Ketoprak Dangsak

Pentas Ketoprak Dangsak "Reksa Mustika Bumi" kolaborasi Cepetan Alas dengan Ketoprak. Pentas ini digelar DKD Kebumendi PRPP Jateng [Foto:AP]

Lengger Banyumasan

Pementasan seni tradisi lengger dari Dariah; tokoh legendaris"Lengger Banyumasan"

Suro Bulus, Parodi Satire Ketoprak Rakyat

Lakon carangan "Suro Bulus" yang merupakan manifestasi perlawanan masyarakat tradisi terhadap kejahatan korporasi tambang

DRAS SUMUNAR, Tetet Srie WD

Pagelaran "Serat Dras Sumunar" karya Tetet Srie WD di Roemah Martha Tilaar Gombong

Dewa Ruci

Pentas wayang dengan lakon "Dewa Ruci" dalam Festival Dalang Anak di Banjarnegara. Tiga dari empat dalang cilik Kebumen sabet juara [Foto:AP]

Senin, 07 Agustus 2017

Pelajar Kebumen Raih Penghargaan FESTIVAL FILM PURBALINGGA 2017

August 7, 2017

Agustina Nurtika (berkerudung) menerima penghargaan dalam ajang FFP 2017

Setelah sebelumnya sempat mendapat penghargaan pada ajang Festival Film Pelajar Jogja (2016) dan, Malang Film Festival (2017) Urut Sewu Bercerita, sebuah film dokumenter garapan pelajar SMKN1 Kebumen kembali raih penghargaan sebagai film dokumenter terbaik.
Festival Film Purbalingga semula hanya dikhususkan untuk Pelajar se-Banyumas Raya (Banyumas, Cilacap, Purbalingga dan Banjarnegara). Namun menginjak tahun yang ke-11 ini, Festival Film Purbalingga membuka ruang bagi pelajar Kebumen untuk ikut serta berkompetisi dalam ajang Festival. Melalui kerja-kerja berjejaring yang selama ini dilakukan Kebumen memiliki potensi yang semakin menggairahkan dalam bidang film. Oleh sebab itulah, para penggerak komunitas di Banyumas Raya yang bernaung dalam Jaringan Kerja Film Banyumas (JKFB) mengajak serta komunitas yang ada di Kabupaten Kebumen untuk menjadi keluarga besar JKFB. Kerja-kerja tersebut dapat dilihat dengan semakin meningkatya prestasi yang didapat oleh pelajar Kebumen belakangan ini.
Sabtu, 5 Agustus 2017 di Alun-alun Purbalingga sebuah panggung meggah lengkap dengan seperangkat sound system dan lampu warna-warni telah diramaikan oleh para pengunjung. Para pelajar dan pembuat film dari 5 Kabupaten (Cilacap, Purbalingga, Banyumas, Banjarnegara dan Kebumen) berkumpul menyaksikan gelaran Malam Penganugerahan Festival Film Purbalingga 2017. Irama Calung serta tarian membuka acara yang semakin membuat para pembuat film berdebar-debar menunggu hasil pengumuman Jawara pada Festival Film Purbalingga 2017.
Ada beberapa penghargaan yang akan diberikan dalam penyelenggaraan Festival Film Purbalingga 2017 antara lain : Penghargaan Lintang Kemukus, Penghargaan Film Dokumenter Pelajar Terfavorit, Penghargaan Film Fiksi Pelajar Terfavorit, Penghargaan Film Dokumenter Terbaik dan Penghargaan Film Fiksi Terbaik.
Penghargaan Lintang Kemukus kepada Seniman Berdedikasi kategori Seni Kontemporer, diberikan kepada Syaikhul Irfan selaku penggerak Seni Teater Komunitas Kie Bae Sokaraja. Sedangkan Penghargaan Lintang Kemukus kategori Seni Tradisi diberikan kepada group seni Lengger Lanang “Ngudi Rayahu” dari desa Panusupan Kecamatan Rembang, Purbalingga.
Adapun judul-dudul film pelajar yang menyabet penghargaan dalam Festival Film Purbalingga tahun 2017 antara lain : FILM DOKUMENTER TERFAVORIT diraih oleh Film Beras Bosok Kanggo Rakyat karya Fajar Wiguna – Brankas Film, SMAN2 Purbalingga, FILM FIKSI TERFAVORIT diraih oleh film “Lintah Darat” karya Putri Zakiyatun Ni’mah – Sabuk Cinema SMA Negeri Bukateja Purbalingga. Kemudian Film berjudul “Kesambet” yang disutradarai oleh Ilman Dafai – Gerilya Pak Dirman SMA N 1 Rembang Purbalingga meraih penghargaan FILM FIKSI TERBAIK. Sedangkan Film Berjudul “Urut Sewu Bercerita” sutradara Dewi Nur Aeni  – SMK N 1 Kebumen raih penghargaan sebagai FILM DOKUMENTER TERBAIK Festival Film Purbalingga 2017.
Agustina Nurtika selaku editor dalam film Urut Sewu Bercerita menceritakan pengalamanya. Dirinya bersama teman-teman sempat merasa takut saat memproduksi film ini. Karena saat mengambil gambar di perkebunan, ada beberapa tentara yang mengawasi. “Yaa takut, karena film ini kan ada hubunganya sama tentara, waktu produksi kita diawasi” ungkap gadis cantik berkerudung pink yang mewakili Dewi Nur Aeni menerima penghargaan di Panggung Festival Film Purbalingga 2017.
Dimalam Penganugerahan Festival Film Purbalingga 2017 ini, hadir beberapa pejabat perfilman dari Badan Perfilman Indonesia (BPI) seperti Adrian Jonathan Pasaribu – Ketua Bidang Apresiasi, Literasi dan Pengarsipan (BPI), Leni Lolang – Ketua Bidang Festival Dalam Negeri dan Penghargaan (BPI), Tito Imanda – Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan (BPI),  Maman Wijaya – Ketua Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Serta Rosalis R Adenan – Direktur Antar Lembaga Luar Negeri, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Indonesia . Mereka semua hadir menyaksikan gelaran Festival Film Purbalingga 2017, duduk bersama sejajar dengan para pembuat film dan penonton yang saat itu hadir memadati malam Penganugerahan Festival Film Purbalingga 2017. (*san)
https://sangkanparan.com/2017/08/07/pelajar-kebumen-raih-penghargaan-festival-film-purbalingga-2017/

Sabtu, 22 Juli 2017

Penetrasi Nilai Pancasila Melalui Seni Dinilai Lebih Efektif

Reporter: Akhmad Muawal Hasan
22 Juli, 2017

Peserta mengikuti Ngabuburit Mural Pancasila di Stadion Kridosono, DI Yogyakarta, Minggu (18/6). ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah

Yudi Latif mengatakan penanaman nilai-nilai Pancasila kepada masyarakat saat ini perlu dilakukan dengan memanfaatkan instrumen seni, bukan hanya dengan instrumen yang bersifat memaksa.

tirto.id - Yudi Latif selaku Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila mengatakan bahwa upaya penetrasi alias memasukkan nilai-nilai Pancasila ke dalam jiwa masyarakat Indonesia akan lebih efektif dengan memanfaatkan medium seni. Seni itu sendiri bermacam-macam, mulai dari seni musik, film, hingga tarian. 

"Kalau dulu-dulu kan seolah-olah (penanaman Pancasila) dengan cara memaksa, penetrasinya tidak canggih. Sekarang perlu memanfaatkan seni," kata Yudi saat berbicara dalam Kongres Pancasila IX di Balai Senat, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Sabtu (22/7/2017) sebagaimana dikutip Antara.

"Sekarang bagaimana agar Pancasila bisa menyusup ke pori-pori melalui instrumen yang memiliki soft power dan instrumen paling canggih adalah melalui seni mau itu musik, film, atau tarian," imbuhnya.

Konsep pendekatan melalui instrumen seni, menurut Yudi, tidak jauh berbeda dengan cara-cara yang digunakan untuk menyebarkan agama pada masa lalu.

"Kalau kita tahu penyebaran berbagai agama di Indonesia itu di masuk melalui perangkat gamelan, kidung, serta macapat," kata dia.

Dalam konteks saat ini, lanjut Yudi, penanaman Pancasila harus lebih inovatif dan kreatif. Misalnya, dengan menggandeng generasi muda membuat animasi atau simbol-simbol yang seluruhnya merujuk pada Pancasila. 

"Kita perlu imajinasi-imajinasi anak muda, bikin animasi atau simbol yang merujuk pada angka lima. Sehingga apapaun yang lima akan diasosiasikan dengan Pancasila. Cara ini kelihatannya sepele tetapi powerfull," kata dia.

Yudi menyayangkan, pendekatan penanaman nilai Pancasila semacam itu belum pernah dibangun. Penanaman Pancasila yang dilakukan pemerintah sejak dahulu lebih bersifat top-down, cenderung memaksa, dan tanpa sentuhan estetika. 

"Padahal konsep ideologi Pancasila sangat tepat untuk Indonesia yang bukan hanya multi etnis, agama, namun juga multi ras," kata dia.

Ia prihatin hingga saat ini masih menemukan pihak-pihak yang khawatir Pancasila akan menggantikan atau merusak agama, sementara Pancasila dan agama tidak setara dan tidak bisa diperbandingkan. Ia mengilustrasikan agama seperti tower-tower yang menjulang vertikal sedangkan Pancasila adalah jembatan yang menghubungkan agar penghuni tower-tower itu bisa saling berkomunikasi.

"Makanya kita sering mengatakan jangan mem-Pancasilakan agama dan jangan meng-agamakan Pancasila," kata Yudi.
  

(tirto.id - awa/awa)

https://tirto.id/penetrasi-nilai-pancasila-melalui-seni-dinilai-lebih-efektif-ctfg


Kamis, 13 Juli 2017

Layar Tanjleb FFP 2017 Sambangi Kebumen

Thursday, 13 July 2017 16:11

Festival Film Purbalingga (GATRAnews/Ridlo Susanto/AR7)

Kebumen, GATRAnews – Program unggulan Festival Film Purbalingga, ‘Layar Tanjleb’ dibentangkan untuk pertamakali di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Ini merupakan kali pertama FFP 2017 diikuti oleh wilayah berslogan ‘Beriman’ itu.


“Sebelumnya hanya empat kabupaten, yaitu Purbalingga, Banyumas, Banjarnegara dan Cilacap. Artinya, program layar tanjleb dan kompetisi film pelajar melibatkan kabupaten yang beberapa tahun terakhir pelajarnya aktif memproduksi film,” kata Koordinator Program Layar Tanjleb FFP 2017 Canggih Setyawan, Kamis (13/7).

Dia menjelaskan, pemutaran film di Kebumen ini dilakukan setelah pembukaan FFP yang memasuki tahun ke-11 dengan layar tanjleb di Desa Kramat, Kecamatan Karangmoncol, Purbalingga. Layar dibentangkan di lapangan Desa Kemujan, Kecamatan Adimulyo dan Desa Peniron, Kecamatan Pejagoan, Kebumen.

Canggih menjelaskan, film-film utama diputar di seluruh lokasi layar tanjleb, yaitu ‘Ayo Main!’ sutradara Bambang Ipoenk, ‘Kukudan’ sutradara Bowo Leksono, ‘Turah’ sutradara Wicaksono Wisnu Legowo, dan ‘Balada Bala Sinema’ sutradara Yuda Kurniawan.

“Selain film utama, turut mendampingi film-film itu adalah film pelajar yang turut berkompetisi di FFP 2017. Jumlahnya ada 38 film. Kita sesuaikan dengan lokasi pemutaran ‘Layar Tanjleb’,” jelasnya.

Menurut Canggih, di Kebumen, program Layar Tanjleb dilaksanakan sama seperti kabupaten lain. FFP melibatkan kelompok pemuda desa sebagai panitia lokal. “Kesuksesan program layar tanjleb salah satunya bergantung pada kesiapan dan kesigapan panitia lokal,” imbuhnya.

Sementara, Wakil Komunitas Kedung Kebumen, Puput Juang Restu mengatakan, keterlibatan Kabupaten Kebumen di FFP tahun ini sekaligus menandai resminya Kebumen masuk dalam Jaringan Kerja Film Banyumas (JKFB) bersama CLC Purbalingga dan Sankanparan Cilacap.

“Kami tidak ingin bekerja sendirian, karenanya dibutuhkan berjejaring dengan kota-kota lain yang sudah lebih dulu pergerakannya,” jelasnya.

Setelah Kebumen, direncakan layar tanjleb FFP 2017 kembali ke Purbalingga tepatnya di Desa Karanglewas, Kecamatan Kutasari dan ke Banjarnegara yaitu Desa Pakikiran, Kecamatan Susukan.
Reporter: Ridlo Susanto
Editor: Rosyid
https://www.gatra.com/entertainment/film/273723-layar-tanjleb-ffp-2017-sambangi-kebumen#.WWdZLwXZePw.facebook

Senin, 10 Juli 2017

Pembukaan FFP 2017 Berlangsung Meriah

Senin, 10 July 2017, 09:36 WIB
Red: Hazliansyah 

"Layar Tanjleb" dalam pembukaan Festival Film Purbalingga (FFP) 2017

REPUBLIKA.CO.ID, PURBlLINGGA -- Sebelas kali pemukulan gong oleh Bupati Purbalingga H. Tasdi, S.H., MM menandai dimulainya gelaran Festival Film Purbalingga (FFP) 2017. Pembukaan festival film yang memasuki tahun ke-11 ini dilaksanakan di lapangan Desa Kramat, Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga pada Sabtu malam, 8 Juli 2017.
 
“Kami sebagai pemimpin di Purbalingga hadir untuk mengapresiasi, ‘mbombongi’, sekaligus menyemangati kreativitas warga Kabupaten Purbalingga termasuk kreativitas anak mudanya. Dalam bidang film, kami berharap nantinya terus muncul generasi baru yang mengharumkan nama Purbalingga di kancah nasional bahkan internasional,” ujar bupati.
 
Ribuan warga Desa Kramat dan sekitarnya berkumpul di lapangan dari anak-anak hingga orang tua. Pedagang kecil dadakan pun menjajakan dagangannya di pinggiran lapangan. Bupati dan rombongan disambut kepala Desa Kramat dan camat Karangmoncol. Selain itu, hadir perwakilan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang pada penyelenggaraan FFP tahun ini menjalin kerjasama.
 
Muhammad Heykal mewakili kepala Deputi Hubungan Antarlembaga dan Wilayah Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mengatakan, ia dan rombongan tidak membayangkan akan semeriah ini program layar tanjleb FFP. 

“Kemeriahan di FFP tercipta dari warga desa yang memang selama ini jauh dari produk kreatif film. Kami semakin mantap untuk terus bekerja sama dengan CLC sebagai penyelenggara FFP,” jelasnya.
 
FFP yang digelar 8 Juli-5 Agustus 2017 terdapat banyak program, salah satu yang dipertahankan program unggulan layar tanjleb. Tahun ini, FFP melebarkan sayap kelima kabupaten di Bralingmascakeb. Usai pembukaan, program layar tanjleb akan menyambangi Kabupaten Kebumen pada 10-11 Juli 2017.


http://www.republika.co.id/berita/senggang/film/17/07/10/osusk0280-pembukaan-ffp-2017-berlangsung-meriah

Sabtu, 08 Juli 2017

Sastra untuk "Dunia yang Penuh Tipu Cedera"

Oleh: Dea Anugrah - 8 Juli 2017


Ilustrasi Amal Hamzah. tirto.id/Sabit

“Bersama, atau kalau terpaksa, tidak dengan Tuhan, kita akan maju dan mesti maju,” ujar Amal Hamzah, seorang penulis Indonesia pada masa pendudukan Jepang dan Revolusi.

Masa pendudukan Jepang di Indonesia, meski hanya berlangsung sejak Maret 1942 hingga Agustus 1945, menentukan banyak hal. Ia tak hanya "mematangkan revolusi" dalam konteks pergerakan nasional, tetapi juga dalam urusan bahasa dan kesusastraan.

Menurut M. Balfas dalam “Modern Indonesian Literature in Brief” (Literaturen, volume 1, 1976), administrasi Jepang menetapkan sensor ketat terhadap segala jenis terbitan di Indonesia sejak awal kekuasaannya. Mereka bahkan menghentikan penerbitan sejumlah surat kabar dan majalah, termasuk Pujangga Baru, majalah sastra paling berpengaruh di Indonesia pada masa itu. Namun, di sisi lain, Jepang menyukai karya-karya sastra romantik bertendens nasionalisme yang dipopulerkan majalah tersebut.

Nasionalisme romantik memudahkan propaganda Jepang. Mereka hanya perlu menambahkan omong-omong elok persaudaraan Asia Raya buat memelintir sentimen patriotik orang-orang Indonesia menjadi dukungan terhadap kampanye militernya. Pada poster-poster rekrutmen ketentaraan, misalnya, tertulis: “Saya Heiho Angkatan Laut. Mari serta dalam pembelaan tanah air!” dan “Saya berjuang dalam Tentara Pembela Tanah Air. Ikutlah!”

Banyak orang Indonesia, termasuk sejumlah intelektual dan seniman, menghirup abab Jepang itu dalam-dalam; salah satunya ialah Usmar Ismail, yang kelak menjadi tokoh penting perfilman Indonesia. Penuh keyakinan, Usmar muda menjerit dalam puisi “Kita Berjuang”: “Sebagai dendang menyapu kalbu,/Bangkit hasrat damba nan larang,/Ingin ke medan ridlah menyerbu:/'Beserta saudara turut berjuang!'”

Tetapi kesukaran hidup sehari-hari segera menyingkapkan kepalsuan dan kehampaan karya-karya semacam itu. Puja-puji mengerut di hadapan kelangkaan beras, terkelucak seperti tumit prajurit-prajurit Heiho dalam sepatu mereka yang bermutu rendah. Orang-orang terbangun dan mimpi Asia Raya menguap ke udara.

Penderitaan yang intens, ujar Burton Raffel dalam The Development of Modern Indonesian Poetry (1967), membentuk para penulis Indonesia masa itu, terutama yang berusia muda dan baru mulai, jadi lebih kritis ketimbang pendahulu mereka. “Penulis-penulis Pujangga Baru memandang dunia lewat kaca romantisisisme yang berembun; sedangkan generasi baru, yang mengalami masa pendudukan Jepang, lebih condong kepada realisme yang sinis dan skeptis,” tulisnya.

Kita tahu Chairil Anwar, penyair yang membusungkan dada sebagai manusia merdeka di hadapan kolektivisme ternak a la Jepang, membangkitkan kekayaan bahasa Indonesia, serta menyediakan dasar bagi penulisan puisi kita hingga kini.

Kita tahu Idrus, pionir penulisan prosa yang kaya tetapi sangkil, yang cerita-cerita pendeknya secara akurat menampilkan kehidupan dan hubungan antar manusia pada masa perang lewat keterusterangan dan humor pahit. H.B. Jassin dan Balfas menyebut gaya penulisan Idrus sebagai “kesederhanaan baru.” Gaya itu mempengaruhi banyak penulis Indonesia di kemudian hari; termasuk Pramoedya Ananta Toer, dan Pramoedya, dalam sebuah wawancara pada 1995, menyebut Idrus sebagai "stylist terbesar sampai saat ini."

Kita kerap membicarakan mereka. Merekalah representasi “Angkatan 45.” Merekalah “orang besar” dalam puisi Chairil “Catetan Th. 1946.” Namun, kata sang penyair kemudian, bukan hanya mereka yang patut dibicarakan. Rekan-rekan sezaman mereka yang jarang atau tak pernah kita dengar, yang “tenggelam beratus ribu”, juga “harus dicatet” dan “dapat tempat.” 
Infografik Amal Hamzah

Salah satu penulis Angkatan 45 yang menarik tetapi relatif jarang dibicarakan ialah Amal Hamzah. Ia lahir di Binjai, Langkat, Sumatera Utara, 31 Agustus 1922, sebagai putra wakil sultan Langkat Tengku Muhammad Adil. Salah satu kakaknya, berusia 11 tahun lebih tua, adalah penyair terbaik Pujangga Baru: Amir Hamzah. 

Sejak muda, Amal membaca sastra Melayu, karya-karya penulis India Rabindranath Tagore, dan karya-karya kakaknya. Dengan pengaruh bacaan demikian, wajar bila pada mulanya ia menulis dengan pembawaan romantik. Namun, sebelum masa formatifnya selesai, ia mengalami zaman pendudukan Jepang. 
H.B. Jassin menulis tentang Amal dalam Kesusastraan Indonesia di Masa Jepang (1948): “Meskipun dia banyak menerjemahkan Rabrindanath Tagore, sajak-sajaknya sendiri yang ditulisnya semasa Jepang penuh dengan rasa benci, dendam dan berontak terhadap masyarakat dan dunia sekeliling. Dan dalam putus asanya ia menjadi materialis yang sekasar-kasarnya.” Sedangkan Jakob Sumardjo, dalam Lintasan Sastra Indonesia Modern 1 (1992), menyatakan bahwa masa pendudukan Jepang menjadikan karya-karya Amal mengarah kepada naturalisme, yang menampilkan kenyataan secara kotor dan busuk. 
Dalam puisinya yang paling populer, “Melaut Benciku”, Amal mencampakkan pandangan umum orang Indonesia tentang kesucian hubungan suami-istri, dan secara terus-terang menyebutnya “pelukan cinta berahi” yang menghasilkan “benih membusuk diri”, “tercampak ke dunia sebagai hasil nafsu kedua.” Sedangkan dunia ini, baginya, “penuh tipu cedera.” 

Dalam puisi “Kesombongan”, ia mengaku tak peduli apakah jiwa manusia abadi atau tidak, hanya, “Satu padaku: Hari yang kuhadapi akan kureguk sepuas-puasnya.” Lumayan. Namun, puncak kekasaran Amal, yang mungkin membuat Jassin yang saleh merinding, ialah puisi “Sembrono.” Dalam puisi itu jugalah Amal Hamzah mencapai salah satu pengucapan puitiknya yang paling lentur sekaligus bertenaga: 

Tapi aku orang sembrono
Bermain bersenda dengan neraka! 

Kurangkum neraka bermulut api
Kuterjang sekali segala ajaran suci! 

Pandangan dunia yang gelap itu juga muncul dalam karya-karyanya selain puisi. Dalam kumpulan esainya yang berjudul Buku dan Penulis (1950), Amal Hamzah menyatakan: “Filsafat yang mengatakan bahwa kita di akhirat nanti mendapat kebahagiaan dan kesenangan yang berlipat ganda dari si kafir, yang sekarang naik mobil dan naik kapal terbang, adalah filsafat orang gila. Bersama, atau kalau terpaksa, tidak dengan Tuhan, kita akan maju dan mesti maju.” 
Amal Hamzah, kata Jassin, adalah “orang kenyataan yang mengejek dan mengutuk kenyataan”, tetapi ia “tak sepatutnya direndahkan, seperti juga kita tidak akan merendahkan jago naturalis [Emile] Zola yang … dengan kepahitan jiwanya membongkar yang busuk-busuk dan kotor-kotor, yang orang penjijik tak suka melihat serta mengerjakannya. Sebab kehidupan bukan cita-cita saja dan bukan kenyataan saja, tapi persatuan keduanya.” 
Berbeda dari para penulis Pujangga Baru, penulis-penulis terbaik Angkatan 45 umumnya tahu bahwa mereka bukanlah katib sembahyang Jumat. Mereka juga cenderung tak menggawat-gawatkan perkara, menampilkan konflik dan kontradiksi dalam hidup sehari-hari secara wajar. Dan yang paling menarik: sekalipun hidup di masa perang, masa yang bahkan tak mengizinkan mereka menonton sandiwara sampai selesai (Chairil menulis: “Tidak tahu Romeo & Juliet berpeluk di kubur atau di ranjang”), merekalah generasi penulis Indonesia pertama yang mempelajari kesusastraan dunia secara luas.

Dari angkatan Pujangga Baru, ada Sutan Takdir Alisyahbana yang tak pernah bisa menutup mulut tentang keharusan belajar kepada Barat, tetapi bahan pelajarannya terbatas pada kelompok Tachtigers atau penulis-penulis Romantik Belanda era 1880an. Jika dibandingkan dengan usaha Angkatan 45 mempelajari dan menerjemahkan karya-karya puncak kesusastraan dunia (Dostoyevsky, Tolstoy, Chekhov, Pushkin, Ehrenburg, Rilke, Gide, Malraux, Saint Exupery, de Maupassant, Huxley, Hemingway, Steinbeck, dan lain-lain), studi Takdir cuma kelihatan seperti pengisi waktu luang bini pejabat yang tercekik kebosanan. 
“Pelajaran-pelajaran itu membangkitkan kesadaran penulis-penulis kita atas kelemahan dan kegagalan mereka selama ini, baik dalam hal isi maupun bentuk. Sebelum masa pendudukan Jepang dan Revolusi, tak pernah kaum intelektual Indonesia menyadari bahwa mereka begitu terbelakang,” tulis Raffel. 
Pada 1943, Chairil menyatakan situasi itu di buku hariannya (kemudian dalam sebuah pidato di Pusat Kebudayaan) dengan cara lain, yang lebih brutal: “Seni kita sampai kini masih dangkal-picik benar. Tak lebih dari angin lalu saja. Menyejukkan kening dan dahi pun tidak!” Dan sebabnya, menurut Chairil, adalah sikap kebanyakan seniman Indonesia yang mengandalkan “wahyu” atau inspirasi alih-alih kerja intelektual dalam mencipta. 
“Kalau diturut mereka, maka pikiran dan dasar seni atau pilsapat itu datangnya sebagai cahaya surya dari langit, memanaskan kita dan jenak itu juga matang! Akibatnya: Ange’ ange’ ciri’ ayam!” ia melanjutkan. 
Padahal, kerja kesusastraan seharusnya berarti “menimbang, memilih, mengupas dan kadang-kadang sama sekali membuang. Sudah itu baru mengumpul-satukan”, tak bisa setengah-setengah, sebab “jika kerja setengah-setengah saja, mungkin satu waktu nanti kita jadi impropisator. Sungguhpun impropisator besar, tapi hasil seni impropisasi tetap jauh di bawah dan rendah dari hasil seni cipta.”

Reporter: Dea Anugrah
Penulis: Dea Anugrah
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti

Jepang memanfaatkan sentimen patriotik orang-orang Indonesia untuk kampanye militernya

Source: Tirto.Id 

Senin, 05 Juni 2017

Literasi Tak Sekadar Baca-Tulis

Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid menjadi pembicara dalam Diskusi Literasi yang digelar Tempo Institut, Senin 5 Juni 2017. 

Penulis : 
Benjamin Tukan 

JURNALTIMUR.COM,- Literasi yang sekarang banyak menjadi perhatian komunitas ternyata tak sekadar persoalan minat baca dan menulis, dan tidak berhenti hanya memperlapang akses terhadap bacaan. 

Di tengah membanjirnya informasi yang didukung dengan kemajuan teknologi informasi, persoalan literasi mesti terarah pada kemampuan menciptakan dan mendistribusikan pengetahuan, hingga pengetahuan itu dapat bermanfaat bagi ekonomi berkeadilan.

Perhatian terhadap literasi pun mesti melihat perkembangan yang terjadi di sekolah terutama dalam perkembangan bacaan untuk anak-anak. Lingkungan sekolah dan peran komunitas dalam masyarakat dipandang sangat penting menumbuhkan budaya literasi.

Pendapat ini mengemuka dalam diskusi yang digelar Tempo Institut di Gedung Tempo, Jakarta, Senin (5/6/2017). Diskusi  bertajuk "Dunia Literasi Kita: Dampaknya bagi Ekonomi Berkeadilan” dipandu Direktur Eksekutif Tempo Mardiyah Chamim. 

Narasumber dalam diskusi ini Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid, Sosiolog Imam Prasodjo, Pemerhati Sastra Murti Bunanta dan Afi Nihaya Faradisa. 

Hilmar Farid mengatakan masalah literasi bukan lagi masalah akses. Anak-anak habis watunya untuk membaca pelajaran dan problem pendidikan yang paling mendasar adalah jumlah pelajaran. 

"Mungkin full day school yang sebetulnya jadi jawaban karena yang diinginkan adalah menambah waktu belajar mengurangi pelajaran. Dengan begitu, anak-anak lebih banyak punya waktu berinteraksi dengan sesama dalam urusan pengembangan diri,"kata Fay sapaan Hilmar Farid. 

Menurut Fay, anak-anak sekarang banyak yang stress karena selama ini beban pelajaran yang terlalu banyak dipundak. "Itu beban dan saya kira itu sudah menjadi pengetahuan umum," kata pemikir kebudayaan ini. 

Menurutnya, dalam implementasi pendidikan di sekolah, kecendrungan menyelesaikan teknis sangat kuat dengan variasi di setiap satuan pendidikan. Karena itu dalam hubungan dengan literasi, sarannya, satuan pendidikan mesti terhubung dengan aktivitas literasi. 

Dia menyebutkan, sekarang ada gerakan gerakan literasi nasional  yang dikerjakan Dirjen PAUD yakni menggabungkan kreativitas literasi dengan satuan pendidikan. 

Dia mengakui, walau bukan ahli dalam perkembangan pendidikan anak, Indonesia perlu mempunyai kanon yang mencantumkan karya yang kita anggap pantas harus dibaca seoran anak selama masa sekolah, minimal dalam 12 tahun. 

Minat terhadap membaca mesti semacam kewajiban untuk membaca, memberikan landasan yang sama agar minat bisa tumbuh, walau sebetulnya tidak semua pekerjaan memerlukan membaca.

"Rasanya sekarang ini dibandingkan 20 tahun lalu, minat baca tidak turun. Anak remaja sekarang dengan tablet disuguhkan literasi yang menggabungkan image, bunyi menjadi satu. Proses literasi tidak bergantung dengan aksara. Apakah ini kurang literasi dengan sebelumnya saya kira tidak.  Digital leterasi menjadi besar. Anak-anak sudah instingtif," katanya. 

Dengan perkembangan teknologi digital, dia menyarankan agar masyarakat terus memperbaharui kemampuan literasi dengan tidak pandang usia dan pendidikan. 

Afi Nihaya Faradisa mengakui anak-anak sekolah sekarang dibebani dengan banyaknya pelajaran. "Di sekolah 16 subyek mata pelajaran yang harus dituntaskan. Jika tidak meraihnya, nilai kita tidak tuntas. Waktu untuk membaca tidak ada kalau tidak meluangkannya,"kata Afi. 

Menurut Afi, anak-anak atau teman-teman seusianya tidak tertarik dengan bacaan-bacaan lain di luar bacaan pelajaran, karena yang dianggap buku adalah buku pelajaran. Dia menyarankan agar pemerintah dapat mengurangi pelajaran dan sekolah lebih mengarahkan perhatian pada menumbuhkan minat baca. 

Pemerhati Sastra Murti Bunanta mengatakan belum ada perhatian yang serius terhadap bacaan anak-anak termasuk masih minimnya kritikus sastra anak. 

Sementara Sosiolog Imam Prasodjo mengatakan literasi harus masuk pada soal pengemas dan pendistribusian pengetahuan. Pengemas pengetahuan memerlukan kerja tersendiri, Dari pengetahuan baru kemudian dapat digunakan untuk menjawabi kebutuhan termasuk dalam bidang ekonomi.***

http://www.jurnaltimur.com/2017/06/literasi-tak-sekadar-baca-tulis.html

Sabtu, 06 Mei 2017

Utuy T. Sontani: Kisah Cinta yang Tak Kunjung Kering

Oleh: Irfan Teguh - 6 Mei 2017

Utuy Tatang Sontani

Raksasa Indonesia dalam genre penulisan drama, yang hidupnya mengalami banyak kegagalan asmara, hingga akhir hayatnya.
“Nama dan bukunya yang di waktu-waktu yang lalu berkumandang ke seluruh penjuru Indonesia hampir-hampir dilupakan dan menjadi kenang-kenangan belaka. Hanya kadang-kadang dramanya terdengar dimainkan dengan minta nama Utuy T. Sontani muncul di alam pikiran sebagai raksasa dramaturg yang terbesar di masanya,” tulis Pramoedya Ananta Toer dalam buku Menggelinding 1.
Utuy Tatang Sontani lahir di Cianjur pada 1 Mei 1920. Sebelum menjadi eksil dan meninggal di Moskow dan dilupakan orang, ia adalah penulis drama terkemuka di Indonesia. Karya-karyanya—bahkan sampai sekarang—kerap dipentaskan di berbagai panggung.

Utuy banyak menimba daya kreatif dari mata air kegagalan percintaannya. Dengan menyampaikan informasi itu, tulisan ini tak bermaksud mengerdilkan Utuy, melainkan justru memandangnya sebagai manusia dengan segenap kerumitan pengalamannya, manusia yang lengkap, bukan sekadar “pengarang penting yang tersia-sia.” Siapa, memangnya, yang tak pernah remuk redam karena asmara?

Dalam memoarnya Di Bawah Langit Tak Berbintang, Utuy bercerita bahwa ia adalah anak seorang saudagar batik di Cianjur. Kakaknya sempat belajar di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah yang memakai bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar serta hanya menampung anak-anak ningrat dan kaum kaya. Tetapi si kakak keburu mati dimakan wabah pes sebelum menyelesaikan sekolah.

Utuy sendiri mulanya disekolahkan di sekolah Desa karena situasi keuangan keluarganya memburuk. Kemudian, setelah bisnis ayahnya mulai pulih, ia dipindahkan ke sekolah Schakel atau sekolah perantara antara sekolah dasar Ongko Loro (Kelas Dua) dan sekolah menengah Middelbare Universile Laager Onderwijs (MULO). Di sekolah itu ada pelajaran bahasa Belanda. Namun, pada tahun keduanya di sekolah itu, Utuy minggat.
“Soalnya sederhana. Karena aku kurang baik menghafal, aku disetrap, disuruh berdiri di depan kelas. Dan karena aku merasa dibikin malu, keesokannya aku pun tidak masuk sekolah. Dan karena aku tidak masuk sekolah, maka ketika aku datang lagi ke sekolah, aku disetrap lagi—kali ini oleh Belanda kepala sekolah, dengan dikatakan pula kepada murid-murid lainnya, ‘Ni dia, contoh anak Inlander!’”
Sekali waktu, ketika Utuy bersekolah di Taman Siswa, ia bertetangga dengan keluarga ningrat pensiunan amtenar pegadaian. Keluarga itu mempunyai seorang anak angkat perempuan. Hati Utuy panas. Meski sama-sama berusia 15 tahun, gadis itu telah duduk di kelas enam—sementara ia kelas lima—dan gadis itu pandai berbahasa Belanda karena bersekolah di HIS.

Entah kepalanya terbentur apa, Utuy kemudian mendapat gagasan supaya si gadis balik mengagumi dia: menulis. Ia mengirimkan puisi dan cerita pendek ke koran Sinar Pasundan. Utuy menggunakan nama pena Sontani, yang diambil dari karakter novel berjudul Pelarian dari Digoel, karya yang tidak diketahui siapa pengarangnya, tampaknya seorang Digoelis. Novel tersebut diperkenalkan kepadanya oleh Wiranta, seorang Digoelis yang menulis Boeron dari Digoel, yang juga adalah paman si gadis yang disukai Utuy (C.W. Watson, Of Self and Injustice: Autobiography and Repression in Modern Indonesia, hal. 90).

Naskah yang ia kirimkan ke Sinar Pasundan ternyata disambut baik oleh redaktur dan ditayangkan. Berkat itulah pihak sekolah memberi Utuy kesempatan untuk melanjutkan sekolah ke Taman Dewasa di Bandung tanpa ujian. Ia pindah bersama keluarganya karena ayahnya juga hendak membuka restoran di Bandung. Namun, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak: baru sekolah empat bulan di Bandung, Utuy harus kembali ke Cianjur karena bisnis ayahnya rontok. Tak lama setelah itu, kedua orangtuanya bercerai. Ayahnya pergi entah ke mana, meninggalkan ia dan ibunya dalam rumah yang kosong tanpa perabotan dan gelap tanpa aliran listrik.

Ibunya kemudian memutuskan untuk menggadaikan rumah tersebut, lalu mereka kembali ke Bandung. Dua tahun di kota itu, Utuy mendengar kabar bahwa gadis tetangga yang ia sukai menikah dengan seorang pegawai pegadaian.
“Berita itu cukup membikin aku jadi terhuyung-huyung beberapa hari lamanya,” tulis Utuy. Namun, pada tahun yang sama, ia berhasil menulis dua karya: Mahala Bapa(Membinasakan Bapak) dan Tambera, keduanya dalam bahasa Sunda.
Di Bandung, Utuy dititipkan di rumah seorang janda tua—tukang jahit yang pernah menjadi pembantu ayahnya sewaktu masih berjualan batik. Utuy tidur dan menulis di tempat yang sama, yaitu di atas selembar tikar yang dibentangkannya di balik pintu. Suatu hari, ketika ia menulis, seorang perempuan muda dengan wajah dan perawakan Indo-Eropa berkunjung.

Perempuan itu kerabat si janda tukang jahit. Nama panggilannya Onih, dari Nonih, sebutan yang lazim untuk anak-anak perempuan Indo. Bapak Onih memang orang Belanda, seorang penguasa perkebunan, sedangkan ibunya gundik. Setelah jumpa berkali-kali, Onih dan Utuy saling menyukai.

Sekali waktu Utuy hendak pergi ke tempat tinggal Onih, namun dilarang oleh induk semangnya. “Jangan! Biar dia saja yang datang ke sini,” ujarnya. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan.

Namun, Utuy yang penasaran terus menerus mendesak induk semangnya agar memberitahukan alamat Onih.
“Kalau di sana ditemukan hal-hal yang tidak menyenangkan, jangan Dadang bertambah menyesal lagi,” ujar perempuan itu.
Tiba di tempat tujuan, Utuy mendapati rumah panjang dengan banyak pintu. Pintu kamar tempat Onih tertutup. Saat pintu itu terbuka, seorang laki-laki keluar sambil membetulkan pecinya. Utuy menyelonong masuk dan melihat Onih yang hanya bersarung dan telanjang dada. Perempuan yang ia cintai ternyata seorang pekerja komersial.

Onih si pekerja seks komersial, atau cabol dalam bahasa Utuy, lantas menjelma jadi tokoh Titi dalam lakon karangannya Selamat Jalan Anak Kufur.
“Laki-laki gila. Setelah masuk kamar, dia tidak berbuat apa-apa selain duduk terdiam kaya tihul. Diajak tidur menggelengkan kepala. Setelah lama terdiam, tiba-tiba dia berair mata. Dan setelah ditanya apa sebabnya bukan dia menyahut, tapi jatuh terguling kaya orang sekalor. Lantas dia memeluk kaki sambil menangis. Saya jadi jengkel. Tidak tahan. Terus saya sepak, saya suruh keluar,” ujar Titi kepada germonya dalam lakon itu.
Yang menarik, istilah “kufur” dalam lakon itu tak merujuk kepada praktik prostitusi, melainkan sikap Titi yang menyimpang dari cabol pada umumnya.
“Cabol itu tidak lebih dan tidak kurang dari perempuan sewaan. Dan sekali kau jadi cabol, pendirian itu mesti kau jadikan pegangan. Lepas dari pegangan itu, kau jadi orang kufur,” bentak Si Ibu. “Ya, kufur. Orang Islam yang melanggar agama Islam disebut kufur sebagai orang Islam. Maka cabol yang tidak bertindak sebagai cabol pun kufur sebagai cabol,” kata tokoh germo kepada Titi.
Utuy menyudahi kisah tersebut dengan kepergian Titi bersama Rais, tukang becak yang kerap mengantarkan tamu ke tempat Titi. Menurut si cabol, Rais punya pendirian tegas dan karena itulah ia berminat kepadanya.

Selain menampilkan potret nyata dan umum tentang praktik pelacuran di masyarakat, lakon itu juga menghadirkan pengalaman personal Utuy. Secara tak langsung, ia menyatakan bahwa ada tarik-menarik antara laku asusila dengan kodrat manusia yang mengharapkan sebuah hubungan yang normal.

Dalam lakon Awal dan Mira, Utuy lagi-lagi menjadikan sebagian pengalamannya dengan Onih sebagai bahan. Mira, sebagaimana Onih yang dikenal Utuy sebelum pertemuan yang menghancurkan hatinya di rumah bordir, adalah seorang penjaga kedai kopi cantik, dan kecantikannya itulah yang membuat pengunjung laki-laki berdatangan. Berlatar tahun 1951, dua tahun setelah Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia, Utuy menghamparkan situasi kacau di mana orang-orang tak dapat saling percaya.
“Di zaman ini, di mana ada manusia? Maksud saya manusia yang bisa dipercaya? Memang, Mira, sebagai orang tua, hidup di zaman sekarang ini, aku pun sering bertanya-tanya, apakah dunia sekarang sudah akan kiamat? Di mana-mana terjadi kekacauan, di mana-mana terjadi penggedoran, perampokan, pembunuhan, seolah-olah sudah tidak ada lagi cinta di antara sesama manusia,” ujar seorang pengunjung kedai kopi kepada Mira.
Awal adalah pemuda berbadan ringkih dan pemarah yang mencintai Mira. Situasi pascaperang membuatnya putus asa. Di kedai kopi Mira, setiap kali ada yang menyalakan radio, Awal mencak-mencak dan menyuruhnya mematikan radio tersebut.
“Apa arti golongan atas di zaman edan seperti sekarang ini? Sangka ibu perempuan yang tadi berpidato di radio itu dari golongan atas? Perempuan bicara asal berbunyi? Orang-orang semacam itulah yang mengusai masyarakat kita sekarang, orang-orang yang maunya mengatasi orang lain dengan bicara terus bicara, tak tahu jiwanya sendiri kering-dangkal, dunianya sendiri sempit. Lebih sempit dari ini: kedai-kopi!” kata Awal kepada tokoh Ibu Mira yang menyalakan radio di depannya.
Berbeda dari Titi dalam Selamat Jalan Anak Kufur, Mira tak menyambi sebagai pelacur. Namun, bukan berarti nasib mereka tak paralel. Keduanya ialah korban keadaan. Jika Titi—dan Onih dalam hidup Utuy—menjadi pelacur karena tak ada cara lain yang mereka ketahui untuk bertahan hidup, Mira cacat karena perang.
“Inilah kenyataanku. Kakiku buntung. Buntung karena peperangan. Tapi lantaran inilah Mas, lantaran ke atas aku cantik ke bawah aku cacat, selama ini aku bagimu merupakan teka-teki,” kata Mira kepada Awal.
Drama Bunga Rumah Makan berkisah tentang seorang gadis cantik bernama Ani. Ia sebatang kara dan bekerja di sebuah rumah makan.

Seperti dalam dua lakon sebelumnya, Utuy kembali menghadirkan tokoh laki-laki yang menyadarkan karakter gadis cantik. Iskandar, seorang gelandangan, mengingatkan Ani bahwa ia hanya dijadikan penarik pelanggan—dengan kata lain, dijual juga—oleh pemilik rumah makan.
“Aku memang gelandangan. Tapi bagiku lebih baik gelandangan daripada kau, diam di sini untuk jadi boneka yang mendagangkan kecantikan!” ujarnya.
Dan sebagaimana yang sudah-sudah, Ani akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja dari rumah makan tersebut dan pergi bersama Iskandar. 

Kisah-kisah dalam tiga lakon itu adalah artefak pengalaman Utuy yang jatuh hati kepada Onih. Ia sendirilah yang menyatakan itu dalam memoarnya.
“Apa dan siapa Onih itu, asal kau teliti memeriksanya, akan kaujumpai dia dalam berbagai karanganku. Dan sekalipun sudah berpuluh tahun lamanya aku berpisah dengan dia, nama dan kedudukannya sebagai pelacur itu masih terus meminta tempat untuk ditulis; sedang peranan wanita penjual kopi dengan suasana di sekitarnya berkali-kali pula muncul di dalam drama-dramaku. Ini tidak lain, karena haru yang kurasakan akibat perkenalan dengan dia itu bagiku tak ada habis-habisnya.”

Infografik Utuy Tatang Sontani


Ada pula pantulan diri Utuy—atau, setidaknya, apa-apa yang dibayangkan Utuy tentang dirinya sendiri—dalam karakter Rais, Awal, dan Iskandar. Mereka bukan tipe laki-laki penggoda, terus terang, tetapi cenderung terpinggirkan. Pada mulanya, mereka tampak remeh namun senantiasa muncul sebagai juru selamat.

Meski kerap mengolah pengalaman pribadinya, Utuy tak berhenti sebatas itu. Ia justru menjadikannya pijakan buat mengangkat soal-soal rumit dan gawat yang disaksikannya: pelacuran, kondisi pascaperang yang menggiriskan, dan kekayaan watak manusia.

Menjelang kejatuhan Sukarno, Utuy yang sudah bergabung dengan Lekra, pergi ke Cina. Kepahitan pun datang: Utuy tak bisa kembali ke Indonesia karena pergantian rezim. Ia dianggap bagian dari PKI, sebagaimana ribuan pelajar dan mahasiswa lain yang sedang menuntut ilmu di negara-negara kiri, sehingga tak bisa kembali pulang.

Ia terpisahkan dari keluarganya, termasuk dari istrinya. Kerinduan pun menumpuk, dan menebal, dari waktu ke waktu. Salah satu yang ia lakukan untuk menawarkan kerinduan pada istrinya adalah dengan merepro foto istrinya. Saat ia wafat pada 1979, repro foto istrinya itu sudah sangat banyak, tanda bahwa Utuy merepro foto istrinya dari waktu ke waktu, terus menerus.

Lakon-lakon Utuy tak hanya menjadikannya sebagai “Raksasa dramaturg yang terbesar pada masanya”, tetapi juga memberitahu kita bahwa tak ada kehidupan yang terlepas dari situasi sosial. Dan karena itulah, kesedihan pribadi Utuy dapat menjelma jadi—meminjam kata-katanya sendiri: haru yang tak kunjung kering.

Reporter: Irfan Teguh
Penulis: Irfan Teguh
Editor: Dea Anugrah

Utuy Tatang Sontani adalah sastrawan penting Indonesia yang moncer karena prosa dan naskah-naskah dramanya.

Sumber: Tirto.Id 

Kamis, 27 April 2017

Chairil Anwar dan Politik


Chairil Anwar (lahir di Medan, 26 Juli 1922 dan meninggal di Jakarta, 28 April 1949), hidup di tengah revolusi bangsanya. Tumbuh dalam situasi krisis dan kritis sejarah bangsa Indonesia.
HB Jasin membaptisnya sebagai Penyair Pelopor Angkatan '45, meski periodesasi ini dikemudian hari dipersoalankan. Tapi apa yang tak dipersoalkan di negeri ini, ketika urusan bunga pun bisa membuat orang sibuk saling menilai?
Dalam suasana revolusioner itulah, di antara perang dan gagasan-gagasan besar dan bebas, Chairil memberontak atas segala yang mapan. Kehadiran dan karya-karya adalah simbol pemberontakan. Kata-katanya bak kuda liar, bertenaga.
Majalah Pembangoenan, Desember 1945, memuat esai Chairil Anwar, "Sekarang: Hoppla! Lompatan yang sejauh penuh kedara-remajaan bagi negara remaja ini. Sesudah masa mendurhaka pada Kata, kita lupa bahwa Kata adalah yang menjalar, mengurat, hidup dari masa ke masa, terisi padu dengan penghargaan, mimpi, pengharapan, cinta, dan dendam manusia. Kata ialah kebenaran!!!"
Ketika serbuan Tentara Sekutu Inggris dan NICA merangsek ke Jakarta, Nopember 1945, PM Sutan Syahrir memerintahkan TKR dan badan-badan perjuangan keluar dari Jakarta, untuk menghindari bentrok. Maka tentara Indonesia pun hijrah ke kawasan pinggiran seperti Cakung, Kranji, Pondok Gede, Bekasi, Tambun, Cikarang, Karawang dan Cikampek.
Kepindahan ini diikuti oleh pemerintahan dan masyarakat sipil, termasuk pedagang, wartawan, sastrawan, dan di antaranya Chairil Anwar dan keluarga. Dalam episode ini Chairil menjadi saksi pertempuran tentara Indonesia dengan Sekutu. Dari sinilah Chairil menulis puisi 'Krawang-Bekasi' yang sohor, setelah mengendapkan empat tahun kemudian.
Meski keponakan Perdana Menteri, Chairil bukan orang yang memanfaatkan hal itu. Walau justeru Syahrir sendiri sering memperkenalkan keponakannya itu kepada siapa saja. Dan Chairil memang banyak terlibat dengan kolega Syahrir ini, terutama para wartawan dan politikus. Ia pernah menjadi kurir penting bagi Sjahrir, pada awal Agustus 1945, ketika Jepang kalah dari Sekutu.
Tapi Chairil adalah manusia bebas yang biasa hidup seenaknya. Ia tak betah kerja kantoran, meski Bung Hatta pernah mempekerjakannya sebagai penerjemah di kantornya, karena bahasa Inggris dan Belanda Chairil yang bagus.
Chairil tampak dengan sengaja menghindar dari pertemuan-pertemuan politik dari sang paman dengan para pemuda. Pada November 1945, sebagaimana ditulis Syumanjaya dalam skenario 'Aku', Chairil tiba-tiba mengagetkan semua peserta rapat di rumah pamannya. Rapat politik yang penting itu berhenti sesaat, melihat Chairil nyelonong masuk. Semuanya menunggu, barangkali ada informasi penting.
Tapi apa kata Chairil? "Selamat pagi, Bapak Perdana Menteri. Ada yang sedang penting rupanya. Saya interupsi sebentar, cuma buat ini kok,..."
Chairil kemudian mencomot beberapa batang cerutu milik Syahrir. Kemudian bergegas meninggalkan ruangan itu. Begitu saja.. [sw]

Senin, 24 April 2017

Kisah Eva Christiane, Perempuan Jerman Perawat Wayang Kulit

25/04/2017, 14:59 WIB


Eva Christiane von Reumont saat tengah merawat sebuah wayang kulit.(Krisna Diantha)


BERN- Sebuah kabar gembira datang dari Swiss, khususnya dalam dunia wayang kulit.  Kini, Hanoman, Gatotkaca,  Arjuna hingga Petruk dan  Semar, bakal tidak "kesepian" lagi di Benua Biru itu. 

Adalah Eva Christiane von Reumont,  perempuan kelahiran Nordsee, Jerman Utara, yang bersedia menemani dan merawat ribuan wayang kulit yang terserak di puluhan museum di Eropa. 
"Wayang kulit itu sangat memesona,“ tuturnya ketika ditemui di salah satu kafe di Bern, Swiss belum lama ini. 
Eva bukan sekadar pemuja wayang kulit biasa, yang hanya mengumpulkan ribuan wayang kulit di rumahnya. 

Perempuan ini bahkan menulis wayang kulit secara ilmiah di Hochschule der Künste Bern, semacam sekolah tinggi seni, Swiss.   

Sebuah tesis berjudul Applying Western Conservation Restoration Ethics onto Javanese Wayang Kulit (Shadow Play) Puppet, mengantarkannya menjadi sahabat Hanoman, Gatotkaca, Arjuna, Petruk, Semar dan banyak lagi tokoh pewayangan. 

Dengan ijazah ini, Eva mampu merawat wayang kulit yang usianya mencapai ratusan tahun dan  tersebar di puluhan museum di ranah Eropa, secara profesional. Semua bermula di Berlin 2012, khususnya museum etnologi  di ibu kota Jerman itu. 
"Di situ saya menemukan figur wayang kulit Bali, Gadjahmina," kata Eva mengenang kali pertama ketertarikannya kepada wayang kulit memendar. 
"Saya memutuskan, jika menyelesaikan master saya, topiknya ya tentang wayang kulit,“ tambah dia. 
Janji itu menjadi kenyataan, pada akhirnya. Bukan di Berlin, tapi melalui Hochschule der Künste Bern, sekolah tinggi kesenian Bern. 

Di ibu kota Swiss inilah, Eva memulai konsentrasinya, khususnya bagaimana merestorasi Hanoman dan kawan kawannya kelak. 
Meskipun bermarkas di Bern, Eva memutuskan untuk mempelajari wayang kulit lainnya di seluruh Eropa. 

Dia, antara lain, mengunjungi berbagai museum Eropa yang memiliki koleksi wayang kulit.  Sebelas  museum di Jerman, antara lain di Bremen, Frankfurt, Dresden, Köln hingga Munich dikunjunginya. 

Demikian juga museum-museum di Paris, Antwerp, Vienna, Kopenhagen, Rotterdam, Amsterdam hingga Ceko juga disambanginya.  
"Usia wayang-wayang itu, antara puluhan hingga ratusan tahun," katanya. 
Ada yang hanya tersimpan di dalam kardus, peti besi, atau dipajang begitu saja. 
"Kalau penyimpanan seperti di Indonesia, dengan peti kayu, memang tak ada dilakukan di Eropa,“ papar Eva. 
Wayang-wayang itu memang tersimpan rapi, atau terpajang harmonis di mata orang awam Eropa. Namun, bagi Eva, penyimpanan itu tidak sesuai aturan dunia wayang kulit.

"Keine Ordnung, tak ada sistematikanya, asal disimpan begitu saja,“ katanya.

Sumber: Kompas.Com 

Sabtu, 01 April 2017

Leluhur Langsung Bangsa Indonesia dari Taiwan

Risa Herdahita Putri 
1 Apr 2017, 10:20

Kesamaan leluhur yang bertutur bahasa Austronesia adalah benang merah kebinekaan Indonesia.


Peta persebaran penutur Austronesia, salah satunya Indonesia. Foto: en.wikipedia.org.


Ribuan tahun lalu bangsa Indonesia pernah disatukan oleh akar tradisi yang sama: bahasa Austronesia.
“Kita semua memang berbeda, tetapi kita memiliki kesamaan yang dirangkai melalui Austronesia sebagai benang merahnya,” ujar Harry Truman Simanjuntak, arkeolog senior Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas).
Hingga kini, para ahli sepakat bahwa para penutur Austronesia yang datang dari Taiwan adalah leluhur langsung bangsa Indonesia. Dari segi fisik, penutur Austronesia tergolong ras Mongoloid Selatan. Dalam perkembangannya, penampilan fisik memang menjadi sangat beragam. Kemampuan beradaptasi penutur Austronesia terhadap lingkungan baru mendorong terciptanya keragaman etnis. Pengaruh lainnya datang dari interaksi bologis antarkelompok atau dengan pendatang lainnya yang menyebabkan terjadinya percampuran gen.
Secara bahasa, warisan Austronesia ditandai dengan kata-kata yang mirip dalam bunyi dan makna. Beberapa kata, seperti bilangan satu sampai sepuluh di berbagai kawasan persebaran Austronesia menunjukkan adanya kekerabatan itu.
Misalnya, dalam bahasa Jawa kuno, hitungan satu sampai sepuluh, yaitu: sa, rwa, telu, pat, lima, nem, pitu, wwalu, sanga, sapuluh. Dalam bahasa Minangkabau, hitungan satu sampai sepuluh, yaitu: ciek, duo, tigo, ampek, limo, anam, tujuah, salapan, sambilan, sapuluah. Dalam bahasa Bugis, hitungannya menjadi seddi, dua, tellu, eppa, lima, enneng, pitu, aruwa, asera, seppulo. Itu tak jauh berbeda dengan bahasa Tagalog yang kini menjadi bahasa resmi di Filipina, yaitu: isá, dalawa, tatló, ápat, lima, ánim, pitó, waló, siyám, sampû.
Penjelasannya, pada perkembangan awal, interaksi antarpulau masih terbatas. Ini menjadikan budaya lokal menonjol. Datangnya pengaruh dari luar memunculkan budaya yang berbeda sebagai bagian dari adaptasi. 
“Yang lebih dekat tentu dapat pengaruh yang lebih besar dibanding yang jauh. Ini yang kemudian menciptakan kebinekaan,” ujar Truman.
Di Asia Tenggara, menurut Robert Blust dalam The Austronesian Languages, budaya luar sudah mulai mempengaruhi para penutur Austronesia sejak 2.000 tahun lalu. Budaya India, Cina, Islam, dan Eropa (Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris) datang memulai keragaman di tengah kebudayaan yang dibawa para penutur Austronesia.
Begitu pula yang terjadi di Indonesia. Bukti arkeologis membuktikan kedatangan pengaruh luar itu. Seperti prasasti dari kerajaan-kerajaan Hindu-Budha yang menggunakan bahasa Sanskerta maupun Jawa kuno. Efeknya, kini bahasa yang ada di Nusantara pun semakin beragam.
Menurut Truman, bicara mengenai leluhur artinya berbicara mengenai diri sendiri, di sini, saat ini. Para ahli percaya nilai yang dimiliki oleh kehidupan para penutur Austronesia pantas diaktualisasikan di masa sekarang untuk kepentingan masa depan.
“Memaknai sejarah leluhur bangsa diperlukan untuk membangun peradaban berkepribadian, berlandaskan kebudayaan yang jauh berakar, menancap hingga ke masa lampau,” katanya.
I Made Geria, kepala Puslit Arkenas, pun melihat adanya peluang bagaimana nilai yang terkandung dalam akar budaya ini bisa memperkuat tali kebangsaan. Katanya, memaknai bahwa bangsa ini memiliki leluhur yang sama akan mampu memberikan harmoni meski Indonesia terdiri dari beragam ras, agama, etnis, dan budaya. Justru dengan memahami ini akan meningkatkan kesadaran identitas sebagai bangsa yang bineka.
“Artinya, kita semua di sini dengan nilai kearifan diberi kekuatan untuk menjaga. Ini mungkin yang disebut penguatan kebangsaan,” ucapnya.

Sumber: Historia.Id