Ketoprak Dangsak
Pentas Ketoprak Dangsak "Reksa Mustika Bumi" kolaborasi Cepetan Alas dengan Ketoprak. Pentas ini digelar DKD Kebumendi PRPP Jateng [Foto:AP]
Lengger Banyumasan
Pementasan seni tradisi lengger dari Dariah; tokoh legendaris"Lengger Banyumasan"
Suro Bulus, Parodi Satire Ketoprak Rakyat
Lakon carangan "Suro Bulus" yang merupakan manifestasi perlawanan masyarakat tradisi terhadap kejahatan korporasi tambang
DRAS SUMUNAR, Tetet Srie WD
Pagelaran "Serat Dras Sumunar" karya Tetet Srie WD di Roemah Martha Tilaar Gombong
Dewa Ruci
Pentas wayang dengan lakon "Dewa Ruci" dalam Festival Dalang Anak di Banjarnegara. Tiga dari empat dalang cilik Kebumen sabet juara [Foto:AP]
Jumat, 08 Agustus 2014
Jumat, 06 Juni 2014
Kritik Sastra dan Sastra Populer*
6 June 2014 - Yovantra Arief
*Makalah ini pernah
disampaikan dalam diskusi “Keruntuhan Kritik Sastra di Era Populer” di UIN
Badung
“Akhir-akhir ini kita dipekakkan oleh perkataan krisis. Krisis ini dan krisis itu.
Juga kesusastraan, ada yang mengatakan krisis, […] saya heran, mengapa di samping krisis, tidak terlihat sesuatu yang tidak krisis, sesuatu yang bangun? Barangkali, apa boleh buat, perkataan krisis sudah menjadi mode, sesuatu yang bukan atau tidak krisis tidak masuk hitungan, didaulat saja, dimasukkan dalam lingkungan perkataan krisis atau dianggap sesuatu yang tidak wajar. Misalnya, kesusastraan yang tak krisis dianggap saja bukan kesusastraan. Semacam propaganda misalnya, seperti penamaan orang terhadap karangan penulis-penulis Lekra.”[1]
Keadaan yang digambarkan oleh A.S. Dharta ini
kurang-lebih sama dengan apa yang terjadi hari ini. Kita masih kerap mendengar
keluh kesah krisis dalam dunia sastra; entah krisis penulis, krisis kualitas,
krisis kritikus, krisis orisinalitas, dst., dst. Omelan soal krisis ini
biasanya ditemani oleh “kesadaran sejarah” yang tak lain adalah romantisisme
belaka. “Dulu bagus, ada Pramoedya, ada H.B. Jassin, ada Jakob Sumarjo, ada
ini, itu; sekarang yang ada Andrea Hirata dan Raditya Dika. Boro-boro ada
kritikus, baca buku aja malas.” Barangkali banyak orang yang berpendapat bahwa
produksi “sastra berbobot” kita sudah semakin jarang, dan dengan demikian
kritikus—yang hanya seluruh kerjanya berkait kelindan dengan produksi sastra,
juga ikut berkurang. Asumsinya, sastra populer—yang produksinya bejibun itu—bukanlah
karya sastra.
Tak pelak lagi, sastra populer telah menjadi momok, biang
keladi atas segala kebobrokan yang terdapat dalam dunia sastra. Ia dituduh
telah mencemarkan nama baik sastra dengan hanya memberi hiburan ringan tanpa
isi, membuat remaja berpikir kalau tidak ada hal lain di luar cinta, merusak
bahasa sastra, dan sebagainya. Meskipun kita ramai bersepakat bahwa kritikus
sudah sekarat, tapi kita bisa dengan mudah menemukan ulasan kritis—atau dalam
kata lain, kritik sastra—yang begitu tajam menggorok leher berbagai judul
sastra populer di berbagai medium. Setan macam apakah sastra populer itu?
Istilah “sastra populer” mulai lazim dipakai pada tahun
70-an lewat suksesnya novel Karmila (Marga T.) dan Cintaku di
Kampus Biru (Ashadi Siregar). Hal ini ditandai dengan semakin
besarnya jumlah pembaca sastra dengan latar belakang sekolah menengah dan
perguruan tinggi. Pembaca sastra populer ini kebanyakan adalah perempuan remaja
dan ibu rumah tangga.[2]
Namun, kesusasteraan populer tidak lahir begitu saja di tahun itu. Menurut
Jakob Sumardjo, kesusasteraan populer yang berkonotasi hiburan dan barang
dagangan sudah sudah muncul sejak tahun 30-an, ketika Balai Pustaka sedang
merajalela (Sumardjo, 1982: 37-39).
Sastra Populer dan
Kritik Sastra dalam Sejarah
Sastra populer selalu hadir dalam oposisinya dengan
“sastra serius”. Oposisi ini, tentu saja, adalah hal yang politis, dan apabila
kita melihat sastra populer dalam oposisinya dengan sastra serius, maka sastra
populer sudah dimulai jauh sebelum tahun 30-an. Pada akhir abad ke-19, industri
percetakan mulai bisa diakses oleh kalangan Tionghoa. Mereka menerbitkan
beberapa surat kabar dan cerita-cerita silat dalam bentuk novel.[3]
Selain cerita silat, terdapat pula saduran cerita-cerita
Barat, seperti Robinson Crusoe, The Count of Monte Cristo, dan Sherlock
Holmes. Yang menarik, cerita-cerita Barat ini kerap diadaptasi sedemikian rupa
sehingga memiliki latar cerita di Jawa.[4]
Pada masa-masa ini, industri percetakan hanya dipegang oleh “orang-orang
partikelir” Tionghoa dan konsumsinya pun hanya terbatas dalam kalangan itu
saja. Orang-orang pribumi baru ikut terjun dalam industri percetakan pada awal
abad ke-20 dengan harian Medan Prijaji sebagai pelopor. Sejak saat
itu dapat ditemukan novel yang dimuat secara bersambung dalam koran-koran
pergerakan.
Pandangan tentang sastra populer yang banal, tidak
mendidik, dan tidak punya selera seni muncul seiring dengan usaha kolonial
untuk meredam geliat penerbitan pribumi dan Tionghoa ini. Pada tahun 1908, DA
Rinkes mendirikan Komisi Bacaan Rakyat (berubah menjadi Balai Poestaka pada
1917) guna menyaingi “batjaan liar”. Istilah ini merujuk pada semua terbitan di
luar penerbitan resmi kolonial. Pembentukan Balai Poestaka ini sekaligus juga
memunculkan kelas dalam sastra. Pada satu sisi, terdapat “batjaan liar”, sastra
kelas rendah, yang menggunakan bahasa Melayu Pasar, lingua franca yang
hidup sebagai bahasa sehari-hari dalam perdagangan antar pulau di Indonesia,
dan “dikonsumsi pribumi untuk mebodohi dirinya sendiri”. Di sisi lain, terdapat
sastra keluaran Balai Poestaka, sastra serius, yang berbahasa Melayu Tinggi dan
“diperuntukkan bagi pribumi berpendidikan”.
Kritik sastra formal memang baru dikenal pada 1932 lewat
terbitnya majalah Pandji Poestaka, namun Balai Pustaka sebenarnya sudah
menjalankan salah satu fungsi kritik, yakni penilaian suatu karya sebagai baik
atau buruk berdasarkan standar-standar tertentu. Standar ini, disebut Nota
over de Volkslektuur (nantinya lebih dikenal sebagai Nota Rinkes),
adalah standar seleksi kelayakan suatu karya untuk diterbitkan.
Dalam praktiknya, Nota Rinkes memiliki otoritas
yang lebih tinggi ketimbang “sekadar” pedoman kritik—ia punya nilai
politis. Nota Rinkes pada dasarnya adalah sensor, dan dengan demikian
tidak membuka diskusi rasional mengenai sebuah karya sebagaimana kritik pada
umumnya.[5] Di luar itu, terdapat pula
komentar-komentar Tirto Adhi Surjo atas cerita-cerita yang dimuat di Medan
Prijaji (1907-1912) atau Putri Hindia (1908-1911),[6] atau
kritik atas novel Marco Kartodikromo, Mata Gelap, yang dinilai
merendahkan orang Tionghoa dengan digambarkan sebagai lintah darat.[7]
Pada pertengahan tahun 50-an hingga tahun 1965, sastra
populer bisa dibagi dalam dua kategori: sastra propaganda dan sastra hiburan.
Keduanya adalah populer dalam arti keduanya ditulis dengan bahasa semudah
mungkin, tanpa banyak bunga kata, untuk bisa dikonsumsi oleh sebanyak mungkin
pembaca. Sastra hiburan dirajai oleh cerita-cerita silat (tahun 50-an) dan
cerita detektif, serial western, dan novel saduran (tahun 60-an), sementara
sastra propaganda didominasi oleh sastrawan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat)
dan LKN (Lembaga Kebudayaan Nasional). Persaingan tiga kecenderungan sastra ini
cukup sengit. Hal ini bisa dijelaskan, terutama, oleh konfigurasi politik yang
dikenal dengan pertentangan realisme sosialis-humanisme universal yang terkenal
itu.
Dalam dua kubu politik yang bertentangan, yakni realisme
sosialis (RS) dan humanisme universal (HU), tradisi kritik berkembang besat.
Makian umum terhadap HU adalah bahwa ia menujurus pada formalisme, pada
pengutamaan bentuk yang indah, dan tidak memiliki aspirasi sosial-politik riil
dalam melawan represi dst—dalam kata lain, sastrawan HU tidak “militan”.
Makian umum terhadap sastra RS adalah bahwa mereka tidak
punya mutu estetis, menggunakan bahasa yang ‘lunak’ supaya bisa dimengerti
sebanyak mungkin orang—dan dengan demikian tidak sastrawi—, dan sastra menjadi
tunduk pada sesuatu yang lebih ‘profan’, yang ‘kotor’, yakni politik. Dengan
dua pilihan yang memusingkan itu, apakah politik atau estetika, sastra hiburan
menjadi jalan tengah yang mengasyikkan. Sastra hiburan ini didominasi oleh
karya-karya saduran dari judul-judul asing serta roman percintaan yang ditulis
pribumi. Tradisi sastra hiburan silat yang banyak ditulis sastrawan Tionghoa
tampak punya dunia sendiri, hampir terisolasi dari kubu-kubu yang disebut di
atas.
Begitu Orde Baru naik tahta, spesies sastra propaganda
punah, menyisakan konfigurasi budaya rendah-budaya tinggi ala Sekolah
Frankfurt. Tentu terdapat pengarang-pengarang populer yang punya karya-karya
yang bermutu secara estetik. Putu Wijaya, N.H. Dini, Gerson Poyk, atau
Yudhistira adalah sejumlah nama yang menulis sastra populer dan diakui mutunya.[8] Yang menarik adalah, hari ini, nama-nama
tersebut dianggap—dan dengan demikian “naik pangkat” atau “diakui”—sebagai
bagian dari sastra serius.
Kritik sastra berkembang dengan cukup pesat, namun
semuanya terpusat pada pengulasan “sastra serius”. Sastra populer pertama kali
dilirik oleh kritikus dalam Prisma keluaran tahun 1977. Perhatian
yang lebih luas baru muncul pada dekade 80-an.[9]
Namun ini bukan berarti bahwa sastra populer diakui sebagai sebuah karya seni
dan pembahasan atasnya dilakukan dalam pendekatan estetik, kecuali atas
nama-nama sastrawan populer yang “nyerius” di atas. Perhatian yang diberikan
pada sastra—dan lebih umum, budaya—populer ini hampir selalu dalam konteks
sosiologisnya, dan jarang memberi kajian yang mendalam pada unsur-unsur
internal dalam karya spesifik.[10]
Nilai yang dikandung oleh sastra populer, dalam benak kritikus sastra,
hanyalah karena ia dibaca oleh banyak orang.
Karya sastra populer dibicarakan dalam multiplisitasnya,
sebagai kumpulan karya-karya, untuk menemukan ciri-ciri umum yang definitif.
Definisi ini pun selalu dalam relasinya dengan sastra serius dan dengan
demikian kita tidak bisa memahami sastra populer tanpa adanya sastra
serius—bahwa sastra serius lebih esensial ketimbang sastra populer.[11]
Terdapat gairah baru pada akhir 1990-an dan awal 2000-an
terhadap sastra populer dengan munculnya kategori-kategori baru: chicklit,
teenlit, “sastra wangi”, serta sastra pop-islami (istilah ini dipakai
sekenanya untuk menyebut karya-karya yang diproduksi oleh Forum Lingkar Pena
serta beberapa penulis yang memiliki gaya yang mirip). Kecuali terhadap sastra
wangi yang justru “dibesarkan” kritikus[12],
hanya sedikit minat kritikus terhadap penulis-penulis ini. Dari sedikit
kritikus yang ada (dengan asumsi memang terjadi krisis kritikus), kerja kritik
pun kebanyakan terpaku pada “sastra serius”. Setidaknya itu yang tampak dalam
kritik-kritik koran.
Medium kritik pun menjadi hal menarik untuk dilihat.
Sejak awal kemunculannya, sebagian besar kritik sastra dimuat dalam media
massa.
Pada tahun 20-an, dengan munculnya Pandji
Poestaka, kritik sastra mulai dimuat di majalah. Pada tahun 1953 berdiri
majalah Kisah, majalah bulanan yang pertama kali secara khusus memuat
konten sastra. Majalah tersebut mati pada 1957 dan posisinya digantikan oleh
majalah Sastra pada 1961 (dengan jajaran direksi yang sama; Sudjati
S.A., H.B. Jassin, dan M. Balfas).
Majalah Sastra, selain memuat karya, juga
menampilkan esai dan kritik. Selain itu, terdapat pula Zenith, Mimbar
Indonesia, Budaja, atau Siasat. Pada tahun 1966, majalah Horison terbit
dan menjadi salah satu otoritas sastra Indonesia hingga tahun-tahun awal
2000-an. Terdapat pula jurnal Basis dan Prisma yang kerap
memberi tinjauan terhadap karya sastra secara lebih akademis.
Memasuki milenium baru, majalah-majalah pelan-pelan redup
dan akhirnya mati. Horison masih tersengal-sengal, namun semakin
kehilangan wibawa.
Medium penyebaran kritik sastra pindah ke
koran—harian Kompas yang memiliki “gengsi” paling tinggi di kalangan
kritikus. Tentu muncul pula majalah-majalah khusus sastra yang mencoba
menghidupkan kembali kejayaan di tahun 70 – 90-an seperti Jurnal
Cerpen atau Jurnal Kritik, namun keduanya tidak memiliki
persebaran yang luas dan tidak laku di pasaran.
Di luar medium konvensional cetak, internet menghadirkan
cara distribusi baru. Pada tahun 90-an muncul laman Cybersastra yang cukup
aktif menerbitkan karya maupun kritik. sayangnya laman ini sudah tidak aktif
lagi. Posisi laman ini dilanjutkan oleh laman Mediasastra yang, sayangnya,
tidak terlalu aktif dalam menerbitkan kritik. Banyak pula penulis pemula yang
menulis ulasan, apresiasi, maupun kritik dalam blog pribadi.
Belakangan muncul pula grup-grup di sosial media yang
khususkan dalam mendiskusikan sastra koran (di Facebook misalnya, ada grup
sastra koran minggu yang mengumpulkan cerpen, puisi, dan esai yang dimuat dalam
koran minggu). Medium internet sebenarnya menawarkan kemajuan dalam kritik
sastra; ia lebih mudah diakses, tidak terbatas dalam panjang tulisan,
memungkinkan lebih banyak kritikus yang muncul, serta memungkinkan diskusi yang
lebih intens. Namun, pada nyatanya, tulisan di internet belum punya otoritas
sebagaimana cetak.
Banyak kritik sastra dalam laman blog pribadi memiliki
masalah dalam hal penulisan dan penyuntingan; dari susunan kalimat yang
berantakan, kedodoran dalam hal rujukan, argumentasi yang tidak runtut,
kurangnya perspektif kritis, atau bahkan tidak punya ide tulisan sama sekali.
Kendala umum dalam laman yang dikelola secara kolektif (seperti Mediasastra dan
IndoPROGRESS) adalah dalam hal basis produksi. Sebagian besar penggiatnya
adalah relawan yang harus membagi antara kerja “profesional” dengan kerja “pro
bono”. Akibatnya, media-media ini keteteran dalam hal menjaga ritme serta
kualitas terbitan.
Dengan medium yang lebih luwes ini pun, tidak ada
perkembangan yang berarti dalam kritik terhadap sastra populer. Tulisan-tulisan
yang bisa kita temui mengenai sastra populer biasanya terbagi dalam dua kubu:
mengecamnya sebagai budaya rendahan yang tidak berisi atau membelanya
mati-matian dengan bertumpu pada argumen selera. Tentu ada beberapa
kritikus yang mampu melihat sastra populer secara—katakanlah—lebih objektif.
Katrin Bandel, misalnya, membuktikan bahwa Saman, alih-alih merupakan
bagian dari perjuangan feminisme, malah jatuh dalam jebakan falosentrisme.[13]
Ia juga pernah mengulas novel Clara Ng, Dimsum Terakhir dan Negeri
Perempuan karangan Wisran Hadi dalam hubungannya dengan identitas etnis
dalam masyarakat metropolitan.[14]
Kelas dan Kritik
Sastra
Kritik yang biasa dilayangkan pada sastra—atau lebih
umumnya, budaya—massa hari ini bisa kita lacak hingga kritik Adorno atas
semangat Pencerahan.[15]
a.) industri budaya melayani kebutuhan pasar, sehingga
nilai estetik dikalahkan oleh hasrat mencari untung,
b.) industri budaya adalah komodifikasi suara hati
manusia; ia menghabisi pikiran otonom dan kritis, sehingga manusia jadi tunduk
pada tatanan yang sudah mapan,
c.) industri budaya membuat standardisasi budaya dalam
norma-norma tertentu sehingga tercipta “keragaman semu” dalam kebudayaan; yang
banyak adalah pilihan, namun pilihan-pilihan tersebut pada dasarnya adalah
sama, dan dengan demikian, mentalitas manusia juga ikut diseragamkan, dan
d.) manusia, dalam kapitalisme, direduksi menjadi
nilai-tukar, ia bernilai sejauh laba bisa ditarik darinya, sehingga segala
macam cita-cita Pencerahan bahwa manusia adalah unik menjadi kandas.
Kritik-kritik tersebut bertumpu pada determinasi
struktur, yakni asumsi bahwa sistem menentukan segala, bahwa manusia tidak bisa
keluar sama sekali dari sistem. Di balik asumsi ini, bersembunyi gagasan bahwa
sistem demikian utuh, sempurna, mampu mengatur segala aspek kehidupan
manusia dan manusia tak punya pilihan selain menurutinya. Apabila kita
mengamini asumsi ini, maka segala harapan akan adanya perubahan akan kandas.
Apabila struktur sudah sempurna, maka tesis Francis Fukuyama tentang demokrasi
liberal benar, bahwa demokrasi liberal adalah akhir dari sejarah. Apabila
struktur sudah sempurna, maka untuk apa ada perubahan di dalamnya—dengan kata
lain, mustahil ada perubahan sama sekali.
Kesimpulan semacam ini tidak bisa diterima—dan memang
tidak diterima—dalam kesusastraan Indonesia. Masih ada kesusastraan yang tidak
menghamba pada logika industri; masih ada kesusastraan yang “idealis”, yang
menjunjung tinggi nilai-nilai estetik, yang tetap menjunjung tinggi kemanusiaan
dan resisten terhadap status quo. Kita menyebutnya sebagai “sastra serius”.
Namun demikian, jawaban bagi problem yang dimunculkan
oleh sastra populer ini justru menciptakan hierarki dalam sastra. Aspirasi
Marxian untuk menghapuskan perbedaan kelas-kelas sosial justru ditampik dengan
penciptakan kelas-kelas dalam sastra. Kelas-kelas dalam sastra tentu punya
basis objektif dalam karya itu sendiri, yakni dalam hal struktur karya, diksi,
kelihaian dalam menjaga ritme, tema serta pesan yang ingin disampaikan oleh
karya itu sendiri. Karena sastra adalah produk sosial, maka pada
hakikatnya kelas-kelas dalam sastra adalah cerminan dari kelas-kelas yang
terdapat dalam masyarakat.
Bourdieu dalam Distiction: A Social Critique of the
Judgement of Taste (1979) mengajukan bahwa modal (capital) tidak hanya
berbentuk penguasaan atas benda-benda material atau alat kerja untuk
diakumulasikan. Modal juga mencakup ranah-ranah sosial yang tidak punya nilai
tukar secara langsung seperti pendidikan, hubungan sosial, atau keahlian
tertentu. Modal, oleh Bourdieu, bisa dirangkum dalam tiga kategori besar,
yakni modal ekonomi, modal sosial, dan modal kultural. Akumulasi
modal dalam satu ranah bisa membuka akses pada modal pada ranah lainnya.
Apabila seseorang punya cukup modal ekonomi, ia bisa
punya akses pada pendidikan, pada pengakuan orang lain, pada karya seni yang
lebih tinggi, dst. Seseorang pun bisa mengakumulasi modal kultural (dengan kuliah
sastra, menulis karya sastra, dst) untuk bisa mengakumulasi modal kulturalnya
dan dipertukarkan dengan modal ekonomi (dengan menjadi dosen sastra,
menulis chicklit, dst).
Distingsi sastra populer-sastra serius pun mengandaikan
adanya akumulasi modal kultural. Dalam memahami suatu karya, dibutuhkan akses
terhadap pengetahuan. Paling sederhana, untuk memahami puisi-puisi Afrizal
Malna, kita mesti bisa bahasa Indonesia, memahami tata bahasa Indonesia, dan
sedikit mengenal bahasa Inggris—minimal punya kamusnya. Untuk memahami
kebaruannya, kita mesti tahu sejarah persajakan Indonesia.
Untuk bisa memahami maknanya, kita mesti memahami konsep
subjek, terutama subjek modern yang ia kritik—akan lebih baik lagi kalau kita
pernah main genit-genitan dengan pascamodernisme. Segala macam “amunisi” ini
tidak kita butuhkan kalau kita membaca—misalnya saja—Cintapuccino. Problemnya,
tidak semua orang punya akses terhadap pengetahuan di atas. Dengan demikian,
mencibir karya dan pembaca sastra populer adalah satu bentuk penindasan
terhadap kelas-kelas yang aksesnya terhadap pengetahuan tidak dimungkinkan.
Tentu ada kebenaran dalam kritik-kritik yang dilayangkan
terhadap sastra populer—namun itu hanya terbatas pada segi isi atau pesan yang
ia utarakan. Bahwa banyak sastra populer yang hanya bicara soal cinta, dangkal,
dan tidak punya kesadaran sosial-politik lebih daripada jargon-jargon moral,
itu benar. Namun, ada kebenaran juga yang bisa diambil dari
kekurangan-kekurangan sastra populer ini: bahwa sastra populer bicara tentang
hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sebagian besar masyarakat kita,
dan dengan demikian lebih mudah diterima dan punya pengaruh dalam praksis
masyarakat.
Terdapat dua hal yang khas dalam tradisi kritik
Marxian. Pertama, kritik harus dilancarkan secara internal, yakni
dalam kategori-kategori yang ia kritik itu sendiri. Marx mengkritik kapitalisme
mula-mula bukan dengan cara membuat teori-teori, dikotomi-dikotomi baru,
melainkan dengan mendasarkan diri pada kategori-kategori pengetahuan tentang kapitalisme
itu sendiri, menemukan kontradiksinya, lalu mencari kemungkinan-kemunngkinan
perubahan dalam struktur itu sendiri. Kedua, kritik harus
diradikalkan dalam bentuk praksis mengubah keadaan yang ia kritik.
Dengan demikian, tugas utama kritik—terutama kritik
Marxian—bukanlah terlibat dalam menyuburkan sastra serius. Pena kritik mesti
diarahkan pada sastra populer. Bukan sebagai musuh kritikus. Dan kritikus bukan
sebagai begawan adiluhung yang mengajarkan seperti apa sastra seharusnya.
Kritikus justru dituntut untuk berbaur dengan sastrawan
populer, menteorikan pengetahuan mereka tentang praksis, membantu mereka dalam
mengidentifikasikan problem-problem sosial untuk kemudian diartikulasikan dalam
bentuk sastra, serta menunjukkan arah-arah kemungkinan perkembangan estetika
penulis sastra populer.
Dalam kata lain, menjadi kritikus Marxian adalah menjadi
aktivis. Kerja kritik adalah kerja pengorganisasian pengetahuan dan
pengorganisasian sosial. Seorang kritikus adalah mereka yang berhadapan dengan
pekerja sastra dengan satu seruan: penulis chicklit se-Indonesia,
bersatulah!
Daftar
Pustaka
Ananta
Tur, Pramudya. 1985. Sang Pemula. Jakarta: Hasta Mitra.
Bandel,
Katrin. 2013. Sastra Nasionalisme Pascakolonialitas. Jogjakarta:
Pustaha Hariara.
Budiman,
Hikmat. 2002. Lubang Hitam Kebudayaan. Jakarta: Kanisius.
Dharta,
A.S., dan Budi Setiyono (penyunting). 2010. Kepada Seniman Universal,
Kumpulan Esai Sastra A.S. Dharta. Ultimus: Bandung.
Foulcher,
Keith, dan Tony Day (penyunting). 2002. Clearing A Space: Postcolonial
Readings of Modern Indonesian Literature. Leiden: KITLV Press.
Sastrowardoyo,
Subagyo (penyunting), 2013. Menjelang Teori dan Kritik Susastra Indonesia
yang Relevan. Bandung: CV Angkasa
Sumardjo,
Jakob. 1979. Novel Indonesia Mutakhir: Sebuah Kritik. Yogyakarta: Nur
Cahaya.
Sumardjo,
Jakob. “Sastera Populer dan Pengajaran Sastera”, dalam Basis no. 5,
Th. XXXI, Mei 1982.
Farid,
Hilmar dan Razif. “Batjaan Liar in the Dutch East Indies: A Colonial
Antipode”, dalam Postcolonial Studies, Vol. 11, No. 3, 2008
Adorno,
Theodore, dan Max Horkheimer. “Culture Industry: Enlightenment as Mass
Deception”, dalam Dialectic of Enlightenment, 1944,
Arief,
Yovantra. “Ideologi dan Kritik Sastra: Ketika Politik jadi Panglima,
1902-1965”, di laman https://indoprogress.com/2013/06/ideologi-dan-kritik-sastra-ketika-politik-jadi-panglima-1920-1965/#_edn10
[1] A.S. Dharta, “Ukuran Bagi Kritik Sastra Dewasa Ini”, pidato pada
simposium Fakultas Sastra, Jakarta, Januari 1956. Dimuat dalam Budi Setiyono
(editor), Kepada Seniman Universal, Kumpulan Esai Sastra A.S.
Dharta, 2010, Ultimus: Bandung.
[2] Sumardjo, Jacob, “Sastera Populer dan Pengajaran Sastera”, dalam Basis no.
5, Th. XXXI, Mei 1982.
[3] Hilmar Farid dan Razif, “Batjaan Liar in the Dutch East Indies: A
Colonial Antipode”, dalam Postcolonial Studies, Vol. 11, No. 3, 2008
[4] Doris Jedamski, “Popular Literature and Postcolonial Subjectivities:
Robinson Crusoe, The Count of Monte Cristo and Sherlock Holmes in Colonial
Indonesia”, dalam Clearing A Space: Postcolonial Readings of Modern
Indonesian Literature, Keith Foulcher dan Tony Day (eds), Leiden: KITLV
Press, 2002, hal. 20-24.
[5] Lihat Yovantra Arief, “Ideologi dan Kritik Sastra: Ketika Politik jadi
Panglima, 1902-1965”, di laman https://indoprogress.com/2013/06/ideologi-dan-kritik-sastra-ketika-politik-jadi-panglima-1920-1965/#_edn10
[6] Lihat artikel yang ditulis oleh Tirto Adhi Suryo berjudul “Kekejaman
di Banten” yang mengulas novel Max Havelaar dalam Pramudya Ananta
Tur, Sang Pemula, 1985, Jakarta:Hasta Mitra, hal. 223, atau ulasan
singkat mengenai buku Babu Delima dalam artikel “Oleh-oleh dari
Tempat Pembuangan”, dalam Sang Pemula, hal. 245.
[7] Termuat dalam surat kabar Tjhun Tjhiu 84, 1914, hal. 23,
sebagaimana dikutip dalam Hilmar Farid, “Batjaan Liar in the Dutch East
Indies: A Colonial Antipode”, Postcolonial Studies, Vol. 11, No. 3, 2008,
Routledge, hal. 286.
[8] Lihat catatan kaki 4 dalam Farouk, “Novel Indonesia Mutakhir: Menuju
Teori yang Relevan”, dalam Subagyo Sastrowardoyo (penyunting), Menjelang
Teori dan Kritik Susastra Indonesia yang Relevan, 2013, Bandung : CV
Angkasa, hal. 157
[9] Hikmat Budiman, Lubang Hitam Kebudayaan, 2002, Jakarta: Kanisius
[10] Bandingkan dua edisi jurnal Prisma yang telah disebut di
atas, dan Novel Populer Indonesia (Jakob Sumardjo, 1982, Yogyakarta:
Nur Cahaya),
[11] Lihat misalnya Jakob Sumardjo, Novel Indonesia Mutakhir: Sebuah
Kritik, 1979, Yogyakarta: Nur Cahaya. Dalam buku tersebut, Sumardjo
memberi perbandingan tentang sastra populer dengan sastra serius dalam hal
plot, tema, isi, dan unsur inovasi. Kita digiring pada sebuah opini bahwa
sastra populer hanya melayani nafsu menghibur diri semata tanpa isi yang lebih
“bergizi” bagi kehidupan manusia; ia hanya membicarakan soal cinta, tidak
memiliki ambisi untuk membaharui atau memperkaya khazanah sastra, penokohannya
cenderung stereotipikal, penggarapan isunya cenderung cetek, dst. Analisa ini
mendasarkan diri bahwa sastra yang baik harus berbobot, harus membicarakan
hal-hal yang esensial dalam hidup manusia, harus punya penokohan yang di luar
stereotipe, harus punya kebaruan, dst; ciri-ciri yang dilekatkan pada “sastra
serius”.
[12] Novel Saman, ketika pertama terbit, mendapat publikasi yang
luar biasa di media massa. Kritikus-kritikus ramai memuji novel tersebut. Kompas bahkan
mempromosikan Saman tanpa catatan kritis sama sekali. Tentu masih ada
yang bersikap kritis terhadap novel tersebut (Katrin Bandel dan Pramoedya
Ananta Tur, misalnya), namun suara mereka minor. Segala macam pujian ini
membuat kritik menjadi sekadar advertising, hanya bunga kata untuk
mendongkrak penjualan Saman. Lihat Lubang Hitam, hal. 157
[13] Katrin Bandel, “Falosentrisme dalam Novel Ayu Utami”, dalam Sastra
Nasionalisme Pascakolonialitas, 2013, Jogjakarta: Pustaha Hariara, hal.
167-185
[14] Katrin Bandel, “Etnisitas dan Kota”, dalam Op.cit, hal. 63-79
[15]
Lihat Theodore Adorno dan Max Horkheimer, “Culture Industry: Enlightenment as
Mass Deception”, dalam Dialectic of Enlightenment, 1944, http://www.marxists.org/reference/archive/adorno/1944/culture-industry.htm
Kamis, 15 Mei 2014
Memang Siapa Goenawan Mohamad?
15 Mei 2014 07:20 | Berric Dondarrion
Terus terang pemilu tahun ini adalah yang paling menarik sepanjang reformasi dan semuanya bermula dari kegelisahan banyak pihak terhadap potensi pencapresan seorang Prabowo. Menurut saya terlepas dari nantinya Prabowo terpilih atau tidak, dia harus bangga sebab begitu banyak operasi intelijen dan strategi-strategi disusun demi menjegal langkahnya termasuk kampanye bertema HAMBURGER yang sebenarnya sudah tidak berhasil namun akan terus diulang dengan harapan repetisi topik yang sama akan mencuci otak masyarakat..
Sumber: Kompasiana
Terus terang pemilu tahun ini adalah yang paling menarik sepanjang reformasi dan semuanya bermula dari kegelisahan banyak pihak terhadap potensi pencapresan seorang Prabowo. Menurut saya terlepas dari nantinya Prabowo terpilih atau tidak, dia harus bangga sebab begitu banyak operasi intelijen dan strategi-strategi disusun demi menjegal langkahnya termasuk kampanye bertema HAMBURGER yang sebenarnya sudah tidak berhasil namun akan terus diulang dengan harapan repetisi topik yang sama akan mencuci otak masyarakat..
Menjelang detik-detik terakhir pendaftaran koalisi dan
pasangan capres-cawapres begitu banyak intrik dan serangan terhadap Poros
Gerindra. Anggota koalisi yang tadinya sudah begitu solid terus digoyang
sementara aksinya mencari anggota baru seperti dijegal oleh kekuatan tidak
terlihat.
Salah satu aksi menggoyang koalisi itu dilakukan oleh
salah satu pendiri PAN sejak bernama MARA yang sudah lama tidak aktif, Goenawan
Mohamad yang mengeluarkan pernyataan mengundurkan diri dari PAN karena Hatta
Rajasa maju bersama Prabowo dan hal tersebut menghianati semangat reformasi
sebagai alasan berdirinya PAN.
Mundurnya Goenawan Mohamad memang sengaja dirancang
supaya terdengar menghebohkan dan menggemparkan, namun sayang Goenawan Mohamad
tidak memiliki kharisma dan nama baik yang cukup untuk membuat orang berpikir
PAN kehilangan aset terbaiknya, toh sebagaimana diakui Goenawan Mohamad
sendiri, dia sudah lama tidak aktif sehingga sudah lama tidak ikut mengurus
kegiatan PAN, sehingga tidak layak bila dia tiba-tiba protes terhadap suatu
keputusan yang dibuat PAN yang menurutnya melanggar visi dan misi pendirian
PAN. Kemana saja boss?
Lagipula siapa Goenawan Mohamad sehingga dia merasa
penting dan layak menjadi polisi moral bagi rakyat Indonesia? Dokumen wikileaks
memang menyebutnya sebagai "crusader for press freedom", namun kita
tahu bahwa Goenawan Mohamad tidak pernah berani melawan pembredelan rezim
Soeharto, setidaknya tahun 1970 sampai 1980akhir.
Apa yang membuat berubah sehingga tahun 1994 seorang
Goenawan Mohamad seolah makan nyali macan dan melawan Soeharto?
Karena jaminan perlindungan Benny Moerdani yang
tersingkir dari Orde Baru dan merupakan teman dekat Fikri Jufri. Selain itu
Goenawan Mohamad juga mendapat uang dari Amerika melalui USAid demi melemahkan
pemerintahan Indonesia sebesar US 300,000 dan dari uang ini berdirilah lembaga
khusus fitnah terhadap Orde Baru bernama Komunitas Utan Kayu, SiaR dan Institut
Studi Arus Informasi/ISAI.
Goenawan Mohamad juga memasang beribu topeng di wajahnya
dan seolah memiliki kepribadian ganda, sebab di satu sisi dia adalah anggota
Manifest Kebudayaan/Manikebu yang melawan Lekra dan komunis; namun di sisi lain
ketika Goenawan Mohamad bersitegang dengan Taufik Ismail sesama teman dari
Manikebu terkait majalah Horison, dia malah merangkul elemen-elemen ex Lekra
seperti Pramoedya Ananta Toer dan melalui ISAI menerbitkan banyak buku
apologetika kaum komunis termasuk buku putih berisi fitnahan yang terkenal dari
John Rossa berjudul Pretext to Mass Murder yang isinya hanya sekedar mengambil
alih teori yang terbukti salah milik Wertheim.
Keranjingannya kepada usaha menutup "kesalahan"
kepada komunis menyebabkan Goenawan Mohamad ikut membantu Carmel Budiardjo, ex
PKI dan istri Budiardjo yang menyelundupkan senjata untuk pasukan G30S/PKI membuat
film The Act of Killing yang disponsori organisasi milik Carmel Budiardjo,
Tapol UK, dengan tujuan mendiskriditkan dan menjelek-jelekan nama Indonesia di
forum internasional. Sebagai anak didik agen CIA bernama Ivan Kats tampaknya
perbuatan semacam ini bukan hal aneh bagi Goenawan Mohamad.
Di kalangan seniman seorang Goenawan Mohamad juga hanya
dihormati di Komunitas Salihara dan Komunitas Utan Kayu/KUK yang dibangunnya.
Bagi kalangan seniman non Salihara dan KUK melihat Goenawan Mohamad adalah
orang yang arogan, congkak dan merasa paling mengerti seni. Tidak jarang
Goenawan Mohamad menyebut karya seniman lain dengan sindiran kasar seperti
majalah Boemiputra yang dibuat penyair Wowok Hesti Prabowo dan disebut Goenawan
Mohamad sebagai tidak lebih dari coret-coretan di toilet. Wah, hebat sekali,
hanya tulisan Salihara dan KUK yang karya sastra, lainnya coretan di toilet!
Selain itu ada Saut Situmorang yang mengkritik politik
seni hanya untuk KUK dan Salihara ala Goenawan Mohamad seperti terbukti gagal
masuknya Wowok Hesti Prabowo, Ahmadun Herfanda dan Radhar Panca, semuanya
seniman non Salihara dan KUK sebagai anggota Dewan Kesenian Jakarta tahun 2006
yang dikuasai sepenuhnya oleh orang-orangnya Goenawan Mohamad seperti Marco K,
Ayu Utami, Nukila Amal dll (sama seperti AJI dibentuk dan kemudian dikuasai
orangnya Goenawan Mohamad dan Tempo).
Selanjutnya Saut Situmorang juga mengkritik acara
internasional yang diadakan KUK tema "Temu Sastra Internasional" di
Taman Budaya Surakarta, Solo namun tidak ada satupun sastrawan lokal dari Solo
yang dilibatkan untuk ikut di acara tersebut. Sebagai wujud protes, Saut
membuat petisi yang ditanda tangani seniman lokal dan membagi-bagikan kepada
peserta acara, yang dibalas oleh Goenawan Mohamad melalui mesin politiknya, Tempo
yang kemudian menerbitkan berita mengenai tindakan Saut dan seniman lokal Solo
sebagai cemburu dan iri hati karena tidak diundang tanpa mewawancarai Saut dan
satu-satunya narasumber adalah Goenawan Mohamad sendiri. Luar biasa!
Kritik-kritikan terhadap Goenawan Mohamad masih banyak
lagi, termasuk pembelaan Tempo terhadap kasus pemerkosaan yang dihadapi
petinggi Salihara, Sitok Srengenge dengan menurunkan berita seolah pemerkosaan
terjadi suka sama suka; menurunkan berita tidak benar bahwa MUI menerima suap
dari Australia untuk sertifikat halal; dan menempatkan mantan Presiden Soeharto
sebagai Yesus, Tuhan umat Kristen dalam cover edisi meninggalnya mantan
Presiden Soeharto dan lain sebagainya.
Jadi menjawab judul pertanyaan ini, Memang Siapa Goenawan
Mohamad? Anda sudah bisa menjawab sendiri.
Sumber: Kompasiana
Selasa, 04 Maret 2014
Mundo Nuevo: Jejak CCF di Amerika Latin
Selasa, 04 Maret 2014
Belakangan ini, para budayawan sepuh
Indonesia sedang ramai dimintai pertanggungjawaban sejarah oleh generasi muda
mengenai “peran” mereka dalam tragedi 1965. “Peran” yang dimaksud di sini
secara khusus merujuk pada keterlibatan mereka dalam proyek-proyek kebudayaan
antikomunis yang disokong oleh Congress for Cultural Freedom (CCF), sebuah
operasi terselubung (covert action) Central Intelligence
Agency (CIA) Amerika Serikat. CCF adalah tangan penggerak operasi global AS di
bidang kebudayaan untuk meluaskan dominasi ekonomi-politik liberal mereka.
Bahwa CCF adalah operasi CIA
bukanlah isapan jempol belaka. Fakta ini sudah dibongkar jauh-jauh hari sejak
April 1966; pertama oleh reportase Tom Wicker di New York Times,
dan kedua oleh reportase majalah Ramparts melalui
redakturnya, Warren Hinckle. Barangsiapa menyangsikan “kualitas”
reportase-reportase tersebut, perlu dicatat bahwa Ramparts dianugerahi George Polk Memorial Award for Excellence in Journalism atas
kerja investigatifnya itu. Berpuluh tahun kemudian, dengan meneliti arsip-arsip
yang telah dideklasifikasi, Frances Stonor Saunders merinci keterkaitan CIA-CCF
dalam buku Who Paid the Piper? CIA and the Cultural Cold War (1999).
Mengutip kalimat pembukaan Saunders
dalam bukunya: “Selama puncak Perang Dingin, pemerintah AS menyediakan sumber
daya yang sangat besar untuk program rahasia propaganda kebudayaan [...]
Program ini dikelola dengan sangat rahasia oleh tangan spionase Amerika, CIA.
Di pusat aksi ini terdapat Congress for Cultural Freedom yang dijalankan oleh
agen CIA Michael Josselson [...] Semasa puncaknya, Congress for Cultural
Freedom punya kantor di 35 negara, mempekerjakan lusinan personil, menerbitkan
lebih dari 20 majalah bergengsi, menggelar pameran-pameran seni rupa, memiliki
layanan kantor berita, menyelenggarakan konferensi-konferensi internasional
papan atas, dan menganugerahi para musisi dan seniman dengan
penghargaan-penghargaan dan pertunjukan publik.” Tujuannya: “Menjauhkan kaum
intelegensia dari Marxisme menuju pandangan yang lebih akomodatif terhadap
‘cara Amerika’.”[1]
Fakta-fakta inilah, yang meskipun
sudah diketahui umum, rupanya tetap tak hendak diakui oleh para penulis dan
intelektual Indonesia yang terlibat. Operator CCF untuk Asia, Ivan Kats, yang
menjalin hubungan dekat dengan para intelektual Indonesia untuk menggarap kerja
CCF di sini, dibela oleh Goenawan Mohamad dengan dibilang “tak tahu” soal
hubungan CCF dengan CIA dan “terkejut” saat membaca laporan New York
Times karena “tak menyangka”.[2] Almarhum Mochtar Lubis menyangkal keras kaitan
itu, sementara Taufiq Ismail mengaku “tertegun” setelah mengetahuinya.[3]
Para pembela mereka juga kerap
mengungkapkan dalih yang kira-kira berbunyi demikian, "CIA kan bukan intel
Melayu. Kerjanya sangat rapi. Operasinya sajacovert action. Maka sangat
wajar dan bisa dimaklumi kalau orang-orang CCF maupun para penulis yang bekerjasama
dengan mereka tidak tahu menahu bahwa mereka bekerjasama dengan CIA."
Argumen itu mungkin betul. Tapi yang
jadi masalah di sini: adakah tindakan etis yang dilakukan oleh para
penulis dan budayawan itu setelah fakta keterkaitan CCF-CIA dibongkar
oleh reportase New York Times dan Rampartspada
1966? Kita bisa menengok ke Amerika Latin untuk mencari pembandingnya.
Jelas, di mata AS saat itu, Amerika
Latin sebagaimana Asia Tenggara adalah wilayah prioritas yang harus disterilkan
dari pengaruh komunis. AS punya banyak alasan untuk merasa waswas. Tahun Baru
1959 dibuka dengan kaburnya diktator boneka AS dari Kuba, Fulgencio Batista,
akibat ditumbangkan oleh pasukan gerilya Fidel Castro. Revolusi Kuba dan
kemenangan Castro punya dampak luar biasa pada kesadaran geo-politik subbenua
itu. Negara-negara Amerika Selatan mulai melihat dirinya sebagai satu kesatuan
politik yang mengalami rute historis serupa dan tumbuhlah rasa sebagai “satu
Amerika Latin.” Dari pengalaman gerilya itu pula Che Guevara menuliskan
teorinya yang terkenal, teori foco, yaitu bahwa garda depan pasukan
bersenjata bisa menyulut gerakan-gerakan revolusioner sejenis di sepenjuru
Amerika Latin.
Untuk menangkal pengaruh Revolusi
Kuba (dan dengan demikian ide-ide Marxis) di bidang pemikiran dan kebudayaan,
sekretariat CCF di Paris merasa perlu menerbitkan sebuah majalah baru untuk
menggantikan majalah CCF di Amerika Latin sebelumnya, Cuadernos del
Congreso por la Libertad de la Cultura (disingkat Cuadernos). Cuadernos terbit
triwulanan sejak Maret 1953 dan sukses membangun jaringan di beberapa negara
dari Cile hingga Uruguay.[4] Namun pasca Revolusi Kuba
1959, Cuadernos dirasa sudah terlampau kuno. Kalangan
pembacanya terpusat pada generasi yang menggelorakan semangat Republikan dalam
Perang Saudara Spanyol, dan tidak mampu masuk ke segmen pembaca lebih muda yang
menjadikan Revolusi Kuba sebagai kiblatnya. Pada 1963 Cuadernos disudahi,
dan dari kantor CCF yang sama di Paris digodok sebuah majalah baru
bernama Mundo Nuevo (Dunia Baru).
Di bawah keredaksian Emir RodrÃguez
Monegal, kritikus sastra asal Uruguay yang bisa kita sebut sebagai “Ivan
Katsnya Amerika Latin”, Mundo Nuevodibuat menjadi lebih “sastrawi”
dibanding Cuadernos. Dengan semboyan “una revista de
diálogo” (atau “majalah dialog”), ia juga menyatakan diri “apolitis”
atau tidak memihak satu pandangan politik tertentu. Klaim ketidakberpihakan ini
terasa janggal menurut kritikus Jean Franco, karena jelas-jelas “Mundo
Nuevo dimaksudkan untuk menandingi pengaruh Revolusi Kuba pada
imajinasi para penulis muda serta pengaruh jurnal kebudayaan Kuba Casa
de las Américas [yang] merayakan perjuangan pembebasan
negara-negara Dunia Ketiga, gerakan Black Power di AS, perjuangan gerilya,
dan tradisi anti-imperialisme Amerika Latin.” [5]
Di sini kita bisa melihat jelas
perbedaan ideologis Mundo Nuevo di bawah RodrÃguez Monegal
dengan Casa de las Américas di bawah kepemimpinanHaydée
SantamarÃa. Apabila Casa de las Américas berusaha
membentuk “geografi kultural baru” dengan menempatkan Amerika Latin dalam
konteks perjuangan pembebasan nasional negara-negara Dunia Ketiga, Mundo
Nuevoberusaha menempatkan Amerika Latin ke dalam “akar universal”-nya di
Eropa.Mirip sekali dengan proyek “humanisme universal” di Indonesia dengan
klaim universalisme dan ketidakberpihakannya. Apabila Haydée SantamarÃa
mengkritik para penulis Amerika Latin yang tinggal di Eropa, RodrÃguez Monegal
justru mengklaim bahwa para penulis besar Amerika Latin adalah yang tinggal di
luar negeri. Perbedaan cara pandang ini juga kentara jelas saat dua jurnal
yang mereka kelola membahas topik yang sama, misalnya peringatan 100 tahun
kelahiran penyair Nikaragua Ruben DarÃo. Apabila Mundo Nuevomenempatkan
pencapaian DarÃo dalam jajaran modernisme tinggi, setara dengan para penyair
Eropa seperti Stéphane Mallarmé atau Rainer Maria Rilke,Casa de las
Américas melihat DarÃo sebagai prototipe gerilyawan Kuba yang siap
menghadapi imperialisme AS.[6]
Atas prinsip itu jugalah
(“menempatkan kebudayaan Amerika Latin dalam konteks yang internasional
sekaligus aktual,” sebagaimana disebutkan dalam editorial edisi
perdananya), Mundo Nuevo memilih berkantor pusat di Paris.
Tentunya ada juga kebutuhan praktis terkait pembiayaan dari CCF yang bermarkas
di kota yang sama[7] serta koordinasi dengan jurnal-jurnal lain
terbitan CCF. Mundo Nuevo dicetak 5.000-6.000 eks dan
diedarkan di seluruh negara Amerika Latin serta sedikit di AS dan Eropa. Tak
pelak lagi ia adalah bagian dari apa yang oleh Sekretaris Eksekutif CCF
sekaligus agen CIA Michael Josselson disebut sebagai “grande famille (keluarga
besar) majalah-majalah antikomunis.” Artikel-artikel Mundo Nuevo diterjemahkan
dan dimuat di pelbagai jurnal terbitan CCF lainnya, sebagaimana Mundo
Nuevo juga berhak menerbitkan terjemahan artikel-artikel dari
“keluarga besar majalah antikomunis” lainnya yang dibiayai CCF.[8]
Dengan misinya yang kosmopolit dan
kontemporer, serta peluang untuk diterjemahkan ke bahasa-bahasa selain Spanyol,
RodrÃguez Monegal berhasil menarik banyak penulis Amerika Latin dari pelbagai
kecondongan politik untuk bekerja sama atau mengirimkan karyanya ke Mundo
Nuevo. Tersebutlah nama-nama yang sedang naik daun seperti Carlos Fuentes,
José Donoso, Augusto Roa Bastos, Guillermo Cabrera Infante, Octavio Paz,
Gustavo Sainz, Gabriel GarcÃa Márquez, Mario Vargas Llosa, dan Julio
Cortázar—nama-nama yang nantinya menjadi nama-nama besar dan mendunia dalam apa
yang disebut sebagai“boom” sastra Amerika Latin. Maka dalam satu
hal, Mundo Nuevo punya peran “mempromosikan” terlebih dahulu
para penulis ini kepada pembaca Eropa sebelum “boom” sastra
sungguh-sungguh terjadi.[9] Petikan karya-karya yang kini menjadi “kanon”
sastra Amerika Latin era boom terlebih dulu terbit diMundo
Nuevo sebelum terbit utuh sebagai novel (misalnya potongan Cien
años de soledad karya GarcÃa Márquez, Cambio de piel karya
Carlos Fuentes, danTres tristes tigres karya Guillermo Cabrera
Infante). RodrÃguez Monegal bahkan mengajak GarcÃa Márquez menjadi kontributor
tetap Mundo Nuevodengan tawaran upah AS$400 sebulan.
|
|
|
Mundo Nuevo (kiri) edisi No. 2, Agustus 1966, dan Casa de las Américas (kanan) edisi Th VI No. 39,
November-Desember 1966. Pada nomor Mundo Nuevo yang ini, petikan mahakarya Cien años de soledad GarcÃa
Márquez pertama kali dipublikasikan.
|
Sebelum GarcÃa Márquez sempat
memberi jawaban atas tawaran itu, kehebohan keburu pecah akibat terbitnya
reportase The New York Times dan Ramparts.
Artikel-artikel di kedua media itu diterjemahkan ke bahasa Spanyol dan dicetak
ulang di koran Uruguay Marcha serta Casa de las
Américas, musuh bebuyutanMundo Nuevo. Sebagian di antara
para penulis di atas mengambil sikap melancarkan kecaman terbuka atas
akal-akalan Mundo Nuevo. Perlu dicatat di sini bahwa Mario Vargas
Llosa dan Julio Cortázar sejak awal bersikap skeptis terhadap proyek ini dan
paling enggan berkontribusi. Sedangkan Cabrera Infrante tak merasa bermasalah
dengan afiliasi CIA karena ia sendiri bentrok dengan rezim Castro dan
memutuskan eksil dari Kuba. Sementara bagi para penulis yang secara jelas menyatakan
haluan politik kirinya, seperti GarcÃa Márquez yang berteman karib dengan Fidel
Castro, dikuaknya fakta ini benar-benar membuatnya merasa “dikadali” (“cornudos”).
Ia dan Roa Bastos menyesali kontribusinya dan menyatakan takkan pernah
berhubungan lagi dengan Mundo Nuevo, sebagaimana terbaca dari
suratnya kepada RodrÃguez Monegal:
“Percayalah bahwa saya tidak punya
syak wasangka terhadap mata-mata di dunia nyata. Saat Anda mengajak saya
bekerja di Mundo Nuevo, banyak kawan yang selera humor politiknya
lebih rendah dari saya mengingatkan tentang kecurigaan umum bahwa CCF menjalin
hubungan luar nikah dengan CIA Amerika Serikat [...] Singkat kata, saya yakin
cerita soal mata-mata ini tak terlukiskan selama kita semua dengan jujur tahu
permainan apa yang tengah kita mainkan. Tapi sekarang sepertinya CCF sendiri
tidak tahu permainan mereka, dan dengan keterlaluan ini sudah melewati
batas-batas humor dan memasuki ranah sastra fantasi yang tak terduga dan
menggelincirkan. Atas situasi ini, Tuan Direktur, tentu tidak mengejutkan
apabila Anda yang paling pertama paham bahwa saya tidak akan bekerjasama lagi
dengan Mundo Nuevo, yang telah menutup-nutupi kaitannya dengan
organisasi yang telah membawa saya dan banyak kawan lain ke dalam situasi
dikadali ini.”[10]
RodrÃguez Monegal sendiri membantah
kaitan dengan CIA tersebut dan tetap bersikeras menyatakan Mundo
Nuevo independen. Dalam penjelasannya kepada pembaca di edisi Mei
1967, ia tekankan bahwa Mundo Nuevo “bukanlah organ
pemerintahan atau partai manapun, kelompok atau sekte apapun, kecondongan
religius atau politik apapun, melainkan sebuah jurnal yang disunting semata-mata
seturut keputusan redakturnya yang merupakan satu-satunya pihak yang
bertanggungjawab dalam memilih materi yang diterbitkan.”[11]
Mungkinkah RodrÃguez Monegal
sebenarnya juga tidak tahu kaitan CCF-CIA sebagaimana Ivan Kats dibilang tidak
tahu? Beberapa bukti menyatakan sebaliknya, terutama surat-surat RodrÃguez
Monegal sendiri ke para petinggi CCF termasuk Michael Josselson, Pierre
Emmanuel, dan Shepard Stone pasca pecahnya skandal. Dalam surat-suratnya ke
Josselson dan Stone, RodrÃguez Monegal mendesak agar skema pembiayaan Mundo
Nuevo diambil alih oleh Ford Foundation dan agar Ford Foundation
menyebarluaskan pernyataan pers bahwa Mundo Nuevo memang telah
didanainya sejak awal.[12] RodrÃguez
Monegal berharap pernyataan pers ini bisa membantah kaitan antara jurnalnya
dengan CCF-CIA. Ia berharap bisa mengubah karangan ini menjadi kenyataan!“Il
faudra convertir cette fiction en réalité,” demikian tulisnya dalam
surat kepada Pierre Emmanuel di CCF (Emmanuel ini seorang penyair Perancis dan
pengurus CCF yang –kebetulan—sempat diperkenalkan kepada Goenawan Mohamad oleh
Ivan Kats di kantor CCF, Paris, meski konon tak lebih dari 30 menit).[13]
Permohonan RodrÃguez Monegal
dikabulkan: Ford Fundation mengambil alih skema pembiayaan Mundo Nuevo, tapi
tanpa pernyataan pers yang diharap-harapkannya itu. Pada 1968 RodrÃguez Monegal
mengundurkan diri sebagai pemimpin redaksi Mundo Nuevo dan hingga
wafatnya terus bersikeras bahwa jurnalnya hanya pernah didanai oleh
Ford Foundation dan tak pernah oleh CCF. Kantor Mundo Nuevo dipindah
ke Buenos Aires dan arah jurnal itu bergeser lebih ke ilmu sosial daripada
sastra. Kualitasnya secara umum jauh menurun akibat sedikitnya penulis yang
masih mau menjadi kontributornya. Ford Foundation memberi tenggat pembiayaan
sampai tahun 1971 dan mengharapkan Mundo Nuevo bisa mandiri
secara finansial sesudahnya. Karena tidak sanggup, akhirnya majalah itu pun
tutup pada tahun tersebut.
Dari sini kita bisa melihat, para
budayawan sepuh Indonesia ternyata juga memilih cara RodrÃguez Monegal untuk
terus membantah kaitan antara CCF-CIA dengan proyek-proyek kebudayaan yang
mereka lakukan sekitar 1965 dan sesudahnya, sekalipun bukti-bukti menyatakan
sebaliknya. Pasca skandal terkuak, agen-agen CIA di dalam CCF mundur. CCF
dibubarkan dan berganti nama menjadi International Association for
Cultural Freedom (ICAF), tapi proyek ICAF berjalan terus. Tak satu pun
dari budayawan tadi yang melakukan kecaman publik atas kerja CCF di Indonesia,
tapi juga tak ada satu pun yang berani berterus terang menyatakan persetujuan
–sebagaimana Cabrera Infante—atas keterlibatan CIA dalam ketegangan politik di
Indonesia masa-masa itu. Yang ada hanya penyangkalan. Dan ini lagi-lagi
menguatkan sinyalemen Frances Stonor Saunders bahwa kerja propaganda budaya ini
memang harus menyangkal keberadaannya sendiri (“a central feature of this
programme was to advance the claim that it did not exist.”)[14] Maka
janganlah terlalu berharap akan adanya pertanggungjawaban sejarah dalam waktu
dekat, karena memang sepertinya sudah menjadi “tugas” sang budayawan untuk
terus menyangkalnya.
[1] Francis
Stonor Saunders, Who Paid the Piper? CIA and the Cultural Cold
War (London: Granta, 1999), hlm. 1.
[2] Goenawan
Mohamad, “Jawaban untuk Martin: Bagian Pertama,” 10 Desember 2013.
[3] Wijaya
Herlambang, Kekerasan Budaya Pasca 1965: Bagaimana Orde Baru
Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Sastra dan Film (Tangerang
Selatan: Marjin Kiri, 2013), hlm. 92.
[4] Marta
Ruiz Galvete, “Cuadernos
del Congreso por la Libertad de la Cultura : anticomunismo y guerra
frÃa en América Latina,” El Argonauta Español 3
(2006).
[5] Jean
Franco, The Decline and Fall of the Lettered City: Latin America in the
Cold War(Cambridge, Mass.: Harvard University Press, 2002), hlm. 45. Buku
yang mengupas secara mendalam Mundo Nuevo sebagai kepanjangan
tangan politik kebudayaan CCF dan imperialisme AS adalah karya MarÃa Eugenia
Mudrovcic, Mundo Nuevo: Cultura y Guerra FrÃa en la década del 60 (Buenos
Aires: Beatriz Viterbo, 1997).
[6] Lihat
Russell St. Clair Cobb, “Our Men in Paris? Mundo Nuevo, the Cuban
Revolution, and the Politics of Cultural Freedom,” disertasi di University of
Texas, Austin, Agustus 2007, hlm. 3-4.
[7] Mundo
Nuevo dikelola di bawah manajemen Instituto Latinoamericano de
Relaciones Internacionales (ILARI), yang juga menerbitkan tiga majalah lainnya
yakni Aportes, Cadernos Brasileiros, dan Temas.
Pada 1966 ILARI menerima dana AS$260.000 dari CCF, dan anggaran terbesarnya
(sejumlah AS$80.000) diperuntukkan buat Mundo Nuevo. ILARI sendiri
didirikan langsung oleh Michael Josselson sebagai organisasi proxy dengan
akta legal organisasi di Swiss. ILARI kemudian mewarisi semua kantor,
peralatan, dan personalia CCF di Argentina, Brasil, Cile, Peru, Uruguay,
membuka kantor-kantor baru di Paraguay dan Bolivia, serta menutup kantor yang
sudah ada di Meksiko dan Kolombia. Lihat Mudrovcic, op.cit., hlm.
25.
[9] Dalam
memoarnya mengenai masa-masa ini, José Donoso menyebut Mundo Nuevo-lah
yang paling bertanggungjawab atas “boom” sastra Amerika Latin
(“boom” di sini berarti lonjakan karya sastra Amerika Latin yang
diterjemahkan dan diterbitkan di luar negeri). Lihat José Donoso,Historia
personal del “boom” (Barcelona: Editorial Anagrama, 1972).
[10] Surat
Gabriel GarcÃa Márquez kepada Emir RodrÃguez Monegal, tanggal 24 Mei 1967. Dari
arsip surat-surat Emir RodrÃguez Monegal yang dikoleksi Princeton University.
Kotak 7, Map 12. Dikutip dari Cobb, op.cit., hlm. 161-163.
[12] Surat-surat
ini disimpan dalam arsip CCF-IACF, koleksi khusus University of Chicago.
Dikutip dari Cobb, op. cit., hlm. 13. Riset lebih lanjut tentang
peran CCF dan International Association for Cultural Freedom (IACF)
di Indonesia saya kira harus dilanjutkan dengan meneliti koleksi ini.
[13] Surat
RodrÃguez Monegal kepada Pierre Emmanuel, dikutip dari Russell Cobb, “The
Politics of Literary Prestige: Promoting the Latin American ‘Boom’ in the Pages
of Mundo Nuevo,” A Contracorriente Vol. 5 No. 3,
musim semi 2008, hlm. 86. Tentang perkenalan Pierre Emmanuel-Goenawan Mohamad,
baca Mohamad, op.cit.
Sumber: Sastra Alibi














