tempat, kebiasaan Dairah yang ia amati yakni berdoa di luar rumah. Ia biasanya berdiam diri sesaat, komat-kamit, dengan bergantian menghadap pada empat penjuru mata angin atau kiblat papat lima pancer sebagaimana disebut Dariah.

Mertuanya itu juga tak pernah menyinggung menyimpan benda-benda tertentu di dalam rumah. Ia lebih sering terlihat merawat sanggul, baju, selendang, jarik dan aksesori perhiasan untuk melengger yang lantas disimpan rapi dalam tas. Suasana yang paling khas dan bakal sulit dilupakan, Dairah kerap melantunkan tembang-tembang Jawa di dalam kamar.
"Uwak memang amat hati-hati jaga barang. Orang lain enggak boleh menyentuh. Piagam penghargaan dan buku dari pemerintah sampai ia keloni," ujarnya mengenang.
Tapi ada keyakinan di dalam diri Sunu, bahwa mertuanya memang punya kelebihan. Ia mencontohkan bila menemani mertuanya ke tanggapan lengger selalu kewalahan, sebab berjalan kaki dan memanggul bawaan.
Dari cerita-cerita yang ia dengar, Dariah di masa remajanya juga kerap berkelana menimba ilmu lengger ke tempat-tempat yang dikeramatkan.
"Dia itu memang mendapatkan indang. Sejak kecil ia sudah pandai menari, luwes melebihi perempuan," ujar Sunu.
Lengger sendiri, menurut peneliti seni tradisi, Sunaryadi dalam buku Lengger Tradisi & Transformasi (2000. ISI Yogyakarta) mengatakan ada dua kemungkinan timbulnya kesenian lengger. Ada yang menyebut kesenian ini berasal dari daerah Jatilawang di Banyumas dan sebagian lain menyebut berasal dari Mataram masuk ke Kalibagor Banyumas tahun 1755.

Lengger sendiri meski ada perbedaan istilah di masyarakat, hal yang hampir seragam merujuk pada seni tari yang di atas panggung seakan-akan dimainkan penari perempuan tapi sebenarnya laki-laki.
"Dikira leng ning jengger, dikira lubnag tetapi jengger, dikira perempuan ternyata laki-laki," tulis Sunaryadi dalam bukunya.
Di kehidupan kesenian Lengger, memang pernah ada kepercayaan terhadap hal-hal supranatural. Semisal syair tembang, yang lebih tepat disebut mantra untuk mendatangkan roh halus sebelum pementasan dimulai. Di pementasan lengger sendiri juga dikenal pola lantai berpedoman kiblat papat lima pancer, konsep alam yang dikelilingi samudera dan pulau di empat penjuru sebagai tempat tinggal yang dikeramatkan.

Untuk menjadi lengger sendiri, selain berguru ada yang disebut memperoleh indang. Dijelaskan Sunaryadi, mendapat indang seseorang bisa melakukan tarian dan menembang tanpa belajar. Jika indang lengger telah masuk ke dalam raga seseorang, maka tidak ada yang dapat menolaknya. Ini berarti anak tersebut memang digariskan menjadi lengger.

Mendiang Dariah adalah sosok yang dipercaya mendapat indang dan digariskan nasibnya menjadi lengger. Dariah sendiri sepanjang hidupnya memang terbukti menghayati kesenian lengger begitu dalam dan tak pernah berhenti menari dan menembang sampai ajal mendekat.

Indang yang dimaksud mungkin saja adalah Dewi Sekar Melati yang ia sebut-sebut di akhir hayat, tak ada kejelasan yang pasti, misteri itu tetap dipendam oleh Dariah. [cob]

Selasa, 13 Februari 2018

Hantu Kolonialisme Setan Jawa


Setan Jawa pentas perdana di Jakarta pada awal September 2016, yang kemudian berlanjut ke pementasan-pementasan di sejumlah kota lain di Indonesia. Salah satunya di Yogyakarta pada 21 Mei 2017, tempat saya menonton Setan Jawa. Saya sebut ‘berpentas’ karena Setan Jawa garapan Garin Nugroho pada dasarnya tidak bisa dianggap murni sebagai film. Penayangan filmnya melibatkan penampilan musik, yang berlangsung beriringan dengan setiap detik durasi film. Bekerjasama dengan komposer Rahayu Supanggah, sajian musik pengiring yang dihadirkan langsung di atas panggung pemutaran film tersebut menjadi suatu peristiwa yang rasanya sukar untuk dilupakan.

Begitulah kemudian Setan Jawa hadir di depan muka: sebagai sebuah peristiwa lintas disiplin kesenian. Penayangan sinema bisu hitam-putih dipertemukan dengan penampilan gamelan orkestra. Beberapa komentar yang muncul soal film tersebut kebanyakan mendudukkannya sebagai sebuah karya campuran: film, musik, tari, teater, dan yang paling digarisbawahi adalah sebagai sebuah pertunjukan. 
Tapi bagaimanapun juga, menurut saya, Setan Jawa tetap harus didudukkan terlebih dahulu sebagai sebuah karya sinema, karena film menjadi unsur utama yang mendasari keseluruhan penyelenggaraan pertunjukan. Kalaupun ada unsur-unsur selain film yang dilibatkan, maka unsur-unsur tersebut harus disikapi hanya sebagai pendukung. Menariknya, sebagai unsur utama dalam karya ini, aspek naratif dalam film justru menjadi unsur paling lemah dibanding unsur-unsur pendukung lainnya.
Bentuk Lebih Penting Daripada Isi

Melalui sejumlah pernyataan media, pembuat film mengakui Setan Jawa banyak mengambil inspirasi dari film Nosferatu garapan Friedrich Wilhelm Murnau dan bentuk pertunjukan tradisional wayang kulit. Inspirasi dari wayang tersebut mungkin dapat dilihat dari formasi penataan panggung pertunjukan film ini. Layar besar terpampang di atas panggung, lalu para pemusik duduk bersila di di depannya. Penonton berada di jajaran kursi yang telah disediakan: menghadap panggung. Walaupun, soal letak penonton, tentu ada perbedaan yang jelas antara Setan Jawa dan pertunjukan wayang. Di pertunjukan wayang ada beberapa penonton yang melihat dari balik layar (atau memang begini seharusnya cara yang baik dalam menonton wayang), sehingga para pemusik dan dalang tidak nampak. Sementara dalam pertunjukan ini, para pemusik justru menjadi aspek yang ditampilkan.

Posisi penonton ini bukannya tak bermakna. Orang yang menonton di sisi depan layar dianggap masih terfokus pada bentuk. Karena di sanalah dapat dijumpai aneka rupa wayang dengan warna-warni dan keseluruhan tim penampil wayang hadir. 
Sementara orang yang menonton di balik layar hanya menikmati bayangan dari wayang itu saja. Selain itu, orang yang menonton di balik layar dianggap lebih berfokus pada keseluruhan cerita. Karena bentuk visual telah direduksi sedemikian rupa menjadi bentuk bayangan saja, dan bunyi musik pengiring serta suara dalang hadir dalam bentuk yang murni aural, tidak visual.

Selain pengalaman menonton, yang membedakan Setan Jawa dari pertujukan wayang adalah kehadiran dalang. Dalam Setan Jawa, dalang tidak muncul secara fisik. Dalang—yang dalam hal ini dapat dimaknai sebagai sutradara—hadir melalui penataan gambar-gambar dalam film, melalui kekhasan preferensi pengambilan gambar dan penggunaan unsur seni tari dalam gerak tubuh para aktornya. Gaya semacam ini telah dihadirkan dalam film Garin sebelumnya, yaitu Opera Jawa
Singkatnya, kosa gambar Setan Jawa bersifat bagus dan indah, gerak tari yang dilakukan oleh para aktornya bagus dan indah, paras para aktornya bagus dan indah, kecuali mungkin topeng yang dikenakan sang setan. Meskipun topengnya mengesankan paras yang buruk dan menyeramkan tapi itu semua menjadi gugur dengan kesempurnaan gerak tari dan bentuk tubuh sang setan, sehingga dalam menontonnya tidak tebersit sedikitpun rasa takut dalam diri.

Keindahan dan kebagusan yang terus-menerus dihadirkan ini menjadi persoalan. Kalau ada satu dua keindahan di antara banyak keburukan, maka keindahan itu akan berfungsi dengan baik. Ada perbandingan di dalamnya. Kalau semuanya indah dan bagus, yang nampak hanya itu-itu saja dan cenderung membosankan. Dengan demikian, Setan Jawa memang berpretensi untuk mengutamakan bentuk daripada isi atau keutuhan cerita. Cerita dalam film hanya berfungsi sebagai pengantar gambar, dari suatu keindahan ke keindahan lainnya, tanpa ada benang gagasan yang padu.
Logika Setan yang Compang-camping

Secara garis besar Setan Jawa bercerita tentang kisah cinta beda kelas dan status sosial. Mengambil latar kehidupan di Pulau Jawa era kolonial sekitar abad ke-20. Pertunjukan film ini dibagi menjadi beberapa babak atau chapter, dimulai dari asal mula setan pesugihan hingga usaha mengalahkan setan tersebut.
Dalam film diceritakan tokoh setan pesugihan merupakan penjelmaan dari seorang anak kecil (pribumi) yang mencuri di tanah kolonial, lalu dihukum, disiksa, kelaparan, membunuh penjaga penjara kolonial, dan menderita karena kemiskinan. Cerita kemudian bergerak pada tokoh Setio, pemuda desa miskin yang jatuh hati pada Asih, anak keturunan keluarga bangsawan. Cinta Setio ditolak oleh Ibunda Asih lantaran Setio miskin. Setio lantas meminta bantuan kepada setan untuk membuatnya kaya, melalui ritual pesugihan kandang bubrah.

Pesugihan ini rupanya hanya membuat kesenangan sesaat. Setelah Setio menjadi kaya dan dapat melamar Asih, kehidupan mereka berdua tidak bertambah baik. Setio makin sengsara karena pesugihan kandang bubrah menuntut konsekuensi penganutnya untuk terus-menerus merenovasi rumahnya. Lambat laun Asih mengetahui ritual pesugiah yang dilalui Setio. Didasarkan kecintaanya kepada sang suami, ia menemui setan pesugihan. Mereka menari, bercinta, dan Asih menusuknya dengan tusuk konde. Tusuk konde ini menjadi salah satu simbol penting, karena tusuk konde tersebut telah muncul sebelumnya di tangan Ibunda Asih, yang menolak lamaran Setio dengan menusukkan tusuk konde tersebut ke telapak tangan Setio.

Bagi saya, penggambaran asal muasal setan pesugihan dalam narasi yang dibangun oleh Garin sungguhlah problematis. Pertama-tama, kita mesti terlebih dahulu memahami logika pertentangan antara Setan dan Tuhan. Dalam kepercayaan Islam, ada tiga ketetapan dalam hidup yang semuanya hanya bisa ditentukan oleh Tuhan semata, yaitu rezeki, jodoh, dan maut. Setan mengambil posisi yang berseberangan dengan Tuhan, untuk menggoda manusia sejak kelahiran sampai akhir zaman. 
Melalui kehadirannya dalam momen-momen frustasi dan keputus-asaan, setan memberi ‘alternatif’ kepada manusia atas apa yang diinginkan manusia dan tidak dikabulkan oleh Tuhannya. Alternatif setan atas ketetapan Tuhan dalam hal rejeki adalah pesugihan, dalam hal jodoh ialah pengasihan atau pelet, dan atas maut adalah susuk kebal. Demikian maka kita dapat pahami, mengapa Setio memilih menggunakan pesugihan ketimbang pengasihan, karena Asih pun diam-diam menaruh hati pada Setio.
Reproduksi Tatapan Kolonialis

Logika umum pertentangan Setan-Tuhan menjadi tidak masuk akal dalam usaha Garin menghadirkan cerita asal mula setan pesugihan. Seorang anak kecil (pribumi) yang mencuri dari tanah kolonial dan menderita karena kemiskinan yang dibentuk oleh kolonialisme kemudian berakhir menjadi setan. Bagaimana mungkin kemiskinan dan penderitaan yang dihadirkan oleh kolonial, dan tindakan kecil perlawanan yang dilakukannya mengakibatkan anak tersebut menjadi setan? Perkembangan cerita sungguhlah lemah dan tidak masuk akal, melemahkan keseluruhan cerita dalam Setan Jawa. Jika saja Garin bersetia pada logika pertentangan Setan dan Tuhan pada umumnya, maka ia tidak perlu repot menghadirkan genealogi setan pesugihan yang mengada-ada dalam Setan Jawa.

Sebelumnya telah disebutkan bahwa pada akhirnya Asih menari, bercinta, dan membunuh setan pesugihan. Dalam hal ini, kekasatan setan dalam adegan ini menjadi suatu hal tidak logis. Ia dibunuh dengan benda yang kasat, bercinta secara kasat. Sementara, sepanjang Setan Jawa, kita dapat menemui kehadiran seekor kura-kura yang wujudnya menyerupai phallus atau penis. Kehadiran kura-kura tersebut ditempatkan sebagi penanda kehadiran setan, misalnya saat ia hadir maka rumah Setio akan menjadi rusak dan ia harus memperbaikinya lagi. Karena memang begitulah logika pesugihan kandang bubrah bekerja. Rumahnya akan terus-menerus minta direnovasi, dan akhirnya akan menuntut anggota keluarga menjadi tiang dari rumah tersebut.

Pertanyaannya: mengapa Asih tidak bercinta dengan kura-kura tersebut atau membunuh kura-kura tersebut? Mengapa justru ia menghadapi wujud setan yang asli? Lalu apa gunanya muncul kura-kura tersebut, mengapa tidak setan wujud aslinya saja yang terus-menerus muncul? Dalam hal ini logikanya menjadi timpang. Jika setan itu tak kasat, lalu ia mewujud dalam bentuk kura-kura, maka wujud kasatnya yang dapat disentuh. Dalam ramuan film horor yang lain dapat ditemui kerapian logika ini misalnya dengan membaca doa pada setan. Doa sifatnya tak kasat, yang selaras dengan setan yang tak kasat. Atau, misalnya, menghancurkan benda bertuah sebagai wujud kasat setan. Kasat dengan kasat, tak kasat dengan tak kasat.

Setan pesugihan dalam Setan Jawa hadir sebagai kosmetik yang dibangun dengan logika yang salah kaprah. Anak kecil yang mencuri di tanah kolonial yang menderita, sengsara, dan lapar justru dijadikan setan. Padahal justru kolonialisme yang telah membuat orang-orang yang dijajah menjadi menderita, lapar, dan sengsara. Rakyat terjajah sebagian besar pasti mengalami kelaparan dan kemiskinan, dan kolonialisme yang telah mencuri segalanya dari tanah ini. Lalu anak kecil ini dihadirkan sebagai pencuri. Bagi saya, anak kecil ini adalah simbol dari rakyat terjajah dan tindakannya mencuri adalah tindakan subversif. Dalam Setan Jawa, ia dikerdilkan menjadi setan pesugihan.

Keputusan pembuat film Setan Jawa untuk membangun logika yang sedemikian sembrononya justru berbahaya dan berkecenderungan mereproduksi tatapan kolonialis, yang diperkuat dengan kehadiran eksotisme kultur Jawa melalui tari-tarian, musik gamelan, dan mitologi pesugihan. Bagaimana bisa sesama kaum terjajah menempatkan satu tindakan perlawanan bukan sebagai sebuah bentuk aksi perlawanan, melainkan sebagai suatu tindakan setan?

Irfan R Darajat, Gemar budaya pop. Penulis dan peneliti di Yayasan Kajian Musik Laras.
SinemaPoetica 

Penggelapan Sejarah Puisi Indonesia

(Denny JA Tidak pula Insyaf)

February 13, 2018

Oleh Hikmat Gumelar*)

Denny Januar Ali (DJA) tidak pula insyaf. Terhadap proyek puisi esai yang dia akui direkayasanya, ditembakan berbagai kritik dari berbagai kalangan dan dari berbagai penjuru di tanah air kita. Dan ini terus berlanjut setiap hari hingga kini dari sejak proyek penerbitan 34 buku puisi esai yang serba dibayar itu terendus. Tetapi DJA seperti spink. Dia tetap bergeming. Bahkan mereka yang berbeda pendapat denganya mengenai puisi esai diserangnya. Berbagai stigma negatif ditembakan semau dia.

Misalnya, mereka yang menyoalkan perjanjian kontrak antara pihak perekayasa dengan penulis karena klausul-klausul dalam kontrk itu yang mendikte penulisan puisi dan tanpa klausul pembatalan kontrak distigmanya sebagai orang-orang terbelakang, tidak tahu bahwa di negara-negara maju soal perjanjian kontrak dalam dunia seni adalah hal yang sudah biasa.

Stigma demikian juga ditembakkan kepada mereka yang menyoalkan soal hasutan untuk menulis puisi dengan berorientasi kepada uang dan pembayaran sebagian yang disebut honor sebelum puisi ditulis.
Distigmanya bahwa mereka tidak tahu bahwa para penulis besar di negara-negara maju itu hidup kaya raya. Mereka yang menyoalkan kebaruan puisi esai dan basis konseptual proyek puisi esai distigmanya sebagai “penyair dengan mindset zaman lama”. Mereka juga distigma tidak punya ide segar, naif, jumud, antiperubahan, dan sebagainya.
DJA JUGA MERENDAHKAN SELURUH PUISI INDONESIA YANG TIDAK MASUK DALAM KATEGORI PUISI ESAI YANG DIA KLAIM SEBAGAI PUISI JENIS BARU HASIL TEMUANNYA. BAHKAN KHOTBAH DAN NYANYIAN ANGSA, DUA PUISI GEMILANG KARYA PENYAIR BESAR W.S.RENDRA, DIRENDAHKAN DI BAWAH PUISI-PUISI DJA. DJA MENYEBUT PUISI-PUISINYA LEBIH UNGGUL BUKAN KARENA KEUNGGULAN UNSUR-UNSURNYA DAN KERJA SAMA UNSUR-UNSUR PUISI ITU, MELAINKAN SEMATA-MATA KARENA PUISI-PUISINYA SUDAH DIANGKAT KE LAYAR LEBAR DAN PENUH DENGAN CATATAN KAKI.
Pada saat bersamaan, DJA terus menggelembungkan dirinya dan proyeknya. Misalnya, dia menggelembungkan pembaharuan yang disebut dilakukannya dalam bidang perpuisian di Indonesia sama seperti pembaharuan yang dilakukan dalam dunia perfilman di Amerika Serikat oleh Quentin Tarantino. Berarti jelas dia juga menggelumbungkan dirinya hingga sekaliber Tarantino. Proyek puisi esai disebutnya sebagai gerakan besar puisi esai nasional yang melahirkan angkatan puisi esai dan menghadirkan potret batin Indonesia. Dan, tentu saja, proyek demikian ditegas-tegaskannya belum pernah dilakukan siapa pun di tanah air kita.

Klaim-klaim seperti itu yang berjibun keruan mengganggu para penggiat sastra di berbagai penjuru negeri ini. Mereka mengungkap rasa dan nalar mereka dengan berbagai bentuk. Salah satunya melalui penulisan esai. Salah satu esai yang menyoal proyek penulisan puisi esai terbit di Koran Tempo. Seminggu setelahnya (9-10 Februari), tulisan tanggapan DJA terbit di koran yang sama. Namun, betapa DJA angkuh. DJA sama sekali tidak menyinggung esai yang ditulis penyair Bandung Ahda Imran itu.

Padahal, esai itu dengan terang membandingkan proyek puisi esai dengan Gerakan Puisi mBeling yang monumental itu, yang buahnya menunjukkan betapa proyek puisi esai itu kedodoran. Tulisan DJA yang bertajuk Puisi Esai: Apa, Mengapa dan Keunggulannya melulu sibuk menunjuk-nunjukkan apa yang disebut-sebutnya keunggulan dan kebaruan puisi esai dan proyek puisi esai, serta, tak lupa, dia menyerang para pihak yang diidentifikasinya sebagai seterunya.

Di situlah dia kembali merendahkan puisi-puisi Indonesia,termasuk karya monumental Linus Suryadi A.G., Pengakuan Pariyem, dan dua puisi gemilang Rendra itu. Dan, setelahnya, kembali dia mereduksi pendapat-pendapat yang berbeda dengannya. Kemudian para seteru bayangannya itu dia tembaki.

“Ini era ketika marketing sama pentingnya dengan produksi. Ini era ketika marketing sama pentingnya dengan estetika. Dalam dunia industri, sebuah film yang sangat bagus tapi tak laku dan rugi, tak lagi cukup. Marketing harus hadir dalam industri seni.

Demikian tulis DJA. Teranglah dia merendah-rendahkan estetika dan meninggi-ninggikan pemasaran. Alinea setelahnya semakin menegaskan bagaimana dia mendudukkan pemasaran.

“Umumnya penandatangan petisi yang protes adalah penyair dengan mindset zaman lama. Saya seorang entreprenuer, pengusaha, hidup di era ketika marketing menjadi pangeran.”

Setelah mereka yang berbeda pendapat dengannya distigma lagi sebagai golongan orang terbelakang, DJA menulis dengan cara yang menerbitkan bayangan dia berdiri di mimbar, membusungkan dada, mendongakan dagu, dan menyemburkan khotbah, ”Gunakan aneka teknik marketing agar karyamu dilihat orang. Jika tidak, kau akan tenggelam. Menjadi masa silam.”
TETAPI SIAPA MENGHINA MASA SILAM, DIA KEHILANGAN INGATAN. TERMASUK KEHILANGAN INGATAN AKAN PERJALANAN PUISI YANG PANJANG DAN BERAGAM.
Jauh sebelum tulisan dikenal, puisi dan komunitas puitik sudah hidup di berbagai penjuru dunia. Puisi-puisi dan komunitas-komunitas puitik itu saling menghidupi. Puisi-puisi memungkinkan berlangsungnya berbagai ritus penting komunitas seperti ritus daur ulang hidup. Puisi-puisi juga memungkinkan harmoni dengan alam, semesta dan Sang Maha Pencipta.

Puisi-puisi juga memungkinkan perdamaian dengan mahluk-mahluk gaib. Puisi-puisi juga menjinakkan binatang-bintang buas yang mengalami hal yang tidak sebagai biasanya. Puuisi-puisi juga memenuhi kebetuhan sehari-hari komunitas. Misalnya, puisi-puisi membantu memetik buah-buahan tertentu untuk dimakan bersama. Puisi-puisi membantu perbeuruan hewan-hewan tertentu baik untuk makanan bersama maupun untuk ternak.

Untuk menjadikan puisi-puisi bisa berfungsi demikian, komunitas-komunitas dituntut untuk memenuhi syarat-syaratnya. Syaratnya yang utama adalah warga komunitas rukun, satu sama lain saling berbagi dan saling menjaga, serta warga komunitas semua mengupayakan agar kesehatan udara tetap terjaga. Kesehatan udara mesti tetap terjaga karena pada masa tulisan belum dikenal puisi dilisankan, bahkan dinyanyikan sehingga puisi pun menjadikan tubuh-tubuh bergerak mengikutinya dan lalu membentuk pola tertentu sehingga lahirlah tarian.
Dan, ternyata, upaya menjaga kesehatan udara ini juga menyehatkan tanaman-tanaman dan hewan-hewan, bahkan tanah dan air. Jadilah puisi-puisi berperan signifikan di dalam memakmurkan komunitas-komunitas puitik di berbagai penjuru dunia, juga di dalam pembentukan identitas budaya dan solidaritas sosial komunitas-komunitas itu.

Begitulah kisah perjalanan puisi yang disampaikan Frank Stewart, penyair keturunan suku Indian Cherokee yang merupakan perintis Manoa: Pasific Journal (University of Hawaai Press), sebuah jurnal sastra tentang sastra kontemporer di Asi/Pasifik/Amerika yang cukup berwibawa di Amerika.

Octavio Paz juga menulis cukup banyak, luas, dan dalam perjalan puisi di seluruh dunia. Ihwal perpuisian semasa dengan yang dikisahkan Stewart, penyair peraih Hadiah Nobel Sastra asal Mexico ini antara lain menulis bahwa “pada masyarakat purba: rasa persaudaraan dan kemurahhatian dalam kelompok disampaikan oleh para penyair. Kelompok-kelompok ini sering menjalankan fungsi-fungsi keagamaan dan liturgis. Di antara banyak orang, penyair dipandang memiliki karakter waskita dan juru ramal. Secara luas diyakini bahwa penyair mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan, karena ia tahu masa silam. Pengetahuannya merupakan pengetahuan tentang asal-muasal. Dalam masyarakat seperti itu, masa kini dan masa depan sama-sama berfungsi dalam pengertia kata-kata itu; tentang masa silam”.

Paz pun tentu saja banyak pula menulis perihal perjalanan puisi modern.
Dia antara lain menulis bahwa puisi modern, seperti juga puisi Purba dan di Timur, “juga mematangkan kelahiran para filsuf. Hampir tidak adapara pemikirbesar yang tidak mengapresiasi puisi, baik diamenulis puisi maupun tidak, baik tulisan-tulisannya diwarnai atau diperindah dengan sanjak atau peribahasa atau pepatah yang dipetik dari para penyair maupun tidak. Ini berlaku dari mulai St. Thomas sampai Machiavelli, Bacon sampai Schopenhauer, Montaigne sampai Karl Marx”.

Ketika puisi ikut mematangkan para filsuf dan pemikir yang berpengaruh besar seperti itu teranglah peran sosial puisi pun besar. Begitu halnya dengan peran puisi terhadap kehidupan pribadi. Paz juga menulis ihwal ini. Menurutnya, “Para penyairmembantu kita untuk memahami apa yang disebut hasrat atau nafsu, dan oleh karena itu membantu kita untuk memahami diri kita sendiri; kedengkian atau iri hati, sensualitas, kekejaman, hipokrisi atau kemunafikan; singkatnya semua kompeksitas dari jiwa manusia.”

Bagi manusia, memahami jiwanya terang amatlah penting. Tanpa memahami jiwanya, seseorang sama seperti kehiangan atau tak berjiwa. Dan manusia tanpa jiwa, orang-orang bilang zombie namanya. Maka, kembali betapa puisi itu menyuntikkan hal yang sedemikian penting bagi hidup manusia.

Bagi manusia Indonesia seperti kita, pun bukan kekecualian. Terlebih jika kita sama mengakui bahwa sebelum terbentuk negara Indonesia, lebih dulu lahir bangsa Indonesia. Penanda kelahiran bangsa Indonesia yang paling monumental ialah peristiwa pamungkas dalam Kongres Pemuda II di Batavia, pada 27-28 Oktober 1928. Peristiwa pamungkas itu tidak lain adalah pengikraran Sumpah Pemuda. Soetardji Calzoum Bachri, penyair besar yang menggebrak perpuisian Indonesia dengan kumpulan puisi radikal O Amuk Kapak, berulang menyebut bahwa Sumpah Pemuda itu adalah puisi.

Tentu bukan puisi tersebut saja yang membentuk bangsa Indonesia.
Sebelum dan setelahnya, ada begitu banyak puisi Indonesia yang dengan caranya masing-masing ikut membentuk bangsa Indonesia. Puisi-puisi parapenyair generasi milenial pun banyak yang ambil bagian dalam proses pembentukan bangsa kita. Ini bukan hal yang mengherankan. Yang disebut bangsa itu selalu merupakan bangunan yang belum sudah dan terus berubah.
PUISI INDONESIA PUN TENTU SEDEMIKIAN BANYAK YANG MENGHIDUPKAN JIWA-JIWA MANUSIA INDONESIA. DARI SEJAK MULA ADA, SEMASIH MENGGUNAKAN BAHASA MELAYU PASAR, YANG DIDISKRIMINASI OLEH REZIM KOLONIAL BELANDA DENGAN SEBUTAN MELAYU RENDAH, HINGGA DI ERA MILENIAL INI, BETAPA BERLIMPAH PUISI INDONESIA YANG IKUT MENJADIKAN MANUSIA-MANUSIA INDONESIA BERJIWA.
Semua itu tak pelak membuktikan betapa kergaman puisi dari sejak dahulu kala hingga kini memberi sumbangan tak terbilang terhadap hidup dan penghidupan kita, baik sebagai pribadi maupun sebagai satu bangsa.
Dan, meski berdiri sendiri-sendiri, puisi-puisi itu bertalian. Mereka tumbuh dalam dan menumbuhkan tradisi puisi. “Setiap penyair bagai gelombang di atas sungai tradisi, suatu moment bahasa (moment of language,” tulis Paz.

Maka, teranglah masa silam sama sekali bukanlah nonsens. Masa silam memberi sumbangan besarkepada kita untuk menata masakini dan masa depan. “Kehilangan masa silam tidak bisa tidak adalah juga kehilangan masa depan,” tulis Paz lagi.

Bila demikian, kenapa DJA menghina masa silam (sastra Indonesia)?
Tulisan-tulisannya ihwal puisi esai, proyek puisi esai, dan angkatan puisi esai memperlihatkan betapa menggelegak hasratnya untuk beroleh predikat sebagai tokoh pembaharu perpuisian Indonesia. Dan predikat tokoh pembaharu perpuisian Indonesia ini kini maunya berarti membawa perpuisian Indonesia masuk ke sistem pasar. Ini tidak gampang karena membawa perpuisian Indonesia masuk ke sistem pasar berarti membuat mekanisme untuk mengorganisir kehidupan bersama dalam dunia puisi Indonesia berdasarkan logika untung-rugi dalam transaksi pasar neoliberalisme.

Padahal, diakuinya sendiri, dia baru mulai menulis puisi pada tahun 2012. Memang dalam buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh, DJA salah satu dari 33 tokoh itu. Namun, sudah menjadi rahasia umum bahwa buku ini akal-akalan DJA. Wajar jika hingga kini pun buku tersebut masih dipersoalkan sisi-sisi gelapnya oleh banyak kalangan. Wajar pula bila DJA tampak benar menggelapkan sejarah sastra Indonesia, khususnya sejarah puisi Indonesia.

Boleh saja dia bilang, kalau menggelapkan sejarah sastra Indonesia, tak akan dia menerbitkan buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Namun, buku tersebut justru salah satu bukti dari penggelapan sejarah sastra Indonesia. Dan penggelapan yang kini tengah dilakukannya adalah dengan apa yang disebutnya gerakan puisi esai, yang pula diklaimnya dari rakyat,oleh rakyat, untuk rakyat. Padahal, tulisan-tulisan DJA sendiri memperlihatkan bahwa gerakan puisi esai itu takber lebih jika dikata dari DJA,oleh DJA, untuk DJA.

*) Ketua Institut Nalar Jatinangor


Sumber: Seni.Co.Id 

Menjadi Manusia Dengan Sastra

Ais Nurbiyah al-Jum'ah | 13 Februari 2018


SASTRA adalah tubuh, jalan panjang Ibu Kota, dan kakek tua yang membeli susu kaleng di supermarket. Sastra hadir di setiap pergerakan manusia. Begitulah semestinya kita memaknai sastra. Ruangnya tidak hanya sebatas teks fiksi, cerita pendek (cerpen), puisi, prosa, roman, dongeng, pantun, musik, novel, dan drama.

Kemarin, Minggu (11/02/2017) Sastra diperbincangkan dengan asyik di Grand Indonesia, Jakarta. Noura Publishing sebagai penyelenggara acara mengangkat tema “Menjadi Manusia dengan Sastra” . 
Konten acara dikemas sangat kekinian dan milenial. Para penikmat seni, sastra, atau setidaknya yang masih awam dengan keduanya selayaknya saya yang datang sore itu memenuhi salah satu ruangan pertunjukan di Grand Indonesia yang sangat dingin dan modern.

Orang-orang berdatangan, memenuhi meja registrasi, mengambil liflet kegiatan seni dan sastra oleh penyelenggara acara. Anak muda dan pelajar mengambil ruang paling besar di acara itu, kapan lagi acara seperti ini dengan tema seperti itu bisa membuat mereka tertarik untuk turut medengarkan. Tekad dari penyelenggara yang menjadikan acara sastra tidak dianggap eksklusif dan berjarak harus diapresiasi.

Petugas mengarahkan para peserta memasuki ruangan dengan menunjukan gelang yang diberikan saat registrasi sebagai tiket masuk ruangan. Di sana sudah hadir para pembicara dan tamu undangan. Seno Gumira Ajidarma dan Budi Barma yang sore itu didapuk sebagai pembicara. Acara dimulai dengan pementasan drama oleh Tim Indonesia Kaya. Pementasan mengambil cerita dari salah satu karya Budi Darma, Orang-Orang Boomington.

Pertanyaan-pertanyaan hadir seputar dunia kesusatraan, kepenulisan, dan keseharian. Tidak ada pertanyaan yang njelimet atau pertanyaan selayaknya sidang skripsi. Bahkan seorang anak usia enam tahun bertanya kepada Budi Darma seperti ini, “Nulis itu susah nggak sih?”
Budi Darma lalu menjawab, “Mozila itu ditemukaan oleh anak-anak. Kenapa, karena sekarang gizi sudah baik, ruang-ruang diskusi seperti ini sudah banyak. Lalu pertanyaannya, menulis itu susah atau tidak? Yah itu tergantung apa yang mau ditulis,” jawaban Guru Besar Universitas Negeri Surabaya itu disambut dengan gelak tawa para hadirin.
“Tetapi pada umumnya kalau kita banyak membaca buku dan mengamati kehidupan sehari-hari. Maka kesulitan itu akan diatasi. Silahkan menulis, jangan takut, lihatlah keadaan teman-teman, baca Koran lalu tulis. Maka kesulitan akan dihadapi." sambungnya.
Karya lain yang dibahas dalam acara tersebut adalah karya Iwan Simatupang, dan Bondan Winarno. Violetta Simatupang (anak dari Iwan Simatupang) mengaku baru mengenal Iwan Simatupang setelah meninggal dunia. Violetta mengenal sosok sang Ayah melalui novel-novelnya. Melalui karya Ziarah misalnya. Kita bisa menziarahi sang tokoh sastra secara terus-menerus.

Di lapangan kesusastraan kita juga mengenal Bondan Winarno sebagai seorang cerpenis. Sosoknya selama ini dikenal sebagai penggiat kuliner dan pencetus kalimat “pokok e maknyuss” dalam salah satu tayangan kuliner di televisi. Tidak banyak yang tahu, Bondan adalah seorang penulis, jurnalis, bahkan seorang cerpenis. Buku antologi cepren yang sempat dibukukannya sebelum Bondan menutup usia November tahun lalu adalah, Petang Panjang di Central Park.

Seno Gumira Ajidarma mengatakan jika sastra sudah ada dalam diri setiap manusia sejak manusia itu mengenal kata. Sejak orang tuanya memberikan nama kepada anaknya. Pemberian nama itu adalah proses bersastra, sebab di dalam nama ada doa dan harapan yang diberikan oleh orangtua.

“Misalnya ada orang tua yang memberikan anaknya sebuah nama pada zaman Orde Baru yaitu “Gempur Soeharto” yah itu bentuk pemberontakan juga. Atau ada yang memberikan anaknya dengan “Presiden”, supaya tidak usah bermimpi jadi Presiden. Saya kira itu semua adalah proses bersastra.”

***
Menjadi manusia dengan sastra memantik kita untuk lekas menanggapi, apakah dengan tidak bersastra, kita tidak bisa disebut sebagai manusia. Bagaimana sastra bekerja dalam kehidupan kita bahkan menjadi pedoman untuk hidup, berproses sebagai manusia.

Budi Darma mengatakan kalau kita belum mengenal sastra kita masih bisa menjadi manusia. Tidak mungkin kita bukan manusia. Segala sesuatu yang termasuk manusia bisa mengembangkakan diri. Kalau seseorang itu mencintai sastra maka perkembangannya lebih cepat dan matang. Sebab berdasarkan penelitian dari dua tokoh besar, Rene Wellek dan Austin Warren. Setelah mereka mengamati dari sekian banyak karya sastra. Mereka menyimpulkan bahwa pengarang lebih pandai mengenali psikologi manusia dari pada psikolog itu sendiri.

Capaian manusia yang paling tinggi ada tiga. Pertama, saat Alexander Graham Bell menemukan pesawat telepon. KeduaDiscovery, Columbus menemukan pulau Amerika. Dan yang ketiga, kreativitas. Yaitu William Shakespeare mengarang cerita Romeo dan Juliet. Cerita yang sebetulnya bukan karangan William Shakespeare melainkan kisah diambil dari cerita rakyat. William Shakespeare berhasil menemukan itu dan meramunya, selayaknya Colombus yang menemukan benua Amerika.
“Berkaitan dengan harkat, martabat manusia. Penemu Mozila yang berusia sepuluh tahun, mereka memiliki kecenderungan membaca sastra, kalau kita yang lihat yang lain juga seperti Soekarno juga membaca sastra dan tokoh-tokoh lainnya juga membaca sastra,” ungkap Budi Darma.
Kita melihat sastra tidak lagi berjarak dan terkesan sulit dijangkau. Membaca buku saat ini menjadi kebiasaan, kebutuhan, bahkan life style. Anak-anak muda rajin bertemu, berdiskusi, dan membicarakan apa saja. Memiliki lebih banyak kecanggihan: Bergawai dan Berbuku.
“Sastra hari ini semakin bagus sebagai bagian yang wajar dari konstruksi budaya. Anak-anak muda ini sangat canggih-canggih. Saya sering sekali menjadi juri, saya biasa mengatakan jika karya-karya mereka membuat jurinya minder. Panjang dan banyak pengetahuannya, tidak lagi klise. Melihat hal itu, ini seharusnya sebuah perkembangan.” Seno Gumira Ajidarma.
Source: Locita.Co 

Jumat, 09 Februari 2018

Kelanjutan Petisi Puisi Esai, Penyair Muda Indonesia Kini Mendesak Dewan Kesenian Seluruh Indonesia

Redaksi | 08-02-2018


Cikini, Jakarta — Melihat dan memperhatikan polemik kesusasteraan di Indonesia terkait proyek Puisi Esai yang dimotori Denny Januar Ali selaku pendiri Lingkaran Survei Indonesia, maka dirasakan perlu adanya perhatian serius dari berbagai pihak terutama kalangan sastrawan dalam memberikan sikap tegas sebagai bentuk perlawanan terhadap manipulasi sejarah sastra.
Dalam hal ini, perwakilan Penyair Muda Indonesia (PMI) mengatakan bahwa guna memberikan perlawanan secara terstruktur terhadap manipulasi sejarah sastra tersebut harus pula dibentuk sebuah gerakan dari pemuda.
Menurut mereka, gerakan ini nantinya bertindak sebagai perwakilan yang akan menyampaikan keberatan terhadap penokohan Denny J.A. sebagai salah satu penyair paling berpengaruh di Indonesia, yang diklaim secara sepihak oleh kelompoknya.
“Pada tanggal 20 Januari 2018 kita telah membuat petisi yang intinya menolak proyek puisi esai yang diinisiasi Denny J.A. Tujuannya adalah agar tidak terjadi manipulasi sastra lebih lanjut oleh gerakan tersebut,” tulis mereka dalam rilisnya, Senin, 5 Februari 2018.
Mereka mengatakan, hingga saat ini petisi telah ditandangani oleh 3053 termasuk di dalamnya Saut Situmorang, Hasan Aspahani, Gus TF, Ahda Imran, dan lain-lain. Petisi tersebut nantinya akan segera dikirim kepada lembaga yang punya kepentingan dengan berbagai aktivitas kesusasteraan, di antaranya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Indonesia, Kementerian Pariwisata Indonesia, Badan Pengembangan Bahasa dan Pembinaan Bahasa dan serta Balai Bahasa/Kantor Bahasa, Badan Ekonomi Kreatif, Persatuan Penulis Indonesia, Himpunan Sarjana Kesusasteraan Indonesia, Komite Buku Nasional, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Ikatan Penerbit Indonesia, dan Komisi X DPR RI.
Selain itu, PMI juga meminta agar seluruh Dewan Kesenian yang ada di Indonesia untuk menyatakan sikap mereka secara terbuka di media terkait polemik yang terjadi. Sebab, setiap Dewan Kesenian pasti memilki komite sastra yang seharusnya menyuarakan sikap tegasnya terkait isu ini demi keberlangsungan sastra Indonesia menjadi lebih baik.
“Dewan Kesenian Jakarta misalnya, yang menjadi patron dewan kesenian dari daerah lain saja tidak bersuara terkait polemik ini. Padahal, DKJ memiliki Komite Sastra yang setidaknya punya andil untuk meluruskan,” kata mereka.
Diketahui, Perkumpulan PMI akan mengirimkan petisi penolakan puisi esai Minggu depan. Penyarahan petisi ini akan dilakukan oleh perwakilan yang ada di Jakarta.
“Namun, bagi kawan-kawan di daerah yang ingin membantu, silakan buat gerakan penolakan dengan mendatangi Dewan Kesenian daerah setempat! Nanti, jika diperlukan, kami akan mengirim petisi disertai surat desakan tersebut melalui email kawan-kawan di daerah untuk disampaikan ke Dewan Kesenian masing-masing,” kata mereka.

Sumber: Puan.Co 

Selasa, 06 Februari 2018

Restorasi Lukisan Penangkapan Diponegoro

Aryono | 6 Feb 2015, 19:05

Lukisan Penangkapan Diponegoro karya Raden Saleh diperlakukan serampangan oleh kurator Istana Negara. Restorasi memulihkannya.


Lukisan Penangkapan Diponegoro karya Raden Saleh yang belum direstorasi. Inset: bagian yang rusak dan direstorasi. Foto: koleksi pameran AkuDiponegoro.

SEJAK diselesaikan Raden Saleh tahun 1857, lukisan “Penangkapan Diponegoro” menetap di negeri Belanda. Baru 116 tahun kemudian lukisan ini diserahkan kepada pemerintah Indonesia dan tersimpan di Istana Negara, Jakarta.
“Di istana, lukisan Raden Saleh ini diletakkan di tempat yang tidak layak untuk ukuran lukisan masterpice,” ujar Catrini Pratihari Kubontubuh, direktur eksekutif Yayasan Arsari Djojohadikusumo.
Di negeri sendiri, lukisan “Penangkapan Diponegoro” justru mengalami nasib tragis: rusak karena usia dan perlakuan salah dari kurator istana.
Restorasi lukisan “Penangkapan Diponegoro” baru bisa dilakukan pada 2012 oleh Susanne Erhards dari Jerman. Restorasi ini dilakukan dengan menghilangkan lapisan vernis yang sudah kusam dan memperbaiki kembali tambalan yang dilakukan kurator istana.
Susanne bertindak layaknya dokter, lengkap dengan baju putih panjang dan semacam kaca pembesar yang dipasang di kepala. Dia dengan tekun membersihkan vernis dengan zat pelarut inci demi inci. Ketika vernis terangkat, warna asli pun mulai tampak. Detail pola batik yang dipakai pengikut Diponegoro juga muncul.
Selain mengangkat vernis, Susanne berusaha mengangkat lapisan cat untuk menutup kerusakan yang dilakukan kurator istana. Cat baru ini terletak di bagian pohon kelapa dan hanya bisa dilihat dengan bantuan sinar ultraviolet.
“Ada kerusakan sepanjang satu sentimeter dan lebar satu milimeter, namun ukuran bagian yang ditimpa lebih besar sekitar lima kali sepuluh sentimeter. Catnya tidak bisa diangkat hanya dengan cat pelarut, sehingga harus dikupas dengan pisau bedah,” terang Susanne dalam dokumentasi tentang restorasi lukisan “Penangkapan Diponegoro” yang berdurasi sekira 12 menit.
Akhirnya kerusakan asli pun tampak. Dalam film itu terlihat Susanne menambahkan cat dasar untuk menambal lapisan yang rusak. Sementara untuk melakukan tusir, Susanne cukup menggunakan cat air saja. Dengan cat air, kelak jika ada pihak yang akan melakukan restorasi terhadap lukisan tersebut, pekerjaan akan menjadi lebih mudah.
Susanne memberikan resep bahwa untuk melakukan konservasi dan restorasi lukisan, harus mengunakan bahan yang berbeda dari cat aslinya. Apa yang dikerjakan Susanne bisa dinikmati dalam gelaran pameran “Aku Diponegoro: Sang Pangeran dalam Ingatan Bangsa”, 6 Februari hingga 8 Maret 2015 di Galeri Nasional, Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat.
Seperti tak ingin mengulangi kesalahan pengelola lukisan istana, Susanne akan memberikan pelatihan gratis untuk orang-orang yang bergelut dengan restorasi lukisan pada 7-8 Februari 2015 di Galeri Nasional. Materi pelatihan berisi pencegahan kerusakan, teknik restorasi, dan perawatan pascarestorasi.
“Ke depan akan direncanakan restorasi lukisan tradisional Kamasan dari Bali,” pungkas Ari, panggilan akrab Catrini Pratihari Kubontubuh.
Sumber: Historian.Id 

Sabtu, 03 Februari 2018

Digulung dan Disingkirkan

Lizzy van Leeuwen | 3 Feb 2017, 19:40

Raden Saleh, pelukis abad 19, adalah salah satu simbul penting sejarah bersama Indonesia Belanda. Tapi ada tanda-tanda Belanda ingin menyingkirkannya, seperti Multatuli yang sekarang juga mulai diabaikan.



Lukisan berjudul Boschbrand (kebakaran hutan) karya Raden Saleh.

Siapakah sebenarnya Raden Saleh, perupa yang karyanya berjudul Boschbrand (kebakaran hutan) sempat menimbulkan keheranan karena telah dijual secara tidak menguntungkan oleh para cucu Ratu Juliana? Aneh juga kalau pelukis yang terkenal dan banyak dipuji di pentas internasional dengan karya-karya yang sekarang bernilai sampai jutaan dolar, justru bukan nama yang dikenal pada setiap rumah tangga Belanda. Kembali meningkatnya penghargaan terhadap karya-karya Raden Saleh terjadi berkat jasa pengamat seni Prancis dan terutama Jerman yang begitu fanatik memujanya. Mereka berhasil mengorbitkan Raden Saleh pada pentas internasional sebagai salah satu seniman besar abad 19, tanpa secuilpun keterlibatan Belanda. Itu jelas janggal.
Masalahnya, Raden Saleh berasal dari bumi Hindia Belanda dan mendapat penghargaan sebagai perupa serta dukungan keuangan tiga raja Belanda, masing-masing Willem I, Willem II dan Willem III. Yang kedua memberikan penghargaan (dalam Orde Eikenkroon) dan yang terakhir bahkan mengangkatnya menjadi Schilder des Konings, pelukis raja/istana. Karena penghormatan ini secara teratur sang pelukis menghadiahkan karya-karyanya kepada keluarga kerajaan. Kemudian karya-karya itu dengan bangga dipinjamkan oleh para sri baginda pada pelbagai museum dan pameran di luar negeri. Apa yang terjadi dengan kebanggaan itu dan apa pula yang terjadi dengan Raden Saleh sendiri?
Lahir sekitar 1810 dalam keluarga bangsawan Jawa Arab yang suka memberontak, dia ditemukan secara tidak sengaja pada usia muda oleh pelukis Belgia A. Payen. Seniman ini merupakan anggota sekelompok penggambar dan perupa yang bertugas melukis flora dan fauna Jawa, atas pesanan penguasa kolonial. Waktu itu Raden Saleh Sarief Bustaman sedang indekos pada residen Robert van der Capellen, di sana bertemu Payen dan karena bakatnya diizinkan ikut Payen sebagai muridnya. Gubernur Jenderal Godert van der Capellen —dijuluki raja muda Hindia dan saudara Robert— dibuat kagum oleh bakat seni Raden Saleh. Dia turun tangan sendiri supaya calon perupa ini bisa memperdalam bakat seninya di Eropa, tatkala mencapai 18 tahun. Godert van der Capellen yang berperangai menarik sangat terpesona pada Hindia, sehingga tatkala kembali ke Belanda ia membawa seorang gadis Papua kecil sebagai ‘kenang-kenangan wilayah Timur’.
Secara resmi Raden Saleh berangkat ke Nederland sebagai jurutulis kantor inspektur departemen keuangan, dan beberapa bulan kemudian dia akan kembali dalam kedudukan serupa. Tetapi dia memutuskan menetap lebih lama lagi, karena menurutnya ketrampilan melukisnya masih belum memadai, dan juga karena dia ingin belajar mencetak dengan batu. Berkat bantuan keluarga di Hindia, akhirnya itu berhasil juga. Lebih dari itu, Raden Saleh juga berkenalan dengan perupa Cornelis Kruseman yang kemudian mengangkatnya sebagai murid.
Sesudah itu, setiap kali Raden Saleh diberi tahu bahwa sudah tiba saatnya untuk pulang kampung, dia selalu menolak bekerjasama. Karena memperoleh tunjangan yang mewah, maka dia juga mampu berbuat demikian. Hidupnya selalu mandiri, tinggal di sebuah kamar di Den Haag, memiliki galeri sendiri dan mengikuti pelbagai kursus menggambar dan bahasa asing lain. Seorang direktur sirkus berhasil dibujuk supaya memperbolehkan Raden Saleh mempelajari singa-singa yang dimilikinya, maklum dia begitu tertarik pada binatang liar.
Pada akhirnya pemerintah Belanda tidak tahu lagi harus berbuat apa dengan Raden Saleh. Sementara itu dia sendiri tidak hanya berubah menjadi seorang seniman penuh greget, tetapi juga menjadi seorang dandy Eropa yang berpakaian mentereng. Memulangkannya ke Hindia sudah bukan pilihan lagi. Dikhawatirkan, karena baiknya pendidikan yang ditempuhnya, Raden Saleh akan bermanifestasi sebagai pemberontak anti kolonialisme —perang Jawa yang begitu berdarah-darah baru saja berakhir. Sekitar 1837 muncul gagasan mengirim Raden Saleh ke luar negeri untuk tugas belajar. Sang pelukis menentangnya dengan alasan dia tidak bisa berbahasa Prancis, dengan begitu ada alasan untuk memperpanjang periode Eropa dengan kursus tambahan bahasa Prancis selama dua tahun lagi.
Sementara itu sebagai pelukis Raden Saleh berhasil tampil terpandang, antara lain karena melukis berbagai tokoh terkemuka; dan sebagai bangsawan dia malah menolak dibayar. Hampir semua waktu dan uangnya dihabiskan untuk seni. Galerinya konon disesaki kerangka dan tulang belulang binatang. “Tamu hampir tidak bisa menemukan kursi yang bisa diduduki,” keluh seorang pengunjung. Ia melukis harimau, singa, macan tutul, kerbau, dan rusa — dalam keadaan saling berlaga, dibunuh oleh para pemburu, atau ditembak, atau tengah melarikan diri.
Tak lama setelah mulai mengadakan perlawatan ke luar negeri, Raden Saleh menjadi terkenal di Jerman, Inggris dan Prancis sebagai pelukis dan sosialista — sekarang dalam penampilan Jawa yang dandy, lengkap dengan tulban dan keris. Dengan cepat dia berkenalan untuk berteman dengan kalangan bangsawan Inggris dan Prancis pada pelbagai istana mereka, yang konon menimbulkan iritasi pihak otoritas Belanda.
Sampai lima tahun Raden Saleh menetap di pelbagai puri bangsawan Dresden di Jerman timur, secara khusus dimanjakan oleh kaum perempuan, “walaupun kulitnya berwarna sawo matang” (demikian seorang pengamat yang kaget). Ia berpendapat berdansa itu tidak begitu bergengsi dan keheranan melihat para bangsawan yang berdansa dansi. Dansa itu menurutnya hanya untuk para budak.
Raden Saleh juga senang singgah di Paris. Di ibukota Prancis ini dia diterima dan memperoleh penghormatan di pelbagai istana. Di sana sang prince javanais (pangeran Jawa), menurut seorang pengamat, mengenakan pakaian fantasi Jawa yang sangat mencolok. Di Paris ini Raden Saleh sampai beberapa kali berhasil melibatkan diri dalam beberapa hubungan asmara, sementara dia menyaksikan perubahan besar-besaran sistem politik Eropa yang pada 1848 berawal di Prancis. Dia makin terkenal saja, lalu mengadakan perlawatan seni ke Aljirs (ibukota Aljazair) bersama pelukis Prancis Vernet. Tatkala kembali ke Belanda dia menjadi anggota KITLV institut kerajaan yang waktu itu begitu bergengsi — keanggotaannya sangat membanggakan institut ini. Terhadap upaya-upaya untuk menjadikannya pemeluk agama kristen aliran tertentu, Raden Saleh selalu datang dengan jawaban khas: “bersepakat dululah baru setelah itu kembali pada saya.” Sebagai seorang Muslim, agama Islam baginya bukan merupakan hambatan untuk bergabung dalam tarekat metselar bebas (mason bebas, yaitu vrijmetselaarij atau freemason).
Pada 1851 Raden Slaleh kembali ke Jawa sebagai seorang tokoh terkenal — dia tinggal bersama seorang perempuan Eropa keturunan Indo yaitu Constancia Winckelhaagen yang merupakan pengusaha batik. Namanya sebagai pelukis pemandangan aliran romantis sudah begitu terkenal. Lukisan Boschbrand (kebakaran hutan) yang berukuran tiga kali empat meter dan dihadiahkannya kepada raja Willem III tatkala berpisah karena pulang ke Jawa, merupakan tanda terima kasih untuk dukungan selama 23 tahun. Boschbrand merupakan puncak dramatis rangkaian karya Raden Saleh, di situ terlihat binatang-binatang yang melarikan diri karena kebakaran hutan, harimau dan kerbau, nyaris dalam ukuran asli, panik masuk jurang, di belakang terlihat macan tutul dan rusa yang samar-samar saja.
Di Jawa sang perupa terus mendalami minatnya dalam dunia hewan dengan menggali tulang belulang ‘binatang dari dunia sebelum ini’ seperti mastodon dan megalodon. Selain itu Raden Saleh juga mengumpulkan naskah-naskah, tulisan tangan dan barang-barang antik lain untuk ‘Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (masyarakat seni dan ilmu pengetahuan Batavia), lembaga ini juga menugasi sang pelukis untuk melakukan perlawatan seni. Dia merancang kebun binatang Batavia dan mengirim seekor gajah yang sepanjang jalan minum anggur dan makan pisang dari Cirebon kepada sunan Solo, sebagai hadiah kejutan. (Di Jawa tidak ada singa atau gajah. Minat besar Raden Saleh terhadap binatang-binatang ini muncul dari hasrat modius seni orientalisme di Eropa).
Pada 1857 Raden Saleh mulai melukis karyanya yang paling terkenal, Penangkapan Pangeran Diponegoro, yang kini terpampang di Istana Merdeka. Pangeran Diponegoro yang diaku Raden Saleh sebagai keluarganya, adalah pejuang anti kolonialisme pertama Indonesia, pada 1825 dia menyulut Perang Jawa. Ia merupakan tokoh yang menakutkan penguasa kolonial dan akhirnya secara pengecut dijebak oleh Jenderal Hendrik de Kock. Juga karena Raden Saleh menggambar kepala orang-orang Belanda lebih besar dari orang Jawa, maka banyak orang memaknai karya ini sebagai lukisan nasionalistis Asia Tenggara pertama. Sebelum melukisnya, Raden Saleh sudah melihat karya Nicolaas Pieneman yang, tentu saja, menampilkan orang-orang Belanda sebagai pemenang dan Diponegoro sebagai pihak yang kalah. Karena itu lukisan Raden Saleh dinilai sebagai ‘pembalikan’ radikal visi Belanda. Ternyata dia tidak memperoleh izin untuk berkunjung ke medan laga Perang Jawa.
Kenyataan bahwa Raden Saleh menghadiahkan lukisan ini kepada raja Willem III sebagai wujud rasa terima kasih atas bantuan yang diterimanya meyakinkan banyak kalangan bahwa sang pelukis tidak punya secuwilpun aspirasi nasionalistis atau bahwa karya ini merupakan semacam peringatan bagi apa yang kemudian akan terjadi. Tapi tidak ada yang meragukan bahwa ini adalah sebuah adi karya — sumber inspirasi bagi banyak pelukis kontemporer Indonesia.
Di Jawa kembali Raden Saleh tampil menonjol lantaran pakaian kelewat bagus yang juga eksentrik. Khususnya begitu banyak medali yang dipasang di jasnya menarik banyak perhatian. Ketika pada 1868 pecah pemberontakan rakyat di Bekasi, pelukis ini dituduh sebagai pemulanya — tuduhan yang mengejutkan Raden Saleh sendiri. Tapi segera terbukti bahwa pemimpin pemberontakan, seorang warga desa, berhasil menyamar sebagai Raden Saleh, dengan cara menyematkan bintang penghargaan palsu (dibuat dari uang logam) pada dadanya. Akibatnya sampai 1910, di kalangan warga Batavia Timur, perupa ini malah terkenal sebagai kepala perampok.
Raden Saleh sendiri punya hubungan baik dengan penguasa kolonial. Ia merancang dan melukis empat lukisan kehormatan yang pada 1874 didirikan di kediamannya di Buitenzorg (sekarang Bogor) untuk menyambut secara meriah kembalinya pasukan KNIL dari ekspedisi berdarah di Aceh. Pekerjaan terhormat dan karena itu bergaji tinggi yang dilakukannya adalah mengawasi galeri kehormatan yang berisi gambar-gambar para gubernu jenderal, semacam pantheon kolonial.
Menyusul perkawinannya dengan seorang perempuan ningrat Jawa yang masih belia, pada 1875 Raden Saleh melakukan perlawatan kedua ke Eropa. Dia diterima oleh raja Willem III, menetap lama di Jerman dan mengunjungi Italia, sebelum akhirnya kembali ke Jawa pada 1878. Pada 1880 Raden Saleh meninggal mendadak, karena itu pelbagai koran berspekulasi bahwa dia diracun (kematian itu karena emboli). Dari segi keuangan, pada waktu itu sang pelukis dalam keadaan tidak begitu baik. Karena itu Gubernur Jenderal membeli semua lukisannya yang masih tersisa di galeri sang perupa. Monumen atau makan yang sesuai tidak dibangun selama bertahun-tahun. Temannya, bangsawan Ghana Pangeran Aquasi Boachi berupaya mengumpulkan dana dengan menjual undian yang berhadiah utama senapan berlaras dua bekas milik Raden Saleh.
Yang tertulis pada nisan Raden Saleh akhirnya adalah semua bintang dan penghargaan yang sempat tersemat di dadanya. Ridder der Orde van de Eikenkroon (Belanda); ridder met de ster van der Frans-Joseph orderidder der Kroonorde van Pruisenridder van de Witte Valk.
Di Indonesia, karya-karya Raden Saleh baru memperoleh perhatian besar pada 30 tahun terakhir. Lama sekali orang berpendapat dia bukan Jawa asli, seperti juga dia tidak bisa dianggap sebagai pembaru dunia seni rupa Indonesia. Sementara ini kepadanya sudah tersemat gelar kehormatan “Bapak Seni Rupa Indonesia”. Perjalanan lukisan Diponegoro yang begitu populer itu berperan dalam penganugerahan gelar ini. Dalam rangka kunjungan kenegaraan Ratu Juliana ke Indonesia pada 1971, sri baginda menghadiahkan beberapa lukisan Raden Saleh yang merupakan milik keluarga kerajaan, antara lain lukisan Diponegoro kepada negara Indonesia. Di Indonesia kondisi karya seni ini cepat memburuk, lembaga kebudayaan Jerman Goethe Institut di Jakarta berinisiatif melakukan restorasi dan pelaksananya adalah konservator Jerman sekaligus pakar Raden Saleh: Susanne Erhards. Dia juga menangani lukisan lain yang disia-siakan, Harimau minum. Semua ini diberitakan panjang lebar oleh pers Indonesia.
Sementara itu harga karya-karya Raden Saleh sudah begitu melejit setinggi langit. Pada 2012 lukisan berburu binatang dibeli seharga €1,6 juta oleh seorang Indonesia pecinta lukisan. Ini juga bersamaan waktunya dengan makin populernya pelukis-pelukis Asia Tenggara di kalangan penggemar seni lokal sejak tahun 1990an, akibat terhimpunnya kekayaan baru di Asia.
Pada 2012 digelar pameran lintasan karya-karya Raden Saleh di Jakarta yang kembali diselenggarakan dan didanai oleh Goethe Institut. 23 ribu pengunjung dalam dua hari memadati pameran itu, jumlah tinggi untuk sebuah pameran di Indonesia. Di Jerman orang menyebutnya sebagai “ersten Blockbuster der suedostasiatischen Ausstellungsgeschichte (blockbuster pertama dalam sejarah pameran lukisan di Asia Tenggara). Werner Kraus, kurator pertunjukan dan penulis biografi Raden Saleh, pada saat pembukaan pameran menyatakan, “Raden Saleh merasa paling kerasan waktu menetap di Jerman. Dia diterima di istana, terlihat sebagai tamu dalam pelbagai tempat pertemuan, dan mendapat julukan ‘si pangeran hitam’. Karya-karyanya terjual dalam harga mahal. Walau begitu di Belanda dia dianggap warga negara kulit coklat dari koloni dan tidak dianggap serius”. Jelas-jelas merupakan Zueignung alias pengambilalihan atau pengakuan ketika Kraus mengamati bahwa Raden Saleh itu “seorang Jawa tatkala tiba di Eropa dan seorang Jerman ketika kembali ke Hindia” (Padahal ia menetap di Paris antara 1845 dan 1851). Di tempat lain Kraus menyebut Raden Saleh sebagai anti Belanda, sesuatu yang tidak benar.
Khususnya berkat lukisan Diponegoro yang begitu terkenal (kembali dipamerkan Kraus di Jakarta pada 2015) di Indonesia Raden Saleh dianggap seniman nasionalistis besar pertama. Pada saat yang sama dia adalah juga perupa pertama Indonesia yang bekerja menggunakan gaya serta teknik Barat. Selain itu dia juga pernah menjadi pelukis istana Belanda. Ini membuatnya menjadi salah satu simbul penting bagi sejarah bersama Indonesia Belanda — juga, atau mungkin justru karena sepanjang abad 20 di negerinya sendiri Raden Saleh dianggap tidak lebih dari ‘si Jawa pelukis binatang’. Karya-karyanya ternyata hanya cocok digolongkan sebagai ‘tanpa tandingan’ dalam sejarah seni rupa Belanda.
Tatkala pada Oktober 2015 terungkap bahwa lukisan Boschbrand selayaknya dianggap hilang dari warisan budaya milik Belanda, maka gelombang schok menimpa segenap orang Belanda yang paham sejarah dan budaya. Ini masih dipergawat dengan pengumuman bernada keras RVD, dinas penerangan kerajaan, bahwa para pewaris Ratu Juliana sepenuhnya bebas menentukan apa yang diperbuat dengan warisannya. Dalam sebuah artikel di harian sore NRC Handelsblad (berjudul Geen Oranje wilde twaalf vierkante meter tijgers artinya tak ada anggota dinasti Oranje yang mau macan sampai 12 meter persegi), wartawan Arjen Ribbens mengungkap bagaimana 14 orang cucu Ratu Juliana memperlakukan warisan budaya yang tak ternilai harganya ini. Lukisan itu sempat hilang selama 100 tahun: setelah sejarawati seni Prancis Marie-Odette Scalliet berhasil melacaknya —nota bene atas inisiatif sendiri— lukisan yang diabaikan dan rusak berat ini direstaurasi. Itu adalah kerja berat karena lukisan ini pertama-tama digulung kemudian dilipat pada bagian tengah dan pada tahun 1902 lenyap di gudang istana Het Loo, di Apeldoorn.
Setelah upaya pemulihan ini, lukisan Boschbrand ditawarkan secara diam-diam oleh wangsa Oranje kepada seorang kolektor Indonesia, karena upaya ini gagal maka pada 2014 lukisan ini dibeli oleh Galeri Nasional Singapura yang langsung memamerkannya sebagai koleksi paling top. Izin ekspor ternyata sudah keluar hanya seminggu setelah diajukan, demikian ditemukan oleh Arjen Ribbens. Konon kabarnya transaksi ini berkisar antara tiga sampai lima juta dolar, sulit mengetahui harga pastinya karena semua pihak yang terlibat wajib merahasiakannya.
Tidak satupun cucu Ratu Juliana, tidak juga staf sri baginda raja Willem-Alexander yang sejarawan itu, yang terbukti punya kesadaran sejarah seni nasional. Dan bahwa Ratu Máxima yang merupakan pelindung KITLV, Raden Saleh merupakan salah satu anggota awal institut kerajaan ini, ternyata tidak atau sama sekali tidak membawa dampak. Tidak satupun dari 13 lukisan yang pernah diserahkan Raden Saleh kepada tiga raja dinasti Oranje, sekarang masih menjadi milik wangsa ini.
Idealnya Boschbrand merupakan milik bersama Amsterdam dan Jakarta, kesepakatan konstruksi saling tukar seperti yang baru saja dicapai dengan Paris bagi karya Rembrandt yang bernilai €160 juta. Karya Rembrandt ini dipamerkan enam bulan di Paris dan enam bulan di Amsterdam. Pola ini juga cocok bagi adi karya Raden Saleh. Tetapi sejarah Hindia Belanda sudah sejak dulu dipisah dari sejarah Belanda — kalaupun sejarah Belanda memang pernah mengakui sejarah Hindia. Di Belanda tidak satu jalanpun menyandang nama Raden Saleh. Dan itu tidak akan pernah terjadi lagi.
Di alam baka Raden Saleh bisa berada dalam lingkungan terhormat. Bukannya tidak masuk akal kalau tokoh bengal abad 19 lain, Multatuli, tak lama lagi akan juga terdesak ke pinggiran sejarah Belanda. Kini semua masih tahu siapa dia. Patut dipertanyakan apakah Raden Saleh mengenal Multatuli —walaupun masa hidup mereka bertumpang tindih untuk waktu yang lama. Ketika Multatuli —nama lengkapnya Eduard Douwes Dekker— sebagai anak muda berangkat ke Hindia Belanda, Raden Saleh sudah beberapa tahun meninggalkan bumi kelahirannya, dan mereka berdua memang selalu telisipan (bersimpang jalan). Bisa dipastikan mereka saling mengenal karya masing-masing, Multatuli menyebut nama Raden Saleh dalam Max Havelaar; keduanya adalah anggota tarekat metselar bebas (vrijmetselaarij alias freemason), walaupun mereka bukan anggota loji jang sama.
Seseorang yang mungkin sempat mengenal keduanya adalah Mina Kruseman, yang pada abad 19 merupakan tokoh perempuan Belanda paling eksentrik. Aktris dan penulis ini masih bersaudara dengan perupa terkenal Cornelis Kruseman yang pernah menjadi guru Raden Saleh. Setelah novel feminisnya terbit pada 1873 (berjudul Een huwelijk in Indië alias Pernikahan di Hindia), ia menggarap bukunya ini menjadi naskah drama yang berjudul De echtscheiding alias perceraian yang tatkala dipentaskan dia pegang peran utama. Sementara itu dia sudah berkenalan dengan Multatuli, yang memintanya untuk pegang peran utama dalam drama karya Multatuli yang berjudul Vorstenschool(sekolah bangsawan) — sempat beredar desas desus santer bahwa Multatuli sampai begitu tergila-gila pada Mina Kruseman. Tentang perannya sebagai Ratu Louise keduanya berselisih berat. Sampai-sampai Multatuli membatalkan kontraknya, walaupun sandiwaranya sukses besar. Kruseman kembali ke Jawa, di sana Raden Saleh sudah kembali sebagai seorang Jawa sekaligus Eropa yang hidup bahagia dan, siapa tahu, keduanya saling berkenalan.
Multatuli yang meninggalkan Hindia Belanda pada 1857, pada waktu itu sudah hidup di pengasingan suka rela di Ingelheim, Jerman. Dalam hal ini juga terdapat persamaan antara dia dengan Raden Saleh: dia lebih suka menetap di Jerman ketimbang Belanda. Tetapi berlawanan dengan sang perupa, Multatuli berhasil mengembangkan diri menjadi pahlawan tak terbantahkan lagi dalam warisan sastra Belanda dan dengan begitu tampil sebagai suara hati bangsa Belanda. Pada 2002, novel Max Havelaar karya Multatuli dinobatkan sebagai karya sastra terpenting Belanda sepanjang masa, dan pada 2004 Multatuli sendiri terpilih menduduki peringkat 34 orang Belanda terbesar. Patung dadanya —karya Hans Bayens— begitu menonjol di Torensluis, Amsterdam, di atas kanal Singel.
Karena itu sangat mengagetkan dan tidak bisa dimengerti keputusan pemerintah kota Amsterdam pada 2013 untuk menghapus subsidi kepada Multatuli Huis (Rumah Multatuli). Rumah kecil di Korsjespoortsteeg, dekat Singel, merupakan tempat kelahiran sang penulis (sampai sekarang ibu-ibu Belanda selalu melahirkan di rumah, tim penerjemah) yang berfungsi sebagai museum, sejak itu secara simbolis disewa seharga satu euro per tahun dari pemkot Amsterdam oleh Stichting Multatuli Huis (Yayasan Rumah Multatuli). Tetapi perawatan rumah harus dibiayai oleh Stichting yang juga bertugas merawat arsip dan menjalankan kegiatan-kegiatan edukatif. Penutupan dikhawatirkan akan terjadi tidak lama lagi.
Ini semua berlawanan sekali dengan Museum Multatuli yang tidak lama lagi akan dibuka di Rangkasbitung, Lebak, provinsi Banten. Lokasi ini tidak akan merupakan kejutan: di Indonesia ‘Pidato kepada para pemimpin Lebak’ juga merupakan bagian Max Havelaar yang paling terkenal. Pada bagian ini sang penulis tanpa ampun membongkar pemerasan rakyat Lebak, yang dilakukan baik oleh penguasa pribumi maupun penguasa kolonial. Isi pesan dan pembawa pesan itu sekarang ditemukan kembali.
Di Lebak (1.620.000 jiwa pada 2015), sudah ada sekolah dan jalan yang bernama Multatuli. Yang sekarang hampir mendekati tahap penyelesaian adalah kompleks budaya yang besar dan mencolok, terdiri dari Museum Multatuli (renovasi rumah residen), perpustakaan Saijah dan Adinda serta auditorium yang juga berfungsi sebagai bangunan multifungsional untuk pelbagai tujuan budaya. Direncanakan secara teratur akan berlangsung festival sastra Multatuli. Juga akan ada progran writers in residence. Selain hidup dan karya Multatuli, museum juga akan memamerkan penjelasan bagi sejarah kolonialisme di Indonesia dan perlawanan terhadapnya. Selain itu juga dipikirkan untuk membuka kafe museum dan ruangan khusus yang menawarkan merchandisingMultatuli. Dengan ini semua, maka Multatuli Huis di Amsterdam tampak begitu kecil tak berarti.
Harian Koran Tempo edisi 29 April 2016, menerbitkan laporan jurnalis Joss Wibisono tentang perlawatan bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya ke Multatuli Huis pada tanggal 26 April. Dari tangan Winnie Sorgdrager, ketua Multatuli Genootschap (Masyarakat Multatuli) bupati Iti Jayabaya antara lain menerima lantai asli rumah asisten residen Lebak dan portret lithografis Multatuli. Dalam pidatonya di hadapan bupati dan rombongan, Sorgdrager mengeluh soal ancaman yang dihadapi Multatuli Huis yang menurutnya “tak lama lagi mungkin akan berubah menjadi toko keju”, seperti banyak rumah kuno lain di Amsterdam pusat. “Beritahu kami pada waktunya,” kata anggota delegasi Lebak kepada hadirin. Dalam laporan di Koran Tempo juga tertera gurauan Budi Santoso, Asisten Daerah bidang Perekonomian, “Kalau Multatuli Huis merasa kesulitan memperoleh dukungan dan dana, silahkan pindah saja ke Lebak, kami sanggup menampung semuanya”.
Bahwa bupati Iti Octavia Jayabaya berhati sosial yang besar juga terlihat dari rencananya untuk menampung wisatawan yang diharapkan akan datang mengalir. Mereka tidak akan ditampung di resor mewah dan mahal, melainkan di rumah-rumah warga setempat. Dengan subsidi mereka didorong untuk membuka penampungan wisatawan. “Multatuli adalah sumber inspirasi bagi kami semua,” demikian ditekankan oleh Iti Jayabaya, “saya berada di sini atas nama rakyat Lebak.”
Bahwa Multatuli dan warisannya sekarang ‘diakui’ oleh pemerintah Indonesia, dan 150 tahun setelah kepergiannya oleh pemda ‘Lebak’ adalah ironi sejarah yang maha hebat. Sang penulis sendiri pasti akan merasa perkembangan ini sebagai sesuatu yang hebat pula. Sudah sejak awal, novel Max Havelaar memang gampang kena appropriation alias perangkulan oleh penulis lain. Sejarawan Ulbe Bosma menegaskan bahkan sebelum terbit, Jacob van Lennep, kuasa usaha Multatuli, sudah memperoleh hak cipta novel ini untuk kemudian melakukan perubahan pada naskahnya, dalam rangka melindungi teman-teman konservatifnya. Dan setelah terbit, novel ini dipergunakan oleh kalangan liberal sebagai alat propaganda yang kuat untuk membuka Hindia bagi sistem pasar bebas liberal yang tak kenal belas kasih — dan mereka berhasil.
Masih merupakan cita-cita bahwa kalau kelak sudah selesai, Museum Multatuli akan dibuka bersama oleh presiden Joko Widodo dan raja Willem-Alexander yang konon kabarnya tengah merencanakan kunjungan kenegaraan ke Indonesia untuk 2017 ini. Bukankah akan merupakan isyarat yang elok jika pada kesempatan itu sang raja dapat menghadiahkan lukisan besar Boschbrand atas nama rakyat Belanda kepada rakyat Indonesia. Hanya dari kesempatan berfoto pada saat penyerahannya saja sudah akan muncul isyarat yang fantastis. Hubungan pasca kolonial kedua negara di hadapan mata dunia akan melejit untuk waktu yang lama, padahal biayanya paling banter akan menelan empat sampai lima juta euro. Tapi untuk ini mutlak perlu adanya visi ke depan dan kerjasama serta pengetahuan rinci, tak ketinggalan perasaan bagi perimbangan hubungan kedua pihak dan fantasi serta banyak hal lagi yang dituntut dari pemerintah. Itu semua jelas tidak ada.
Versi asli (bahasa Belanda) dimuat oleh mingguan De Groene Amsterdammer edisi 5 Januari 2017, halaman 44-47.
Sumber: Historia.Id