Ketoprak Dangsak
Pentas Ketoprak Dangsak "Reksa Mustika Bumi" kolaborasi Cepetan Alas dengan Ketoprak. Pentas ini digelar DKD Kebumendi PRPP Jateng [Foto:AP]
Lengger Banyumasan
Pementasan seni tradisi lengger dari Dariah; tokoh legendaris"Lengger Banyumasan"
Suro Bulus, Parodi Satire Ketoprak Rakyat
Lakon carangan "Suro Bulus" yang merupakan manifestasi perlawanan masyarakat tradisi terhadap kejahatan korporasi tambang
DRAS SUMUNAR, Tetet Srie WD
Pagelaran "Serat Dras Sumunar" karya Tetet Srie WD di Roemah Martha Tilaar Gombong
Dewa Ruci
Pentas wayang dengan lakon "Dewa Ruci" dalam Festival Dalang Anak di Banjarnegara. Tiga dari empat dalang cilik Kebumen sabet juara [Foto:AP]
Selasa, 30 Januari 2018
Minggu, 28 Januari 2018
Puisi Ngapak "Waton Muni" Kus Diesel; Sastra Rintisan
Pernahkah terbayang bahwa di sela pekerjaan hariannya di bengkel, seorang mekanik spesialis mesin diesel masih sempat menulis puisi?
LAUNCHING: Suasana launching buku puisi ngapak "Waton Muni" karya Kus Diesel di Roemah Martha Tilaar (22/1) Gombong. Dalam gambar nampak parade pembacaan puisi-puisi ngapak [Foto: ArpanSphere]
Itu lah yang dilakukan Tunjung Kusmanto yang karena kesehariannya
bergumul dengan mesin diesel, kemudian lebih dikenal sebagai Kus Diesel, hingga
akhirnya puisi-puisi bahasa jawanya dapat terhimpun ke dalam kumpulan bertajuk
“Waton Muni”. Keunikan puisi berbahasa Jawa yang lazimnya disebut geguritan ini adalah bahwa keseluruhan
isi puisinya menggunakan bahasa jawa dialek ngapak.
Puisi ngapak karya Kus Diesel ini dilaunching di rumah budaya Martha Tilaar Gombong (22/1) sore itu. Penampilan
Kus Diesel didukung oleh 7 pegiat Komunitas Pusaka Gombong (Kopong) dibawah koordinasi
Sabur Herdian Ramin. Ikut juga berparade dalam perhelatan ini beberapa pegiat
seni tradisi Macapat seperti Trimo
Raharjo dan Nanang S Pamomong.
Pengelola Roemah Martha Tilaar Sigit Asmodiwongso
menyambut baik digelarnya puisi (geguritan) ngapak dan berharap akan ada
penulis lain menyusul apa yang telah dilakukan Kus Diesel.
Sastra Dialek
Lokal, Sebuah Rintisan
Kus Diesel, penulis puisi ngapak "Waton Muni"
Sastra dialek lokal yang dalam kasus launching “puisi ngapak” Kus Diesel, meski masih debatable; boleh dibilang sebagai sebuah
rintisan. Selain disambut hangat apresian yang hadir, Rocky Irawan juga banyak
mengomentarinya selaku pembawa acara. Pekan sebelumnya, di jagad virtual, juga
muncul seorang anak berseragam pramuka membaca puisi ngapak dengan apiknya. Komunikatif, luwes saja dan amat bisa
diterima.
Selama ini jika orang menyebut karya sastra geguritan memang dari aspek bahasa
cenderung berdialek timuran, mirip
dialek Kebumen timur, Purworejo atau Yogya. Ini mengingatkan idiom bandhek wetan kali yang acap
diperdengarkan untuk mengomentari Wong “Gombong”
Bumen yang bicara tidak dengan bahasa “ngapak”nya.
Seorang penyair (baca:
penggurit_Red) kelahiran Kebumen, Turyo Ragil Putro dari Ambal yang juga lebih
dahulu dikenal sebagai sastrawan jawa dan telah pula membukukan karyanya. Namun
jika disimak karya geguritan Turyo
pun tidak ditulis dengan dialek “ngapak” yang khas itu.
Kus Diesel menulis dengan bahasa “ngapak” dan itu sebuah
rintisannya.
“Ini satu hal yang membedakan Kus Diesel dari lainnya. Saat kita masih berfikir (puisi ngapak_Red), dia telah menuliskannya”, ucap Rocky Irawan sang pembawa acara siang itu.
Ngapak Sebagai Daya
Tarik
Tak banyak pengkritisan dalam sessi dialog di launching puisi ngapak “Waton Muni” Kus
Diesel ini, selain komentar mengejutkan dari seorang di belakang bahwa
penulisan “Waton Muni” masih kental idiom umum ketimbang benar-benar ungkapan gaya
ngapak yang sesungguhnya. Idiom umum yang dimaksud olehnya adalah cara ungkap
penulisan puisi yang berlaku pada umumnya.
Namun ada catatan menarik dari event langka di Roemah Martha Tilaar bahwa sebagai
sebuah khasanah budaya berkomunikasi, bahasa ngapak adalah dialek yang sarat
dengan daya tarik. Magnet ini bermula dari kesan lucu namun berkarakter khas, yang mencerminkan kultur blakasuta atau keterbukaan.
Puisi-puisi “Waton Muni” Kus Diesel, meski diungkap dalam
kosakata yang biasa, seperti ikut menuntun kesadaran akan spirit budaya lokal gombongan mengenai nilai-nilai keterbukaan
dalam blakasuta yang egaliter itu.
Sabtu, 27 Januari 2018
PERNYATAAN SIKAP ALIANSI SASTRAWAN INDONESIA ANTI PUISI-ESAI
JANUARY 27, 2018
Sumber: IntroNews
Foto: Dok. MSB --
TERKAIT dusta publik Denny Januar Ali (selanjutnya disingkat DJA) tentang "lahirnya angkatan puisi-esai" dan Proyek Penulisan Buku Puisi Esai Nasional yang digagas dan didanai DJA pribadi yang rencananya melibatkan 170 penulis, penyair, jurnalis, dan peneliti di 34 propinsi di Indonesia, kami Aliansi Sastrawan Indonesia Anti Puisi-Esai mengamati sejumlah poin berikut:
1. Klaim puisi esai sebagai genre baru sebagaimana tertulis di sampul buku Atas Nama Cinta milik DJA merupakan penggelapan sejarah sastra. Puisi Esai sebagai komposisi ekspositori dalam bentuk puisi sudah dikenal sejak masa Alexander Pope, penyair Inggris Abad ke-18, melalui buku puisinya, "An Essay on Man".
2. Puisi esai DJA bukanlah puisi esai. DJA bersikeras menyebut bentuk yang digagasnya sebagai puisi esai, padahal karakteristik yang dipakai adalah karakteristik puisi naratif, dengan plot, tokoh, dan ceritanya. Catatan kaki yang disyaratkan sebagai ciri ke-esai-an puisi esai juga bukan ciri utama atau keharusan esai. Esai kerap tak memiliki catatan kaki. Mendukung program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional DJA sama artinya dengan mendukung kekeliruan definisi dan konsep tersebut, yang pada gilirannya merupakan tindak perusakan sastra sebagai kajian keilmuan.
3. Program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional adalah rekayasa politis DJA untuk mendapat pengakuan sebagai tokoh sastra dengan menggunakan kekuatan uang, sebagaimana pernah dilakukan melalui pembiayaan lomba puisi esai, dan penerbitan buku "33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh" dan "Membawa Puisi Ke Tengah Gelanggang".
4. DJA diduga memanipulasi institusi negara yang berfungsi melaksanakan pengembangan, pembinaan, dan perlindungan di bidang bahasa dan sastra, yaitu Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa serta Balai Bahasa/Kantor Bahasa di sejumlah Provinsi di Indonesia untuk menyukseskan program manipulatif dan membodohkan, yaitu Penulisan Buku Puisi Esai Nasionalnya.
![]() |
| Foto: Dok. Saut Situmorang (FB) |
Berangkat dari poin-poin tersebut, kami Aliansi Sastrawan Indonesia Anti Puisi-Esai menyatakan:
1. Menolak program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional tersebut, juga program lain dengan modus sama.
2. Meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia mengusut keterlibatan oknum-oknum di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa serta Balai Bahasa/Kantor Bahasa di seluruh Indonesia dalam program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional DJA.
3. Menyerukan kepada instansi pemerintah maupun organisasi non pemerintah terkait bidang sastra, budaya, penulisan kreatif dan literasi, seperti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Indonesia, Kementerian Pariwisata Indonesia, Badan Ekonomi Kreatif, Persatuan Penulis Indonesia (Satupena), Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI), Komite Buku Nasional, Perpustakaan Nasional RI, Ikatan Penerbit Indonesia dan lain-lain, untuk bersama, dengan kewenangan serta tugas pokok dan fungsi masing-masing, melakukan penyadaran kepada masyarakat serta mencegah dan memberantas berbagai upaya rekayasa, manipulasi dan penyesatan dalam bidang sastra dan literasi yang dilakukan baik oleh DJA dan jaringannya, maupun pihak-pihak lain.
4. Meminta DJA menghentikan program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional di atas.
5. Menyerukan kepada semua yang terlibat program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional DJA untuk mengundurkan diri, membatalkan kontrak, dan mengembalikan honor.
6. Menyerukan kepada komunitas-komunitas sastra di seluruh Indonesia untuk ikut menolak program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional DJA dan mencegah para anggotanya terlibat di dalamnya.
7. Membantah telah lahir sebuah angkatan baru dalam Sastra Indonesia yang oleh DJA disebut sebagai "angkatan puisi-esai" tersebut.
Jogjakarta, 27 Januari 2018
Aliansi Sastrawan Indonesia Anti Puisi-Esai.
(Saut Situmorang)
Sumber: IntroNews
Aliansi Sastrawan Indonesia Anti Puisi-Esai
January 27, 2018
Sumber: Seni.Co.Id
Terkait dusta publik Denny Januar Ali (selanjutnya disingkat DJA) tentang “lahirnya angkatan puisi-esai” dan Proyek Penulisan Buku Puisi Esai Nasional yang digagas dan didanai oleh DJA pribadi yang direncanakan melibatkan 170 penulis, penyair, jurnalis, dan peneliti di 34 propinsi di Indonesia, kami Aliansi Sastrawan Indonesia Anti Puisi-Esai mengamati sejumlah poin berikut:
1. Klaim puisi esai sebagai genre baru sebagaimana tertulis di sampul buku Atas Nama Cinta milik DJA merupakan penggelapan sejarah sastra. Puisi Esai sebagai komposisi ekspositori dalam bentuk puisi sudah dikenal sejak masa Alexander Pope, penyair Inggris Abad ke-18, melalui buku puisinya, “An Essay on Man”.
2. Puisi esai DJA bukanlah puisi esai. DJA bersikeras menyebut bentuk yang digagasnya sebagai puisi esai, padahal karakteristik yang dipakai adalah karakteristik puisi naratif, dengan plot, tokoh, dan ceritanya. Catatan kaki yang disyaratkan sebagai ciri ke-esai-an puisi esai juga bukan ciri utama atau keharusan esai. Esai kerap tak memiliki catatan kaki. Mendukung program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional DJA sama artinya dengan mendukung kekeliruan definisi dan konsep tersebut, yang pada gilirannya merupakan tindak perusakan sastra sebagai kajian keilmuan.
3. Program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional adalah rekayasa politis DJA untuk mendapat pengakuan sebagai tokoh sastra dengan menggunakan kekuatan uang, sebagaimana pernah dilakukan melalui pembiayaan lomba puisi esai, dan penerbitan buku “33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh” dan “Membawa Puisi Ke Tengah Gelanggang”.
4. DJA diduga memanipulasi institusi negara yang berfungsi melaksanakan pengembangan, pembinaan, dan pelindungan di bidang bahasa dan sastra, yaitu Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa serta Balai Bahasa/Kantor Bahasa di sejumlah Provinsi di Indonesia untuk menyukseskan program manipulatif dan membodohkan, yaitu Penulisan Buku Puisi Esai Nasionalnya.
Berangkat dari poin-poin tersebut, kami Aliansi Sastrawan Indonesia Anti Puisi-Esai menyatakan:
1. Menolak program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional tersebut, juga program lain dengan modus sama.
2. Meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia mengusut keterlibatan oknum-oknum di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa serta Balai Bahasa/Kantor Bahasa di seluruh Indonesia dalam program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional DJA.
3. Menyerukan kepada instansi pemerintah maupun organisasi non pemerintah terkait bidang sastra, budaya, penulisan kreatif dan literasi, seperti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Indonesia, Kementerian Pariwisata Indonesia, Badan Ekonomi Kreatif, Persatuan Penulis Indonesia (Satupena), Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI), Komite Buku Nasional, Perpustakaan Nasional RI, Ikatan Penerbit Indonesia dan lain-lain, untuk bersama, dengan kewenangan serta tugas pokok dan fungsi masing-masing, melakukan penyadaran kepada masyarakat serta mencegah dan memberantas berbagai upaya rekayasa, manipulasi dan penyesatan dalam bidang sastra dan literasi yang dilakukan baik oleh DJA dan jaringannya, maupun pihak-pihak lain.
4. Meminta DJA menghentikan program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional di atas.
5. Menyerukan kepada semua yang terlibat program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional DJA untuk mengundurkan diri, membatalkan kontrak, dan mengembalikan honor.
6. Menyerukan kepada komunitas-komunitas sastra di seluruh Indonesia untuk ikut menolak program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional DJA dan mencegah para anggotanya terlibat di dalamnya.
7. Membantah telah lahir sebuah angkatan baru dalam Sastra Indonesia yang oleh DJA disebut sebagai “angkatan puisi-esai” tersebut.
Jogjakarta, 27 Januari 2018
Aliansi Sastrawan Indonesia Anti Puisi-Esai
Saut Situmorang – Nuruddin Ahsadi
|SN/RED
Sumber: Seni.Co.Id
Sabtu, 13 Januari 2018
Kamis, 11 Januari 2018
Ketika Dua Kubu Seniman Muda Membuat Gebrakan
Kamis, 11 Jan 2018 | Nur Janti
Tak hanya menyatukan dua kubu yang berseteru, Gerakan Seni Rupa Baru ikut membidani kelahiran seni rupa kontemporer Indonesia.
Sumber: Historia
Tak hanya menyatukan dua kubu yang berseteru, Gerakan Seni Rupa Baru ikut membidani kelahiran seni rupa kontemporer Indonesia.
MUAK dengan keputusan dewan juri Pameran Besar Seni Lukis Indonesia (18-31 Desember 1974) yang tak menganggap karya seni modern usungan pelukis-pelukis muda, sejumlah seniman muda melakukan protes. Mereka membuat keputusan bersama yang menganggap keputusan itu sebagai wajah asli kemunduruan seni rupa Indonesia, kemudian dikenal dengan “Desember Hitam”. Para seniman muda itu lalu bergabung dan melahirkan Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB).
Sebelum Desember Hitam ada, dunia seni rupa terbagi dalam dua kubu: Bandung dan Yogyakarta. Kubu Bandung berisi seniman lulusan ITB, karya-karyanya bergaya abstrak, berkeyakinan bahwa praktik seni rupa bersifat universal, dan tak percaya adanya seni rupa khas Indonesia. Karya-karya kubu Bandung sudah memperlihatkan gejala apolitis sejak awal keunculannya pada1950-an.
Sementara, seniman kubu Yogyakarta, tulis Aminuddin Siregar dalam Instalasi Sunaryo (1998-2003), menawarkan narasi, cerita, dan citraan realistik dalam karyanya. Kubu Yogyakarta juga percaya adanya nilai-nilai tradisi dan sosial. Perkembangan arus utama seni rupa Indonesia juga berpusat di Yogyakarta. Oleh karena itu, kubu Yogyakarta menyebut kubu Bandung kebarat-baratan dan bukan nasionalis.
Pertentangan kedua kubu ini sampai disebut Claire Holt dalam Art in Indonesia: Continuities and Change sebagai “The Great Debate”. Tapi seniman muda dari kedua kubu kemudian bersatu setelah Pameran Besar Seni Lukis Indonesia tahun 1974. Mereka memprotes seniman-seniman mapan di masanya. Menurut kurator seni Jim Supangkat, seniman muda Yogyakarta pada dasarnya mengkrritik terjadinya depolitisasi pada perkembangan seni rupa Indonesia, khususnya di kubu Yogyakarta sendiri.
Pada 1960-an, para seniman Yogyakarta dekat dengan organisasi-organisasi kiri. Karya-karya mereka kebanyakan mengangkat masalah sosial-politik. “Dibandingkan masa Orde Baru, lukisan Indonesia cenderung menampilkan sosial-politik karena Indonesia sedang ke kiri ketika itu. Seniman-seniman terlibat organisasi-organisasi underbow-nya PKI,” kata Jim via telepon kepada Historia.
Sesudah 1965, Orde Baru yang militerisitis dan anti-komunis melakukan pemberangusan dan pembersihan organ-organ yang dianggap kiri. Orang-orang ditangkap dan dikirim ke berbagai tempat penahanan atau Pulau Buru. Hal ini menimbulkan ketakutan di lingkungan seniman dan muncullah gejala depolitisasi dengan wujud penggantian tema sosial-politik menjadi tema heroik dan nasionalis yang disukai pemerintah.
“Daripada ditangkap, kemudian bicara yang bagus-bagus saja. Mungkin malah menyanjung-nyanjung keberhasilan Orde Baru.”
Hal itulah yang menjadi sasaran kritik Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB). Sejak terbentuk tahun 1975, GSRB beberapa kali mengadakan pameran. Pada Agustus 1975, pameran yang dihelat GSRB di Taman Ismail Marzuki (TIM) menampilkan 70 karya dari 11 pelukis muda.
“Paling Top ‘75” karya FX Harsono, “Kamar Tidur Perempuan dengan Anaknya” karya Jim Supangkat, dan “Sang Direktur” karya Hardi, sebagian karya yang dipamerkan dalam pameran itu menjadi eksekusi nyata protes para seniman muda kepadan “guru-guru”-nya. Karya-karya mereka tidak terikat pada nilai-nilai lama yang diusung pelukis era sebelumnya, seperti kecermatan, sentuhan, dan kontemplatif. Sebaliknya, mereka menampilkan ide atau pengalaman sehari-hari yang tak sekadar alam desa atau pemandangan indah tetapi soal polusi, perang, dan industri.
“Paling Top ‘75”, misalnya, menampilkan sebuah senjata api di dalam kurungan kayu. “Pistol paling top, yang buat Harsono, itu pada pameran seni rupa baru. Di masa itu ketika dipamerkan tidak memunculkan isu soal militerisme tapi ya maksudnya mungkin militer,” ujar Jim.
Pada Februari dan April 1977 serta 1979, GSRB kembali mengadakan pameran di Jakarta dan Bandung. Meski demikian, menurut Jim, karya-karya GSRB dari 1975 sampai 1979 tidak secara eksplisit menampilkan tema sosial-politik. Gejala mengangkat tema sosial-politik justru muncul pada dekade 1980.
“Awal tahun 1970-an itu Soeharto belum terlalu represif. 1970-an itu Indonesia masih merayakan perkembangan ekonomi. Nah, baru pada 1980-an muncul karya-karya yang menyuarakan masalah sosial-politik karena makin represifnya Orde Baru.”
Namun, keretakan akhirnya muncul dalam tubuh GSRB. Menurut Jim, hal itu berawal dari silang pendapat antara dirinya dan Hardi. “Pameran 1979 itu bentuk gerakannya terlihat karena pesertanya banyak, seniman muda banyak yang ikut dan itu menunjukkan gerakan. Hardi tidak setuju anggotanya menjadi banyak. Dia ingin kalau GSRB tetap menjadi kelompok kecil,” kata Jim. Jim juga tak sepakat dengan keinginan Hardi membawa seni rupa ke tengah pusaran konflik elit politik di bawah Soeharto.
“Pertengkaran antara Ali Murtopo dengan Sutopo Yuwono, Hardi malah terlibat dalam pertengkaran power itu. Nah saya tidak suka.”
Setelah di Bandung tahun 1979, GSRB pun bubar. Para eksponen GSRB seperti FX Harsono, Siti Adiyati Subangun, Jim Supangkat, Dadang Christanto dan beberapa seniman muda lain kembali muncul pada 1987. Mereka mengeluarkan Manifesto Gerakan Seni Rupa Baru pada 2 Mei 1987 yang secara garis besar berisi kritik terhadap definisi seni rupa, praktik seni yang dianggap elitis, dan adanya ketidakpekaan terhadap gejala baru seni rupa Indonesia. Praktiknya mereka lakukan pada Pasaraya Dunia Fantasi Proyek I di Taman Ismail Marzuki, 15-30 Juni 1987.
Selain mengkritik depolitisasi dalam seni, GSRB juga mengkritik seniman-seniman mapan yang dalam praktik seni kebarat-baratan dan elitis serta memaknai seni rupa sebatas seni lukis, patung, dan grafis. GSRB bukan hanya penanda tetapi sebagai ibu yang melahirkan seni rupa kontemporer Indonesia.
Sumber: Historia
Selasa, 09 Januari 2018
Satu malam bersama Lengger Lanang
Selasa, 9 Januari 2018
16:35:00
Reporter : Abdul Aziz
Satu malam bersama Lengger Lanang. Lengger Lanang adalah
salah satu figur khas kebudayaan Banyumas. Berorientasi kepada kesenian rakyat,
Lengger Lanang lahir di luar ekses peradaban negaragung. Tiap penari laki-laki
berdandan ala perempuan, menyihir ratusan penonton.
Rumah Lengger
berkomitmen mengenalkan kembali tradisi Lengger Lanang. Diisi oleh sejumlah
anak muda, rata-rata mereka berusia 18 sampai 30 tahun yang sejak kanak
menggandrungi seni tari.
©2018
Merdeka.com/Abdul Aziz Rasjid
Tak hanya
menari, mereka juga paham betul pengetahuan tata rias. Bulu mata palsu, bedak
beraneka warna senjata mereka.
©2018
Merdeka.com/Abdul Aziz Rasjid
Lengger
lanang juga salah satu seni tradisi 'cros gender' Nusantara. Semua penari
begitu juga sinden berjenis kelamin laki-laki. Tetapi berdandan menyerupai
perempuan.
©2018
Merdeka.com/Abdul Aziz Rasjid
Agar
benar-benar menyerupai perempuan, pinggang dililit beskap agar terlihat
ramping. Mereka juga memakai payudara palsu dari kain.
©2018
Merdeka.com/Abdul Aziz Rasjid
Pada Senin
(8/1) mereka diundang menari di Desa Kalipagu, Baturraden lereng Gunung Slamet
Banyumas. Pengeras suara dipasang di bilah bambu mengabarkan pada warga kampung
gelaran Lengger Lanang.
©2018
Merdeka.com/Abdul Aziz Rasjid
Sigit
Kurniawan (18) anggota termuda Lengger Lanang di Rumah Lengger. Di atas
panggung, ia punya nama panggilan khusus, Gita.
©2018
Merdeka.com/Abdul Aziz Rasjid
Di Desa
Kalipagu, para Lengger Lanang bermain dari pukul 21.00-00.00. Mereka memainkan
tarian dengan gerakan-gerakan gemulai.
©2018
Merdeka.com/Abdul Aziz Rasjid
Tak jarang
mereka menari sampai di luar panggung. Warga yang menonton kadang memberi
saweran mulai dari Rp 5.000 sampai Rp 50.000.
©2018
Merdeka.com/Abdul Aziz Rasjid
Lengger
ditemani Sinden yang acapkali bertingkah laku lucu, juga menerima lagu-lagu
atau tarian permintaan warga.
©2018
Merdeka.com/Abdul Aziz Rasjid
Warga juga
ikut naik ke atas panggung untuk menari. Penari Lengger Lanang dan penonton tak
ada jarak.
©2018
Merdeka.com/Abdul Aziz Rasjid
























