Ketoprak Dangsak

Pentas Ketoprak Dangsak "Reksa Mustika Bumi" kolaborasi Cepetan Alas dengan Ketoprak. Pentas ini digelar DKD Kebumendi PRPP Jateng [Foto:AP]

Lengger Banyumasan

Pementasan seni tradisi lengger dari Dariah; tokoh legendaris"Lengger Banyumasan"

Suro Bulus, Parodi Satire Ketoprak Rakyat

Lakon carangan "Suro Bulus" yang merupakan manifestasi perlawanan masyarakat tradisi terhadap kejahatan korporasi tambang

DRAS SUMUNAR, Tetet Srie WD

Pagelaran "Serat Dras Sumunar" karya Tetet Srie WD di Roemah Martha Tilaar Gombong

Dewa Ruci

Pentas wayang dengan lakon "Dewa Ruci" dalam Festival Dalang Anak di Banjarnegara. Tiga dari empat dalang cilik Kebumen sabet juara [Foto:AP]

Senin, 28 Maret 2016

Sejak Kapan 27 Maret Menjadi Hari Teater Sedunia?

 
Hari ini, Minggu 27 Maret 2016 dirayakan sebagai hari Teater Sedunia. Awalnya, International Teater Institute (ITI) pada tahun 1961 mencetus tanggal 27 Maret sebagai Hari Teater sedunia. ITI sendiri adalah organisasi seni teater terbesar di Dunia, yang berada dibawah UNESCO dan berpusat di Paris. Awalnya, misi yang dibawa dalam hari teater sedunia ini adalah perdamaian, melalui seni dan panggung pertunjukan. Hingga saat ini, informasi terhimpun menyebutkan bahwa tanggal 27 Maret yang dipilih adalah hasil pemilihan acak.

Dirjen Unesco saat itu, Irina Bokova meyakini bahwa teater memiliki kekuatan untuk memenuhi itu. Teater bisa menggerakkan, menginspirasi, hingga mengajarkan lewat cara yang tidak bisa dilakukan oleh seni lain. Oleh sebab itu, pesan perdamaian dunia disampaikan lewat teater mulai hari itu. Tahun 1962, pada tanggal yang sama (27 Maret) sosialisasi Hari Teater Sedunia dimulai keseluruh dunia.

Di Indonesia, gaung hari teater sedunia juga sudah terasa sejak tahun 1990-an. Beberapa tempat di Indonesia juga menggelar event, pementasan atau diskusi tentang teater dalam memperingati hari teater sedunia. Apakah anda atau grup teater anda menggelar acara terkait hari teater sedunia? 

Semoga, hari teater sedunia bisa menjadi momentum untuk kebangkitan seni teater di Indonesia. Salah satu Pekerjaan Rumah terbesar adalah bagaimana menjadikan seniman teater berkehidupan layak, sehingga profesi sebagai seniman atau pelaku teater tidak ditinggalkan oleh pecintanya. 


Sumber: PojokSeni  

Sabtu, 26 Maret 2016

Rock-Painting dan Kontes Fotografi Kebumen

SENI BATUAN: Seni Batuan Suiseki dan Lukis Batuan Kebumen diangkat dalam event Suiseki & Rock Painting Photography Contest 2016

Di tengah surutnya pamor batuan lokal, beberapa gemstoner Kebumen menggelar event Suiseki Rock Painting & Photography Contest 2016, yang dihelat selama 2 hari, mulai 26-27 Maret 2016. Purba Artstone yang memprakarsai perhelatan di Balai Kelurahan Kebumen secara mandiri  meyakini upaya mengangkat seni batuan lokal seperti ini tak cukup dengan latah mengikuti trend dan booming akik saja.

Ketua Panitia Putut Agus yang dikenal sebagai pelukis dengan keunikan memanfaatkan batuan dan daun kering sebagai media seninya, tak mau larut dalam pengaruh trend. Itu sebabnya, perhelatan 2 hari ini juga disertai sessi lomba mewarnai gambar untuk anak-anak di hari kedua (27/3). Lomba mewarnai dibagi dalam 3 kelompok tingkat usia: PAUD-KB, TK  dan siswa SD klas 1 dan 2.

Usai pembukaan Suiseki Rock Painting & Photography Contest 2016 dilangsungkan sessi Workshop yang diikuti oleh 26 peserta, terdiri dari para pendidik dan masyarakat umum. Di bawah panduan Putut Agus para peserta melukis batu dengan materi warna yang seluruh bahannya disiapkan oleh panitia. Keseluruhan hasil dari workshop ini dikonteskan kemudian diambil 3 terbaik dan diberikan hadiah uang. Masing-masing sebesar Rp. 400 ribu, Rp. 300 ribu dan Rp. 200 ribu. 


Kontes Fotografi

Tak kurang dari 70-an fotografer mengikuti ajang Kontes Fotografi Batuan Suiseki dan Biseki yang dipajang panitia di pendopo Kelurahan Kebumen. Panitia juga melibatkan 2 model cantik asli Kebumen melengkapi obyek pengambilan gambar. Menurut Pitra Suwita, salah satu panitia yang mengkoordinir registrasi menjelaskan bahwa peserta kontes fotografi ini datang dari Purworejo, Magelang, Yogyakarta, Purwokerto dan Kebumen sendiri.

Di bawah panduan Madar Sud sessi pemotretan dibagi dalam 2 lokasi. Yakni di ruang pamer rock-painting di Hotel Grand Putra dan di tengah pendopo kelurahan dengan set batu suiseki-biseki yang disediakan panitia. Dan di masing-masing lokasi pemotretan disertakan seorang model.

Peserta Kontes Fotografi nampak antusias mengikuti seluruh sessi yang diprasyaratkan. Hasil dari sessi pemotretan ini akan dinilai oleh dewan yuri yang terdiri dari Bagus Handoko (Fotografer Jogja), Bambang Indrajit dan Ondo Supriyanto (Kebumen).  Dewan yuri akan memilih 3 karya foto terbaik dan panitia menyediakan hadiah masing-masing Rp. 1.000.000,- dan Rp. 750.000,- serta Rp. 500.000,-

Ajang Suiseki Rock Painting & Photography Contest 2016 ini murni digelar atas prakarsa kalangan pecinta batuan Kebumen. Menurut Bambang Indrajit yang selama ini aktif mempromosikan batuan Kebumen, melihat bahwa upaya mengangkat potensi seni batuan Kebumen tak boleh berhenti pasca booming saja. Untuk itu dia menggalang jejaring dengan fihak-fihak yang memiliki kapasitas, sumber daya dan kepedulian untuk mengangkat potensi seni batuan lokal Kebumen.

“Event ini sendiri mendapat support dari pengusaha nasional yang justru berdomisili di luar Kebumen” papar Bambang Indrajit. Dia menambahkan bahwa event seni batuan ini bakal digelar kembali September mendatang. 

Jumat, 18 Maret 2016

Sastra dan Pikiran Tertutup


M Aan Mansyur 
Pustakawan
18 Mar 2016

Photo by Mathieu Nicolet

Ketidakpastian adalah racun bagi pikiran manusia. Sejak kecil, kita menentang ambiguitas. Kita selalu ingin menemukan jawaban yang masuk akal atas pertanyaan yang membingungkan. Ketika berhadapan dengan ambiguitas tinggi dan jawaban yang kurang jelas, kita merasa tidak nyaman dan tidak aman. Kondisi semacam itu adalah hal biasa, alamiah, dan bukan masalah luar biasa.

Jika setuju dengan pernyataan di atas, Anda mungkin termasuk orang yang tidak senang diombang-ambing gelombang bimbang. Salah satu ciri orang yang tidak tahan berada dalam ketidakpastian adalah mudah percaya akan pernyataan orang lain. Banyak orang lebih memilih menjatuhkan diri ke dalam sumur pikiran sempit agar bisa menjauhkan kepalanya dari kebingungan.

Kita dengan mudah bisa menyaksikan orang-orang semacam itu di televisi, koran, Internet, atau di mana pun di sekitar kita. Tidak peduli betul atau salah, orang menjadi terburu-buru memberi penilaian, gampang mengambil keputusan, dan tergesa-gesa percaya akan berita atau rumor.

Kenapa mereka melakukan tindakan-tindakan konyol semacam itu? Jawabannya: mereka tidak ingin berlama-lama berada dalam kebingungan.

Orang yang tidak nyaman pada kebimbangan juga akan susah mengubah keyakinan yang terlanjur mereka pilih, meskipun mereka tahu itu salah. Mereka tidak ingin kembali masuk ke dalam kebimbangan.

Sekarang, bayangkan sebuah negeri yang dipenuhi manusia seperti itu. Anda akan segera bisa melihat bahwa ketidaknyamanan pada ketidakpastian bisa berubah menjadi masalah yang luar biasa, atau mimpi buruk yang hebat.

Arie Kruglanski memperkenalkan istilah cognitive closure untuk menjelaskan keingintahuan seseorang untuk mencapai jawaban tegas atas pertanyaan yang membingungkan dan keengganan berdiam dalam ambiguitas. Bersama Donna Webster, pada 1994, psikolog sosial ini juga memperkenalkan cara standar untuk mengukur kebutuhan cognitive closureseseorang.

Para psikolog sering menyebutnya Need for Cognitive Closure Scale. Dengan menggunakan skala yang sudah dirancang sedemikian rupa, kita bisa mengukur seberapa tinggi atau rendah ketidaknyaman seseorang pada kondisi membingungkan.

Orang yang memiliki kebutuhan penutupan kognitif yang tinggi cenderung mudah memberi penilaian dan mengambil keputusan. Mereka gampang percaya pada pernyataan orang lain, berpikiran tertutup, dan sulit menerima pikiran-pikiran baru.

*

Betulkah penyakit pikiran sempit tidak bisa disembuhkan?
Saya punya kabar baik buat Anda yang merasa menderita penyakit ini. Beberapa bulan lalu, Creativity Research Journal memuat hasil penelitian tiga ilmuwan dari University of Toronto, Kanada, yang dipimpin oleh seorang psikolog, Maja Djiki. Berdasarkan penelitian mereka, obat penyakit pikiran sempit sesungguhnya murah dan mudah. Dengan membaca karya fiksi bermutu, orang bisa terhindar dan terlepas dari gangguan rasa tidak nyaman akan ketidakpastian. Begitulah kesimpulan penelitian mereka.

Untuk penelitian tersebut, 100 mahasiswa dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok diminta memilih satu esai di antara delapan pilihan esai yang ditulis oleh orang-orang terhormat seperti George Bernard Shaw dan Stephen Jay Gould. Kelompok kedua diminta memilih dan membaca satu cerita pendek. Cerita-cerita pendek itu ditulis oleh penulis ternama seperti Wallace Stegner, Jean Stafford, dan Paul Bowles.

Setelah membaca esai atau cerita pendek, peserta mengisi survei untuk mengukur kebutuhan mereka akan kepastian dan stabilitas. Hal ini menggunakan model pengukuran Need for Cognitive Closure Scale yang diperkenalkan Kruglanski.

Studi ini menemukan bahwa mahasiswa yang membaca cerita pendek memiliki skor lebih rendah daripada mereka yang membaca esai — yang berarti mereka kurang bermasalah pada ketidakpastian. “Paparan karya sastra dapat menawarkan cara bagi seseorang untuk lebih berpikiran terbuka,” kata Djiki.

Di akhir artikel mereka, ketiga ilmuwan ini menyarankan agar institusi pendidikan memberikan porsi yang lebih besar atas seni dan humaniora. Membaca karya sastra, menurut para ilmuwan tersebut, bisa membuat seseorang memiliki cakrawala pikiran yang lebih lapang dan membantu mereka untuk bisa menyelami dan menerima perspektif orang lain. Mereka pun menjadi lebih kreatif dalam mengambil keputusan. Ilmu lain tidak mampu melakukan hal semacam ini.

Sesungguhnya hal yang sama sudah diingatkan oleh Konfusius pada 500-an SM. Dia mengatakan, “Tidak peduli seberapa sibuk kamu pikir dirimu, kamu harus menemukan waktu untuk membaca, atau kamu menyerahkan dirimu untuk dipilih oleh kebodohan.” Itulah sebabnya orang-orang Yunani Kuno, apa pun profesi mereka, sejak kecil membaca dan mencintai karya-karya Homer.

Atau, jika Anda pernah membaca seri A Song of Ice and Fire — karya yang mungkin Anda lebih kenal karena serial televisi Game of Thrones, melalui tokoh Jojen Reed di seri terakhirnya, A Dance with Dragons, George R. R. Martin mengatakan, “Reader lives a thousand lives before he dies. The man who never reads lives only one.”

*

Demi menunjukkan keindonesiaan saya, sebelum menutup tulisan ini, saya harus menyampaikan minimal satu kabar buruk. Di negeri ini, kabar buruk selalu lebih penting dibanding dengan kabar baik.

Kabar buruknya: pemerintah sedang melakukan usaha yang sangat dahsyat untuk membuat kita tetap menjadi manusia yang tidak nyaman atas ketidakpastian dan ambiguitas. Pemerintah ingin kita tetap menjadi manusia berpikiran tertutup seperti mereka.

Jika Anda tidak percaya, lihatlah pelajaran atau kurikulum sekolah adik atau anak-anak Anda. Hampir tidak ada, untuk tidak mengatakan tidak ada, ruang yang bisa membuat mereka menjadi manusia berpikiran terbuka.

Maka, sekarang, bertanyalah kepada diri Anda: apa kabar masa depan?

*

Terakhir, tanpa tambahan komentar apa pun, saya hendak mengutip hasil dari satu penelitian berikut ini:
Survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP), yang dipimpin Prof Dr Bambang Pranowo—yang juga guru besar sosiologi Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, pada Oktober 2010 hingga Januari 2011, mengungkapkan hampir 50% pelajar setuju tindakan radikal. Data itu menyebutkan 25% siswa dan 21% guru menyatakan Pancasila tidak relevan lagi. Sementara 84,8% siswa dan 76,2% guru setuju dengan penerapan Syariat Islam di Indonesia.  Jumlah yang menyatakan setuju dengan kekerasan untuk solidaritas agama mencapai 52,3% siswa dan 14,2% membenarkan serangan bom.

Sumber: Qureta.Com

Minggu, 28 Februari 2016

Tembang Macapat, Enerji dan Abstraksi Doa [3]

// bertapa tanpa rimba yang terpeta / bijaksana lebih baiknya / bawa lah demi kebaikan / ingat tidak gegabah / menyadari badan yang ringkih / suramnya sang cakrawala / rasa yang terbingkai / terurai mengharap atas anak / lancar si Rarindra Ratu Hestungkari / dalam pelukan lanjut nama //

SERAT: Tradisi dalam karya Serat yang bukan saja sarat muatan ajar mengenai kearifan yang tetep relevan, tapi juga elaborasi pemikiran-pemikiran kekinian [Foto: Mario M Sano]    

Sinyalemen yang dapat ditarik dari sharing Tetet Srie WD bahwa lahirnya Serat Dras Sumunar melalui tapa keprihatinan seorang ayah yang tekun  bermunajat, bahwa anak putrinya (Rarindra Ratu Hestungkari) dapat lah mencapai bontos kaweruh, merengkuh kebijaksanaan tinggi serta kemuliaan dalam perjalanan hidupnya; tak melenceng dari wiradat atas sang anak. Secara naluriyah, bagi sastrawan jawa yang telah melanglang buwana ini menempatkan fitrah keperempuanan sebagai kemuliaan.  

Capaian derajad kemuliaan putrinya adalah rengkuhan derajat kemuliaan linimasa perempuan jawa pada umumnya. Apa yang tersurat dalam Serat Dras Sumunar, dengan begitu, mereposisikan diri sebagai rangkuman asa penciptaannya. Jadilah ia -Serat Dras Sumunar itu- semacam abstraksi dari doa. Tentu, sublimasi kosakata pilihan masih saja menghamparkan ruang dan kisi-kisi yang dapat memunculkan interpretasi yang berbeda.

Yang jelas, usaha mengapresiasi karya sastra Jawa itu tak bisa pasifistik dengan berhenti setelah mendengarkan serangkaian tembang atau pun liris-liris geguritan belaka; yang dalam pagelaran macapat di Roemah Martha Tilaar dikonfigurasikan sebagai transisi fase-fase pergantian pupuh. Macapat sendiri, dalam bentuknya sebagai pupuh itu; mengkerangkai bagaimana secara spesifik kita dibuat mengaktifkan nalar berikut sensitivitasnya.

Begini lah masyarakat Jawa membangun kecerdasannya dalam dialektika amemayu hayuning bawana itu...                   

Tembang Macapat, Enerji dan Abstraksi Doa [2]

 SAMBUNG-RASA: Sessi kajian pasca pertunjukkan macapat. Sastrawan Tetet Srie WD memaparkan proses penciptaan sebagai jembatan mengapresiasi [Foto: Aris Panji Ws] 

Tak bisa dipungkiri bagaimana luruh suasana dalam Roemah Boedaya itu, dimana tembang-tembang jawa mengaliri jiwa yang hadir di serambinya. Seolah ada spektrum tafakur yang melingkar, tak terpisah, tapi juga tak terdera basah sisa hujan di luaran. Begitu lah suasana dibangun dari getar serangkaian tembang-tembang jawa yang dilantunkan dari titah rasa. Selain Ika Lustiyati, ada Na Dhien, KMA Arum, Ajang Mas, Sukinah, Heru RRI, Trimo Raharjo, Dian Kusumawati, Alek Sudianto, Wagimin, Surawan dan Nanang SP.

Banyak lagi orang hebat menepi di sini. Namun Serat Dras Sumunar juga terasa benar hebatnya. Karya Tetet Srie WD yang diselesaikan selama 2 tahun pada 1986; tak lekang pesona magisnya hingga hari ini. Bahkan sang Empu Anggit pada saat melantunkan pupuh Mijil seperti memuncaki kulminasi dalam reaktualisasi pergulatan seninya. Karya yang dibabar pertama justru di mancanegara, yakni di Neully sur Seine, Perancis; memang bukan karya biasa-biasa saja.

Terlebih bagaimana mengolah karya sastra dalam pementasan collaseum dengan kendala verbal dan bahasa yang berbeda; aspek pembelajaran berkesenian tentu jadi resensi dan referensi besar. Karena saat petikan Serat Dras Sumunar dihelat di negeri sendiri, pun mengalami kendala serupa. Untuk bisa memahami ikrah karya sastra Serat seperti ini memang butuh pergulatan lanjut dan intensitas dalam menyelami teleng kedalamannya.

“Saya kepranan menyimak Dras Sumunar ini. Seperti apa penjabaran prakarsa kepenulisannya..?”. Tak kurang seorang Ketua Umum DKD Kebumen Pekik Sat Siswonirmolo melansir tanya ihwal kegamangan interpretasi seputar ikrah karya ini, dalam respon apresiasinya.

“Dras Sumunar adalah sesuatu yang bersumber di telenging ati manusia”, urai Tetet Srie WD mengawali sambung rasa.

Teleng adalah pancer dari semesta hati, semesta yang mendadah laras kehidupan ke dalam krenteg, mobah-mosik jadi spektrum spiritualnya. Membaca ikrah Serat ini memang menemukan keterhanyutan, tapi yang menghidupkan takjub. Ini lah keterpengarahan itu...

// tapa tanpa alas kang jinarwi / wicaksana den langkung prayoga /gawanen amrih becike / eling nora gegupuh / puh apuhing raga kang aking / kingkin sang dewangkara / rasa den kawengku / kumadarna nggadhang yoga / gancar pun Rarindra Ratu Hestungkari / rinengkuh nulya asma //
[Dhandhanggula, Serat Dras Sumunar, Tetet Srie WD]

[to be continued]      

    

Tetet Srie WD dalam Serat “Dras Sumunar” [1]

Tembang Macapat, Enerji dan Abstraksi Doa    

Tetet Srie WD di tengah Gelar Macapat "Serat Dras-Sumunar" di Roemah Budaya Martha Tilaar [Foto: Aris Panji Ws]

Serangkaian pupuh tembang jawa dalam bunga rampai “Dras Sumunar” usai digelar di Roemah Martha Tilaar Gombong Kebumen (27/2/2016). Rangkaian yang lengkapnya terdiri dari 1.000 gatra [pada_jw] tembang seperti Dhandhanggula, Mijil, Sinom, Pangkur dan Durma, karya Tetet Srie WD, yang telah dipentaskan di berbagai negara Asia, Eropa dan Afrika. Petikan karya sastra Jawa ini dilantunkan langsung oleh Tetet Srie WD dengan melibatkan tak kurang dari 10 orang termasuk 3 seniman yang menyertai perjalanannya; Na Dhine, Heru RRI dan KMA Arum. Beberapa seniman setempat juga menyertai perhelatan langka ini...

Serat sebagai karya sastra Jawa tak melulu lahir dalam budaya tradisi di masa yang telah berlalu. Masyarakat lama telah mengenal berbagai karya sastra adiluhung sejenis sebagai bagian khasanah kesusasteraan lama. Dalam khasanah klasik itu setidaknya ada Serat Pararaton, Wedhatama, Wulangreh, Tripama, Centhini, Jayeng Baya, Sasangka Jati, Sabdo Palon, hingga karya fenomenal seperti Serat Gatholoco dan Darmo Gandul; serta banyak lagi karya klasik lainnya. Sedang di era kekinian tradisi serat ini terus dielaborasi oleh para sastrawan Jawa. Salah satu penulis sastra Jawa [baca: pangripta_pen] serat ini adalah Tetet Srie WD dengan karya Serat Dras-Sumunar (1986).

Karya yang dalam serat aslinya terdiri tak kurang dari 1.000 gatra tembang macapat ini memuat aspek falsafah perjalanan hidup manusia, dari soal-soal cinta, gejolak muda, pengembaraan, bahkan juga kritik sosial hingga kawruh seputar  kearifan dan nilai-nilai spiritualitas kehidupan. Ada sajian pengantar dari rintisan Teater Kopong menyertai. Helatan bernuansa ritus menyimak tembang-tembang macapat namun jadi terasa gayeng hingga usai dinarasikan. Diikuti sambung rasa dibawah fasilitator Sigit Tri Prabowo.   

TETET SRIE WD: Penampilan penulis serat "Dras Sumunar" di Roemah Martha Tilaar Gombong [Foto: Mario M. Sano] 

Penulisnya, Tetet Srie WD; berada di tengah deretan penembang dengan konfigurasi simbolik yang fokusnya menggambarkan visi kesastraan dari karya seratnya. Ini muncul pada fase tembang dengan sepuluh gatra pupuh Dhandhanggula yang dilantunkan perempuan muda berbakat Ika Lustiati, siswi SMA1 Gombong. Konfigurasi demikian menjelaskan bagaimana sastrawan yang juga seorang koreografer Tetet Srie WD ini ingin menempatkan tema besar kesetaraan gender sebagai sebuah arus utama yang menghilir karyanya. Mainstreaming mana, dalam karya visioner Serat Dras-Sumunar ini mengeksplor basis kultural dan filosofi Jawa yang melandasinya; yang membedakan Sastra Jawa dengan Sastra Barat.


Dunia Barat sendiri menyambut pentas “Dras-Sumunar” sebagai karya serat yang dipanggungkan dengan pernik spektakularitasnya...   

Kamis, 25 Februari 2016

Legenda Penari Lengger dan Jejak LGBT di Serat Centhini


Aris Andrianto
25 Feb 2016, 19:59 WIB

Dariah maestro Lengger Lanang dari Banyumas (Liputan6.com/Aris Andrianto)

Liputan6.com, Banyumas - Sejarah kesenian di Banyumas tak lepas dari wacana transgender. Terutama kesenian lengger lanang.

Tarian khas Banyumas ini dimainkan oleh laki-laki yang mengubah dirinya menjadi perempuan secara utuh dalam keseharian.

Sejarah transgender di Banyumas tercatat sejak abad ke-18. Kala itu Mangkunegaran VII memerintahkan tiga sastrawan untuk berkeliling Jawa. Mereka diperintahkan untuk menulis kehidupan penduduk Jawa saat itu.

Tiga sastrawan itu singgah di Banyumas dan menjumpai kesenian Lengger Lanang Banyumas. Kisah mereka belakangan tertulis dalam Serat Chentini, kisah tentang Jawa.

Kini, ratusan tahun kemudian, Dariah, 88 tahun, masih menari lengger. Dariah merupakan penari lengger lanang terakhir yang masih hidup. Ia menjalankan ritual yang komplit untuk bisa menjadi penari lengger.

Totalitasnya membuat Dariah yang nama aslinya Sadam, berperilaku seperti perempuan. Gerakannya luwes dan gemulai. Namun, energi yang dipancarkan dari kerendahan hati seorang penari lengger masih awet hingga kini.

Dariah merupakan simbol militansi kesenian rakyat yang saat ini mulai terancam punah. Bagi Dariah, lengger lanang merupakan kesenian adiluhung yang penuh makna filosofis kehidupan manusia.
"Saya pakai make up seadanya saja, tidak usah berlebihan," ujar Dariah, maestro lengger lanang Banyumas dari Desa Somakaton Kecamatan Somagede, kepada Liputan6.com, Kamis (25/2).
Siang itu, Dariah bersama tiga penari lengger lanang lainnya didapuk menari lengger di Petilasan Manggihsari di desa itu. Di petilasan itulah Dariah puluhan tahun lalu melakukan perjalanan ritualnya untuk menjadi seorang penari lengger.

Dariah maestro Lengger Lanang dari Banyumas dan para penari muda (Liputan6.com/Aris Andrianto)

Panggung dibuat sederhana, tanpa atap. Meski tanpa atap, panggung cukup teduh karena terlindung rerimbunan pohon beringin yang berdiri kokoh di belakang petilasan. Penonton berjubel di dekat panggung. Tak ada sekat antara penari dan penonton.

Tetua adat Desa Somakaton, Jaya Martono mengatakan, pentas mini napak tilas itu juga dimaksudkan untuk mengajak masyarakat agar kembali berpikir bersih.
"Di sini ada takir atau makanan yang dibungkus daun pisang untuk dimakan bersama," katanya.
Takir merupakan akronim dari tata pikir atau menata pikiran. Saat ini, kata Jaya, banyak agama yang merasa benar sendiri dan menjelekkan agama lain.
Yusmanto, budayawan lokal Banyumas menambahkan, untuk menjadi penari lengger yang sebenarnya memang harus mengikuti ritual khusus. "Jadi tidak bisa instan," katanya.
Seperti yang diungkapkan oleh Astuti, penari lengger asal Cilacap yang ikut menari bersama Dariah.
"Tiap malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon harus tidur di depan pintu," ujarnya.
Selain itu, ia harus melakukan puasa mutih alias tidak makan apapun kecuali nasi putih sekepal dalam sehari. Calon penari harus melakukan tirakat agar menjiwai dan bisa diterima khalayak.

Ritual itulah yang ingin disampaikan kembali oleh Dariah kepada generasi penerusnya. Dariah sendiri merupakan lengger lanang generasi sebelum kemerdekaan yang saat ini masih konsisten menari.


Perjalanan Mistis Sang Penari

Dariah lahir di desa Somakaton, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas dengan nama Sadam, berjenis kelamin laki-laki. Ibu bernama Samini dan ayah bernama Kartameja yang hidup sebagai petani kecil.

Dariah tidak dapat menyebutkan angka tahun yang pasti tahun berapa Dariah dilahirkan. Dariah menuturkan bahwa kakeknya pernah bercerita dirinya lahir tidak lama setelah Kongres Pemuda. Dengan demikian diperkirakan Dariah lahir pada akhir tahun 1928 atau awal tahun 1929.

Dariah kecil meskipun berjenis kelamin laki-laki, namun suka lenggak-lenggok seperti seorang lengger dan suka nyindhen atau melagukan tembang-tembang Jawa. Kegemarannya menari dan menyanyi dilakukan sambil melakukan pekerjaan apa saja.

Sebelum menjadi penari lengger, Dariah kecil merasa seperti kerasukan indang lengger. Sadam seperti dituntun oleh alam bawah sadar. Tanpa pamit dengan orang-orang tercinta dan tanpa tahu kemana tujuannya, Sadam pergi dari rumah tanpa berbekal apapun kecuali sedikit uang yang dimilikinya.

Sadam berjalan sekedar mengikuti langkah kaki. Hal yang masih diingatnya adalah berjalan ke arah timur mengikuti jalan beraspal jalur Banyumas-Banjarnegara, kemudian berbelok ke kiri ke arah Purbalingga. Di daerah Bukateja Sadam sempat berhenti dan diberi air minum oleh warga setempat.

Dariah terus berjalan entah ke mana dan entah berapa hari sudah dilewatinya, hingga akhirnya sampai di sebuah pekuburan tua. Dariah melihat banyak batu lonjong dalam posisi berdiri (menhir) dan ada sebuah arca wanita cantik terbuat dari batu.

Dariah belum juga tahu di wilayah mana dirinya berada. Dariah hanya dapat memasrahkan hidup dan matinya kepada Hyang Maha Pencipta, dan memohon kalau memang ditakdirkan menjadi seorang lengger maka dirinya akan menerima dengan sepenuh hati.

Di tempat yang sebelumnya sama sekali tidak dikenalnya, Dariah sama sekali tidak berniat bertapa atau bersemadi, tetapi betapa dirinya merasa tenang dan damai, sehingga merasa betah dalam waktu berhari-hari. Dariah merasa mendapatkan perlindungan dari kekuatan magis yang tidak pernah dimengerti.

Dariah tidak dapat mengingat berapa hari dan berapa malam berada di makam tua tanpa makan dan minum. Menurut Dariah peristiwa bersejarah tersebut terjadi pada masa penjajahan Jepang menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia atau sekitar tahun 1944 – 1945 .

Setelah berhari-hari Dariah berada di tempat pekuburan tua yang sangat mendamaikan hatinya, selanjutnya mulai terdengar pembicaraan orang-orang yang lewat di jalan yang ada di sisi barat tempat ia bersimpuh.

Dariah mulai paham bahwa selama beberapa hari ternyata dirinya berada di Panembahan Ronggeng atau lengger yang merupakan tempat bagi orang memohon kepada Penguasa Alam agar dapat menjadi seorang ronggeng.

Dariah maestro Lengger Lanang dari Banyumas (Liputan6.com/Aris Andrianto)

Panembahan Ronggeng merupakan tempat bersemadi bagi orang yang menginginkan dirinya menjadi ronggeng atau lengger, terdapat di desa Gandatapa, kecamatan Sumbang, kabupaten Banyumas.

Dengan demikian Dariah telah berjalan mengelilingi tiga kabupaten, yaitu kabupaten Banyumas, Banjarnegara, dan Purbalingga, sebelum akhirnya kembali ke wilayah kabupaten Banyumas di lokasi Panembahan Ronggeng.

Setelah merasa puas berada di Panembahan Ronggeng, selanjutnya Dariah melanjutkan perjalanan pulang. Untuk menuju ke tempat tinggalnya di Somakaton, Dariah tidak begitu saja tahu jalan yang harus dilalui.

Dariah harus banyak bertanya kepada orang yang dijumpainya dalam perjalanan. Akhirnya Dariah sampai di kota Purwokerto. Di Purwokerto Dariah membelanjakan bekal uangnya untuk membeli perlengkapan yang dibutuhkan oleh seorang lengger dalam pementasan.

Dariah berambut pendek, dibelinya satu buah gelung brongsong (konde yang dilengkapi semacam ikat kepala sehingga pemakaiannya tinggal diterapkan di kepala). Dariah juga membeli kemben (kain penutup dada), sampur, kain, dan keperluan lain.

Barang-barang hasil belanjaan yang dipersiapkan untuk perlengkapan lengger lalu dibawanya pulang. Dengan berjalan kaki akhirnya Dariah sampai di Somakaton.

Pasang Surut Lengger Lanang

Betapa gemparnya seluruh keluarga, kerabat dan tetangga-tetangganya demi mengetahui Dariah pulang setelah sekian lama pergi entah kemana tanpa ada seorangpun yang tahu. Sesampainya di rumah Dariah menceritakan semua yang dialami selama kepergiannya.

Seluruh keluarga dan kerabat menanggapi positif semua yang terjadi. Semua kerabat menganggap bahwa semua yang telah terjadi merupakan bagian dari proses yang harus dialami oleh Dariah untuk menjadi seorang lengger.

Beberapa orang yang memiliki ketrampilan bermain gamelan dikumpulkan untuk berlatih bersama-sama dengan Dariah.

Semenjak itulah Dariah menjadi seorang lengger. Menurut Dariah apa yang dialaminya itu terjadi pada masa penjajahan Jepang menjelang kemerdekaan Indonesia (antara tahun 1944 – 1945).

Kejayaan lengger bertahan hingga Gerakan 30 September 1965 meletus. Kala itu seniman tradisional menjadi kelompok sosial yang oleh rezim Orde Baru ditengarai dekat dengan komunisme. Begitu pula seniman lengger yang banyak ditangkap pemerintah.

Saat lengger dilarang, Dariah menjadi perias pengantin atau sering disebut dukun manten. Pekerjaan yang dilakoninya hingga usia senja.

Dariah mendapat pengakuan saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberi anugerah kategori Maestro Seniman Tradisional pada tahun 2011.

Namun, lebih dari itu, perjalanan kesenimanannya sungguh berliku. Demi seni yang begitu dicintanya, dia memilih melakoni hidup menjadi perempuan walau terlahir sebagai laki-laki.

Kini, ada salah satu penerusnya yang mulai naik daun sebagai lengger lanang. Namanya Agus. Nama panggungnya, Agnes.
“Mbok Dariah merupakan inspirasi saya sehingga saya ingin menjadi penari lengger lanang,” katanya.
Seniman serba bisa asal Jogjakarta, Didik Nini Thowok mengaku kagum dengan totalitas berkesenian penari lengger lanang, Dariah.
"Totalitasnya masih terasa. Saya salut dengan Mbok Dariah," kata Didik
Didik pernah mendokumentasikan sosok Dariah. Mulai dari rumahnya, Sungai Serayu, Pendopo Sipanji dan sejumlah tempat keramat yang pernah digunakan ritual oleh Dariah.

Didik blusukan hingga Banyumas merupakan hasil perenungannya akan Serat Chentini. Sebuah kisah yang menggambarkan bagaimana lengger masa lalu hidup. Serat ini juga berkisah tentang banyaknya kesenian yang diperankan oleh laki-laki, lengkap dengan latar belakang sejarahnya.

Ia mengatakan, ide untuk mendokumentasikan Lengger Dariah ini berawal dari perjalanannya di Amerika Serikat pada 20 September hingga 4 Oktober 2012. Saat menari lengger di Yale University di New Haven, Amerika Serikat, ia berjanji akan mendatangi Dariah untuk membuat film dokumenternya.

Dariah, kata Didik, merupakan representasi kesenian transgender yang sudah ada sejak zaman Sultan Hamengkubuwono VII. Saat itu, tari Golek yang dimainkan penarinya adalah laki-laki.

Transgender, kata dia, juga ditemukan pada serat Chentini buku kelima. Di serat itu, diceritakan tentang Cebolang yang menari lengger dengan dandanan perempuan.

Menurut dia, lengger merupakan kesenian tradisional yang adiluhung. Untuk menjadi penari lengger sebenarnya seperti Dariah, kata Didik, dibutuhkan keseriusan. Saat ini, kata dia, banyak penari lengger baru yang meninggalkan proses ritual agar bisa menjadi penari instan.

Padahal, totalitas menjadi penari lengger harus diperoleh melalui proses ritual yang berat. Selain harus puasa, penari lengger juga harus mandi di tujuh sumur yang berbeda.
"Penari juga harus bersemedi di tempat khusus lengger," kata dia.
Dariah mengaku senang dengan komitmen Didik terhadap kesenian lenger.
“Saya langsung klop saat ketemu Didik,” ujar Dariah yang hanya bisa berbahasa Banyumasan itu.
Dariah mengaku sempat bermimpi bertemu Didik sebelum pentas itu. Ia sendiri berkeinginan untuk bisa tampil di Keraton Yogyakarta untuk menari lengger.

Aroma LGBT Dalam Seni

Budayawan Banyumas yang juga penulias novel Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari, mengatakan, di Banyumas seni transgender sudah sangat biasa.
"Sudah sejak dulu ada. Penari menjadi wandu atau banci karena menari lengger itu banyak," katanya.
Hanya saja saat ini generasi itu sudah mulai hilang. Saat ini lebih banyak penari ronggeng yang dimainkan oleh perempuan. Lengger sendiri berasal dari kata leng dan jengger. Ia menyebutkan, kisah soal transgender juga tertulis di History of Java kaya Sir Raffles.

Menurut dia, kesenian banyumasan hampir seluruhnya berorientasi kerakyatan. Kesenian yang tidak elitis dan bisa dinikmati oleh rakyat jelata sebagai manifestasi budaya agraris. Bukan pula kesenian yang disebut adiluhung seperti tarian Serimpi dan Gambyong yang hanya bisa dinikmati di keraton


Dariah meastro Lengger Lanang dari Banyumas (Liputan6.com/Aris Andrianto)

Rudi Lukmanto, salah satu penari lengger lanang zaman sekarang mengatakan, saat ini lengger masih menjadi tontonan yang ditunggu masyarakat Banyumas.
"Saya ingin mengikuti jejak Mbok Dariah," katanya.
Selama ini, kata dia, tidak ada yang membuat dia resah saat menari lengger.
"Selama ini tidak ada yang membuat kami resah selama manggung keliling di beberapa daerah.  Bahkan, pertunjukan selalu ramai," kata pria yang kini berstatus bapak beranak satu ini.
Bahkan setelah mentas, Rudi mengaku kerap dikejar-kejar kaum pria dan wanita yang terpesona akan aksinya. Kesenian lengger yang diperankan kaum lelaki menurutnya merupakan bentuk asli kesenian tradisional Banyumas.
"Kalau yang nari perempuan ya namanya ronggeng, sedangkan lengger ya penarinya laki-laki," pungkas dia.

Minggu, 21 Februari 2016

Wahyu Cakraningrat; Antara Tontonan dan Tuntunan [2]

ABIMANYU: Dalam "Wahyu Cakraningrat" Abimanyu diganggu oleh ancaman macan yang dalam asumsi dan realitas manusia umumnya menakutkan. Bagi pemimpin, tak ada watak takut menyikapi ancaman yang dimanifestasikan dalam sosok macan [Foto: Doc]

Di sela menonton pagelaran wayang ini ada frasa limbukan dan goro-goro; fase yang biasa ditunggu-tunggu audiens umumnya. Karena materinya melulu guyon intermezzo, joke-joke ataupun nyanyian yang menghibur. Proporsi populis pada jeda ini seolah berjalan linier dengan trend dan selera kekinian pasar.

Catatan menarik atas 2 fase ini pentas wayang alun-alun Kebumen  adalah munculnya ungkapan “nguri-uri budoyo” dari partisipan yang justru berasal dari kalangan pemangku kepentingan. Sebegitu menariknya hingga memicu perdebatan kami pasca kedua priyayi ini nyawer sang waranggana di depan audiens yang tersisa. Plus minus kemenarikannya terangkum dalam rangkaian pertanyaan: Benarkah budaya [tradisi] kita telah rusak tersisih? Jika benar, lalu siapa yang merusak dan menyisihkannya? Apakah karena itu lalu muncul frasa “nguri-uri” budaya itu? Dan bagaimana cara kita memperlakukannya?

Barangkali memang dalam bersit sesaat, saweran-saweran kepada para pelaku bakal jadi “cara-cara baru” memperlakukan kesenian tradisi. Dengan begitu lebih membuka kian lebar porsi tontonan ketimbang tuntunan. Tetapi, sesungguhnya ini berkait kelindan dengan problem masyarakat apresian hari ini.  

Dan bagaimana “Wahyu Cakraningrat” turun sebagai wahyu keraton dan untuk selanjutnya manitis pada seorang yang ditakdirkan sebagai “pancering ratu” tanah Jawa. Maka ini lah makrifat tuntunanya.


Narasi “Wahyu Cakraningrat”
        
CAKRANINGRAT-ABIMANYU: Pada akhirnya Cakraningrat "manjing-angga" manunggal ke dalam jagad Abimanyu yang teruji memiliki semua syarat-syarat kepemimpinan. [Foto: Doc]
_____

Sebagai sebuah tuntunan maka pementasan wayang dengan lakon “Wahyu Cakraningrat” ini, sesungguhnya sarat dengan wewarah keteladanan pemimpin daerah, bukan saja pada masa “turunnya wahyu” dan penobatan pemegangnya; melainkan juga realitas keselanjutannya. Wewarah lakon ini memiliki korelasi dalam aspek kultural dan spiritualitas Jawa yang  mengkonstruksi nalar sehat. Nalar sehat yang dimaksud adalah suatu pemikiran dialektis yang berkesadaran budaya dan memiliki kecerdasan dalam memahami perkembangan situasi kedaerahannya.

Bagi seorang pemimpin, kecerdasan seperti ini menjadi sangat penting karena segala abstraksi karunia-karunia [baca: wahyu] Tuhan telah diamanahkan kepadanya. Jaiz Tuhan pula yang turun menggerakkan masyarakat pemilih untuk sebuah konsekuensi kepadanya menjadi pemimpin (ratu) dan bahkan menurunkan trah kepemimpinannya. Kecerdasan yang (lebih dari sekedar pintar tapi juga mengerti dan mampu memahami) ada pada seorang pemimpin mengkonstruksi kebijaksanaannya. Kebijaksanaan demikian tentu berkorelasi secara signifikan dengan keputusan-keputusan penting dalam kepemimpinannya. Dalam idiom politik ini disebut kebijakan daerah yang dipimpinnya.

Ini lah narasi “Wahyu Cakraningrat” yang, sekali lagi, sesungguhnya belum tamat lakonnya itu. Apakah pemimpin yang penobatannya telah disyukuri dengan suka-cita itu sebagai salah satu dari “kontestan” pemburu wahyu; sebagaimana dinarasikan dalam pewayangan semalam?

Antara Lesmana Mandrakumara, Samba Wisnubrata, dan Abimanyu; tak berhenti menjadi mitos kekuasaan daerah hari ini. Dialetika yang akan menentukannya...      


Sabtu, 20 Februari 2016

Wahyu Cakraningrat; Antara Tontonan dan Tuntunan [1]

Catatan Pentas Wayang Kebumen
  
WAYANG: Pementasan wayang (20/2) berlakon "Wahyu Cakraningrat" dengan dalang lokal Eko Suwaryo; semarak dalam syukuran pasca pelantikan Bupati Kebumen (Foto: DKD Kebumen) 

Dalam rangka syukuran pasca pelantikan Bupati Kebumen dan wakilnya, dihelat pementasan wayang kulit dengan dalang lokal Eko Suwaryo (20/2) di alun-alun Kebumen. Dalam pementasan itu dalang dari Jatiroto Buayan yang tengah “naik daun” ini membawakan lakon “Wahyu Cakraningrat”.
Adakah korelasi cerita pewayangan ini dalam konteks Kebumen kekinian dengan Bupati yang baru? Jika ada, seberapa dalam makna tuntunan dimensi-dimensi wayang terhadap percaturan seputar kepemimpinan daerah dengan slogan “beriman” ini?

Meski secara umum Ki Dalang Eko Suwaryo yang masih terbilang muda ini teguh mengimani pakem klasik jagad pewayangan, dia tak keberatan untuk  mengadopsi trend pementasan pembaharuan poles ala Manteb Sudarsono maupun Entus Susmono; dua dalang kondang di mata publik yang sebelumnya pernah beberapa kali mementaskan kepiawaiannya di Kebumen. Tentu, Eko Suwaryo berbeda dengan ke dua dalang itu.

Pementasan dengan audiens berjubel yang menyusut pada pasca tradisi limbukan dan menyusut lagi setelah lewat fase goro-goro merupakan gejala sosiologis massa apresian pada umumnya, dimana-mana. Secara kuantitas mungkin ini merupakan sinyalemen awal surutnya salah satu dari dua aspek terpenting wayang; tuntunan dalam tontonan.
Namun secara kualitas, pementasan lakon “Wahyu Cakraningrat” emang sarat  wewarah dalam konteks kepemimpinan daerah, memiliki taut korelasi yang kuat hari-hari ini.

Dan sanggit sang Dalang Eko Suwaryo dengan konvensi tradisi jejeran dan pathet telah mentransformasikan pertunjukkannya, di tengah audiens dengan spiritualitas Jawa kekinian yang nampak surut militansinya.  


Cakraningrat Wahyu Yang Tak Diburu

Dalam “realitas” genesis kewahyuan, Cakraningrat itu seorang dewa yang turun dari alam kahyangan dengan nama Batara Cakraningrat. Berbeda dengan wahyu dalam jagad pewayangan yang kebanyakan diturunkan oleh Batara Wisnu, maka Cakraningrat itu diturunkan oleh Batara Kamajaya dan Kamaratih; istrinya.             
Wahyu Cakraningrat disebut pula wahyu keraton, sebab dalam mithologi Jawa Wahyu Cakraningrat merupakan abstraksi yang menghimpun karunia-karunia Hyang Wenang [Allah_pen] dari muatan aspek rajawi.
Sanggit sang dalang mengisahkan perjalanan Sang Cakraningrat sebagai seorang dewa yang atas wenang Hywang Pada harus menitis pada ketiga pemburunya yang tengah bertapa di bumi Mayapada.
ABIMANYU: Penerima wahyu Cakraningrat ini tengah menghadapi godaan Endang Sukrawinanti yang tak lain adalah jelmaan Durga sang Penggoda [Foto: DKD Kebumen]
_____
Ketiga orang itu adalah Lesmana Mandrakumara, putra Suyudana raja Astinapura. Kemudian tercatat pula Samba ksatria Parang Garudha anak dari Prabu Kresna raja Dwarawati. Yang ketiga adalah Abimanyu ksatria Plangkawati keturunan Arjuna dari istri Subadra. Ketiganya manekung, mesu-raga, mesu-budi, dalam rangka mendapatkan wahyu yang jadi muatan simbol dan abstraksi dari kehendak kesejahteraan manusia semesta.
Karena wahyu ini merupakan abstraksi yang memuat amanah keagungan semesta, maka secara epika nalar tentu layak menjadi pertimbangan paling utama bagi siapa pun yang menghendakinya. Di sisi lain, kehendak Hyang Pada Wenang akan kelestarian bumi yang harus manifest ke dalam kuasa kebijakan dalam menata dan mengatur (aspek rajawi) bagi Sang penerimanya. Maka Batara Cakraningrat menguji ketiga ksatria pemburu yang menunggu turunnya.
Apakah kesadaran spiritualitas Jawa yang dipertuntunkan dalam tontonan wayang dengan lakon “Wahyu Cakraningrat” seperti ini telah jadi resensi dan referensi pada syukuran pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Kebumen?
Saat menjelang fajar subuh, makin sedikit orang menonton pertunjukanNya...           

Kamis, 18 Februari 2016

10+1 Babak Sastra Indonesia


Ayu Utami* - 18/02/2016


Kayak apa sih perkembangan sastra Indonesia? Saya kerap mendapat pertanyaan itu dari orang asing (dan orang dalam negeri juga sebenarnya) dan harus menjawab dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Jadi, ini biasanya yang saya katakan bagi mereka yang buta sastra Indonesia:

1. Apa itu sastra Indonesia? Indonesia masih muda. Republik ini baru berdiri 1945. Bahasa Indonesia baru dideklarasikan tahun 1928. Sebelum itu? Yang ada sastra berbahasa daerah. Sastra Melayu, Jawa, Bali, Bugis, dll.
Merekalah cikal-bakal khazanah sastra Indonesia kemudian.

Kalau ingin mencicipi, ada beberapa teks yang telah diterjemahkan dan masih beredar: Negarakertagama (Mpu Prapanca), Wedhatama (Mangkunegara IV), La Galigo (anonim, Bugis), dll. Biasanya, kesusastraan ini bersifat religius-spiritual dan dekat dengan keraton. Sebutlah ini babak “Sastra Berbahasa Daerah”.

2. “Sastra Indonesia dalam bahasa Belanda.” Sebelum Indonesia merdeka, kaum intelektual memakai bahasa penjajah: Belanda. Tulisan-tulisan berbahasa Belanda dari masa ini (sekitar 1900 sd 1945), yang berharga sampai sekarang, membawakan sikap kritis perihal kolonialisme.

Yang wajib  kita baca adalah surat-surat Kartini (terjemahannya diterbitkan dalam beberapa versi). Surat Kartini adalah karya sastra non fiksi yang sangat berharga. Selain itu, baca juga Max Havelaar (novel karya Multatuli alias Eduard Douwes Dekker). Keduanya menginspirasi semangat kebangsaan sehingga terus dikenang di era Indonesia merdeka.

3. “Sastra dalam bahasa Melayu.” Bahasa Melayu adalah bahan dasar bahasa Indonesia. Ia adalah lingua franca di nusantara. Ada bahasa Melayu yang digunakan kaum pujangga dan cendekia kesultanan-kesultanan Melayu.

Ada juga yang dipakai untuk berdagang dan komunikasi umum—biasa disebut Melayu Pasar. Untuk mengintip teks yang masih tersedia, bisa cari Gurindam Duabelas karya Raja Ali Haji, yang berisi petatah-petitih. Itu yang menggunakan Melayu tinggi.

Sementara itu, mendekati 1900 hingga kemerdekaan, banyak novel berbahasa Melayu Pasar yang ditulis dan diterbitkan oleh orang-orang Tionghwa. Ketika itu, mereka sudah maju dalam industri media cetak.

Kalau mau baca, silakan pilih Drama di Boven Digul karya Kwee Tek Hoay, pernah diterbitkan ulang beberapa tahun lalu. Temanya berkenaan dengan situasi penjajahan juga. Para penulis Tionghwa besar perannya, tapi sering tidak diakui dalam sejarah sastra kita.

4. “Balai Pustaka.” Di awal 1900-an itu, setelah ada politik etis, pemerintah Belanda ingin memberi bacaan yang [mereka anggap] baik dalam bahasa-bahasa di negeri jajahan, terutama bahasa Melayu. Mereka membuat Balai Pustaka yang menerbitkan karya-karya yang dianggap memenuhi syarat.

Karena didirikan Belanda, tentu saja buku-buku terbitan Balai Pustaka tidak kritis terhadap penjajahan. Tema menonjol: konflik antara adat dan modernitas. Contoh yang sangat terkenal: Siti Nurbaya (Marah Roesli), Tenggelamnya Kapan van der Wijk (Hamka)—keduanya pernah dijadikan film.

5. “Pujangga Baru.” Ini nama majalah yang diterbitkan oleh trio Sutan Takdir Alisjahbana, Armyn Pane, dan Amir Hamzah tahun 30-an. Mereka ingin sebuah terbitan yang independen, tak seperti Balai Pustaka, yang dikontrol Belanda.

Para intelektual di balik Pujangga Baru sangat sadar akan proyek kebangsaan. Dalam semangat Sumpah Pemuda, mereka “menciptakan” bahasa Indonesia untuk kesusastraan bangsa yang baru—mencampur dan menyerap kata-kata daerah ke dalam bahasa Melayu, tindakan yang kontroversial di masa itu.

Benih puisi modern Indonesia mulai lahir. Yang paling sering disebut sampai sekarang adalah karya Amir Hamzah (penyair ini wafat secara tragis, dibunuh oleh barisan anti bangsawan di masa revolusi kemerdekaan). Pujangga Baru berhenti terbit ketika Jepang berkuasa.

6. “Angkatan 45.” Ini tahun Revolusi Kemerdekaan. Istilah “angkatan” juga tak bisa dilepaskan dari jargon revolusi dan semangat zaman. Tiga nama yang sering disebut adalah Chairil Anwar, Rivai Apin dan Asrul Sani, yang menerbitkan kumpulan puisi Tiga Menguak Takdir, yang menantang pendekatan Sutan Takdir.

Tapi, yang paling ikonik tentu saja Chairil Anwar. Puisi-puisinya sangat berbeda dari tradisi puisi sebelumnya. Sangat kontemporer. Bahkan masih bisa kita nikmati tanpa terasa kuno sampai sekarang! Hampir semua anak Indonesia ingat sajak “Aku”.

7. “Modernisme dan Sastra Indonesia.”  Ini bukan periodisasi waktu, melainkan pembabakan tematis yang bisa kita pakai untuk melihat sastra Indonesia menjelang dan di awal kemerdekaan. Katakanlah, dari era Sumpah Pemuda hingga Demokrasi Terpimpin (1930-an sd 60-an).

Proses modernisme di Indonesia terjadi bersama kesadaran nasionalisme. Kemajuan, kemerdekaan, humanisme adalah kata-kata kunci dalam memahami babak ini. Yang wajib dibaca untuk tema ini setidaknya Pramoedya Ananta Toer dan Sutan Takdir Alisjahbana. Setidaknya, bacalah Bumi Manusia dari Pram, dan Layar Terkembang dari Takdir.

8. “Polemik dan Politik Sastra.” Ini juga perspektif lain yang bisa dipakai untuk mendalami sastra Indonesia di era yang lebih panjang. Para sastrawan tidak hanya mengarang cerita atau menulis puisi. Mereka juga beradu pendapat,  bersikap politis, bermusuhan.

Polemik adalah pertentangan pendapat secara terbuka, biasanya antara dua kubu. Setidaknya, ada dua polemik yang wajib diingat. Pertama, Polemik Kebudayaan di tahun 30-an. Topiknya: apakah sastra Indonesia harus baru, lepas dari belenggu masa lalu dan nilai-nilai Timur, atau sinambung.

Untuk mendalami ini, baca Polemik Kebudayaan (editor Achdiat Karta Mihardja). Politik Kebudayaan ini bersifat intelektual, tak sampai saling cacimaki. Yang kedua, perseteruan antara kelompok Lekra (organisasi di bawah payung PKI) melawan Manifes Kebudayaan di tahun 60-an, yang berakhir bersama peristiwa berdarah 1965-66. Perseteruan ini kasar dan melibatkan tindakan sensor. Bahkan masih menimbulkan debat panas hingga saat ini.

9. “Sastra dan Rezim Militer.” Setelah G30S dan pembunuhan massal terhadap tertuduh PKI (1965-66), Indonesia memasuki rezim militer di bawah Jenderal Soeharto. Di masa ini ada pertumbuhan ekonomi yang pesat. Daya beli meningkat.

Lahirlah novel-novel populer, misalnya karya Marga T, Mira W, Ashadi Siregar, Motinggo Busye, dll. Sering kali novel populer tidak mengangkat tema politis. Di ujung lain, ada pengarang yang berusaha menyingkapkan ketidakadilan dan menyuarakan korban.

Novelis yang menggarap tema itu secara hati-hati, antara lain: Umar Kayam, YB Mangunwijaya alias Romo Mangun, Ahmad Tohari, Seno Gumira Ajidarma. Era ini juga ditandai pelarangan, misalnya terhadap karya Pramoedya dan penampilan penyair W.S. Rendra. Penyair Wiji Thukul termasuk orang hilang, diduga karena puisi-puisinya yang kritis. Salah satu kutipannya yang sangat terkenal: Hanya ada satu kata: Lawan!

10. “Reformasi.” Reformasi Indonesia kebetulan diawali oleh maraknya filsafat postmodernisme. Pendekatan dan kritik sastra di tahun 1990-an didominasi wacana postmodernisme. Saya sendiri menerbitkan novel pertama di era ini: Saman, yang mendapat penghargaan Roman Terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1998 karena dianggap menulis dengan cara baru, mendobrak tabu dan meluaskan cakrawala sastra Indonesia.

Kejutannya, sepuluh hari setelah peluncuran Saman, Presiden Soeharto mundur. Rezim militer usai! Setidaknya tujuh tahun pertama era Reformasi dipenuhi dengan karya yang mengusung tema kebebasan. Pengarang perempuan urban bermunculan—Jenar Maesa Ayu, Dewi Lestari,  Vira Basuki, dll—sehingga ada istilah yang sebenarnya agak mengejek, “sastra wangi”.

+1. Hingar bingar Era Digital. Perubahan politik Indonesia terjadi bersamaan dengan revolusi teknologi di seluruh dunia. Kini adalah era digital. Teknologi ini memudahkan penerbitan dan penyebaran teks. Keadaan sangat ramai dan bising. Segala pilihan ada. Dari aspek best seller, trend kebebasan di awal Reformasi bergeser menjadi trend novel religi dan cerita sukses.

Contohnya, Ayat-ayat Cinta (Habiburrahman El Shirazy) dan Laskar Pelangi (Andrea Hirata). Pelbagai eksplorasi dan eksperimen sastra terjadi, seperti penulisan novel ramai-ramai sampai fiksimini. Anak-anak muda menulis dengan bahasa Inggris dan menampilkan “spoken words” tanpa rasa menyalahi keindonesiaan. Ada banyak perubahan paradigma yang belum diteliti. Di tengah hingar-bingar ini, kritik sastra pontang-panting mengimbangi kecepatan produksi sastra...

Di tengah bising itulah, semoga tulisan yang [terpaksa] simplistis ini bisa membantu siapapun yang awam untuk melihat peta besar sastra Indonesia. Sambil kita menunggu kritik atau penjelasan yang lebih dalam. Misalnya, buku Anton Kurnia (Mencari Setangkai Daun Surga) yang akan terbit akhir Februari 2016 ini.

*Ayu Utami, Novelis, kurator. Tulisan Ayu di Qureta mengenai isu iman dan bahasa yang dibahas dengan perspektif spiritual-kritis. Ayu antara lain menulis Saman, Bilangan Fu, dan seri Spiritualisme Kritis