Ketoprak Dangsak

Pentas Ketoprak Dangsak "Reksa Mustika Bumi" kolaborasi Cepetan Alas dengan Ketoprak. Pentas ini digelar DKD Kebumendi PRPP Jateng [Foto:AP]

Lengger Banyumasan

Pementasan seni tradisi lengger dari Dariah; tokoh legendaris"Lengger Banyumasan"

Suro Bulus, Parodi Satire Ketoprak Rakyat

Lakon carangan "Suro Bulus" yang merupakan manifestasi perlawanan masyarakat tradisi terhadap kejahatan korporasi tambang

DRAS SUMUNAR, Tetet Srie WD

Pagelaran "Serat Dras Sumunar" karya Tetet Srie WD di Roemah Martha Tilaar Gombong

Dewa Ruci

Pentas wayang dengan lakon "Dewa Ruci" dalam Festival Dalang Anak di Banjarnegara. Tiga dari empat dalang cilik Kebumen sabet juara [Foto:AP]

Jumat, 06 Juni 2014

Kritik Sastra dan Sastra Populer*


6 June 2014  -  Yovantra Arief


*Makalah ini pernah disampaikan dalam diskusi “Keruntuhan Kritik Sastra di Era Populer” di UIN Badung
“Akhir-akhir ini kita dipekakkan oleh perkataan krisis. Krisis ini dan krisis itu.
Juga kesusastraan, ada yang mengatakan krisis, […] saya heran, mengapa di samping krisis, tidak terlihat sesuatu yang tidak krisis, sesuatu yang bangun? Barangkali, apa boleh buat, perkataan krisis sudah menjadi mode, sesuatu yang bukan atau tidak krisis tidak masuk hitungan, didaulat saja, dimasukkan dalam lingkungan perkataan krisis atau dianggap sesuatu yang tidak wajar. Misalnya, kesusastraan yang tak krisis dianggap saja bukan kesusastraan. Semacam propaganda misalnya, seperti penamaan orang terhadap karangan penulis-penulis Lekra.”[1]
Keadaan yang digambarkan oleh A.S. Dharta ini kurang-lebih sama dengan apa yang terjadi hari ini. Kita masih kerap mendengar keluh kesah krisis dalam dunia sastra; entah krisis penulis, krisis kualitas, krisis kritikus, krisis orisinalitas, dst., dst. Omelan soal krisis ini biasanya ditemani oleh “kesadaran sejarah” yang tak lain adalah romantisisme belaka. “Dulu bagus, ada Pramoedya, ada H.B. Jassin, ada Jakob Sumarjo, ada ini, itu; sekarang yang ada Andrea Hirata dan Raditya Dika. Boro-boro ada kritikus, baca buku aja malas.” Barangkali banyak orang yang berpendapat bahwa produksi “sastra berbobot” kita sudah semakin jarang, dan dengan demikian kritikus—yang hanya seluruh kerjanya berkait kelindan dengan produksi sastra, juga ikut berkurang. Asumsinya, sastra populer—yang produksinya bejibun itu—bukanlah karya sastra.

Tak pelak lagi, sastra populer telah menjadi momok, biang keladi atas segala kebobrokan yang terdapat dalam dunia sastra. Ia dituduh telah mencemarkan nama baik sastra dengan hanya memberi hiburan ringan tanpa isi, membuat remaja berpikir kalau tidak ada hal lain di luar cinta, merusak bahasa sastra, dan sebagainya. Meskipun kita ramai bersepakat bahwa kritikus sudah sekarat, tapi kita bisa dengan mudah menemukan ulasan kritis—atau dalam kata lain, kritik sastra—yang begitu tajam menggorok leher berbagai judul sastra populer di berbagai medium. Setan macam apakah sastra populer itu?

Istilah “sastra populer” mulai lazim dipakai pada tahun 70-an lewat suksesnya novel Karmila (Marga T.) dan Cintaku di Kampus Biru (Ashadi Siregar). Hal ini ditandai dengan semakin besarnya jumlah pembaca sastra dengan latar belakang sekolah menengah dan perguruan tinggi. Pembaca sastra populer ini kebanyakan adalah perempuan remaja dan ibu rumah tangga.[2] Namun, kesusasteraan populer tidak lahir begitu saja di tahun itu. Menurut Jakob Sumardjo, kesusasteraan populer yang berkonotasi hiburan dan barang dagangan sudah sudah muncul sejak tahun 30-an, ketika Balai Pustaka sedang merajalela (Sumardjo, 1982: 37-39).

Sastra Populer dan Kritik Sastra dalam Sejarah

Sastra populer selalu hadir dalam oposisinya dengan “sastra serius”. Oposisi ini, tentu saja, adalah hal yang politis, dan apabila kita melihat sastra populer dalam oposisinya dengan sastra serius, maka sastra populer sudah dimulai jauh sebelum tahun 30-an. Pada akhir abad ke-19, industri percetakan mulai bisa diakses oleh kalangan Tionghoa. Mereka menerbitkan beberapa surat kabar dan cerita-cerita silat dalam bentuk novel.[3]
Selain cerita silat, terdapat pula saduran cerita-cerita Barat, seperti Robinson Crusoe, The Count of Monte Cristo, dan Sherlock Holmes. Yang menarik, cerita-cerita Barat ini kerap diadaptasi sedemikian rupa sehingga memiliki latar cerita di Jawa.[4] Pada masa-masa ini, industri percetakan hanya dipegang oleh “orang-orang partikelir” Tionghoa dan konsumsinya pun hanya terbatas dalam kalangan itu saja. Orang-orang pribumi baru ikut terjun dalam industri percetakan pada awal abad ke-20 dengan harian Medan Prijaji sebagai pelopor. Sejak saat itu dapat ditemukan novel yang dimuat secara bersambung dalam koran-koran pergerakan.

Pandangan tentang sastra populer yang banal, tidak mendidik, dan tidak punya selera seni muncul seiring dengan usaha kolonial untuk meredam geliat penerbitan pribumi dan Tionghoa ini. Pada tahun 1908, DA Rinkes mendirikan Komisi Bacaan Rakyat (berubah menjadi Balai Poestaka pada 1917) guna menyaingi “batjaan liar”. Istilah ini merujuk pada semua terbitan di luar penerbitan resmi kolonial. Pembentukan Balai Poestaka ini sekaligus juga memunculkan kelas dalam sastra. Pada satu sisi, terdapat “batjaan liar”, sastra kelas rendah, yang menggunakan bahasa Melayu Pasar, lingua franca yang hidup sebagai bahasa sehari-hari dalam perdagangan antar pulau di Indonesia, dan “dikonsumsi pribumi untuk mebodohi dirinya sendiri”. Di sisi lain, terdapat sastra keluaran Balai Poestaka, sastra serius, yang berbahasa Melayu Tinggi dan “diperuntukkan bagi pribumi berpendidikan”.

Kritik sastra formal memang baru dikenal pada 1932 lewat terbitnya majalah Pandji Poestaka, namun Balai Pustaka sebenarnya sudah menjalankan salah satu fungsi kritik, yakni penilaian suatu karya sebagai baik atau buruk berdasarkan standar-standar tertentu. Standar ini, disebut Nota over de Volkslektuur (nantinya lebih dikenal sebagai Nota Rinkes), adalah standar seleksi kelayakan suatu karya untuk diterbitkan.

Dalam praktiknya, Nota Rinkes memiliki otoritas yang lebih tinggi ketimbang “sekadar” pedoman kritik—ia punya nilai politis. Nota Rinkes pada dasarnya adalah sensor, dan dengan demikian tidak membuka diskusi rasional mengenai sebuah karya sebagaimana kritik pada umumnya.[5] Di luar itu, terdapat pula komentar-komentar Tirto Adhi Surjo atas cerita-cerita yang dimuat di Medan Prijaji (1907-1912) atau Putri Hindia (1908-1911),[6] atau kritik atas novel Marco Kartodikromo, Mata Gelap, yang dinilai merendahkan orang Tionghoa dengan digambarkan sebagai lintah darat.[7]

Pada pertengahan tahun 50-an hingga tahun 1965, sastra populer bisa dibagi dalam dua kategori: sastra propaganda dan sastra hiburan. Keduanya adalah populer dalam arti keduanya ditulis dengan bahasa semudah mungkin, tanpa banyak bunga kata, untuk bisa dikonsumsi oleh sebanyak mungkin pembaca. Sastra hiburan dirajai oleh cerita-cerita silat (tahun 50-an) dan cerita detektif, serial western, dan novel saduran (tahun 60-an), sementara sastra propaganda didominasi oleh sastrawan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) dan LKN (Lembaga Kebudayaan Nasional). Persaingan tiga kecenderungan sastra ini cukup sengit. Hal ini bisa dijelaskan, terutama, oleh konfigurasi politik yang dikenal dengan pertentangan realisme sosialis-humanisme universal yang terkenal itu.

Dalam dua kubu politik yang bertentangan, yakni realisme sosialis (RS) dan humanisme universal (HU), tradisi kritik berkembang besat. Makian umum terhadap HU adalah bahwa ia menujurus pada formalisme, pada pengutamaan bentuk yang indah, dan tidak memiliki aspirasi sosial-politik riil dalam melawan represi dst—dalam kata lain, sastrawan HU tidak “militan”.

Makian umum terhadap sastra RS adalah bahwa mereka tidak punya mutu estetis, menggunakan bahasa yang ‘lunak’ supaya bisa dimengerti sebanyak mungkin orang—dan dengan demikian tidak sastrawi—, dan sastra menjadi tunduk pada sesuatu yang lebih ‘profan’, yang ‘kotor’, yakni politik. Dengan dua pilihan yang memusingkan itu, apakah politik atau estetika, sastra hiburan menjadi jalan tengah yang mengasyikkan. Sastra hiburan ini didominasi oleh karya-karya saduran dari judul-judul asing serta roman percintaan yang ditulis pribumi. Tradisi sastra hiburan silat yang banyak ditulis sastrawan Tionghoa tampak punya dunia sendiri, hampir terisolasi dari kubu-kubu yang disebut di atas.

Begitu Orde Baru naik tahta, spesies sastra propaganda punah, menyisakan konfigurasi budaya rendah-budaya tinggi ala Sekolah Frankfurt. Tentu terdapat pengarang-pengarang populer yang punya karya-karya yang bermutu secara estetik. Putu Wijaya, N.H. Dini, Gerson Poyk, atau Yudhistira adalah sejumlah nama yang menulis sastra populer dan diakui mutunya.[8] Yang menarik adalah, hari ini, nama-nama tersebut dianggap—dan dengan demikian “naik pangkat” atau “diakui”—sebagai bagian dari sastra serius.

Kritik sastra berkembang dengan cukup pesat, namun semuanya terpusat pada pengulasan “sastra serius”. Sastra populer pertama kali dilirik oleh kritikus dalam Prisma keluaran tahun 1977. Perhatian yang lebih luas baru muncul pada dekade 80-an.[9] Namun ini bukan berarti bahwa sastra populer diakui sebagai sebuah karya seni dan pembahasan atasnya dilakukan dalam pendekatan estetik, kecuali atas nama-nama sastrawan populer yang “nyerius” di atas. Perhatian yang diberikan pada sastra—dan lebih umum, budaya—populer ini hampir selalu dalam konteks sosiologisnya, dan jarang memberi kajian yang mendalam pada unsur-unsur internal dalam karya spesifik.[10] Nilai yang dikandung oleh sastra populer, dalam benak kritikus sastra, hanyalah karena ia dibaca oleh banyak orang.

Karya sastra populer dibicarakan dalam multiplisitasnya, sebagai kumpulan karya-karya, untuk menemukan ciri-ciri umum yang definitif. Definisi ini pun selalu dalam relasinya dengan sastra serius dan dengan demikian kita tidak bisa memahami sastra populer tanpa adanya sastra serius—bahwa sastra serius lebih esensial ketimbang sastra populer.[11]

Terdapat gairah baru pada akhir 1990-an dan awal 2000-an terhadap sastra populer dengan munculnya kategori-kategori baru: chicklit, teenlit, “sastra wangi”, serta sastra pop-islami (istilah ini dipakai sekenanya untuk menyebut karya-karya yang diproduksi oleh Forum Lingkar Pena serta beberapa penulis yang memiliki gaya yang mirip). Kecuali terhadap sastra wangi yang justru “dibesarkan” kritikus[12], hanya sedikit minat kritikus terhadap penulis-penulis ini. Dari sedikit kritikus yang ada (dengan asumsi memang terjadi krisis kritikus), kerja kritik pun kebanyakan terpaku pada “sastra serius”. Setidaknya itu yang tampak dalam kritik-kritik koran.
Medium kritik pun menjadi hal menarik untuk dilihat. Sejak awal kemunculannya, sebagian besar kritik sastra dimuat dalam media massa.

Pada tahun 20-an, dengan munculnya Pandji Poestaka, kritik sastra mulai dimuat di majalah. Pada tahun 1953 berdiri majalah Kisah, majalah bulanan yang pertama kali secara khusus memuat konten sastra. Majalah tersebut mati pada 1957 dan posisinya digantikan oleh majalah Sastra pada 1961 (dengan jajaran direksi yang sama; Sudjati S.A., H.B. Jassin, dan M. Balfas).

Majalah Sastra, selain memuat karya, juga menampilkan esai dan kritik. Selain itu, terdapat pula Zenith, Mimbar Indonesia, Budaja, atau Siasat. Pada tahun 1966, majalah Horison terbit dan menjadi salah satu otoritas sastra Indonesia hingga tahun-tahun awal 2000-an. Terdapat pula jurnal Basis dan Prisma yang kerap memberi tinjauan terhadap karya sastra secara lebih akademis.

Memasuki milenium baru, majalah-majalah pelan-pelan redup dan akhirnya mati. Horison masih tersengal-sengal, namun semakin kehilangan wibawa.
Medium penyebaran kritik sastra pindah ke koran—harian Kompas yang memiliki “gengsi” paling tinggi di kalangan kritikus. Tentu muncul pula majalah-majalah khusus sastra yang mencoba menghidupkan kembali kejayaan di tahun 70 – 90-an seperti Jurnal Cerpen atau Jurnal Kritik, namun keduanya tidak memiliki persebaran yang luas dan tidak laku di pasaran.

Di luar medium konvensional cetak, internet menghadirkan cara distribusi baru. Pada tahun 90-an muncul laman Cybersastra yang cukup aktif menerbitkan karya maupun kritik. sayangnya laman ini sudah tidak aktif lagi. Posisi laman ini dilanjutkan oleh laman Mediasastra yang, sayangnya, tidak terlalu aktif dalam menerbitkan kritik. Banyak pula penulis pemula yang menulis ulasan, apresiasi, maupun kritik dalam blog pribadi.

Belakangan muncul pula grup-grup di sosial media yang khususkan dalam mendiskusikan sastra koran (di Facebook misalnya, ada grup sastra koran minggu yang mengumpulkan cerpen, puisi, dan esai yang dimuat dalam koran minggu). Medium internet sebenarnya menawarkan kemajuan dalam kritik sastra; ia lebih mudah diakses, tidak terbatas dalam panjang tulisan, memungkinkan lebih banyak kritikus yang muncul, serta memungkinkan diskusi yang lebih intens. Namun, pada nyatanya, tulisan di internet belum punya otoritas sebagaimana cetak.

Banyak kritik sastra dalam laman blog pribadi memiliki masalah dalam hal penulisan dan penyuntingan; dari susunan kalimat yang berantakan, kedodoran dalam hal rujukan, argumentasi yang tidak runtut, kurangnya perspektif kritis, atau bahkan tidak punya ide tulisan sama sekali. Kendala umum dalam laman yang dikelola secara kolektif (seperti Mediasastra dan IndoPROGRESS) adalah dalam hal basis produksi. Sebagian besar penggiatnya adalah relawan yang harus membagi antara kerja “profesional” dengan kerja “pro bono”. Akibatnya, media-media ini keteteran dalam hal menjaga ritme serta kualitas terbitan.

Dengan medium yang lebih luwes ini pun, tidak ada perkembangan yang berarti dalam kritik terhadap sastra populer. Tulisan-tulisan yang bisa kita temui mengenai sastra populer biasanya terbagi dalam dua kubu: mengecamnya sebagai budaya rendahan yang tidak berisi atau membelanya mati-matian dengan bertumpu pada argumen selera. Tentu ada beberapa kritikus yang mampu melihat sastra populer secara—katakanlah—lebih objektif. Katrin Bandel, misalnya, membuktikan bahwa Saman, alih-alih merupakan bagian dari perjuangan feminisme, malah jatuh dalam jebakan falosentrisme.[13] Ia juga pernah mengulas novel Clara Ng, Dimsum Terakhir dan Negeri Perempuan karangan Wisran Hadi dalam hubungannya dengan identitas etnis dalam masyarakat metropolitan.[14]

Kelas dan Kritik Sastra

Kritik yang biasa dilayangkan pada sastra—atau lebih umumnya, budaya—massa hari ini bisa kita lacak hingga kritik Adorno atas semangat Pencerahan.[15]

a.) industri budaya melayani kebutuhan pasar, sehingga nilai estetik dikalahkan oleh hasrat mencari untung,
b.) industri budaya adalah komodifikasi suara hati manusia; ia menghabisi pikiran otonom dan kritis, sehingga manusia jadi tunduk pada tatanan yang sudah mapan,
c.) industri budaya membuat standardisasi budaya dalam norma-norma tertentu sehingga tercipta “keragaman semu” dalam kebudayaan; yang banyak adalah pilihan, namun pilihan-pilihan tersebut pada dasarnya adalah sama, dan dengan demikian, mentalitas manusia juga ikut diseragamkan, dan
d.) manusia, dalam kapitalisme, direduksi menjadi nilai-tukar, ia bernilai sejauh laba bisa ditarik darinya, sehingga segala macam cita-cita Pencerahan bahwa manusia adalah unik menjadi kandas.

Kritik-kritik tersebut bertumpu pada determinasi struktur, yakni asumsi bahwa sistem menentukan segala, bahwa manusia tidak bisa keluar sama sekali dari sistem. Di balik asumsi ini, bersembunyi gagasan bahwa sistem demikian utuh, sempurna, mampu mengatur segala aspek kehidupan manusia dan manusia tak punya pilihan selain menurutinya. Apabila kita mengamini asumsi ini, maka segala harapan akan adanya perubahan akan kandas. Apabila struktur sudah sempurna, maka tesis Francis Fukuyama tentang demokrasi liberal benar, bahwa demokrasi liberal adalah akhir dari sejarah. Apabila struktur sudah sempurna, maka untuk apa ada perubahan di dalamnya—dengan kata lain, mustahil ada perubahan sama sekali.

Kesimpulan semacam ini tidak bisa diterima—dan memang tidak diterima—dalam kesusastraan Indonesia. Masih ada kesusastraan yang tidak menghamba pada logika industri; masih ada kesusastraan yang “idealis”, yang menjunjung tinggi nilai-nilai estetik, yang tetap menjunjung tinggi kemanusiaan dan resisten terhadap status quo. Kita menyebutnya sebagai “sastra serius”.

Namun demikian, jawaban bagi problem yang dimunculkan oleh sastra populer ini justru menciptakan hierarki dalam sastra. Aspirasi Marxian untuk menghapuskan perbedaan kelas-kelas sosial justru ditampik dengan penciptakan kelas-kelas dalam sastra. Kelas-kelas dalam sastra tentu punya basis objektif dalam karya itu sendiri, yakni dalam hal struktur karya, diksi, kelihaian dalam menjaga ritme, tema serta pesan yang ingin disampaikan oleh karya itu sendiri. Karena sastra adalah produk sosial, maka pada hakikatnya kelas-kelas dalam sastra adalah cerminan dari kelas-kelas yang terdapat dalam masyarakat.

Bourdieu dalam Distiction: A Social Critique of the Judgement of Taste (1979) mengajukan bahwa modal (capital) tidak hanya berbentuk penguasaan atas benda-benda material atau alat kerja untuk diakumulasikan. Modal juga mencakup ranah-ranah sosial yang tidak punya nilai tukar secara langsung seperti pendidikan, hubungan sosial, atau keahlian tertentu. Modal, oleh Bourdieu, bisa dirangkum dalam tiga kategori besar, yakni modal ekonomi, modal sosial, dan modal kultural. Akumulasi modal dalam satu ranah bisa membuka akses pada modal pada ranah lainnya.

Apabila seseorang punya cukup modal ekonomi, ia bisa punya akses pada pendidikan, pada pengakuan orang lain, pada karya seni yang lebih tinggi, dst. Seseorang pun bisa mengakumulasi modal kultural (dengan kuliah sastra, menulis karya sastra, dst) untuk bisa mengakumulasi modal kulturalnya dan dipertukarkan dengan modal ekonomi (dengan menjadi dosen sastra, menulis chicklit, dst).

Distingsi sastra populer-sastra serius pun mengandaikan adanya akumulasi modal kultural. Dalam memahami suatu karya, dibutuhkan akses terhadap pengetahuan. Paling sederhana, untuk memahami puisi-puisi Afrizal Malna, kita mesti bisa bahasa Indonesia, memahami tata bahasa Indonesia, dan sedikit mengenal bahasa Inggris—minimal punya kamusnya. Untuk memahami kebaruannya, kita mesti tahu sejarah persajakan Indonesia.

Untuk bisa memahami maknanya, kita mesti memahami konsep subjek, terutama subjek modern yang ia kritik—akan lebih baik lagi kalau kita pernah main genit-genitan dengan pascamodernisme. Segala macam “amunisi” ini tidak kita butuhkan kalau kita membaca—misalnya saja—Cintapuccino. Problemnya, tidak semua orang punya akses terhadap pengetahuan di atas. Dengan demikian, mencibir karya dan pembaca sastra populer adalah satu bentuk penindasan terhadap kelas-kelas yang aksesnya terhadap pengetahuan tidak dimungkinkan.

Tentu ada kebenaran dalam kritik-kritik yang dilayangkan terhadap sastra populer—namun itu hanya terbatas pada segi isi atau pesan yang ia utarakan. Bahwa banyak sastra populer yang hanya bicara soal cinta, dangkal, dan tidak punya kesadaran sosial-politik lebih daripada jargon-jargon moral, itu benar. Namun, ada kebenaran juga yang bisa diambil dari kekurangan-kekurangan sastra populer ini: bahwa sastra populer bicara tentang hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sebagian besar masyarakat kita, dan dengan demikian lebih mudah diterima dan punya pengaruh dalam praksis masyarakat.

Terdapat dua hal yang khas dalam tradisi kritik Marxian. Pertama, kritik harus dilancarkan secara internal, yakni dalam kategori-kategori yang ia kritik itu sendiri. Marx mengkritik kapitalisme mula-mula bukan dengan cara membuat teori-teori, dikotomi-dikotomi baru, melainkan dengan mendasarkan diri pada kategori-kategori pengetahuan tentang kapitalisme itu sendiri, menemukan kontradiksinya, lalu mencari kemungkinan-kemunngkinan perubahan dalam struktur itu sendiri. Kedua, kritik harus diradikalkan dalam bentuk praksis mengubah keadaan yang ia kritik.

Dengan demikian, tugas utama kritik—terutama kritik Marxian—bukanlah terlibat dalam menyuburkan sastra serius. Pena kritik mesti diarahkan pada sastra populer. Bukan sebagai musuh kritikus. Dan kritikus bukan sebagai begawan adiluhung yang mengajarkan seperti apa sastra seharusnya.

Kritikus justru dituntut untuk berbaur dengan sastrawan populer, menteorikan pengetahuan mereka tentang praksis, membantu mereka dalam mengidentifikasikan problem-problem sosial untuk kemudian diartikulasikan dalam bentuk sastra, serta menunjukkan arah-arah kemungkinan perkembangan estetika penulis sastra populer.

Dalam kata lain, menjadi kritikus Marxian adalah menjadi aktivis. Kerja kritik adalah kerja pengorganisasian pengetahuan dan pengorganisasian sosial. Seorang kritikus adalah mereka yang berhadapan dengan pekerja sastra dengan satu seruan: penulis chicklit se-Indonesia, bersatulah!

Daftar Pustaka
Ananta Tur, Pramudya. 1985. Sang Pemula. Jakarta: Hasta Mitra.
Bandel, Katrin. 2013. Sastra Nasionalisme Pascakolonialitas. Jogjakarta: Pustaha Hariara.
Budiman, Hikmat. 2002. Lubang Hitam Kebudayaan. Jakarta: Kanisius.
Dharta, A.S., dan Budi Setiyono (penyunting). 2010. Kepada Seniman Universal, Kumpulan Esai Sastra A.S. Dharta. Ultimus: Bandung.
Foulcher, Keith, dan Tony Day (penyunting). 2002. Clearing A Space: Postcolonial Readings of Modern Indonesian Literature. Leiden: KITLV Press.
Sastrowardoyo, Subagyo (penyunting), 2013. Menjelang Teori dan Kritik Susastra Indonesia yang Relevan. Bandung: CV Angkasa
Sumardjo, Jakob. 1979. Novel Indonesia Mutakhir: Sebuah Kritik. Yogyakarta: Nur Cahaya.
Sumardjo, Jakob. “Sastera Populer dan Pengajaran Sastera”, dalam Basis no. 5, Th. XXXI, Mei 1982.
Farid, Hilmar dan Razif. “Batjaan Liar in the Dutch East Indies: A Colonial Antipode”, dalam Postcolonial Studies, Vol. 11, No. 3, 2008
Adorno, Theodore, dan Max Horkheimer. “Culture Industry: Enlightenment as Mass Deception”, dalam Dialectic of Enlightenment, 1944,
Arief, Yovantra. “Ideologi dan Kritik Sastra: Ketika Politik jadi Panglima, 1902-1965”, di laman https://indoprogress.com/2013/06/ideologi-dan-kritik-sastra-ketika-politik-jadi-panglima-1920-1965/#_edn10

[1] A.S. Dharta, “Ukuran Bagi Kritik Sastra Dewasa Ini”, pidato pada simposium Fakultas Sastra, Jakarta, Januari 1956. Dimuat dalam Budi Setiyono (editor), Kepada Seniman Universal, Kumpulan Esai Sastra A.S. Dharta, 2010, Ultimus: Bandung.
[2] Sumardjo, Jacob, “Sastera Populer dan Pengajaran Sastera”, dalam Basis no. 5, Th. XXXI, Mei 1982.
[3] Hilmar Farid dan Razif, “Batjaan Liar in the Dutch East Indies: A Colonial Antipode”, dalam Postcolonial Studies, Vol. 11, No. 3, 2008
[4] Doris Jedamski, “Popular Literature and Postcolonial Subjectivities: Robinson Crusoe, The Count of Monte Cristo and Sherlock Holmes in Colonial Indonesia”, dalam Clearing A Space: Postcolonial Readings of Modern Indonesian Literature, Keith Foulcher dan Tony Day (eds), Leiden: KITLV Press, 2002, hal. 20-24.
[5] Lihat Yovantra Arief, “Ideologi dan Kritik Sastra: Ketika Politik jadi Panglima, 1902-1965”, di laman https://indoprogress.com/2013/06/ideologi-dan-kritik-sastra-ketika-politik-jadi-panglima-1920-1965/#_edn10
[6] Lihat artikel yang ditulis oleh Tirto Adhi Suryo berjudul “Kekejaman di Banten” yang mengulas novel Max Havelaar dalam Pramudya Ananta Tur, Sang Pemula, 1985, Jakarta:Hasta Mitra, hal. 223, atau ulasan singkat mengenai buku Babu Delima dalam artikel “Oleh-oleh dari Tempat Pembuangan”, dalam Sang Pemula, hal. 245.
[7] Termuat dalam surat kabar Tjhun Tjhiu 84, 1914, hal. 23, sebagaimana dikutip dalam Hilmar Farid, “Batjaan Liar in the Dutch East Indies: A Colonial Antipode”, Postcolonial Studies, Vol. 11, No. 3, 2008, Routledge, hal. 286.
[8] Lihat catatan kaki 4 dalam Farouk, “Novel Indonesia Mutakhir: Menuju Teori yang Relevan”, dalam Subagyo Sastrowardoyo (penyunting), Menjelang Teori dan Kritik Susastra Indonesia yang Relevan, 2013, Bandung : CV Angkasa, hal. 157
[9] Hikmat Budiman, Lubang Hitam Kebudayaan, 2002, Jakarta: Kanisius
[10] Bandingkan dua edisi jurnal Prisma yang telah disebut di atas, dan Novel Populer Indonesia (Jakob Sumardjo, 1982, Yogyakarta: Nur Cahaya),
[11] Lihat misalnya Jakob Sumardjo, Novel Indonesia Mutakhir: Sebuah Kritik, 1979, Yogyakarta: Nur Cahaya. Dalam buku tersebut, Sumardjo memberi perbandingan tentang sastra populer dengan sastra serius dalam hal plot, tema, isi, dan unsur inovasi. Kita digiring pada sebuah opini bahwa sastra populer hanya melayani nafsu menghibur diri semata tanpa isi yang lebih “bergizi” bagi kehidupan manusia; ia hanya membicarakan soal cinta, tidak memiliki ambisi untuk membaharui atau memperkaya khazanah sastra, penokohannya cenderung stereotipikal, penggarapan isunya cenderung cetek, dst. Analisa ini mendasarkan diri bahwa sastra yang baik harus berbobot, harus membicarakan hal-hal yang esensial dalam hidup manusia, harus punya penokohan yang di luar stereotipe, harus punya kebaruan, dst; ciri-ciri yang dilekatkan pada “sastra serius”.
[12] Novel Saman, ketika pertama terbit, mendapat publikasi yang luar biasa di media massa. Kritikus-kritikus ramai memuji novel tersebut. Kompas bahkan mempromosikan Saman tanpa catatan kritis sama sekali. Tentu masih ada yang bersikap kritis terhadap novel tersebut (Katrin Bandel dan Pramoedya Ananta Tur, misalnya), namun suara mereka minor. Segala macam pujian ini membuat kritik menjadi sekadar advertising, hanya bunga kata untuk mendongkrak penjualan Saman. Lihat Lubang Hitam, hal. 157
[13] Katrin Bandel, “Falosentrisme dalam Novel Ayu Utami”, dalam Sastra Nasionalisme Pascakolonialitas, 2013, Jogjakarta: Pustaha Hariara, hal. 167-185
[14] Katrin Bandel, “Etnisitas dan Kota”, dalam Op.cit, hal. 63-79
[15] Lihat Theodore Adorno dan Max Horkheimer, “Culture Industry: Enlightenment as Mass Deception”, dalam Dialectic of Enlightenment, 1944, http://www.marxists.org/reference/archive/adorno/1944/culture-industry.htm

Kamis, 15 Mei 2014

Memang Siapa Goenawan Mohamad?

15 Mei 2014   07:20 | Berric Dondarrion


Terus terang pemilu tahun ini adalah yang paling menarik sepanjang reformasi dan semuanya bermula dari kegelisahan banyak pihak terhadap potensi pencapresan seorang Prabowo. Menurut saya terlepas dari nantinya Prabowo terpilih atau tidak, dia harus bangga sebab begitu banyak operasi intelijen dan strategi-strategi disusun demi menjegal langkahnya termasuk kampanye bertema HAMBURGER yang sebenarnya sudah tidak berhasil namun akan terus diulang dengan harapan repetisi topik yang sama akan mencuci otak masyarakat..

Menjelang detik-detik terakhir pendaftaran koalisi dan pasangan capres-cawapres begitu banyak intrik dan serangan terhadap Poros Gerindra. Anggota koalisi yang tadinya sudah begitu solid terus digoyang sementara aksinya mencari anggota baru seperti dijegal oleh kekuatan tidak terlihat.
Salah satu aksi menggoyang koalisi itu dilakukan oleh salah satu pendiri PAN sejak bernama MARA yang sudah lama tidak aktif, Goenawan Mohamad yang mengeluarkan pernyataan mengundurkan diri dari PAN karena Hatta Rajasa maju bersama Prabowo dan hal tersebut menghianati semangat reformasi sebagai alasan berdirinya PAN.

Mundurnya Goenawan Mohamad memang sengaja dirancang supaya terdengar menghebohkan dan menggemparkan, namun sayang Goenawan Mohamad tidak memiliki kharisma dan nama baik yang cukup untuk membuat orang berpikir PAN kehilangan aset terbaiknya, toh sebagaimana diakui Goenawan Mohamad sendiri, dia sudah lama tidak aktif sehingga sudah lama tidak ikut mengurus kegiatan PAN, sehingga tidak layak bila dia tiba-tiba protes terhadap suatu keputusan yang dibuat PAN yang menurutnya melanggar visi dan misi pendirian PAN. Kemana saja boss?

Lagipula siapa Goenawan Mohamad sehingga dia merasa penting dan layak menjadi polisi moral bagi rakyat Indonesia? Dokumen wikileaks memang menyebutnya sebagai "crusader for press freedom", namun kita tahu bahwa Goenawan Mohamad tidak pernah berani melawan pembredelan rezim Soeharto, setidaknya tahun 1970 sampai 1980akhir.
Apa yang membuat berubah sehingga tahun 1994 seorang Goenawan Mohamad seolah makan nyali macan dan melawan Soeharto?
Karena jaminan perlindungan Benny Moerdani yang tersingkir dari Orde Baru dan merupakan teman dekat Fikri Jufri. Selain itu Goenawan Mohamad juga mendapat uang dari Amerika melalui USAid demi melemahkan pemerintahan Indonesia sebesar US 300,000 dan dari uang ini berdirilah lembaga khusus fitnah terhadap Orde Baru bernama Komunitas Utan Kayu, SiaR dan Institut Studi Arus Informasi/ISAI.

Goenawan Mohamad juga memasang beribu topeng di wajahnya dan seolah memiliki kepribadian ganda, sebab di satu sisi dia adalah anggota Manifest Kebudayaan/Manikebu yang melawan Lekra dan komunis; namun di sisi lain ketika Goenawan Mohamad bersitegang dengan Taufik Ismail sesama teman dari Manikebu terkait majalah Horison, dia malah merangkul elemen-elemen ex Lekra seperti Pramoedya Ananta Toer dan melalui ISAI menerbitkan banyak buku apologetika kaum komunis termasuk buku putih berisi fitnahan yang terkenal dari John Rossa berjudul Pretext to Mass Murder yang isinya hanya sekedar mengambil alih teori yang terbukti salah milik Wertheim.

Keranjingannya kepada usaha menutup "kesalahan" kepada komunis menyebabkan Goenawan Mohamad ikut membantu Carmel Budiardjo, ex PKI dan istri Budiardjo yang menyelundupkan senjata untuk pasukan G30S/PKI membuat film The Act of Killing yang disponsori organisasi milik Carmel Budiardjo, Tapol UK, dengan tujuan mendiskriditkan dan menjelek-jelekan nama Indonesia di forum internasional. Sebagai anak didik agen CIA bernama Ivan Kats tampaknya perbuatan semacam ini bukan hal aneh bagi Goenawan Mohamad.

Di kalangan seniman seorang Goenawan Mohamad juga hanya dihormati di Komunitas Salihara dan Komunitas Utan Kayu/KUK yang dibangunnya. Bagi kalangan seniman non Salihara dan KUK melihat Goenawan Mohamad adalah orang yang arogan, congkak dan merasa paling mengerti seni. Tidak jarang Goenawan Mohamad menyebut karya seniman lain dengan sindiran kasar seperti majalah Boemiputra yang dibuat penyair Wowok Hesti Prabowo dan disebut Goenawan Mohamad sebagai tidak lebih dari coret-coretan di toilet. Wah, hebat sekali, hanya tulisan Salihara dan KUK yang karya sastra, lainnya coretan di toilet!

Selain itu ada Saut Situmorang yang mengkritik politik seni hanya untuk KUK dan Salihara ala Goenawan Mohamad seperti terbukti gagal masuknya Wowok Hesti Prabowo, Ahmadun Herfanda dan Radhar Panca, semuanya seniman non Salihara dan KUK sebagai anggota Dewan Kesenian Jakarta tahun 2006 yang dikuasai sepenuhnya oleh orang-orangnya Goenawan Mohamad seperti Marco K, Ayu Utami, Nukila Amal dll (sama seperti AJI dibentuk dan kemudian dikuasai orangnya Goenawan Mohamad dan Tempo).

Selanjutnya Saut Situmorang juga mengkritik acara internasional yang diadakan KUK tema "Temu Sastra Internasional" di Taman Budaya Surakarta, Solo namun tidak ada satupun sastrawan lokal dari Solo yang dilibatkan untuk ikut di acara tersebut. Sebagai wujud protes, Saut membuat petisi yang ditanda tangani seniman lokal dan membagi-bagikan kepada peserta acara, yang dibalas oleh Goenawan Mohamad melalui mesin politiknya, Tempo yang kemudian menerbitkan berita mengenai tindakan Saut dan seniman lokal Solo sebagai cemburu dan iri hati karena tidak diundang tanpa mewawancarai Saut dan satu-satunya narasumber adalah Goenawan Mohamad sendiri. Luar biasa!

Kritik-kritikan terhadap Goenawan Mohamad masih banyak lagi, termasuk pembelaan Tempo terhadap kasus pemerkosaan yang dihadapi petinggi Salihara, Sitok Srengenge dengan menurunkan berita seolah pemerkosaan terjadi suka sama suka; menurunkan berita tidak benar bahwa MUI menerima suap dari Australia untuk sertifikat halal; dan menempatkan mantan Presiden Soeharto sebagai Yesus, Tuhan umat Kristen dalam cover edisi meninggalnya mantan Presiden Soeharto dan lain sebagainya.

Jadi menjawab judul pertanyaan ini, Memang Siapa Goenawan Mohamad? Anda sudah bisa menjawab sendiri.

Sumber: Kompasiana 

Selasa, 04 Maret 2014

Mundo Nuevo: Jejak CCF di Amerika Latin


Selasa, 04 Maret 2014


Belakangan ini, para budayawan sepuh Indonesia sedang ramai dimintai pertanggungjawaban sejarah oleh generasi muda mengenai “peran” mereka dalam tragedi 1965. “Peran” yang dimaksud di sini secara khusus merujuk pada keterlibatan mereka dalam proyek-proyek kebudayaan antikomunis yang disokong oleh Congress for Cultural Freedom (CCF), sebuah operasi terselubung (covert action) Central Intelligence Agency (CIA) Amerika Serikat. CCF adalah tangan penggerak operasi global AS di bidang kebudayaan untuk meluaskan dominasi ekonomi-politik liberal mereka.

Bahwa CCF adalah operasi CIA bukanlah isapan jempol belaka. Fakta ini sudah dibongkar jauh-jauh hari sejak April 1966; pertama oleh reportase Tom Wicker di New York Times, dan kedua oleh reportase majalah Ramparts melalui redakturnya, Warren Hinckle. Barangsiapa menyangsikan “kualitas” reportase-reportase tersebut, perlu dicatat bahwa Ramparts dianugerahi George Polk Memorial Award for Excellence in Journalism atas kerja investigatifnya itu. Berpuluh tahun kemudian, dengan meneliti arsip-arsip yang telah dideklasifikasi, Frances Stonor Saunders merinci keterkaitan CIA-CCF dalam buku Who Paid the Piper? CIA and the Cultural Cold War (1999).

Mengutip kalimat pembukaan Saunders dalam bukunya: “Selama puncak Perang Dingin, pemerintah AS menyediakan sumber daya yang sangat besar untuk program rahasia propaganda kebudayaan [...] Program ini dikelola dengan sangat rahasia oleh tangan spionase Amerika, CIA. Di pusat aksi ini terdapat Congress for Cultural Freedom yang dijalankan oleh agen CIA Michael Josselson [...] Semasa puncaknya, Congress for Cultural Freedom punya kantor di 35 negara, mempekerjakan lusinan personil, menerbitkan lebih dari 20 majalah bergengsi, menggelar pameran-pameran seni rupa, memiliki layanan kantor berita, menyelenggarakan konferensi-konferensi internasional papan atas, dan menganugerahi para musisi dan seniman dengan penghargaan-penghargaan dan pertunjukan publik.” Tujuannya: “Menjauhkan kaum intelegensia dari Marxisme menuju pandangan yang lebih akomodatif terhadap ‘cara Amerika’.”[1]

Fakta-fakta inilah, yang meskipun sudah diketahui umum, rupanya tetap tak hendak diakui oleh para penulis dan intelektual Indonesia yang terlibat. Operator CCF untuk Asia, Ivan Kats, yang menjalin hubungan dekat dengan para intelektual Indonesia untuk menggarap kerja CCF di sini, dibela oleh Goenawan Mohamad dengan dibilang “tak tahu” soal hubungan CCF dengan CIA dan “terkejut” saat membaca laporan New York Times karena “tak menyangka”.[2] Almarhum Mochtar Lubis menyangkal keras kaitan itu, sementara Taufiq Ismail mengaku “tertegun” setelah mengetahuinya.[3]

Para pembela mereka juga kerap mengungkapkan dalih yang kira-kira berbunyi demikian, "CIA kan bukan intel Melayu. Kerjanya sangat rapi. Operasinya sajacovert action. Maka sangat wajar dan bisa dimaklumi kalau orang-orang CCF maupun para penulis yang bekerjasama dengan mereka tidak tahu menahu bahwa mereka bekerjasama dengan CIA."

Argumen itu mungkin betul. Tapi yang jadi masalah di sini: adakah tindakan etis yang dilakukan oleh para penulis  dan budayawan itu setelah fakta keterkaitan CCF-CIA dibongkar oleh reportase New York Times dan Rampartspada 1966? Kita bisa menengok ke Amerika Latin untuk mencari pembandingnya.

Jelas, di mata AS saat itu, Amerika Latin sebagaimana Asia Tenggara adalah wilayah prioritas yang harus disterilkan dari pengaruh komunis. AS punya banyak alasan untuk merasa waswas. Tahun Baru 1959 dibuka dengan kaburnya diktator boneka AS dari Kuba, Fulgencio Batista, akibat ditumbangkan oleh pasukan gerilya Fidel Castro. Revolusi Kuba dan kemenangan Castro punya dampak luar biasa pada kesadaran geo-politik subbenua itu. Negara-negara Amerika Selatan mulai melihat dirinya sebagai satu kesatuan politik yang mengalami rute historis serupa dan tumbuhlah rasa sebagai “satu Amerika Latin.” Dari pengalaman gerilya itu pula Che Guevara menuliskan teorinya yang terkenal, teori foco, yaitu bahwa garda depan pasukan bersenjata bisa menyulut gerakan-gerakan revolusioner sejenis di sepenjuru Amerika Latin.

Untuk menangkal pengaruh Revolusi Kuba (dan dengan demikian ide-ide Marxis) di bidang pemikiran dan kebudayaan, sekretariat CCF di Paris merasa perlu menerbitkan sebuah majalah baru untuk menggantikan majalah CCF di Amerika Latin sebelumnya, Cuadernos del Congreso por la Libertad de la Cultura (disingkat Cuadernos). Cuadernos terbit triwulanan sejak Maret 1953 dan sukses membangun jaringan di beberapa negara dari Cile hingga Uruguay.[4] Namun pasca Revolusi Kuba 1959, Cuadernos dirasa sudah terlampau kuno. Kalangan pembacanya terpusat pada generasi yang menggelorakan semangat Republikan dalam Perang Saudara Spanyol, dan tidak mampu masuk ke segmen pembaca lebih muda yang menjadikan Revolusi Kuba sebagai kiblatnya. Pada 1963 Cuadernos disudahi, dan dari kantor CCF yang sama di Paris digodok sebuah majalah baru bernama Mundo Nuevo (Dunia Baru).

Di bawah keredaksian Emir Rodríguez Monegal, kritikus sastra asal Uruguay yang bisa kita sebut sebagai “Ivan Katsnya Amerika Latin”, Mundo Nuevodibuat menjadi lebih “sastrawi” dibanding Cuadernos. Dengan semboyan “una revista de diálogo” (atau “majalah dialog”), ia juga menyatakan diri “apolitis” atau tidak memihak satu pandangan politik tertentu. Klaim ketidakberpihakan ini terasa janggal menurut kritikus Jean Franco, karena jelas-jelas “Mundo Nuevo dimaksudkan untuk menandingi pengaruh Revolusi Kuba pada imajinasi para penulis muda serta pengaruh jurnal kebudayaan Kuba Casa de las Américas [yang] merayakan perjuangan pembebasan negara-negara Dunia Ketiga, gerakan Black Power di AS, perjuangan gerilya, dan tradisi anti-imperialisme Amerika Latin.” [5]

Di sini kita bisa melihat jelas perbedaan ideologis Mundo Nuevo di bawah Rodríguez Monegal dengan Casa de las Américas di bawah kepemimpinanHaydée Santamaría. Apabila Casa de las Américas berusaha membentuk “geografi kultural baru” dengan menempatkan Amerika Latin dalam konteks perjuangan pembebasan nasional negara-negara Dunia Ketiga, Mundo Nuevoberusaha menempatkan Amerika Latin ke dalam “akar universal”-nya di Eropa.Mirip sekali dengan proyek “humanisme universal” di Indonesia dengan klaim universalisme dan ketidakberpihakannya. Apabila Haydée Santamaría mengkritik para penulis Amerika Latin yang tinggal di Eropa, Rodríguez Monegal justru mengklaim bahwa para penulis besar Amerika Latin adalah yang tinggal di luar negeri. Perbedaan cara pandang ini juga kentara jelas saat dua jurnal yang mereka kelola membahas topik yang sama, misalnya peringatan 100 tahun kelahiran penyair Nikaragua Ruben Darío. Apabila Mundo Nuevomenempatkan pencapaian Darío dalam jajaran modernisme tinggi, setara dengan para penyair Eropa seperti Stéphane Mallarmé atau Rainer Maria Rilke,Casa de las Américas melihat Darío sebagai prototipe gerilyawan Kuba yang siap menghadapi imperialisme AS.[6]

Atas prinsip itu jugalah (“menempatkan kebudayaan Amerika Latin dalam konteks yang internasional sekaligus aktual,” sebagaimana disebutkan dalam editorial edisi perdananya), Mundo Nuevo memilih berkantor pusat di Paris. Tentunya ada juga kebutuhan praktis terkait pembiayaan dari CCF yang bermarkas di kota yang sama[7] serta koordinasi dengan jurnal-jurnal lain terbitan CCF. Mundo Nuevo dicetak 5.000-6.000 eks dan diedarkan di seluruh negara Amerika Latin serta sedikit di AS dan Eropa. Tak pelak lagi ia adalah bagian dari apa yang oleh Sekretaris Eksekutif CCF sekaligus agen CIA Michael Josselson disebut sebagai “grande famille (keluarga besar) majalah-majalah antikomunis.” Artikel-artikel Mundo Nuevo diterjemahkan dan dimuat di pelbagai jurnal terbitan CCF lainnya, sebagaimana Mundo Nuevo juga berhak menerbitkan terjemahan artikel-artikel dari “keluarga besar majalah antikomunis” lainnya yang dibiayai CCF.[8]

Dengan misinya yang kosmopolit dan kontemporer, serta peluang untuk diterjemahkan ke bahasa-bahasa selain Spanyol, Rodríguez Monegal berhasil menarik banyak penulis Amerika Latin dari pelbagai kecondongan politik untuk bekerja sama atau mengirimkan karyanya ke Mundo Nuevo. Tersebutlah nama-nama yang sedang naik daun seperti Carlos Fuentes, José Donoso, Augusto Roa Bastos, Guillermo Cabrera Infante, Octavio Paz, Gustavo Sainz, Gabriel García Márquez, Mario Vargas Llosa, dan Julio Cortázar—nama-nama yang nantinya menjadi nama-nama besar dan mendunia dalam apa yang disebut sebagai“boom” sastra Amerika Latin. Maka dalam satu hal, Mundo Nuevo punya peran “mempromosikan” terlebih dahulu para penulis ini kepada pembaca Eropa sebelum “boom” sastra sungguh-sungguh terjadi.[9] Petikan karya-karya yang kini menjadi “kanon” sastra Amerika Latin era boom terlebih dulu terbit diMundo Nuevo sebelum terbit utuh sebagai novel (misalnya potongan Cien años de soledad karya García Márquez, Cambio de piel karya Carlos Fuentes, danTres tristes tigres karya Guillermo Cabrera Infante). Rodríguez Monegal bahkan mengajak García Márquez menjadi kontributor tetap Mundo Nuevodengan tawaran upah AS$400 sebulan.

Mundo Nuevo (kiri) edisi No. 2, Agustus 1966, dan Casa de las Américas (kanan) edisi Th VI No. 39, November-Desember 1966. Pada nomor Mundo Nuevo yang ini, petikan mahakarya Cien años de soledad García Márquez pertama kali dipublikasikan.

Sebelum García Márquez sempat memberi jawaban atas tawaran itu, kehebohan keburu pecah akibat terbitnya reportase The New York Times dan Ramparts. Artikel-artikel di kedua media itu diterjemahkan ke bahasa Spanyol dan dicetak ulang di koran Uruguay Marcha serta Casa de las Américas, musuh bebuyutanMundo Nuevo. Sebagian di antara para penulis di atas mengambil sikap melancarkan kecaman terbuka atas akal-akalan Mundo Nuevo. Perlu dicatat di sini bahwa Mario Vargas Llosa dan Julio Cortázar sejak awal bersikap skeptis terhadap proyek ini dan paling enggan berkontribusi. Sedangkan Cabrera Infrante tak merasa bermasalah dengan afiliasi CIA karena ia sendiri bentrok dengan rezim Castro dan memutuskan eksil dari Kuba. Sementara bagi para penulis yang secara jelas menyatakan haluan politik kirinya, seperti García Márquez yang berteman karib dengan Fidel Castro, dikuaknya fakta ini benar-benar membuatnya merasa “dikadali” (“cornudos”). Ia dan Roa Bastos menyesali kontribusinya dan menyatakan takkan pernah berhubungan lagi dengan Mundo Nuevo, sebagaimana terbaca dari suratnya kepada Rodríguez Monegal:

“Percayalah bahwa saya tidak punya syak wasangka terhadap mata-mata di dunia nyata. Saat Anda mengajak saya bekerja di Mundo Nuevo, banyak kawan yang selera humor politiknya lebih rendah dari saya mengingatkan tentang kecurigaan umum bahwa CCF menjalin hubungan luar nikah dengan CIA Amerika Serikat [...] Singkat kata, saya yakin cerita soal mata-mata ini tak terlukiskan selama kita semua dengan jujur tahu permainan apa yang tengah kita mainkan. Tapi sekarang sepertinya CCF sendiri tidak tahu permainan mereka, dan dengan keterlaluan ini sudah melewati batas-batas humor dan memasuki ranah sastra fantasi yang tak terduga dan menggelincirkan. Atas situasi ini, Tuan Direktur, tentu tidak mengejutkan apabila Anda yang paling pertama paham bahwa saya tidak akan bekerjasama lagi dengan Mundo Nuevo, yang telah menutup-nutupi kaitannya dengan organisasi yang telah membawa saya dan banyak kawan lain ke dalam situasi dikadali ini.”[10]

Rodríguez Monegal sendiri membantah kaitan dengan CIA tersebut dan tetap bersikeras menyatakan Mundo Nuevo independen. Dalam penjelasannya kepada pembaca di edisi Mei 1967, ia tekankan bahwa Mundo Nuevo “bukanlah organ pemerintahan atau partai manapun, kelompok atau sekte apapun, kecondongan religius atau politik apapun, melainkan sebuah jurnal yang disunting semata-mata seturut keputusan redakturnya yang merupakan satu-satunya pihak yang bertanggungjawab dalam memilih materi yang diterbitkan.”[11]

Mungkinkah Rodríguez Monegal sebenarnya juga tidak tahu kaitan CCF-CIA sebagaimana Ivan Kats dibilang tidak tahu? Beberapa bukti menyatakan sebaliknya, terutama surat-surat Rodríguez Monegal sendiri ke para petinggi CCF termasuk Michael Josselson, Pierre Emmanuel, dan Shepard Stone pasca pecahnya skandal. Dalam surat-suratnya ke Josselson dan Stone, Rodríguez Monegal mendesak agar skema pembiayaan Mundo Nuevo diambil alih oleh Ford Foundation dan agar Ford Foundation menyebarluaskan pernyataan pers bahwa Mundo Nuevo memang telah didanainya sejak awal.[12] Rodríguez Monegal berharap pernyataan pers ini bisa membantah kaitan antara jurnalnya dengan CCF-CIA. Ia berharap bisa mengubah karangan ini menjadi kenyataan!“Il faudra convertir cette fiction en réalité,” demikian tulisnya dalam surat kepada Pierre Emmanuel di CCF (Emmanuel ini seorang penyair Perancis dan pengurus CCF yang –kebetulan—sempat diperkenalkan kepada Goenawan Mohamad oleh Ivan Kats di kantor CCF, Paris, meski konon tak lebih dari 30 menit).[13]

Permohonan Rodríguez Monegal dikabulkan: Ford Fundation mengambil alih skema pembiayaan Mundo Nuevo, tapi tanpa pernyataan pers yang diharap-harapkannya itu. Pada 1968 Rodríguez Monegal mengundurkan diri sebagai pemimpin redaksi Mundo Nuevo dan hingga wafatnya terus bersikeras bahwa jurnalnya hanya pernah didanai oleh Ford Foundation dan tak pernah oleh CCF. Kantor Mundo Nuevo dipindah ke Buenos Aires dan arah jurnal itu bergeser lebih ke ilmu sosial daripada sastra. Kualitasnya secara umum jauh menurun akibat sedikitnya penulis yang masih mau menjadi kontributornya. Ford Foundation memberi tenggat pembiayaan sampai tahun 1971 dan mengharapkan Mundo Nuevo bisa mandiri secara finansial sesudahnya. Karena tidak sanggup, akhirnya majalah itu pun tutup pada tahun tersebut.

Dari sini kita bisa melihat, para budayawan sepuh Indonesia ternyata juga memilih cara Rodríguez Monegal untuk terus membantah kaitan antara CCF-CIA dengan proyek-proyek kebudayaan yang mereka lakukan sekitar 1965 dan sesudahnya, sekalipun bukti-bukti menyatakan sebaliknya. Pasca skandal terkuak, agen-agen CIA di dalam CCF mundur. CCF dibubarkan dan berganti nama menjadi International Association for Cultural Freedom (ICAF), tapi proyek ICAF berjalan terus. Tak satu pun dari budayawan tadi yang melakukan kecaman publik atas kerja CCF di Indonesia, tapi juga tak ada satu pun yang berani berterus terang menyatakan persetujuan –sebagaimana Cabrera Infante—atas keterlibatan CIA dalam ketegangan politik di Indonesia masa-masa itu. Yang ada hanya penyangkalan. Dan ini lagi-lagi menguatkan sinyalemen Frances Stonor Saunders bahwa kerja propaganda budaya ini memang harus menyangkal keberadaannya sendiri (“a central feature of this programme was to advance the claim that it did not exist.”)[14] Maka janganlah terlalu berharap akan adanya pertanggungjawaban sejarah dalam waktu dekat, karena memang sepertinya sudah menjadi “tugas” sang budayawan untuk terus menyangkalnya.



[1] Francis Stonor Saunders, Who Paid the Piper? CIA and the Cultural Cold War (London: Granta, 1999), hlm. 1.
[2] Goenawan Mohamad, “Jawaban untuk Martin: Bagian Pertama,” 10 Desember 2013.
[3] Wijaya Herlambang, Kekerasan Budaya Pasca 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Sastra dan Film (Tangerang Selatan: Marjin Kiri, 2013), hlm. 92.
[5] Jean Franco, The Decline and Fall of the Lettered City: Latin America in the Cold War(Cambridge, Mass.: Harvard University Press, 2002), hlm. 45. Buku yang mengupas secara mendalam Mundo Nuevo sebagai kepanjangan tangan politik kebudayaan CCF dan imperialisme AS adalah karya María Eugenia Mudrovcic, Mundo Nuevo: Cultura y Guerra Fría en la década del 60 (Buenos Aires: Beatriz Viterbo, 1997).
[6] Lihat Russell St. Clair Cobb, “Our Men in Paris? Mundo Nuevo, the Cuban Revolution, and the Politics of Cultural Freedom,” disertasi di University of Texas, Austin, Agustus 2007, hlm. 3-4.
[7] Mundo Nuevo dikelola di bawah manajemen Instituto Latinoamericano de Relaciones Internacionales (ILARI), yang juga menerbitkan tiga majalah lainnya yakni AportesCadernos Brasileiros, dan Temas. Pada 1966 ILARI menerima dana AS$260.000 dari CCF, dan anggaran terbesarnya (sejumlah AS$80.000) diperuntukkan buat Mundo Nuevo. ILARI sendiri didirikan langsung oleh Michael Josselson sebagai organisasi proxy dengan akta legal organisasi di Swiss. ILARI kemudian mewarisi semua kantor, peralatan, dan personalia CCF di Argentina, Brasil, Cile, Peru, Uruguay, membuka kantor-kantor baru di Paraguay dan Bolivia, serta menutup kantor yang sudah ada di Meksiko dan Kolombia. Lihat Mudrovcic, op.cit., hlm. 25.
[8] Cobb, op. cit., hlm. 28.
[9] Dalam memoarnya mengenai masa-masa ini, José Donoso menyebut Mundo Nuevo-lah yang paling bertanggungjawab atas “boom” sastra Amerika Latin (“boom” di sini berarti lonjakan karya sastra Amerika Latin yang diterjemahkan dan diterbitkan di luar negeri). Lihat José Donoso,Historia personal del “boom” (Barcelona: Editorial Anagrama, 1972).
[10] Surat Gabriel García Márquez kepada Emir Rodríguez Monegal, tanggal 24 Mei 1967. Dari arsip surat-surat Emir Rodríguez Monegal yang dikoleksi Princeton University. Kotak 7, Map 12. Dikutip dari Cobb, op.cit., hlm. 161-163.
[11] “Al lector,” Mundo Nuevo 11, Mei 1967, hlm. 4.
[12] Surat-surat ini disimpan dalam arsip CCF-IACF, koleksi khusus University of Chicago. Dikutip dari Cobb, op. cit., hlm. 13. Riset lebih lanjut tentang peran CCF dan International Association for Cultural Freedom (IACF) di Indonesia saya kira harus dilanjutkan dengan meneliti koleksi ini.
[13] Surat Rodríguez Monegal kepada Pierre Emmanuel, dikutip dari Russell Cobb, “The Politics of Literary Prestige: Promoting the Latin American ‘Boom’ in the Pages of Mundo Nuevo,” A Contracorriente Vol. 5 No. 3, musim semi 2008, hlm. 86. Tentang perkenalan Pierre Emmanuel-Goenawan Mohamad, baca Mohamad, op.cit.
[14] Saunders, op. cit., hlm. 1.

Sumber: Sastra Alibi 

Kamis, 02 Januari 2014

Buku, Polemik dan Gosip Dunia Perbukuan 2013

Irwan Bajang*



Catatan Ganti Tahun:

MENJELANG akhir tahun 2012 saya mendapat kabar baik dari banyak teman di dunia perbukuan. Akan banyak buku bagus terbit di tahun 2013. Faktanya memang begitu. 2013 bagi saya secara pribadi adalah tahun di mana buku tak pernah seramai dan semeriah ini dirayakan.

Bertaburannya buku dan animo penulis yang melonjak bisa dibuktikan dengan mendatangi toko buku dan selalu ada buku yang baru. Facebook, twitter , blog dan portal-portal tulis-menulis diriuhkan dengan buku-buku dari penulis yang baru saja rilis. Ajang lomba penulisan dipenuhi oleh penulis baru. Ramai. Ramai sekali. Sepanjang tahun. Seperti ramainya poster-poster politisi yang ngebet ingin sekali diperhatikan di seluruh ruas jalan Indonesia. Tanpa terkecuali.

Banyak buku bagus terbit, meskipun beberapa gosip yang saya tunggu realisasinya tak kunjung juga terbukti. Eka Kurniawan konon akan menerbitkan buku tahun 2013. Tapi toh akhirnya cuma konon. Puthut EA kabarnya juga akan menerbitkan buku fiksi lagi, entah novel atau kumpulan cerpen, tapi nihil. Beberapa buku Puthut yang terbit adalah buku nonfiksi. Kabar yang baik. Tapi sesungguhnya saya menunggu fiksinya. Cerpen-cerpennya sudah lama saya tunggu. Eka Kurniawan berhenti dari riuh sosial media dengan menonaktifkan akun-akunnya.
Saya kira akan ada buku yang terbit, tapi nyatanya belum juga. Buku ketiga trilogi Sepatu Dahlan konon juga akan terbit, tapi nyatanya belum.
Beberapa penulis muda yang saya sukai karyanya juga berencana seperti itu, tapi akhirnya kandas atas nama revisi, rasa malas dan hal-hal lain yang tak terjelaskan.

Riuhnya buku di tahun 2013 akan saya coba rangkum dalam tulisan ini. Bukan hanya buku yang terbit, tapi beberapa hal yang melingkupi dunia perbukuan. Isu, gosip dan beberapa polemik buku.

Sebelumnya, saya ingin melakukan konfirmasi awal: Bahwa tentu saya tak bisa menulis semua buku yang penting dan tidak penting di tahun 2013. Beberapa catatan di bawah ini hanyalah catatan pribadi dari buku-buku yang saya ikuti. Data buku yang tampil juga hanya buku yang saya baca. Saya tak mau menambahkan buku yang masih saya raba-raba. (Pengecualian untuk beberapa buku yang belum saya baca akan saya berikan keterangan.) Demikian.

Buku-Buku yang Merah dan Marah

·      Edisi 5 Tahun bemipoetra 

Tahun buku 2013 yang panas ditandai dengan munculnya terbitan Edisi Lengkap 5 Tahun Jurnal Sastra boemipoetra. Buku ini menjadi genderang baru lagi perang lama yang nyaris tidak pernah antiklimaks. Sejak 2007, bahkan sebelumnya, boemipoetra melakukan serangan terhadap Salihara. Komunitas yang berbeda dan dianggap menjadi pusat kanonisasi sastra terbesar yang harus dihancurkan dominasinya.

Sebelum dirilis menjadi edisi lengkap selama lima tahun, boemipotera awalnya adalah sebuah jurnal sastra. Jangan mengharapkan jurnal yang sopan-santun seperti jurnal terbitan Balai Bahasa atau keluaran Fakultas Ilmu Budaya. Jangan. Gaya tulis redaktur jurnal ini tentu sangat berbeda. Dalam sebuah ulasan, Muhidin M Dahlan, kerani Indonesia Buku, membandingkan jurnal sastra ini dengan tulisan-tulisan Tirto Adhi Soerjo yang menyebabkan ia disandera hingga tak berkutik pada 1913. Mas Marco Kartodikromo, jurnalis didikannya mendirikan Indlandsche Journalisten Bond (IJB), 1914. Goentoer Bergerak dan kemudian Doenia Bergerak dengan menggunakan bahasa melayu pasar, meledak-ledak, dan bahkan urakan. Kata ‘kowe,’ ‘pantat’ tanpa ragu dipakai memaki Priyayi Jawa. Muhidin menyebt boemipoetra sebagai titisan tradisi pembangkangan yang pernah dilakukan Marco, bocah tengil punk dari golongan nonpriyayi.

Dibandingkan dengan jurnalisme yang menjadi nenek moyangnya, boemipotra tampil dengan cara yang tak berbeda. Taburan makian seperti ‘monyet,’ ‘sampah,’ ‘penjahat’ dan kata sejeninya tercecer hampir di semua badan jurnal, terutama catatan editorial yang mencerminkan ke mana ideologi para penggeraknya diarahkan.

Ilustrasinya tak kalah gahar. Beberapa kali ilustrasinya menghadirkan sosok Goenawan Mohamad (GM) yang menjadi fokus serangan. Selain membuat akronim GM sebagai Gundul Moyet, Salihara menjadi Salaharah, foto GM ditampilkan juga dengan ilustrasi ‘monyet,’ foto Kebo untuk SBY dan ilustrasi lain khas gaya pamflet. Sejajar dengan zine-zine punk, ciri dan identifikasi diri telah berhasil dilakukan boemipoetra. Tapi tentu bukan hanya makian dan ejekan kasar yang ditampilkan, beberapa esai/kritis mendalam ditulis dengan memenuhi syarat ilmiah penulisan kritik sastra.

Sejatinya, bundel boemiputra terbit di ujung tahun 2012, namun distribusi dan diskusi buku baru dimulai di awal tahun berikutnya. Semoga saya tak salah jika harus menjadikannya buku ini sebagai buku pembuka dan buku yang ramai dibicarakan di tahun 2013.

Menanggapi buku ini, Goenawan Mohammad yang diserang seperti biasa selalu anteng dan tak merespons, malah sempat membuat twit yang saya yakin diarahkan ke Saut Situmorang, salah satu redaktur boemipotera yang getol membuntuti GM di dunia maya.

Percuma meladeni, buang-buang waktu saja,’ tulis Gunawan di salah satu kicauan mayanya. GM sepertinya sedang mencari aman seperti sejak awal. Namun kasus panas akhir tahun yang menimpa Sitok Srengenge, seorang kurator Salihara, membuat banyak sekali serangan baru—baik yang sejenis dan seideologi dengan boemipoetra atau dengan kepentingan lain—memiliki celah baru untuk melakukan serangan.

Di senjakala usianya, GM tampak tetap ingin tampil jumawa dan tenang. Saya sepakat dengan Puthut EA di sebuah tulisannya berjudul Catatan Samping yang membuat pengandaian GM dengan Soeharto. ‘Semua bisa dilakukan oleh para pakar strategi yang hebat seperti Suharto dan Pak Goen. Musuh mereka hanya satu: waktu.’ Tulis Puthut.

Kekerasan Politik Budaya 1965

Martin Suryajaya kembali tampil dan membuat geger. Anak kecil—jika dibandingkan dengan GM mungkin terpaut empat sampai lima dekade—ini meresensi buku Kekerasan Budaya Pasca 1965 karya Wijaya Herlambang (November 2013). Martin menghadirkan beberapa fakta baru. GM dituding menjadi agen CIA, padahal sebelumnya oleh boemipotra, GM sendiri dituding sebagai antek imperialis Amerika dan merusak budaya Indonesia.

Martin menampilkan beberapa arsip memo Ivan Kats yang menunjukkan kedekatannya dengan GM. Nasib Martin lebih baik, wacana dan diskursus yang ingin ia bangun tak bertepuk sebelah tangan. Tak seperti boemipetra yang dicuekin, GM menjanjikan menulis tiga seri jawaban untuk satu catatan Martin.

Tanggal 10 Desember GM menulis di blognya. Balasan pertama berisi memoar dan perkenalan. Tulisan GM ini menurut saya penting, setidaknya sebagai pembuka secara kronologis dan bagaimana GM nanti akan menguraikan dan menjelaskan memo anjuran buku apa saja yang diusahakan terjemah dan terbit di Indonesia, seperti yang diurai Martin.
Selain itu, penting bagi GM untuk menjawab seberapa jauh keterlibatannya dengan Ivan Kats. Situs indoprogress yang memfasilitasi diskusi itu bahkan jebol karena overbandwidth. Hal ini menandakan bahwa respons pembaca sangat besar dan perdebatan ini menyita perhatian publik secara serius.

Dua jawaban yang dinantikan banyak pembaca tak kunjung muncul. Sampai tulisan ini saya tulis di ujung tahun, GM belum menambahkan apapun. Mungkin GM punya PR menyelesaikan beberapa perkerjaan, terutama menulis Caping rutin seperti biasa.

Dalam buku ini, Wijaya mempublikasi penelitiannya sekaligus mengabsen beberapa budayawan yang dibayar dan didanai untuk mengawal kekerasan secara kultural terhadap komunisme pasca tragedi berdarah 1965. Menurut Wijaya, Goenawan Mohamad, Mochtar Lubis, Taufiq Ismail dan beberapa nama lain punya kaitan kuat dengan agen CIA bernama Ivan Kats. Buku yang tadinya adalah tesis doktoral Wijaya Herlambang ini setidaknya memberi catatan penting bahwa beberapa desas-desus tentang agen CIA yang banyak dibicarakan berhasil ia buktikan lewat penelitian ilmiah.

·      Sastra Nasionalisme Pascakolonialitas 

Wijaya Herlambang menerbitkan buku di bulan November. Di penghujung tahun, Katrin Bandel menulis sebuah buku kritik sastra, Sastra Nasionalisme Pascakolonialitas. Respon atas buku Katrin memang belum banyak terlihat. Sebab buku itu sendiri baru saja diedarkan beberapa minggu sebelum Desember berakhir dengan gegap gempita perayaan kembang api pergantian tahun. Tapi dengan terbit di ujung tahun, gaung buku ini akan masih sangat menggema dan berlanjut. Katrin seolah mengeluarkan jurus pamungkas tahun ini. Menutup tahun yang panas dengan memantik diskusi yang lebih panjang lagi di tahun 2014 nanti.
Meskipun mayoritas esai yang terbit di buku Katrin ini sudah terbit di jurnal sastra boemipoetra, tapi dalam pengantarnya Katrin menjelaskan beberapa hal. Ia merevisi banyak data, info dan tulisannya. Buku ini merekam 7 tahun perjalanan baru Katrin Bandel. Sebelumnya, pada tahun 2006, ia telah menerbitkan buku Sastra, Prempuan, Seks. Buku tulisan Katrin ini menarik, sebab ia menulis dengan jernih dan dengan bahasa Indonesia yang sangat baik. Catatan kaki yang lengkap membuat buku kritik sastra ini menjadi buku kritik sastra dengan metode ilmiah yang terpenuhi.

Dalam buku ini, Katrin menulis banyak permasalahan satra di Indonesia, mulai dari ketidaktersediaan ruang apresiasi yang cukup di majalah/jurnal sastra, klaim beberapa pihak tentang karya yang harus dibaca dan tidak dibaca, juga ulasan dan kritik mendalam dari beberapa karya sastra terbaru dan klasik di Indonesia. Sastra Tionghoa, karya terbaru, populer, sampai polemik terjemahan karya Andrea Hirata masuk dalam tulisan-tulisan panjang dalam buku ini.

·      Buku Puisi Jokpin vs Afrizal Malna: Kepayahan Jokpin dan Kebuntuan Afrizal 

Kebingungan pertama saya untuk buku Joko Pinurbo (Jokpin) kali ini adalah susahnya mencari buku ini di toko buku. Ketika sampai di toko buku langganan, sengaja saya tidak memakai komputer pencarian buku yang tersedia. Selain ingin juga mencari judul lain di rak sastra dan puisi, toko buku bagi saya adalah serupa area wisata. Kita bisa menemukan buku-buku tak terduga dan tak terencana sebelumnya. Toko buku sesekali menjadi lokasi wisata yang menyimpan banyak rencana dan kejadian tak terduga. Tapi ternyata saya salah. Buku ini tidak saya temukan di rak sastra. Saya cari di rak budaya, rak buku baru, juga tidak terlihat. Saya menyerah.

Akhirnya saya memakai komputer pencarian yang tersedia. Alhasil, buku ini saya temukan dideretan buku-buku komik, berdekatan dengan buku humor dan buku cerita anak-anak. Jokpin teronggok bersama komik lucu Beni-Mice yang sudah pecah kongsi. Tidak heran, sebab sampulnya yang warna-warni dan judul yang agak ‘alay’ membuat buku ini sekilas bisa saja digolongkan dengan buku-buku semacam ini. Buku saya beli dan saya bawa pulang. Tak sabar rasanya membuka segera.

Apa isi buku ini? Membukanya, saya harus menarik napas agak dalam. Panjang dan dalam. Jauh dari ekspektasi yang saya bayangkan sejak awal.

Kesan pertama melanggengkan kesan sampul buku. Kumpulan puisi Jokpin kali ini seperti buku anak-anak yang ditaburi kalimat-kalimat lucu. Atau buku serupa desain buku anak yang dihiasi kalimat bijaksana, atau anggap saja seperti kumpulan kata-kata mutiara. Tentu buku Jokpin isinya bukan kata-kata mutiara. Tapi puisi dalam buku ini diandaikan secara visual oleh sang ilustrator cenderung secara verbal, layaknya ilustrasi untuk buku anak.

Puisi dalam Haduh Aku Di-Follow (Februari 2013) memang segar. Saya tidak bisa tidak untuk mengakui ini. Yang saya sayangkan adalah tipe buku yang cenderung terlihat tergesa-gesa. Jokpin seperti sedang mencuri dan memanfaatkan momentum ledakan sebuah situs jejaring sosial bernama Twitter . Kata-katanya dalam buku masih khas Jokpin, penuh kejutan, satire-satire lucu yang kadang membuat miris dan geli bercampur kesal dalam diri. Tapi eksplorasi Jokpin nyaris tidak ada!

Tadinya saya mengira buku ini akan menyajikan beberapa puisi yang pernah ditwit, lalu akan dikombinasikan, dirangkai ulang, ditambahkan dan dikurangi beberapa kata, lalu disusun lagi menjadi puisi komplit yang panjang. Maksud saya, Jokpin tak hanya berhenti pada kaidah puisi twitter, tapi masih mengacu pada puisi standar yang selama ini dia tulis. Setidaknya puisi gaya Jokpin. Nyatanya, hanya ada puisi-puisi yang panjangnya tak sampai 140 karakter. Itu saja. Tak ada yang lebih.

Awalnya saya kira Jokpin memanfaatkan jejaring sosial twitter untuk menulis kilasan-kilasan ide yang mucul, atau penggalan-penggalan puisi yang tak utuh di kepalanya. Mengetik 140 karakter jelas membutuhkan waktu yang sangat singkat, jauh lebih singkat dari menyusun kalimat-kalimat menuju puisi seperti kebanyakan. Apalagi kalau twit yang dimaksud (baca: puisi) itu dimaksudkan hanya untuk bercanda. Karya ditulis saat itu juga, dipublikasikan dan dijadikan saat itu juga. Jokpin menjulis di twitter lalu mengalihkan puisi pendeknya itu ke medium buku.

Ruang 140 karakter yang bisa jadi hanya syarat mutlak puisi twit ternyata tak berarti apa-apa bagi Jokpin. Ruang twitter hanya menentukan batasan mengetik dan kepadatan kata-kata. Jokpin tak melakukan eksplorasi.

Kita mengenal karya sastra pendek yang telah lahir jauh sebelum era twitter. Haiku atau pantun, adalah contohnya. Haiku dibatasi dengan syarat mutlak, harus tersusun atas 7-5-7 suku kata. Ketika seorang penulis menganggap dirinya menulis Haiku, maka ia tidak bisa keluar dari formulir yang telah disepakati tersebut. Ada syarat mutlak yang tak bisa diubah. Demikian juga dengan Pantun. Pantun harus ditulis bersajak ab-ab. Jika tidak, maka gagallah ia sebagai pantun. Ada juga Soneta, Gurindam, Suluk, Syair dan lain sebagainya. Semua tipe karya sastra tersebut punya syarat masing-masing dan tak bisa diingkari.

Jokpin menerapkan syarat yang terlalu gampang untuk sebuah genre baru puisi twitter yang ia sebut putwit. Tak perlu banyak syarat, ketik dan yes! Terkirim ke khalayak pengikut akun.

Mengamati puisi dalam buku ini, setidaknya saya bisa melihat sedikit keseriusan Jokpin menulis dan menyusun twitnya. Ia melakukannya dengan sadar, sesekali dengan satu tema yang berkelanjutan. Hal ini dibenarkan dengan sebuah petunjuk yang ia beri nama Legenda di awal-awal halaman buku. Juga dengan peta kronologis yang ia susun untuk membantu pembaca melihat jejak-jejak karya yang ia susun. Daftar isi di awal dibuat dengan peta. Puisi bulan Januari dari halaman 1, Februari dari halaman 26, Maret 31 dan seterusnya. Juga daftar isi yang disusun di belakang menjadi indeks dengan tema-tema yang disusun secara sistematis.

Nanang Suryadi, atau Agus Noor, setahu saya, menulis dulu di twitter, lalu merangkai kembali kumpulan twitnya, menambahkan yang penting, menghapus yang tidak penting. Membuang, menambal, menghadirkan kata-kata baru untuk mendukung keutuhan puisinya. Mereka menerbitkannya menjadi buku setelah melalui proses ini. Saya kira Jokpin akan begitu. Nyatanya tidak. Meskipun secara sadar menyusun twitnya, tapi pemindahan twit ke dalam buku tanpa ada perubahan apapun bagi saya adalah sebuah bentuk kemalasan.

Dalam buku ini, saya seperti merasa kehilangan puisi bagus Jokpin. Akan lebih nyaman mengikuti akun twitternya, memilih puisi mana saja yang saya sukai secara acak, menjadikannya favorite atau sesekali meretwit untuk saya sampaikan lagi pada follower yang ingin membacanya. Buat apa memindahkan kumpulan kicauan di dunia maya ke dalam buku? Kalau tak ada hal baru yang ditawarkan, diamkan saja akun twitter itu dan jangan cetak!

Di buku kumpulan puisi twitter nya ini, Jokpin mungkin ingin menunjukkan identitas puisinya yang berbeda dari sebelumnya. Seperti yang ia katakan; ‘saya tidak ingin puisi saya dicap erat dengan celana terus, saya ingin meninggalkan celana. Ketika penyair tak bisa lepas dari cap yang menempel itu, maka penyair mati kreativitasnya. Saya tidak ingin mati’ (Tempo, 7-13 januari 2013).

Namun bagi saya, Jokpin tetap gagal! Puisi dalam buku ini bahkan tidak lepas dari ‘celana’, “Waduh, celanamu tertinggal di dalam sajakku/Sajakku terkunci dan aku tak tahu di mana kuncinya” Tak ada eksplorasi apapun, bahkan tidak ada keseriusan menghadapi abad baru dunia twitter yang hanya 140 karakter. Tidak ada yang istimewa.

Visualisasi yang sangat ramai, bahkan cenderung menjadi sangat pop dengan balutan full colour seolah menegaskan pasar yang sedang dibidik oleh penulis/penerbit buku tersebut. Alih-alih eksplorasi atau ingin melepaskan diri dari cap yang menempel padanya, Jokpin lebih mirip dengan selebtwit baru yang mengumpulkan lalu mencetak kata bijak, jenaka, puisi atau apa saja yang ada di twitnya untuk dijual dengan harapan, siapa tahu follower membeli. Lumayan.

Jika saya diizinkan bisa membalik dan menyelamatkan Jokpin, saya ingin menjadikannya usia 15 tahun dan buku twit-twit ini adalah buku pertamanya! Bukan buku yang lahir setelah era puisi-puisi bagus yang pernah ia tulis. 

Museum Penghancur Dokumen, Afrizal Malna

Lain Jokpin. Lain lagi Afrizal. Ketika menyandingkan atau menulis puisi seperti Afrizal, penyair lain harus menimbang banyak hal. Afrizal menulis puisi dengan cara berbeda baik di generasinya, di generasi sebelumnya atau generasi terkini penyair muda Indonesia. Bukan hanya dalam tema maupun diksi, Afrizal unggul dalam kedalaman dan pilihan hal yang akan dibahas dalam puisinya. Kuatnya Afrizal, bahkan membuat penyair lain yang menulis mirip Afrizal dianggap Afrizalian.

Dalam epilog buku Museum Penghancur Dokumen (April 2013), Afrizal menyatakan ingin mengopipaste berkali kali beberapa kata. Ia tampaknya buntu. Jengah dengan eksplorasinya, atau setidaknya sedang menemukan sebuah titik jenuh keafrizalannya. Afrizal dalam buku ini tampak mencari celah-celah baru untuk keluar dari ruang puisi yang telah ia bangun. Tapi ia kesusahan. Eksperimen puisi dalam bentuk garis, kotak dan beberapa puisi khas Afrizal ia masukkan dalam buku ini menunjukkan ke arah mana Afrizal ingin bergerak bersama puisinya. Afrizal tampaknya sedang gundah. Buntu.

Jokpin punya ciri khas, sama seperti Afrizal, tapi eksplorasi Jokpin dan Afrizal berbeda. Jauh berbeda dan jauh kadar keseriusannya. Buku mereka sama-sama terbit 2013 dan Afrizal berhasil. Jokpin entah. Sebagai penyair yang tekun dan berbeda, menunggu puisi Afrizal akan menjadi momen yang seru bagi saya pribadi.

Kesalahan besar dalam Museum Penghancur Dokumen justru datang dari penerbit buku. Penjilidan buku seperti lem fotokopian harusnya membuat malu sang penerbit yang berada di Jogja. Terlebih ia tidak sedang menggarap buku penyair atau buku puisi yang biasa saja. Kalau kualitas cetak buku ini diterapkan untuk kompilasi penulisan puisi hasil lomba berbayar yang banyak kecurangannya dan dilakukan oleh penerbit abal-abal, saya rasa wajar. Tapi untuk buku ini? Halo Mas Penerbit, Jogja itu gudang buku dan penerbit, kenapa jilid buku Afrizal kayak fotokopian? Jogja akan malu melihatnya!

Di luar dua buku penyair tersebut, ada banyak lagi buku puisi yang terbit.
Penyair senior—maksud saya yang sudah lebih awal menulis puisi—atau penyair baru juga banyak menerbitkan buku. Kopi, Kretek, Cinta, Agus R Sardjono, (Juni 2013); Penyair Midas, Nanang Suryadi (April 2013); Telapak Air, Soni Farid Maulana, (Maret 2013), adalah beberapa bagian dari penyair yang menerbitkan buku puisi di tahun panas 2013.
Penyair baru yang muncul dari dunia baru di luar koran minggu dan majalah sastra, juga ramai-ramai menerbitkan buku. Gampangnya, produksi wacana dalam bentuk buku, dukungan teknologi print on demand dan menjamurnya penyedia layanan jasa menerbitkan buku turut memberi andil fenomena ini.

Sebagian penyair muda yang tekun dan rajin, Adimas Immanuel, Mario Lawi dan beberapa penulis muda tekun lainnya dapat dibilang berhasil dalam bukunya. Sisanya hanya memproduksi buku berisi sampah paradoks antara kemudahan publikasi dan hasrat popularitas yang makin menjangkiti penulis muda. Demam selebtwit menerbitkan buku dan menganggap follower mereka adalah pasar potensial bagi sebagai pembeli, membuat jumlah buku yang terbit seperti banjir Jakarta yang tak pernah bisa dibendung di musim hujan.

Buku-Buku, Komentar Suram dan Ajang Penghargaan 

‘Turut berduka untuk sastra Indonesia sedalam-dalamnya, karena karya AS Laksana “Murjangkung, Cinta yang Dungu dan Hantu-Hantu” yang menjadi benteng terakhir sastra Indonesia bermutu di tahun ini tidak memenangkan Khatulistiwa Literary Award untuk kategori prosa,’ tulisan Linda Christanty di akun facebook nya beberapa saat setelah pengumuman pemenang kategori prosa Khatulistiwa Literary Award (KLA) diumumkan.

Pulang karya Leila S Chudori. Novel ini sejak awal memang ramai dibicarakan, sama seperti Amba karya Laksmi Pamuncak. Kedua novel yang terbit di penghujung tahun 2012 ini, menurut Goenawan Mohamad dalam Caping nya, adalah dua novel yang penting karena ’ Amba melawan itu: menghadirkan orang-orang yang tersingkir dari catatan tahun 1965—dan begitu pula Pulang.’  Berbeda dengan Dea Anugrah, yang menyatakan tokoh-tokoh antagonis dalam Pulang terlalu menampilkan sisi gelap dan memiskinkan Pulang sebagai sebuah karya sastra. Alwi Atma Ardana malah menyatakan ada hal ambivalen tentang korban yang ada di Amba dan Pulang, sebab keduanya berangkat dari sinisme pada ideologi. Ideologi Komunisme.

Lepas dari beberapa pendapat itu, Murjangkung menurut saya memang jauh lebih unggul dari keduanya. Dalam hal ini, saya sepakat dengan pilihan Linda. Dari segi capaian dan kualitas tulisan, AS Laksana lebih berhasil menyuguhkan cerita yang menarik. Bukan hanya ide sederhana yang dia olah dengan kelancaran menulisnya, tapi juga beberapa absurditas yang berhasil ia jaga dengan mempertahankan logika yang tak lepas adalah salah satu kelebihan Murjangkung.

Komentar Linda tentang ketidakterusterangan juri menjadi fokus utama kritik yang ia lancarkan. Salah seorang juri tadinya adalah publisis untuk novel yang menang dalam ajang penghargaan tahunan KLA tersebut. Tapi Damar, sang publisis, telah memberi konfirmasi bahwa ia tak lagi memegang publikasi novel yang bersangkutan. Pengaruh seorang juri terhadap semua juri yang ada juga ditepis Damhuri Muhamad sebagai koordinator juri. Entah konfirmasi itu bisa menjawab pertanyaan Linda atau tidak, lepas dari itu, komentar Linda dan beberapa gugatanya memberi ruang introspeksi bagi juri di periode berikutnya.

Saya tak membahas novel terbaru Okky Madasari, sebab saya berhenti membaca di dua buku pertamanya, Entrok dan 86. Okky punya peluang lebih dengan kemampuan jurnalis dan bahasan kasus sosial yang kuat. Saya suka gagasan Okky, tapi tentunya gagasan kuat harus ditulis dengan kuat juga. Terlebih jika dihadirkan ke medium sastra. Saya membaca dua buku lain, Pasung Jiwa dan Maryam, tapi tidak merampungkannya.

Jika ada juara dua KLA untuk kategori prosa, saya berharap besar pada Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya karya Dewi Kharisma Michellia (Juni 2013). Sebagai penulis termuda di antara lima karya prosa yang masuk nominasi, Michellia malah menunjukkan capaian yang lebih jauh dengan usia sebelia itu.

Travel Writer Abal-Abal dan Sesungguhnya

Sudah lumayan lama perbukuan Indonesia diramaikan dengan hadirnya traveler yang menulis, mengabarkan ke mana pergi, berapa biayanya, bagaimana gratis datang dan di mana makan paling enak. Beberapa penerbit malah mengadakan sayembara dan memberi dana bagi penulis untuk jalan-jalan ke luar negeri dan menulis jenis buku ‘Liburan ke Suatu Tempat dengan Dana Sekian Rupiah.’

Ruang bagi para traveler kacangan makin luas. Mereka memotret dengan ponsel pintar lalu mengunggahnya di instagram. Beberapa orang menganggapnya harus menulis catatan tersebut, menerbitkan di blognya bersama galeri foto nasris dengan narasi yang biasa-biasa aja. Beberapa penerbit menerbitkannya atas sponsor hotel atau jasa layanan travel. Maka lahirlah catatan perjalanan yang, kalau tak berisi pamer, hanya berisi pengalaman turis yang terpukau pada keindahan dan eksotisme sebuah kawasan asing. Lalu banjirlah toko buku dengan buku-buku menyedihkan tersebut.

Agustinus Wibowo melalui Titik Nol (February 2013), bagi saya jauh lebih menarik dari hampir semua travel writer yang menerbitkan buku di Indonesia. Ia membicarakan sebuah perjalanan bukan hanya dalam, kerangka datang, taklukkan, dan kabarkan, lalu ceritakan ke orang dan beri foto, maka orang-orang akan mengikuti jejakmu! Tidak. Agustinus tidak menulis seperti itu. Ia menulis banyak hal tentang manusia dan kemanusiaan dalam perjalanan.

Perjalanan, bagi Agustinus, bukan hanya uji nyali seberapa kuat kamu bertahan untuk berjalan jauh dengan modal pas-pasan a la backpakker-hippies yang ingin menaklukkan dunia dan mencari hiburan alternatif. Juga sama sekali bukan tentang bagaimana mendapat voucher hotel dan tiket gratis dari agen pariwisata. Membaca Titik Nol, bagi saya, adalah membaca kemenangan menulis Agustinus terhadap para travel writer lainnya. Ia berhasil menulis catatan perjalanan yang bagus dan menggiring pembaca menjadi seolah membaca novel berisi liputan jurnalistik, atau sebaliknya, jurnalistik yang ditulis dengan gaya sastra.

Keberhasilan utama Agustinus ialah menyelesaikan perjalanan dan menulisnya menjadi buku tebal yang bagus. Agustinus berhasil keluar dari ragam buku traveler Indonesia, seperti catatan perjalanan paling laris Naked Traveler tulisan Triniti. Tak ada daftar harga hotel murah, foto makanan dan berapa tarif untuk sampai ke sana dalam Titik Nol. Agustinus mencatat dan pembaca seolah diajak menyaksikan musyafir lata yang luntang-lantung ke sana ke mari. Perjalanan yang ia ceritakan bukan hanya perjalanan fisik tapi perjalanan manusia menemui manusia lainnya. Juga perjalanan spiritual. Terlebih adegan buku ini ditulis juga dengan sangat dekat memasukkan unsur paling impressif yang susah ditolak manusia; kehilangan orang yang paling disayangi dan paling berjasa dalam hidup: Ibu.

Hampir dapat rating sempurna di situs goodreads. Buku ini menjadi salah satu buku yang saya puji secara pribadi di tahun 2013 ini. Buku ini membuat saya, untuk pertama kalinya, datang dan begitu antusias untuk diskusi dan bedah bukunya. Hehe.

The Naked Traveler, Across the Indonesian Archipelago (Oktober 2013) karya Triniti, bagi saya masih masuk sebagai kategori pertama, kategori di luar gaya Agustinus. Terbitnya buku Naked Traveler berbahasa Inggris malah membuat saya bingung dan bertanya. Kenapa harus nulis dalam bahasa Inggris/diterjemahkan jika hanya beredar di Indonesia dan diterbitkan oleh penerbit Indonesia? Apakah buku ini akan menjadi guide book baru yang dijual di bandara untuk para bule? Agar para wisatawan makin gampang mendapat info ke mana berlibur yang asik? Duh!

Beberapa Kasus Buku, Penulis dan Penerbit di Tahun 2013

·      Andrea Hirata vs Damar Juniarto: Penulis Megabestseller vs Blogger 

Hampir saja saya lupa. Tahun baru 2013 dibuka juga dengan sebuh isu buku yang panas. Awal tahun, Andrea Hirata digugat Damar Juniarto, seorang blogger dan publisis. Bukan permasalahan tentang buku. Ini permasalahan eksistensi Andrea dan bagaimana branding di dunia internasional. Kasus ini juga dibahas Katrin dalam buku terbarunya Sastra Nasionalisme Pascakolinalitas.

Pada tulisannya di Kompasiana, Damar membuat sebuah kecaman yang mengagetkan; ‘Label “International Best Seller” yang dasar penetapannya tidak jelas ini ternyata dipergunakan Andrea Hirata untuk mengolok-olok sejarah sastra Indonesia selama kurun kurang dari seratus tahun.’
Andrea Hirata memberitakan dirinya telah menandatangani kontrak perjanjian dengan pihak penerbit Farrar, Straus and Giroux (FSG).

Kabarnya, buku ini akan diterjemahkan bersama dengan karya deretan para peraih nobel. Dengan ini, Andrea dan krunya mungkin sedang ingin menaikkan citra di dunia perbukuan. Dengan klaim tersebut, juga sebuah pernyataan kontroversial; ‘Hampir seratus tahun kita menanti adanya karya anak bangsa mendunia, tapi Alhamdullilah hari ini semua terbukti setelah buku saya menjadi bestseller dunia.’  Andrea menjadi perbincangan seru dan panas. Damar menemukan data bahwa penerbit Rainbow Troops—Edisi Bahasa Inggris Laskar Pelangi—bukan diterbitkan FSG, melainkan lini lain yakni Sarah Crichton Books, lini penerbitan buku komersil dan bukan buku sastra serius. Banyak pihak mengecam Hirata dan seolah sedang meremehkan penulis lain di Indonesia. Banyak juga yang memujinya dan melihat berita ini sebagai berita bagus dan apresiasi yang cukup untuk tulisan-tulisan Andrea Hirata.

Ribut buku ini membuat Katrin Bandel menulis juga beberapa kejanggalan dalam bukuRainbow Troops, mulai dari adanya tambahan tokoh, alur yang berubah, sampai pertanyaan besar; apakah buku ini disadur atau diterjemahkan utuh?

Damar hampir dipidanakan, diseret ke meja Hijau oleh si Ikal Andrea, tapi sampai akhirnya, kepanasan ini meredup, karena banyak penulis lain di media menyikapi hal ini dan Andrea cenderung memilih diam. Ia mengumumkan sebuah surat balasan buat Damar. Yusril Iza Mahendra sebagai penasehat hukum Andrea sendiri meminta penyelesaian di jalur damai.

·      Novel Jokowi, Nasib Penulis di Hadapan Penerbit dan Sutradara Mesum-Horror K.K Deraj 

Beberapa kali mendengar keluhan penulis yang dikibuli penerbit pada tahun-tahun sebelumnya, saya mulai optimis di tahun 2013. Saya mengira kasus-kasus semacam ini akan segera berakhir. Nyatanya tidak! Keterbukaan media yang berada diujung jari, saya kira akan membuat kapok banyak penerbit nakal. Nyatanya tidak. Di sebuah grup diskusi facebook yang berisi daftar panjang penerbit nakal, keluhan penulis dan kecaman terhadap penyelenggara lomba menulis, masih banyak saya temui kecurangan. Sebuah kasus penulis dan penerbit terjadi antara Gatot Suroso dan Ufuk Press.

Kasus Gatot Suroso, penulis novel Jokowi Si Tukang Kayu dengan penerbit Ufuk Press menjadi salah satu lagi potret sial penulis Indonesia. Saya belum baca buku ini, saya tak bisa mereviewnya dan hanya menceritakan sedikit beberapa fenomena dan kejanggalan yang ada.

Kisahnya buku akan diangkat menjadi film, namun sampai film sudah mulai diproduksi, sang penulis bahkan mengaku belum mendapatkan royalti dari bukunya (royalti tidak dibayar tepat waktu). Bereder isu bahwa sampul bukunya akan dijadikan poster film besutan K.K Deraj, sutradara sekaligus pemilik rumah K2K Production K.K Deraj, yang konsisten memproduksi film-film kancrut, komedi sangek yang kebanyakan tolol dan sama sekali tidak lucu. Tentu saja Gatot tak tinggal diam, kasus ini menjadi ramai dibicarakan banyak pihak.

Tapi toh akhirnya film Jokowi rilis juga. Kasus ini mengambang begitu saja. Prestasi K2K Deraj mendatangkan bintang porno dan Mr. Bean palsu, sedikit banyak bisa ia perbaiki dengan membuat film yang agak beres. Konon Jokowi tidak terlalu sreg dengan film dan tokoh ini. Saya kurang tahu.

Harusnya pristiwa ini menjadi pelajaran penting bagi penerbit. Bahwa tidak zaman lagi penulis tidak bisa memiliki posisi tawar. Seorang penulis bisa saja bicara di dunia maya dan ketika bangun tidur, seorang CEO penerbitan bisa kalang kabut karena tulisan gugatan sudah menjadi headline di beberapa blog, portal atau sudah menjadi trending topic di jejaring sosial.

·      Buku Terakhir Trilogi Sepatu Dahlan Tidak Ditulis Khrisna Pabichara?

Buku biografi dan autobiografi ramai sekali sejak tahun 2012. Khrisna Pabichara mengambil jalan lain, ia menceritakan tokoh bukan melalui biografi, tapi lewat novel.

Salah satu yang ramai dan saya tahu adalah Sepatu Dahlan dan seri keduanya, Surat Dahlan. Meski Surat Dahlan tak seriuh buku sebelumnya, tapi respon pembaca tak bisa dibilang sedikit. Angka penjualan dua buku ini masih mengagetkan. Trilogi buku ini disebut banyak pihak menjadi salah satu buku yang paling banyak dibaca di tahun 2013.

Peluit pencoblosan segera ditiup, namun buku ketiga tak kunjung terbit. Di pertengahan tahun, Khrisna malah mengumumkan dirinya tak lagi menulis di buku ketiga. Gosipnya, riset belum selesai, sementara penerbit sudah ingin segera bukunya terbit. Khrisna yang tak ingin bukunya menjadi alat kampanye, ditambah belum siap rampunya riset untuk menulis novel ketiga, belum memberikan sinyal buku segera terbit. Lalu tiba-tiba terdengar kabar ada penulis lain. Bisa jadi ada masalah serius antara penulis dan penerbitnya. Saya tidak terlalu paham. Yang pasti, saya ragu dan akan bingung menilainya. Sebuah trilogi ditulis penulis lain bukan lagi layak disebut sebagai buku dengan identitas yang sama. Kecuali penulis memiliki rumusan baku untuk menulis novel tersebut, seperti sebuah buku tutorial menginstal windows 8 di komputer baru, misalnya. Tapi toh ini bukan kabar burung. Khrisna sudah mengumumkannya di pertengahan tahun.

Jika ada penulis lain, saya menyarankan tak mengekor lagi pada dua buku sebelumnya. Anggap saja Khrisna batal menulis trilogi. Si penulis baru silakan membuat buku lain dengan identitas/ciri buku yang lain. Lebih keren menurut saya. Kecuali buku ini masih ingin mengekor dari popularitas buku sebelumnya.

Capaian Khrisna, misalnya, terlihat dari tulisannya dalam cerpen Gadis Pakarena (2012). Eksplorasinya tentang kebudayaan tanah kelahirannya, lalu tema yang diangkat, kekuatan tokoh dan narasi adalah modal yang bagus. Setidaknya, bisa menjadi acuan dan jaminan bagaimana sebuah novel biografi kemudian ia tulis. Tugas penulis buku ketiga adalah menyamai atau melampaui Khrisna dalam menulis dua buku sebelumnya. Kalau tidak, hentikan penulisannya, buat buku lain.

Ramalan Buku 2014

Sebenarnya saya ingin menambahkan satu buku, Anak-Anak Revolusi tulisan Budiman Sujatmiko yang terbit menjelang pergantian tahun. Tapi saya tak kunjung menemukannya. Buku ini ramai dibicarakan di ujung tahun. Tapi saya belum punya bukunya. Konon harganya mahal, kalau masih terbeli saya akan beli dan baca. Saya geli membaca beberapa resensi yang ditulis untuk buku ini. Bahkan salah satu resensi menyamakannya dengan otobiografi Soeharto. Ia menulis H. Muhammad Budiman Sujatmiko. Duh.

Beberapa orang memuji buku ini. Bukan karena tokoh heroik yang tak lain adalah si penulis itu sendiri, tapi gaya bercerita yang, konon katanya, bagus. Entahlah.

Tapi Anak-Anak Revolusi bagi saya adalah salah satu sinyal dan jembatan masuk ke tahun 2014. Tahun ini adalah tahun Politik. Pemilu segera berlangsung dan buku sebagai alat kampanye akan segera menjadi pilihan banyak politisi.

Tahun 2014 juga adalah tahun pesta bagi para Ghost Writter, yang akan menuliskan biografi atau otobiografi para politisi yang akan maju ke kancah politik panas 2014. Maka tunggulah, buku-buku sejenis ini akan menjadi buku paling banyak diproduksi.

Selain itu demam piala dunia akan merambat dan memberi efek domino pada buku-buku seputaran bola. Trend buku bola ini bahkan sudah dimulai di akhir tahun 2013. Untuk dua ramalan trend buku ini, saya berani jamin tidak akan meleset. Hehe.

Buku-buku para pesohor dunia maya, selebtwit dan sebangsanya juga masih akan menghiasi rak-rak toko buku dan rak virtual toko buku. Perbedaannya, kalau di tahun-tahun sebelumnya ada banyak buku instan dari artis instan, maka tahun 2014 bisa jadi titik jenuh buku-buku dan penulis semacam itu. Orang akan mulai skeptis, sebab buku baru yang beredar sudah diidentifikasi negatif. Buku bagus berbaur dengan buku sampah. Salah ambil, buku yang dibawa pulang akan mengecewakan dan jauh dari ekspektasi.

***
*Irwan Bajang, blogger di irwanbajang.com dan Pemimpin Redaksi Indie Book Corner

Source: IndoProgress