Ketoprak Dangsak

Pentas Ketoprak Dangsak "Reksa Mustika Bumi" kolaborasi Cepetan Alas dengan Ketoprak. Pentas ini digelar DKD Kebumendi PRPP Jateng [Foto:AP]

Lengger Banyumasan

Pementasan seni tradisi lengger dari Dariah; tokoh legendaris"Lengger Banyumasan"

Suro Bulus, Parodi Satire Ketoprak Rakyat

Lakon carangan "Suro Bulus" yang merupakan manifestasi perlawanan masyarakat tradisi terhadap kejahatan korporasi tambang

DRAS SUMUNAR, Tetet Srie WD

Pagelaran "Serat Dras Sumunar" karya Tetet Srie WD di Roemah Martha Tilaar Gombong

Dewa Ruci

Pentas wayang dengan lakon "Dewa Ruci" dalam Festival Dalang Anak di Banjarnegara. Tiga dari empat dalang cilik Kebumen sabet juara [Foto:AP]

Senin, 05 Juni 2017

Literasi Tak Sekadar Baca-Tulis

Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid menjadi pembicara dalam Diskusi Literasi yang digelar Tempo Institut, Senin 5 Juni 2017. 

Penulis : 
Benjamin Tukan 

JURNALTIMUR.COM,- Literasi yang sekarang banyak menjadi perhatian komunitas ternyata tak sekadar persoalan minat baca dan menulis, dan tidak berhenti hanya memperlapang akses terhadap bacaan. 

Di tengah membanjirnya informasi yang didukung dengan kemajuan teknologi informasi, persoalan literasi mesti terarah pada kemampuan menciptakan dan mendistribusikan pengetahuan, hingga pengetahuan itu dapat bermanfaat bagi ekonomi berkeadilan.

Perhatian terhadap literasi pun mesti melihat perkembangan yang terjadi di sekolah terutama dalam perkembangan bacaan untuk anak-anak. Lingkungan sekolah dan peran komunitas dalam masyarakat dipandang sangat penting menumbuhkan budaya literasi.

Pendapat ini mengemuka dalam diskusi yang digelar Tempo Institut di Gedung Tempo, Jakarta, Senin (5/6/2017). Diskusi  bertajuk "Dunia Literasi Kita: Dampaknya bagi Ekonomi Berkeadilan” dipandu Direktur Eksekutif Tempo Mardiyah Chamim. 

Narasumber dalam diskusi ini Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid, Sosiolog Imam Prasodjo, Pemerhati Sastra Murti Bunanta dan Afi Nihaya Faradisa. 

Hilmar Farid mengatakan masalah literasi bukan lagi masalah akses. Anak-anak habis watunya untuk membaca pelajaran dan problem pendidikan yang paling mendasar adalah jumlah pelajaran. 

"Mungkin full day school yang sebetulnya jadi jawaban karena yang diinginkan adalah menambah waktu belajar mengurangi pelajaran. Dengan begitu, anak-anak lebih banyak punya waktu berinteraksi dengan sesama dalam urusan pengembangan diri,"kata Fay sapaan Hilmar Farid. 

Menurut Fay, anak-anak sekarang banyak yang stress karena selama ini beban pelajaran yang terlalu banyak dipundak. "Itu beban dan saya kira itu sudah menjadi pengetahuan umum," kata pemikir kebudayaan ini. 

Menurutnya, dalam implementasi pendidikan di sekolah, kecendrungan menyelesaikan teknis sangat kuat dengan variasi di setiap satuan pendidikan. Karena itu dalam hubungan dengan literasi, sarannya, satuan pendidikan mesti terhubung dengan aktivitas literasi. 

Dia menyebutkan, sekarang ada gerakan gerakan literasi nasional  yang dikerjakan Dirjen PAUD yakni menggabungkan kreativitas literasi dengan satuan pendidikan. 

Dia mengakui, walau bukan ahli dalam perkembangan pendidikan anak, Indonesia perlu mempunyai kanon yang mencantumkan karya yang kita anggap pantas harus dibaca seoran anak selama masa sekolah, minimal dalam 12 tahun. 

Minat terhadap membaca mesti semacam kewajiban untuk membaca, memberikan landasan yang sama agar minat bisa tumbuh, walau sebetulnya tidak semua pekerjaan memerlukan membaca.

"Rasanya sekarang ini dibandingkan 20 tahun lalu, minat baca tidak turun. Anak remaja sekarang dengan tablet disuguhkan literasi yang menggabungkan image, bunyi menjadi satu. Proses literasi tidak bergantung dengan aksara. Apakah ini kurang literasi dengan sebelumnya saya kira tidak.  Digital leterasi menjadi besar. Anak-anak sudah instingtif," katanya. 

Dengan perkembangan teknologi digital, dia menyarankan agar masyarakat terus memperbaharui kemampuan literasi dengan tidak pandang usia dan pendidikan. 

Afi Nihaya Faradisa mengakui anak-anak sekolah sekarang dibebani dengan banyaknya pelajaran. "Di sekolah 16 subyek mata pelajaran yang harus dituntaskan. Jika tidak meraihnya, nilai kita tidak tuntas. Waktu untuk membaca tidak ada kalau tidak meluangkannya,"kata Afi. 

Menurut Afi, anak-anak atau teman-teman seusianya tidak tertarik dengan bacaan-bacaan lain di luar bacaan pelajaran, karena yang dianggap buku adalah buku pelajaran. Dia menyarankan agar pemerintah dapat mengurangi pelajaran dan sekolah lebih mengarahkan perhatian pada menumbuhkan minat baca. 

Pemerhati Sastra Murti Bunanta mengatakan belum ada perhatian yang serius terhadap bacaan anak-anak termasuk masih minimnya kritikus sastra anak. 

Sementara Sosiolog Imam Prasodjo mengatakan literasi harus masuk pada soal pengemas dan pendistribusian pengetahuan. Pengemas pengetahuan memerlukan kerja tersendiri, Dari pengetahuan baru kemudian dapat digunakan untuk menjawabi kebutuhan termasuk dalam bidang ekonomi.***

http://www.jurnaltimur.com/2017/06/literasi-tak-sekadar-baca-tulis.html

Sabtu, 06 Mei 2017

Utuy T. Sontani: Kisah Cinta yang Tak Kunjung Kering

Oleh: Irfan Teguh - 6 Mei 2017

Utuy Tatang Sontani

Raksasa Indonesia dalam genre penulisan drama, yang hidupnya mengalami banyak kegagalan asmara, hingga akhir hayatnya.
“Nama dan bukunya yang di waktu-waktu yang lalu berkumandang ke seluruh penjuru Indonesia hampir-hampir dilupakan dan menjadi kenang-kenangan belaka. Hanya kadang-kadang dramanya terdengar dimainkan dengan minta nama Utuy T. Sontani muncul di alam pikiran sebagai raksasa dramaturg yang terbesar di masanya,” tulis Pramoedya Ananta Toer dalam buku Menggelinding 1.
Utuy Tatang Sontani lahir di Cianjur pada 1 Mei 1920. Sebelum menjadi eksil dan meninggal di Moskow dan dilupakan orang, ia adalah penulis drama terkemuka di Indonesia. Karya-karyanya—bahkan sampai sekarang—kerap dipentaskan di berbagai panggung.

Utuy banyak menimba daya kreatif dari mata air kegagalan percintaannya. Dengan menyampaikan informasi itu, tulisan ini tak bermaksud mengerdilkan Utuy, melainkan justru memandangnya sebagai manusia dengan segenap kerumitan pengalamannya, manusia yang lengkap, bukan sekadar “pengarang penting yang tersia-sia.” Siapa, memangnya, yang tak pernah remuk redam karena asmara?

Dalam memoarnya Di Bawah Langit Tak Berbintang, Utuy bercerita bahwa ia adalah anak seorang saudagar batik di Cianjur. Kakaknya sempat belajar di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah yang memakai bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar serta hanya menampung anak-anak ningrat dan kaum kaya. Tetapi si kakak keburu mati dimakan wabah pes sebelum menyelesaikan sekolah.

Utuy sendiri mulanya disekolahkan di sekolah Desa karena situasi keuangan keluarganya memburuk. Kemudian, setelah bisnis ayahnya mulai pulih, ia dipindahkan ke sekolah Schakel atau sekolah perantara antara sekolah dasar Ongko Loro (Kelas Dua) dan sekolah menengah Middelbare Universile Laager Onderwijs (MULO). Di sekolah itu ada pelajaran bahasa Belanda. Namun, pada tahun keduanya di sekolah itu, Utuy minggat.
“Soalnya sederhana. Karena aku kurang baik menghafal, aku disetrap, disuruh berdiri di depan kelas. Dan karena aku merasa dibikin malu, keesokannya aku pun tidak masuk sekolah. Dan karena aku tidak masuk sekolah, maka ketika aku datang lagi ke sekolah, aku disetrap lagi—kali ini oleh Belanda kepala sekolah, dengan dikatakan pula kepada murid-murid lainnya, ‘Ni dia, contoh anak Inlander!’”
Sekali waktu, ketika Utuy bersekolah di Taman Siswa, ia bertetangga dengan keluarga ningrat pensiunan amtenar pegadaian. Keluarga itu mempunyai seorang anak angkat perempuan. Hati Utuy panas. Meski sama-sama berusia 15 tahun, gadis itu telah duduk di kelas enam—sementara ia kelas lima—dan gadis itu pandai berbahasa Belanda karena bersekolah di HIS.

Entah kepalanya terbentur apa, Utuy kemudian mendapat gagasan supaya si gadis balik mengagumi dia: menulis. Ia mengirimkan puisi dan cerita pendek ke koran Sinar Pasundan. Utuy menggunakan nama pena Sontani, yang diambil dari karakter novel berjudul Pelarian dari Digoel, karya yang tidak diketahui siapa pengarangnya, tampaknya seorang Digoelis. Novel tersebut diperkenalkan kepadanya oleh Wiranta, seorang Digoelis yang menulis Boeron dari Digoel, yang juga adalah paman si gadis yang disukai Utuy (C.W. Watson, Of Self and Injustice: Autobiography and Repression in Modern Indonesia, hal. 90).

Naskah yang ia kirimkan ke Sinar Pasundan ternyata disambut baik oleh redaktur dan ditayangkan. Berkat itulah pihak sekolah memberi Utuy kesempatan untuk melanjutkan sekolah ke Taman Dewasa di Bandung tanpa ujian. Ia pindah bersama keluarganya karena ayahnya juga hendak membuka restoran di Bandung. Namun, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak: baru sekolah empat bulan di Bandung, Utuy harus kembali ke Cianjur karena bisnis ayahnya rontok. Tak lama setelah itu, kedua orangtuanya bercerai. Ayahnya pergi entah ke mana, meninggalkan ia dan ibunya dalam rumah yang kosong tanpa perabotan dan gelap tanpa aliran listrik.

Ibunya kemudian memutuskan untuk menggadaikan rumah tersebut, lalu mereka kembali ke Bandung. Dua tahun di kota itu, Utuy mendengar kabar bahwa gadis tetangga yang ia sukai menikah dengan seorang pegawai pegadaian.
“Berita itu cukup membikin aku jadi terhuyung-huyung beberapa hari lamanya,” tulis Utuy. Namun, pada tahun yang sama, ia berhasil menulis dua karya: Mahala Bapa(Membinasakan Bapak) dan Tambera, keduanya dalam bahasa Sunda.
Di Bandung, Utuy dititipkan di rumah seorang janda tua—tukang jahit yang pernah menjadi pembantu ayahnya sewaktu masih berjualan batik. Utuy tidur dan menulis di tempat yang sama, yaitu di atas selembar tikar yang dibentangkannya di balik pintu. Suatu hari, ketika ia menulis, seorang perempuan muda dengan wajah dan perawakan Indo-Eropa berkunjung.

Perempuan itu kerabat si janda tukang jahit. Nama panggilannya Onih, dari Nonih, sebutan yang lazim untuk anak-anak perempuan Indo. Bapak Onih memang orang Belanda, seorang penguasa perkebunan, sedangkan ibunya gundik. Setelah jumpa berkali-kali, Onih dan Utuy saling menyukai.

Sekali waktu Utuy hendak pergi ke tempat tinggal Onih, namun dilarang oleh induk semangnya. “Jangan! Biar dia saja yang datang ke sini,” ujarnya. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan.

Namun, Utuy yang penasaran terus menerus mendesak induk semangnya agar memberitahukan alamat Onih.
“Kalau di sana ditemukan hal-hal yang tidak menyenangkan, jangan Dadang bertambah menyesal lagi,” ujar perempuan itu.
Tiba di tempat tujuan, Utuy mendapati rumah panjang dengan banyak pintu. Pintu kamar tempat Onih tertutup. Saat pintu itu terbuka, seorang laki-laki keluar sambil membetulkan pecinya. Utuy menyelonong masuk dan melihat Onih yang hanya bersarung dan telanjang dada. Perempuan yang ia cintai ternyata seorang pekerja komersial.

Onih si pekerja seks komersial, atau cabol dalam bahasa Utuy, lantas menjelma jadi tokoh Titi dalam lakon karangannya Selamat Jalan Anak Kufur.
“Laki-laki gila. Setelah masuk kamar, dia tidak berbuat apa-apa selain duduk terdiam kaya tihul. Diajak tidur menggelengkan kepala. Setelah lama terdiam, tiba-tiba dia berair mata. Dan setelah ditanya apa sebabnya bukan dia menyahut, tapi jatuh terguling kaya orang sekalor. Lantas dia memeluk kaki sambil menangis. Saya jadi jengkel. Tidak tahan. Terus saya sepak, saya suruh keluar,” ujar Titi kepada germonya dalam lakon itu.
Yang menarik, istilah “kufur” dalam lakon itu tak merujuk kepada praktik prostitusi, melainkan sikap Titi yang menyimpang dari cabol pada umumnya.
“Cabol itu tidak lebih dan tidak kurang dari perempuan sewaan. Dan sekali kau jadi cabol, pendirian itu mesti kau jadikan pegangan. Lepas dari pegangan itu, kau jadi orang kufur,” bentak Si Ibu. “Ya, kufur. Orang Islam yang melanggar agama Islam disebut kufur sebagai orang Islam. Maka cabol yang tidak bertindak sebagai cabol pun kufur sebagai cabol,” kata tokoh germo kepada Titi.
Utuy menyudahi kisah tersebut dengan kepergian Titi bersama Rais, tukang becak yang kerap mengantarkan tamu ke tempat Titi. Menurut si cabol, Rais punya pendirian tegas dan karena itulah ia berminat kepadanya.

Selain menampilkan potret nyata dan umum tentang praktik pelacuran di masyarakat, lakon itu juga menghadirkan pengalaman personal Utuy. Secara tak langsung, ia menyatakan bahwa ada tarik-menarik antara laku asusila dengan kodrat manusia yang mengharapkan sebuah hubungan yang normal.

Dalam lakon Awal dan Mira, Utuy lagi-lagi menjadikan sebagian pengalamannya dengan Onih sebagai bahan. Mira, sebagaimana Onih yang dikenal Utuy sebelum pertemuan yang menghancurkan hatinya di rumah bordir, adalah seorang penjaga kedai kopi cantik, dan kecantikannya itulah yang membuat pengunjung laki-laki berdatangan. Berlatar tahun 1951, dua tahun setelah Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia, Utuy menghamparkan situasi kacau di mana orang-orang tak dapat saling percaya.
“Di zaman ini, di mana ada manusia? Maksud saya manusia yang bisa dipercaya? Memang, Mira, sebagai orang tua, hidup di zaman sekarang ini, aku pun sering bertanya-tanya, apakah dunia sekarang sudah akan kiamat? Di mana-mana terjadi kekacauan, di mana-mana terjadi penggedoran, perampokan, pembunuhan, seolah-olah sudah tidak ada lagi cinta di antara sesama manusia,” ujar seorang pengunjung kedai kopi kepada Mira.
Awal adalah pemuda berbadan ringkih dan pemarah yang mencintai Mira. Situasi pascaperang membuatnya putus asa. Di kedai kopi Mira, setiap kali ada yang menyalakan radio, Awal mencak-mencak dan menyuruhnya mematikan radio tersebut.
“Apa arti golongan atas di zaman edan seperti sekarang ini? Sangka ibu perempuan yang tadi berpidato di radio itu dari golongan atas? Perempuan bicara asal berbunyi? Orang-orang semacam itulah yang mengusai masyarakat kita sekarang, orang-orang yang maunya mengatasi orang lain dengan bicara terus bicara, tak tahu jiwanya sendiri kering-dangkal, dunianya sendiri sempit. Lebih sempit dari ini: kedai-kopi!” kata Awal kepada tokoh Ibu Mira yang menyalakan radio di depannya.
Berbeda dari Titi dalam Selamat Jalan Anak Kufur, Mira tak menyambi sebagai pelacur. Namun, bukan berarti nasib mereka tak paralel. Keduanya ialah korban keadaan. Jika Titi—dan Onih dalam hidup Utuy—menjadi pelacur karena tak ada cara lain yang mereka ketahui untuk bertahan hidup, Mira cacat karena perang.
“Inilah kenyataanku. Kakiku buntung. Buntung karena peperangan. Tapi lantaran inilah Mas, lantaran ke atas aku cantik ke bawah aku cacat, selama ini aku bagimu merupakan teka-teki,” kata Mira kepada Awal.
Drama Bunga Rumah Makan berkisah tentang seorang gadis cantik bernama Ani. Ia sebatang kara dan bekerja di sebuah rumah makan.

Seperti dalam dua lakon sebelumnya, Utuy kembali menghadirkan tokoh laki-laki yang menyadarkan karakter gadis cantik. Iskandar, seorang gelandangan, mengingatkan Ani bahwa ia hanya dijadikan penarik pelanggan—dengan kata lain, dijual juga—oleh pemilik rumah makan.
“Aku memang gelandangan. Tapi bagiku lebih baik gelandangan daripada kau, diam di sini untuk jadi boneka yang mendagangkan kecantikan!” ujarnya.
Dan sebagaimana yang sudah-sudah, Ani akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja dari rumah makan tersebut dan pergi bersama Iskandar. 

Kisah-kisah dalam tiga lakon itu adalah artefak pengalaman Utuy yang jatuh hati kepada Onih. Ia sendirilah yang menyatakan itu dalam memoarnya.
“Apa dan siapa Onih itu, asal kau teliti memeriksanya, akan kaujumpai dia dalam berbagai karanganku. Dan sekalipun sudah berpuluh tahun lamanya aku berpisah dengan dia, nama dan kedudukannya sebagai pelacur itu masih terus meminta tempat untuk ditulis; sedang peranan wanita penjual kopi dengan suasana di sekitarnya berkali-kali pula muncul di dalam drama-dramaku. Ini tidak lain, karena haru yang kurasakan akibat perkenalan dengan dia itu bagiku tak ada habis-habisnya.”

Infografik Utuy Tatang Sontani


Ada pula pantulan diri Utuy—atau, setidaknya, apa-apa yang dibayangkan Utuy tentang dirinya sendiri—dalam karakter Rais, Awal, dan Iskandar. Mereka bukan tipe laki-laki penggoda, terus terang, tetapi cenderung terpinggirkan. Pada mulanya, mereka tampak remeh namun senantiasa muncul sebagai juru selamat.

Meski kerap mengolah pengalaman pribadinya, Utuy tak berhenti sebatas itu. Ia justru menjadikannya pijakan buat mengangkat soal-soal rumit dan gawat yang disaksikannya: pelacuran, kondisi pascaperang yang menggiriskan, dan kekayaan watak manusia.

Menjelang kejatuhan Sukarno, Utuy yang sudah bergabung dengan Lekra, pergi ke Cina. Kepahitan pun datang: Utuy tak bisa kembali ke Indonesia karena pergantian rezim. Ia dianggap bagian dari PKI, sebagaimana ribuan pelajar dan mahasiswa lain yang sedang menuntut ilmu di negara-negara kiri, sehingga tak bisa kembali pulang.

Ia terpisahkan dari keluarganya, termasuk dari istrinya. Kerinduan pun menumpuk, dan menebal, dari waktu ke waktu. Salah satu yang ia lakukan untuk menawarkan kerinduan pada istrinya adalah dengan merepro foto istrinya. Saat ia wafat pada 1979, repro foto istrinya itu sudah sangat banyak, tanda bahwa Utuy merepro foto istrinya dari waktu ke waktu, terus menerus.

Lakon-lakon Utuy tak hanya menjadikannya sebagai “Raksasa dramaturg yang terbesar pada masanya”, tetapi juga memberitahu kita bahwa tak ada kehidupan yang terlepas dari situasi sosial. Dan karena itulah, kesedihan pribadi Utuy dapat menjelma jadi—meminjam kata-katanya sendiri: haru yang tak kunjung kering.

Reporter: Irfan Teguh
Penulis: Irfan Teguh
Editor: Dea Anugrah

Utuy Tatang Sontani adalah sastrawan penting Indonesia yang moncer karena prosa dan naskah-naskah dramanya.

Sumber: Tirto.Id 

Kamis, 27 April 2017

Chairil Anwar dan Politik


Chairil Anwar (lahir di Medan, 26 Juli 1922 dan meninggal di Jakarta, 28 April 1949), hidup di tengah revolusi bangsanya. Tumbuh dalam situasi krisis dan kritis sejarah bangsa Indonesia.
HB Jasin membaptisnya sebagai Penyair Pelopor Angkatan '45, meski periodesasi ini dikemudian hari dipersoalankan. Tapi apa yang tak dipersoalkan di negeri ini, ketika urusan bunga pun bisa membuat orang sibuk saling menilai?
Dalam suasana revolusioner itulah, di antara perang dan gagasan-gagasan besar dan bebas, Chairil memberontak atas segala yang mapan. Kehadiran dan karya-karya adalah simbol pemberontakan. Kata-katanya bak kuda liar, bertenaga.
Majalah Pembangoenan, Desember 1945, memuat esai Chairil Anwar, "Sekarang: Hoppla! Lompatan yang sejauh penuh kedara-remajaan bagi negara remaja ini. Sesudah masa mendurhaka pada Kata, kita lupa bahwa Kata adalah yang menjalar, mengurat, hidup dari masa ke masa, terisi padu dengan penghargaan, mimpi, pengharapan, cinta, dan dendam manusia. Kata ialah kebenaran!!!"
Ketika serbuan Tentara Sekutu Inggris dan NICA merangsek ke Jakarta, Nopember 1945, PM Sutan Syahrir memerintahkan TKR dan badan-badan perjuangan keluar dari Jakarta, untuk menghindari bentrok. Maka tentara Indonesia pun hijrah ke kawasan pinggiran seperti Cakung, Kranji, Pondok Gede, Bekasi, Tambun, Cikarang, Karawang dan Cikampek.
Kepindahan ini diikuti oleh pemerintahan dan masyarakat sipil, termasuk pedagang, wartawan, sastrawan, dan di antaranya Chairil Anwar dan keluarga. Dalam episode ini Chairil menjadi saksi pertempuran tentara Indonesia dengan Sekutu. Dari sinilah Chairil menulis puisi 'Krawang-Bekasi' yang sohor, setelah mengendapkan empat tahun kemudian.
Meski keponakan Perdana Menteri, Chairil bukan orang yang memanfaatkan hal itu. Walau justeru Syahrir sendiri sering memperkenalkan keponakannya itu kepada siapa saja. Dan Chairil memang banyak terlibat dengan kolega Syahrir ini, terutama para wartawan dan politikus. Ia pernah menjadi kurir penting bagi Sjahrir, pada awal Agustus 1945, ketika Jepang kalah dari Sekutu.
Tapi Chairil adalah manusia bebas yang biasa hidup seenaknya. Ia tak betah kerja kantoran, meski Bung Hatta pernah mempekerjakannya sebagai penerjemah di kantornya, karena bahasa Inggris dan Belanda Chairil yang bagus.
Chairil tampak dengan sengaja menghindar dari pertemuan-pertemuan politik dari sang paman dengan para pemuda. Pada November 1945, sebagaimana ditulis Syumanjaya dalam skenario 'Aku', Chairil tiba-tiba mengagetkan semua peserta rapat di rumah pamannya. Rapat politik yang penting itu berhenti sesaat, melihat Chairil nyelonong masuk. Semuanya menunggu, barangkali ada informasi penting.
Tapi apa kata Chairil? "Selamat pagi, Bapak Perdana Menteri. Ada yang sedang penting rupanya. Saya interupsi sebentar, cuma buat ini kok,..."
Chairil kemudian mencomot beberapa batang cerutu milik Syahrir. Kemudian bergegas meninggalkan ruangan itu. Begitu saja.. [sw]

Senin, 24 April 2017

Kisah Eva Christiane, Perempuan Jerman Perawat Wayang Kulit

25/04/2017, 14:59 WIB


Eva Christiane von Reumont saat tengah merawat sebuah wayang kulit.(Krisna Diantha)


BERN- Sebuah kabar gembira datang dari Swiss, khususnya dalam dunia wayang kulit.  Kini, Hanoman, Gatotkaca,  Arjuna hingga Petruk dan  Semar, bakal tidak "kesepian" lagi di Benua Biru itu. 

Adalah Eva Christiane von Reumont,  perempuan kelahiran Nordsee, Jerman Utara, yang bersedia menemani dan merawat ribuan wayang kulit yang terserak di puluhan museum di Eropa. 
"Wayang kulit itu sangat memesona,“ tuturnya ketika ditemui di salah satu kafe di Bern, Swiss belum lama ini. 
Eva bukan sekadar pemuja wayang kulit biasa, yang hanya mengumpulkan ribuan wayang kulit di rumahnya. 

Perempuan ini bahkan menulis wayang kulit secara ilmiah di Hochschule der Künste Bern, semacam sekolah tinggi seni, Swiss.   

Sebuah tesis berjudul Applying Western Conservation Restoration Ethics onto Javanese Wayang Kulit (Shadow Play) Puppet, mengantarkannya menjadi sahabat Hanoman, Gatotkaca, Arjuna, Petruk, Semar dan banyak lagi tokoh pewayangan. 

Dengan ijazah ini, Eva mampu merawat wayang kulit yang usianya mencapai ratusan tahun dan  tersebar di puluhan museum di ranah Eropa, secara profesional. Semua bermula di Berlin 2012, khususnya museum etnologi  di ibu kota Jerman itu. 
"Di situ saya menemukan figur wayang kulit Bali, Gadjahmina," kata Eva mengenang kali pertama ketertarikannya kepada wayang kulit memendar. 
"Saya memutuskan, jika menyelesaikan master saya, topiknya ya tentang wayang kulit,“ tambah dia. 
Janji itu menjadi kenyataan, pada akhirnya. Bukan di Berlin, tapi melalui Hochschule der Künste Bern, sekolah tinggi kesenian Bern. 

Di ibu kota Swiss inilah, Eva memulai konsentrasinya, khususnya bagaimana merestorasi Hanoman dan kawan kawannya kelak. 
Meskipun bermarkas di Bern, Eva memutuskan untuk mempelajari wayang kulit lainnya di seluruh Eropa. 

Dia, antara lain, mengunjungi berbagai museum Eropa yang memiliki koleksi wayang kulit.  Sebelas  museum di Jerman, antara lain di Bremen, Frankfurt, Dresden, Köln hingga Munich dikunjunginya. 

Demikian juga museum-museum di Paris, Antwerp, Vienna, Kopenhagen, Rotterdam, Amsterdam hingga Ceko juga disambanginya.  
"Usia wayang-wayang itu, antara puluhan hingga ratusan tahun," katanya. 
Ada yang hanya tersimpan di dalam kardus, peti besi, atau dipajang begitu saja. 
"Kalau penyimpanan seperti di Indonesia, dengan peti kayu, memang tak ada dilakukan di Eropa,“ papar Eva. 
Wayang-wayang itu memang tersimpan rapi, atau terpajang harmonis di mata orang awam Eropa. Namun, bagi Eva, penyimpanan itu tidak sesuai aturan dunia wayang kulit.

"Keine Ordnung, tak ada sistematikanya, asal disimpan begitu saja,“ katanya.

Sumber: Kompas.Com 

Sabtu, 01 April 2017

Leluhur Langsung Bangsa Indonesia dari Taiwan

Risa Herdahita Putri 
1 Apr 2017, 10:20

Kesamaan leluhur yang bertutur bahasa Austronesia adalah benang merah kebinekaan Indonesia.


Peta persebaran penutur Austronesia, salah satunya Indonesia. Foto: en.wikipedia.org.


Ribuan tahun lalu bangsa Indonesia pernah disatukan oleh akar tradisi yang sama: bahasa Austronesia.
“Kita semua memang berbeda, tetapi kita memiliki kesamaan yang dirangkai melalui Austronesia sebagai benang merahnya,” ujar Harry Truman Simanjuntak, arkeolog senior Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas).
Hingga kini, para ahli sepakat bahwa para penutur Austronesia yang datang dari Taiwan adalah leluhur langsung bangsa Indonesia. Dari segi fisik, penutur Austronesia tergolong ras Mongoloid Selatan. Dalam perkembangannya, penampilan fisik memang menjadi sangat beragam. Kemampuan beradaptasi penutur Austronesia terhadap lingkungan baru mendorong terciptanya keragaman etnis. Pengaruh lainnya datang dari interaksi bologis antarkelompok atau dengan pendatang lainnya yang menyebabkan terjadinya percampuran gen.
Secara bahasa, warisan Austronesia ditandai dengan kata-kata yang mirip dalam bunyi dan makna. Beberapa kata, seperti bilangan satu sampai sepuluh di berbagai kawasan persebaran Austronesia menunjukkan adanya kekerabatan itu.
Misalnya, dalam bahasa Jawa kuno, hitungan satu sampai sepuluh, yaitu: sa, rwa, telu, pat, lima, nem, pitu, wwalu, sanga, sapuluh. Dalam bahasa Minangkabau, hitungan satu sampai sepuluh, yaitu: ciek, duo, tigo, ampek, limo, anam, tujuah, salapan, sambilan, sapuluah. Dalam bahasa Bugis, hitungannya menjadi seddi, dua, tellu, eppa, lima, enneng, pitu, aruwa, asera, seppulo. Itu tak jauh berbeda dengan bahasa Tagalog yang kini menjadi bahasa resmi di Filipina, yaitu: isá, dalawa, tatló, ápat, lima, ánim, pitó, waló, siyám, sampû.
Penjelasannya, pada perkembangan awal, interaksi antarpulau masih terbatas. Ini menjadikan budaya lokal menonjol. Datangnya pengaruh dari luar memunculkan budaya yang berbeda sebagai bagian dari adaptasi. 
“Yang lebih dekat tentu dapat pengaruh yang lebih besar dibanding yang jauh. Ini yang kemudian menciptakan kebinekaan,” ujar Truman.
Di Asia Tenggara, menurut Robert Blust dalam The Austronesian Languages, budaya luar sudah mulai mempengaruhi para penutur Austronesia sejak 2.000 tahun lalu. Budaya India, Cina, Islam, dan Eropa (Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris) datang memulai keragaman di tengah kebudayaan yang dibawa para penutur Austronesia.
Begitu pula yang terjadi di Indonesia. Bukti arkeologis membuktikan kedatangan pengaruh luar itu. Seperti prasasti dari kerajaan-kerajaan Hindu-Budha yang menggunakan bahasa Sanskerta maupun Jawa kuno. Efeknya, kini bahasa yang ada di Nusantara pun semakin beragam.
Menurut Truman, bicara mengenai leluhur artinya berbicara mengenai diri sendiri, di sini, saat ini. Para ahli percaya nilai yang dimiliki oleh kehidupan para penutur Austronesia pantas diaktualisasikan di masa sekarang untuk kepentingan masa depan.
“Memaknai sejarah leluhur bangsa diperlukan untuk membangun peradaban berkepribadian, berlandaskan kebudayaan yang jauh berakar, menancap hingga ke masa lampau,” katanya.
I Made Geria, kepala Puslit Arkenas, pun melihat adanya peluang bagaimana nilai yang terkandung dalam akar budaya ini bisa memperkuat tali kebangsaan. Katanya, memaknai bahwa bangsa ini memiliki leluhur yang sama akan mampu memberikan harmoni meski Indonesia terdiri dari beragam ras, agama, etnis, dan budaya. Justru dengan memahami ini akan meningkatkan kesadaran identitas sebagai bangsa yang bineka.
“Artinya, kita semua di sini dengan nilai kearifan diberi kekuatan untuk menjaga. Ini mungkin yang disebut penguatan kebangsaan,” ucapnya.

Sumber: Historia.Id 

Selasa, 28 Februari 2017

Warisan Gerson Poyk

Reportase: Dea Anugrah | 28 Februari, 2017

Apakah Anda membaca karya-karya Gerson Poyk? Menurut Anda, 
apa warisan terpentingnya sebagai penulis?




tirto.id - Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati menyisakan karpet bulu, pengarang mati menitipkan pelbagai dunia dalam kepala para pembacanya. Karya-karya pengarang Argentina Jorge Luis Borges, misalnya, tetap dibicarakan banyak orang, dengan pokok bahasan yang terus berkembang, meski ia telah wafat berpuluh-puluh tahun lalu.

Novelis dan doktor matematika Guillermo Martinez, dalam bukunya Borges y la matemática (2003), membahas konsep-konsep matematis modern yang ia temukan dalam karangan Borges. Cerita pendek "The Library of Babel" (1941), menurutnya, menunjukkan gagasan geometri yang kompleks (Perpustakaan Babel terdiri dari ruangan-ruangan segi enam yang “kelilingnya tak terpermanai” dan “setiap ruangan bisa dianggap sebagai pusatnya”). Cerita itu, tulis Martinez, juga membicarakan ketidakterbatasan matematis sebagaimana “The Book of Sand” (1975) dan beberapa esai serta cerita pendek lain karangan Borges.

Pengarang Indonesia pada umumnya tentu bernasib lain dari Borges, yang para pembacanya bukan hanya lebih banyak dan serius, tetapi juga mempunyai latar keilmuan yang beragam. Sudah jadi pengetahuan umum bahwa sebagian besar pembaca karya-karya sastra Indonesia ialah orang-orang yang sehari-hari mengembik dan memamah biak di lapangan sastra Indonesia itu sendiri: mahasiswa, pengarang, kritikus, dan lain-lain.

Namun, Gerson Poyk, pengarang Indonesia asal Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, yang meninggal dunia pada Jumat, 24 Februari lalu, mempunyai kasus yang agak unik: beberapa karyanya dibicarakan oleh orang-orang dari luar pagar.

Pakar Asia Tenggara David T. Hill dari Murdoch University, Australia, menulis tentang cerpen Gerson, “Matias Akankari”, dalam Journal of the South Pacific Association for Commonwealth Literature and Language Studies jilid 34-35 (1992-93). Kemudian, pada 2014, Stephen Rankin dalam “Crossing into the Cultural Other: A Dialogic Reading Strategy” yang diterbitkan jurnal Ariel: a Review of International English Literature edisi 45 membicarakan cerpen Gerson, “Kuta, di sini Cintaku Kerlip Kemerlap.”

“Matias Akankari” adalah cerita pendek pertama tentang Papua yang terbit di Indonesia, yaitu pada 1972. Di dalamnya, Gerson mengisahkan bagaimana seorang pria dari suatu rimba di Papua kebingungan dan tersingkir di Jakarta. Cerita yang penuh adegan jenaka itu (misal: Matias, tokoh utamanya, terkenang bagaimana ia diusir dari gereja karena mencopot kotekanya yang telah ia modifikasi jadi seruling dan memainkannya buat menambah kesyahduan ibadah) meledek rezim Soeharto yang secara semena-mena hendak menyeragamkan masyarakat Indonesia dalam ukuran-ukuran Jawa.

Pada 1970, pemerintah Indonesia mengadakan “Operasi Koteka” yang memaksa orang-orang Papua menggantikan pakaian tradisional mereka dengan “pakaian Indonesia.” “Stasiun televisi milik negara, TVRI, bahkan menyiarkan adegan rekaan orang-orang Papua membuang koteka dan menyambut pantalon keluaran pemerintah,” tulis Hill.

Dan tiga tahun sebelum penerbitan “Matias Akankari”, kita tahu, pemerintah Indonesia menggelar referendum abal-abal di Papua. Seturut proposal PBB, semestinya setiap orang Papua punya hak pilih untuk menentukan nasib Papua: bergabung dengan Indonesia atau merdeka, tetapi kenyataannya, dari 800 ribuan rakyat Papua pada waktu itu, hanya 1.025 “utusan” yang dilibatkan, itu pun di bawah pengawasan ketat oleh tentara Indonesia.

“'Matias Akankari,'” tulis Hill, "mungkin tidak ditulis untuk orang Papua dan tidak menggunakan cara pandang mereka. Namun, ia menawarkan kemungkinan yang menarik buat menyelipkan Papua dalam sastra Indonesia.

Dalam cerpen “Kuta, di sini Cintaku Kelip Kemerlap”, Gerson menyajikan pembacaan yang menarik dan unik, setidaknya dari perspektif Barat, atas konsekuensi turisme yang kompleks. Narator sekaligus tokoh utama cerpen itu melacur, tetapi menganggap diri martir bagi keluarganya sekaligus kekasih bagi turis perempuan yang ia layani.

“Sekalipun berlatar Bali, cerita itu menawarkan naratif yang dapat mewakili pengalaman Indonesia dan rakyatnya sebagai subjek eksploitasi ekonomi Barat,” tulis Rankin.

Dalam wawancaranya dengan Agustinus Tetiro dari Flores Sastra pada 12 Oktober 2016, Gerson bicara banyak soal tugas penulis buat menyampaikan kebenaran. Ia bilang, tujuannya menulis karya sastra adalah “merangsang pertumbuhan pribadi manusia”, seperti guru dan rohaniwan, dan agaknya ia menganggap diri telah berhasil.

Dalam konteks itu, Gerson mengaku “lebih kuat” ketimbang Ernest Hemingway dan “selalu bisa menulis lebih bagus daripada The Old Man and The Sea.”

Namun, karya sastra tentu tak hanya bisa dan perlu dibaca sebagai dokumen sosial. Seperti dua sisi pada satu koin, “pesan” dan “mutu sastrawi” karya sastra sama penting. Dan berbeda dari urgensi pesan yang relatif dan bergantung pada konteks, ada ukuran-ukuran baku buat menilai mutu sastrawi.

Menurut kritikus sastra Indonesia Zen Hae, Gerson Poyk kerap kelimpungan mengurusi pemilahan suara. “Hampir tidak ada beda antara pengarang, narator, dan tokoh cerita,” ujarnya kepada Tirto. “Pengarang mendesak hingga ke depan sehingga pengetahuan dan nalar tokoh atau narator cerita ialah pengetahuan si pengarang.”

Dalam cerita pendek Gerson “Jaket Kenangan” yang diterbitkan Kompas pada 24 April 2016, ada senandika atau monolog interior berikut: “Bagiku menolong orang bukan didorong oleh semacam rasa superior atas orang lain. Atau untuk dipuji dan dihormati. Bukan. Di dalam jiwaku ada semacam imperatif kategoris, semacam perintah dari dalam diri untuk berbuat baik kepada orang lain.”

“Imperatif kategoris” adalah konsep pokok dalam filsafat moral Immanuel Kant. Menurut Kant, manusia menempati kedudukan khusus dalam penciptaan, dan karenanya manusia dilengkapi “panggilan yang tak dapat ditolak” untuk menjalankan kewajiban-kewajiban moral.

Di Indonesia, “imperatif kategoris” merupakan istilah yang asing, kecuali bagi para peminat filsafat, dan istilah itu tidak menyumbangkan apa-apa buat karakterisasi dalam “Jaket Kenangan.” Mengapa Gerson menggunakannya? Dalam wawancaranya dengan Agustinus, Gerson mengatakan: “Saya kagum pada Immanuel Kant dalam pembahasan tentang libido kekuasaan dan moral. Tolong kenalkan imperatif kategoris: diperintahkan supaya kamu bermoral. Tuhan yang beri sendiri itu.”

Kasus serupa juga terjadi pada karya-karya lain Gerson. Narator dan tokoh dalam cerpen “Sorghum”, misalnya, lempang saja mengucapkan “reservoir”, “black magic”, “radar”, “Don Juan”, dan “semesta kenangan berdebu”, seakan-akan tak ada pilihan kata lain yang lebih sesuai untuk mereka, seorang petani tua di Nusa Tenggara Timur dan keponakannya yang baru kembali.

Namun, di sisi lain, Gerson terampil menjaga minat pembaca untuk membaca cerita-ceritanya sampai rampung dan membikin kejutan lewat pemelintiran plot. Kemampuan itu tampak pada, misalnya, cerpen “Surat-surat Cinta Aleksander Rajagukguk.” Kecil kemungkinan pembaca menduga tokoh utama cerita itu, yang berutang budi kepada seekor anjing, ternyata malah bergembira saat anjing itu ditembak mati. Alasannya, malam itu ia jadi bisa makan daging bersama kawan-kawannya.

Contoh lainnya ialah “Mutiara di tengah Sawah.” Setelah menyeret pembaca ke sana-kemari dalam arus pikiran narator yang pelik, cerita itu, lewat percakapan yang tidak terkesan diada-adakan, menyingkapkan rahasia bahwa segala keruwetan itu sebenarnya cuma buah kesalahpahaman plus niat baik yang naif.

26 Februari lalu, AS Laksana menuliskan kenangannya atas Gerson Poyk dalam kolom tetapnya di Jawa Pos. Ia mengaku menyenangi “kelincahan bertutur Gerson dan kemampuannya menggarap cerita tentang kemiskinan dalam cara yang gagah dan lucu.”

“Sebagian besar tokoh cerita Gerson adalah orang-orang miskin, sama seperti beberapa pengarang Indonesia. Bedanya, ia selalu bisa melihat sisi jenaka orang-orang melarat itu dan sepertinya tidak berminat menjadikan mereka bahan penguras air mata,” tulis AS Laksana.
Apakah Anda membaca karya-karya Gerson Poyk? Menurut Anda, apa warisan terpentingnya sebagai penulis? 
https://tirto.id/warisan-gerson-poyk-cjQ9

Selasa, 07 Februari 2017

Belajar Menghadapi Malam Pertama Bersama Gowok

Reporter: Petrik Matanasi | 07 Februari, 2017

Ilustrasi perempuan Jawa tempo dulu. FOTO/KITLV
tirto - Ketika baru pertama kali datang ke Indonesia, Indonesianis sohor Ben Anderson berkenalan dengan banyak mahasiswa yang kuliah di Jakarta. Salah satu dari mereka adalah pemuda asal Bagelen, salah satu daerah di Purworejo, Jawa Tengah. Soal pemuda ini, Ben berhasil mengorek bahwa keluarganya adalah pendukung PKI sejak 1926. 

“Ya, bapak saya selalu pilih PKI dan kakek saya PKI tulen, ditangkap waktu pemberontakan tahun 1926-27. Buat gua, PKI adalah garis leluhur,” kata si mahasiswa asal Bagelen ini kepada Ben. 

Karena di mata Ben pemuda Bagelen terpelajar ini cukup nakal—suka minum bir dan menggoda gadis-gadis—maka di hari lain, Ben iseng bertanya soal seks.

“Pengalaman pertama dengan cewek bagaimana?” tanya Ben. 

Ternyata, ada ada adat yang rada unik di desa si pemuda Bagelen ini. Tanpa ragu, si pemuda ini bercerita: di desanya ada seorang perempuan berusia sekitar 40 tahun, tak pernah kawin, hidup tanpa famili, dan sangat dihormati tokoh-tokoh desa. Tugas wanita itu adalah mengajarkan seks bagi anak-anak muda. Saat pemuda Bagelen ini berumur 15 tahun, ia dibawa ke rumah perempuan itu. Ia disuruh tidur di sana selama satu malam dengan si perempuan. 

“Sukses,” kata si pemuda Bagelen ini, walau awalnya gugup. 

Saat bercerita, Ben lupa menyebutkan bahwa perempuan yang mengajari soal seksualitas pada si pemuda itu punya sebutan. Mereka biasanya disebut gowok.  

Kisah sang pemuda Bagelen itu mirip dengan cerita dalam novel berlatar tahun 1950an: Nyai Gowok (2014) karya Budi Sardjono. Dalam karya fiksinya ini, Budi bercerita tentang Bagus Sasongko yang dititipkan pada Nyai Lindri, seorang gowok yang aslinya bernama Goo Hwang Lin. 

Goo Hwang Lin ini adalah keturunan dari Goo Wok Niang, yang dibawa oleh Laksamana Cheng Ho ke Jawa. Goo Wok Niang digambarkannya sebagai pembawa tradisi gowok asal Tiongkok ke Jawa. Menurut Budi dalam novelnya, kata gowok dipakai untuk mengenang Goo Wok Niang. 

Setidaknya, sudah ratusan tahun tradisi nan tabu ini hadir di Jawa. Jauh sebelum Budi Sardjono, menurut catatan buku Sastera Melayu dan Tradisi Kosmopolitan (1987), “Pada tahun 1936, Liem Khing Hoo menulis sebuah novel etnografis lagi yang berjudul Gowok dan yang cukup menghebohkan.” 

Terlepas dari rekonstruksi imajiner Budi Sardjono dan Liem Khing Hoo, Ahmad Tohari dalam novel legendarisnya juga menyinggung dunia gowok, tak jauh beda dengan yang digambarkan Budi Sardjono. Menurut Ahmad Tohari, Gowok digambarkan sebagai perempuan yang disewa oleh untuk mengajarkan banyak hal tentang kehidupan bagi seorang bujangan yang hendak menikah.

“Gowok adalah seorang perempuan yang disewa oleh seorang ayah bagi anak lelakinya yang sudah menginjak dewasa. Dan menjelang kawin.....Seorang gowok akan memberi pelajaran kepada anak laki-laki itu banyak hal perikehidupan berumah-tangga. Dari keperluan dapur sampai bagaimana memperlakukan seorang istri secara baik. Misalnya bagaimana mengajak istri kondangan dan sebagainya. Selama menjadi gowok dia tinggal hanya berdua dengan anak laki-laki tersebut dengan dapur terpisah,” kata Ahmad Tohari dalam Ronggeng Dukuh Paruk (1982). 

“Masa pergowokan biasanya berlangsung hanya beberapa hari, paling lama satu minggu. Satu hal yang tidak perlu diterangkan tetapi harus diketahui oleh semua orang adalah hal yang menyangkut tugas inti seorang gowok. Yaitu mempersiapkan seorang perjaka agar tidak mendapat malu pada malam pengantin baru,” tulis Tohari. 

Novel Ronggeng Dukuh Paruk berlatar di daerah Banyumas. Kabupaten ini tak terlalu jauh dari daerah Bagelen (Purworejo) dan Temanggung, tempat asal kawan Ben dan kampung Bagus Sasongko. 

Iman Budhi Santosa, penulis lain, punya definisi dan gambaran yang mirip dengan Tohari dan Sardjono. Dalam bukunya Kisah Polah Tingkah: Potret Gaya Hidup Transformatif (2001), Iman menyebut bahwa gowok punya peran penting dalam kehidupan sosial masyarakat di masa lalu.

“Begitu lamaran dari calon pengantin pria diterima dan hari pernikahn ditentukan, kedua keluarga harus bersepakat memilih gowok untuk calon pengantin pria tersebut... Setelah persetujuan tercapai, keluarga calon pengantin pria menghubungi gowok yang bersangkutan... Selanjutnya calon pengantin pria diserahkan kepada gowok (tinggal di rumah gowok) untuk mendapatkan pelajaran teori maupun praktik perihal seluk-beluk hubungan suami-istri. Diharapkan apa yang diperoleh dan dipraktikkan gowok tersebut dapat dikuasai dengan baik (mahir) supaya nantinya dapat mengajari istrinya.”

Dulu, menurut Iman, memang terdapat profesi gowok di Banyumas. Gowok berperan sebagai pemberi pelajaran dan praktik hubungan seks kepada calon pengantin pria. Mereka biasanya adalah wanita dewasa yang berusia 23-30 tahun.
Sebelum perkawinan yang dianggap sakral, wajib hukumnya seorang laki-laki untuk belajar bagaimana menafkahi batin istri. Bekerja banting tulang untuk kebutuhan materi belum dianggap cukup sebagai persiapan berumah-tangga. 

Penekanan soal ini juga ada di bagian-bagian akhir novel Nyai Gowok. Misalnya saat Nyai Lindri berpesan kepada Bagus Sasongko: “Saya akan senang jika kelak mendengar Mas Bagus bisa membahagiakan istrimu lahir batin...” 

(tirto.id - pet/msh)
https://tirto.id/belajar-menghadapi-malam-pertama-bersama-gowok-cit7

Kamis, 02 Februari 2017

Mencari Umbu, Mencari Suaka Waktu

Riki Dhamparan Putra | February 2, 2017 


Umbu Landu Paranggi, seniman kharismatik yang banyak membina para seniman seperti Emha Ainun Nadjib, Raudal Tanjung Banua, Riki Dhamparan Putra, Wayan Sunarta, dan banyak lainnya | Jengki

Guru, waktu, Umbu (penyair Umbu Wulang Landu Paranggi) telah menjadi tiga topik yang menyertai perjalanan hidup saya. Mungkin karena guru dan waktu sepertinya ditakdirkan untuk seiring sejalan sebagai makhluk Tuhan. Waktu yang kita sangka diam, sebenarnya berbicara lewat guru. Yakni melalui bimbingan dan pengajaran. Sedangkan kebenaran perkataan dan tindakan seorang guru, dibuktikan oleh waktu.
Memang ilmu pengetahuan bertebar di mana-mana. Tapi ilmu pengetahuan itu, sebagaimana kata Imam Ghazali, masih sesuatu yang hilang dari diri kita. Siapa yang tidak mencari, tidak akan mendapatkannya. Dan sebaik-baik pencarian itu dengan berguru. Maka dikatakan dalam pepatah, tiap-tiap ilmu yang dituntut tanpa bimbingan guru, cenderung tersesat. Itulah sebabnya dalam wawasan kearifan tradisional kita, guru tidak dibantah kecuali dengan ilmunya.
Hal ini pun berlaku dalam proses jalannya peradaban manusia. Tatkala pengawalan negara dan politik melemah, gurulah yang memelihara keberlanjutan ilmu dan proses peradaban. Tatkala politik dan kekuasaan sejak dari zaman Pasai sampai Mataram Islam saling baku tikam, para guru justru saling memperkuat tali silsilah keilmuannya satu sama lain dan menerangkan dunia dengannya. Oleh karena itu, tak salah jika dikatakan, seorang guru hakikatnya adalah tali penyambung peradaban. Memuliakan guru, pada dasarnya merupakan sebentuk harapan untuk terus memuliakan ilmu dan peradaban.

Suaka
Tahun 1996, sebuah suaka budaya berdiri di sudut kota Denpasar. Umbu menyebutnya Intens Beh (Inspirasi Tendangan Sudut Jalan Bedahulu) karena memang berada di bagian paling ujung jalan Bedahulu, Denpasar Barat. Lebih tepatnya nama itu adalah sebuah kode yang selalu menyertai tanda tangan Umbu Landu Paranggi pada kardus-kardus bekas kertas koran yang selalu ia bawa dari kantornya di Bali Post ke rumah Bedahulu. Kardus-kardus itu sebagai pengganti kasur buat tidurnya dan buat para ‘santri’ yang tinggal di rumah tersebut.
Baru belakangan nama Intens Beh mulai dipergunakan sebagian teman untuk mengidentifikasi aktifitas di Bedahulu yang dimulai berbarengan dengan munculnya krismi, krismon, kripik (kisis ekonomi, krisis moneter, krisis politik) melanda Republik Indonesia pada tahun 1997. Dalam perjalanan waktu, tempat sederhana itu menjadi suaka yang masyhur di kalangan publik sastra di Bali. Menjadi sebuah habitus tanpa struktur kekuasaan, tempat berlindung, menggembleng dan mengembangkan diri bagi ‘serangga-serangga kecil’ korban arus besar pembangunanisme dan urbanisme yang sedang gencar menghantam Denpasar.
Patut dipertimbangkan, ketika suaka Bedahulu muncul, masyarakat Bali tengah memasuki fase transisi budayanya yang paling dramatis – dari struktur agraris ke masyarakat megapolitan yang wujudnya baru dirasakan orang belakangan ini. Sikap pemerintah daerah Bali (1988-1998) yang sangat kooperatif terhadap investor telah mempercepat proses transisi itu.
Ada sejumlah penanda penting yang mengiringi fase itu. Antaranya, satu, trend massal menonton serial silat Cina (Pendekar Rajawali) di salah satu tipi swasta. Kedua, mulainya era pembebasan tanah besar-besaran untuk perumahan mewah di pinggir Denpasar. Ini kelanjutan dari proses pembebasan lahan untuk kawasan pariwisata yang telah mulai sejak 1990 dan berlangsung sejalan dengan terjadinya krisis air bersih di Bali sebagaimana dinyatakan dalam laporan penelitian BLH pada 1996.
Ketiga, di bidang pendidikan formal, pada tahun 1996 berdiri program kajian budaya pasca sarjana Universitas Udayana untuk menyambut arus wacana kritisisme pembangunan pariwisata Bali yang telah gencar disuarakan di forum-forum aktivis dan kalangan lsm. Glokalisasi kapitalisme mulai dikritisi, dan golkarisasi politik mulai digugat.
Keempat, berkembangnya prasangka antar etnis dan agama serta meningkatnya skala kekerasan berbasis adat sebagai reaksi atas kepanikan ekonomi dan efek dari pewacanaan fundamentalisme agama yang berlangsung secara internasional melalui media massa. Sekalipun akumulasi budaya prasangka itu baru mengental pada tahun 2002 ke atas, wacana publik telah diramaikan oleh bias atas lokalitas itu. Fenomena itu dipermarak dengan munculnya wacana larangan terbang di atas langit Nyepi dan munculnya polisi adat di Sanur sejak tahun 1996. Di sektor ekonomi non formal, terjadi konflik-konflik perebutan hak kelola aset wisata antara pihak militer dan sipil – adat, serta terganggunya komunikasi antara pendatang dan penduduk asli.
Semua penanda itu seakan menjadi miniatur dari fenomena yang sama di daerah-daerah lainnya. Yang pada level nasional kemudian menjelma menjadi sebuah ledakan sosial budaya yang mendapat momentum pada kejatuhan Soeharto pada tahun 1998. Di Bali pasca reformasi, kita tau Bali berturut-turut mengalami musibah dengan cap internasional seperti bom Paddys dan SC – sebagai satu hantaman kepada simbol kapitalisme. Apakah dalam proses itu kapitalisme runtuh? Jawabnya tidak. Keruntuhan satu simbol kapitalisme, berarti kebangkitan baru bagi kuasa kapitalisme yang lebih besar.
Ditinjau dengan kacamata politik konspirasi global, penanda-penanda kerisis yang wujud antara akhir tahun 1990-2000-an di Bali itu, merupakan bagian dari proses transformasi global menuju satu dunia, satu tujuan. Sebuah visi penguasaan dunia untuk menciptakan dunia yang konspiratif, seragam, materialis. Tak heran, kalau sasaran utama yang jadi mainan projek transformasi global itu adalah simbol-simbol keadaban masyarakat, sumber-sumber hidup yang pokok, dan nilai-nilai yang dipanuti.
Idealnya, sastra dapat menjadi suaka agar keadaban itu tidak lenyap dari memori dan hidup masyarakat. Tapi kenyataan toh berkata lain. Sastra pun tak luput, malahan turut menjadi bagian dari percepatan projek transformasi global itu. Sama seperti tanah dan pekarangan-pekarangan Bali yang menghilang ke kancah ‘internasional’ melalui alih fungsi kepemilikan, sastra pun kehilangan tuahnya melalui proses pengglobalan yang sama. Budaya gradag-grudug sastra melemah, digantikan oleh event-event profesional dengan spanduk internasional. Apa yang hilang dalam proses semacam itu adalah kesederhanaan, kemandirian, dan kemampuan Bahasa Indonesia (sastra) untuk mentransendensi gejala-gejala. Tuah yang seharusnya tidak boleh lenyap dalam sastra.
Pada latar belakang seperti itulah, suaka Intens Beh perlu diberi nilai. Habitus kecil itu, yang digerakkan dengan semangat swadaya dan sikap ngotot pengasuhnya pada kesederhanaan, kemandirian dan kesunyian yang transenden itu, merupakan sebuah inspirasi, yang menantang realitas yang ada.
Ada keriangan hidup yang tidak bisa kita temukan di tempat lain, saat para santri dan simpatisan yang berasal dari beragam profesi berkumpul secara rutin di jalan Bedahulu itu. Keriangan yang kontemplatif tentu saja. Yang membawa orang kembali kepada alam kanak-kanaknya, yang notabene adalah permulaan diri sosialnya.
Umbu tampaknya, termasuk orang yang yakin bahwa seluruh kerisis kemanusiaan dapat dipulihkan dari diri yang menjadi sumber kerisis itu. Karena itu jalan untuk mengatasi kerisis adalah dengan mengenali diri. Hanya di dalam diri yang mengetahui sangkan paran itu lah, waktu dapat didiamkan. Inilah makna semboyan run deep run silent yang rutin dibubuhkan Umbu pada sela-sela kosong di halaman Apresiasi koran BPM yang diasuhnya. Kiranya, diri itu pula yang dilewatkan dalam model pengajaran di sekolah formal kita, dan secara umum juga dialpakan dalam dinamika kontemporer kita. Tak heran, kalau SDM yang diproduk dari dunia pendidikan kita kebanyakan adalah SDM yang hanya terlalu pintar, tapi tidak tau akan dirinya. Dalam beberapa kasus, malahan tidak tau diri.
Sulit dipikirkan, Umbu yang bukan nguru ngaji, bukan pendeta,dan bukan apa-apa itu mendidik orang dalam prinsip yang sama dengan anjuran hadis, man arafa nafsahu, faqad arafa Rabbahu (bagi siapa yang mengenal dirinya, ia menemukan Rabbnya). Rabb itu, tiada lain Ia lah Suaka yang sebenarnya. Diri Sunyi yang akan membawa manusia keluar dari kerisis kontemporer yang telah membuat waktu terilusi sedemikian rupa.
Riki Dhamparan Putra, Penyair dan musafir yang lahir di Padang, besar di Bali, dan sekarang di Jakarta. Buku puisinya adalah Percakapan Lilin (2004) dan Mencari Kubur Baridin (2014)